Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Gempa Bumi Laut Maluku Tanggal 15 November 2014 Supartoyo Supartoyo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 1 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1622.63 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i1.75

Abstract

ABSTRAKSabtu tanggal 15-11-2014 pukul 09:31:44 WIB, daerah Sulawesi Utara dan Maluku Utara digoncang gempa bumi kuat dengan kekuatan 7,3 SR (Scale Richter). Kejadian gempa bumi tersebut diikuti gempa bumi susulan dengan luas zona pecah 145,6 km x 54,5 km. Kedudukan pusat gempa bumi tanggal 15-11-2014 hampir berdekatan dengan kejadian gempa bumi tanggal 21-1-2007. Kedua gempa bumi tersebut bersumber dari aktivitas sesar naik pada Punggungan Mayu. Gempa bumi tanggal 15-11-2014 telah mengakibatkan dinding lantai VII Hotel Lion ambruk dan retakan dinding Hotel Grand Puri di Kota Manado. Di Kota Bitung sebuah rumah rusak dan jalan longsor akibat hujan dan goncangan gempa bumi. Di Kabupaten Kepulauan Sitaro sembilan rumah mengalami kerusakan. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan tidak ditemukan jejak terjadinya tsunami. Kejadian gempa bumi ini sempat membuat masyarakat Kota Manado, Bitung dan wilayah pesisir timur Sulawesi Utara panik dan resah karena adanya peringatan dini tsunami. Intensitas goncangan gempa bumi terasa di seluruh wilayah Sulawesi Utara. Dengan skala intensitas gempa bumi di Kota Manado dan Bitung mencapai V skala MMI (Modified Mercally Intensity). Dari hasil analisis zona pecah gempa bumi tanggal 15-11-2014 dan 21-1-2007 diperoleh nilai magnitudo maksimum sumber gempa bumi penunjaman Punggungan Mayu pada peristiwa ini sebesar 8,5 Mw (moment magnitude).Kata kunci: Gempa bumi Laut Maluku, Punggungan Mayu, skala intensitasABSTRACTOn Saturday, November 15th, 2014 at 09:31:44 PM, Areas of North Sulawesi and North Maluku, were struck by a strong earthquake with magnitude of 7.3 Richter Scale. The earthquake was followed by aftershocks with rupture zone dimension of approximately 145.6 km x 54.5 km. The epicentre of the earthquake on November 15th, 2014 is almost adjacent with the previous  earthquake on January 21st, 2007. Both of these earthquakes were derived from reverse fault activities in Mayu ridge. The earthquake on November 15th, 2014 causes the wall of 7th floor of Lion Hotel collapsed and wall cracks of Grand Puri Hotel in Manado, a damaged house and landslide of road triggered by rain and earthquake shaking in Bitung. Nine houses were damaged in Kepulauan Sitaro Regency. Based on field observations no trace of tsunami by this earthquake. The earthquake could make the peoples in Manado City, Bitung and eastern coastal areas of North Sulawesi worryed caused by the tsunami early warning. The earthquake shaking was felt in North Sulawesi region. The earthquake intensity scale in Manado and Bitung Cities of V MMI (Modified Mercally Intensity) scale. Based on analysis of rupture zone that occurred in 2007 and 2014, the maximum magnitude earthquake source of Mayu ridge is 8,5 Mw (moment magnitude).Keywords: earthquake on November 15, 2014, Mayu ridge, intensity scale
Pengaruh mekanisme sesar terhadap Gempa Bumi Aceh Tengah, 2 Juli 2013 Sri Hidayati; Supartoyo Supartoyo; Wawan Irawan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5078.254 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i2.66

Abstract

ABSTRAKGempa bumi berkekuatan 6,2 skala richter pada kedalaman 10 km telah mengguncang wilayah Aceh Tengah dan sekitarnya pada tanggal 2 Juli 2013 pukul 14.37 WIB. Mekanisme sesar penyebab terjadinya gempa bumi tersebut adalah gerak sesar mendatar berarah N 304ºE/69º dengan rake 169º, berkaitan dengan salah satu aktivitas sesar aktif di Aceh Tengah. Gempa bumi ini mempunyai intensitas VII-VIII pada skala MMI yang ditandai oleh bangunan rusak berat, retakan tanah, dan gerakan tanah serta menimbulkan korban jiwa 39 orang meninggal dan lebih dari 400 orang luka. Gerakan tanah sebagai bencana juga terjadi di 22 tempat dan yang terparah di Desa Serempah, Kecamatan Ketol pada jarak 8,22 km dari pusat gempa bumi.Kata Kunci: Gempa bumi Aceh Tengah, skala intensitas gempa bumi, sesar aktif, gerakan tanahABSTRACTAn earthquakes of 6.2 local magnitude in Richter Scale and at a depth of 10 km had shaken Aceh Tengah on July 2nd, 2013 at 14|:37.The mechanism of the earthquake was strike-slip fault which is trending in N 304º E/69º with rake 169º. It was suggested of being associated with one of the active faults in Aceh Tengah region. The scale of the intensity scale was VII-VIII MMI which were marked with heavily damaged settlements; soil cracks and landslides that causing 39 people died and more than 400 people wounded. There were about 22 landslides occurred, the largest one was at Serempah Village in Ketol District, at a distance of 8.22 km from the epicenter.Keyword: Aceh Tengah earthquake, earthquake intensity scale, active fault, landslide
Kelas tektonik sesar Palu Koro, Sulawesi Tengah Supartoyo Supartoyo; Cecep Sulaiman; Deden Junaedi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5562.916 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i2.68

