cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2014)" : 5 Documents clear
Kelas tektonik sesar Palu Koro, Sulawesi Tengah Supartoyo Supartoyo; Cecep Sulaiman; Deden Junaedi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5562.916 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i2.68

Abstract

ABSTRAKSesar Palu Koro terletak di sepanjang lembah Palu Koro yang membentang dari Teluk Palu ke arah tenggara. Sesar ini merupakan struktur geologi utama di Provinsi Sulawesi Tengah. Berdasarkan data Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) terlihat dengan jelas adanya kelurusan sepanjang lembah Palu Koro yang berkaitan dengan keberadaan Sesar Palu Koro. Sebaran Sesar Palu Koro dapat dibagi menjadi tujuh segmen dengan urutan dari utara ke selatan adalah S6, S5, S4, S3, S2, S1, dan S0. Tulisan ini menganalisis kelas tektonik Sesar Palu Koro berdasarkan metode morfometri sinusitas muka pegunungan dan perbandingan lebar dan tinggi lembah. Morfometri merupakan pengukuran secara kuantitatif dari bentuk lahan yang meliputi lembah, muka pegunungan, luas daerah aliran sungai, tinggi, dan panjang sungai. Nilai parameter morfometri sinusitas muka pegunungan Sesar Palu Koro berkisar antara 1,0008 hingga 2,3367, sedangkan nilai perbandingan lebar dan tinggi lembah berkisar antara 0,03936 hingga 0,9732. Berdasarkan analisis morfometri menggunakan dua parameter tersebut terlihat bahwa semua segmen Sesar Palu Koro tergolong kelas tektonik tinggi dan menengah, dan pada segmen bagian selatan, yaitu segmen S0, S1, S2, dan S3 kelas tektoniknya cenderung lebih tinggi dibandingkan segmen pada bagian utara, yaitu S4, S5, dan S6.Kata Kunci: morfometri, sinusitas muka pegunungan, perbandingan lebar dan tinggi lembah, kelas tektonikABSTRACTPalu Koro Fault lies along Palu valley that stretches from the Gulf of Palu to the southeast. This fault is a major geologic structure in the Province of Central Sulawesi. Based on data from the Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) lineament is clearly seen along the valley of Palu Koro which is related to the presence of Palu Koro Fault. The distribution of Palu Koro Fault can be divided into seven segments with sequence from north to south are S6, S5, S4, S3, S2, S1, and S0 respectively. This paper analyzes tectonic classes of Palu Koro Fault based on morphometry methods of mountain front sinuosity and ratio of valley floor width to valley depth. Morphometry is a quantitative measurement of the shape of landform including valley, mountain front, width of drainage basin, height and length of rivers. The parameter values of mountain sinuosity of Palu Koro Fault range between 1.0008 to 2.3367, and the values of ratio of valley floor width to valley depth range between 0.03936 to 0.9732. Based on morphometry analysis using the both parameters it can be seen that all segments of Palu Koro Fault are classified as high to middle tectonic classes, whereas in the southern part (segments S0, S1, S2, and S3) tend to have higher tectonic classes than in the north (segments S4, S5, and S6).Keyword: morphometry, mountain front sinuosity, ratio of valley floor width to valley height, tectonic class
Perbandingan pemodelan respon spektra menggunakan analisis discreet point dengan standar perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung dan non gedung tahun 2010 (Studi kasus Kecamatan Cilacap Selatan, Kota Cilacap, Provinsi Jawa Tengah) Arifan Jaya Syahbana; Prahara Iqbal
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2750.694 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i2.69

