cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
CHEMISTRY PROGRESS
ISSN : 19795920     EISSN : 27158365     DOI : -
Core Subject : Science,
Majalah Ilmiah Chemistry Progress merupakan media untuk menyebarkan informasi ilmiah dan sarana komunikasi bagi para ilmuan dan cendekiawan melalui tulisan-tulisan ilmiah. Majalah Ilmiah Chemistry Progress terbit dua nomor dalam satu tahun (Mei dan November) berisi kajian penelitian dalam lingkup ilmu kimia (organik, anorganik, analitik, biokimia, fisika, bahan alam, lingkungan, pangan, kelautan, pertambangan, farmasi dan komputasi). Jumlah halaman pervolume adalah 55-65 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 275 Documents
Formulasi Pasta Gigi Herbal Ekstrak Etanol Kulit Buah Lemon Suanggi (Citrus limon (L.) Burm. f.) Sebagai Agen Antibakteri Streptococcus mutans
CHEMISTRY PROGRESS Vol. 16 No. 2 (2023)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.16.2.2023.48447

Abstract

Lemon Suanggi (Citrus limon (L.) Burm. f.) banyak dibudidayakan di Kawasan Asia selatan berpotensi sebagai agen antibakteri. Lapisan bagian dalam kulit buah lemon suanggi terdiri atas glikosida, kumarin, dan flavonoid yang dapat berperan sebagai antibakteri, anti mikroba dan antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia dari ekstrak kulit buah lemon suanggi, aktivitas antibakteri dari ekstrak kulit buah lemon suanggi terhadap Streptococcus mutans, untuk memformulasikan ekstrak kulit buah lemon suanggi ke dalam bentuk sediaan pasta gigi, mengevaluasi stabilitas sediaan selama 14 hari dan menguji efektivitas antibakteri sediaan pasta gigi ekstrak kulit buah lemon suanggi. Untuk mengetahui kandungan fitokimia ekstrak dilakukan dengan skrining fitokimia terhadap ekstrak dan didapat positif memiliki kandugan senyawa metabolit sekunder antara lain Alkaloid, Flavonoid, Tanin, Steroid, dan Saponin. Pengujian antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram terhadap ekstrak kulit buah lemon suanggi dengan konsentrasi 2, 4, dan 6% menggunakan pelarut DMSO dan diukur diameter zona bening yang terbentuk. Hasil rata-rata diameter zona bening yang terbentuk masing – masing adalah 12,8mm, 13,5mm, dan 14,5mm. Hasil dari uji antibakteri sediaan pasta gigi herbal F1 (2%)= 12,5mm, F2(4%)= 14mm, dan F3(6%)= 15,6mm. Formulasi pasta gigi herbal dilakukan dengan tiga formula yang berbeda konsentrasi zat aktifnya. Uji evaluasi yang digunakan adalah uji pH, uji daya sebar, dan uji tinggi busa yang menunjukkan hasil yang sesuai dengan syarat sediaan pasta gigi. Lemon Suanggi (Citrus limon (L.) Burm. f.) is widely cultivated in the South Asian region as a potential antibacterial agent. The inner layer of suanggi lemon peel consists of glycosides, coumarins, and flavonoids which can act as natural antibacterial, anti-microbial and antioxidant. This study was aimed to determine the phytochemical content of suanggi lemon peel extract and the antibacterial activity of suanggi lemon peel extract against Streptococcus mutans, to formulate suanggi lemon peel extract into toothpaste dosage form, and to evaluate the stability of the preparation for 14 days and the antibacterial effectiveness of suanggi lemon peel extract toothpaste. To determine the phytochemical content of the extract, phytochemical screening was carried out on the extract and it was found positive for secondary metabolite compounds, including alkaloids, flavonoids, tannins, steroids, and saponins. Antibacterial testing was carried out using the disc diffusion method on suanggi lemon peel extract with a concentration of 2, 4, and 6% using DMSO solvent and the diameter of the clear zone formed was measured. The average diameters of the clear zone formed were 12.8mm, 13.5mm and 14.5mm, respectively. The results of the antibacterial test for herbal toothpaste preparations F1 (2%)= 12.5mm, F2(4%)= 14mm, and F3(6%)= 15.6mm. Formulation of herbal toothpaste was carried out using three formulas with different concentrations of the active substance. The evaluation tests used were the pH test, spreadability test, and height foam test which showed results that were in accordance with the requirements for toothpaste preparation.
Karakterisasi Serat Pangan, Penghambatan Enzim α-Amilase dan Aktivitas Antioksidan dari Daun Kubis (Brassica Oleracea L.)
CHEMISTRY PROGRESS Vol. 16 No. 2 (2023)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.16.2.2023.49222

