cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2010)" : 5 Documents clear
Potensi terjadinya hujan asam di Kota Bandung Bethy C. Matahelumual
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1054.929 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i2.6

Abstract

SARIHujan merupakan bagian dari siklus hidrologi. Air laut dan sebagian air di daratan menguap membentuk uap air yang terangkat dan terbawa angin di atmosfer, kemudian mengembun dan akhirnya jatuh ke daratan atau laut sebagai air hujan. Hujan secara alami bersifat asam dengan pH < 6, tetapi hujan dengan pH di bawah 5,6 didefinisikan sebagai hujan asam. Hujan asam dapat disebabkan secara alamiah, misalnya oleh emisi gas gunung api dan aktivitas manusia seperti industri, pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor, dan pabrik pengolahan pupuk untuk pertanian terutama amonia. Hujan asam dapat menyebabkan pohon dan bangunan menjadi lebih rapuh, dan merusak patung tembaga di kota Bandung. Pada bulan Desember 2008 sampai dengan Juli 2009 telah dilakukan pengambilan contoh air hujan pada 8 lokasi Penakar Hujan, yaitu Pos Pengamatan Gunung Api (Pos PGA) Gunung Tangkubanparahu, Balitsa Lembang, Cihideung, Pusat Lingkungan Geologi, PT. Safilindo, Cikalong, Gunung Malabar, dan Buah Batu. Analisis kualitas air hujan mengacu pada Standard Methods dan Standar Nasional Indonesia, sedangkan kualitas air minum mengacu pada Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Hasil analisis fisika-kimia menunjukkan kadar unsur-unsur seperti kesadahan, besi, mangan, natrium, klorida, sulfat, nitrit, nitrat, dan zat padat terlarut dari percontoh air hujan lebih kecil dari standar air minum, kekeruhan, warna, dan amonium, mempunyai kadar tinggi di beberapa lokasi penakar hujan, sedangkan hujan asam terjadi pada bulan Desember 2009 dan April 2010 dengan nilai pH rendah < 5,6.Kata Kunci: Air, hujan, asamABSTRACTRain is part of hydrological cycle. Sea water and surface water on land evaporate to the atmosphere forming water vapor, then it condensates and finally fall on to sea or land as rain. Rain is naturally acid with pH < 6, but rain with pH lower than 5.6 is defined as acid rain. Acid rain is caused by human activities like industries, power plant, vehicles and factory processing of agriculture fertilizer especially ammonia. Acid rain can cause vegetation and buildings become more brittle, and the damage of copper statue in Bandung town. Since December 2008 until Juli 2009 samples of rain water had been taken (collected) from 8 rain gauge stations namely Tangkubanparahu volcano observatory, Balitsa Lembang, Cihideung,Center for Environmental Geology, PT. Safilindo, Cikalong, G. Malabar and Buah Batu. The analysis of rain water quality was based on Standard Methods and National standard of Indonesia, while drinking water quality is based on the Decree issued by Minister for Public Health Republic of Indonesia. The result of physical and chemical analysis show low concentration of substances such as iron, manganese, sodium, chloride, sulfate, nitrite, nitrate, and total solid dissolved of rain water sample is smaller than drinking water standard, cloudiness, color, and ammonium have high concentration in some rain gauges stations, meanwhile acid rain that occurred in December 2009 and April 2010 have low pH value < 5.6.Keywords: water, rain, acid
Peningkatan aktivitas gempa bumi di Indonesia tahun 1973 - 2009 Lina Handayani
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1591.385 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i2.7

Abstract

SARIEvaluasi data gempa bumi yang terjadi di Indonesia sejak tahun 1973 hingga tahun 2009 dilakukan denganmenggunakan data dari katalog bebas milik Pusat Informasi Gempa Bumi Nasional (NEIC)-USGS. Secara keseluruhan, data kegempaan dalam kurun waktu 36 tahun tersebut tidak memperlihatkan adanyapola waktu atau lokasi yang teratur. Namun adanya peningkatan jumlah kejadian gempa bumi tampak sangat jelas. Jumlah gempa bumi pertahun sejak tahun 2004 kurang lebih dua kali lebih banyak dibandingkan kejadian pada tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja belum ada teori yang dapat menerangkan fenomena peningkatan kejadian gempa bumi ini.Kata kunci: Data gempa bumi, peningkatan jumlah kejadianABSTRACTEvaluation of earthquakes occurred Indonesia since 1973 – 2009 has been done using earthquake data from the open catalog of United States Geological Survey – National Earthquake Information Center. Overall, the 36 years data do not show any particular pattern in time or location. However, the increase in events number since 2004 is apparent. There are twice as many earthquakes each year since 2004 as to each year before 2004. Unfortunately, there is no accepted explanation or theory to date that can explain the phenomena.Keywords: Earthquakes data, increase in events
Bahaya gas vulkanik Gunung Salak, Jawa Barat N. Euis Sutaningsih; Isa Nurnusanto; Sukarnen Sukarnen; Suryono Suryono
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2573.474 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i2.8

