cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 3 (2011)" : 4 Documents clear
Simulasi aliran bahan rombakan di Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan Sumaryono Sumaryono; Yunara Dasa Triyana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 3 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2320.637 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i3.31

Abstract

SARIAliran bahan rombakan (debris flow) adalah fenomena di mana percampuran air, lumpur, dan kerikil mengalir dengan kecepatan tinggi. Karena aliran debris flow memiliki viskositas dan kecepatan yang tinggi, maka bersifat sangat merusak karena mengangkut material yang dilalui di sepanjang sungai sehingga volume dan energinya semakin meningkat dan dapat merusak rumah, jembatan, dan infrastruktur, dan mengakibatkan korban jiwa. Simulasi numerik penting untuk memastikan bahwa bangunan penahan bekerja secara efisien sebelum dilaksanakan pekerjaan konstruksi seperti dam sabo. Makalah ini menyajikan simulasi numerik dua dimensi dengan menggunakan Kanako, GUI dilengkapi simulator aliran debris, yang memungkinkan visualisasi dengan baik dan mudah. Kanako (ver. 2.0) diterapkan pada studi kasus di Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan, Indonesia. Simulasi diuji dalam berbagai kondisi termasuk kasus tanpa dam sabo dan dengan dam sabo seri. Hasil simulasi menunjukkan jika tidak ada dam sabo di Kampung Paragang, Lengkese, dan Raulo berpotensi terlanda debris flow. Over flow dan debris flow dapat ditanggulangi dengan 4 seri dam sabo tipe celah.Kata kunci: aliran bahan rombakan, pencegahan efektif, simulasi numerik, dam saboABSTRACTDebris flow is a phenomenon in which a mixture of large quantities of water, mud, and gravel flows down stream in high speed. Due to its high density and velocity, debris flow is very devastating, it carries along every things on its path that increases its volume and energy, hence it can destroy settlements, bridges, infrastructures as well as loss of lives. Numerical simulation is important to ensure that retaining construction works efficiently before sabo dam is built. This paper presents two-dimensional numerical simulations of a debris flow using Kanako, a user-friendly GUI-equipped with debris flow simulator that allows good visualization and easy explanation. Kanako (Ver. 2.0) was applied as to a case study at Bawakaraeng Mountain, south Sulawesi, Indonesia. Simulations were tested in various conditions with and without sabo dams including sabo dam series. The simulation results showed that without sabo dams, Paragang, Lengkese and Raulo are potentially affected by debris flow. Slit sabo dam of 4 series type is the most appropriate construction from being affected by over flow and debris flow.Keywords: debris flow, effective countermeasure, numerical simulation, sabo dam
Identifikasi tingkat risiko bencana letusan Gunung Api Gamalama di Kota Ternate Firmansyah Firmansyah
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 3 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2412.73 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i3.28

Abstract

SARIPulau Ternate yang dibentuk oleh Gunung Gamalama terletak di atas jalur penunjaman (subduction zone) yang miring ke timur dengan sudut yang kecil. Kondisi ini menyebabkan wilayah Kota Ternate memiliki risiko bencana letusan gunung api. Oleh karena itu, diperlukan upaya penelitian guna mengurangi risiko bencana letusan gunung api. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah perhitungan nilai faktor dengan model standarisasi Davidson serta metode superimpose. Selain itu untuk memperoleh nilai perbandingan antara beberapa faktor yang ditinjau dari segi pentingnya faktor tersebut terhadap faktor lainnya dalam menentukan bobot terhadap risiko bencana letusan gunung api digunakan pembobotan dengan menggunakan metode proses hierarki analitik (Analytical Hierarchy Process). Tulisan ini merupakan perbaikan dari tulisan sebelumnya yang terbit pada Buletin Geologi Tata Lingkungan edisi Vol. 20 No. 3, Desember 2010 dengan menambahkan beberapa indikator, yaitu indikator-indikator dalam faktor bahaya dan faktor ketahanan. Hasilnya berbeda secara signifikan.Kata kunci: Kota Ternate, gunung api, Gamalama, risiko bencanaABSTRACTTernate island formed by Gamalama volcano which is located above a low angle subduction zone which is dipping eastward. This condition causes Ternate is affected by volcanic eruption. Therefore, a research is needed to reduce the risk of volcanic eruption. Various methods of analyses to calculating the value factor with Davidson’s standard model as well as superimpose methods are used. Moreover, to obtain comparison value between several factors in terms of the importance of these factors on other factors, in determining the weight of volcanic eruption risk, analytical hierarchy process method is used (Analytical Hierarchy Process). This paper improve the previous one which is published in Bulletin of Environmental Geology Vol. 20 No 3 December 2010, by adding some indicators, those are indicators of hazard factor and capacity factor. The results a differ significantly.Keywords: Ternate City, volcano, Gamalama, disaster risk
Tinjauan geologi lingkungan terhadap wilayah bencana aliran bahan rombakan di Wasior Papua Barat Alwin Darmawan; Wahjono Wahjono; Andiani Andiani; Dikdik Riyadi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 3 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3739.201 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i3.29

