cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Orientasi Baru
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Orientasi Baru adalah Jurnal ilmiah yang bertujuan menyampaikan pemikiran-pemikiran kritis yang dapat memberi inspirasi dan arah baru bagi kehidupan Gereja dan masyarakat Indonesia di tengah kemajemukan budaya dan agama dalam diskusi bidang filsafat, teologi ataupun ilmu-ilmu terkait dalam bentuk karya tulis, laporan penelitian dan resensi buku. Jurnal ini diterbitkan oleh Pusat Penelitian Teologi Kontekstual, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma. Jurnal terbit 2 kali dalam setahun (April dan Oktober).
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "VOLUME 22, NOMOR 01, APRIL 2013" : 12 Documents clear
“Kenabian” dalam Tradisi Islam dan Rekam Jejak serta Penuturannya Prakosa, JB. Heru
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 22, NOMOR 01, APRIL 2013
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.932 KB)

Abstract

In Islamic tradition, Muhammad is believed to be a prophet; and his prophethood was proved with a miracle in the form of i’jaz al-Qur’an. This means that anyone was challenged to bring something like the Qur’an at the level of its eloquence, and yet no one was able to do it. The prophethood of Muhammad was then transmitted from one generation to another generation by his followers, through the Islamic history, from the 2nd till the 4th or 5th centuries of the Hijriah. The report of the words and deeds of the Prophet Muhammad is called hadith. Two main components of a hadith are the chain of transmitters (sanad) and the content or material of the hadith (matn). In fact, the study of hadith criticism should pay attention to those two components in balance. Apart from it, the study of hadith can also provide a room for building an interreligious encounter, both in theological and spiritual senses.
Between God, Spirit, and Human Beings: A Comparative Study of the Relationship between 1QS 3:13 – 4:26 and The First Epistle of John Purnomo, Albertus
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 22, NOMOR 01, APRIL 2013
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.897 KB)

Abstract

Tulisan yang muncul sekitar abad pertama Masehi banyak mengandung unsur ajaran dualisme. Tulisan 1 QS 3:13-4:26 atau Risalah Dua Roh, dari tradisi non-biblis (tradisi Qumran) dan surat pertama Yohanes dari tradisi biblis (tradisi Yohanes) merupakan contoh terbaik dari sejumlah tulisan yang sedikit banyak dipengaruhi oleh ajaran dualisme. Dengan membandingkan dua tulisan ini, akan ditemukan sejumlah kesamaan dan ketidaksamaan konsep dan gagasan di antara keduanya. Di satu pihak, kedua tulisan ini tetap mempertahankan konsep monoteisme murni: Allah adalah satu-satunya Pencipta. Di lain pihak, mereka menegaskan bahwa eksistensi roh dan manusia terbagi menjadi dua: roh baik dan roh jahat, manusia baik (anak-anak terang) dan manusia jahat (anak-anak kegelapan). Masing-masing roh menentukan dan mengatur eksistensi manusia di bumi dan takdir mereka di pengadilan terakhir pada akhir zaman. Problem yang muncul di sini adalah adakah relasi saling mempengaruhi di antara kedua teks ini ataukah keduanya sebenarnya berasal dari tradisi yang sama.
Ramalan (ke)Nabi(an) Terbayangkan untuk Indonesia Masa Kini Susanto, Budi
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 22, NOMOR 01, APRIL 2013
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.927 KB)

Abstract

Prophecy used to be understood as something of the future or of the past, whether it is about something good or not good. On the other hand, prophecy is often explained as a coming event or a prediction of something that might happen. That explanation could be considered as of mystical aspect of a prophecy, or something about a “future of tomorrow”. In our modern or postmodern era, our question is what could be the role of mass-media in relation to that prophecy and the prophet of today? Indeed, today’s prophet could make use of mass-media, printed or virtually printed, to publish or distribute his or her message. Presumably, this kind of prophecy would generate similar social-religious movement and action that eventually would have impact on the social-political and cultural life of a society and nation.
Kenabian dan Nabi Palsu Modern Mali, Mateus
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 22, NOMOR 01, APRIL 2013
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.526 KB)

