cover
Contact Name
Andri Restiyadi
Contact Email
sangkhakala.balarsumut@kemdikbud.go.id
Phone
+6282160904164
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Balai Arkeologi Sumatera Utara Jalan Seroja Raya, Gang Arkeologi No. 1, Tanjung Selamat, Medan Tuntungan, Medan 20134
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Berkala Arkeologi SANGKHAKALA
ISSN : 14103974     EISSN : 25808907     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
"SANGKHAKALA" refers to the shell horns that blown regularly to convey certain messages. In accordance with the meaning, this journal expected to become an instrument in the dissemination of archaeological information to the public which is published on an ongoing basis. Berkala Arkeologi Sangkhakala is a peer-reviewed journal published biannual by the Balai Arkeologi Sumatera Utara in May and November. The first edition was published in 1997 and began to be published online in an e-journal form using the Open Journal System tool in 2015. Berkala Arkeologi Sangkhakala aims to publish research papers, reviews and studies covering the disciplines of archeology, anthropology, history, ethnography, and culture in general.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 19 No 2 (2016)" : 6 Documents clear
Metamorfose Nisan Aceh, Dari Masa Ke Masa Repelita Wahyu Oetomo
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 19 No 2 (2016)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1181.456 KB) | DOI: 10.24832/sba.v19i2.32

Abstract

AbstractTombstones in Aceh have gone through changes of shapes (metamorphosis) from simple shapes to the shapes like we know today. The metamorphosis began with some simple tombstones like the ones at Samudera Pasai, the starting point of Islam dispersal in the archipelago. Until now Samudera Pasai is believed to be the first Islamic kingdom in the archipelago, which made it a place to adopt the shapes of tombstones from the earlier period, which is the Hindu-Buddhist period. Other places that are thought to be the earliest Islam areas in the archipelago include among others Lamreh/Lamuri in Aceh Besar and Peureulak,but the types of tombstones being adopted are not as many as at Samudera Pasai. The changes that occur are the addition of several parts gradually until like present form. Some types of tombstones developed ranging from decorative patterns up to size progress. But, some types of tombstones in recent times never appeared again. Tombstones, which called the "Aceh Stone" by Daniel Perret, is the result of a metamorphosis tombstones of Samudera Pasai.AbstrakNisan di Aceh mengalami perubahan bentuk (metamorfosis) dari yang sederhana hingga mencapai bentuknya seperti yang diketahui sekarang ini. Perubahan tersebut diawali dari beberapa nisan sederhana yang dapat ditemui di Samudera Pasai, tempat, awal mula penyebaran Islam di nusantara hingga mencapai puncaknya pada masa kesultanan Aceh Darussalam. Samudera Pasai hingga saat ini diyakini merupakan kerajaan Islam pertama di nusantara, yang menjadikannya sebagai tempat mengadopsi bentuk-bentuk nisan dari periode sebelumnya, yaitu masa Hindu Buddha. Tempat lain yang diyakini sebagai daerah terawal Islam di Nusantara adalah Lamreh/Lamuri di Aceh Besar, Peureulak, namun tipologi nisan yang diadopsi tidak sebanyak yang terdapat di Samudera Pasai. Perubahan yang terjadi adalah penambahan beberapa bagian secara bertahap hingga menjadi seperti bentuknya yang sekarang ini. Beberapa tipe nisan dikembangkan mulai dari pola hias hingga pengembangan pada ukurannya. Namun beberapa tipe nisan pada masa belakangan tidak pernah muncul lagi. Nisan yang pada akhirnya disebut “Batu Aceh” oleh Daniel Perret, adalah merupakan merupakan hasil dari metamorfose nisan-nisan dari Samudera Pasai.
Transformasi Fragmen Tembikar dan Keramik di Situs Kota Lama, Indragiri Hulu, Riau Stanov Purnawibowo; Baskoro Daru Tjahjono
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 19 No 2 (2016)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v19i2.29

