cover
Contact Name
Alex Denny Kambey
Contact Email
-
Phone
+6282196305145
Journal Mail Official
sdperairan@unsrat.ac.id
Editorial Address
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado Indonesia 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS
ISSN : 2302609X     EISSN : 23026081     DOI : https://doi.org/10.35800/jpkt
Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis merupakan terbitan berkala ilmiah yang bertujuan menjadi sarana penyebarluasan hasil penelitian dan ilmu pengetahuan dalam bidang Perikanan dan Kelautan di daerah Tropis. Hasil penelitian akan diutamakan untuk diterbitkan. Namun demikian, redaksi juga menerima ulasan ilmiah berupa tinjauan teori, ulasan buku baru, komunikasi singkat dan karya ilmiah lainnya. Artikel bisa ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2012)" : 5 Documents clear
MANFAAT LANGSUNG TERUMBU KARANG DI DESA TUMBAK KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Sembiring, Ingrid; Wantasen, Adnan Sj; Ngangi, Edwin LA
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.669 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.8.2.2012.409

Abstract

Penangkapan ikan yang destruktif (menggunakan bom dan racun) dan pengambilan karang un­tuk dijadikan fondasi rumah menjadi isu dalam pengelolaan pesisir di Desa Tumbak. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui nilai manfaat langsung terumbu karang sebagai tempat penangkapan ikan oleh masyarakat di Desa Tumbak; (2) Mengetahui nilai manfaat langsung terumbu karang sebagai bahan ba­ngunan oleh masyarakat di Desa Tumbak; (3) Mengetahui total nilai pemanfaatan terumbu karang seba­gai tempat penangkapan ikan dan sebagai bahan bangunan oleh masyarakat di Desa Tumbak. Nilai man­faat langsung terumbu karang untuk fondasi rumah diperoleh Rp6.177.600 per tahun dan nilai manfaat langsung terumbu karang untuk penangkapan ikan karang Rp4.860.000.000. Total nilai manfaat langsung dari kedua pemanfaatan ini yaitu: Rp4.866.177.600. Total nilai ini belum termasuk pemanfaatan dalam bentuk lain terhadap ekosistem terumbu karang. Pemanfaatan terumbu karang sebagai bahan bangunan terutama disebabkan oleh faktor biaya yang murah dan jarak yang dekat dengan pemukiman. Praktik pe­manfaatan yang tidak berkelanjutan ini menyebabkan degradasi kondisi terumbu karang sehingga tutupan karang hidup berada dalam kategori rusak (sedang). Jika terjadi terus-menerus, hal ini dapat menghilang­kan fungsi ekologis sebagai peredam ombak dan fungsi ekonomis sebagai sumber pangan. Kata kunci: Tumbak; nilai manfaat langsung; terumbu karang; ekosistem   The issues of destructive fishing practices (using of bombs and poisons) and the use of corals as construction building materials have become issues in coastal management in Tumbak Village. The aims of this study are (1) to find out the value of the direct benefits of coral reefs as fishing ground to the com­munities in Tumbak village, (2) to find out the value of the direct benefits of coral reefs as building mate­rials to the communities in Tumbak village; (3) to find out the total value of the use of coral reefs as a fishing ground and as a construction materials for to the communities in Tumbak village. The value of direct benefit of the coral reef for building foundation was Rp 6,177,600 per year and the value of direct benefits for fishing was Rp 4,860,000,000. Total value of direct benefits from both of these uses was Rp 4,866,177,600. Total value did not include the use of other forms of coral reef ecosystems. In conclusi­ons, the use of coral reefs as a building materials were mainly due to the low cost and the proximity to residential areas. Such category unsustainable practice has led to the degradation of coral reefs down to damaged category (medium category). If this happened continuously, the ecological function as wave protectors and economic functions as a source of food could be eliminated. Keywords: Tumbak; direct benefit value; coral reefs; ecosystem.
DETERMINASI MOLEKULER KOI HERPES VIRUS (KHV) YANG DIISOLASI DARI IKAN KOI (Cyprinus carpio koi) Saselah, Jetti Treslah; Tumbol, Reiny A; Manoppo, Henky
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.525 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.8.2.2012.408