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit degeneratif yang ditandai meningkatnya kadar gula darah dan gangguan metabolisme lewat mengkonsumsi makanan cepat saji (fast food). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan hemiselulosa, selulosa dan lignin, menentukan kemampuan serat pangan sebagai penghambatan enzim α-amilase, dan menentukan fitokimia antioksidan dari daun kubis. Metodologi penelitian meliputi preparasi sampel, ekstraksi, penentuan kandungan hemiselulosa, selulosa, lignin, penentuan serat pangan, uji penghambatan enzim α-amilase secara in vitro, penentuan fitokimia antioksidan (total fenolik, total flavonoid dan total tanin terkondensasi), aktivitas penangkal radikal bebas DPPH dan radikal kation ABTS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung daun kubis yang diekstraksi dengan akuades memiliki kandungan tertinggi yaitu hemiselulosa (25,93%), selulosa (17,68%) dan lignin (15,68%). Tepung daun kubis juga menunjukkan aktivitas penghambatan pada enzim α-amilase dengan persentase tertinggi pada tepung daun kubis tanpa perlakuan (KTP) yaitu sebesar 92,12%. Pada penentuan kandungan fitokimia antioksidan terbukti bahwa ekstrak kubis etanol memiliki kandungan senyawa fenolik, flavonoid dan tanin tertinggi yang sejalan dengan aktivitas penangkal radikal bebas DPPH dan radikal kation ABTS. Diabetes mellitus is a degenerative disease characterized by increased blood sugar levels and metabolic disorders through consuming fast food (fast food). This study aims to determine the content of hemicellulose, cellulose and lignin, determine the ability of dietary fiber to inhibit α-amylase enzymes, and determine the antioxidant phytochemicals of cabbage leaves. The research methodology included sample preparation, extraction, determination of hemicellulose, cellulose, lignin content, determination of dietary fiber, in vitro α-amylase enzyme inhibition test, determination of antioxidant phytochemicals (total phenolics, total flavonoids and total condensed tannins), free radical scavenging activity of DPPH and ABTS cation radicals. The results showed that cabbage leaf flour extracted with distilled water had the highest content, namely hemicellulose (25.93%), cellulose (17.68%) and lignin (15.68%). Cabbage leaf flour also showed inhibitory activity on the α-amylase enzyme with the highest percentage in untreated cabbage leaf flour (KTP), namely 92.12%. In determining the antioxidant phytochemical content, it was proven that the ethanol extract of cabbage had the highest content of phenolic compounds, flavonoids and tannins which were in line with the free radical scavenging activity of DPPH and ABTS cation radicals.
Pembuatan Sabun Mandi Transparan VCO dengan Penambahan Ekstrak Biji Alpukat Sebagai Antioksidan dan Antibakteri Alami
CHEMISTRY PROGRESS Vol. 16 No. 2 (2023)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.16.2.2023.49423

