cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 3 (2016)" : 5 Documents clear
Rekonstruksi Run-Up Dan Kecepatan Tsunami Berdasarkan Data Endapan Tsunami Studi Kasus: Tsunami Mentawai 2010 Dan Tohoku Oki 2011 Purna Sulastya Putra
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 3 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2713.441 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i3.105

Abstract

ABSTRAKTulisan ini bermaksud menguji sebuah metode sederhana perhitungan run-up dan kecepatan tsunami yang dimodifikasi oleh Srisutam dari metode yang sudah ada. Dasar modifikasi ini adalah jarak maksimum pengendapan sedimen oleh run-up tsunami dihitung dari plot nilai rata-rata besar butir terhadap jarak untuk setiap lapisan, dengan asumsi ukuran besar butir mengecil ke arah darat. Perhitungan dengan metode hasil modifikasi ini dengan studi kasus tsunami Mentawai 2010 (di Tumalei) dan Tohoku Oki 2011 (di Yunuki), menunjukkan hasil yang melebihi hasil pengukuran di lapangan. Hasil perhitungan kecepatan rata-rata run-up tsunami pada lintasan Yunuki adalah 5,67 m/s, sedangkan di lintasan Tumalei maksimal mencapai 1,86 m/s. Lereng di Yunuki yang lebih landai dibandingkan di Tumalei, mungkin berpengaruh terhadap kecepatan run-up yang lebih besar dan daerah yang tergenang lebih jauh. Tinggi runup tsunami Tohoku Oki 2011 di Yunuki hasil perhitungan adalah 5,75 m, berada di kisaran tinggi run-up hasil survei yang mencapai maksimal 20 m. Namun, jarak genangan hasil perhitungan (11,76 km) dua kali lipat lebih jauh dari jarak genangan hasil pengukuran (4,8 km). Sementara itu, hasil perhitungan tinggi run-up di Tumalei adalah 14,27 m, lebih dari dua kali hasil perhitungan di lapangan (6 m). Jarak genangan hasil perhitungan di Tumalei adalah 1,19 km, hampir sepuluh kali hasil pengukuran yang hanya 136 m. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa metode Srisutam ini menggunakan asumsi yang terlalu sederhana, sehingga dihasilkan perhitungan yang tidak sesuai dengan hasil pengukuran. Secara umum, nilai rata-rata besar butir endapan tsunami memang menghalus ke arah daratan. Namun, variasi lokal (misalnya mikrotopografi) di sepanjang lintasan akan berpengaruh terhadap distribusi besar butir, dan pada akhirnya akan memengaruhi hasil perhitungan metode Srisutam. Metode ini masih memerlukan pengembangan lebih lanjut untuk bisa diaplikasikan dalam studi paleotsunami.Kata kunci: endapan tsunami, kecepatan tsunami, run-up, rekonstruksiABSTRACTThis paper is to examine a simple model of calculating tsunami run-up and velocity developed by Srisutam. This simple model is the result of the modification of an existing model. The idea of this modification is that the maximum distance of sediment deposition by tsunami run-up is calculated from the plot of mean grain size with the distance for every layer, with the assumption that the grain size of the deposit decreases landward along the transect. Bu using the data from the 2010 Mentawai tsunami and the 2011 Tohoku Oki tsunamis as the case study, the result of the calculation by using this simple model is overestimated. The calculated tsunami mean run-up velocity in Yunuki is 5.67 m/s, meanwhile in Tumalei is 1.86 m/s. The slope of the transect in Yunuki is very gentle compared to Tumalei, that may have an effect to the tsunami run-up that resulted the higher velocity and longer inundation distance. The calculated run-up height in Yunuki (5.75 m) is in the range of measured run-up height which is up to 20 m. However, the calculated inundation distance (11.76 km) is more than twice the measured inundation distance (4.8 km). The calculated run-up height in Tumalei is 14.27 m, which is more than twice the measured height (6 m). The calculated inundation distance in Tumalei is 1.19 km, almost ten times of the measured distance. The results of this calculation show that the assumption used in this Srisutam method is too simple and it results inaccurate calculation. In general, mean grain size of the tsunami deposit is fining landward. However, local variation (i.e. microtopography) along the transect may affect the grain size distribution, and finally will affect the model calculation. This method still needs further development to be applied in paleotsunami studies.Keywords: tsunami deposit, tsunami velocity, run-up, reconstruction
Analisis Karakteristik Akuifer dan Zonasi Kuantitas Air Tanah di Dataran Kars Wonosari dan Sekitarnya, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Taat Setiawan; Nofi M.Alfan Asgaf
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 3 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6559.956 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i3.106

