cover
Contact Name
Yusuf Adam Hilman, S.I.P, M.Si
Contact Email
aristo@umpo.ac.id
Phone
+6281296125801
Journal Mail Official
aristo@umpo.ac.id
Editorial Address
Jalan Budi Utomo NO 10 Siman Ponorogo, Lt 02 Gedung Perkuliahan, FISIP UMPO
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
ARISTO
ISSN : 23385162     EISSN : 25278444     DOI : 10.24269
Core Subject : Education, Social,
ARISTO is a Journal that is published biannually or twice a year, which is in January and July. It is published by Social and Political Science Faculty, Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Journal ARISTO aims to share the scientific studies that are conducted by scientists from Universitas Muhammadiyah Ponorogo and other institutions. Journal ARISTO receives manuscripts that depict the findings of the field study based research or literature review within the scope of social, politic and humanities.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2013): July" : 6 Documents clear
PERGESERAN PERAN WAROK DALAM POLITIK LOKAL DI KABUPATEN PONOROGO Khoirurrosyidin .
ARISTO Vol 1, No 2 (2013): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.63 KB) | DOI: 10.24269/ars.v1i2.24

Abstract

Elit lokal mempunyai peran yang cukup signifikan dalam mewujudkan pemerintahan yang demokratis dan mendorong demokratisasi di tingkat lokal. Sekaligus untuk menumbuhkan kesadaran dan memberikan pemahaman demokrasi kepada masyarakat yang lebih luas. Elit lokal merupakan orang perorangan atau aliansi dari orang yang dinilai pintar dan mempunyai pengaruh di dalam masyarakat, misalnya paratokoh masyarakat, pemuka agama, dan orang-orang yang mempunyai kemampauan finansial yang relative tinggi disbanding masyarakat umum. Pemahaman masyarakat bahwa Warok adalah seorang tokoh masyarakat lokal yang dianggap mempunyai kesaktian dan berperan mengemban nilai-nilai local yang sering digambarkan dengan jujur, berani, lugu dan apa adanya. Oleh karena itu warok sering dianggap penggambaraan sebenarnya tentang karakter masyarakat Ponorogo. Dalam penelitan ini yang dijadikan subyek penelitian (informan) adalah para warok di kabupaten Ponorogo dan pengamat Budaya yang berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan para warok dan memahami perkembangan struktur social para warok di kabupaten Ponorogo.Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif. Fenomena social politik yang penting dalam konteks perpolitikan warok Ponorogo, dimana telah terjadi pergeseran peran dari peran sebagai pelaku seni Budaya berubah menjadi pelaku politik praktis, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa Warok yang menduduki jabatan di pemerintahan, Lurah Jolego. Lurah Imam Sukadi dan warok Sumardi menduduki kepala Desa/kepala Kelurahan sedangkan warok Tobron adalah sosok warok yang yang tidak hanya menduduki posisi Kepala Kelurahan tetapi juga mampu menjadi anggota dewan pada tahun 1999-2004.
REYOG PONOROGO DALAM PERSPEKTIF HIGH/LOW CONTEXT CULTURE: STUDI KASUS REYOG OBYOGAN DAN REYOG FESTIVAL Oki Cahyo Nugroho
ARISTO Vol 1, No 2 (2013): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1510.877 KB) | DOI: 10.24269/ars.v1i2.25