Abstract

SARIAktivitas Gunung Salak saat ini mengambil tempat di Kompleks Cikuluwung Putri yang terdiri dari Kawah Ratu, Kawah Hirup, dan Kawah Paeh. Aktivitasnya yang menonjol adalah emisi gas vulkanik dengan komponen utama adalah : H2O, CO2, SO2, H2S, NH3, HCl, H2, N2, dan O2+Ar. Dalam Juli 2007 sejumlah murid sekolah yang sedang berkemah meninggal dunia karena keracunan gas yang secara tiba-tiba meningkat konsentrasinya melampaui ambang batas normal. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa yang menjadi penyebabnya adalah terjadi penurunan kadar air dan kenaikan gas belerang dioksida serta gas karbon dioksida yang tinggi sehingga mencemari udara sekitarnya. Udara yang mengandung racun tersebut kemudian terhirup oleh peserta perkemahan. Karena kawasan ini merupakan area perkemahan, maka pemantauan kimia gas vulkanik mutlak dilakukan secara menerus untuk menghindari jatuhnya korban berikutnya.Kata kunci: Cikuluwung Putri, gas vulkanik, keracunan gas, gas belerang dioksida, gas karbon dioksidaABSTRACTMt. Salak activities are currently located at the Putri Cikuluwung Complex which consists of Ratu Crater, Hirup Crater, and Paeh Crater. The dominant activity is the emission of volcanic gases with the major components consisting of H2O, CO2, SO2, H2S, NH3, HCl, H2, N2, and O2 + Ar. In July 2007 a group ofschool students who were camping died of gas poisoning in a sudden increase its concentration exceeded the normal threshold. Based on the research it is found that the cause is the decline of water levels and the increase in sulfur dioxide gas and carbon dioxide gas is so high that pollute the surrounding air. Aircontaining toxins are then inhaled by the participants of the camp. Cause this area is camp area, so the chemical monitoring of volcanic gases to be conducted continuously to prevent the next casualties.Kata kunci : Cikuluwung Putri, Volcanic gases, gas poisoning, Sulfur dioxide gas, carbon dioxide gas
Geologi lingkungan untuk penentuan koefisien dasar bangunan wilayah Cibinong dan sekitarnya Oki Oktariadi; Dikdik Riyadi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1767.295 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i2.9