Abstract

SARIWilayah Wasior berada di pesisir pantai di kaki Pegunungan terjal Wondiboy Kabupaten Teluk Wondama Papua Barat. Aliran bahan rombakan pada tanggal 4 Oktober 2010 telah terjadi secara bersamaan di 8 alur sungai di bagian barat lereng Pegunungan Wondiboy. Dari hasil pemetaan bencana pasca kejadian hanya 3 alur sungai, yaitu Sungai Anggris, Sungai Sanduai, dan Sungai Rahu, yang telah merenggut 163 korban tewas, 91 orang luka berat, 3374 orang luka ringan/berobat dan 121 orang hilang. Penilaian geologi lingkungan diawali dari tahap pertama, yaitu analisis kondisi geomorfologi dan geologi daerah pebukitan dibentuk oleh batuan Genes dengan kemiringan lereng yang ekstrem (70°), tiba-tiba berubah menjadi datar di daerah yang sempit, yang dibentuk oleh endapan kipas alluvial (alluvial fan). Tahap kedua, yaitu analisis terhadap 8 subdas alur sungai yang menunjukkan bahwa alur Sungai Sandui adalah yang terluas 27,75 km2, disusul Sungai Rahu 18,63 km2 dan Sungai Anggris 14,79 km2. Dari data curah hujan pada saat kejadian bencana, yaitu 157 mm/hari, besarnya debit aliran sungai Sungai Sanduai 257,3 m3/det., Sungai Rado 172,7 m3/det dan Sungai Anggris 137,1 m3/det, yaitu melebihi debit normal 68,5 m3/det. Tahap ke tiga merupakan pemetaan situasi kejadian gerakan tanah di 8 subdas aliran sungai yang menunjukkan bahwa longsoran bahan rombakan (debris slide) banyak terjadi di 3 subdas alur sungai Sungai Anggris, Sungai Sanduai dan Sungai Rado. Di Sungai Anggris dan Sungai Sanduai material bahan rombakan berupa bongkah-bongkah batu dan batang-batang kayu, sedangkan pada alur Sungai Rado dominan batang- batang kayu dan Lumpur. Tahap ke empat merupakan rekonstruksi dari mekanisme proses terjadinya bencana banjir bandang yang diakibatkan oleh jebolnya bendungan alam pada alur sungai, terdiri atas batang-batang kayu dan material longsoran. Tahap ke lima merupakan penyusunan peta geologi lingkungan yang berupa arahan pemanfaatan lahan dan rekomendasi teknis, terkait dengan potensi bencana alam aliran bahan rombakan yang kemungkinan akan terjadi di waktu mendatang.Kata kunci: aliran bahan rombakan, geologi lingkungan, pemanfaatan lahan, WasiorABSTRACTWasior is located at the coastal area at the foot of steep Wondiboy Wondama Bay District of West Papua. The debris flow of 4 October 2010 occurred simultaneously in eight river flows at the western part of Wondiboy Mountains. The disaster mapping carried out after the event there were only three rivers namely Anggris, Sanduai, and Rahu which had caused 163 deaths, 91 people were seriously injured, 3374 people were slightly injured and 121 people missing. Assessment of environmental geology of catastrophic events began with the first stage, namely the analysis of geological and geomorphological conditions that the ridge formed by gneiss with an extreme slope (70°), was suddenly turned into a narrow flat area, which was formed by alluvial fan deposits (alluvial fan). The second stage, is analyzing the 8 sub watersheds showed that the largest river basins is River Sandui 27.75 km2, River Rahu 18.63 km2 and River Anggris 14.79 km2. Calculation of rainfall data at the time of the event which was 157 mm/day, the discharge of River Sandui 257.3 m3/sec than River Rado 172.7 m3/sec and River Anggris 137.1 m3/ sec, which exceeds the normal discharge 68.5 m3/sec at the time of the incident. The third stage is a mapping of the situation of the landslide in 8 sub watersheds indicate that avalanches (debris slides) frequently occur in three river watersheds namely River Anggris, River Sanduai and River Rado, with debris material in the form of blocks of rocks and logs, whereas in River Rado is dominantly logs and mud. The fourth stage is a reconstruction of the mechanism of the occurrence of the flood events caused by the collapse of natural dam in the river flow by logs and avalanche material. The fifth stage is the preparation of environmental geologic map in the form of land use guidance and technical recommendations, related to the potential debris flow which is likely to occur in the future.Keywords: debris flow, environmental geology, land use, Wasior
Gempa Bumi Bandung 22 Juli 2011 Cecep Sulaeman; Sri Hidayati
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 3 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.89 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i3.30

Abstract

SARIPada tanggal 22 Juli 2011 pukul 05.46 terjadi gempa bumi di kawasan kota Bandung. Getaran gempa bumi tersebut terasa di Bojongkoneng, Ujungberung, dan Pasir Impun, Kota Bandung dengan intensitas II – III MMI. Berdasarkan data dari enam stasiun seismik yang ada di Bandung dan sekitarnya telah ditentukan pusat gempa bumi terletak pada koordinat 107,72° BT dan 6,84°LS dengan kedalaman 6 km, berada pada jarak 12,5 km timur Lembang dan 16 km timurlaut Bandung. Lokasi sumber gempa bumi tersebut berada pada jalur Sesar Lembang. Magnitudo gempa bumi tersebut 3,4 Richter dan memiliki mekanisme fokal dengan pergerakan sesar normal.Kata kunci: gempa bumi Bandung, sesar Lembang, 3,4 RichterABSTRACTA felt earthquake occurred on July 22, 2011 at 05:46 am. It was felt in Bojongkoneng, Ujungberung, and Pasirimpun, Bandung City with intensity II – III MMI. Hypocenter of earthquake was obtained from six seismometers installed around Bandung. The earthquake was originated at 107.72°E and 6.84°S with 6 km deep, 12.5 km east of Lembang and 16 km northeast of Bandung. The earthquake source is located at Lembang fault lines. It has a magnitude of 3.4 Richter and normal fault solution.Keywords: Bandung earthquake, Lembang fault, 3.4 Richter

Page 1 of 1 | Total Record : 4