cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
KALANGWAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Seni Pertunjukan Kalangwan merangkum berbagai topik seni pertunjukkan, baik yang menyangkut konsepsi, gagasan, fenomena maupun kajian. Kalangwan memang diniatkan sebagai penyebar informasi seni pertunjukan sebab itu dari jurnal ini kita memperoleh dan memtik banyak hal tentang seni pertunjukan dan permasalahannya
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 2 (2017): Desember" : 9 Documents clear
Ki Mantri Tutuan dalam Bentuk Karya Tari Inovatif Rupiani, Ni Wayan; Suteja, I Ketut; Wimba Ruspawati, Ida Ayu
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2017): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.62 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v3i2.237

Abstract

Bali merupakan pulau Dewata yang banyak memiliki kisah atau legenda maupun silsilah kawitan atau garis keturunan laki-laki (purusa). Legendatersebut masih diyakini dan disakralkan, seperti yang tersimpan di Desa Gunaksa Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung, yaitu sebuah Prasasti Ujara Kanda yang menjelaskan tentang kisah Ki Mantri Tutuan dan seketurunannya. Ki Mantri Tutuan berasal dari keturunan Raja Kelingga Jawa Timur yang bernama Dalem Mangori, mempunyai anak bernama Pangeran Satriawangsa menjalani hukumn dan kutukandi tanah Bali bernama Pura Bukit Buluh di Desa Gunaksa Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung. Berdasarkan fenomena di atas diciptakanlah sebuah karya tari inovatif yang berjudul Ki Mantri Tutuan. Adapun alasannya adalah ingin menggali nilai-nilai keyakinan yang bersifat religious dan erat hubungannya dengan alam gaib, serta memperoleh pengetahuan tentang sejarah,etika,moral dan sopan santun terhadap orang yang pantas dihormati, dan ingin mensosialisasikan terhadap keturunan Ki Mantri Tutuan melalui sajian dalam bentuk karya tari inovatif. Prinsip-prinsip angripta sesolahan dipilih untuk proses penciptaan karya tari Ki Mantri Tutuan dan dalam perwujudannya menggunakan teori transpormasi yang merupakan suatu proses pemindahan kisah dari aslinya menjadi karya seni tari yang bersifat inovatif.Ki MatriTutuan dalam bentuk karya tari inovatif adalah sebuah karya tari kekinian, yang berorientasi pada standar tari Bali yaitu agem, tandang, tangkis dan tangkep dikemas menjadi karya baru yang menyesuaikan dengan perkembangan jaman.Bali is the island of God who has many stories or legends or genealogy of kawitan or lineage of men (purusa). The legend is still believed and sacred, as it is stored in Gunaksa Village Dawan Sub-district Klungkung, which is an Inscription Ujara Kanda that explains the story of Ki Mantri Tutuan and seketurunnya. Ki Mantri Tutuan derived from the descendants of King Kelingga East Java named Dalem Mangori, have a son named Prince Satriawangsa undergoing law and curse of the land of Bali named Pura Bukit Buluh in Gunaksa Village Dawan District Klungkung Regency. Based on the above phenomenon was created an innovative dance work titled Ki Mantri Tutuan. As for the reason is to explore religious values of beliefs and closely related to the occult, as well as gain knowledge of history, ethics, morals and manners towards people who deserve respect, and want to disseminate to the descendants of Ki Mantri Tutuan through the presentation in the form of works Innovative dance. The principles of angriptasesolahan were chosen for the process of creating the dance of Ki Mantri Tutuan and in its manifestation using the theory of transpormation which is a process of moving the story from the original into a dance artwork that is innovative.Ki MatriTutuan in the form of innovative dance work is a work of dance, On the Balinese dance standard that is agem, away, tangkis and tangkep packed into new work that adapts to the development of the era.
Hibriditas Musikal Pada Komposisi Ardawalika Karya Gustu Brahmanta Allan Dwi Amica, Kadek; Arya Sugiartha, I Gede; Ardini, Ni Wayan
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2017): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1103.437 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v3i2.233

