Jurnal Orientasi Baru
Orientasi Baru adalah Jurnal ilmiah yang bertujuan menyampaikan pemikiran-pemikiran kritis yang dapat memberi inspirasi dan arah baru bagi kehidupan Gereja dan masyarakat Indonesia di tengah kemajemukan budaya dan agama dalam diskusi bidang filsafat, teologi ataupun ilmu-ilmu terkait dalam bentuk karya tulis, laporan penelitian dan resensi buku. Jurnal ini diterbitkan oleh Pusat Penelitian Teologi Kontekstual, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma. Jurnal terbit 2 kali dalam setahun (April dan Oktober).
Articles
26 Documents
Search results for
, issue
"VOLUME 13, TAHUN 2000"
:
26 Documents
clear
Persekutuan Peguyuban-Peguuban. Menggereja dalam Konteks Masyarakat Majemuk
Purwatma, Matheus
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1259.594 KB)
Iman menjadi plausibel dalam diskursus hidup yang berlangsung dalam paguyuban iman, sehingga iman terjalin dengan soal hidup. Oleh karena itu, pantas diperhatikan proses penegasan dalam Gereja setempat, pembawa warta kabar gembira di dunia, pada sisi mereka yang tersingkir dan miskin.Karangan ini memperkenalkan sekaligus merefleksikan suatu proses seperti itu. Dalam, rangkaian Temu-Pastoral keuskupan Agung Semarang, umat menegaskan Arah Dasar Keuskuan, sekaligus membentuk diri sebagai communion of communities, yakni persekutuan dari peguyuban basis gerejawi, yang menghayati iman secara inklusif-toleran dalam tanggung jawab sosial-politik sehari-hari. Proses ini mengandaikan bahwa wujud hidup umat telah berubah dari Gereja-pelayanan menjadi Gereja peguyuban-peguyuban yang berkumpul dalam tanggung jawab manusiawi (basic human communities), untuk menghayati iman dalam hidup pribadi dan sosial yang aktual. Peralihan itu menggeserkan pusat grafitasi Gereja pada jemaat basis, membuka dalam hidup jemaat setempat suatu sumber baru bagi inisiatif kristiani, menempatkan para pelayan pastoral sebagai penghubung antara inisiatif paguyuban manusiawi dan Gerejasemesta yang ingin mengabdi pada kabar gembira. Apakah dengan “temu Pastoral†seperti itu tercipta suatu kejalinan baru antara iman dan soal-soal hidup?
Memberdayakan Hubungan Paroki dan Lembaga Pendidikan Katolik di Masa Krisis. Suatu Program yang Plausibel dalam Komunitas Basis
Subanar, Gregorius Budi
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1377.574 KB)
Hubungan antara paroki (orang kristiani setempat) dan biara serta sekolah menentukan wajah Gereja Katolik di lndonesia, dan selama lebih dari seratus tahun interaksi atau kerja sama antara ketiga lembaga dan gerak itu membuat Gereja Katolik bertumbuh di lndonesia. Apakah dalam siuasi krisis diperlukan paradigma baru, yang menjaring paroki dan terutama sekolah, agar warta yang dibawa Gereja tetap plausibel?Karangan ini melacak sejarah pertumbuhan paroki sampai pada titik kisis sekarang ini; dan demikian pula diikuti sejarah pertumbuhan lembaga pendidikan katolik sampai titik kritis. Apakah dibuka terobosan baru, kalau (tempat) sekolah Katolik menjadi jauh dari (tempat gedung) Gereja paroki? Apakah dalam model "Gereja diaspora" sekolah dan paroki dapat menemukan tempat tepat dan dapat berhubungan lebih nyata serta melayani manusia dan lnjil dengan lebih jujur?
Kristologi dalam Pluralisme Religius
Banawiratma, J.B.
