cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2016)" : 5 Documents clear
Hubungan Potensi Likuifaksi Pada Endapan Gunungapi Merapi Muda Dengan Kerusakan Bangunan Di Kabupaten Bantul Pada Kasus Gempabumi 27 Mei 2006 Taufiq Wira Buana; Muhammad Wafid A.N.; Imam A. Sadisun
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2163.566 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i2.98

Abstract

ABSTRAKKerusakan bangunan merupakan salah satu kerugian saat gempabumi 27 Mei 2006 di Kabupaten Bantul. Bangunanbangunan tersebut berada pada Endapan Gunungapi Merapi Muda yang berumur Kuarter, dan endapan tersebut merupakan material yang belum terkonsolidasi, tersususn atas endapan pasir, lanau, dan lempung yang relatif berada dalam kondisi jenuh air. Kondisi ini berpotensi untuk terjadinya likuifaksi dan telah terbukti dengan kejadian likuifaksi pada saat gempabumi tersebut. Fakta di lapangan menunjukkan lokasi yang terlikuifaksi mengalami kerusakan bangunan yang relatif lebih parah. Konfirmasi dari penelitian terdahulu terhadap karakteristik likuifaksi yang terjadi pada saat itu telah diterapkan dengan pendekatan konsep tegangan siklik. Hasilnya menunjukkan potensi likuifaksi tinggi sebanding dengan tingkat kerusakan bangunan aktual yang telah dipetakan oleh UNOSAT dan RESPOND.Kata kunci: Endapan Gunungapi Merapi Muda, potensi likuifaksi, kerusakan bangunanABSTRACTBuilding damage is one of the earthquake destructed effects at May 27th, 2006 on Bantul region. The buildings lie on Quarternary Young Volcanic Deposits of Merapi Volcano that consist of unconsolidated material such as saturated sand, silt, and clay deposits. This condition is potential to liquefaction and it had proven when the earthquake occured. In fact, the liquefied locations show relatively extensive collapsed buildings. The early research with cyclic stress concept against liquefaction behavior due to earthquake have been confirmed. The result shows high liquefaction potential equivalent to actual damaged buildings rating mapped by UNOSAT and RESPOND.Keywords: Young Volcanic Deposits of Merapi Volcano, liquefaction potential, damaged buildings
Pertumbuhan Retakan Pada Peningkatan Aktivitas Gunung Egon, Nusa Tenggara Timur Periode Desember 2015 – Januari 2016 Estu Kriswati; Novia Antika Anggraeni; Sucahyo Adi; Devy K. Syahbana; Ilham Mardikayanta; Herman Yosef Mboro
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1187.404 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i2.94

Abstract

ABSTRAKPeningkatan aktivitas Gunung Egon terjadi pada pertengahan Desember 2015. Tingkat aktivitas dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) pada 15 Desember 2015 dan kemudian dinaikkan menjadi level III (Siaga) pada 13 Januari 2016 sejalan dengan peningkatan aktivitas kegempaan yang makin intensif. Pemantauan kegempaan merupakan metode yang paling umum digunakan untuk menentukan tingkat aktivitas gunungapi dan untuk memprediksi letusan gunungapi. Pembahasan aktivitas vulkanik Gunung Egon ditujukan untuk memahami peningkatan aktivitas yang terjadi pada Desember 2015 – Januari 2016 berdasarkan analisis data kegempaan. Hal ini didukung oleh hasil pengamatan visual serta pengukuran kandungan gas di udara di sekitar gunung. Gempagempa vulkanik yang terekam pada seismometer Gunung Egon periode Desember 2015 - Januari 2016 meningkat dari segi jumlah dan mempunyai sumber yang dangkal di bawah puncak gunung. Peningkatan energi gempa vulkanik yang ditimbulkannya cukup signifikan. Analisis statistik terhadap gempa pada Gunung Egon yang memperlihatkan nilai-b cukup rendah, dan merupakan hasil dominansi jumlah gempa tektonik. Peningkatan nilai-b pada periode 2015 - 2016 dibandingkan periode 2014 - 2015 diartikan sebagai peningkatan retakan/rekahan di sekitar Gunung Egon. Kemungkinan adanya peningkatan retakan yang terjadi di Gunung Egon didukung oleh adanya peningkatan tinggi asap hembusan solfatara dan adanya peningkatan kandungan gas SO2 pada Januari 2016 yang melebihi ambang batas.Kata kunci: aktivitas gunungapi, gempa vulkanik, nilai-b, peningkatan retakanABSTRACTIncreasing the activity of Egon Volcano occured in mid-December 2015. The level of activity of the volcano raised from Level I to Level II on December 15, 2015 and raised Egon to level III on January 13, 2016 due to the intensif increase on the seismic activity. The seismic method is commonly applied for volcanic monitoring, volcanic eruption prediction, and determining the activity level of active volcanoes. Discussion of the volcanic activity of Egon Volcano aims to understand the increasing activity from December 2015 to January 2016 based on seismic data, supported by visual observation and gas content measurement in the air around Egon. Volcanic earthquakes at Egon Volcano in the period of December 2015 - January 2016 increased significantly in number, with hypocentres distributed in the shallow depth beneath the Egon summit. This means there was also a significant increase in volcanic earthquake energy. Statistic analysis of the earthquakes shows the b-value is quite low, indicating the dominancy of tectonic earthquakes. The increase in b-value during the period of 2015-2016 compared to the period of 2014 - 2015 is defined as the increasing of cracks/fissures in the vicinity of the volcano. The possibility of the increasing in cracks occurred at Egon Volcano was supported by the increase in the height of solfatara emission and the increase in SO2 gas content on January 2016, which was higher than the surrounding.Keywords: volcanic activity, volcanic earthquakes, b-value, increase of cracks
Pemodelan Hidrologi Longsoran di Lereng Km 1, Jalur Lintas Barat Liwa - Krui, Lampung Barat Prahara Iqbal; Asep Mulyono; Arifan Jaya Syahbana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.443 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i2.95