Abstract

ABSTRAKPemodelan respon spektra berdasarkan metode Discreet Point dan Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung dan Non Gedung Tahun 2010 telah dilakukan dengan mengambil lokasi di Kecamatan Cilacap Selatan, Kota Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Pengeboran teknik dilakukan di dua titik di Kota Cilacap, yaitu BH-02 dan BH-03 untuk mengetahui stratigrafi tanah dan karakteristik fisik tanah daerah penelitian. Studi mengenai respon spektra mutlak dilakukan terutama pada daerah dengan nilai ekonomi dan sosial yang tinggi. Hal ini guna mengantisipasi kegagalan struktur bangunan saat gempa bumi terjadi. Metode yang dilakukan pada studi ini adalah Discreet Point. Metode ini menganggap tanah akan menjadi beban pada suatu sistem pemodelan di tengah lapisan. Input yang dimasukkan adalah Gempa Bumi Chichi, Kobe, dan Kocaeli. Alasannya adalah adanya kesamaan mekanisme dengan gempa bumi yang melanda Kota Cilacap pada tahun 2011. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa: input gempa bumi yang mempunyai karakteristik percepatan sama dapat menghasilkan respon spektra yang berbeda apabila durasi efektif gempa bumi berbeda, daerah Cilacap pada titik BH-02 dan BH-03 mengalami deamplifikasi apabila ditinjau menggunakan Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung dan Non Gedung (ditulis: SPKGUBG&NG) 2010, sedangkan penelitian ini menghasilkan deamplifikasi untuk lokasi BH-02 dan amplifikasi yang kecil pada lokasi BH-03. Hasilnya, lokasi BH-02 percepatan di batuan dasar dari 0,457g menjadi 0,33g sedangkan lokasi BH-03 dari 0,462g menjadi 0,51g.Kata kunci: Discreet Point, SPKGUBG&NG 2010, respon spektraABSTRACTComparison of response spectra based on modeling method of Discreet Point and Building and Non-Building Earthquake Resistance Planning Standards 2010 has been conducted in South Cilacap District, Cilacap City, Central Java Province. Drilling technique was carried out at two locations in Cilacap City, named BH-02 and BH-03, to know soil stratigraphy, sampling, and physical characteristics of the research areas. Study on response spectra is should be conducted absolutely mainly at the areas of high economic and social values. This study is is carried out to anticipate structural failures when earthquake occurs. The Mmethod applied in this study is Discreet Point. This method assumes that soils will become the load on a modeling system in the middle of the layer. Earthquake inputs applied in the simulation are Chichi, Kobe, and Kocaeli. The reason is that there is similarity in mechanism with the one that hit Cilacap City in 2011. Research results show that: earthquake inputs that have the same acceleration characteristics can result in different response spectra when effective duration of the earthquake is different, the Cilacap area at BH-02 and BH-03 experienced deamplification when viewed using SPKGUBG&NG 2010, while this study resulted in unamplification to the location of BH - 02 and a small amplification at location BH – 03. In this study, the acceleration at BH-02 the bedrock was unumplified from 0, 457g to become 0, 33g, while at location of BH-03 it underwent umplification from 0, 462g to 0, 51g. The result shows that at location of BH – 02 the acceleration in the bedrock which was 0,457g became 0,33g, whereas at location BH – 03 which was of 0,462g became 0,51g.Keywords: Discreet Point, SPKGUBG&NG 2010, response spectra
Pengaruh tektonik dan longsor lahan terhadap perubahan bentuklahan di bagian selatan Danau Purba Borobudur Helmy Murwanto; Ananta Purwoarminta; Darwin A. Siregar
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1353.548 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i2.70

Abstract

ABSTRAKBerbagai penelitian menyatakan bahwa Candi Borobudur dikelilingi oleh danau dan telah berubah menjadi dataran. Selama ini diketahui bahwa penyebab pendangkalan danau adalah aktivitas Gunung Merapi. Namun pada bagian selatan Danau Borobudur yang dibatasi oleh Pegunungan Menoreh, tidak ditemukan material Gunung Merapi tetapi ditemukan material batuan Old Andesite Formations (OAF) dari Pegunungan Menoreh. Data aktivitas tektonik terekam baik pada lembah-lembah sungai di bagian selatan dataran Borobudur. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis penyebab perubahan bentuklahan di sisi selatan Danau Purba Borobudur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan pengukuran dan pengamatan lapangan yang didukung dengan data citra satelit, topografi, stratigrafi, dan analisis 14C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sisi selatan dataran bekas Danau Borobudur tepatnya di lembah Sungai Sileng banyak ditemukan singkapan batuan OAF dan endapan lempung hitam yang terpotong dan terangkat akibat aktivitas sesar. Berdasarkan pengamatan stratigrafi diketahui bahwa endapan lempung hitam tertutup oleh material hasil longsoran Pegunungan Menoreh. Hasil pengujian radiokarbon 14C menunjukkan bahwa endapan danau berumur 22,140 BP. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pada sisi selatan Danau Purba Borobudur pendangkalannya disebabkan oleh aktivitas tektonik yang mengakibatkan pengangkatan dan pensesaran memicu terjadinya longsor lahan.Kata kunci: tektonik, longsor, perubahan bentuk lahan, Danau Purba Borobudur, Pegunungan MenorehABSTRACTMany studies suggest the Borobudur Temple surrounded lakes and shallowed by materials from volcanic activities. In the southern part of Borobudur Lake didn’t find volcano material but founded Old Andesite Formations (OAF) material, thats come from Menoreh Mountain. Tectonic activities and avalanche material found on the Sileng river at southern of Borobudur plains. Purpose of this study are identify and analyze causes of landform changes in the  southern part of Borobudur Ancient Lake. The methods used are field measurements and observations, support by satellite imagery data, topography, stratigraphy, and radiocarbon 14C analysis. The results are in the southern part of Borobudur lake, found OAF materials and blackclay outcrops were cut and lifted by tectonics activities. Based on stratigraphy observations, known that blackclay deposits covered by the avalanche material results of Menoreh Mountains. Radiocarbon 14C test showed that lacustrine ages is 22,140 BP. The conclusion are in the southern part of Borobudur Ancient Lake, shallowed by tectonics activities than triggered by landslides.Keywords: tectonics, landslides, landform changes, Borobudur Ancient Lake, Menoreh Mountains
Pengaruh mekanisme sesar terhadap Gempa Bumi Aceh Tengah, 2 Juli 2013 Sri Hidayati; Supartoyo Supartoyo; Wawan Irawan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5078.254 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i2.66