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pembuatan sabun mandi transparan berbahan dasar Virgin Coconut Oil dengan penambahan ekstrak biji alpukat sebagai bahan aktif dalam sabun. Mutu sabun yang dihasilkan dianalisis berdasarkan SNI 3532:2021 tentang Sabun Mandi Padat. Aktivitas antioksidan ditentukan menggunakan metode penangkapan radikal bebas DPPH dan aktivitas antibakteri diuji dengan metode difusi cakram kertas (Kirby-Bauer). Sabun yang dibuat dengan penambahan ekstrak biji alpukat tidak memenuhi SNI untuk parameter total lemak dan kadar klorida. Sabun tanpa penambahan ekstrak biji alpukat tidak memenuhi kriteria SNI untuk parameter total lemak, kadar klorida dan lemak tak tersabunkan. Sabun dengan penambahan ekstrak biji alpukat memiliki aktivitas penangkal radikal bebas dengan nilai IC50 sebesar 17,17 μg/mL yang tergolong sangat kuat. Aktivitas antibakteri dari sabun dengan penambahan ekstrak biji alpukat memberikan hasil zona hambat yang tergolong sedang terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri Pseudomonas aeruginosa. A research was conducted on the manufacture of transparent bath soap made from Virgin Coconut Oil with the addition of avocado seed extract as an active ingredient. The quality of the soap produced was analyzed based on SNI 3532:2021 concerning Solid Bath Soap. Antioxidant activity was examined using the DPPH free radical scavenging method and the antibacterial activity was tested using the paper disc diffusion method (Kirby-Bauer). Soap made with the addition of avocado seed extract did not meet the conditions required by SNI for total fat and chloride content. Soap without the addition of avocado seed extract did not qualify by SNI for the parameters of total fat, chloride content, and unsaponifiable fat. Soap with the addition of avocado seed extract has very strong free radical scavenging activity with an IC50 value of 17,17 μg/mL. The soap with the addition of avocado seed extract showed antibacterial activity resulted in a moderate inhibition zone against Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeruginosa.
Sintesis Nanokomposit Kitosan/Ag/Fe3O4 Sebagai Fotokatalis untuk Mendegradasi Zat Warna Methylene Blue
CHEMISTRY PROGRESS Vol. 16 No. 2 (2023)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.16.2.2023.49432

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang sintesis nanokomposit kitosan/Ag/Fe3O4 dengan variasi volume larutan AgNO3 serta aplikasinya sebagai fotokatalis untuk mendegradasi methylene blue. Nanokomposit yang dihasilkan dikarakterisasi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-Ray (SEM-EDX), Fourier-Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Hasil karakterisasi tersebut membuktikan terbentuknya nanokomposit kitosan/Ag/Fe3O4. Analisis aktivitas fotodegradasi dilakukan melalui penentuan konsentrasi methylene blue yang tersisa setelah interaksi dengan nanokomposit kitosan/Ag/Fe3O4 yang disinari lampu pijar selama 30, 60, 90, dan 120 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan fotodegradasi dengan menggunakan nanokomposit lebih baik dibandingkan tanpa penambahan nanokomposit.   Research has been carried out on the synthesis of chitosan/Ag/Fe3O4 nanocomposites with varying volumes of AgNO3 solutions and their application as a photocatalyst to degrade methylene blue. The resulting nanocomposites were characterized using X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-Ray (SEM-EDX), Fourier-Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). The characterization results proved the presence of chitosan/Ag/Fe3O4 nanocomposites. Analysis of photodegradation activity was carried out by determining the concentration of methylene blue remaining after interaction with the chitosan/Ag/Fe3O4 nanocomposite which was irradiated with an incandescent lamp. The results showed that the ability to photodegrade using nanocomposites was better than without the addition of nanocomposites.
Pengaruh Daun Muda dan Daun Tua Terhadap Aktivitas Antioksidan dan Kualitas Mutu Teh Herbal Daun Soyogik (Saurauia bracteosa DC.)
CHEMISTRY PROGRESS Vol. 17 No. 1 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.17.1.2024.49757

