cover
Contact Name
Jamil Suprihatiningrum
Contact Email
inklusi@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-515856
Journal Mail Official
inklusi@uin-suka.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/inklusi/ET
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Inklusi Journal of Disability Studies
ISSN : 23558954     EISSN : 25809814     DOI : https://doi.org/10.14421/ijds
Core Subject : Social,
INKLUSI accepts submission of manusciprts on disability issues from any discipline. We are promoting an interdisciplinary approach to work on disability rights and social inclusion of the people with disabilities.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2020)" : 7 Documents clear
Intervensi Kejelasan Berbicara Anak Tunagrahita Melalui Pemodelan Berbasis Video Nurika Miftakul Janah
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.789 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070101

Abstract

Children with intellectual disabilities often experience unclear speaking in the form of omission (reduction of words) and distortion (chaos in pronunciation). This problem resulted from their limited ability to understand words. The purpose of this study is to explain the effectiveness of video-based modelling with the help of folder-learning in improving speech intelligibility of mentally disabled children. The research method used is Single Subject Research with a Multiple Baseline Cross Variable design. The intervention involved video-based modelling of correct phoneme pronunciation and learning folder assistance that was used to help children learn the various types of spelling commonly found from Indonesian phonograms. The results revealed that video-based modelling with the help of folder-learning could be effectively used to improve the speech intelligibility of mentally disabled children. The use of songs in videos and the opportunity for children to write and delete in the learning folder become its main attraction in learning.[Anak tunagrahita sering mengalami ketidakjelasan berbicara berupa omisi (pengurangan kata) maupun distorsi (kekacauan dalam pengucapan). Hal ini biasanya disebabkan oleh keterbatasan kemampuan mereka dalam memahami kata-kata. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan efektifitas pemodelan berbasis video dengan bantuan folder-belajar dalam meningkatkan kejelasan bicara anak tunagrahita. Metode penelitian yang digunakan adalah Single Subject Research dengan desain Multipe Baseline Cross Variable. Intervensi melibatkan sebuah pemodelan berbasis video tentang pengucapan fonem yang benar dan bantuan folder-belajar yang digunakan untuk membantu anak mempelajari berbagai macam ejaan yang umum ditemukan dari fonogram Bahasa Indonesia. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pemodelan berbasis video dengan bantuan folder-belajar dapat secara efektif digunakan untuk meningkatkan kejelasan berbicara anak tunagrahita. Penggunaan lagu pada video dan kesempatan anak untuk menulis serta menghapus dalam folder belajar menjadi daya tarik tersendiri dalam pembelajaran.]
Parenting Stress and Physical Abuse against Children with Disabilities Rizqi Nur Aini; Tantut Susanto; Hanny Rasni
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.186 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070107

Abstract

Children with disabilities often experience physical violence committed by caregivers. This study aims to identify the relationship between stress in caring for physical violence committed against children with disabilities. The study used a cross-sectional design to examine 76 parents with children with disabilities selected by convenience sampling techniques. Of the 76 participants, 35 (46.1%) parents physically abused children with disabilities. The most common type of violence is hitting (74.3%). Parenting stress may be felt by parents because there is a relationship between caregiving stress with physical violence (Z= -2.85; p-value= 0.004). Lack of access to information related to adaptive care makes parents in Indonesia still consider physical violence, such as hitting children, is a natural thing. The research concludes that there is a relationship between parental stress and physical violence against children with disabilities. Health workers are expected to be able to teach parents how to improve coping mechanisms to reduce parenting stress so that parenting behavior becomes adaptive.[Anak difabel sering mengalami kekerasan fisik yang dilakukan oleh pengasuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara stres dalam pengasuhan dengan kekerasan fisik yang dilakukan terhadap anakdifabel. Penelitian menggunakan desain cross-sectional untuk meneliti 76 orang tua dengan anak difabel yang dipilih dengan teknik convenience sampling. Dari 76 partisipan, 35 (46,1%) orang tua melakukan kekerasan fisik terhadap anak difabel. Jenis kekerasan yang paling banyak dilakukan adalah memukul (74,3%). Stres pengasuhan mungkin dirasakan oleh orang tua karena terdapat hubungan antara stres pengasuhan dengan kekerasan fisik (Z=-2,85; p-value = 0.004). Kurangnya akses informasi terkait pengasuhan yang adaptif menyebabkan orang tua di Indonesia masih menganggap kekerasan fisik seperti memukul anak merupakan hal yang wajar. Penelitian menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara stres pengasuhan dengan kekerasan fisik terhadap anak difabel. Tenaga kesehatan diharapkan dapat mengajarkan orang tua dalam meningkatkan mekanisme koping untuk menurunkan stres pengasuhan sehingga perilaku pengasuhan menjadi adaptif.]
Freedom from Choice? The Rollout of Person-centered Disability Funding and the National Disability Insurance Scheme Tania Hall; Tara Brabazon
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.195 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070102

