cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
POLYGLOT
ISSN : 1907 6134     EISSN : 2549 1466     DOI : -
Core Subject : Education,
Started in 2006, Polyglot is a scientific journal of language, literature, culture, and education published biannually by the Faculty of Education at the Teachers College, Universitas Pelita Harapan. The journal aims to disseminate articles of research, literature study, reviews, or school practice experiences.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2018): July" : 10 Documents clear
THE IMPLEMENTATION OF THE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION TECHNIQUE TO INCREASE GRADE 8 STUDENTS’ ACTIVE LEARNING IN AN ENGLISH CLASS Carollina Anggi Puspitasari; Dylmoon Hidayat
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.900

Abstract

Based on class observations, some students in grade 8 of XYZ Junior High School were not contributing actively in an English class. One of the reason was because they were not used to speaking English. This research was aimed at increasing students’ active learning in studying English in the classroom by implementing the Cooperative Integrated Reading Composition (CIRC) technique. The research method used was Classroom Action Research (CAR) of Kemmis and McTaggart’s, conducted within three cycles. The subjects were four students who were not speaking English actively. The data was collected through questionnaires and mentor’s observation checklist. The result showed that the implementation of the CIRC technique in an English class could increase students’ active learning significantly.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Berdasarkan hasil observasi di VIII SMP XYZ tidak berpartisi aktif saat pembelajaran Bahasa Inggris. Salah satu alasannya adalah siswa tidak terbiasa menggunakan bahasa Inggris. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan keaktifan siswa kelas VIII SMP dalam pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan teknik Cooperative Integrated Reading Composition (CIRC). Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart dengan 3 siklus. Subyek penelitian berfokus pada empat orang siswa yang tidak terlibat secara aktif di kelas Bahasa Inggris. Data dikumpulkan dengan kuesioner dan checklist observasi mentor. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dengan penerapan teknik CIRC dalam kelas Bahasa Inggris, keaktifan siswa mengalami kenaikan yang signifikan. 
PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS XI PADA PELAJARAN KIMIA DI UPH COLLEGE [THE IMPLEMENTATION OF CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING TO INCREASE CRITICAL THINKING OF GRADE 11 STUDENTS STUDYING CHEMISTRY AT UPH COLLEGE] Year Rezeki Patricia Tantu
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.1051

Abstract

Chemistry in secondary education aims to equip students with higher order thinking skills. In a grade 11 chemistry class at UPH College, students were less active in asking and answering questions. The result of their cognitive learning in class was actually quite good, but they did not connect the concepts and context of chemistry to real-world situations. Students memorized almost all of the concepts that they needed to complete the exercises and take tests. Students were not using thinking skills because the learning process tended to use a  conventional teacher-centered approach. The aim of this research is to implement the Contextual Teaching and Learning method as a solution to increase critical thinking of grade 11 students in chemistry. This study uses Class Action Research (CAR) with 24 grade 11 students at UPH College as research subjects. Data were collected through observation, interviews, reflection, and student worksheet which is then analyzed descriptively qualitative. The results showed that there is increased critical thinking through Contextual Teaching and Learning. It was concluded that (1) the Contextual Teaching and Learning process should include constructivist, inquiry, questioning, learning communities, modeling, reflection, and authentic assessment in each cycle run, (2) the Contextual Teaching and Learning method can increase critical thinking of grade 11 students in chemistry.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Pembelajaran Kimia pada pendidikan menengah atas bertujuan untuk memperlengkapi siswa dengan kemampuan berpikir yang lebih tinggi. Saat pembelajaran Kimia di UPH College berlangsung, sebagian besar siswa kelas XI masih kurang aktif dalam proses tanya jawab. Hasil rata-rata belajar kognitif siswa dalam kelas ini tergolong baik, namun siswa kurang mengaitkan konsep kimia dengan konteks kehidupan sehari-hari. Hampir semua konsep dihafal dan digunakan untuk mengerjakan soal latihan dan soal tes. Siswa belum terbiasa melatih kemampuan berpikir mereka karena pembelajaran cenderung menggunakan pendekatan konvensional yang berpusat pada guru. Penelitian ini bertujuan menerapkan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI pada pelajaran Kimia. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subjek penelitian berjumlah 24 siswa kelas XI di UPH College. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, jurnal refleksi, dan lembar kerja siswa yang kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis melalui pembelajaran kontekstual. Disimpulkan bahwa: (1) proses pembelajaran kontekstual yang meliputi konstruktivisme, inkuiri, bertanya, komunitas belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian otentik terlaksana dalam setiap siklus yang dijalankan, (2) pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI pada pelajaran Kimia.
PERSEPSI SISWA SMU UPH COLLEGE TERHADAP KETERAMPILAN LITERASI INFORMASI DALAM PENULISAN [UPH COLLEGE STUDENTS’ PERCEPTIONS OF INFORMATION LITERACY SKILLS IN WRITING] Dhama Gustiar Baskoro
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.808