Abstract

 “Hibriditas Musikal Pada Komposisi Ardawalika Karya Gustu Brahmanta”, adalah sebuah usaha penelitian yang dilakukan penulis untuk melihat dengan teliti dan komprehensif dari perspektif ilmu musik dan ilmu penunjang lainnya. fenomena penciptaan komposisi berbasis dua budaya musik yang telah dipaparkan, komposisi musik Ardawalika memenuhi kriteria sebagai musik hasil campuran dua budaya musik. Upaya yang dilakukan Gustu Brahmanta dalam proses penciptaan karya musik Ardawalika memerlukan proses ekperimen baik secara konsep maupun secara musikalitas. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini dibatasi, yaitu 1) Bagaimana estetika hibriditas musikal pada komposisi ardawalika karya Gustu Brahmanta, 2) Bagaimana bentuk keseimbangan antara idiom musikal tradisi Bali dengan idiom musik jazz dalam hibriditas musikal pada komposisi ardawalika karya Gustu Brahmanta, dan 3) Makna apakah yang ada dalam hibriditas musikal pada komposisi ardawalika karya Gustu Brahmanta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dimana metode kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Data diperoleh melalui observasi langsung, dokumentasi, dan wawancara. Selanjutnya dengan melakukan kajian yang mendalam penulis akhirnya menemukan kesimpulan bahwa hibriditas musikal pada komposisi ardawalika karya Gustu Brahmanta dibangun melalui beberapa unsur-unsur di dalamnya. Unsur-unsur musikal dalam komposisi Ardawalika, mengandung unsur estetika postmodern yaitu pastiche. Selain itu juga menerapkan prinsip bricolage dimana adanya sebuah pencampuran yang bisa terlihat dari pengelompokan dan penggunaan instrumen dengan modal tangga nada yang berbeda satu sama lain. keseimbangan yang terdapat dalam idiom musikal komposisi ardawalika, dapat dicapai melalui keseimbangan yang simetris dan tidak simetris atau asimmetric balance. Dalam hal permaknaan signifikasi ditemukan suatu permaknaan denotative dan konotatif pada skor komposisi musik Ardawalika karya Gustu Brahmanta.Musical Hybridity On The Composition Of Ardawalika in Gustu Brahmanta ‘swork”, is The research done by the author to look carefully and comprehensively from Perspective of music and other supporting knowledge. The phenomenon in the creation of a two-based composition music culture that has been presented, the composition of music Ardawalika meet the criteria as the combination of two musical cultures. The efforts of Gustu Brahmanta in the process The creation of musical work of Ardawalika requires experimental process both conceptually and In musicality.The problems of study that have discussed in this research are 1) how aesthetic hybridity musicals on the arcade composition of Gustu Brahmanta’s work, 2) How to balancing the form between the musical idiom of Balinese tradition with the idiom of jazz music in the musical hybridity Arctic composition of Gustu Brahmanta’s work, and 3) What the meanings that existin hybridity musical on the arcade composition of Gustu Brahmanta’s works. This research used the qualitative method where qualitative methods are the research methods used for researching on the condition of natural objects, wherere searchers are as a key instrument. Data Obtained through direct observation, documentation, andinterviews.The conclusion that the author get were the musical hybridity of Gustu Brahmanta’s archematic composition Built through some of the elements in it. The musical elements in the composition Ardawalika, contains a postmodern aesthetic element that is pastiche. It also applies the principle of bricolage where in combination can be seen from the grouping and the use of instruments with different capital scales from eachother. Balancing which is contained in the musical idiom of the arcadonic composition, can be achieved through equilibrium which is symmetrical and asymmetric or asymmetric balance. In terms of signification significance found a denotative and connotative meaning on the score of Ardawalika musical composition by Gustu Brahmanta.
Tek Tok Dance Sebagai Sebuah Seni Pertunjukan Pariwisata Baru Di Bali Dyan Ratna, Putu; Ruastiti, Ni Made
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2017): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.767 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v3i2.238

