cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 1 (2023)" : 5 Documents clear
Penilaian Bahaya Banjir Bandang Berdasarkan Skenario Genangan Menggunakan Analisis Spasial dan Pemodelan Hidrodinamik Sabriyati, S.Pd., M.Sc, Deni
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 14, No 1 (2023)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v14i1.428

Abstract

Banjir bandang merupakan salah satu bencana alam yang menyebabkan kerugian besar di Indonesia. Bencana ini berawal dari hujan berintensitas tinggi, terjadi dengan cepat dalam waktu relatif singkat. Simulasi kejadian banjir berdasarkan periode ulang dapat digunakan guna memprediksi potensi bahaya banjir. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan potensi bahaya banjir bandang berdasarkan scenario banjir pada periode ulang 2, 5, 10, 20, 50, dan 100 tahun yang berlokasi di Sub-DAS Bt. Kuranji, Provinsi Sumatera Barat. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan memodelkan proses hidrodinamik menggunakan analisis SIG. Metode yang digunakan meliputi pemetaan morfometri DAS, estimasi MAP dan hujan rencana berdasarkan periode ulang (2, 5, 10, 20, 50 dan 100 tahun), memodelkan hidrodraf banjir dan pemodelan spasial genangan banjir. Data yang digunakan adalah data curah hujan 38 tahun, historical banjir bandang, Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), Peta Jenis Tanah, Peta Penggunaan Lahan, Peta Adminsitrasi Kota Padang, dan DEM IFSAR resolusi tinggi. Untuk mencapai tujian yang diinginkan, prosedur dalam pengolahan data yaitu: (1) analisis morfometri menggunakan HEC-GeoHMS; (2) analisis hidrologi untuk menghasilkan besaran MAP, nilai SCS-CN, dan hidrograf banjir bandang dari model HEC-HMS; (3) analisis hidrolika sebagai analisis 3D dan spasial untuk menghasilkan limpasan dari model HEC-RAS. Analisis hidrologi dilakukan pada periode ulang 2, 5, 10, 20, 50, dan 100 tahun, potensi banjir terbesar adalah periode ulang 100 tahun dengan waktu puncak (Tp) 3 jam dari saat mulai hujan dengan debit banjir yang dihasilkan adalah 725 m3 /dt. Besaran debit banjir merupakan data input untuk scenario genangan banjir pada analisis hidrolika yang menghasilkan luasan, kecepatan, dan kedalaman banjir. Berdasarkan tingkat kedalaman banjir yang dihasilkan, periode ulang banjir 100 tahun dapat melanda 20 kelurahan dengan luasan 296,8 Ha dan kedalaman aliran mencapai >1,5m. Pada periode ulang yang sama, berdasarkan tingkat kecepatan aliran yang dihasilkan, penelitian menunjukkan aliran tercepat mencapai >1 m/dt dengan luasan 35,1 Ha. Kata kunci: Bahaya Banji Bandang, GIS, HEC-HMS, HEC-RAS dan Pemodelan Hidrodinamik
Optimasi Kurva HVSR, Kemiringan Lereng dan Informasi Geologi untuk Pemetaan Vs30 dan Kerentanan Seismik Wilayah Likupang Cipta, Athanasius; Afif, Haunan; Pradipto, M Arifin J.; Solikhin, Akhmad; Omang, Amalfi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 14, No 1 (2023)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v14i1.463

Abstract

Teknik Nakamura adalah salahsatu pendekatan paling populer untumenghitung kerentanan seismik. Namun tentu saja ada keterbatasan dalam penerapan teknik ini, yang seringkali diabaikan oleh peneliti pemula. Teknik Nakamura disusun dengan asumsi kecepatan gelombang geser pada batuan dasar = 600 m/s sehingga harus ada pemilahan frekuensi alamiah pada rentang tertentu agar teknik ini menghasilkan estimasi kerentanan seismik yang andal. Selanjutnya, informasi geologi dan kelerangan sangat diperlukan dalam penentuan lokasi titik ukur mikrotremor. Pemilihan titik ukur mikrotremor yang tepat memungkinkan dilakukannya pembuatan formula regresi antara kerentanan seismik dengan parameter geologi dan kemiringan lereng. Penerapan teknik Nakamura dengan terhadap data HVSR dengan distribusi spasial yang mempertimbangkan informasi geologi dan kelerengan menghasilkan peta kerentanan seismik yang berdayaguna. Kata kunci: Teknik Nakamura, HVSR, kemiringan lereng, kerentanan seismik ABSTRACTOwing to its simplicity, Nakamura Technique is one of the most popular approach for estimating seismic vulnerability index. However, this technique contains some limitations in which undergraduate students and early career researchers frequently disobey. The technique was composed by assuming shear-wave velocity on bedrock equals to 600 m/s. Consequently, only natural frequencies in a certain range match well with the technnique. Furthermore, information regarding geological condition and slope should be highly considered in designing of acquisition sites of microvibration. The right choice of microtremor sites allows us to create regression formula relates seismic vulnerability index with geologic parameters and slope. Applying Nakamura technique to a set of well spatially distributed HVSR data resulting in a robust seismic vulnerability map. Key words : Nakamura Technique,HVSR, slope, seismic vulnerability 
Pemanfaatan Data Satelit Sentinel-5P untuk Pemantauan SO2 Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau Putri, Fanny Aditya; Nugroho, Udhi Catur; Tjahjaningsih, Arum; Brahmantara, Randy Prima
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 14, No 1 (2023)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v14i1.351

