cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Media Teknologi Hasil Perikanan
ISSN : 23374284     EISSN : 26847205     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Media Teknologi Hasil Perikanan adalah berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNSRAT. Media ini akan mempublikasikan hasil penelitian dan kajian pustaka terbaru dalam bidang Teknologi Hasil Perikanan, khususnya yang berhubungan dengan penerapan teknologi bagi peningkatan kualitas produk perikanan, pengembangan produk baru hasil perikanan, keamanan produk hasil perikanan,pemanfaatan limbah hasil perikanan serta topik lain yang berhubungan erat dengan pemanfaatan dan pengolahan hasil perikanan yang dapat dikonsumsi oleh manusia.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 3 (2020)" : 7 Documents clear
Kajian Mutu Ikan Kayu Bubuk Yang Dikemas Plastik Dengan Nitrogen Dan Tanpa Nitrogen Enembe, Pinini; Makapedua, Daisy Monika; Sanger, Grace; Kaseger, Bertie Elias; Harikedua, Silvana D; Damongilala, Lena Jeane
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.3.2020.29586

Abstract

Fish is one of the food items that become famous of the capture fisheries sector such as Skipjack fish. However, fish is categorized as perishable food therefore efforts are needed to inhibit the spoilage process by preserving and processing the fish. One of traditional Japanese fish product is Katsuo-bushi or smoked fish which processed by low temperature smoking in many hours.The purpose of this study is to study the quality and shelf life of katsuo-bushi flakes (hana-katsuo) that is packed in plastic with nitrogen and without nitrogen The methods used were organoleptic test, water content and Total Place Count (TPC), and the storage period for 0 day, 7 days and 14 days. The results showed that the organoleptic test for appearance, smell and texture with an average value of 7 which complies Indonesia national standard (SNI). Based on the water content showed that hanakatsuo which packed with plastic in nitrogen and without nitrogen have increased water content at a shelf life of 0, 7 and 14 days with the highest value with a value of 13.15%, the product still complies the SNI standards. Furthermore, the results of TPC showed that hana-katsuo which is packed in plastic with nitrogen does not complies the SNI, whereas hana-katsuo which is packed in plastic without nitrogen on day 0 is too little to count while on day 7 and 14 it does not comply the SNI.Ikan adalah salah satu bahan pangan yang banyak dicari orang sehingga ikan menjadi primadona sektor Perikanan tangkap yang diantaranya adalah ikan  Cakalang. Diperlukan adanya upaya untuk menghambat proses pembusukan dengan cara pengawetan dan pengolahan. Pengasapan ikan merupakan penggabungan dari proses penggaraman,pengeringan, dan pemberian asap untuk mencegah kerusakan ikan. Tujuan penelitian iniuntuk mengetahui dan mempelajari mutu dan masa simpan ikan  kayu bubuk yang dikemas dengan nitrogen dan tanpa.nitrogen.Metode yang dilakukan untuk uji organoleptik, uji kadar air (AOAC, 2005) dan Angka Lempeng Total (ALT) dengan perlakuan penyimpanan 0 hari, 7 hari dan 14 hari. Berdasarkan hasil penelitian uji organoleptik kenampakan, baud an tekstur dengan nilai rata-rata 7 memenuhi standar SNI. Berdasarkanhasil uji kadar air ikan kayu bubuk yang dikemas plastik dengan nitrogen dan tanpa nitogen mengalami kenaikan kadar air pada masa simpan 0, 7 dan 14 hari dengan nilai tertinggi dengan nilai 13,15 %, produk masih memenuhi standar SNI.Berdasarkan hasil penelitian ALT ikan kayu bubuk yang dikemas plastik dengan nitrogen tidak memenuhi SNI, sedangkan ikan kayu bubuk yang dikemas plastik tanpa nitrogen pada hari ke 0 terlalu sedikit untuk dihitung sedangkan pada hari ke 7 dan 14 tidak memenuhi SNI.
Efek Perendaman Terhadap Kandungan Serat Kasar, pH dan Skor Sensori Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Tamungku, Alfris Ekaputra Tuwokona; Mongi, Eunike L; Harikedua, Silvana D; Sanger, Grace; Lohoo, Helen J; Mentang, Feny; Dotulong, Verly
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.3.2020.29578