Abstract

Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk dapat mengetahui dan memahami Tek Tok Dance sebagai seni pertunjukan pariwisata baru di Bali. Penelitian yang berlokasi di Puri Kantor, Ubud, Bali ini dilakukan karena adanya ketimpangan antara asumsi dan kenyataan di lapangan. Pada umumnya di Bali berkembang seni pertunjukan pariwisata antara lain : Cak Dance, Legong Dance, dan Barong Dance. Tetapi kenyataannya ini berbeda. Pertanyaannya: (1). Bagaimana bentuk pertunjukan Tek Tok Dance di Puri Kantor, Ubud?; (2). Mengapa Puri Kantor Ubud menciptakan Tek Tok Dance?; dan (3). Apa kontribusinya bagi Puri Kantor, masyarakat, dan industri pariwisata di Bali?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah pertunjukan Tek Tok Dance itu sendiri, para informan, buku-buku, dan jurnal terkait. Seluruh data yang telah dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi kepustakaan dianalisis secara kritis dalam perspektif kajian budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1). Sebagai sebuah seni pertunjukan pariwisata baru, Tek Tok Dance disajikan dalam bentuk dramatari. Hal itu dapat dilihat dari cara penyajian, koreografi, struktur pertunjukan, lakon, tata rias busana, dan iringan musik pertunjukannya; (2) Puri Kantor di Ubud menciptakan Tek Tok Dance pada tahun 2013 karena adanya peluang pasar dan potensi berkesenian masyarakat setempat yang memadai; (3) Muncul dan berkembangnya Tek Tok Dance sebagai sebuah seni pertunjukan pariwisata baru di Bali berkontribusi positif bagi kehidupan ekonomi, sosial, budaya masyarakat setempat,para pihak terkait, dan pengayaan bagi industri pariwisata Bali.The objective of this research is to be able to know and to comprehend Tek Tok Dance as a new tourism performing art in Bali. The research located in Puri Kantor, Ubud, Bali is conducted because of the imbalance between assumption and reality in the field. In general, tourism performing arts in Bali are growing, such as: Cak Dance, Legong Dance, and Barong Dance. However, the reality is different. The questions are: (1).How does Tek Tok Dance’s performance form at Puri Kantor, Ubud?; (2). Why does Puri Kantor Ubud create Tek Tok Dance?; and (3). What is its contribution to Puri Kantor, society, and tourism industry in Bali?. The method used in this research is qualitative method. The data sources of this research are Tek Tok Dance’s performance itself, informants, literatures, and related journals. All data collected by observation, interview, and literature studies are analyzed critically in the perspective of cultural studies. The results showed that: (1). As a new tourism performing art, Tek Tok Dance is presented in the form of play and dance. It can be seen from the way of performing, choreography, performance structure, play, fashion makeup, and musical accompaniment of the show; (2) Puri Kantor in Ubud created Tek Tok Dance in 2013 due to the presence of market opportunities and the potential of local communities; (3) The rise and development of Tek Tok Dance as a new tourism performing art in Bali contributes positively to the economic, social, and cultural aspects of the local community, Puri Kantor as the performing organizer, and enrichment for Bali’s tourism performing arts.
Anak Agung Gede Oka Dalem Tokoh Penggerak Seni Pertunjukan Pariwisata di Desa Peliatan Ayu Anantha Putri, Ni Komang
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2017): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.232 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v3i2.234