Abstract

ABSTRAKDataran Kars Wonosari dan sekitarnya secara hidrogeologis memiliki sistem akuifer produktif yang ditandai dengan banyaknya sumur bor air tanah, baik untuk keperluan domestik maupun irigasi. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis data uji pemompaan sumur bor untuk mengetahui jenis dan karakteristik akuifer, serta zonasi kuantitas air tanah secara spasial. Hasil analisis tersebut menunjukkan sistem akuifer di daerah penelitian termasuk ke dalam jenis semi tertekan dan secara lokal bersifat tertekan. Hasil perhitungan nilai transmisivitas akuifer menggunakan data uji pemompaan memiliki korelasi yang kuat (R2 = 0,918) dengan estimasi empiris data kapasitas jenis sumur bor. Berdasarkan atas nilai transmisivitas akuifer, kuantitas air tanah di daerah penelitian bervariasi secara spasial, dari potensi sedang untuk domestik dan sangat jelek untuk irigasi (1 - 8 m2/hari), hingga potensi sangat baik untuk domestik dan baik untuk irigasi (1.000 - 10.000 m2/hari).Kata kunci: transmisivitas, kapasitas jenis, kuantitas air tanah, WonosariABSTRACTWonosari karst plateau area hydrogeologically has productive aquifer system characterized by the number of groundwater wells for domestic and irrigation purposes. This research was conducted by analyzing pumping test data to determine the type and characteristics of aquifer and spatial zonation of the groundwater quantity. The analysis shows that the aquifer system of the studied area has semiconfined character and locally confined. The results of the aquifer transmissivity value calculation using pumping test data have a strong correlation (R2 = 0.918) with the empirical estimation of the specific capacity data. Based on the value of aquifer transmissivity, the groundwater quantity of the studied area varies spatially from medium potential for domestic and very poor for irrigation (1 - 8 m2/ day), up to very good potential for domestic and good for irrigation (1,000-10,000 m2/day).Keywords: transmissivity, specific capacity, groundwater quantity, Wonosari
Studi Air Tanah di Pantai Bosnik, Distrik Biak Timur, Pulau Biak, Provinsi Papua Hendra Bakti; Dadan Dani Wardana; Wilda Naily; Adrin Tohari; Arief Rachmat
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 3 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3814.792 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i3.99

Abstract

ABSTRAKPenelitian telah dilaksanakan di Pantai Bosnik, Distrik Biak Timur, Kabupaten Biak Numfort, Pulau Biak, Provinsi Papua. Penelitian dilakukan untuk mengetahui karakter air tanah wilayah pesisir sebagai informasi dasar bagi pengelolaan sumber daya air. Metode penelitian yang dipakai terdiri atas survei hidrogeologi permukaan, hidrokimia, dan survei geolistrik. Batuan di daerah penelitian didominasi batu gamping koral (Formasi Mokmer) dan sedikit endapan aluvium pantai. Keduanya bertindak sebagai akuifer yang dapat menyimpan dan meloloskan air dalam jumlah yang berarti. Air tanah yang terdapat pada batu gamping koral terkonsentrasi dalam porositas sekunder yang saling berhubungan. Tipe air tanah didominasi oleh tipe klorida (Na-Cl dan Mg-Cl). Sementara air tanah pada aluvium pantai dicirikan dengan tipe bikarbonat (Ca-HCO3). Mata airnya memiliki tipe karbonat (Ca-HCO3, Mg-HCO3) dan tipe Na-Cl. Batu gamping koral mempunyai tahanan jenis yang bervariasi dari 3 ohm-m – 5000 ohm-m. Tahanan jenis rendah berasosiasi dengan rongga hasil pelarutan yang terisi air payau atau pun air asin, sedangkan tahanan jenis kontras tinggi merupakan batu gamping kompak dan kering.Kata kunci: akuifer, batu gamping, porositas sekunder, air tanah, Pulau BiakABSTRACTA research has been conducted in Bosnik Coast, East Biak District, Biak Numfort, Biak Island, Papua Province. The study was conducted to determine the character of the groundwater in coastal areas as basic information for the management of water resources. The research method consists of the surface hydrogeologic survey, hydrochemical, and the geoelectric survey. The rocks in the studied area are dominated by coral limestone (Mokmer Formation) and a little alluvium coastal sediment. Both act as an aquifer that can store and release significant quantities of water. Groundwater is contained in coral limestone, concentrated in interconnected secondary porosity. The type of water dominated by the chloride type (Na-Cl and Mg-Cl). While groundwater in coastal alluvium is characterized by the bicarbonate type (Ca-HCO3). The springs have carbonate type (Ca-HCO3, Mg-HCO3) and Na-Cl type. The result of geolelectrical measurement indicated that the coral limestone had resistivity which varied from 3 ohm-m - 5000 ohm-m. The low resistivity associated with the voids or cavities filled with brackish water or salt water, while the high resistivity contrast is a compact and dry limestone.Keywords : aquifer, limestone, secondary porosity, groundwater, Biak Island
Pendugaan Struktur Geologi Bawah Permukaan Daerah Terdampak Lumpur Sidoarjo (Lusi) Berdasarkan Analisis Data Geomagnet Imam Setiadi; Arif Darmawan; Marjiyono Marjiyono
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 3 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2757.194 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i3.103