Abstract

ABSTRAKSesar Palu Koro terletak di sepanjang lembah Palu Koro yang membentang dari Teluk Palu ke arah tenggara. Sesar ini merupakan struktur geologi utama di Provinsi Sulawesi Tengah. Berdasarkan data Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) terlihat dengan jelas adanya kelurusan sepanjang lembah Palu Koro yang berkaitan dengan keberadaan Sesar Palu Koro. Sebaran Sesar Palu Koro dapat dibagi menjadi tujuh segmen dengan urutan dari utara ke selatan adalah S6, S5, S4, S3, S2, S1, dan S0. Tulisan ini menganalisis kelas tektonik Sesar Palu Koro berdasarkan metode morfometri sinusitas muka pegunungan dan perbandingan lebar dan tinggi lembah. Morfometri merupakan pengukuran secara kuantitatif dari bentuk lahan yang meliputi lembah, muka pegunungan, luas daerah aliran sungai, tinggi, dan panjang sungai. Nilai parameter morfometri sinusitas muka pegunungan Sesar Palu Koro berkisar antara 1,0008 hingga 2,3367, sedangkan nilai perbandingan lebar dan tinggi lembah berkisar antara 0,03936 hingga 0,9732. Berdasarkan analisis morfometri menggunakan dua parameter tersebut terlihat bahwa semua segmen Sesar Palu Koro tergolong kelas tektonik tinggi dan menengah, dan pada segmen bagian selatan, yaitu segmen S0, S1, S2, dan S3 kelas tektoniknya cenderung lebih tinggi dibandingkan segmen pada bagian utara, yaitu S4, S5, dan S6.Kata Kunci: morfometri, sinusitas muka pegunungan, perbandingan lebar dan tinggi lembah, kelas tektonikABSTRACTPalu Koro Fault lies along Palu valley that stretches from the Gulf of Palu to the southeast. This fault is a major geologic structure in the Province of Central Sulawesi. Based on data from the Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) lineament is clearly seen along the valley of Palu Koro which is related to the presence of Palu Koro Fault. The distribution of Palu Koro Fault can be divided into seven segments with sequence from north to south are S6, S5, S4, S3, S2, S1, and S0 respectively. This paper analyzes tectonic classes of Palu Koro Fault based on morphometry methods of mountain front sinuosity and ratio of valley floor width to valley depth. Morphometry is a quantitative measurement of the shape of landform including valley, mountain front, width of drainage basin, height and length of rivers. The parameter values of mountain sinuosity of Palu Koro Fault range between 1.0008 to 2.3367, and the values of ratio of valley floor width to valley depth range between 0.03936 to 0.9732. Based on morphometry analysis using the both parameters it can be seen that all segments of Palu Koro Fault are classified as high to middle tectonic classes, whereas in the southern part (segments S0, S1, S2, and S3) tend to have higher tectonic classes than in the north (segments S4, S5, and S6).Keyword: morphometry, mountain front sinuosity, ratio of valley floor width to valley height, tectonic class
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DAN PERAN MANAJER PENDIDIKAN DI SEKOLAH Supartoyo Supartoyo
Manajer Pendididikan Vol 9, No 3 (2015)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.558 KB) | DOI: 10.33369/mapen.v9i3.1137

Abstract

The purpose this article is to discuss how the implementation of the curriculum 2013 and the relationship with the role of education managers in this case played by the principal. Themethod used is a literature review method. The results are: (1). Leadership principals intended to put pressure on the principal supervision competence in performing the role and duties as asupervisor, (2). The main substantive ability of principal is to make the implementation of curriculum in accordance with ideal curriculum, (3). Understanding the complete curriculum 2013will determine how curriculum could run well, and 4. Curriculum 2013 will only be a rigid document, without implementation and supervision in a factual and accurate.Keyword: implementation, curriculum 2013, role, manager, education, school
Interaksi; Morfotektonik; Sag-Pond; Sesar Aktif Agus Sutiono; Bambang Prastistho; C. Prasetyadi C. Prasetyadi; Supartoyo Supartoyo
Jurnal Sumberdaya Bumi Berkelanjutan (SEMITAN) Vol 2, No 1 (2020): Prosiding
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/p.semitan.2020.1064