Abstract

A prophet and his or her prophecy are theologically inseparable as well as in view of God’s plan of salvation revealed through the life of prophets in history. Without the prophets and their prophecy, human history will remain as nomenclature of events rather than a history of salvation. It will remain merely chronos rather than kairos. How do we figure out a true prophet of God than a false one? How do we find a prophet in our world today, a truly servant of God who spoke God’s justice and righteousness, even in front of a threatening forces that prefer injustice and unrighteousness?
Menggemakan Suara Para Nabi pada Zaman Ini Purwahadiwardaya, Al.
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 22, NOMOR 01, APRIL 2013
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.416 KB)

Abstract

The most important mission of a community called Church today remains in discerning the will of God and being a prophet who speaks God’s word, a priest who sanctifies and a shepherd or king who cares. This missionary call should in turn be the mission of the people of God and all baptized Christians as community as well as individual. How do we exercise our prophetic ministry today? Which of God’s plans of salvation is urgently to be delivered for the betterment of our society and our world today?
Teologi Trinitas Pasca Vatikan II: Suatu Model Kajian dan Pendalaman tentang Teologi Trinitas Kristiyanto, A. Eddy
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 22, NOMOR 01, APRIL 2013
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.467 KB)

Abstract

Doktrin Gereja tentang Trinitas (Allah Tritunggal Yang Mahakudus) sudah mencapai keutuhannya pada millenium pertama, terutama dalam tujuh empat Konsili Ekumenis yang pertama. Pada millenium kedua dengan demikian tidak ada kebaruan berkenaan dengan doktrin tersebut. Kalau pun hendak disebutkan tentang kebaruan, maka hal itu terdapat dalam cara sejumlah tokoh melihat, membaca, dan memaknai doktrin tentang Trinitas. Jika di sana-sini ada ikhtiar nyata untuk melihat, membaca, dan memaknai secara baru itu pun senantiasa sah dan valid, terutama karena zaman terus berubah. Persoalan pastoral yang muncul adalah bagaimana orang-orang pada zaman modern ini memahami dan memaknai doktrin terpenting Gereja tersebut? Konsili Vatikan II dipandang sebagai tonggak sejarah yang menjadi pedoman arah pembaruan dalam hidup Gereja di dalam dunia. Sejumlah pemikir Katolik, seperti Balthasar, de Lubac, Rahner, Metz, Boff telah berjasa mengartikulasikan kebutuhan Gereja yang mengimani Trinitas. Bagaimana pengejawantahan iman akan Trinitas itu tidak tinggal dalam ilmu spekulatif yang terkurung dalam tembok dan perpustakaan akademik. Konsep trinitaris yang bersifat perichoresis, yang dipopulerkan kembali oleh Boff didaratkan, sehingga mewujud dalam sikap solidaritas, kepedulian, dan keterlibatan. Praktis, sikap itulah yang disebut dengan kasih itu sendiri. Sifat itu terwujud terutama dalam spirit persekutuan (koinonia).
Ramalan (ke)Nabi(an) Terbayangkan untuk Indonesia Masa Kini Budi Susanto
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 22, NOMOR 01, APRIL 2013
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prophecy used to be understood as something of the future or of the past, whether it is about something good or not good. On the other hand, prophecy is often explained as a coming event or a prediction of something that might happen. That explanation could be considered as of mystical aspect of a prophecy, or something about a future of tomorrow. In our modern or postmodern era, our question is what could be the role of mass-media in relation to that prophecy and the prophet of today? Indeed, todays prophet could make use of mass-media, printed or virtually printed, to publish or distribute his or her message. Presumably, this kind of prophecy would generate similar social-religious movement and action that eventually would have impact on the social-political and cultural life of a society and nation.
