cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Warta Ardhia : Jurnal Perhubungan Udara
ISSN : 02159066     EISSN : 25284045     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Warta Ardhia is an Air Transport Journal containing research, review related to evaluation policy and technological development with the scope of air transport, airport, aircraft, flight navigation, aviation human resources, flight safety and security. Warta Ardhia is managed by Civil Aviation Research and Development Center of Ministry of Transportation of The Republic Indonesia and published 2 (two) times a year, June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 40, No 1 (2014)" : 5 Documents clear
Analisis Fasilitas dan Pelayanan Cacat dan lanjut Usia di Bandar Udara Supadio - Pontianak Yuke Sri Rizki; Jeni Sartika
WARTA ARDHIA Vol 40, No 1 (2014)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3550.651 KB) | DOI: 10.25104/wa.v40i1.162.31-44

Abstract

Facilities and services for disabled and elderly passengers have to be provided by the airport. This research was conducted to provide an overview of facilities and services for disabled accessibility in the airport. The study took a case studyin Supadi Airport-Pontianak. The method used in this research is descriptive qualitative analysis and policy analysis. The results showed Supadio-Pontianak airport has been equipped with facilities for disabled accessibility and elderly in accordance with the requirements in the Minister of Transportation Decree No, 71 Year 1999 on Accessibility For People with Disabilities and Hospitals In Transportation Infrastructures and the Minister of Public Works of the Republic Indonesia Number 468 / Kpts / 1998 on Technical Requirements Accessibility In Public Buildings and the Environment.Fasilitas dan pelayanan penyandang cacat dan lanjut usia di bandar udara merupakan suatu hal yang harus dipenuhi oleh pengelola bandar udara, Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran tentang penyediaan fasilitas dan pelayanan bagi aksesibilitas penyandang cacat yang akan melakukan perjalanan menggunakan pesawat udara. Penelitian mengambil studi kasus di Bandar Udara Supadio-Pontianak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis adalah deskriptif kualitatif dan analisis kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan Bandar udara Supadio - Pontianak telah dilengkapi dengan fasilitas bagi aksesibilitas penyandang cacat dan lanjut usia sesuai dengan yang disyaratkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 71 Tahun 1999 tentang Aksesibilitas Bagi Penyandang Cacat dan Orang Sakit Pada Sarana dan Prasarana Perhubungan dan Keputusan Menteri Pekerjaan IJmum Republik Indonesia Nomor 468/KPTS/199B tentang Persyaratan Teknis aksesibilitas Pada Bangunan Umum dan Lingkungan.
Pengembangan Aerospace Park di Indonesia berdasarkan Potensi Pergerakan Pesawat Udara Jaka Yanuwidiasta
WARTA ARDHIA Vol 40, No 1 (2014)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4741.38 KB) | DOI: 10.25104/wa.v40i1.164.45-58