Abstract

ABSTRACT This study was aimed to determine the effect of young and old leaves on the quality of soyogik leaf (Saurauia bracteosa DC.) herbal tea. Soyogik leaf herbal tea was made by drying it in an oven at 50˚C for 150 minutes, then testing for phytochemical screening, free radical scavenging activity, and quality standard. Phytochemical screening showed that young and old soyogik leaves contained triterpenoids, flavonoids, saponins and tannins. The antioxidant test results showed that free radical scavenging activity of young soyogik leaves (70.637%) were higher than that of old soyogik leaves (70.204%). Soyogik leaf herbal tea from young leaves had the best quality with the criteria of water content 7.664%; ash content 6.344%; acid insoluble ash content 0.077%; crude fiber 15.36%; metal contamination Pb (0.22 mg/kg), Cd (<0.00009 mg/kg), As (0.15 mg/kg); color with value L = 63.5, a* = 44.8, and b* = 71.2; and the aroma/smell and taste somewhat liked by the panelists. The overall results obtained show that soyogik leaves have potential as herbal teas and the degree of aging can affect the quality of soyogik leaf herbal teas. Keywords: herbal tea, soyogik, Saurauia bracteosa DC., antioxidants, quality   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daun muda dan daun tua terhadap kualitas mutu teh herbal daun soyogik (Saurauia bracteosa DC.). Pembuatan teh herbal daun soyogik dilakukan dengan pengeringan oven pada suhu 50˚C selama 150 menit, kemudian dilakukan skrining fitokimia, pengujian aktifitas penangkal radikal bebas, dan uji standar mutu. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa daun soyogik muda dan tua mengandung triterpenoid, flavonoid, saponin dan tanin. Hasil pengujian antioksidan menunjukkan bahwa aktivitas penangkal radikal bebas daun soyogik muda (70,637%) lebih tinggi dibandingkan dengan daun soyogik tua (70,204%). Teh herbal daun soyogik dari daun muda mempunyai kualitas paling baik dengan kriteria kadar air 7,664%; kadar abu 6,344%; kadar abu tak larut asam 0,077%; serat kasar 15,36%; cemaran logam Pb (0,22 mg/kg), Cd (<0,00009 mg/kg), As (0,15 mg/kg); warna dengan nilai L = 63,5 a* = 44,8, dan b* = 71,2; dan aroma/bau serta rasa yang agak disukai oleh panelis. Keseluruhan hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa daun soyogik dapat berpotensi sebagai teh herbal dan tingkat ketuaan daun dapat mempengaruhi kualitas teh herbal daun soyogik. Kata kunci: teh herbal, soyogik, Saurauia bracteosa DC., antioksidan, kualitas mutu
Profil Kromatogram dari Variasi Konsentrasi Pelarut Etanol Ekstrak Daun Leilem Serta Penentuan Nilai SPF
CHEMISTRY PROGRESS Vol. 16 No. 2 (2023)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.16.2.2023.51733

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil kromatogram dari ekstrak daun leilem dengan pelarut etanol 50%, etanol 70% serta etanol 95%. Ekstraksi dilakukan secara maserasi yang selanjutnya dilihat profil metabolit sekunder dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis. Eluen yang digunakan yaitu campuran pelarut n-heksan dan etil asetat dengan beberapa perbandingan selanjutnya ekstrak di uji aktivitas antioksidan dan ditentukan nilai SPF. Penelitian dilanjutkan dengan pembuatan sediaan gel dengan bahan aktif ekstrak daun leilem serta pengujian antioksidan dan nilai SPF dari sediaan gel tersebut. Hasil yang diperoleh profil kromatogram pada ekstrak etanol 70% dan 95% terdapat banyak bercak yang muncul setelah diamati pada sinar UV 366 nm sedangkan pada ekstrak etanol 50% menampakkan noda pemisahan hanya pada sinar UV 254 pada perbandingan pelarut n-heksan : etil asetat 10:1. Hasil antioksidan dengan metode DPPH menunjukkan nilai persen inhibisi ekstrak etanol 70% yaitu 57,6 sedangkan pada sediaan gel ekstrak etanol 50% menunjukkan persen inhibisi yang tertinggi yaitu 68,9. Untuk nilai SPF ekstrak meningkat setelah diformulasikan dalam sediaan gel. This research aimed to observe the chromatogram profile of leilem leaf extract using 50% ethanol, 70% ethanol, and 95% ethanol as solvents. Extraction was carried out by maceration and then the secondary metabolite profile was viewed using the thin layer chromatography method. The eluent used was a mixture of n-hexane and ethyl acetate solvents with several comparisons, then the extract was tested for antioxidant activity and the SPF value was determined. The research continued with making a gel preparation with the active ingredient leilem leaf extract as well as testing the antioxidant and SPF values of the gel preparation. The results obtained from the chromatogram profile of the 70% and 95% ethanol extracts showed many spots that appeared after being observed under 366 nm UV light, whereas the 50% ethanol extract showed separation spots only under UV 254 light at a solvent ratio of n-hexane: ethyl acetate 10: 1. The antioxidant results using the DPPH method showed the percent inhibition value of 57,6 for 70% ethanol extract, while the 50% ethanol extract gel preparation showed the highest percent inhibition, of 68.9. The SPF value of the extract was increased after being formulated in a gel preparation.
Formulasi Nanoemulsi Ekstrak dan Fraksi Limbah Pelepah Aren (Arenga pinnata Merr.) Sebagai Agen Antihiperlipidemia dan Hipoglikemik untuk Pencegahan Penyakit Degeneratif
CHEMISTRY PROGRESS Vol. 16 No. 2 (2023)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.16.2.2023.52295