Abstract

SARIKejadian banjir di wilayah DKI terus berulang walaupun banyak program yang sudah dilakukan dengan curahan dana dan usaha yang besar. Pendekatan teknis yang telah dan akan dilakukan belum secara komprehensif menggunakan informasi geologi lingkungan. Sehubungan hal tersebut perlu diambil langkahlangkah untuk mengatasi masalah guna mengendalikan banjir dengan berbagai upaya jangka pendek dan mampu menjamin keberhasilan jangka panjang. Salah satunya adalah menentukan koefisien dasar bangunan (KDB) untuk meningkatkan kapasitas imbuhan air tanah. Penelitian dilakukan di enam kecamatan yang masuk ke wilayah Kabupaten Bogor, yaitu Cibinong, Citeureup, Gunung Putri, Kedunghalang, Bojong Gede, dan Semplak. Untuk mengetahui KDB tersebut dilakukan analisis neraca air berdasarkan persamaan “Mock”. Dari hasil perhitungan KDB di wilayah penelitian diperoleh nilai KDB: (1) lahan yang disusun oleh batuan kipas volkanik dengan kemiringan lereng < 10% hanya dapat dibangun maksimal dengan KDB 20%, kemiringan lereng 10 – 30% dapat dibangun maksimal KDB 15%, kemiringan lereng > 30% dijadikan sebagai lahan budidaya yang dapat menghindari terjadinya peningkatan air larian, peningkatan erosi dan longsoran. (2) lahan yang disusun oleh batuan sedimen pembangunan dapat dibuat dengan KDB 25% dengan tanpa rekayasa pemulihan neraca air karena kondisi tanah/batuan yang tidak memungkinkan untuk dibuat sebagai bidang resapan. Air larian yang terjadi dapat ditampung dalam kolam penampungan (retention pond) untuk dijadikan sebagai sumber baku air bersih.Kata kunci: geologi lingkungan, KDB, resapan airABSTRACTThe flood events in keep repeating even though many programs have been conducted with the outpouring amount of funds and efforts. The technical approach that have been and will be carried out does not use environmental geology comprehensively. Regarding this matter it needs to solve the problem in order to control the flooding with varoius short term effort that can guaranted long-term success. One of them is determining the building coverage ratio (BCR) to increase ground water recharge capacity. Administratively the study area comprises six districts that includesto the regency of Bogor, namely Cibinong, Cieureup, Gunung Putri, Kedunghalang, Bojong Gede, and Semplak districts. To know the building coverage ratio (BCR) and analysis of water balance was carried out based on “Mock” equation . Calculation of BCR in the research area, results: (1) land that is composed by volcanic rock fan with a slope of <10% can only be developed with BCR of 20%, slope 10-30% can be built up with a BCR up to 15%, slope > 30% can be utilized as cultivation land which can avoid the increase of running water, erosion, and landslide. (2) land development composed by sedimentary rocks can be developed with a BCR up to 25% without engineering approach to recover water balance since the conditions of soil / rock that does not allow water to percolate downward. running water can be accommodated in retention pond to serve as a source of raw water.
The characteristic of eruption of Indonesian active volcanoes in the last four decades Akhmad Zaennudin
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (955.648 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i2.10

Abstract

Indonesia has 129 active volcanoes those are scattered in Sumatra, Java, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, and Sulawesi islands. Approximately 13% of the world’s active volcanoes are located in Indonesia. Active volcano in Indonesia is divided into three categories, namely type A, B, and C. A type are those volcanoes recorded eruption since 1600. B type volcanoes are those in solfataric and or fumarolic activity, there is crater since the year 1600 there is no evidence of increasing activity nor eruption. Type C are volcanoes those are in solfataric stage and or occasionally the volcanic edifice is not clear. There are 79 active volcanoes that consist of type A, 29 volcanoes type B, and 21 volcanic type C.“A type volcano” is the first priority for our institution to monitor their activities. Each year approximately 10 to 12 active volcanoes in Indonesia increase their activity, and two to four volcanoes erupted with different characters. At least there are five characters of volcanic eruption of Indonesian active volcanoes that can be recognized in the last four decades. The first character are volcanoes with lava domes; the second are those with crater lakes; the third are those with open vent system; the fourth with gas eruption, and the fifth are cones inside a caldera.Keywords: character of volcanic eruption, solfataric, fumarolicSARIIndonesia mempunyai 129 gunung api aktif yang tersebar mulai Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Maluku. Jumlah tersebut sama dengan 13% gunung api aktif di dunia. Gunung api aktif Indonesia dibedakan dalam 3 kategori berdasarkan sejarah letusannya, yaitu gunung api tipe A, tipe B, dan tipe C. Gunung api tipe A tercatat pernah meletus sejak 1600, jumlahnya 79. Tipe B adalah gunung api yang mempunyai kawah dan lapangan solfatara/fumarola tapi tidak ada sejarah letusan sejak tahun 1600, jumlahnya 29. Gunung api tipe C hanya berupa lapangan solfatara/fumarola, jumlahnya 21. Gunung api tipe A yang diprioritaskan untuk diamati. Setiap tahun antara 10 sampai 12 gunung api yang meningkat aktivitasnya, yang mencapai tahap letusan sebanyak 2 sampai 4 dengan karakter yang berbeda. Paling sedikit ada 5 karakter letusan gunung api di Indonesia yang diamati dalam empat dekade terakhir, yaitu letusan yang menghasilkan kubah lava, letusan dari danau kawah, ketiga letusan dengan in pipa (kepundan) yang terbuka, keempat adalah letusan gas, dan yang ke lima adalah letusan yang menghasilkan bukit baru di dalam kaldera.Kata kunci: karakter letusan gunung api, solfatara, fumarola

Page 1 of 1 | Total Record : 5