Abstract

Anak Agung Gede Oka Dalem seniman tari kelahiran 3 Mei 1954, Oka Dalem disebut sebagai tokoh penggerak karena beliau mampu berkreativitas, mengkoordinir para seniman, serta terus berinovasi menjadikan pertunjukan pariwisata yang maju dan eksis. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai bintang panggung, seorang guru yang mampu memberi contoh dan pengelola seni yang baik bagi kelima sekaa yang bernaung, sehingga dengan manajemen seni yang professional Oka Dalem dapat mendatangkan banyak manfaat bagi para masyarakat yang tergabung dalam lima sekaa yang secara bergantian pentas regular di wadah seninya. Sangat jarang terdapat seniman tari yang mampu menjadikan seni sebagai mata pencaharian utama, seperti yang dilakukan Oka Dalem yang mampu hidup sejahtera berkat sebuah pertunjukan pariwisata yang beliau kelola. Tujuan dari penelitian ini adalah Menghasilkan sebuah karya tulis yang mampu digunakan sebagai informasi tentang tokoh seniman yang mampu memanajemen dan menggerakkan seni pertunjukan wisata, khususnya di Desa Peliatan Ubud. Terdapat tiga pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini. Pertama yaitu bagaimana riwayat kehidupan dari Oka Dalem yang menggiring dirinya untuk menjadi seorang seniman dan tokoh yang berpengaruh di Desa Peliatan, kedua yaitu bagaimana motivasi Oka Dalem dalam mengelola seni pertunjukan pariwisata di Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, Ketiga yaitu apa saja kontribusi A.A Gede Oka Dalem sebagai tokoh penggerak seni pertunjukan pariwisata di Desa Peliatan, Ubud ,Gianyar. Adapun teori yang digunakan untuk membedah ketiga rumusan masalah tersebut adalah teori tokoh egoistik, teori motivasi kerja, teori professional dan teori estetika. Sebagai tokoh penggerak, Oka Dalem juga mampu berkreativitas dan berinovasi dengan memberikan ruang dan kesempatan bagi semua anggota sekaa melalui wadah seni yang bernama Balerung Mandera Srinertya Waditra. Wadah seni ini merupakan bukti nyata seorang tokoh penggerak yang mampu menjadi fasilitator yang hebat, karena beliau tidak hanya mampu mendirikan wadah seni, melainkan mampu mengelola sekaa yang bernaung di dalamnya serta menjadikan wadah seni tersebut terkenal sampai menjadi sumber mata pencaharian tambahan bagi masyarakat pendukungnya.Anak Agung Gede Oka Dalem born May 3, 1954, Oka Dalem is called as a driving figure because he is able to creativity, coordinate the artists, and continue to innovate to make tourism performances advanced and exist. In addition, he is also known as a stage star, a teacher who is able to give examples and good art management for the five sekaa who take shelter, so that with professional art management Oka Dalem can bring many benefits for the people who joined in five sekaa that alternately Regular performances in his art container. Very rarely there are dance artists who are able to make art as a main livelihood, as did Oka Dalem who is able to live prosperous thanks to a tourism show that he managed. The purpose of this research is to produce a paper that can be used as information about the character of artists who are able to manage and move the art of tourism performances, especially in Peliatan Village Ubud. There are three main issues studied in this research. The first is how the life history of Oka Dalem who led him to become an artist and influential figure in Peliatan Village, the second is how the motivation Oka Dalem in managing the art of tourism performances in Peliatan Village, Ubud, Gianyar, Third, what are the contributions of AA Gede Oka Dalem as the driving figure of the art of tourism performances in Peliatan Village, Ubud, Gianyar. The theory used to dissect the three formulation of the problem is the theory of egoistic figures, the theory of work motivation, professional theory and aesthetic theory. As a driving force, Oka Dalem is also able to creativity and innovation by providing space and opportunities for all members sekaa through an art container named Balerung Mandera Srinertya Waditra. This art container is a clear proof of a mobilizer who is capable of being a great facilitator, as he is able not only to establish an arts venue, but to be able to manage the shelter in it and make the art container well known to be an additional source of livelihood for the support community.
Struktur Ritme Lagu Curik-Curik Aransemen Gustu Brahmanta Trio Sanjaya, Warman Adhi; Arya Sugiartha, I Gede; Astita, I Nyoman
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2017): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1416.252 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v3i2.239