Abstract

ABSTRAKKejadian longsoran di jalur lintas barat Liwa - Krui sering terjadi yang menyebabkan putusnya jalur perekonomian antar- daerah. Longsoran yang terjadi dominan berjenis longsoran translasi tanah yang diakibatkan oleh infiltrasi airhujan. Pemodelan hidrologi di salah satu lereng jalur lintas barat Liwa - Krui Km 1 telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui proses terjadinya longsoran dan untuk memilih solusi penanggulangan yang tepat. Metode yang digunakan adalah pemetaan geologi, analisis geoteknik, dan pemodelan hidrologi. Pemodelan hidrologi dilakukan dengan simulasi numerik yang menggunakan data laboratorium. Hasil analisis menunjukkan bahwa longsoran yang terjadi di lereng jalur lintas barat Liwa - Krui Km 1 adalah longsoran translasi dangkal yang disebabkan oleh penjenuhan tanah akibat infiltrasi air hujan. Penanggulangan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan memasang lapisan impermeabel berupa lapisan semen.Kata kunci: jalur lintas barat Liwa - Krui, longsoran, pemodelan hidrologiABSTRACTLandslide phenomena at Liwa - Krui west cross road oftenly occur causing loss of inter-regional economic lines. The landslide type predominantly is soil translational slide, caused by rain water infiltration. Slope hydrological modeling at Liwa - Krui west cross road Km 1 was conducted with purposed to determine the occurrence of landslide and choose the right mitigation solution. The methodology used consists of geological mapping, geotechnical analysis, and hydrological modeling. Hydrological modeling was carried out by numerical simulation using laboratory data. The analysis show that the landslide on the Liwa - Krui west cross road slopes is translational shallow landslide, triggered by the soil saturation due to rainfall infiltration. The mitigation method that can be applied to overcome this problem is to place an impermeable layer such as cement on the slope face.Keywords: Liwa - Krui West Cross road, landslide, hydrological modeling
Penerapan Metode Mikrotremor HVSR untuk Penentuan Respons Dinamika Kegempaan di Kota Padang Pupung Susilanto; Drajat Ngadmanto; Daryono Daryono; Thomas Hardy; Suliyanti Pakpahan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2332.214 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i2.96