Abstract

Salah  satu  gunung  api  yang  cukup diwaspadai  di  Indonesia  saat  ini adalah  Gunung  Anak  Krakatau  yang terletak  di  Selat  Sunda.  Aktivitas letusan  gunung ini  telah  terjadi secara  sporadis  dalam  beberapa dekade  terakhir. Berdasarkan data PVMBG, pada bulan April 2020 Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi. Gas SO2 yang diemisikan pada saat erupsi gunung api perlu dipantau persebarannya. Gas SO2 tersebut di udara dapat bereaksi dengan uap air membentuk senyawa sulfat yang dapat menyebabkan hujan asam. Selain dapat menyebabkan hujan asam dalam skala lokal, SO2 dari letusan gunungapi juga dapat mempengaruhi iklim secara global. Teknologi penginderaan jauh satelit telah banyak digunakan untuk memantau SO2 pasca erupsi gunung api. European Space Agency (ESA) meluncurkan satelit Sentinel-5 Precursor (Sentinel-5P) yang memiliki misi melakukan monitoring polusi udara dengan mengamati konsentrasi gas-gas yang ada di atmosfer. Salah satu sensor yang dibawa oleh satelit Sentinel-5P adalah The TROPOspheric Monitoring Instrument (TROPOMI). Pada penelitian ini, data Sentinel-5P digunakan untuk memantau konsentrasi gas SO2 pasca erupsi Gunung Anak Krakatau pada tanggal 10 April 2020. Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh bahwa peningkatan konsentrasi SO2 teramati oleh Sentinel-5P pada tanggal 11 April dan mencapai konsentrasi puncak pada tanggal 12 April. Setelah tanggal 12 April, konsentrasi SO2 mulai menurun tetapi tetap menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai di awal bulan April. Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa erupsi yang terekam di seismograf, walaupun secara visual tidak teramati. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa satelit Sentinel-5P dapat digunakan untuk pemantauan peningkatan konsentrasi SO2 akibat erupsi gunung api.
Pemetaan Distribusi dan Keterpaparan Bangunan Terhadap Tsunami Pasca Restorasi Gumuk Pasir Parangtritis, Yogyakarta Iswari, Marindah Yulia
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 14, No 1 (2023)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v14i1.408

Abstract

Pesisir selatan Jawa memiliki potensi bahaya kepesisiran yang tinggi seperti ancaman tsunami. Pada tahun 2016, restorasi zona inti di Parangtritis dilakukan untuk mengembalikan fungsi dari gumuk pasir yang salah satu di antaranya sebagai tanggul penahan gelombang abrasi dan tsunami. Dampak langsung yang terjadi akibat restorasi ini adalah penertiban lahan terbangun yang berada di zona inti seperti bangunan dan tambak. Tujuan penelitian ini adalah melihat distribusi perubahan bangunan dan keterpaparannya terhadap tsunami setelah restorasi zona inti. Distribusi bangunan dianalisis pada dua periode yaitu sebelum dan setelah restorasi dengan memanfaatkan foto udara perekaman tahun 2015 dan 2019. Identifikasi bangunan pada foto udara memanfaatkan 9 kunci interpretasi dan identifikasi jenis atap bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah 18 bangunan yang difungsikan sebagai kandang ternak direlokasi dari zona inti ke zona terbatas. Selain itu sejumlah 28 bangunan yang teridentifikasi di bagian tengah zona inti dipindahkan dari Dusun Grogol IX ke Dusun Grogol X. Sebagian besar fungsi bangunan-bangunan tersebut adalah hunian dan warung. Bangunan di Dusun Grogol X bergerombol di pesisir pantai sehingga sejumlah 93,03% bangunannya tergenang pada skenario tsunami 30 meter.
Interpretation of Lineament and Shallow Structure in Gunung Batu - Lembang Area Based on 2D Resistivity Method Junursyah, G.M. Lucki; Rokhis, Tria Ainur; Praromadani, Zulimatul Safa'ah; Sugiarto, Bambang
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 14, No 1 (2023)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v14i1.425

Abstract

The movement of Lembang fault is interpreted as active until nowadays. The fault creates a unique and beautiful geomorphology and significantly explored and developed as natural tourism destination, one of the areas is located in Gunung Batu. The research location is in the west area of Gunung Batu as a part of the Lembang fault segment. For that reason, geophysics research with 2D and 4D resistivity method is required to interpret the subsurface geological indication that related with the potency of resource and disaster. The result of interpretation method to 71 meters depth shows five layers of rock with Andesite intrusion rocks as a basement. There is an indication of weakness zone that related to the formation of reverse and normal fault as a result of the development system of Lembang fault where the area is 358.6 m2 - 1257 m2 at 19.7 m–30 m depth. Additionally, indication of groundwater aquifer is located in fined-grained permeable layer at 15.6 m - 21.1 m depth.

Page 1 of 1 | Total Record : 5