Abstract

One type of seaweed that is widely used in Indonesia is Kappaphycus alvarezii . This type of seawed is also known as Eucheuma cottonii. The purpose of this study was to compare the value of crude fiber content, pH, and sensory score of Kappaphycus alvarezii after being soaked with 2 different types of water (well water and demineralized water). Soaking process is intended for making seaweed -ice by using dried seaweed as raw material. The parameters tested in this study were crude fiber, pH and sensory using Hedonic scale 1-9. The results indicated that Kappaphycus alvarezii soaked with demineralized water had higher crude fiber content (1.37%) compared to seaweed soaked in well water (1.24%). Likewise, the pH level of seaweed products that are soaked with demineralized water have a higher pH value (6.27) than seaweed products that are soaked in well water (6.19). Furthermore, organoleptic test results show that seaweed products that are soaked with water demineralization was more preferable by panelist in terms of appearance, odor, texture and taste.Salah satu jenis rumput laut yang banyak dimanfaatkan di Indonesia adalah rumput laut Kappaphycus alvarezii . Rumput laut ini juga dikenal dengan nama Eucheuma cottonii. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan nilai kadar serat kasar, pH, dan skor sensori rumput laut Kappaphycus alvarezii setelah direndam dengan 2 jenis air berbeda (air sumur dan air demineralisasi). Proses perendaman ditujukan untuk pembuatan es rumput laut dengan menggunakan rumput laut kering. Parameter yang diuji pada penelitian ini adalah serat kasar, pH dan uji sensori menggunakan uji Hedonik skala 1 – 9. Hasil analisa menunjukkan bahwa rumput laut Kappaphycus alvarezii yang direndam dengan air demineralisasi memiliki kandungan serat kasar yang lebih tinggi (1.37%) dibandingkan dengan rumput laut yang direndam dengan air sumur (1.24%). Pada pengujian kadar pH, produk rumput laut yang direndam dengan air demineralisasi memiliki nilai pH yang lebih tinggi (6.27) dari pada produk rumput laut yang direndam dengan air sumur (6.19), Selanjutnya, hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa produk rumput laut yang direndam dengan air demineralisasi lebih disukai panelis dari segi kenampakan, bau, tekstur dan rasa.
Efek Suhu dan Waktu Simpan terhadap Kualitas Bagian Tengah Yellowfin Tuna Segar (Thunnus albacares) Putra, Debriga; Dien, Henny A; Montolalu, Roike I; Onibala, Hens; Makapedua, Daisy M; Sumilat, Deiske A; Luasunaung, Alfret
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.3.2020.29537

