cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
KALANGWAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Seni Pertunjukan Kalangwan merangkum berbagai topik seni pertunjukkan, baik yang menyangkut konsepsi, gagasan, fenomena maupun kajian. Kalangwan memang diniatkan sebagai penyebar informasi seni pertunjukan sebab itu dari jurnal ini kita memperoleh dan memtik banyak hal tentang seni pertunjukan dan permasalahannya
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 1 (2016): Juni" : 5 Documents clear
Penerapan Metode Group Investigation Pada Mata Kuliah Metode Penelitian I di Program Studi Seni Wardizal,  ; Santosa, Hendra
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 1 (2016): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9915.672 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i1.119

Abstract

Perlu  kesadaran  dan  keseriusan  semua  anak  bangsa,  termasuk pemerintah  untuk  melakukan  perubahan, evolusi,  bahkan  bila  perlu revolusi  menuju  suatu  paradigma  baru  pendidikan  Indonesia.  Pijakan untuk mengakhiri  krisis,  meningkatkan  kualitas,  sekaligus meningkatkan  harkat  dan martabat  serta  peradaban manusia ke arah yang lebih baik, dan bisa berkecimpung  dalam percaturan  global.Metode dan strategi pembelajaran  merupakan salah satu isu yang krusial dalam proses belajar mengajar di lingkungan  Program Studi Seni Karawitan  ISI Denpasar. Realitas menunjukan,  bahwa metode pengajaran yang  selama  ini sering  digunakan  dalam  proses  belajar-mengajar di hampir  semua  jenjang  mata  kuliah adalah  metode konvensional  (ceramah/demontrasi). Metode  kovensional  ini banyak digunakan  terutama pada mata kuliah yang bersifat  teoritis.  Metode kovensional  (ceramah/demonstrasi) memiliki  kelemahan dan oleh berhagai kalangan dianggap telah ketinggalan zaman dan membosankan.Menyikapi  berbagai  kelemahan  tentang  metode dan strategi pembelajaran  yang dipergunakan  selama  ini dilingkungan  Program Studi  Seni  Karawitan  (PSSK)  dan  untuk  memperoleh  hasil pembelajaran  sesuai dengan tujuan, perlu diadakan  pemilihan  terhadap strategi  pembelajaran  yang tepat. Group Investigation, merupakan salah satu diantara beberapa metode pengajaran   inovatif yang  akan diujicobakan  dalam proses belajar mengajar di lingkungan Program Studi Seni Karawitan ISI Denpasar, khsususnya  dalam mata kuliah Metode Penelitian.Pada awal perkuliahan, para mahasiswa akan dibekali dengan aspek teoritis (keilmuan) tentang berbagai hal yang  berkaitan   dengan Metodologi  Peuelitian.  Dalam  penerapan  metode  investigasi   ini, kelas dibagi menjadi  beberapa  kelompok,  beranggotakan   3-5  orang mahasiswa  dengan  karakteristik yang  berbeda (heterogen)  yang didasarkan  atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para  mahasiswa  memilih  topik  yang  ingin dipelajari,  mengikuti  investigasi   yang  mendalam  terhadap subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan laporan di depan kelas secara keseluru­ han. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata nilai mahasiswa 3.64  dan tidak ada mahasiswa yang memperoleh nilai C.
Wayang Kulit Joblar Bergaya Ngepop Dalam Perspektlf Kajian Budaya Marajaya, I Made
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 1 (2016): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11475.217 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i1.120

Abstract

Tulisan ini mengkaji pertunjukan  wayang kulit Joblar (WKJ) dalam bentuk wacana. Walaupun belum pernah dilakukan penelitian secara mendalam terkait dengan WKJ, tetapi penulis berkeyakinan  bahwa tulisan ini dapat dijadikan sebagai refrensi dan landasan berpikir terkait dengau WKJ bergaya ngepop. WKJ muncul dari buah pemikiran dalang I Ketut Muada yang kini telah menyelesaikan pendidikan S2 di ISI Denpasar. Joblar adalah  tokoh punakawan  tanpa pasangan  yang dijadikan maskot pertunjukan wayang kulit dari Banjar Jeroan, Desa Tumbak Bayuh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Tokoh Joblar  ini adalah manifestasi  dari  karakter  dalang I Ketut Muada  yang ciri-cirinya  adalah  berbadan gemuk,  kepala pelontos,  perut buncit, dan suara besar/rendah.  WKJ bergaya  ngepop dikemas  sesuai dengan keahlian  dan keterampilan  yang dimiliki oleh dalang I Ketut Muada. Ciri-ciri  WKJ bergaya ngepop  dapat  dilihat  dari tata penyajian  yang dikemas melalui  estetika  postmodern  dengan  unsur­ unsurnya   meliputi  : lakon carangan, bahasa/retorika, tetikesan/gerak wayang,   iringan/musik  pengiring, dan apparatus pertunjukan/perlengkapan.WKJ memiliki  keunggulan  di dalam mengolah  bahasa pedalangan baik meliputi  bunyi/suara  tokoh­tokoh sesuai dengan Gaya Badung. Selain piawai memeraukan tokoh-tokoh, dalang WKJ juga memiliki keunggulan  yang tidak dimiliki oleh dalang-dalang  lainnya di Bali terutama dalam bidang olah vokal atau tarik suara. Dalang Joblar mampu menyanyikan lagu-lagu pop Bali dengan baik, sehingga pementasannya selalu dikolaborasikan dengan musik pop Bali dan musik pop Indonesia.  Selain itu, WKJ juga mampu mengkemas  lakon dengan gaya yang ngetrand  seperti Wayang  Joblar ABG "Hamil  di Luar Nikah" walaupun ceritanya bersumber dari Ramayana. Unsur-unsur estetik lainnya seperti iringan dan aparatus mengikuti selera orang banyak.
Rejang Dewa Di Desa Sidetapa, Banjar, Buleleng, Bali (Keunikan Dan Fungsi) Trisnawati, Ida Ayu
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 1 (2016): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7815.794 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i1.121