Abstract

AbstractStudy on the transformation of pottery and ceramic fragments at Kota Lama Site, Indragiri Hulu, Riau is a study that scrutinizes the formation process of archaeological data. The formation process is identified through artifactual and contextual data resulted from an archaeological excavation at the site in 2016. The problem to be uncovered is the transformation process of archaeological data at Kota Lama site to reveal the formation of data and context found at the site. The research was carried out using the inductive chain of thought, which uses data classifications of fragments of pottery, ceramics, and coin-shaped terracotta objects called gacuk, as well as matrix, provenience, and association during the early phase. Analyses on artifactual data include quantitative, typological/morphological (form), spatial, and temporal ones. Contextual data were analyzed using morphological and their positions. Furthermore, those data were elaborated one with another to identify their type of context in order to understand their formation process that occurred at the site. In the last part, there are in general two contexts at the site, which are primary and secondary contexts.AbstrakKajian transformasi fragmen tembikar dan keramik di situs Kota Lama, Indragiri Hulu, Riau merupakan kajian untuk menelaah proses pembentukan data arkeologi yang diidentifikasi melalui data artefaktual dan data kontekstual yang dihasilkan dalam ekskavasi arkeologis di situs tersebut tahun 2016. Penelitian dilakukan dengan alur induktif yang menggunakan pemerian data fragmen tembikar, keramik, gacuk, matriks, provinience, dan asosiasi pada tahap awal. Analisis yang dilakukan pada data  artefak menggunakan analisis kuantitif, bentuk, keruangan, dan waktu. Adapun data konteks dianalisis mengunakan analisis morfologi dan posisinya. Selanjutnya data tersebut digabungkan satu dengan lainnya untuk mengidentifikasi jenis konteks untuk mengetahui proses pembentukan data yang terjadi di situs tersebut. Hasilnya, transformasi data arkeologi di situs Kota Lama membentuk dua buah konteks, yaitu konteks primer dan konteks sekunder
Gampong Pande, Situs Penting di Ujung Utara Pulau Sumatera Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 19 No 2 (2016)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1708.419 KB) | DOI: 10.24832/sba.v19i2.27

Abstract

AbstractAceh is rich a variation of objects - intact or fragmentary - containing material history and worth studying. Gampong Pande in Banda Aceh, The historical-archaeological data of Gampong Pande hasn't been read and used as a historical source. The site is vital for an introduction the Aceh role related entry and development of Islam in Indonesia, also related with harbor at the estuary of Aceh River. Lately, archaeological-historical research has done there. Results of activity are information about a variety objects of archaeology and history such as tomb/tombstones, fragments ceramic/pottery, currency dirham, and the remaining structures and shaft. Related results of the survey and excavation, it can be suspected since the 14th century Gampong Pande was a part of the trading port, a place of exchange. Grave and tombstones partially show the style of tomb and Aceh tombstone until the 16th century to the 17th century. The dirham findings validate the historical record that the kingdom of Aceh using it as a means of payment. Activities were noisy at least until the 17th century. Then Gampong Pande left, do not be a place before. Later in the 19th century, Gampong Pande back reuse for activities. Old shaft excavation result shows a high level of life. Making shaft with ring pottery/clay show quality people who are not arbitrary.AbstrakAceh kaya dengan beragam objek artificial - utuh maupun fragmentaris - yang mengandung bahan sejarah dan layak diteliti. Di Gampong Pande di Kota Banda Aceh, data arkeologis-historis di sana banyak belum terbaca dan dimanfaatkan sebagai data/sumber sejarah. Situs dimaksud penting bagi upaya pengenalan peran Aceh terkait masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, juga berkenaan dengan bandar di muara Sungai Aceh. Belakangan ini penelitian arkeologis-historis telah dilakukan di sana. Hasil kegiatannya berupa keterangan tentang beragam objek arkeologis-historis seperti makam/nisan, fragmen keramik/tembikar, mata uang dirham, dan sisa struktur bangunan serta sumur. Terkait temuan survei dan hasil ekskavasi, dapat di duga bahwa sejak abad ke-14 Gampong Pande telah merupakan bagian sebuah bandar, tempat pertukaran barang dari berbagai tempat di dunia. Makam dan nisan yang di sana sebagian menunjukkan gaya jirat dan nisan Aceh abad ke-16 hingga abad ke-17. Adapun temuan dirham membuktikan kebenaran catatan sejarah bahwa kerajaan Aceh dahulu memakainya sebagai alat pembayaran. Aktivitas cukup ramai berlangsung setidaknya hingga abad ke-17. Kemudian ada saat Gampong Pande ditinggalkan, tidak menjadi tempat seperti sebelumnya. Kelak di abad ke-19 Gampong Pande kembali menjadi tempat yang diwarnai aktivitas kehidupan yang cukup baik. Sumur tua hasil ekskavasi menunjukkan tingkat kehidupan yang cukup tinggi. Pembuatan sumur dengan cincin gerabah/tanah liat bakar memperlihatkan kualitas masyarakat yang tidak sembarangan.
Dinamika Aktivitas Kemaritiman Di Pulau Kampai, Kota Cina, Dan Kota Rantang, Sumatera Utara Lucas Partanda Koestoro; Stanov Purnawibowo; Repelita Wahyu Oetomo
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 19 No 2 (2016)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/sba.v19i2.28