Between God, Spirit, and Human Beings: A Comparative Study of the Relationship between 1QS 3:13 4:26 and The First Epistle of John Albertus Purnomo
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 22, NOMOR 01, APRIL 2013
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan yang muncul sekitar abad pertama Masehi banyak mengandung unsur ajaran dualisme. Tulisan 1 QS 3:13-4:26 atau Risalah Dua Roh, dari tradisi non-biblis (tradisi Qumran) dan surat pertama Yohanes dari tradisi biblis (tradisi Yohanes) merupakan contoh terbaik dari sejumlah tulisan yang sedikit banyak dipengaruhi oleh ajaran dualisme. Dengan membandingkan dua tulisan ini, akan ditemukan sejumlah kesamaan dan ketidaksamaan konsep dan gagasan di antara keduanya. Di satu pihak, kedua tulisan ini tetap mempertahankan konsep monoteisme murni: Allah adalah satu-satunya Pencipta. Di lain pihak, mereka menegaskan bahwa eksistensi roh dan manusia terbagi menjadi dua: roh baik dan roh jahat, manusia baik (anak-anak terang) dan manusia jahat (anak-anak kegelapan). Masing-masing roh menentukan dan mengatur eksistensi manusia di bumi dan takdir mereka di pengadilan terakhir pada akhir zaman. Problem yang muncul di sini adalah adakah relasi saling mempengaruhi di antara kedua teks ini ataukah keduanya sebenarnya berasal dari tradisi yang sama.
Kenabian dan Nabi Palsu Modern Mateus Mali
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 22, NOMOR 01, APRIL 2013
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A prophet and his or her prophecy are theologically inseparable as well as in view of Gods plan of salvation revealed through the life of prophets in history. Without the prophets and their prophecy, human history will remain as nomenclature of events rather than a history of salvation. It will remain merely chronos rather than kairos. How do we figure out a true prophet of God than a false one? How do we find a prophet in our world today, a truly servant of God who spoke Gods justice and righteousness, even in front of a threatening forces that prefer injustice and unrighteousness?
Teologi Trinitas Pasca Vatikan II: Suatu Model Kajian dan Pendalaman tentang Teologi Trinitas A. Eddy Kristiyanto
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 22, NOMOR 01, APRIL 2013
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Doktrin Gereja tentang Trinitas (Allah Tritunggal Yang Mahakudus) sudah mencapai keutuhannya pada millenium pertama, terutama dalam tujuh empat Konsili Ekumenis yang pertama. Pada millenium kedua dengan demikian tidak ada kebaruan berkenaan dengan doktrin tersebut. Kalau pun hendak disebutkan tentang kebaruan, maka hal itu terdapat dalam cara sejumlah tokoh melihat, membaca, dan memaknai doktrin tentang Trinitas. Jika di sana-sini ada ikhtiar nyata untuk melihat, membaca, dan memaknai secara baru itu pun senantiasa sah dan valid, terutama karena zaman terus berubah. Persoalan pastoral yang muncul adalah bagaimana orang-orang pada zaman modern ini memahami dan memaknai doktrin terpenting Gereja tersebut? Konsili Vatikan II dipandang sebagai tonggak sejarah yang menjadi pedoman arah pembaruan dalam hidup Gereja di dalam dunia. Sejumlah pemikir Katolik, seperti Balthasar, de Lubac, Rahner, Metz, Boff telah berjasa mengartikulasikan kebutuhan Gereja yang mengimani Trinitas. Bagaimana pengejawantahan iman akan Trinitas itu tidak tinggal dalam ilmu spekulatif yang terkurung dalam tembok dan perpustakaan akademik. Konsep trinitaris yang bersifat perichoresis, yang dipopulerkan kembali oleh Boff didaratkan, sehingga mewujud dalam sikap solidaritas, kepedulian, dan keterlibatan. Praktis, sikap itulah yang disebut dengan kasih itu sendiri. Sifat itu terwujud terutama dalam spirit persekutuan (koinonia).

Page 1 of 2 | Total Record : 12