Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"Vol 8, No 2 (2011)"
:
11 Documents
clear
ARSITEKTUR TROPIS LEMBAB
Rondonuwu, Violetta V.;
Gosal, Pierre Holy
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAKSebagian besar kota di Indonesia dirancang tanpa memperhatikan beberapa aspek seperti suhu udara dan kelembaban relatif. Akibatnya manusia yang tinggal dalam bangunan tersebut merasa tidak nyaman untuk melakukan aktivitas kesehariannya. Tulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis berbagai aspek yakni iklim, lingkungan, dan perancang, yang berkaitan dengan perancangan yang terjadi di Indonesia. Beberapa strategi pemecahan problematik dari aspek tersebut akan dikemukakan dalam penulisan ini.Kata kunci : iklim, kota, lingkungan, perancang.
ARSITEKTUR TAHAN GEMPA
Maengga, Purwanto;
Van Rate, Johanes
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAKGempa merupakan fenomena alam yang tidak dapat diprediksi kapan datang dan bagaimana akibat yang ditimbulkan serta seberapa besar kerusakan yang mungkin terjadi. Dari segi geografis, Indonesia sangat berpotensi terjadinya gempa yang berkelanjutan, baik dari skala besar maupun kecil. Konstruksi bangunan yang tidak cukup kuat untuk menghadapi kekuatan gempa merupakan salah satu penyebab banyaknya korban yang berjatuhan.Ruang lingkup analisis bangunan tahan gempa meliputi analisis respon struktur baik dinamik maupun statik ekuivalen akibat percepatan gempa bumi yang ditransfer kepada bangunan melalui pondasi ke struktur bangunan atas. Keruntuhan tanah akibat patahan, longsoran, atau liquifaksi untuk tanah pasir yang menye-babkan keruntuhan struktur bangunan, tidak termasuk dalam ruang lingkup struktur bangunan tahan gempa.Selain memilih bahan bangunan yang berkualitas, dalam perencanaan haruslah memperhatikan prinsip-prinsip perencanaan tahan gempa yaitu : Daktilitas, konfigurasi bangunan, diafragma dan ikatan lantai, hubungan dinding antar lantai dan atap, hubungan antar pondasi, bobot yang ringan, kekuatan yang relatif di segala arah, serta ketahanan terhadap kebakaran.Kata Kunci : Gempa, Respon, Bangunan
EKSPLORASI TERHADAP ARSITEKTUR DEKONSTRUKSI
Mantiri, Hyginus J.;
Makainas, Indradjaja
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAKDekonstruktivisme dalam arsitektur telah menjadi suatu fenomena yang berpengaruh dalam perkembangan perancangan sejak awal kemunculannya pada dekade 1980-an. Dekonstruksi adalah suatu pendekatan terhadap perancangan bangunan dengan mencoba melihat arsitektur dari segi fragmentasi (potongan), manipulasi permukaan struktur dan façade, serta olahan bentuk-bentuk non-rectilinear. Dalam arsitektur kontemporer, strategi perancangan dengan menggunakan prinsip dekonstruksi telah melahirkan bangunan-bangunan luar biasa dengan bentukan dan gubahan massa yang tidak teratur, terdistorsi, abstrak dan bahkan antigravitasi. Arsitek-arsitek yang populer dengan sebutan ‘the seven architects’ (Bernard Tschumi, Peter Eisenman, Frank Gehry, Rem Koolhaas, Zaha Hadid, Daniel Libeskind dan Coop Himmelblau) menjadi tokoh-tokoh terkemuka dibalik kesuksesan dekonstruksi dalam membangun suatu citra baru terhadap arsitektur. Kaidah-kaidah tradisional dalam arsitektur klasik maupun modern yang selama bertahun-tahun dan bahkan berabad-abad diyakini dan dijadikan sebagai dasar bagi perancangan ditentang secara radikal dan konseptual melalui eksplorasi dan olah kreativitas dalam desain. Segera setelah kemunculannya, dekonstruksi menjadi aliran baru yang menggantikan gaya Internasional (International Style) yang sebelumnya mendominasi karakter desain bangunan. Pengaruh filosofi dekonstruksi yang diperkenalkan oleh Jacques Derrida serta konstruktivisme yang berkembang di Rusia pada awal abad ke-20 melahirkan dua aliran utama dalam arsitektur dekonstruksi yang dikenal sebagai dekonstruksi derridean dan dekonstruksi nonderridean. Dalam karya ilmiah ini pemahaman terhadap arsitektur dekonstruksi diterangkan melalui eksplorasi preseden-preseden arsitektural yang terkait secara teoritis sebagai manifestasi strategi dekonstruksi dalam transformasi desain.Kata kunci : dekonstruktivisme, dekonstruksi derridean, dekonstruksi non-derridean
ARSITEKTUR PINTAR
Pratasik, Allan I.;
Sangkertadi, Prof.