Abstract

Perbedaan-perbedaan dalam format pertunjukkan, perangkat yang dipakai, motivasi dalam pertunjukkan, interkasi dengan penonton, interkasi dengan pemain lain dan improvisasi dalam pementasan secara tidak langsung menimbulkan sebuah gaya dan karakteristik dalam komunikasi yang pada akhirnya membentuk karakter masing-masing pertunjukkan.Kekuatan dalam memegang idelogi atau kepercayaan terhadap seni Reyog yang berbeda inilah yang selanjutnya menjadi sebuah karakteristik dalam proses komunikasi yang bisa kita jumpai dalam setiap pementasan baik dalam format Reyog obyog maupun Reyog dalam versi festival atau panggung. Hal inilah yang menyebabkan dalam setiap pertunjukan reyog baik dalam format obyog atau dalam versi festival selalu mempunyai ciri khas dan keunikan sendiri-sendiri dalam setiap pementasan. Dalam setiap pementasan yang berlangsung, secara langsung akan memproduksi simbol-simbol tertentu yang membuat atau mengajak penonton untuk saling berkomunikasi. Lebih detil dan terlihat perbedaan dapat dilihat dari perbandingan foto-foto pementasan Reyog obyogan dan Reyog dalam format festival. dalam menjelaskan fenomena ini, penelitian ini menggunakan perspektif dari Edward Hall yang mengkategorisasikan budaya berdasarkan high / low culture context.
PERAN MEDIA DALAM MELESTARIKAN BUDAYA LOKAL (Studi Fenomenologi pada Masyarakat Kabupaten Ponorogo dalam Program Acara Dangdut Ponoragan di Radio Duta Nusantara) Eli Purwati
ARISTO Vol 1, No 2 (2013): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.091 KB) | DOI: 10.24269/ars.v1i2.26

Abstract

Suatu informasi dapat menimbulkan sistem sosial dalam kehidupan masyarakat ataupun suatu bangsa. Informasi pula yang mejadi unsur dinamis dalam masyarakat baik di lingkup nasional maupun internasional. Radio merupakan suatu alat komunikasi yang proses penyampaian pesan atau informasi yang disiarkan tanpa melalui proses proses yang rumit.Radio dapat menyampikan suatu informasi kepada khalayak secara langsung dan lebih efektif. Begitu suatu pesan di ucapkan oleh seorang penyiar atau operator, pada saat itu juga dapat diperoleh dan di terima oleh khalayak secara langsung, bagaimana pun jauhnya sasaran yang dituju radio dapat menjangkaunya. Hal itulah yang menjadi daya tarik suatu radio yang mana merupakan suatu media yang tepat dalam penyampaian suatu infomasi atau pesan. Dalam hal ini masyarakat kabupaten Ponorogo yang mayoritas penduduknya adalah penggemar Radio yang mampu merespon program-program acara yang telah di rancang. Mulai dari berbagaiinformasi, hiburan dan pendidikan. Melihat dan mengamati beberapa Radio swasta yang ada di Kabupaten Ponorogo belum ada yang mengemas dan mengenalkan Budaya ponorogo kepada masyarakat, maka tim kreatif Radio Duta usantara ingin menciptakan program acara yang mengedepankan sentuhan budaya Reog Ponorogo, dengan memberikan nama program acara tersebut adalah DANGDUT PONORAGAN , yang tak lepas dari slogan yang dibuatnya. Dari latar belakang yang telah di uraikan tersebut penulis ingin meneliti bagaimana perubahan prilaku masyarakat di di Kabupaten Ponorogo terhadap program acara DANGDUT PONORAGAN yang mana program acara tersebut merupakan program unggulan radio Duta Nusantara yang di siarkan setiap hari pada jam 14.00-16.00 Wib. Sedangkan metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Dan untuk informan nya adalah dari pihak radio dan pendengar program acara dangdut ponoragan. Maka dari itu dapat di simpulkan Melalui program acara dangdut Ponoragan maka Media local yaitu Duta Nusantara dapat melestarikan budaya Lokal, dan dapat melestarikan Identitas warok dengan menggunakan bahasa dialeg Ponorogoan atau bahasa Warok yang identik bernada Tinggi, dan kental dengan bahasa jawa nya. Selain itu juga materi yang dibawakan saat acara berlangsung juga terkait kesenian reog,. Sapaan pendengar dan penyiar juga sangat khas dengan nama-nama jawa misalnya saja laki-laki di sebut Kang Suro sedangkan perempuan disebut Mbok Suro, atau bias juga Thole dan Genduk. Sehingga acara Dangdut Ponoragan ini adalah acara untuk Melestarikan Bahasa daerah karakteristik warok Ponorogo Menumbuhkan rasa cinta kesenian reog Ponorogo mulai anakanak., Mengembangkan music trasional yang merangsang munculnya lagu-lagu ala Ponorogoan, dengan karakteristik musik yang khas Menjadi acara radio yang has,memberikan tempat dan ruang bagi pelaku seni di daerah untuk terus berkarya Tempat untuk berbincang soal kesenian tradisional reog Ponorogo
PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP CITIZENS CHARTER DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK Dian Suluh Kusuma Dewi
ARISTO Vol 1, No 2 (2013): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1016.371 KB) | DOI: 10.24269/ars.v1i2.27