Abstract

AbstractMaritime activities in coastal area north Sumatera does not only appear in one location and a certain period of time as not as can be stand-alone. Indications of dynamics, interrelation, and utilization continuity of coastal area north Sumatera in maritime activities and interaction between the nation and the culture that occur in the past is big enough. Study of Archeology which sufficient intensive has done in sites Pulau Kampai, Kota Cina, and Kota Rantang in a certain period of time resulted from the data which quite interesting. The information gets by the data is tended to show the existence of voyage activities and trade, also the introduction of few aspect of life, with a quite valid of chronology. All of them are showing the past activities in that area fulfilled with diverse activities that show its power as an economic world track which connected of east and west cultures. There is the continue of the activity is revolve in VIII to XVI centuries. Even the discovery of archeology Pulau Kampai shows the existence of continuity activities in XVI to XX centuries. AbstrakAktivitas kemaritiman di pesisir timur Sumatera Utara tidak hanya memunculkan satu lokasi dan satu kurun waktu tertentu sebagai simpul yang berdiri sendiri. Indikasi adanya dinamika, keterkaitan, dan kesinambungan pemanfaatan pesisir timur Sumatera Utara dalam aktivitas kemaritiman dan interaksi antar bangsa dan budaya yang terjadi di masa lalu cukup besar. Penelitian arkeologis yang cukup intensif telah dilakukan di situs-situs Pulau Kampai, Kota Cina, dan Kota Rantang beberapa waktu berselang menghasilkan data yang cukup menarik. Informasi yang diperoleh melalui data dimaksud menunjukkan keberadaan kegiatan pelayaran dan perdagangan, juga pengenalan akan beberapa aspek kehidupan, serta kronologi yang cukup sahih. Semua memperlihatkan masa lalu di kawasan itu dipenuhi dengan beragam aktivitas yang menunjukkan kekuatannya sebagai jalur perekonomian dunia yang menghubungkan peradaban di dunia bagian barat dan timur. Adapun berlangsungnya aktivitas itu berkisar antara abad VIII hingga abad XVI. Bahkan temuan arkeologis di Pulau Kampai memperlihatkan adanya aktivitas lanjutan pada abad XVI hingga abad XX.
Artefak Dalam Konteks Pemanfaatan Gua Sebagai Dapur Gambir di Ngalau Datuk Marajo Ali, Lembah Harau, Sumatera Barat Nenggih Susilowati; Taufiqurrahman Setiawan; Dyah Hidayati; Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 19 No 2 (2016)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1441.957 KB) | DOI: 10.24832/sba.v19i2.30