Abstract

This article has been retracted by the publisher because the author informed the editor that he has committed an act of research misconduct producing the article that violated publication ethics.
KUALITAS BONBON BOND SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA TOPIK IKATAN KIMIA [THE QUALITY OF BONBON BOND AS A LEARNING MEDIA FOR CHEMICAL BONDING TOPICS] Indah Sari; Imas Eva Wijayanti; Nidaurrohmah Nidaurrohmah
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.1064

Abstract

This study aims to determine the quality of the Android-based courseware program named Bonbon Bond for chemical bonding topics. This research is one of a sequence in Research and Development work. The subject of this study was senior high school students who had been studying chemical bonding. The data were gathered through observation and questionnaire. Result showed that the quality of Bonbon Bond is categorized good.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas courseware berbasis android yang diberi nama Bonbon Bond untuk topik ikatan kimia. Penelitian ini merupakan salah satu tahap dari rangkaian penelitian research and development. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMA yang telah mempelajari topik ikatan kimia. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan pengisian kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas Bonbon Bond termasuk kategori baik.
RAGAM BAHASA DALAM PERSPEKTIF ALKITAB [LANGUAGE VARIETY FROM A BIBLICAL PERSPECTIVE] Jonter Pandapotan Sitorus
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.809

Abstract

Language variety is considered an integral part of human beings as the rightful owners of the language. However, due to scientfic developments, it seems that our understanding of language variety is only focused on the ability to create language varieties. Man forgets his nature as a creature and that there is a Creator who created all things on earth, including languages and their varieties. Therefore, the scientific view of language variety must be corrected using the Biblical perspective so that we as believers, created in God's image (imago dei), do not misunderstand that language variety occurs not because of man's creativity but because of God's grace and prophecy set forth in the writings and genres of the Bible long before language variety was a term used by science.  BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Ragam bahasa menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dengan manusia sebagai pemilik sah dari bahasa tersebut. Namun, akibat perkembangan ilmu pengetahuan, tampaknya pemahaman ragam bahasa sering sekali dititikberatkan pada kemampuan manusia itu menciptakan ragam bahasa. Manusia melupakan kodratnya sebagai ciptaan bahwa masih ada pencipta yang mengakibatkan segala sesuatu yang ada di dunia ini termasuk juga dengan bahasa dan ragam bahasa dapat terjadi. Oleh karena itu, pandangan ilmu pengetahuan akan ragam bahasa harus diluruskan melalui pandangan ragam bahasa dalam perspektif Alkitab agar kita sebagai orang yang percaya dan sebagai gambar dan rupa Allah (imago dei) tidak salah memahami bahwa ragam bahasa dapat terjadi bukan karena hasil kreativitas manusia, melainkan karena anugerah Tuhan dan nubutan Tuhan yang telah termaktub di dalam Alkitab jauh sebelum kita mengenal istilah ragam bahasa menurut ilmu pengetahuan dengan segudang penulisan  ragam bahasa dan genre yang ada di dalam Alkitab.
PENGARUH PENERAPAN METODE CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PENGAJARAN KOSAKATA BAHASA INGGRIS SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI 33 JAKARTA [THE EFFECT OF IMPLEMENTING CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING ON TEACHING ENGLISH VOCABULARY IN GRADE 11 AT SENIOR HIGH SCHOOL 33 JAKARTA] Tito Dimas Atmawijaya
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.1045