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan tujuan mendapatkan uraian diskriptif analisis tentang Nilai estetis tari Rejang Dewa pada masyarakat Desa Sidetapa, Banjar, Buleleng, Bali. Hasil penelitian munjukkan bahwa Sejarah awal dari rejang dewa di desa pakraman Sidetapa tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan desa ini, yang mana desa ini sudah ada sejak tahun 785 saka atau 883 Masehi yang diperkirakan setelah kedatangan Maha Resi Markandya ke Bali dengan mendirikan Pura Besakih di lereng Gunung Agung. Tari rejang dewa ini adalah tari sakral yang dipersembabkan kepada Taksu (Ida Sang Hyang Widhi) yang ada di Pura Desa Sidetapa. Keunikan yang menjadi ciri khas dari tari rejang dewa Sidetapa yang membedakan dari tari rejang umumnya bisa dilihat dari beberapa aspek yaitu penari, pakaian dan aksesoris yang dipakai, tabuh dan gerakan penarinya, waktu dan tempat pementasan tari rejang dewa ini. Dari segi fungsi dan maknanya, fungsi tari rejang dewa bagi masyarakat Sidetapa bisa dilihat dalam beberapa aspek yaitu religius sebagai persembaban kepada Tuhan Yang Maba Esa, pelestarian kebudayaan dan adat Bali agar tetap ajeg, fungsi sosial sebagai pengikat antar masyarakat di desa ini, dan fungsi edukasi atau pendidikan seni dan juga etika bagi generasi muda di desa Sidetapa.
Gamelan Gambang Dalam Prosesi Upacara Pitra Yadnya Di Bali Yudarta, I Gede
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 1 (2016): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8134.972 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i1.122

Abstract

Gamelan gambang  merupakan  seperangkat gamelan Bali yang memiliki fungsi sebagai sarana pengiring upacara adat di Bali. Salah  satu fungsinya  adalah  sebagai  pengiring  dalam prosesi  upacara pitra yadnya yaitu upacara yang diperuntukkan bagi roh atau arwah orang yang sudah meninggal. Di dalam kehidupan masyarakat Bali, terdapat berbagai jenis upacara pitra yadnya sesuai dengan tingkatan pelaksanaannya dari ritual pengabenan  hingga nilapati atau ngalinggihan. Dari berbagai  tingkatan upacara  tersebut  gamelan gambang biasanya difungsikan di dalam prosesi pengabenan yaitu upacara pembakaran jenazah bagi orang yang meninggal. Dari berbagai jenis tingkatan upacara pengabenan, penggunaan  gamelan  gambang  lumrah  dipergunakan  di dalam tingkatan upacara Sawa Preteka dan Nyawa Wedana merupakan tingkatan upacara tertinggi atau tingkatan utama (mewangun). Di dalam studi ini secara  khusus akan dibabas  tentang  persoalan  mengapa  gamelan  gambang digunakan sebagai sarana penting di dalam upacara pitra yadnya,jenis-jenis gending apa saja yang dimainkan di dalam upacara pitra yadnya serta sesajen yang diperlukan terkait dengan pelaksanaan upacara tersebut.
Gebug Ende: Ritual Untuk Memohon Hujan Gunarta, I Wayan Adi
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 1 (2016): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7949.362 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i1.123

Abstract

Tari Gebug Ende adalah tarian rakyat yang merupakan tari adu ketangkasan, dibawakan oleh kaum laki-laki dengan membawa sebuah tongkat pemukul dari rotan dan sebuah perisai atau tarneng (ende) sebagai pelindung diri dan penangkis dari serangan lawan. Asal mula Tari Gebug Ende ini secara pasti belum dapat diketahui siapa yang membawanya terkait hubungan Karangasem dengan Lombok. Ada yang mengatakan bahwa Tari Peresean di Lombok dibawa oleh warga Karangasem yang memiliki hubungan yang erat dengan suku Sasak di Lombok. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa tari Gebug Ende di Seraya ditiru dari Tari Peresean yang ada di Lombok. Jika diamati, Tari Gebug Ende yang dilestarikan di desa Seraya memiliki fungsi sebagai tari ritual untuk memohon hujan di musim kemarau. Tari ritual sebagaimana dipahami oleb masyarakat Bali secara kolektif adalah sebuah tarian yang berfungsi sebagai sarana ritual atan yadnya. Di sisi lain, Gebug Ende sebagai sebuah bentuk tari perang (warrior dance) sangat dipengaruhl oleh kondisi kehidupan masyarakat Bali, dimana ketika itu berada dalam sistem kekuasaan raja-raja. Tari Gebug Ende dikatakan sebagai tari perang karena berfungsi untuk melatih ketangkasan dan keberanian yang dikaitkan dengan unsur-unsur kekebalan. Dalam kehidupan sosial masyarakat Seraya, Gebug Ende juga memiliki fungsi sebagai hiburan karena sudah menjadi suatu kegemaran mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Page 1 of 1 | Total Record : 5