Abstract

Aktivitas fisik yang berkurang, gaya hidup dan terganggunya pola makan dapat menyebabkan terjadinya penyakit degeneratif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kemampuan ekstrak dan fraksi limbah pelepah aren sebagai agen antihiperlipidemia dan hipoglikemik untuk mencegah penyakit degeneratif dan menentukan kandungan senyawa aktif dari fraksi terbaik limbah pelepah aren menggunakan GC-MS serta mendapatkan ukuran droplet nanoemulsi dari ekstrak atau fraksi terbaik pelepah aren menggunakan PSA. Fraksi etil asetat memiliki kandungan total fenolik (163,61 µg/mL) dan flavonoid (69,84 µg/mL), kemampuan menurunkan kadar kolesterol murni (82,63%) dan kuning telur (88,85%) serta kemampuan menurunkan kadar glukosa tertinggi. Senyawa aktif fraksi etil asetat pelepah aren yang memiliki peran sebagai penurun kadar kolesterol dan glukosa adalah heptakosan, heksatriakontan, dan asam stearat. Formulasi nanoemulsi terbaik yang terbentuk berwarna kuning dengan ukuran droplet 30,70 nm dan indeks polidispersitas 0,41. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nanoemulsi fraksi etil asetat pelepah aren berpotensi sebagai agen antihiperlipidemia dan hipolikemik. Reduced physical activity, lifestyle and disturbed eating patterns can cause degenerative diseases. The aim of this research was to determine the ability of extract and fractions of sugar palm frond waste as anti-hyperlipidemic and hypoglycemic agents to prevent degenerative diseases and to determine the active compound content of the best palm frond waste fractions using GC-MS and to obtain nanoemulsion droplet sizes from the best extract or fraction of sugar palm fronds using PSA. The ethyl acetate fraction contains total phenolics (163.61 µg/mL) and flavonoids (69.84 µg/mL), the ability to reduce levels of pure cholesterol (82.63%) and egg yolk (88.85%) and the highest ability to reduce levels of glucose. The active compounds in the ethyl acetate fraction of palm fronds which have a role in reducing cholesterol and glucose levels are heptacosan, hexatriacontane, and stearic acid. The best nanoemulsion formulation formed was yellow with a droplet size of 30.70 nm and a polydispersity index of 0,41. The results obtained indicate that the nanoemulsion of the ethyl acetate fraction of sugar palm fronds has potential as an antihyperlipidemic and hypoglycemic agent.
Nanokitosan Fraksi Flavonoid dari Limbah Kulit Buah Rambutan (Nephelium lappaceum) sebagai Peluruh Kalsium Batu Ginjal
CHEMISTRY PROGRESS Vol. 16 No. 2 (2023)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.16.2.2023.52372