Abstract

This study aimed at investigating the effect of vocabulary teaching in procedure texts using Contextual Teaching and Learning (CTL). The research was carried out with the English classes in the Social Sciences program which was taught vocabulary using the Contextual Teaching and Learning (CTL) method while another class used a traditional method in teaching vocabulary.  The study used the quantitative data collected through the Post-Test after the treatment, questionnaires, and interviews. The data collected from the Post-Test were analyzed by implementing a t-test using SPSS 22 and counting average scores of both groups. The findings of the study indicate that teaching vocabulary using Contextual Teaching and Learning (CTL) method brings significant results. Furthermore, the results gathered from interviews and questionnaires confirmed that learners had a positive attitude towards CTL, as this method provided the students with a lot of activities which created a learning environment that was fun, enjoyable, and effective for improving the students’ vocabulary. Moreover, CTL also increased learners’ participation, scores, and collaboration.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Artikel jurnal ini membahas efek pengajaran kosakata bahasa Inggris teks prosedur dengan menggunakan metode Contextual Teaching and Learning (CTL). Penelitian ini dilakukan pada suatu kelas IPS yang menggunakan CTL, sedangkan kelas lain menggunaan metode pengajaran tradisional. Metode penelitian ini adalah kuantiatif dengan jenis Post-Test Only. Data penelitian diambil dengan menggunakan Post-Test yang diberikan sehari dan tiga minggu setelah perlakuan kepada kedua kelas partisipan. Analisis hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan rerata dan uji t dependen dan independen menggunakan SPSS 22. Analisis tersebut  menunjukkan peningkatan hasil yang signifikan pada kelas XI IPS 1 yang menerapkan metode CTL. Selain itu,  hasil temuan penelitian dari wawancara dan kuesioner menunjukkan bahwa metode Contextual Teaching and Learning (CTL) memberikan pengaruh positif dalam pembelajaran kosakata di kelas, yaitu meningkatnya partisipasi pemelajar, kemampuan kosakata reseptif dan produktif, dan kolaborasi di antara pembelajar.
PENDIDIKAN TENTANG MULTIKULTURALISME DALAM CERITA PENDEK KARYA PENULIS PRIBUMI AMERIKA [EDUCATING ABOUT MULTICULTURALISM USING A SHORT STORY BY A NATIVE AMERICAN AUTHOR] Lestari Manggong
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.851

Abstract

This paper discusses the contribution that reading a short story written by Native American author Sherman Alexie makes in the multicultural education. The story discussed is “This is What it Means to Say Phoenix, Arizona,” which displays cultural conflicts between Native Americans and Americans within the two main characters. In the discussion, the way such cultural conflicts are presented will be highlighted in terms of representing similar situations which can be reflected by students as individuals with multicultural identities. Cultural perceptions on the story will be discussed using the concept of multiculturalism as proposed by Menand (1995) and Native American literature by Parker (2004). Students’ perceptions on multiculturalism shown in this paper are taken from the students’ papers discussing multiculturalism, which are a required final assignment for the FSIP course.  This paper will then have its proposed final conclusion that in compromising multicultural identities, a strategy of tug and let loose is needed.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Makalah ini membahas tentang kontribusi pembacaan cerita pendek (cerpen) karya penulis pribumi Amerika, Sherman Alexie, dalam pendidikan tentang multikulturalisme bagi mahasiswa di Program Studi Sastra Inggris Universitas Padjadjaran dalam Mata Kuliah Further Studies in Prose (FSIP). Cerpen yang dibahas berjudul “This is What it Means to Say Phoenix, Arizona,” yang di dalamnya terdapat konflik kultural antara Pribumi Amerika dan Amerika dalam diri dua karakter utamanya. Dalam pembahasan akan diperlihatkan bagaimana konflik kultural tersebut merepresentasi situasi sejenis yang dapat direfleksikan oleh mahasiswa, sebagai individu yang memiliki identitas kultural yang beragam. Pandangan-pandangan kultural yang beragam dalam cerpennya akan dibahas menggunakan konsep multikulturalisme Menand (1995) dan kesusastraan pribumi Amerika oleh Parker (2004). Pandangan-pandangan mahasiswa tentang multikulturalisme yang disampaikan dalam makalah ini bersumber dari makalah mahasiswa, yang merupakan tugas akhir untuk Mata Kuliah FSIP, yang membahas cerpen tersebut. Pembahasan pada makalah ini kemudian akan mengerucut pada suatu pandangan bahwa pada akhirnya diperlukan strategi tarik-ulur dalam upaya mengompromikan keragaman identitas kultural.
METAFUNCTION PATTERNS OF THE TOBA BATAK LANGUAGE Hepnyi Samosir
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.1028