Abstract

Penelitian ini mengenai karya komposisi “Curik-Curik” yang diaransemen menggunakan pendekatan jazz hibrida bergenre swing. Komposisi curik –curik hasil aransemen Ida Bagus Gustu Brahmanta menggunakan 3 instrumen antara lain rindik, drumset & contra bass. Ketiga instrumen ini cara penggarapannya dilakukan menggunakan pendekatan cross culture atau lintas budaya dimana instrumen rindik yang berasal dari bali dicampurkan dengan instrumen contra bass dan drum yang berasal dari Barat. Hal ini cukup menarik karena proses hibridasi pada akhirnya mampu menyatukan dua budaya musik yang berbeda karena kemampuan para pemainnya yang memiliki pengalaman dan skill yang tinggi. “Curik-Curik” adalah lagu yang digunakan dalam permainan anak tradisional Bali.Secara kontekstual komposisi “Curik-Curik” adalah mempresentasikan revitalisasi budaya memalalui kerja kreatif seniman sehingga dengan diciptakannya karya ini maka lahirlah berbagai karya baru dan kekinian sesuai dengan nafas jaman. Melalui estetika struktur ritme setidaknya diketahui bahwa karya ini lebih menonjolkan permainan pola ritme sehingga semua instrumen difungsikan sebagai rhythm section. Akan tetapi pada sisi yang lain seluruh instrumen juga bisa difungsikan sebagai solois dimana setiap pemain contra bass menonjolkan ketrampilannya sendiri-sendiri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian diskriptif analitik.This study is about the work of “Curik-Curik” composition using the genre jazz hybrid approach. “Curik-Curik” composition of the arrangement of Ida Bagus Gustu Brahmanta arrangement uses 3 instruments such as rindik, drumset & contra bass. All three of these instrumentation methods are done using cross cultural approach where the rindik instruments originating from Bali are mixed with contra bass and drum instruments originating from the West. This is quite interesting because the hybridization process can finally unify two different cultural music because of the ability of its players to have high experience and skill. “Curik-Curik” is a song used in traditional Balinese children’s games. Curic-Curik contemporary composition is presenting a cultural revitalization through artist’s creative work so that by creating this work it is born of new and contemporary works that fit the new era of music. Through the aesthetic theory of rhythm structure at least it is known that this work more emphasizes the game of rhythm patterns so that all instruments are functioned as a rhythm section. However, on the other hand the whole instrument is also funcioned as a solois where each player contra bass highlights his own skills. This research uses analytic descriptive research method.
Tari Leko di Pendem, Jembrana Sebuah Kajian Tekstual Ayu Kunti Aryani, Ni Nyoman
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2017): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.756 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v3i2.235

Abstract

Leko merupakan salah satu kesenian yang terdapat pada beberapa wilayah di Bali, salah satunya di Kabupaten Jembrana. Leko yang ada di Jembrana merupakan sebuah tari balih-balihan (hiburan) yang memiliki kekhasan tersendiri yakni penari dijaga oleh seorang pecalang yang membawa klewang (pedang) serta tidak memperkenankan pengibing untuk menyentuh penari. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pelestarian tari Leko di Pendem Jembrana, melalui pendokumentasian secara tertulis yang membahas secara rinci mengenai tari Leko dari sudut pandang tari. Fokus bahasan dalam penelitian ini yakni tari Leko di Pendem Jembrana yang dianalisis melalui kajian tekstual. Analisis tekstual merupakan suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis informasi dalam riset akademik. Dalam hal ini, tari Leko dipandang sebagai sebuah teks yang dapat dibaca layaknya sebuah tulisan. Kajian tekstual dalam tari Leko dibahas melalui tiga pokok bahasan yang meliputi koreografis, struktural, dan simbolik. Koreografis membahas mengenai gerak tarinya, teknik gerak, gaya gerak, jumlah penari, jenis kelamin dan postur tubuh, ruang dalam tari Leko, waktu, musik iringan tari, analisis dramatik, serta tata teknik pentas (tata cahaya, tata rias, dan tata busana). Struktural pembahasannya meliputi struktur gerak dan struktur pementasan tari Leko. Sedangkan pada bagian simbolik membahas mengenai simbol pada gerak, kostum, dan tata riasnya. Penulisan ini berdasarkan pengamatan melalui video tari Leko yang dipentaskan pada Pesta Kesenian Bali tahun 2009. Metode yang digunakan dalam tulisan ini, yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan uraian pembahasan mengenai koreografis, struktural, dan simbolik, dapat disimpulkan bahwa tari Leko Jembrana memiliki memiliki koreografi, struktur dan simbol dalam tari Bali yang masih bersifat tradisi Bali dan belum mendapat pengaruh perkembangan gerak seperti yang berkembang saat ini.Leko is an art that exists in some regions in Bali, including Jembrana Regency. Leko that exists in Jembrana is a balih-balihan (entertainment) dance which has its own characteristic where the pengibing (spectator who joins in the dance) is banned to touches the dancer because pecalang will guard her with their klewang (machete). This research is an effort to preserve Leko dance in Pendem Jembrana, through written documentation that discuss the details about Leko dance from dance point of view. The main focus of this article is on the study about dance concept of leko in Pendem Jembrana using textual study. Textual analysis is a method used to obtain and analyze information in academic research. In this case, Leko is viewed as a readable text like writings. Textual study about Leko dance is discussed in three main subjects including choreography, structure, and symbols. Choreography discussion is about the dance movements, motion techniques, motion styles, number of dancers, sex and posture, space in Leko dance, time, dance music, dramatic analysis, and performances (lighting, makeup and dressing). Structural discussions include motion structure and Leko dance performance structure. Whereas the symbolic section discusses about the symbols in the motion, costumes, and makeup. This writing is based on observations of Leko dance video performed at the Bali Arts Festival in 2009. The methods used in this paper are observation, interviews, and documentation Based on textual study of leko dance in Jembrana it can be concluded that its choreography, structure, and symbols haven’t get influence from development of motion nowadays and still keep the value of Balinese tradition.
Gita Derita Cicing Kacang Bali Mangempis, Grace Monalisa
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2017): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.153 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v3i2.231