Abstract

Person-centered funding models are replacing block-funding models in the disability services sector.  Australia is part of this international trend.  Concerns have been raised by service providers, suggesting that people with disabilities are not benefiting from this system.  This paper evaluates the views of service providers from a large non-government organization in South Australia, responsible for leading the transition from a block-funded model of support to a person-centered model of support.  Two focus groups were conducted.  Two themes emerged from these focus group discussions: customers with disabilities are vulnerable in the market, and marketizing disability services compromises quality.  Neoliberal ideologies and market-based values frame the challenges and opportunities for not-for-profit organizations when transitioning to person-centered funding for disability support.  This research both enlivens and confirms the existing research literature.  Although person-centered funding models offer a socially just model, there is evidence that unintended consequences emerge in an open and competitive quasi-market.  This study reveals that the competitive market design had stopped trans-sector collaboration. [Saat ini, model pendanaan berbasis orang banyak menggantikan model pendanaan-blok di sektor layanan disabilitas. Australia adalah bagian dari tren internasional ini. Lembaga layanan sosial khawatir bahwa para difabel tidak akan mendapatkan manfaat dari sistem ini. Artikel ini meninjau pandangan penyedia layanan dari organisasi non-pemerintah besar di Australia Selatan. Dua FGD dilakukan dalam riset ini. Dua tema muncul dari FGD: pelanggan difabel mengalami kerentanan di pasar dan ‘swastanisasi’ layanan disabilitas mengganggu kualitas. Ideologi neoliberal dan nilai berbasis-pasar menyajikan tantangan dan peluang bagi organisasi nirlaba ketika beralih ke pendanaan berbasis orang dalam layanan disabilitas. Penelitian ini mengonfirmasi literatur penelitian yang sudah ada. Meskipun model pendanaan berbasis orang menawarkan model yang adil secara sosial, ada bukti bahwa konsekuensi yang tidak diinginkan dapat muncul dalam pasar kuasi terbuka dan kompetitif. Studi ini mengungkapkan bahwa desain pasar yang kompetitif telah menghentikan kolaborasi lintas sector.]
Kekuasaan dalam Relasi Bahasa: Refleksi Pengalaman Penutur Bahasa Isyarat di Yogyakarta Yogi Maulana Wahyudin
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.496 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070103

Abstract

This study documents and reflects the experience of Sign Language speakers in Yogyakarta. The reflection is then negotiated with the grand narrative of linguistic justice, which has been unwittingly narrated by the domination of knowledge viewed mainly in the perspective of the hearing. This study uses ethnographic methods focusing on a broad process of observation of the subject's experience. The findings of this study are: First, the experience of members of the Deaf community in promoting linguistic justice for Sign Language is a process of cultural relocation and hybridization. The dynamics that occur are related to the acceptance and rejection of Deaf culture in multicultural societies. Secondly, this study found a link between the process of marginalization of the Deaf culture and the intensity of power in inter-language relations. [Penelitian ini mendokumentasikan dan merefleksikan pengalaman penutur Bahasa Isyarat di Yogyakarta. Refleksi itu kemudian dinegosiasikan dengan narasi besar keadilan linguistik yang selama ini tanpa disadari dinarasikan oleh dominasi-pengetahuan yang bias ‘orang dengar’. Penelitian ini menggunakan metode etnografi yang difokuskan pada proses pengamatan yang luas terhadap pengalaman subjek. Temuan penelitian ini adalah: Pertama, pengalaman anggota komunitas Tuli dalam mempromosikan keadilan linguistik bagi Bahasa Isyarat merupakan proses relokasi dan hibridisasi kultural. Dinamika yang terjadi berhubungan dengan penerimaan dan penolakan budaya Tuli dalam masyarakat multikultur. Kedua, penelitian ini menemukan kaitan antara proses marginalisasi budaya-Tuli dengan intensitas kuasa dalam relasi antar bahasa.]
Ibu dan Politik Pengasuhan Anak Penyandang Disabilitas Intelektual Anis Fitriyah
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.907 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070104