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAKArsitektur intar adalah tema perancangan, yang didalamnya berisi mengenai konsep perancangan arsitektural. Arsitektur pintar merupakan pengembangan dari konsep perancangan yang menghadirkan suatu hasil perancangan yang pintar. Seperti halnya bangunan pintar yang memiliki system otomatisasi pada bangunan yang ’memintarkan’ bangunan, arsitektur pintar juga memiliki bagian-bagian yang dipintarkan, tapi arsitektur pintar lebih dari sekedar pengotomatisasian bangunan, arsitektur pintar lebih luas,maksudnya arsitektur pintar tidak hanya pada lingkup bangunan tapi mencakup ruang luar dan ruang dalam. di dalam arsitektur pintar ada Estetika dan Psikologi sebagai faktor pendukung utama yang memberikan keindahan dan nuansa di dalam perancangan sehingga dapat memberikan kepuasan visual dan kepuasan psikologi baik dari luar maupun dari dalam.Kenapa disebut Arsitektur Pintar? karena merupakan tema perancangan yang menghasilkian suatu karya perancangan yang inovativ, mencakup berbagai jenis bidang ilmu, dan menggunakan perkembangan teknologi dan sains dalam perancangan.Kata Kunci : Estetika, Psikologi, Bangunan
ARSITEKTUR HIGH TECH
Telew, Meynar;
Lintong, Steven
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAKKemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan pengaruh yang besar di dalam kehidupan manusia, begitu pula di dunia arsitektural. Perilaku manusia yang cenderung mengikuti perkembangan jaman juga ikut mempengaruhi keiinginan mereka untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas yang berteknologi tinggi dan mempermudah aktifitas mereka diberbagai tempat yang mereka kunjungi. Disinilah peran dari para arsitek dan desainer dibutuhkan, yaitu denganmerancang suatu tempat yang dapat memenuhi kebutuhan konsumerisme manusia akan teknologi terkini dan kemudahan fasilitas. Arsitektur high tech muncul dari buah pemikiran seperti ini. Walaupun arsitektur high tech cenderung dikatakan sebagai arsitektur yang “mahalâ€, tetapi pada penerapannya tujuan utama dari arsitektur high tech adalah untuk memudahkan aktifitas manusia. Jadi yang diutamakan bukanlah penggunaan elemen-elemen berteknologi tinggi dalam bangunan, tetapi elemen-elemen arsitektural lebih ditonjolkan agar lebih mudah dimengerti fungsi dan penggunaanya oleh pemakainya. Tujuan dari penerapan arsitektur high tech yakni menampilkan unsur-unsur teknik bangunan yang kemudian diekspose sehingga aspek-aspek tekniklah yang akan menciptakan estetika dari bangunan. Pada dasarnya arsitektur high tech dalam penerapannya selain menekankan pada kecanggihan teknologi juga menggunakan elemenelemen struktural yang sangat dominan dengan material pabrikasi pada elemen interior, eksterior maupun struktur dan utilitas bangunan. Dalam arsitektur high tech, penggunaan warna-warna mencolok pada tiap elemen arstektural juga diterapkan untuk membedakan fungsi dari tiap elemen arsitektural agar lebih mudah dimengerti penggunaanya oleh pemakai.Kata kunci : Arsitektur High Tech
ARSITEKTUR TEPI AIR
Tangkuman, Dwi Juwita;
Tondobala, Linda
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAKDasar pemikiran makalah ini yaitu semakin berkembangnya konsep pengembangan Kota Tepi Air yang sudah banyak diadopsi oleh banyak Negara didunia.Kawasan tepi air (waterfront) merupakan bagian elemen fisik kota yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi suatu kawasan yang hidup (livable) dan tempat berkumpul masyarakat. Dalam perkembangannya Konsep Waterfront di beberapa Negara didunia memiliki konsep yang cenderung sama.Pengembangan waterfront seharusnya mampu di olah secara optimal untuk menonjolkan potensi serta karakteristk daerah masing-masing. Untuk menghadirkan konsep pengembangan yang efektif dan fungsional, maka perlu dikendalikan dengan mempertimbangkan aspek baik dari segi fisik maupn non fisik. Dengan penekanan terhadap Apek Lingkungan Maupun Fungsi. Aspek-aspek pertimbangan diperoleh berdasarkan studi literatur. Hasil studi menunjukkan bahwa dalam pengembangan waterfront penting untuk mengharmoniskan antara kota/lahan dan air agar keduanya dapat berperan timbal balik. Hubungan timbal balik antara keduanya dapat mewujudkan suatu lingkungan yang tertata dengan baik juga menghadirkan fungsi-fungsi yang mewadahi kegiatan dalam kawasan tepi air secara lebih efektif dan fungsional.Kata Kunci : arsitektur, tepi air
TRANSFORMASI SEBAGAI STRATEGI DESAIN
Nayoan, Stephanie Jill;
Mandey, Johansen Cruyff