Abstract

Sampai sekarang pelayanan publik di negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia selalu menjadi isu penting untuk diperbincangkan dalam studi ilmu politik. Indonesia sebagai salah satu negara sedang berkembang juga mengalami hal yang serupa bahkan setelah kejadian reformasi th 1998 dan pelaksanaan otonomi daerah th 2000. Pelayanan publik menjadi isu sentral karena memang hal tersebut sebagai indikator penting untuk melihat sebuah negara sebagai Negara modern atau bukan. Selain itu pelayanan publik juga sangat terkait dengan hak hak warga atau citizens rights yang juga sebagai tolok ukur sebuah Negara Demokratis.
PERILAKU PENCEGAHAN DIRI TERHADAP PENULARAN HIV/AIDS PADA KELOMPOK CALON TENAGA BURUH MIGRAN/TKI/TKW DI PONOROGO Sulistyo . Andarmoyo
ARISTO Vol 1, No 2 (2013): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.265 KB) | DOI: 10.24269/ars.v1i2.28

Abstract

AIDS (Acquired Immuno Deificiency Syndrom) masih merupakan permasalahan global. Dewasa ini ada trend atau kecenderungan dimana TKI juga turut serta menyumbang andil besar terhadap penularan HIV/AIDS. pemahaman pekerja migran Indonesia terhadap HIV/AIDS masih rendah mengakibatkan tenaga kerja di luar negeri mudah terinfeksi virus mematikan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah perilaku pencegahan diri terhadap penularan HIV/AIDS pada kelompok calon tenaga buruh Migran/TKI/TKW di Ponorogo. Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Tempat Penelitian di PJTKI Cipta Karsa Bumi Lestari Ponorogo dengan alasan mudah dijangkau oleh peneliti dan ketersediaan veriabel pada tempat tersebut. Populasi dan sampel adalah TKI/TKW di PJTKI tersebut, dengan tehnik pengambilan sampel Simple Random Sampling Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pencegahan diri terhadap penularan HIV/AIDS pada kelompok calon buruh migran/TKI/TKW di Ponorogo sebagian besar (63,3%) atau 19 responden perilaku pencegahan diri terhadap penularan HIV/AIDS negatif dan selebihnya sebanyak (36,7%) berperilaku positif. Dibutuhkan penangganan yang komprehensif dalam mencegah resiko penularan penyakit tersebut. langkah-langkah yang strategis dari pihak terkait dalam meningkatkan pengetahuan merupakan aspek mendasar yang harus dperhatikan saat ini sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan perilaku yang baik pula dalam pencegahan diri terhadap penularan HIV/ AIDS.
KORUPSI DAN PELANGGARAN HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA DI INDONESIA Robby Darwis Nasution
ARISTO Vol 1, No 2 (2013): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1964.268 KB) | DOI: 10.24269/ars.v1i2.23