Abstract

This study aims at finding out the metafunction patterns of clauses of the Toba Batak Language. The data was gained from the speech of tulang (the mother’s brother) in delivering ulos saput at the Bataknese sari matua (an old person who died but he/she still has children who are unmarried) ceremony. The result shows that 74% of the clauses are patterned with Predicator, Complement, and Adjunct followed by Mood, whereas 26% of them are patterned with Mood followed by Predicator, Complement, and Adjunct.  The majority of the clause pattern is Predicator followed by Mood.  The most dominant theme is the Marked Topical Theme that reached 73% whereas 26% of them have Unmarked Topical Themes; the rest clause is imperative that has no theme. It can be concluded that  clauses in the Toba Batak Language are dominantly patterned by Predicator followed by Mood. The Mood consists of Finite preceding the Subject.  Residue itself mostly precedes Mood. The most dominant theme is the Marked Topical Theme in which the theme is not the Subject.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola metafunction dalam bahasa Batak Toba.  Data peneltian ini adalah klausa-klausa yang disampaikan oleh tulang (saudara laki-laki dari ibu) ketika menyerahkan ulos saput dalam acara saur matua (orang Batak yang meninggal dalam kondisi sudah lanjut usia akan tetapi masih memiliki anak yang belum menikah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 74% klausa terdiri dari Mood yang  didahului oleh Predicator, Complement dan Adjunct, dan hanya 26% Mood mendahului Predicator, Complement, dan Adjunct.  Kebanyakan klausa dalam bahasa Batak Toba dibentuk dengan pola Predicator yang kemudian diikuti oleh Mood.  Theme yang paling dominan adalah Marked Topical Theme yang mencapai 73% sementara 26% merupakan Unmarked Topical Theme;  selebihnya merupakan kalimat perintah  yang tidak memiliki theme. Dapat disimpulkan bahwa  pola klausa dalam bahasa Batak Toba  adalah Predicator diikuti oleh Mood. Mood terdiri dari Finite yang mendahului Subjek.  Kebanyakan Residue mendahului Mood. Theme yang paling dominan adalah Marked Topical Theme dimana Theme bukan merupakan  Subjek.
MENGUKUR RASA INGIN TAHU SISWA [MEASURING STUDENTS' CURIOSITY] Steven Raharja; Martinus Ronny Wibhawa; Samuel Lukas
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.832