Abstract

ABSTRAKSemburan lumpur Sidoarjo (Lusi) sudah menjadi isu nasional yang berdampak pada berbagai aspek, yaitu teknis, politis, ekonomi, dan sosial. Penyebab terjadinya semburan lumpur tersebut hingga saat ini masih menjadi perdebatan, apakah oleh faktor alam yang dipicu oleh gempa Yogyakarta atau akibat kesalahan teknis proses pemboran. Dari aspek geologi, daerah Sidoarjo termasuk ke dalam Zona Kendeng yang banyak memunculkan bentukan gunung lumpur. Selain itu, daerah ini dilewati oleh sesar Watukosek yang diduga sebagai struktur keluarnya lumpur panas dari dalam bumi. Penelitian geofisika menggunakan metode geomagnet ini bertujuan untuk mengetahui struktur geologi bawah permukaan berdasarkan parameter fisis kerentanan magnetik (magnetic susceptibility). Analisis data yang dilakukan di antaranya dengan penerapan reduksi medan magnet ke kutub (reduced to the pole), pseudogravity, dan pemodelan 2D bawah permukaan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dari peta reduced to the pole dan peta pseudogravity telihat adanya patahan yang memanjang dengan arah relatif utara - selatan. Hasil pemodelan struktur bawah permukaan daerah terdampak lumpur Sidoarjo menghasilkan beberapa lapisan dan menunjukkan adannya patahan. Lapisan pertama adalah top soil, lapisan kedua lempung dengan perselingan batupasir, serta lapisan ketiga batu pasir dan serpih.Kata kunci: geomagnetik, reduksi ke kutub, model 2D bawah permukaan, Lumpur SidoarjoABSTRACTSidoarjo mud flow (Lusi) has become a national issue that affects almost all aspects i.e. technical, political, economic, and social. The cause of the mud flow is still debatable up to now, whether due to a natural factor which was triggered by the Yogya earthquake or was caused by technical errors in the drilling process. In terms of the geological aspect, Sidoarjo area is included in the Kendeng zone which raises many mud volcano formations. Besides, the area is passed by Watukosek fault structure which is presumed as the source of mud flow from the earth. The geophysical research using geomagnetic method aims to determine the subsurface geological structure based on physical parameters of magnetic susceptibility. Geophysical data analysis such as a reduction to the pole, pseudogravity, and 2D subsurface modeling were applied to the geomagnetic data. The results obtained from geophysical data analysis show that reduced to the pole and pseudogravity map indicate the presence of the fault that extends relative to north - south direction. The results of the subsurface structure modeling using geomagnetic method in Sidoarjo mud flow area produce some layers and show some faults. The first layer is top soil, the second is interfingering clay and sandstone, and the last is sandstone and shale.Keywords : geomagnetic, reduction to the pole, 2D subsurface model, Sidoarjo mudflow
Potensi Penguatan Gelombang Gempabumi oleh Sedimen Permukaan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat Marjiyono Marjiyono
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 3 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3060.058 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i3.104

Abstract

ABSTRAKKerusakan bangunan dan infrastruktur oleh goncangan gempa bumi di suatu wilayah tidak hanya disebabkan oleh magnitudo atau kekuatan dan jarak ke pusat gempa bumi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi geologi permukaannya. Karakterisasi litologi permukaan perlu dilakukan dalam rangka untuk memperkirakan tingkat penguatan gelombang gempa bumi. Kombinasi pengukuran mikrotremor single station dan array telah dilakukan di Kota Mataram untuk memodelkan kondisi geologi bawah permukaan. Perhitungan nilai faktor penguatan gelombang dilakukan dengan menggunakan pendekatan fungsi alih gelombang geser horizontal 1D. Hasil perhitungan menunjukkan nilai faktor penguatan gelombang Kota Mataram berkisar antara 1,1 - 2,2. Potensi penguatan gelombang tinggi berada di bagian barat Kota Mataram.Kata kunci: fungsi alih gelombang geser horizontal, kecepatan gelombang geser,mikrotremor, penguatan gelombangABSTRACTDamage of infrastructure and building due to ground shaking within a region is not merely caused by the magnitude and distance from earthquake source, but it is also affected by surface geological condition. In order to find out site amplification level of Mataram City, the single station and array microtremor survey have been conducted to identify its soil properties. The site amplification is calculated using 1DSH transfer function approximation andthe result rangesin 1.1-2.2. The western part of Mataram shows higher amplification area.Keyword : SH transfer function, shear wave velocity,microtremor, site amplification

Page 1 of 1 | Total Record : 5