Abstract

Terinspirasi dari cicing kacang Bali yang tidak terawat dan terlindas ban kendaraan hingga gepeng di jalanan. Karya ini diwujudkan ke dalam sebuah pertunjukan musik dalam bentuk hybrid, yang merupakan penggabungan dua unsur budaya yaitu Bali dan Barat, sehingga menjadi sajian bentuk musik baru yang bersifat orisinil, kreatif, dan bermakna. Penciptaan karya musik ini mengangkat nilai-nilai kearifan lokal yang luhur, serta berdampingan dengan perkembangan budaya global. Tujuan dari penciptaan karya ini adalah untuk menggali potensi budaya lokal dengan hasil akhir karya seni kreatif dan berpedoman kepada kaidah, moral, dan etika ilmu pengetahuan. Teori yang digunakan dalam proses penciptaan yaitu teori musik, teori semiotika, dan teori hermeneutika. Metode yang digunakan untuk penciptaan karya ini adalah metode penciptaan musik Roger Sessions yang meliputi inspirasi, konsepsi, dan eksekusi. Hasil dari karya ini dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama menceritakan kesederhanaan cicing kacang Bali yang kalah saing dengan anjing ras, sehingga ditelantarkan dan dibuang ke pinggir jalan, jembatan, pantai bahkan ke tempat pembuangan sampah. Bagian kedua menceritakan cicing kacang Bali yang telah terbuang dan beradaptasi dengan lingkungannya, sehingga cicing kacang tersebut melindungi lingkungannya dari penjahat. Bagian terakhir menceritakan kegigihan cicing kacang Bali dalam bertahan hidup di jalanan, dan pada akhirnya terlindas ban kendaraan. Gita Derita Cicing Kacang Bali adalah karya musik hybrid yang menggambarkan keadaan cicing kacang Bali dari kesederhanaan, pengorbanan, dan perjuangannya.Inspired by the unkempt Cicing Kacang Bali which crushed to death by a vehicle on the street. This work is embodied into a musical performance in the form of hybrid, namely the merger of two different cultures of Balinese and Western so then it becomes a whole new musical form. The interest of the composer to raise this work is about a pure attraction to an original, creative, and meaningful creation of artwork. The creation of this artwork elevates the values of noble local traditions and to be able to coexist with the development of global culture. The purpose of this work is to explore the potential of local culture with the end result is a creative artwork which adheres to rules, morals, and ethics of science. Theories used in the creation process are music, semiotics and hermeneutic theory. In the composation, the method implemented is the music creation approach by Roger Sessions which includes inspiration, conception, and execution. The work is divided into three parts. The first part tells about the simplicity of Cicing Kacang Bali that is less competitive with other races of dog, to be abandoned and thrown away to the roadside, bridges, beaches even to landfills. The second part tells about the wasted dog has to adapt to the environment, and later the dog protects the environment from criminals. The last part tells about the persistence of the dog to survive on the streets, and ultimately crushed to death by vehicle’s tires. Simplicity, sacrifice, struggle are the main messages which become the result of creation of Gita Derita Cicing Kacang Bali.
Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal Kelurahan Sesetan Kota Denpasar Juli Artiningsih, Ni Wayan; Sariada, I Ketut; Arshiniwati, Ni Made
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2017): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.753 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v3i2.236