Abstract

One factor that influences students in becoming active learners and self developers is curiosity.  Curiosity is defined as an impulse within a person to gain new information without appreciation or extrinsic factors. A person's curiosity encourages him to devote more attention to an activity, to process information more deeply, to remember information better, and to fulfill tasks more accurately. This paper aims to create a valid and reliable instrument to measure students’ curiosity and to test it students in a grade 10 and 11 science class using cluster random sampling.  Results showed no correlation between students’ curiosity and their grades. It was also found that there was no significant mean difference in students’ curiosity between male and female students. BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi siswa sebagai pembelajar yang aktif dan terus mengembangkan diri adalah rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu didefinisikan sebagai dorongan dalam diri seseorang untuk memperoleh informasi baru tanpa adanya penghargaan maupun faktor ekstrinsik. Rasa ingin tahu seseorang mendorong ia mencurahkan banyak perhatian kepada suatu aktivitas untuk memproses informasi lebih dalam, mengingat informasi lebih baik dan lebih cenderung mengerjakan tugas dengan tuntas. Penelitian ini bertujuan untuk membuat instrumen yang valid dan reliabel untuk mengukur rasa ingin tahu siswa, mengujikannya pada siswa kelas X dan XI disuatu sekolah dengan cluster random sampling. Hasil penelitian mendapatkan instrumen kuesioner yang valid dan reliabel serta pengujian hipotesa yang menyatakan tidak ada hubungan rata-rata rasa ingin tahu dengan tingkat pendidikan kelas X dengan kelas XI dan tidak ada perbedaan rata-rata rasa ingin tahu siswa perempuan dengan siswa pria.
PENERAPAN METODE GIVING QUESTIONS AND GETTING ANSWERS UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X-MIA DI SEKOLAH ‘FANÓS’ KUPANG [IMPLEMENTATION OF THE GIVING QUESTIONS AND GETTING ANSWERS METHOD TO IMPROVE CRITICAL THINKING SKILLS WITH GRADE 10-MIA STUDENTS AT 'FANÓS' KUPANG] Evanti Puspita Sari; Yohanes Edi Gunanto
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.846

Abstract

Critical thinking is one of the higher order thinking skills that high school students must have. Grade 10-MIA students in ‘FANÓS’ School Kupang had difficulties improving their critical thinking skills. The researcher used the Giving Questions and Getting Answers method to help these students improve their critical thinking skills. The purpose of this research was to find out whether there was any improvement in students’ critical thinking skills when the Giving Questions and Getting Answerss method was implemented in their school. This research method used Classroom Action Research (CAR) by Kemmis and McTaggart’s model in two cycles. The subjects consisted of 30 Grade 10-MIA students. The research instruments were check-list observation sheet, students’ questionnaire, mentor’s interview sheet, post-test sheet with its rubric, mentor’s observation sheet and open observation sheet. The result was analyzed using descriptive statistics and qualitative. The results showed that Giving Questions and Getting Answers could improve Grade 10-MIA students’ critical thinking skills when explaining the functions of the two papers, explaining the lesson, group discussion, asking questions from the 1st paper, giving conclusions from the 2nd paper and giving a post-test.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Berpikir kritis adalah salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dimiliki siswa SMA. Siswa kelas X-MIA di Sekolah 'FANÓS' Kupang mengalami kesulitan dalam memperbaiki kemampuan berpikir kritis mereka. Peneliti menggunakan metode Pemberian Pertanyaan dan Mendapatkan Jawaban untuk membantu siswa kelas X-MIA untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbaikan kemampuan berpikir kritis siswa atau tidak dan untuk mengetahui bagaimana cara memberikan pertanyaan dan mendapatkan jawaban diimplementasikan di Sekolah FANÓS Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart. Subjek penelitian adalah siswa kelas X-MIA yang terdiri dari 30 siswa. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus. Instrumen penelitiannya adalah lembar observasi daftar periksa, kuesioner siswa, lembar wawancara mentor, lembar post-test dengan rubriknya, lembar observasi mentor dan lembar observasi terbuka. Hasilnya dianalisis dengan statistik deskriptif dan kualitatif. Hasil penelitian ini adalah Memberikan Pertanyaan dan Mendapatkan Jawaban dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X-MIA dan diimplementasikan dengan menjelaskan fungsi kedua makalah tersebut, menjelaskan pelajaran, diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan dari makalah pertama, pemberian kesimpulan dari kertas ke-2 dan memberikan post-test.

Page 1 of 1 | Total Record : 10