Abstract

One of the supporting industries that has high development in line With the rapid growth of aviation services in Indonesia the business Of aircraft including the procurement and production of spare parts and overhaul including the procurement and production of spare parts and the provision of supporting human resources. In 2012, there were 30 business entities engaged in the business of and aircraft is incorporated in IAMSA (Indonesian Aircraft Maintenance Shop Association). The purpose of this research was to obtain an overview of potential development of the Aerospace Park in Indonesia and find alternative airport that could be developed as an Aerospace Park in Indonesia. Based on the potential movement of aircraft and land availability, it is proposed to develop Aerospace Park in Soekarno Hatta Jakarta, Hussein Sastranegara Bandung, Kertajati Majalengka, Juanda Surabaya, Sultan Hasanuddin Makassar, Sam Ratulangi Manado, Sentani Jayapura, Segun Sorong, Hang Nadim Batam, Raja Fisabilillah Tanjung Pinang. Smarinda Baru, Tjilik Riwut Palangkaraya dan BIL Lombok. Salah satu industri pendukung yang sangat berkembang sejalan dengan pesatnya pertumbuhan jasa penerbangan di Indonesia adalah bisnis pemeliharaan dan perawatan pesawat udara termasuk pengadaan dan produksi suku cadangnya serta penyediaan SDM pendukungnya. Pada tahun 2012, tercatat 30 badan usaha yang bergerak dalam bisnis perneliharaan dan perawatan pesawat udara yang tergabung dalam IAMSA (Indonesian Aircraft Maintenance Shop Association). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran pengembangan Aerospace Park di Indonesia dan mengetahui alternatif bandar udara yang bisa dikembangkan sebagai Aerospace Park di Indonesia. Berdasarkan potensi pergerakan pesawat udara dan faktor ketersediaan lahan diusulkan pengembangan Aerospace Park di Bandar Udara Soekarno Hatta Jakarta, Hussein Sastranegara Bandung, Kertajati Majalengka, Juanda Surabaya, Sultan Hasanuddin Makassar, Sam Ratulangi Manado, Sentani Jayapura, Segun Sorong, Kualanamu Medan, Hang Nadim Batam, Raja Fisabilillah Tanjung Pinang_ Samarinda Baru, Tjilik Riwut Palangkaraya dan BIL Lombok. 
Pemilihan Tipe Pesawat Udara Berdasarkan Estimasi Biaya Operasional untuk Pesawat Udara Jarak Menengah Tito Yusmar; Welly Pakan
WARTA ARDHIA Vol 40, No 1 (2014)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3559.062 KB) | DOI: 10.25104/wa.v40i1.166.59-70

Abstract

Domestic aviation industry is currently in a growing state. This year, some airlines make a purchase of new aircraft to strengthen its fleet. Some types of aircraft procured by the Indonesian airline is Sukhoi Superjet 100, the Boeing 737 Next Generation aircraft, the Airbus A330-200 and MA-60. Those aircraft type is the medium range aircraft that could potentially become competitors to each other. This research aims to determine the type of medium range aircraft with has most efficient operational costs in serving a particular route. Operating costs calculation for 7 (seven) types of aircraft i.e. Airbus 1319, A320, 8737-300, B737-400, 13737-500, 13737-800 and 13737- 900ER showed that Boeing 737-900 ER aircraft operated by Lion Air has the most efficient direct operating costs ( 0.07981 USD / seat- nmi) followed by Boeing 737-400 aircraft with a seating capacity of 170 seats operated by Citilink Garuda Indonesia (0.08636 USD / seat-nmi). Industri penerbangan dalam negeri saat ini semakin berkembang. Mulai tahun ini, banyak perusahaan jasa angkutan udara yang melakukan pembelian pesawat baru untuk memperkokoh armadanya. Beberapa tipe pesawat udara yang didatangkan oleh perusahaan jasa angkutan udara Indonesia adalah pesawat Sukhoi SuperJet 100, Boeing 737 Next Generation, Airbus A330-200 dan MA-60. Tipe pesawat udara tersebut merupakan tipe pesawat udara medium range yang berpotensi menjadi kompetitor satu sama lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tipe pesawat udara medium range dengan biaya operasional paling hemat dalam melayani rute tertentu. Dari 7 (tujuh) tipe pesawat yang dihitung biaya operasionalnya yaitu Airbus A319, A320, B737-300, 18737- 400, B737-500, B737-800 dan B737-900ER, pesawat tipe Boeing 737-900ER yang dioperasikan oleh Lion Air menjadi pesawat udara dengan biaya operasional langsung paling hemat yaitu 0,07981 US$/seat-nmi, diikuti oleh Boeing 737-400 dengan kapasitas kursi sebanyak 170 kursi yang dioperasikan oleh Citilink Garuda Indonesia. sebesar 0,08636 US$/seat-nmi.
Emisi Gas Kaca Pesawat Udara di Indonesia Suyono Wiryoatmojo
WARTA ARDHIA Vol 40, No 1 (2014)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4222.674 KB) | DOI: 10.25104/wa.v40i1.159.1-18