Abstract

AbstractNgalau (Cave) Datuk Marajo Ali is located at Jorong Koto Nan Gadang, Kenagarian (State) of Pilubang, Harau District, Lima Puluh Kota Regency. Ngalau Datuk Marajo Ali is facing southwest (2100) with an opening of 10 m wide. The depth of its front space is 9.5 m, while behind it is a passage 10 m long with a sloping front slope. The ngalau has wide enough room with low cave roof at the back. The problems are: how are the relations between artifacts, space utility, and the forms of activities that took place at Ngalau Datuk Marajo Ali? How are they compared to the artifacts found at other cave around Harau Valley? The method employed during data collection phase was explorative using inductive reasoning, while the writing method was qualitative-descriptive. In general Ngalau Datuk Marajo Ali has wide enough space without stalactite or stalagmite, and is divided into southwest and northeast sections. The southwest section has lower surface than the northeast section. The rock surface of the northeast section is relatively flat so that it was comfortable to sit or stand there, except in the innermost part. Results of the excavation show that the activities in the southwest section were varied, based on the artifacts, artifactual context, and stratigraphy. It shows that the cave was used several times for different purposes. It is assumed that the activities were related to the Paderi War (1821 – 1838) as a hiding place, a hiding place during Indonesian independence war (before 1945), and gambir processing activities (gambir kitchen) in around 1945sAbstrakNgalau Datuk Marajo Ali terletak di Jorong Koto Nan Gadang, Kenagarian Pilubang, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Ngalau Datuk Marajo Ali menghadap ke baratdaya (2100) dengan lebar pintu gua 10 m dan kedalaman ruangan depan 9,5 m dan dibelakangnya terdapat lorong sedalam 10 m dengan lereng di depannya melandai. Ngalau tersebut memiliki dimensi ruang cukup lebar dengan atap gua rendah pada bagian belakang. Adapun permasalahannya adalah bagaimana kaitan antara artefak, pemanfaatan ruang, serta bentuk aktivitas yang berlangsung di Ngalau Datuk Marajo Ali? Bagaimana perbandingan dengan artefak di ngalau-ngalau lain di sekitar Lembah Harau? Metode yang digunakan dalam pengumpulan data bertipe eksploratif menggunakan alur penalaran induktif. Metode penulisannya adalah kualitatifdeskriptif. Secara umum Ngalau Datuk Marajo Ali memilki ruangan yang cukup lapang, tanpa stalagtit dan stalagmit, terbagi menjadi dua yaitu di baratdaya dan timurlaut. Di bagian baratdaya kondisi permukaannya lebih rendah dibandingkan dengan timurlaut. Permukaan bebatuan di timurlaut relatif rata, sehingga nyaman untuk duduk atau berdiri, kecuali di bagian paling dalam. Hasil ekskavasi menggambarkan bahwa di bagian baratdaya pemanfaatanya cukup beragam berdasarkan analisa terhadap temuan, konteks temuan, dan stratigrafinya. Hasilnya adalah gua ini dimanfaatkan berulang kali untuk kebutuhan yang berbeda. Diperkirakan aktivitas yang berlangsung berkaitan dengan persembunyian pada masa perang Paderi (1821--1838), persembunyian pada masa perang kemerdekaan (sebelum 1945), serta aktivitas pengolahan gambir dengan dapur gambir sekitar tahun 1945 -an.
Posisi Fauna Situs Patiayam Dalam Biostratigrafi Jawa Siswanto Siswanto; Sofwan Noerwidi
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 19 No 2 (2016)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1294.216 KB) | DOI: 10.24832/sba.v19i2.31

Abstract

AbstractPatiayam is a Pleistocene site which rich of paleontological remains. Based on the result, we know the diversity of Patiayam fauna that lived on the site. Unfortunately, most of the fossils found by local people are surface find. Thus, it is difficult to trace the age of these fossils. This article attempts to answer these problems by conducting contextual studies of faunal fossil in Patiayam to determine its relative age based on the contextual position of their rock formations, and to put their position in the history of presence and extinction of fauna (biostratigraphy) in Pleistocene time. The result suggests that Patiayam fauna is located between Cisaat group to Kedungbrubus group. It records the history of environmental change and faunal inhabitant from 1.2 to 0.8 million years ago. This perspective is useful to enrich our understanding of the quarternary prehistory of Java, especially in the isolated site as Patiayam.AbstrakSitus Patiayam merupakan situs Plestosen yang kaya akan data paleontologis. Berdasarkan penelitian dapat diketahui keragaman jenis fauna yang pernah menghuni situs tersebut. Sayangnya kebanyakan dari temuan tersebut merupakan temuan permukaan oleh penduduk, sehingga sult untuk mengetahui pertanggalan dari fosil-fosil tersebut. Tulisan ini berusaha menjawab permasalahan tersebut dengan melakukan studi kontekstual terhadap temuan fosil fauna di situs Patiayam guna mengetahui usia relatifnya berdasarkan konteks formasi batuan, serta kemudian menempatkan posisinya dalam sejarah kehadiran dan kepunahan fauna-fauna (biostratigrafi) Plestosen di Jawa. Hasilnya dapat diketahui bahwa fauna Patiayam termasuk dalam kelompok fauna Cisaat hingga fauna Kedungbrubus, yang merekam sejarah perubahan lingkungan, serta penghunian fauna dalam rentang waktu sekurang-kurangnya1.2 hingga 0.8 juta tahun yang lalu. Pandangan ini berguna untuk melengkapi dan menambah pemahaman kita mengenai prasejarah kuarter di Pulau Jawa, khususnya pada situs yang terisolir seperti Patiayam.

Page 1 of 1 | Total Record : 6