Abstract

Parenting of children with intellectual disability is generally highlighted from the perspective of the mother’s psychological experience and contribution to parenting. In practice, only a few publications raise the issue from the perspective of the mother as a woman. This study aims to answer the question of how the politics of parenting and agency mothers in caring for children with intellectual disabilities in Yogyakarta. This study is based on ten months of fieldwork and the experience of ten mothers with intellectual disabilities children. The results showed: First, as caregivers without authority, mothers lack the right to educate children to be independent. Second, mothers are subject to the control of others who have a strong influence in determining the perceptions and processes of caring for the children. Mothers are often the ones to blame by professionals, activists, the community, families, and children when the care process does not go as they wish. Third, in terms of agency, mothers choose to educate the community, negotiate, and involve children in the creative activities. Fourth, the mother redefined the meaning of independence.[Pengasuhan anak penyandang disabilitas intelektual umumnya ditinjau dari perspektif pengalaman psikologis ibu dan kontribusinya dalam mengasuh. Praktiknya, hanya sedikit publikasi yang mengangkat isu pengasuhan dari perspektif ibu sebagai seorang perempuan. Kajian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimana politik pengasuhan dan agency ibu dalam mengasuh anak penyandang disabilitas intelektual di Yogyakarta. Penelitian ini mengacu ke sepuluh bulan kerja lapangan dan pengalaman sepuluh ibu dengan anak penyandang disabilitas intelektual. Makalah ditulis dengan pendekatan fenomenologi dan dianalisis dengan teori feminist ethics. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, sebagai pengasuh tanpa otoritas, ibu tidak mendapat hak melatih anak menjadi independen. Kedua, ibu menjadi sasaran kontrol para profesional yang memiliki pengaruh kuat dalam menentukan persepsi dan proses pengasuhan anak penyandang disabilitas intelektual. Ibu sering kali menjadi pihak yang disalahkan oleh para profesional, aktivis organisasi difabel, masyarakat, keluarga, dan anak ketika proses pengasuhan tidak berjalan sebagaimana harapan mereka. Ketiga, dalam hal agency, ibu memilih melakukan edukasi kepada masyarakat, bernegosiasi, dan mengikutsertakan anak pada ajang kreativitas. Keempat, ibu meredefinisi makna independensi. ]
Kekuatan Karakter Relawan Muda bagi Penyandang Disablilitas Unita Werdi Rahajeng; Ika Widyarini; Ilhamuddin Ilhamuddin
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.263 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070105

Abstract

Being a young volunteer provides an opportunity for volunteers to build stronger awareness of social issues, such as the fulfilment of equal rights for persons with disabilities. For young volunteers, participation in volunteerism can form strong characters. This research attempts to describe the forms of strength of character in young volunteers for persons with disabilities and their development. Data collection methods used were Online Survey (Study 1) and Nominal Group Technique and Focus Group Discussion (Study 2). Both studies involved young volunteers in communities and organizations with disabilities in Malang Regency and Kota aged between 18-30 years (Study 1 with N = 59 people and Study 2 with N = 6 people). From the research, it is found that the character strength becomes the modality of participation as a volunteer and develops in the process of involvement of young volunteers for persons with disabilities.[Aktivitas sebagai relawan muda menyediakan kesempatan bagi pelakunya untuk membangun kesadaran yang lebih kuat terkait dengan isu-isu sosial, termasuk kesadaran terkait pemenuhan kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas. Bagi para relawan muda, partisipasi dalam aktivitas berbasis kesukarelawanan dapat membentuk beberapa kekuatan karakter, antara lain kekuatan karakter yang dicetuskan oleh Peterson & Seligman (2004). Penelitian ini berusaha menggambarkan bentuk-bentuk kekuatan karakter dalam diri relawan-relawan muda bagi penyandang disabilitas dan perkembangannya. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah Online Survey (Study 1) dan Nominal Group Technique serta Focus Group Discussion (Study 2). Kedua study tersebut melibatkan relawan muda di komunitas dan organisasi penyandang disabilitas kabupaten dan kota Malang berusia antara 18 - 30 tahun. (Studi 1, N= 59 orang dan Studi 2, N= 6 orang).  Dari penelitian ini didapatkan gambaran kekuatan karakter yang menjadi modalitas partisipasi sebagai relawan dan berkembang dalam proses keterlibatan para relawan muda bagi penyandang disabilitas.]
Perancangan Tactile Picture Book untuk Siswa Tunanetra di Sekolah Dasar Nuriana Sekarlintang
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1450.016 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070106

Abstract

According to the Ministry of Social Affairs census in 2012, 338.672 residents in Indonesia live with visual impairment, of which the 11.995 are children. Visually impaired children have the right to proper education facilities. Nevertheless, in Indonesia, the educational media for visually impaired children are still minimal. Children who are just learning to read the braille have difficulty reading braille texts because the system is quite complex, and the media is still conventional. The tactile picture book is a picture book that is read by touch. Children can understand images in a tactile picture book, particularly in terms of illustrations, layouts, colors, and themes adapted to Indonesian children's culture. Tactile picture books can be a medium for introducing braille letters to children in a more effective and fun way as well as media to understand the concepts and environment around them.[Menurut sensus Kementrian Sosial pada tahun 2012, sebanyak 338.672 penduduk Indonesia adalah tunanetra kategori low vision hingga totally blind, dari jumlah tersebut 11.995 diantaranya adalah anak-anak. Anak tunanetra berhak mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai. Namun di Indonesia, media edukasi untuk anak-anak tunanetra masih sangat terbatas. Anak-anak yang baru belajar membaca kesulitan untuk membaca teks braille karena sistemnya yang cukup kompleks dan medianya yang masih konvensional. Tactile picture book merupakan buku bergambar yang dibaca dengan perabaan. Gambar dalam tactile picture book dapat dimengerti oleh anak dengan beberapa ketentuan khusus mengenai ilustrasi, layout, warna, dan tema yang disesuaikan dengan kultur anak Indonesia. Tactile picture book dapat menjadi media pengenalan huruf braille kepada anak dengan cara yang lebih efektif dan menyenangkan sekaligus media untuk memahami konsep dan lingkungan di sekitar mereka.]

Page 1 of 1 | Total Record : 7