cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2015)" : 5 Documents clear
IDENTIFIKASI POLA SEBARAN SO2 PADA ERUPSI GUNUNG SINABUNG MENGGUNAKAN MODEL DISPERSI HYSPLIT Studi Kasus: Erupsi 29 Oktober 2013 Eko Heriyanto; Kadarsah Kadarsah; Radyan Putra Pradana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5987.322 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i2.77

Abstract

ABSTRAKPola penyebaran konsentrasi SO2 (sulfur dioksida) sangat dipengaruhi oleh parameter cuaca dan dapat disimulasikan pola sebarannya dengan menggunakan model dispersi kualitas udara. Penelitian ini mensimulasikan pola penyebaran SO2 pascameletusnya Gunung Sinabung di Provinsi Sumatra Utara pada tanggal 29 Oktober 2013 dengan mengaplikasikan model dispersi HYSPLIT. Masukan data yang digunakan adalah data prediksi cuaca luaran model Weather Research Forecasting (WRF) resolusi 25 km dengan input emisi SO2 hasil pengukuran fluks gas. Hasil luaran model secara umum menggambarkan pola dispersi SO2 sesuai dengan kondisi lapangan, baik arah sebaran maupun cakupan daerah terdampak. Sebaran SO2  5 menit pasca erupsi G. Sinabung mencapai radius 6,7 - 8,1 km dengan nilai konsentrasi SO2 maksimum sebesar 0,065 mg/m3. Aplikasi model dispersi bersamaan dengan model prediksi cuaca dapat diterapkan di Indonesia sebagai sistem peringatan dini sebaran SO2 akibat erupsi gunung api. Kata kunci : erupsi G. Sinabung, sulfur dioksida, hysplit, Weather Research Forecasting (WRF)ABSTRACT The spreading pattern of  SO2 (sulfur dioxide) is strongly influenced by weather parameters and the spreading pattern which can be simulated using air quality dispersion models. This study is to simulate the  spreading patterns of SO2 after the eruption of Sinabung Volcano in North Sumatra province on October 29th, 2013 by applying HYSPLIT dispersion model. The data used are numeric data from the output of weather prediction models of Weather Research Forecasting (WRF) resolution of 25 km with emissions SO2 gas flux measurement results. Generally, output model can describe the distribution pattern of  SO2 in accordance with the condition of the field, both the direction of the distribution and coverage of affected areas. The spreading of SO2 after five minutes of the Sinabung Volcano eruption reach is a radius of 6,7 to 8,1 km with a maximum value of SO2 concentration that is equal to 0,065 mg/m3. Application dispersion models along with weather prediction model can be applied in Indonesia as an early warning system of SO2 spreading pattern due to volcanic eruption.  Keyword: eruption of Sinabung Volcano, sulfur dioxide, Hysplit, Weather Research Forecasting (WRF)
Kendali Struktur Geologi Terhadap Keterdapatan Air Tanah Kars di Pulau Sumba Bagian Barat Taat Setiawan; Nofi M.Alfan Asgaf
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7278.611 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i2.78

Abstract

Penelitian ini merupakan identifikasi awal terhadap air tanah kars Pulau Sumba bagian barat berdasarkan analisis sistem sesar dan rekahan serta analisis keterdapatan dan besaran debit mata air kars. Hasil penelitian menemukan 23 mata air kars dengan debit maksimum ±1300 l/det. Keterdapatan mata air kars terutama dikontrol oleh struktur geologi baik berupa sesar, sistem rekahan, maupun kontak batuan yang berbeda. Berdasarkan atas analisis pola kelurusan morfologi terlihat bahwa air tanah pada Satuan Perbukitan Kars memiliki pola aliran baratlaut-tenggara hingga utara-selatan, kemudian terluahkan pada Satuan Plato Kars karena kontrol rekahan dan sesar normal yang berarah relatif barat-timur. Berdasarkan karakter keterdapatan mata air, diduga sesar tersebut bertindak sebagai penghubung antara unit hidrostratigrafi pada Satuan Perbukitan Kars dengan Satuan Dataran Kars. Hal tersebut menunjukkan bahwa sistem hidrogeologi kars utama di daerah penelitian merupakan integrasi antara air tanah yang berasal dari Satuan Perbukitan Kars dengan air tanah yang dilepaskan pada Satuan Plato Kars di daerah Waekabubak dan sekitarnya.  Kata kunci : air tanah,  kelurusan,  mata air kars, sesar, Sumba BaratABSTRACT This study was preliminary identification of karstic groundwater in the western part of Sumba Island based on fault and fracture system analysis as well as the karst springs occurrence and magnitude analysis. The study found 23 karst springs with the maximum discharge ± 1300 l/sec. Karst springs occurrence was controlled by the geological structure in the form of fault, fracture system, and lithological boundaries. Based on lineament pattern analysis shown that groundwater in Karst Hills have flow patterns of northwest-southeast to north-south, then discharged on Plato Karst that was controlled by fracture and normal faults system relatively east-west trending. Based on the character of karst springs occurrence, the fault was supposed as a conductor between the hydrostratigraphy unit of Karst Hills and Plato Karst. It shown that the main karst hydrogeological system in the study area is the integration between groundwater from Karst Hills and discharging on Plato Karst of Waekabubak and the surrounding area.Keyword : groundwate,  lineament,  karst spring, fault, West Sumba   
Aplikasi Metode Inversi Damped Least-square untuk Pemodelan 1-D Data TEM Willy Hermawan; Hendra Grandis; Widodo Widodo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4113.643 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i2.82