Abstract

Gandrung merupakan sebuah tari pergaulan yang sejenis dengan tari Joged Bumbung. Tari ini di bawakan oleh penari laki-laki yang berpakaian perempuan. Dari beberapa tari Gandrung yang masih ada salah satunya adalah tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal, Kelurahan Sesetan, Kota Denpasar. Penelitian ini dipandang urgen untuk dilakukan karena dari sekian banyak penelitian dan laporan hasil penelitian yang dapat dibaca dan diamati, belum banyak ditemukan kajian ilmiah yang membahas mengenai tari Gandrung yang ada di Banjar Suwung Batan Kendal. Tulisan ini bertujuan untuk melengkapi sebagai referensi bagi kalangan akademik maupun non-akademik dalam rangka mempelajari pertunjukan tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan seni pertunjukan. Ada tiga pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu (1) bagaimana bentuk tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?; (2) bagaimana fungsi tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?; dan (3) bagaimana estetika tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?. Sebagai pisau analisis digunakan tiga teori yaitu teori Bentuk, teori Fungsional-Struktural, dan teori Estetika. Seluruh data penelitian ini, baik data primer maupun data sekunder diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi. Dari hasil kajian diperoleh jawaban seperti berikut. (1) Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal tersebut disajikan dalam bentuk tunggal dan ditarikan oleh seorang penari laki-laki yang belum menginjak dewasa atau mengalami masa akil baliq. Hal itu dapat dilihat dari komponen struktur pertunjukan, gerak tari, penari, tata rias dan busana, musik iringan serta tempat pertunjukannya. (2) Berdasarkan fungsinya, seni pertunjukan Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal memiliki tiga fungsi yaitu berfungsi sebagai seni pertunjukan yang bersifat ritual, hiburan, dan solidaritas. (3) Estetika pada tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal, nampak terlihat pada pementasannya yang dapat diamati dari ragam gerak tari, musik iringan, tata rias dan busana yang digunakannya.Gandrung is a social dance similar to Joged Bumbung dance. This dance is performed by male dancers dressed in women. From some Gandrung dance that still exist one of them is Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal, Sesetan Village, Denpasar City. This study is considered urgency done because of the many research and research reports that can be read and observed, not yet found a scientific study that discusses the Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal. Though writing about the dance is needed to be used as a reference for academic and non-academic in order to learn Gandrung dance performance in Banjar Suwung Batan Kendal. The research was conducted using qualitative method with performance art approach. There are three main issues studied in this research that is (1) how Gandrung dance form in Banjar Suwung Batan Kendal ?; (2) how Gandrung dance function in Banjar Suwung Batan Kendal ?; And (3) how the aesthetics of Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal ?. As a blade analysis used three theories namely Form theory, Functional-Structural theory, and theory Aesthetics. All data of this research, both primary and secondary data are obtained through observation technique, interview, literature study, and documentation study. From the results of the study obtained the answer as follows. (1) Gandrung Dance in Banjar Suwung Batan Kendal is presented in singular form and danced by a male dancer who has not stepped on an adult or has a baliq period. It can be seen from the components of the performance structure, dance movements, dancers, makeup and clothing, music accompaniment and place of performances. (2) Based on its function, Gandrung performing arts in Banjar Suwung Batan Kendal has three functions that function as performance art that is ritual, entertainment, and solidarity. (3) Aesthetics in Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal, seen in the observable staging of the range of motion of dance, music accompaniment, makeup and clothing that it uses.
I Nyoman Cerita Inovation Figure in Balinese Dance Creation Agus Sujiro Putra, I Kadek; Arya Sugiartha, I Gede; Sariada, I Ketut
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2017): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.854 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v3i2.232