Abstract

Tegangan deformasi regional di daerah penelitian berasal dari gaya subduksi yang dikeluarkan di Selatan Pulau Jawa yakni di lokasi Palung Jawa. Berdasarkan data pengukuran di lapangan, tegangan regional maksimum (?1) disimpulkan merambat di sepanjang azimuth berarah Utara – Selatan (U-S) berkisar dari N355ºE hingga N10ºE. Tekanan regional ini membentuk fraktur regangan yang menonjol pada generasi pertama, yang ditunjukkan oleh karakteristik rekahan U-S; Sesar Girijati (GF), Sesar Sumbermulyo Parangtritis (SPF) dan Kalitirto - Gn.Bangkel - Jombor (KBJ). Rekahan rekehan tersebut berorientasi riedel tension cenderung memiliki karakter sesar aktif. Penting melakukan identifikasi jaringan sesar aktif tersebut untuk diijadikan acuan sebagai petunjuk praktis oleh pemerintah daerah, dalam melaksanakan amanat undang undang nomor 24 dan 27 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan tentang Penataan Ruang. Oleh karena itu, makalah ini mengurai sebagian dari jaringan sesar aktif di Yogyakarta dengan melihat indikator antara dimensi Meander Kalitirto di Berbah dan interaksi jaringan pada setiap interkoneksi sesar penentu bentuk geometri meander tersebut. Liniamen Berbah memperlihatkan dua tren sepanjang arah azimuth N 30ºE dan N 180ºE yang menunjukkan orientasi menyimpang dari U-S ke TL-BD. Pembentukan sag-pond dari sebuah fitur morfotektonik yang ditunjukkan oleh laterally confine meander Sungai Opak di Kalitirto selebar 900 m, membentuk dua meander dengan dimensi 571 m lebar dan 723 m panjang (Meander Kalitirto di Utara) dan 216 m lebar dan 399 m panjangnya (Meander Kalitirto di Selatan). Meskipun, keberadaan meander di sepanjang Sungai Opak itu umum dijumpai, tetapi untuk meander yang ditemukan di Desa Kalitirto dan Jogotirto secara morfotektonik memiliki fisik dan dimensi yang unik. Meander ini mengekspresikan ukuran dan bentuk yang aneh, yang secara dramatis memiliki demensi lebar lebih besar dan berbeda dibandingkan perkembangan meander lainnya di sepanjang Sungai Opak. Hal ini disebabkan oleh fraktur regangan membentuk sag-pond ketika cekungan berkembang di dalam zona sesar. Susunan interaksi sesar di SagPond Berbah melibatkan perluasan Sesar Kalitirto - Gn Bangkel Jombor (KBJ) yang berorientasi Utara-Selatan bersama dengan sesar generasi kedua yakni sesar mendatar TL-BD. Karakteristik interaksi dua sesar ini dalam orientasi yang berbeda dari perpindahan pasangan set sesar sintetis dan set sesar antitetis ekstensional bertanggung jawab untuk membentuk tegangan sag-pond tersebut.
Pengaruh Gempabumi Tektonik Terhadap Aktivitas G. Gede Sri Hidayati; Cecep Sulaeman; Supartoyo Supartoyo; Estu Kriswati
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 19 No. 4 (2018): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v19i4.423

Abstract

In addition to home for seven active volcanoes, West Java, is also having high tectonic activity, owing to its close distance from subduction zone and crustal fault. The Cimandiri Fault extends about 100 km from southwest to the northeast ward through Sukabumi area. Gede Volcano with high seismic activity is sitting 20 km north of Cimandiri Fault. Shallow earthquakes often occur around Gede volcano and their sources are fairly close to the Cimandiri valley. Feltearthquakes occurred in 2007, 2010, 2012 and 2014,where the source supposed to be around Cimandiri valley,were followed by volcano-tectonic (VT) earthquake swarms in Gede Volcano. These swarms probably indicate that there is a linkage between tectonic and Gede volcano activities. However, the swarms were followed by less significant changes in volcanic activity. GPS data during measurement period of 2006-2015 show the existence of a fault with main stress in the northwest-southeast direction. The mechanism of the Cimandiri Fault is reverse fault with sinistral slip component and sinistral strike slip fault, while the swarm of VT earthquakes in Gede Volcano is dominated by reverse and normal faults. Tectonic earthquakes may trigger nearby volcanic eruption; it depends on the state of magma of the volcano and the magnitude of the earthquake.Keyword: Tectonic, Cimandiri fault, VT earthquake, Gede Volcano.