Abstract

Decline quality of Tuna as a result of abuse temperature and long shelf life time. Histamine, microbial and sensory odours become one of the global problems that can cause health problems. Large number of bacteria dominated in viscera area rather than other fish parts. This study was conducted to determine the effect of storage temperature on histamine, microbial and sensory odours on middle of Yellowfin Tuna. This study used descriptive explorative method, sampel were periodically taken for analyses at intervals 48 hours (0ºC), 8 hours (10ºC) and 4 hours (25ºC). Yellowfin Tuna was rejected earlier by the sensory odours than TPC and histamine. During storage at 0ºC for 720 hours histamine levels still acceptable for consumption however TPC already exceeded the limit after 672 hours and rejected by sensory odours for 624 hours storage. During storage at temperature 10ºC did not reached the limit for 120 hours while TPC value already reached 2x106 cfu/g for 88 hours storage and rejected by sensory odours for 72 hours storage. During storage at temperature 25ºC histamine reached 67.3 ppm for 32 hours, ALT reached 5.5x105 cfu/g for 24 hours and rejected by sensory odour for 20 hours of storage. Histamine formation correlates with the growth of microbial counts and decrease of sensory odours value. Suhu yang tinggi dalam waktu simpan lama berpengaruh terhadap penurunan kualitas ikan tuna. Histamin, mikroba dan bau busuk menjadi salah satu permasalahan global yang dapat menyebabkan masalah kesehatan. Bagian tengah ikan menjadi sumber bakteri paling tinggi dibandingkan bagian lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan histamin, ALT dan sensori bau pada bagian tengah Tuna sirip kuning dalam penyimpanan suhu yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif, sample di analisis secara berkala pada suhu 0ºC (48 jam), 10ºC (8 jam) dan 25ºC (4 jam). Tuna sirip kuning mengalami pembusukan lebih awal berdasarkan parameter sensori bau, kemudian disusul ALT dan Histamin. Kandungan histamine pada suhu 0ºC masih layak untuk dikonsumsi setelah 720 jam, namun nilai ALT melebihi batas aman setelah 672 jam penyimpanan dan nilai sensori bau setelah 624 jam penyimpanan. Penyimpanan suhu 10ºC tidak menyebabkan peningkatan histamin melebihi batas limit setelah penyimpanan selama 120 jam, sedangkan nilai ALT mencapai 2x106 cfu/g setelah 88 jam dan nilai sensori bau menyatakan ikan busuk setelah penyimpanan selama 72 jam. Penyimpanan suhu 25ºC histamin mencapai 67,3 ppm setelah penyimpanan 32 jam dan nilai ALT 5,5x105 cfu/g pada penyimpanan ke 24 jam serta ikan dinyatakan busuk berdasarkan sensori bau setelah 20 jam penyimpanan. Peningkatan histamin berkorelasi dengan pertumbuhan jumlah mikroba dan penurunan nilai sensori bau.
Ekstraksi Kolagen Tulang Ikan Tuna (Thunnus sp) DENGAN ASAM KLORIDA Sembiring, Tuhu Edi Suranta; Reo, Albert Royke; Onibala, Hens; Montolalu, Roike Iwan; Taher, Nurmeilita; Mentang, Feny; Damongilala, Lena Jeane
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.3.2020.29573

Abstract

Previously, commercial collagen are obtained from mammals and poultry. However, there is a huge concern about Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE, “mad cow disease”) and avian influenza from the consumers, that is why many researcher are trying to explore the utilization of marine animals as source of collagen. The aim of this study is to gathering information about extraction collagen from Tuna (Thunnus sp.) using 1% and 3% Chloride Acid. The result indicated that the rendement was 1,42 % and 5,65 %, moisture contents 7 % and 12 %, and acidity (pH) 4,30 % and 5,19 %. These results suggested that the using 3% chloride acid in the extraction process produced higher collagen. Sebelumnya, kolagen komersial diperoleh dari mamalia dan unggas. Namun demikian, terdapat kekhawatiran yang sangat besar terhadap Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE, “penyakit sapi gila”) dan flu burung dari konsumen, oleh karena itu banyak peneliti yang mencoba untuk mengeksplorasi pemanfaatan hewan laut sebagai sumber kolagen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang ekstraksi kolagen dari ikan tuna (Thunnus sp.) Menggunakan Asam Klorida 1% dan 3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen 1,42% dan 5,65%, kadar air 7% dan 12%, serta keasaman (pH) 4,30% dan 5,19%. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan asam klorida 3% dalam proses ekstraksi menghasilkan kolagen yang lebih tinggi.  
Proksimat pada Tepung Buah Mangrove Sonneratia alba Ardiansyah, Putri Rahayu; Wonggo, Djuhria; Dotulong, Verly; Damongilala, Lena Jeane; Harikedua, Silvana Dinaintang; Mentang, Feny; Sanger, Grace
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.3.2020.27526