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAKKarya tulis ini membahas akan strategi transformasi yang dikemukakan oleh Anthony Anthoniades yang dijadikan sebagai strategi oleh para arsitek dalam mencari bentuk-bentuk yang baru dalam setiap ide baru yang muncul. Pembahasan dimulai dengan melihat pemahaman akan transformasi itu sendiri dan menelusuri kapan strategi transformasi itu digunakan dalam perjalanan sejarah perkembangan arsitektur, serta mengkaji akan pemakaian strategi yang ada dalam bangunan yang ada pada zaman tersebut.Strategi Transformasi ada dan berkembang pada masa modernisasi bersamaan dengan berkembangnya aliran-aliran dalam arsitektur. Adapun dari perkembangan Transformasi,dan dari penelaan teori transformasi yang ada bahkan dari studi kasus yang dikaji memunculkan faktor yang perlu diperhatikan, yang nantinya menjadi bahan pertimbangan dalam merancang objek desain ketika kita menggunakan transformasi baik strategi tradisional, strategi peminjaman, maupun strategi dekonstruksi atau dekomposisi sebagai strategi dalam mendesain.Kata Kunci : Transformasi, Sejarah, Strategi
AESTHETIC OF A PLACE (ESTETIKA SEBUAH TEMPAT)
Rumambi, Elisa;
Sela, Rieneke Luisa Evany
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAKBudaya dan karakteristik manusia mempunyai suatu keterkaitan fisik dalam rangka pembentukan identitas suatu wilayah yang ditempatinya. Sementara kota merupakan suatu aspek besar dalam kehidupan masyarakat. Seiring dengan perkembangan pembangunan dan perencanaan kawasan perkotaan, kota dan artistiknya dalam arti place sangatlah penting dalam pencitraan dan pemaknaan identitas suatu tempat.Sementara itu, estetika sebuah tempat merupakan ciri khas dan identitas sebuah tempat pada perkotaan, termasuk yang dibentuk oleh keindahan arsitektural bangunannya. Tidak mudah untuk memahami nilai estetika sebuah tempat. Untuk bisa memahaminya maka perlu diperhatikan faktor-faktor pembentuk estetika sebuah place dan tujuh prinsip sebuah place secara estetis.Dengan adanya apresiasi terhadap keindahan dan keberadaan suatu tempat sangatlah mempengaruhi kualitas produk perancangan kawasan kota atau sebuah tempat yang akan terwujud lebih baik.Kata Kunci : estetika, place, kota
ARSITEKTUR NEW BRUTALISME
Sinaga, Meilin R.;
Tinangon, Alvin Jantje
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAKKarya tulis ini menelaah Gerakan Arsitektur New Brutalisme yang diawali dengan sejarah terbentuknya Gerakan ini, konsepsi para tokoh arsitek seperti Alison dan Peter Smithson, James Stirling, Charles Jencks dan Louis I. Kahn, dan manifestasi tematik yang dihasilkan oleh para arsitek tersebut.New brutalisme merupakan ancangan yang dikeluarkan oleh arsitek idealis pada masa periode heroik khususnya oleh arsitek-arsitek Britain dalam aksinya menentang International Style yang baru berkembang pada tahun 1950an karena gaya ini dianggap sangat keras oleh masyarakat Britania Raya dalam konteks kepekaan terhadap manusia dan lingkungan.Manifestasi dari gerakan New Brutalisme ini terangkum dari studi tipologi bangunan yang dirancang oleh arsitek idealis seperti Alison Smithson dan Peter Smithson, James Stirling, dan Erno Goldfinger. Dengan manifestasi tersebut terbentuklah suatu strategi desain New Brutalisme yang didukung oleh teori yang positif dalam arsitektur.Kata kunci: New Brutalisme, kronologi, strategi desain.
ARSITEKTUR FEMINISME
Silaban, Chintya Victorya;
Punuh, Claudia Susan
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAKFemina†berarti memiliki sifat keperempuanan. Sifat keperempuanan ini diadopsi sebuah paham yang muncul pada abad 19, yaitu paham yang dinamakan Feminisme. Pada saat itu perhatian dunia lebih cenderung terhadap sosial demokratis dimana adanya perlakuan yang beda karena perbedaan jenis kelamin, ras, warna kulit, dan sebagainya. Paham yang bermunculan di masyarakat saat itu membawa jenis kelamin sebagai pengontrol sosial, dimana seorang perempuan tidak diberikan kebebasan mutlak dalam segala hal. Maka, munculnya sebuah paham yaitu Feminimisme, yang bertujuan untuk membuka suatu persamaan perlakuan dalam perbedaan jenis kelamin dalam masyarakat.Feminsme berarti sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan. Arsitektur Feminisme merupakan bagian dari Arsitektur Post-modern yang hadir karena kejenuhan akan bangunan-bangunan modern. Salah satu arsitek wanita yang menganut paham Feminisme adalah Zaha-Hadid.Makna feminisme itu sendiri dalam bidang arsitektur yaitu selain pengapdosian sifat perempuan mempunyai arti yang lebih dalam yaitu kebebasan dan kesejajaran dalam mengekspresikan ide dan desain bangunan. Hal ini terbukti dari terbentuknya paham baru yangmengutamakan kebebasan berekspresi serta berteknologi.Kata kunci : feminin, kebebasan, teknologi