Abstract

ABSTRAKGempa bumi berkekuatan 6,2 skala richter pada kedalaman 10 km telah mengguncang wilayah Aceh Tengah dan sekitarnya pada tanggal 2 Juli 2013 pukul 14.37 WIB. Mekanisme sesar penyebab terjadinya gempa bumi tersebut adalah gerak sesar mendatar berarah N 304ºE/69º dengan rake 169º, berkaitan dengan salah satu aktivitas sesar aktif di Aceh Tengah. Gempa bumi ini mempunyai intensitas VII-VIII pada skala MMI yang ditandai oleh bangunan rusak berat, retakan tanah, dan gerakan tanah serta menimbulkan korban jiwa 39 orang meninggal dan lebih dari 400 orang luka. Gerakan tanah sebagai bencana juga terjadi di 22 tempat dan yang terparah di Desa Serempah, Kecamatan Ketol pada jarak 8,22 km dari pusat gempa bumi.Kata Kunci: Gempa bumi Aceh Tengah, skala intensitas gempa bumi, sesar aktif, gerakan tanahABSTRACTAn earthquakes of 6.2 local magnitude in Richter Scale and at a depth of 10 km had shaken Aceh Tengah on July 2nd, 2013 at 14|:37.The mechanism of the earthquake was strike-slip fault which is trending in N 304º E/69º with rake 169º. It was suggested of being associated with one of the active faults in Aceh Tengah region. The scale of the intensity scale was VII-VIII MMI which were marked with heavily damaged settlements; soil cracks and landslides that causing 39 people died and more than 400 people wounded. There were about 22 landslides occurred, the largest one was at Serempah Village in Ketol District, at a distance of 8.22 km from the epicenter.Keyword: Aceh Tengah earthquake, earthquake intensity scale, active fault, landslide
Penilaian bahaya lahar Gunung Salak (Suatu pendekatan morfometri) Rusdi Mahardi; Boedi Tjahjono; D.P. Tejo baskoro
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6634.264 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i2.67

Abstract

ABSTRAKSalak merupakan gunung api strato tipe A aktif di Provinsi Jawa Barat. Sejak letusan pada tahun 1938 sampai sekarang, gunung api ini jarang menunjukkan aktivitas yang signifikan, namun gunung api ini masih berbahaya bagi daerah sekitarnya. Salah satu bahaya vulkanik Salak yang sangat penting adalah bahaya lahar, karena curah hujan tahunan relatif tinggi, dan sebagian besar wilayah di sekitar lembah sungai di daerah distal terdapat pemukiman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi geomorfologi Gunung api Salak, serta menilai bahaya lahar menggunakan pendekatan morfometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Cikuluwung memiliki tingkat bahaya lahar tertinggi (84,74 %), apalagi sungai terhubung langsung ke kawah aktif, yaitu Kawah Ratu. Karena kawah terletak di bagian lereng yang lebih rendah, maka lahar bisa mengalir menuju daerah distal dengan lebih cepat dari puncak, sehingga pengelolaan daerah distal di sekitarlembah Sungai Cikuluwung (terutama kawasan pemukiman) memerlukan konsep yang spesifik.Kata kunci: bahaya lahar, Gunung api Salak, morfometri, Sungai CikuluwungABSTRACTSalak is an a type of active stratovolcano in West Java Province. Since its eruption of 1938 until now, the volcano rarely showed significant activity, however the volcano is still dangerous for the surrounding area. One of important volcanic hazards for Salak is lahar hazard, since the annual rainfall is relatively high and most of river valleys in distal areas and the surrounding occupied by settlements. The purpose of this study is to identify the geomorphological condition of Salak Volcano, and to assess lahar hazard using morphometric approach. The results showed that Cikuluwung River has the highest level of lahar hazard (84,74 %), moreover the river is directly connected to active crater, the so-called Kawah Ratu. Since the crater is located in lower flank, the lahar can flow toward the distal area faster then usual (from the peak), so the management of distal area around the Cikuluwung River valley (especially the settlement areas) require specific concepts.Keywords: lahar hazard, Salak Volcano, morphometry, Cikuluwung

Page 1 of 1 | Total Record : 5