Abstract

One of the environmental problrms facing the world today is the phenomenon of global warming that is caused by greenhouse gas emissions. Many human activities that cause greenhouse gas emissions that cause global warming, among others, is the consumption of energy derived from fossil fuels, including fuels for the transport sector, particularly air transport. This research conducted the calculation of greenhouse gas emissions produced by aircraft operation in Indonesia in 2012 and the predictions of greenhouse gases up to 2030. The calculation refers to the emission inventory Guidebook 2013, and following the procedure has been set by the International Civil Aviation Organization (ICAO). Based on the calculation results showed that aircraft greenhouse gas emissions in Indonesia in 2012 dominated by C02 gas that is equal to 8145 kTon (99.7%) while the hydrocarbon gas emissions of 1.04 kTon. By 2030, greenhouse das emissions aircraft in Indonesia is expected to reach 16814 kTon.Salah satu permasalahan lingkungan yang dihadapi dunia Saat ini adalah adanya fenomena pemanasan global yang antara lain disebabkan oleh emisi gas rumah kaca. Aktifitas manusia yang banyak menyebabkan emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global antara lain adalah konsumsi energi yang berasal dari bahan bakar fosil termasuk bahan bakar untuk sektor transportasi khususnya transportasi udara. Dalam penelitian ini dilakukan perhitungan emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan pesawat udara di Indonesia pada tahun 2012 dan prediksi gas rumah kaca sampai dengan tahun 2030. Perhitungan dan prediksi emisi gas rumah kaca pesawat udara pada penelitian ini mengacu pada emission inventory guidebook 2013 dan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh Civil Aviation Organization (ICAO). Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan hahwa emisi GRK pesawat udara di Indonesia pada tahun 2012 didominasi oleh gas CO2 yaitu sebesar 8.145 kTon (99.7%) sedangkan emisi gas hidrokarbon sebesar 1,04 kTon Pada tahun 2030, emisi gas rumah kaca pesawat udara di Indoneisa diprediksikan mencapai 16.814 kTon.
Pengembangan Sisi Udara Bandar Udara Nunukan sebagai Bandar Udara untuk Pertahanan Nasional Ali Murtadho
WARTA ARDHIA Vol 40, No 1 (2014)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3060.268 KB) | DOI: 10.25104/wa.v40i1.160.19-30

Abstract

Nunukan airport is one of the pioneer airports in the border region. Aside from being a pioneer airports, this airport has important role for the defense and security interests of the territory of the Republic Of Indonesia. The purpose of this research is to analyze the readiness of the airport airside facilities as defense side of the border area. The method used in this study is quantitative by comparing the calculation with facilities available as needed. From the calculation showed that runway needed for the Hercules C-1300 B is 1.455 m and Hercules C-1300 H 30 is 1.862m. Airport organizers need to increase the velue of the runway PCN from 12 / F/ C / T to 37 / F / C / Y / T with surface thickness is 10 cm layer of pavement, base course 18 cm, 41 cm and subbase course. Bandar Udara Nunukan merupakan salah satu bandar udara perintis di wilayah perbatasan. Selain sebagai bandar udara perintis, Bandar udara Nunukan sekaligus sebagai bandar udara perbatasan yang mempunyai nilai strategis untuk kepentingan pertahanan dan keamanan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menganalisa kesiapan fasilitas Sisi udara Bandar Udara Nunukan sebagai bandar udara pertahanan diwilayah perbatasan. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah kuantitatif dengan membandingkan antara fasilitas yang tersedia dengan hasil perhitungan sesuai dengan kebutuhan. Dari perhitungan didapatkan hasil bahwa penjang landas pacu yang dibutuhkan untuk pesawat Hercules C-1300 H 30 adalah 1.455 m dan Hercules C-1300 H 30 adalah 1.862 m. Penyelenggara bandar udara perlu juga melakukan peningkatan nilai PCN landas pacu dari 12/F/C/Y/T menjadi 37/F/C/Y/T dengan tebal lapisan perkerasan surface 10 cm, base course 18 cm, dan subbase course 41 Cm.

Page 1 of 1 | Total Record : 5