cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Orientasi Baru
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Orientasi Baru adalah Jurnal ilmiah yang bertujuan menyampaikan pemikiran-pemikiran kritis yang dapat memberi inspirasi dan arah baru bagi kehidupan Gereja dan masyarakat Indonesia di tengah kemajemukan budaya dan agama dalam diskusi bidang filsafat, teologi ataupun ilmu-ilmu terkait dalam bentuk karya tulis, laporan penelitian dan resensi buku. Jurnal ini diterbitkan oleh Pusat Penelitian Teologi Kontekstual, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma. Jurnal terbit 2 kali dalam setahun (April dan Oktober).
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "VOLUME 14, TAHUN 2001" : 26 Documents clear
Berteologi Ala Imam Diosesan Martasudjita, E.P.D.
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 14, TAHUN 2001
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1585.846 KB)

Abstract

Gambarannya adalah tugas pokok iman praja untuk melayani umat dengan merayakan misa dan menghadiri perkawinan di paroki; dan juga terlibat dalam kehidupan sosial sebagai pastor di desa terpencil, melayani umat peziarah seperti di Sendang Sono, menemani kaum muda di gedung pertemuan dan (kalau rela) membimbing kelompok Kitab Suci. Kalau hanya mengajar teologi, orang merasa kurang menjadi imam! Padahal bukankah tugas istimewa imam praja untuk menemani umat di tempatnya supaya beriman dengan jujur? Bukankah tugas imam praja untuk - bersama umatnya - mencari bagaimana kabar gembira mentransformasi hidup bersama? Bukankah tugas imam diosis untuk membuat jembatan ekumene - artinya yang menghubungkan semua. Lihatlah teladan dua imam praja yang menjadi teolog.
Teologi Dengan Motivasi Religius Seperlunya? Teologi yang Jauh dari Kerahiman Allah Budi, Joannes Hartono
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 14, TAHUN 2001
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1244.908 KB)

Abstract

Orang mengatakan bahwa "membaca tanda-tanda zaman" merupakan salah satu keunggulan pada teologi pembebasan. Bukankah saatnya bahwa teologi pembebasan membaca tanda-tanda zaman dan mengaku bahwa telah kedaluwarsa? Sebab dipertanyakan (apalagi dalam ketidakpastian politik dewasa ini): Apakoh teologi pembebasan de facto menyumbang sesuatu demi pembebasan manusia? Di tengah-tengah kerinduan rohani yang baru dipertanyakan juga: Bukankah teologi pembebasan tak lain daripada politik dengan motivasi religius seperlunya? Apakah, dalam kenyataan hidup manusia yang pribadi dan sosial, penghayatan iman dapat menyumbang lebih daripada itu?
Filsafat dan Teologi Sudiarja, Antonius
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 14, TAHUN 2001
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1386.405 KB)