Abstract

This study aims to determine the proximate value of Sonneratia alba mangrove flour. The flour was made from young (d ≤ 3 cm) and old S. alba fruit. S. alba fruit were collected from Desa Wori, Kec.Wori, Kab. Minahasa Selatan, North Sulawesi. The measured parameters were moisture content by the oven method, the ash content by the dry ashing method, the protein content by the Kjeldahl method; fat content by the Soxhlet method and carbohydrate content were calculated by difference. The results showed that the proximate content of young S. alba fruit flour was 10.53% of moisture, 5.18% ash, 8.735 protein, 1.44% fat and 74.12% carbohydrate. The proximate content of old S. alba mangrove flour was moisture content 9.63%, ash 5.39%, protein 8.34%, fat 1.54% and carbohydrate 75.1%. Moiture and protein content of young S. alba mangrove flour is slightly higher compared to old S. alba mangrove flour. Meanwhile, ash, fat and carbohydrate content of old S. alba mangrove flour is slightly higher compared to young S. alba mangrove flour. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar proksimat pada tepung buah mangrove Sonneratia alba muda (d ≤ 3 cm) dan proksimat tepung buah mangrove S. alba tua (d ≥ 3cm) yang diambil di Desa Wori Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara Sulawesi Utara. Parameter yang dianalisa adalah kadar air dengan metode oven, kadar abu dengan metode pengabuan kering, kadar protein dengan metode kjeldahl meliputi tiga tahap yaitu destruksi, destilasi dan titrasi; kadar lemak dengan metode soxhlet dan kadar karbohidrat dihitung berdasarkan metode (by difference). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan proksimat pada tepung buah mangrove S. alba muda adalah kadar air 10,53%, abu 5,18%, protein 8,735, lemak 1,44% dan karbohidrat 74,12%. Kandungan proksimat pada tepung buah mangrove S. alba tua adalah kadar air 9,63%, abu 5,39%, protein 8,34%, lemak 1,54% dan karbohidrat 75,1%. Perbandingan kandungan proksimat tepung buah mangrove S. alba muda dan tua adalah sebagai berikut: kadar air dan protein pada tepung buah mangrove S. alba muda sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan tepung buah mangrove S. alba tua. sedangkan kadar abu, lemak dan karbohidrat kandungan tepung buah mangrove S. alba tua sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan tepung buah mangrove S. alba muda.
Substitusi Tepung Buah Mangrove Bruguiera gymnorrhiza Pada Camilan Stick Massie, Tita; Pandey, Engel Victor; Lohoo, Helen Jenny; Mentang, Feny; Mewengkang, Hanny; Onibala, Hens; Sanger, Grace
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.3.2020.29434