Abstract

Korupsi merupakan budaya yang sudah lumrah terjadi di Indonesia, dalam keseharian perpolitikan di Indonesia bahkan tidak akan lepas dari aktifitas korupsi dimana pada kenyataannya korupsi sendiri akan berdampak sistemik bukan hanya berdapmapa kepada kemakmuran Negara tetapi juga berdampak kepada kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kesejahteraan Masyarakat sesungguhnya dapat dilihat dari tingkat pemenuhan hak EKOSOB (Ekonomi, Sosial dan Budaya), ketiga poin tersebut merupakan bagian kecil indikator kesejahteraan rakyat. Bersama-sama dengan Hak Sipil, hak ekosob telah diakui secara internasional sebagai bagian dari the international bill of human rights. Kerangka hukumnya menjadi semakin jelas setelah hak-hak tersebut dituangkan dalam perjanjian multilateral yang tertuang dalam Covenan on Economic, Social and Cultural Rights (selanjutnya disingkat CESCR), yang disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1966 sebagai pelaksanaan dari prinsip-prinsip yang dimuat dalam DUHAM 1948. Kewenangan negara yang dalam hal ini adalah pemerintah untuk menjamin hak-hak ekonomi, sosial dan budaya di indonesia dirasa tidak memenuhi hasil yang memadai sehingga dapat dilihat dengan masih banyaknya pengangguran, kemiskinan, dan rendahnya tingkat pendidikan warga negara. Selain itu, tingkat korupsi di Indonesia masih sangat tinggi dibanding negara-negara lain yang menyebabkan tingkat pelanggaran hak EKOSOB di Indonesia masih sangat tinggi.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 14 No 2 (2026): July : Forthcoming Vol 14, No 2 (2026): July : Forthcoming Vol 14, No 1 (2026): January : (Fortchoming ) Vol 14 No 1 (2026): January Vol 13 No 2 (2025): July Vol 13, No 2 (2025): July Vol 13 No 1 (2025): January Vol 13, No 1 (2025): January: Forthcoming Issue Vol 12, No 3 (2024): Election and Regional Election in Indonesian Vol 12 No 3 (2024): Election and Regional Election in Indonesian Vol 12, No 2 (2024): July Vol 12, No 2 (2024): July : in press Vol 12 No 2 (2024): July Vol 12 No 1 (2024): Januari Vol 12, No 1 (2024): Januari Vol 11, No 2 (2023): July Vol 11 No 2 (2023): July Vol 11 No 1 (2023): January Vol 11, No 1 (2023): January Vol 10, No 3 (2022): December / Special Issue : Local Governance Vol 10 No 3 (2022): December / Special Issue : Local Governance Vol 10 No 2 (2022): July Vol 10, No 2 (2022): July Vol 10, No 1 (2022): January Vol 10 No 1 (2022): January Vol 9, No 2 (2021): July Vol 9, No 1 (2021): January Vol 8, No 2 (2020): July Vol 8, No 1 (2020): Januari Vol 7, No 2 (2019): July Vol 7 No 2 (2019): July Vol 7 No 1 (2019): Januari Vol 7, No 1 (2019): Januari Vol 6, No 2 (2018): July Vol 6 No 2 (2018): July Vol 6 No 1 (2018): Januari Vol 6, No 1 (2018): Januari Vol 5, No 2 (2017): July Vol 5 No 2 (2017): July Vol 5 No 1 (2017): January Vol 5, No 1 (2017): January Vol 4 No 2 (2016): Aristo Vol. 7 2016 Vol 4 No 1 (2016): ARISTO Vol. 6 Tahun 2016 Vol 4, No 2 (2016): July Vol 4, No 1 (2016): January Vol 3, No 2 (2015): July Vol 3 No 2 (2015): Juli Vol 3 No 1 (2015): Januari Vol 3, No 1 (2015): January Vol 2, No 2 (2014): July Vol 2 No 2 (2014): Agustus Vol 1 No 2 (2013): Juli Vol 1, No 2 (2013): July Vol 1, No 1 (2013): January Vol 1 No 1 (2013): January More Issue