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (867.607 KB)
Bagaimana menghayati pokok iman kristiani dan bagaimana kata-kata Yesus Kristus "yang memimpin kita dalam iman", sehingga iman kristiani mempunyai arti real di antara agama-agama lain, dalam hidup orang yang tidak pernah akan menjadi kristiani?Karangan ini berpangkal pada dua karangan teologi mutakhir yang monumental mengenai Yesus Kristus dan arti iman kristiani dalam pluralisme agama, yakni karangan Jacques Dupuis, Toward a Christian Theology of Religious Pluralism (1997), dan karangan Roger Haighf, Jesus Symbol of God (1999). J. Dupuis menerima pluralisme agama-agama; artinya: agama-agama lain tidak dapat direduksikan menjadi benih-benih atau batu loncatan saja untuk menerima Yesus Kristus. R. Haight lebih menempatkan diri pada posisi pluralis dan mempertanyakan bagaimana kistologi mesti memandang Kristus konstitutif dalam iman kita. Bagi komunitas kristiani, Yesus merupakan norma negatif, artinya: tak mungkin orang kistiani mengimani yang bertentangan dengan Yesus; dan secara positif: Yesus berfungsi heuristik, yakni membuka imajinasi kristiani dan membimbing orang beriman, dalam relasi dengan orang beriman lain, menuju kebenaran yang makin penuh, kebenaran yang lebih jauh dalam komunitas yang menempuh perjalanan sejarah.lntegritas kristiani ditentukan oleh lnjil Yesus Kristus; namun, tradisi dan kebenaran lnjil Yesus Kristus itu terbuka dan berhubungan dengan tradisi dan dengan kebenaran dalam agama-agama lain. Bagaimana kita hidup dan berbicara sebagai orang kristiani, integer dan terbuka, di antara saudara-saudara kita yang muslim?
Kebijaksanaan Ilahi Menyegarkan Kebijaksanaan Manusiawi?
V. Indra Sanjaya Tanureja
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pertanyaan mengenai plausibilitas iman diajukan sebagai pertanyaan mengenai tempat dan makna sastra Kebijaksanaan dalam Kitab Suci Perjanjian lama. Humanitas dan universalitas menghubungkan karangan-karangan dalam Kitab Suci dengan alam pikiran di luar lingkungan agama Israel; dengan membahas masalah-masalah manusiawi yang menjadi pertanyaan semua manusia, diteguhkan iman orang dalam tradisi Israel yang kini hidup dalam lingkungan lain. Pemikiran mengenai ibadat membuka wawasan melampaui perspektif Yahudi dan menantang penghayatan iman di luar tempat ibadat. Maka, dari analisis tentang sastra itu menjadi jelas bahwa dialog mengenai kata-kata iman dan perwujudan iman dalam hidup perlu diperhatikan sebagai jalur agar warta agama dapat menyapa manusia secara eksistensial.
Kesaksian Hidup Kristiani. Semakin Menjadi "Kabar Gembira" Karena Menerima Kabar Gembira
Joannes Hartono budi
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini merupakan sebuah pendasaran kristotogi sebagai refleksi ,atas praksis mengikuti Kristus; adapun acuan bagi tulisan ini adalah ketiga karya besar tentang kristologi oleh Jon Sobrino, yakni Christology at the Crossroads (1976), Jesus in Latin America (1982) dan Jesus the liberator (1991). Oleh penderitaan seluas dunia, pewartaan dan teologi kristiani ditantang supaya meniadi realistis-real.Teologi yang berlaku nyata itu mempertanggungjawabkan iman bukan hanya dalam rangka kesadaran kritis melainkan dalam rangka praksis pembebasan. Teologi merupakan refleksi atas praksis teologi kristiani merupakan refleksi atas praksis mengikuti Kristus. Maka perjumpaan dengan Yesus, dengan hidup dan ajaran-Nya, dengan relasi dan wafat-Nya dalam sejarah manusia, menjadi andalan pokok bagi teologi. Sebab peristiwa Yesus itu merupakan awal dari peristiwa-peristwa sejarah lainnya; kalo tidak demikian, Yesus-kendati segala gelar keagungan yang dikenakan kepada Dia-hanya merupakan sebuah kenyataan masa lampau.Kristus yang hidup adalah perintis iman para pengikutNya; dalam dunia yang penuh egoisme struktural dan sarat dengan kematian, usaha untuk mengikuti Kristus menjadi kesaksia pengharapan; refleksi mengenai praksis mengikuti Kristus- semoga!- membebaskan.Tulisan ini dimaksudkan"sebagai sebuah pendasaran teologis-kistologis terhadap komitmen kristiani di tengah kenyataan penderitaan karena kemiskinan dan marginalisasi dalam segala bentuknya. Konteks demikian ini mengemukakan urgensi tindakan untuk memilih "jalan" Yesus Kristus. Tulisan ini secara khusus akan didasarkan pada tiga buku Jon Sobrino: Christology at tne Crossroads, Jesus in Latin America, dan Jesus the Liberator yang secara khusus menggali tema tersebut; serta diuraikan menurut pembagian subjudul: kristologi dan kemuridan, praksis mendahului teori, semakin mengenal Yesus Kristus setelah mengikutiNya, mulai dengan Yesus dari Nazaret, dan kesaksian hidup kristiani dalam masyarakat yang miskin.