Abstract

Bruguiera gymnorrhiza mangrove plant is one type of mangrove that can be used as a new food source, because this species contains high carbohydrates. The purpose of this study was to treat B. gymorrhiza mangroves into flour and processed into sticks. The study was divided into two stages, first treating B. gymorrhiza mangroves into flour including boiling, cutting, drying and grinding, secondly managing B. gymorrhiza mangrove flour into sticks including mixing ingredients, mixing dough, molding dough and frying. The first research was obtained yield of 27.96%, moisture content greater than SNI flour which was 14%, Total Plate Figures of 2.8x103 colonies/gram, and pH 5.0. The second study carried out organoleptic tests with two mangrove flour treatments namely 50% B. gymorrhiza +50% Wheat flour and 25% B. gymorrhiza +75% Wheat flour, from 41 semi-trained panelists the average value included appearance by 54% (25% B. gymorrhiza +75% Wheat flour), color by 36% (25% B. gymorrhiza +75% Wheat flour), aroma by 54% (50% B. gymorrhiza +50% Wheat flour), taste by 57 % (50% B. gymorrhiza +50% Wheat flour), and 51% texture like sticks of B. gymorrhiza mangrove flour. It was concluded that this study fully fulfilled the requirements for the management of flour and sticks so that it could be produced as a new food substitute for wheat, the B. gymorrhiza mangrove fruit.  Tanaman mangrove Bruguiera gymnorrhiza merupakan salah satu jenis mangrove yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan baru, karena spesies ini mengandung karbohidrat yang tinggi. Tujuan Penelitian ini untuk mengelolah buah mangrove B. gymorrhiza menjadi tepung dan diolah menjadi stick. Penelitian terbagi atas dua tahap, pertama mengelolah buah mangrove B. gymorrhiza menjadi tepung meliputi perebusan, pemotongan, pengeringan dan penggilingan, kedua mengelolah tepung buah mangrove B. gymorrhiza menjadi stick meliputi pencampuran bahan, pengadukan adonan, pencetakan adonan dan penggorengan. Penelitian pertama diperoleh Rendemen sebesar 27,96%, Kadar Air lebih besar dari SNI tepung yaitu 14%, Angka Lempeng Total sebesar 2,8x103 koloni/gram, dan pH 5,0. Penelitian kedua dilakukan uji organoleptik dengan dua perlakuan tepung mangrove yaitu 50% B. gymorrhiza +50% Tepung terigu dan 25% B. gymorrhiza +75% Tepung terigu, dari 41 panelis semi terlatih nilai rataan meliputi kenampakan sebesar 54% (25% B. gymorrhiza +75%Tepung terigu) , warna sebesar 36% (25% B. gymorrhiza +75%Tepung terigu), aroma sebesar 54% (50% B. gymorrhiza +50%Tepung terigu), rasa sebesar 57% (50% B. gymorrhiza +50%Tepung terigu) ,dan tekstur  sebesar 51% menyukai stick dari tepung buah mangrove B. gymorrhiza. Disimpulkan penelitian ini sepunuhnya telah memenuhi syarat untuk pengelolaan tepung dan stick sehingga dapat diproduksi sebagai sumber pangan baru pegganti gandum yaitu buah mangrove B. gymorrhiza.
Mutu Mikrobiologi Produk Surimi IkanTuna dan Produk Surimi di Pasar Swalayan Wior, Joshua Ferdinand Abednego; Lohoo, Helen Jenny; Pandey, Engel Victor; Salindeho, Netty; Kaparang, Josefa Tety; Makapedua, Daisy Monica; Dotulong, Verly
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.3.2020.29437

Abstract

Surimi is an export product and has a high economic value because it has high quality content, but surimi products can be contaminated. This study aims to determine the moisture content, pH, Total Plate Count, and Salmonella from self-made surimi of tuna fish and surimi from retailed store. The value of self-made surimi is 820 cfu/g as from supermarkets is 120 cfu/g but it meets the Indonesian National Standard, which is max. 50,000 cfu/g. The pH value for self-made surimi is 6.36, and for surimi from retailed store is 7.36. The moisture content of homemade surimi was 75.83% while surimi from retailed store was 70.33%. Furthermore, there is no Salmonella detected of surimi both sample. It can be concluded that both samples can be consumed after proper cooking. Surimi adalah produk ekspor dan memiliki nilai ekonomi tinggi karena memiliki konten berkualitas tinggi, tetapi produk surimi dapat terkontaminasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar air, pH, Angka Lempeng Total, dan Salmonella dari surimi buatan ikan tuna dan surimi yang diambil dari supermarket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ikan surimi Tuna adalah (63,50%). Nilai surimi buatan sendiri adalah 820 cfu/g karena dari supermarket adalah 120 cfu/g tetapi memenuhi Standar Nasional Indonesia, yaitu Max. 50.000 cfu/g. Nilai pH untuk surimi buatan sendiri adalah 6.36, dan untuk surimi yang diambil dari supermarket adalah 7.36. Juga, ini menunjukkan bahwa pH surimi buatan rumah bersifat asam sementara surimi dari supermarket basah. Nilai rata-rata untuk kadar air surimi buatan sendiri adalah 75,83% dengan surimi diambil dari supermarket yaitu 70,33% karena surimi diambil dari supermarket, memiliki kadar air lebih rendah dari surimi buatan sendiri. Produk dapat dikonsumsi dengan aman setelah proses pemasakan yang benar

Page 1 of 1 | Total Record : 7