Abstract

ABSTRAKMetode TEM (transient electromagnetic) merupakan metode alternatif yang dapat digunakan untuk mencari sumber air tanah selain metode geolistrik. Prinsip metode TEM adalah menginduksikan energi elektromagnetik ke dalam tanah dengan menggunakan transmitter loop dan receiver koil yang merekam respon bawah permukaan ketika transmitter dalam keadaan mati (tidak ada medan primer). Pemodelan data TEM pada umumnya masih menggunakan model 1-D. Penelitian ini akan membahas mengenai metode Inversi damped least-square untuk pemodelan inversi 1-D dari data TEM. Metode damped least-square membutuhkan parameter model awal untuk selanjutnya dilakukan inversi damped least-square menggunakan teknik SVD (Singular Value Decomposition). Metode ini diaplikasikan terhadap tiga data sintetik. Data sintetik I menunjukkan nilai resistivitas semakin kecil seiring bertambahnya kedalaman. Data sintetik II menunjukkan nilai resistivitas semakin besar seiring dengan bertambahnya kedalaman. Data sintetik III merupakan respon model yang mewakili daerah prospek airtanah, memperlihatkan lapisan konduktif diapit oleh lapisan resistif dan sebaliknya. Metode damped least-square juga diaplikasikan pada data lapangan daerah karst Kabupaten Tuban. Hasil pemodelan data sintetik memperlihatkan kesesuaian yang optimum antara data resistivitas semu observasi dan perhitungan. Sedangkan, hasil pemodelan data lapangan memerlihatkan kesesuaian model dengan kondisi geologi setempat.Kata kunci: metode damped least-square, singular value decomposition dan transient electromagnetic.ABSTRACTTransient electromagnetic (TEM) sounding method is an alternative method other than the geoelectrical method that can be used for groundwater exploration purposes. The principle TEM method is done by the induction of electromagnetic fields at the surface within a transmitter loop and record the subsurface response in the receiever coil when the absence of the primary field (transmitter off). TEM data are usually interpreted in term of 1-D model. The damped least-square method is presented in this paper. The damped least-square method needs an initial model parameter and employs the damped least-square solution with Singular Value Decomposition (SVD) technique. This methods have been applied to three synthetic data sets. The first synthetic data shows decreasing resistivities with depth. The second synthetic data shows increasing resistivities with depth. The third synthetic data are a response of groundwater prospect model, consisting of a conductor layer between two resistors and resistor layer between two conductors. Damped least-square methods was also applied to field data from karst area, Tuban. The results from synthetic data inversions presented good fit between the observed and the calculated apparent resistivity data. The results from field data show models subsurface resistivity consistent with the local geology.Keyword : damped least-square method, singular value decomposition and transient electromagnetic.        
Perencanaan Evakuasi Vertikal di Pulau Serangan, Provinsi Bali sebagai Alternatif Pengurangan Risiko Bahaya Tsunami Yunarto Yunarto; Anwar H. Z.; Wibowo Y. S.
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (955.648 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i2.83