Abstract

Batu ginjal merupakan gangguan kaliks ginjal yang disebabkan karena terjadinya pengendapan senyawa yang susah larut dikarenakan tubuh kekurangan cairan. Unsur dasar yang membentuk batu ginjal adalah kalsium oksalat dan kalsium fosfat ataupun keduanya sebesar 70-80%. Upaya penanganan batu ginjal umumnya menggunakan pembedahan, endoskopi, terapi Extracorporeal Shockwave Lithotripsy. Beberapa penanganan tersebut memiliki biaya yang mahal serta bahayanya efek samping yang ditimbulkan, maka diperlukan solusi alternatif menggunakan tanaman herbal yang mengandung senyawa flavonoid sebagai peluruh kalsium batu ginjal salah satunya limbah kulit rambutan (Nephelium lappaceum L.). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan total flavonoid dari ketiga fraksi, membuat nanokitosan fraksi kulit rambutan yang kemudian dikarakterisasi menggunakan Particle Size Analyzer (PSA), serta potensi nanokitosan fraksi flavonoid terbaik dari kulit rambutan sebagai peluruh kalsium batu ginjal dengan variasi konsentrasi yang kemudian dianalisis menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Hasil yang didapat menunjukkan bahwa nanokitosan fraksi flavonoid limbah kulit buah rambutan mampu meluruhkan kalsium batu ginjal. Kidney stones are a disorder of the kidney calyces caused by the deposition of compounds that are difficult to dissolve because the body lacks fluids. The basic elements that form kidney stones are calcium oxalate and calcium phosphate or both at 70-80%. Efforts to treat kidney stones generally use surgery, endoscopy, Extracorporeal Shockwave Lithotripsy therapy. Some of these treatments are expensive and have dangerous side effects, so an alternative solution is needed using herbal plants which contain flavonoid compounds to dissolve kidney stone calcium, one of which is rambutan skin waste (Nephelium lappaceum L.). The aim of this research was to determine the total flavonoid content of the three fractions, to make nanochitosan from the rambutan skin fraction which characterized using Particle Size Analyzer (PSA), as well as the potential of the best flavonoid fraction nanochitosan from rambutan skin as a calcium laxative for kidney stones with varying concentrations which analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The result obtained showed that nanochitosan, the flavonoid fraction of rambutan peel was able to dissolve calcium in kidney stones.
Isolasi Nanoselulosa Pelepah Aren ( Arenga pinnata Merr.) untuk Menurunkan Kandungan Sianida dalam Limbah Tambang Emas Rakyat Sulawesi Utara
CHEMISTRY PROGRESS Vol. 16 No. 2 (2023)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.16.2.2023.52459

Abstract

Sulawesi Utara merupakan salah satu daerah pertambangan emas, baik dalam skala besar maupun skala kecil. Dalam beberapa tahun terakhir, pertambangan emas skala kecil menggunakan metode sianidasi dalam pengolahan emas yang menghasilkan tailing mengandung sianida dan logam berat. Sianida merupakan senyawa yang bersifat toksik sehingga sianida dalam limbah cair ditetapkan tidak boleh melebihi konsentrasi 0,5 ppm sesuai dengan baku mutu air limbah. Eksistensi sianida dalam limbah cair dapat diminimalkan dengan cara adsorpsi. Bioadsorben yang banyak digunakan adalah adsorben yang mengandung polimer alam, salah satunya adalah selulosa. Salah satu biomassa yang mengandung selulosa ialah pelepah aren (Arenga pinnata Merr.). Tujuan penelitian ini ialah mengisolasi selulosa, memodifikasinya menjadi nanoselulosa, dan menentukan kemampuan nanoselulosa pelepah aren untuk menurunkan kandungan sianida dalam limbah tambang emas rakyat Sulawesi Utara.  Nanoselulosa yang dihasilkan dikarakterisasi dengan FTIR, SEM-EDS, XRD dan PSA. Dari hasil analisis diperoleh selulosa sebesar 47,04% dan nanoselulosa sebesar 41,26%. Kapasitas adsorpsi sianida maksimum sebesar 52,45% terjadi pada penggunaan massa nanoselulosa 2 g dengan waktu kontak 120 menit dan pH 13, yaitu. North Sulawesi is one of the mining areas and, in recent years, the cyanidation method has been used by small-scale miners. This method produces tailings containing toxic substance cyanide and heavy metals; therefore, a maximum cyanide concentration of 0.5 ppm in wastewater is required for wastewater quality standards. The presence of cyanide in wastewater could be minimized by the adsorption process. Natural polymers, including cellulose, are one of the adsorbents widely used in this process. Cellulose could be found in biomass such as palm fronds (Arenga pinnata Merr.). This research aimed to isolate cellulose from palm fronds, modify it into nanocellulose, and determine the ability of the nanocellulose to reduce cyanide content in North Sulawesi gold mining waste. The nanocellulose produced was characterized using FTIR, SEM-EDS, XRD, and PSA. This research showed that the cellulose and nanocellulose obtained were 47.04% and 41.26%, respectively. Maximum cyanide adsorption of 52.45% occurred at a mass of 2 g nanocellulose with a contact time of 120 minutes and pH 13.
Aktivitas Antioksidan dan Penghambatan Enzim α-amilase dari Ekstrak dan Fraksi Pelepah Aren (Arenga pinnata Merr.) serta Potensinya sebagai Nanoemulsi
CHEMISTRY PROGRESS Vol. 17 No. 1 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.17.1.2024.53646