Abstract

I Nyoman Cerita adalah seniman sekaligus akademisi seni pertunjukan khususnya seni tari di Bali yang berasal dari Banjar Sengguan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar Bali. Beliau telah mampu membangun sebuah upaya pengembangan kesenian khususnya tari di Bali. Berbagai karya-karya yang hingga kini telah memberikan catatan penting terhadap perkembangan seni tari, I Nyoman Cerita mampu menciptakan karya tari dengan cara Nyeraki. Istilah Nyeraki yaitu serba ada atau serba bisa. Kemampuan nyeraki yang dimaksud disini adalah kemampuan Nyoman Cerita yang dapat menyelesaikan segalanya dengan kemampuan yang serba bisa. Nyoman Cerita mampu menciptakan tabuh (musik iringan tari), mampu menciptakan gerak tari, serta mampu menciptakan konsep kostum. Kemampuan nyeraki sangat jarang dimiliki oleh seniman tari pada umumnya Tujuan dari penelitian ini menghasilkan sebuah karya tulis tentang tokoh I Nyoman Cerita seniman tari asal Gianyar, menghasilkan karya tulis yang mampu digunakan sebagai informasi tentang tokoh inovatif dalam mencipta tari Bali, ada tiga pokok permasalahan yang akan dikaji yaitu bagaimanakah latar belakang kehidupan I Nyoman Cerita, bagaimanakah proses kreatif I Nyoman cerita sebagai tokoh inovatif dalam mencipta Tari Bali, bagaimanakah kontribusi karya I Nyoman Cerita dalam perkembangan seni tari di Bali? teori yang digunakan untuk membedah ketiga latar blakang tersebut yaitu: teori biografi, teori motivasi,teori Estetika. Inovatif karya I Nyoman Cerita yaitu beliau mampu memunculkan ide-ide baru seperti pengolahan properti tari yang dapat digunakan dalam berbagai fungsi. Sebagai contohnya adalah properti pajeng dapat di fungsikan sebagai tombak, roda kereta, dan simbol awan, sedangkan properti kipas dapat digunakan sebagai gada dan kereta kencana kontribusi karya-karya Tari Bali beliu menjadi bahan ajar di sanggar dan sebagai sajian seni pertunjukan pariwisata. I Nyoman Cerita is an artist as well as a performing arts academic especially dance art in Bali from Banjar Sengguan, Singapadu Village, Sukawati District, Gianyar Bali Regency. He has been able to build an art development effort, especially dance in Bali. Various works which up to now have provided important notes on the development of dance, I Nyoman Cerita able to create works of dance by Nyeraki way. Nyeraki term is versatile or versatile. The ability of nyreaki is meant here is the ability Nyoman Stories that can solve everything with a versatile ability. Nyoman Story is able to create a tabuh (music dance accompaniment), able to create a dance movement, and able to create the concept of costume. The ability of nyeraki very rarely owned by dance artists in general The purpose of this research produced a paper about the character I Nyoman Story of Gianyar dance artists, produce a paper that can be used as information about innovative figures in creating Balinese dance, there are three subjects that will be studied is how the background of life I Nyoman Cerita, How is the creative process I Nyoman Cerita as an innovative figure in creating Balinese Dance, how the contribution of I Nyoman Cerita’s work in the development of dance art in Bali? the theory used to dissect the three backgrounds are: biography theory, motivation theory, theory of aesthetics. The innovation of I Nyoman Cerita’s work is that he is able to create new ideas such as processing dance properties that can be used in various functions. For example, a pajeng property can be used as a spear, train wheel, and cloud symbol, while a fan property can be used as a club and a train.

Page 1 of 1 | Total Record : 9