Agama yang Jatuh Bangun
Antonius Sudiarja
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ilmu-ilmu agama di abad XX menempatkan pertanyaan mengenai plausibilitas sebuah agama dalam konteks baru. Refleksi ini mengangkat suatu proses penyadaran dari pengalaman sejarah kristianisme, yang mungkin berlaku untuk semua agama. (1) Penghayatan iman seakan-akan dengan sendirinya mewujudkan diri dalam pelbagai bentuk budaya yang memberi wajah pada agama. (2) Oleh karena itu, agama cenderung mencari koalisi dengan politik dan terbuka untuk dikuasai oleh kepentingan politik. (3) Perjumpaan, apalagi perbenturan dengan agama lain di lingkungan budaya lain, membangkitkan kesadaran bahwa iman sebagai pokok agama tidak dapat disamakan dengan wujud budaya teftentu; dan kritik dunia sekuler terhadap agama yang berpolitik membebaskan agama bagi kepentingannya yang sejati. (4) Agama dalam keanekaragaman itu diteliti oleh ilmu-ilmu agama sebagai fenomena manusiawi, dan justru pendekatan yang bukan-metafisik-mutlak ini membuka peluang untuk mengerti agama secara baru, dari kenyataan hidupnya: dari iman yang dihayati dalam budaya. (5) Dapatkah perjumpaan antara living-faith yang beraneka ragam menjadi dialog yang memperlihatkan kekayaan? Plausibilitas sebagai perjumpaan dalam keanekaragaman?
Kaitan Antara Pewartaan Iman Katolik dengan Pembinaan Watak dan Visi Hidup Kaum Muda (Evaluasi Atas Buku Iman Katolik)
Ignatia Esti Sumarah
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Menyangkut plausibilitas pewartaan, karangan ini mengevaluasi buku Iman Katolik, Buku Informasi dan Referensi, yang pada tahun 1996 diluncurkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia, antara lain dan terutama sebagai bantuan untuk katekese. Maka, karangan ini membahas maksud katekese, khususnya di Indonesia, dan lebih khusus lagi katekese untuk kaum muda. Adalah tugas dan tantangan katekese kaum muda untuk membina watak, supaya dikembangkan kesanggupan untuk memikul beban tanggung jawab dan keleluasaan untuk membina.solidaritas. Katekese dan seluruh pewartaan kristiani, sebagaimana terlihat pada pewartaan Yesus maupun pewartaan,Gereja perdana mengenai Yesus Kristus, dapat menyambung pada tantangan itu. Untuk itu, buku Iman Katolik menyediakan bahan pengetahuan iman luas (dari Kitab Suci, Tradisi, dan Ajaran Gereja) dan dengan metode penalaran yang induktif-empiris merangsang penghayatan iman. Perubahan situasi sejak tahun terbitan mengingatkan: para pewarta mesti mahir untuk mengantar dan menerjemahkan warta kristiani ke dalam tanggung jawab hidup pribadi dari tantangan sosial.