Abstract

ABSTRACT  Research has been carried out on the antioxidant activity and inhibition of the α-amylase enzyme extract and fractions of sugar palm fronds and their potential as nanoemulsions. The research stages include preparation, extraction, fractionation, determination of total phenolic content, flavonoids, condensed tannins, scavenging activity of DPPH free radicals and ABTS cation radicals, inhibition of the α-amylase enzyme, nanoemulsion formulation and nanoemulsion characterization. The yield of the resulting extract was 5.46% with the highest fractionation yield in the water fraction (FA) (34.71%) and the lowest in the n-hexane (FNH) fraction (3.50%). The ethyl acetate (FEA) fraction has total phenolic content (176.91 µg/mL), flavonoid content (17.64 µg/mL) and condensed tannin (7.34 µg/mL), DPPH free radical scavenging activity (90 .55%), ABTS cation radicals (99.15%), as well as inhibition of the α-amylase enzyme (84.77%) with the highest value. Formulation 1 has the smallest nanoemulsion size, namely 13.58 nm with a polydispersity index of 0.017. The conclusion of this research is that palm frond extracts and fractions have antioxidant activity and inhibition of the ????-amylase enzyme and have potential as nanoemulsions. Keywords: Sugar palm fronds, antioxidants, ????-amylase enzyme, nanoemulsion   ABSTRAK  Telah dilakukan penelitian tentang aktivitas antioksidan dan penghambatan enzim α-amilase ekstrak dan fraksi pelepah aren serta potensinya sebagai nanoemulsi. Tahapan penelitian meliputi preparasi, ekstraksi, fraksinasi, penentuan kandungan total fenolik, flavonoid, tanin terkondensasi, aktivitas penangkal radikal bebas DPPH dan radikal kation ABTS, penghambatan enzim α-amilase, formulasi nanoemulsi dan karakterisasi nanoemulsi. Rendemen ekstrak yang dihasilkan sebesar 5,46% dengan rendemen hasil fraksinasi tertinggi pada fraksi air (FA) (34,71%) dan terendah pada fraksi n-heksana (FNH) (3,50%). Fraksi etil asetat (FEA) memiliki kandungan total fenolik (176,91 µg/mL), flavonoid (17,64 µg/mL) dan tanin terkondensasi (7,34 µg/mL), aktivitas penangkal radikal bebas DPPH (90,55%), radikal kation ABTS (99,15%), serta penghambatan enzim α-amilase (84,77%) dengan nilai tertinggi. Formulasi 1 memiliki ukuran nanoemulsi terkecil yaitu sebesar 13,58 nm dengan indeks polidispersitas sebesar 0,017. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah ekstrak dan fraksi pelepah aren memiliki aktivitas antioksidan dan penghambatan enzim ????-amilase serta berpotensi sebagai nanoemulsi. Kata kunci: Pelepah aren, antioksidan, enzim ????-amilase, nanoemulsi