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan peta bahaya tsunami multi-skenario Bali skala 1 : 25.000 mencakup magnitudo M9 tahun 2009, wilayah Pulau Serangan dimungkinkan terkena dampak tsunami kecil maupun tsunami besar. Lokasi evakuasi horizontal yang telah ditetapkan mengakibatkan waktu tempuh masyarakat lebih dari satu jam dari Pulau Serangan menuju Pulau Bali, sedangkan waktu perkiraan gelombang tsunami tiba di pantai diperkirakan kurang dari 38 menit (berdasarkan perkiraan waktu tiba tsunami Banyuwangi) setelah terjadinya gempa. Penelitian ini merencanakan evakuasi vertikal terhadap bahaya tsunami  yang dilakukan di Pulau Serangan bagian utara, yang bertujuan untuk mengurangi risiko masyarakat terhadap bahaya tsunami. Proses persiapan evakuasi masyarakat sejak diumumkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setelah gempa kuat yang memicu gelombang tsunami hingga masyarakat mulai melakukan evakuasi diperkirakan memerlukan waktu sekitar 20 menit, dengan demikian waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi evakuasi (38-20 menit) <= 18 menit. Sebagai konsekuensinya, diperlukan shelter sebagai bangunan evakuasi vertikal yang dapat menyelamatkan masyarakat Pulau Serangan bagian utara  dalam waktu kurang dari 18 menit. Ada dua shelter yang akan dibangun, yaitu shelter 1 yang direncanakan BPBD Provinsi Bali dan shelter 2 sebagai shelter tambahan yang diusulkan. Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui services area pada Network Analyst terhadap kedua shelter dengan waktu evakuasi 18 menit, diperkirakan penduduk yang dimungkinkan dapat menjangkau  shelter 1 dan shelter 2, baik  pada siang dan malam hari, yaitu 2.830 orang dan 1.335 orang, sehingga total kapasitas kedua shelter 4.165 orang (melebihi jumlah penduduk Pulau Serangan bagian utara sebanyak 3.986 orang). Kata kunci : perencanaan evakuasi,  perkiraan waktu tiba, SIG, waktu evakuasi Vertical Evacuation Planning at Serangan Island, Bali Province, as an Alternative Reduction of Tsunami Hazard Risk ABSTRACTBased on the multi scenario tsunami hazard map Bali scale 1: 25,000 covering magnitude of M9 in 2009, the island of Serangan is possibly affected by small or large tsunami hazard. Horizontal evacuation sites that have been assigned lead people travel time of more than one  hour from Serangan Island to Bali Island, whereas the estimated time of tsunami waves arrive at the coast to be less than 38 minutes (estimated arrival time of  Banyuwangi tsunami) after the quake. Therefore, this study is aimed to prepare the vertical evacuation planning against tsunami hazard at Serangan Island at the northern part of the island. The vertical evacuation is aimed to reduce the tsunami risk. The evacuation preparation since   The BMKG announcement that the possibility of the tsunami that triggered by an earthquakes until people begin to evacuate is estimated to take approximately 20 minutes. Thus the time needed to reach the evacuation site (38-20 minutes) <= 18 minutes. As a consequence, the importance of vertical evacuation shelter as a building that can save people at north Serangan is less than 18 minutes. There are two shelters those will be built, the first shelter is planned  by BPBD of Bali Province and the second shelter  as an additional shelter is being proposed. Analysis through The Geographic Information System (GIS) based Network Analyst show that the evacuation time necessary to the second shelter is about 18 minutes, it is estimated that the population may reach Shelter 1 and 2, both at day and night with amount of 2,830 people and 1,335 people, bringing the total capacity of both shelter is 4,165 people (exceeding the population of the northern part of the Serangan island of 3,986 people). Keyword :  evacuation planning, GIS, estimated arrival time, evacuation time
KAJIAN TATA AIR DALAM PENGELOLAAN TATA RUANG Studi Kasus : Status Air Baku Air Minum di Dataran Tinggi Dieng Dyah Marganingrum
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6577.246 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i2.76

Abstract

 ABSTRAK Makalah ini bertujuan memberi gambaran tentang perlunya sinergi dan harmonisasi antar sektor dalam perencanaan dan pengelolaan tata ruang. Studi kasus dilakukan di kawasan Dieng Plateau menggunakan metode pendekatan survei lapangan dan analisis. Tekanan populasi di kawasan ini telah menyebabkan terjadinya tekanan lahan yang memicu peningkatan aktivitas di sektor pertanian, khususnya komoditas kentang. Aktivitas tersebut disertai dengan pemanfaatan pupuk organik maupun anorganik untuk meningkatkan produktivitas. Hasil analisis lima dari enam sampel air sumur di sekitar lokasi studi menunjukkan kadar nitrat dan COD (Chemical Oxygen Demand)  yang tinggi. Tingginya kadar nitrat dan COD dalam air sumur memberikan indikasi yang cukup kuat  yaitu telah terjadi kontaminasi air akibat aktivitas pertanian. Oleh karena itu, untuk mencapai kesinambungan sumber daya di Dieng Plateau, maka perlu adanya sinergi dan harmonisai antarsektor, khususnya sektor sumber daya air dan lahan.Kata kunci: COD, Dieng Plateau, nitrat, produktivitas pertanian  ABSTRACTThis paper aims to provide an overview of the need for the synergy and harmonize between sectosr in the spatial planning and its management. The case study was conducted in Dieng Plateau using the method of survey and analytical approach. The population pressure influenced the land pressure in this location. It has triggered the increase of agricultural activities, particularly in potato commodities. Its activities use  organic and inorganic fertilizers to improve productivity. The analysis result of five of six water samples taken from the shallow dug well around the Dieng Plateau showed the high concentration of nitrate and COD (Chemical Oxygen Demand). High concentration of nitrate and COD in water sample provides a strong enough indication that water contamination occurred as a result of the agricultural activities. Therefore, in order to achieve sustainability of resources in the Dieng Plateau, hence the synergy and harmony between sectors are needed, especially water and land resources sectors. Keywords: COD, Dieng Plateau, nitrate, agricultural activitie 

Page 1 of 1 | Total Record : 5