Kehadiran Kristus di Tengah Umat Manusia Zaman Ini
E.P.D. Martasudjita
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Plausibilitas iman bukan hanya tantangan bagi rasionaritas: rasionalitas iman mendapat tempatnya dalam pengertian dan perjumpaan pribadi. Iman itu menjadi plausibel sebagai pengenalan, dari hidup ke hidup. Maka, karangan ini membahas bagaimana orang dapat mengerti dan menghayati kehadiran Kristus yang sakramental (khususnya dalam Sakramen Ekaristi) sebagai kehadiran dan perjumpaan Kristus di tengah umat manusia sekarang ini.Kehadiran itu hanya dapat dimengerti dalam pengalaman eksistensial manusia, yakni dalam pengalaman transendensi manusia yang berhadapan dengan misteri, dan dalam pengalaman akan Allah yang memberikan diri, tak terjangkau oleh manusia, demi pengampunan dosa. Orang beriman kristiani mendapatkan pengalaman itu dalam perjumpaan dengan Yesus Kristus sebagai tanda kehadiran Allah, dan pewartaan dan hidup Gereia hendaknya mengantarai perjumpaan dengan Yesus Kristus itu.Kristus hadir yakni di tengah umat manusia yang aktual. Kehadiran melibatkan hidup manusia yang kongkret-aktual dan membawa manusia ke dalam keagungan Allah yang selalu lebih besar.
Memberdayakan Hubungan Paroki dan Lembaga Pendidikan Katolik di Masa Krisis. Suatu Program yang Plausibel dalam Komunitas Basis
Gregorius Budi Subanar
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Hubungan antara paroki (orang kristiani setempat) dan biara serta sekolah menentukan wajah Gereja Katolik di lndonesia, dan selama lebih dari seratus tahun interaksi atau kerja sama antara ketiga lembaga dan gerak itu membuat Gereja Katolik bertumbuh di lndonesia. Apakah dalam siuasi krisis diperlukan paradigma baru, yang menjaring paroki dan terutama sekolah, agar warta yang dibawa Gereja tetap plausibel?Karangan ini melacak sejarah pertumbuhan paroki sampai pada titik kisis sekarang ini; dan demikian pula diikuti sejarah pertumbuhan lembaga pendidikan katolik sampai titik kritis. Apakah dibuka terobosan baru, kalau (tempat) sekolah Katolik menjadi jauh dari (tempat gedung) Gereja paroki? Apakah dalam model "Gereja diaspora" sekolah dan paroki dapat menemukan tempat tepat dan dapat berhubungan lebih nyata serta melayani manusia dan lnjil dengan lebih jujur?
Kristologi dalam Pluralisme Religius
J.B. Banawiratma
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Bagaimana menghayati pokok iman kristiani dan bagaimana kata-kata Yesus Kristus "yang memimpin kita dalam iman", sehingga iman kristiani mempunyai arti real di antara agama-agama lain, dalam hidup orang yang tidak pernah akan menjadi kristiani?Karangan ini berpangkal pada dua karangan teologi mutakhir yang monumental mengenai YesusKristus dan arti iman kristiani dalam pluralisme agama, yakni karangan Jacques Dupuis, Toward a Christian Theology of Religious Pluralism (1997), dan karangan Roger Haighf, Jesus Symbol of God (1999). J. Dupuis menerima pluralisme agama-agama; artinya: agama-agama lain tidak dapat direduksikan menjadi benih-benih atau batu loncatan saja untuk menerima Yesus Kristus. R. Haight lebih menempatkan diri pada posisi pluralis dan mempertanyakan bagaimana kistologi mesti memandangKristus konstitutif dalam iman kita. Bagi komunitas kristiani, Yesus merupakan norma negatif, artinya: tak mungkin orang kistiani mengimani yang bertentangan dengan Yesus; dan secara positif: Yesus berfungsi heuristik, yakni membuka imajinasi kristiani dan membimbing orang beriman, dalam relasi dengan orang beriman lain, menuju kebenaran yang makin penuh, kebenaran yang lebih jauh dalam komunitas yang menempuh perjalanan sejarah.lntegritas kristiani ditentukan oleh lnjil Yesus Kristus; namun, tradisi dan kebenaran lnjil YesusKristus itu terbuka dan berhubungan dengan tradisi dan dengan kebenaran dalam agama-agama lain. Bagaimana kita hidup dan berbicara sebagai orang kristiani, integer dan terbuka, di antara saudara-saudara kita yang muslim?