Abstract

Dalam tradisi kristiani, Filsafat sangat erat dikaitkan dengan teologi. Sebab “ credo ut intelligam” dan "fides quaerens intellectum". Filsafat melayani pemahaman iman. Namun, tradisi memperlihatkan juga bagaimana terutama filsafat humanis dan ilmu-ilmu modern yang empiris –rasional menantang pemahaman dan penghayatan iman. Kini, setelah ilmu pengetahuan modern dan teknologi menjadi kontroversial, sementara filsafat mengingatkan IPTEK akan de-humanisasi, dan agama-agama baru mengungkapkan kerinduan akan Yang Transenden, tumbuhlah juga kesadaran bahwa hehidupan begitu luas sehingga diperlukan kerja sama pengetahuan lebih daripada kontroversi. Tak ada lagi pengetahuan – termasuk teologi - yang mendaku (claim) diri paling benar. Bagaimana dikembangkan kerja sama terlebih dahulu antara filsafat dan teologi?
Eklesiologi: Antara Dogma dan Iman Yang Hidup St. Gitowiratma
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 14, TAHUN 2001
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kalau mau jujur, teologi mengenai Gereja mengangkat dan menerangi hidup umat. Namun, bagaimana teladan mereka yang membentuk awal Gereja dan sampai sekarang ini menentukan perutusan murid-murid, Kristus di dunia ini? Kalau mau realistis, eklesiologi harus berangkat dari tantangan hidup dewasa ini dan dari kemampuan mereka yang berbakti pada Tuhan. Namun, bagaimana dengan identitas Gereja yang terungkap dalam konsili (terutama Konsili Vatihan II)? Yang mewujudkan iman karena memikul beban hidup beriman di dunia ialah orang awam yang hidup dalam dunia. Namun, bagaimana dengan magisterium hierarki yang berperan untuk mengarahkan penghayatan iman? Jemaat kristiani yang nyata adalah mereka yang, entah di tempat mana, berkumpul dalam perjamuan Tuhan. Namun, bagaimana dengan Gereja katolik yang mesti mempersatukan semua dalam pengakuan iman yang sama? ternyata hidup Gereja dan teologi mengenai Gereja berkembang dalam keteganggan.
Spiritualitas dan/atau Teologi Vincensius Wahyu Harjanto
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 14, TAHUN 2001
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bicara mengenai spiritualitas, orang biasanya memaksudkan proyek hidup, dan dengan teologi dimaksudkan kesadaran Yang Transenden. Namun, bukan cuma itu, teologi biasanya dikaitkan dengan penelitian dan pengajaran, dengan metode dan sistematika. Apakah teologi membutuhkan spiritualitas? Tentu saja sebab apa lagi yang mau ditelitinya kalau bukan proyek hidup orang beriman! Dan, apakah spiritualitas membutuhkan teologi?
Santo Alfonsus Maria De Liguori dan "Teologi dari Dalam" Edmund Woga
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 14, TAHUN 2001
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alfonsus Maria de Liguori adalah Santo karena sanggup membaca tanda-tanda zaman dan berusaha menanggapi persoalan iman umat dalam terang Injil dan tradisi Gereja.Seluruh hidupnya- sebagai misionaris umat dan pengajar, uskup dan pendiri Kongregasi Redemptoris - ia baktikan untuk orang-orang kecil yang paling terlantar. Sebab ia mau meneladan Kristus Sang Penebus yang rela memberikan Diri bagi keselamatan dan pembebasan manusia, khususnya untuk orang-orang miskin dan pendosa yang tersingkir secara sosial dan religius. Alfonsus menjadi teman kaum proletar yang meniti hidup mereka di pinggir kumuh kota Napoli. Apakah menjadi inspirasi untuk kita sekarang? Bagaimana beriman demi pembebasan?
Membaca Kitab Suci dengan Cita Rasa Iman (Sensus Fidei) Stanislaus Darmawijaya
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 14, TAHUN 2001
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bagaimana membaca kitab suci- tidak menurut seleranya sendiri, acak-acakan, melainkan secara bertanggungjawab? Umpamanya, bukan hanya dalam kesunyian kamarku sendiri, melainkan bersama dalam kelompok kitab suci-tanpa menyesatkan satu sama lain! Jelaslah bahwa buku iman harus dibaca dengan semangat iman! Dan, kembalilah pertanyaan: bagaimanakan kelompok itu mengembangkan semangat iman,? Dengan cara manakah kita menggali inspirasi iman dari teks Kitab Suci? Kitab Suci pantas kita baca dengan keterlibatan hidup kita (seadanya kita!), dan membacanya sebagai sabda Allah dalam bahasa manusia (seadanya teks). Apakah ada yang dapat memberi inspirasi?
Teologi Dengan Motivasi Religius Seperlunya? Teologi yang Jauh dari Kerahiman Allah Joannes Hartono Budi
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 14, TAHUN 2001
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Orang mengatakan bahwa "membaca tanda-tanda zaman" merupakan salah satu keunggulan pada teologi pembebasan. Bukankah saatnya bahwa teologi pembebasan membaca tanda-tanda zaman dan mengaku bahwa telah kedaluwarsa? Sebab dipertanyakan (apalagi dalam ketidakpastian politik dewasa ini): Apakoh teologi pembebasan de facto menyumbang sesuatu demi pembebasan manusia? Di tengah-tengah kerinduan rohani yang baru dipertanyakan juga: Bukankah teologi pembebasan tak lain daripada politik dengan motivasi religius seperlunya? Apakah, dalam kenyataan hidup manusia yang pribadi dan sosial, penghayatan iman dapat menyumbang lebih daripada itu?
Filsafat dan Teologi Antonius Sudiarja
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 14, TAHUN 2001
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam tradisi kristiani, Filsafat sangat erat dikaitkan dengan teologi. Sebab credo ut intelligam dan "fides quaerens intellectum". Filsafat melayani pemahaman iman. Namun, tradisi memperlihatkan juga bagaimana terutama filsafat humanis dan ilmu-ilmu modern yang empiris rasional menantang pemahaman dan penghayatan iman. Kini, setelah ilmu pengetahuan modern dan teknologi menjadi kontroversial, sementara filsafat mengingatkan IPTEK akan de-humanisasi, dan agama-agama baru mengungkapkan kerinduan akan Yang Transenden, tumbuhlah juga kesadaran bahwa hehidupan begitu luas sehingga diperlukan kerja sama pengetahuan lebih daripada kontroversi. Tak ada lagi pengetahuan termasuk teologi - yang mendaku (claim) diri paling benar. Bagaimana dikembangkan kerja sama terlebih dahulu antara filsafat dan teologi?
Teks Suci menjadi Khotbah Kerakyatan: Penjelasan Targum Pseudo-Jonathan untuk Kej 22:1-19 Vincensius Indra Sanjaya
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 14, TAHUN 2001
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Targum merupakan terjemahan Kitab Suci lbrani ke dalam bahasa Aram agar jemaat makin mudah memahami teks suci yang ditulis dalam bahasa suci, bahasa lbrani. Selain itu, targum juga menyisipkan ideologinya sendiri ke dalam terjemahannya sehingga seluruh fokus teks bisa berubah total. Begitulah - umpamanya - Targum Pseudo-Jonathan mengolah Kej 22:1- 19, kisah mengenai pengorbanan Ishak. Penyusun targum mengolah teks lbrani demikian: Dengan memperluas teks lbrani, Ps-Jon membuat teks suci menjadi lebih dapat dimengerti, tetapi sekaligus mengubah fokus kisah. Dalam teks lbrani, kisah ini dilihat sebagai kisah tentang iman Abraham, tetapi dalam Ps-Jon tokoh utamanya adalah Ishak yang secara sukarela menjadi korban bakaran. Pengorbanan Ishak ini disejajarkan dengan praktik korban di Bait Allah. Teks suci menjadi khotbah kerakyatan Suatu inspirasi bagi kita untuk mewartakan kabar keselamatan pada zaman sekarang ini. Apakah kepentingan, kegelisahan, dan harapan jemaat menjadi titik tolak pewartaan kita, atau sebaliknya kerangka teologis teoritis yang kita utamakan.

Page 2 of 3 | Total Record : 26