Abstract

ABSTRAKPeristiwa gempabumi 30 September 2009, memperlihatkan bahwa Kota Padang merupakan daerah rawan gempabumi. Sebagai ibu kota provinsi, Kota Padang berperan sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian, sehingga harus dilindungi dari bahaya gempabumi. Penelitian mikrozonasi dengan metode pengukuran mikrotremor ini bertujuan untuk mengetahui respons dinamika kegempaan setempat di Kota Padang. Data mikrotremornya terdiri atas 180 titik hasil pengukuran yang tersebar di Kota Padang dengan grid 500 m x 500 m. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan digital portable seismograph tiga komponen dengan durasi pengukuran selama 30 menit dan frekuensi sampling 100 Hz. Data diolah dengan menggunakan metode HVSR (Horizontal to Vertical Spectrum Ratio). Indeks kerentanan seismik (Kg) diperoleh dengan mengkuadratkan nilai puncak spektrum mikrotremor dibagi dengan frekuensi dominannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai frekuensi dominan (f0) di daerah penelitian berkisar antara 0,5 – 1,9 Hz, H/V amplifikasi (A) antara 0,6 – 9,7, dan nilai indeks kerentanan seismik (Kg) berkisar antara 0,3-162,0. Persebaran secara spasial indeks kerentanan seismik menunjukkan bahwa hampir seluruh daerah penelitian merupakan daerah yang mempunyai kerentanan yang cukup tinggi terhadap bahaya gempabumi.Kerentanan yang tertinggi tersebar di bagian barat dan utara daerah penelitian, sedangkan kerentanan yang lebih rendah tersebar di bagian timur dan selatan daerah penelitian.Kata kunci: HVSR, indeks kerentanan seismik,mikrotremorABSTRACTThe earthquake on September 30, 2009, shows that Padang City is an earthquake vulnerable area. As the capital of a province, it plays the role as the centre of governance and economy. Thus, Padang City should be protected from earthquake hazards.Microzonation research with microtremor measurement method aims to determine the dynamic response of the local seismicity in the city. Microtremor data consist of 180 measurement points that are scattered in Padang with a grid of 500 mx 500 m. The measurements used a digital portable seismograph three components with time duration 30 minutes and 100 Hz of sampling frequency. The data are processed using HVSR (Horizontal to Vertical Spectrum Ratio) method. The seismic vulnerability index (Kg) obtained by squaring the peak value of microtremor spectrum divided by its dominant frequency. The results show that the dominant frequency (f0) in the studied area ranges between 0.5 to 1.9 Hz, H/V amplification (A) between 0.6 to 9.7, and the value of the seismic vulnerability index (Kg) rangesbetween 0.3 to 162.0. Spatial distribution of the seismic vulnerability index shows that almost of the entire researched area has a fairly high susceptibility to earthquake hazards. The highest vulnerability spreads across the western and northern parts of the studied area, while a lower susceptibility scatteres in the east and south of the studied area.Keywords: HVSR, seismic vulnerability index, microtremor
Sistem Akuifer Kars Waekabubak, Sumba Barat, Berdasarkan Analisis Densitas Kelurusan Morfologi dan Variasi Spasial Hidrogeokimia Taat Setiawan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6235.421 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i2.97

Abstract

ABSTRAKSistem akuifer kars di daerah Waekabubak dan sekitarnya menarik untuk diteliti mengingat potensi air tanahnya yang besar. Penelitian ini menggunakan analisis kelurusan morfologi, besaran debit mata air kars, isotop stabil 2H dan 18O, indeks kejenuhan CaCO3, dan tekanan parsial CO2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat musim kemarau, air tanah dominan berasal dari sistem aliran difusi. Daerah imbuhan air tanah utama terletak pada zona densitas kelurusan sedang hingga tinggi (1,0-2,5/km2) pada elevasi >450 mdpl dengan karakteristik besaran debit mata air lebih kecil dari 10 l/det, ringannya kandungan isotop stabil 18O, dan air tanah dalam kondisi tidak jenuh, hingga setimbang terhadap CaCO3. Daerah lepasan air tanah terletak pada elevasi 390 – 450 mdpl.dengan karakter kandungan isotop 18O relatif sedang hingga berat dan air tanah dalam kondisi jenuh terhadap CaCO3. Pada daerah ini terdapat mata air permanen dengan debit terbesar ±1.300 l/det. dan dijumpai mata air serta sumur bor artesis.Kata kunci: kelurusan, kejenuhan CaCO3, isotop stabil, akuifer kars, WaekabubakABSTRACTKarstic aquifer system in Waekabubak and its surrounding area have highgroundwater potential. This study was conducted using an analysis of lineament density, karstic spring discharge, stable isotopes of 2H and 18O, saturation index of CaCO3, and partial pressure of CO2. The results show that during dry season, groundwater flow system dominantly come from diffusion system. The main ground-water recharge area lies on the medium to high lineament density zone (1.0 to 2.5 / km2) at the elevation of > 450 masl. with the character of spring discharge less than 10 l / sec, lightness of the stable isotopes 18O content, and in the condition of under- saturated until equilibrium with respect to CaCO3. The main ground-water discharge area lies at the elevation of 390-450 m asl with moderate to heavy of stable isotopes 18O content, and in the condition of saturated with respect to CaCO3. This area also has permanent springs with the largest discharge ± 1,300 l / sec, and artesian spring and well.Keywords: lineament, saturation of CaCO3, stable isotope, karst aquifer, Waekabubak

Page 1 of 1 | Total Record : 5