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeterminasi keberadaan Koi Herpes Virus (KHV) pada ikan koi (Cyprinus carpio koi). Sampel ikan diambil dari Kabupaten Kepulauan Sangihe. Penelitian di lakukan di Laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sam Ratulangi dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil pemeriksaan PCR terhadap sampel ikan koi mengindikasikan bahwa sampel ikan koi telah terinfeksi oleh virus KHV, yang ditandai dengan munculnya pita DNA pada hasil visualisasi elektroforesis agarosa. Hasil pemeriksaan pada morfologi ternyata sampel ikan yang digunakan menunjukkan gejala-gejala klinis terserang KHV seperti mata pucat, insang berwarna pucat serta produksi lendir yang berlebihan. Beberapa sampel lainnya walaupun secara morfologi belum menunjukan gejala-gejala klinis tetapi melalui pemeriksaan PCR telah terindikasikan terinfeksi KHV. Kata kunci: KHV, PCR, ikan koi   The purpose of this study was to determine the presence of Koi Herpes Virus (KHV) in Koi (Cyprinus carpio koi). Fish samples were taken from the Sangihe Archipelago Regency. Laboratory work conducted at the Laboratory of Biology Faculty of Mathematics and Natural Sciences University of Sam Ratulangi using Polymerase Chain Reaction (PCR) method. The samples indicated that the koi fish samples were infected with KHV. It is shown by the appearance of DNA bands on agarose electrophore­sis visualization. The morphological examination of the body indicated clinical symptoms of KHV infection, such as pale eyes, pale gills and excessive mucus production. Several other samples, although without clinical symptoms, have shown to be infected as indicated by PCR test. Keywords: KHV, PCR, Koi.
STRATEGI PENGEMBANGAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI PULAU NAIN KABUPATEN MINAHASA UTARA Pandelaki, Loura
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.008 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.8.2.2012.420

Abstract

Pengembangan rumput laut di Pulau Nain membutuhkan strategi untuk meningkatkan kembali produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan strategi-strategi dalam pengembangan budidaya rumput laut. Penyusunan strategi menggunakan analisis strategi pengembangan yang terdiri atas: analisis lingkungan, SWOT dan QSPM. Tiga prioritas strategi yang direkomendasikan untuk pengembangan budidaya rumput laut yakni: Mengefektifkan peran DKP dan lembaga terkait dalam pembinaan dan pengembangan SDM; peningkatan sumber permodalan usaha; dan  pengadaan pola kerjasama kemi­traan pasar. Kata kunci: strategi pengembangan, rumput laut, produksi, SWOT, QSPM, analisis lingkungan.   The development of seaweed cultivation in the Nain Island requires appropriate strategies to re-enhance its production. The objectives of this study is to determine strategies in developing the seaweed cultivation. Development strategy analysis was used as steps to determine strategy for the development of the seaweed cultivation. Analysis of the development strategy consists of: environmental analysis, SWOT analysis and QSPM. The three priority strategies for development of seaweed cultivation are as follows: Maximizing the role of DKP and related institutions in coaching and developing human resource; increasing the venture capital sources; dan procurement of market partnership patterns. Keywords: development strategy, seaweed, production, SWOT, QSPM, environmental analysis.
COMMON GARDEN OF SEAGRASSES Halodule uninervis (Forsskål) Aschershon AND Halodule pinifolia (Miki) den Hartog Wagey, Billy Theodorus
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.193 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.8.2.2012.368

Abstract

A simple culture system ‘common garden’ has been set up in Institute of Environmental and Marine Science (IEMS) Dumaguete City Philippines (N 09° 19' 52.8" and E 123° 18' 34.1") at the running seawater outdoor experiment tank aimed to monitor the variation of shoot density, leaf morphology and growth rates of marine plant genus Halodule.  The mean shoot densities of Halodule pinifolia were varied and tend to decrease after the three month period of common garden.   Using one-way ANOVA tests, significant differences were detected on the comparison among the months of common garden (F=6.400; p=0.005), mean leaf growth rate (mm/day) of H. pinifolia (F=13.510; p=0.000), and the mean leaf widths from Siquijor (F=9.274; p=0.001) among the three month period of common garden.  Meanwhile, there were no significant differences detected on leaf width (mm) of H. pinifolia origin from Bantayan site, on mean leaf widths of H. uninervis from Bantayan, on mean leaf widths of H. uninervis from Banilad, and on mean leaf growth rate (mm) of H. uninervis among the three month period of common garden.  The result suggests that the ‘common garden’ procedure could have possibly given a clearer pattern of genus Halodule leaf width, shoot density, and growth rate if the could be prolonged.  It could also be suggested that an adequate number of shoot density on the initial procedure for ‘common garden’ should be properly determined.  This is to avoid overcrowding of the samples later, when growth rate will tend to increase without compromising the leaf width and shoot density measurements. Keywords: common garden, seagrasses, shoot density, leaf width, growth rate, Halodule pinifolia, Halodule uninervis.   Sistem kultur Common Garden sederhana telah dibangun di Institute of Environmental and Marine Science (IEMS) Dumaguete City Philippines (09° 19' 52,8" LU dan 123° 18' 34,1" BT) dalam tangki penelitian di luar ruangan untuk memantau variasi kepadatan tunas, morfologi daun dan laju pertumbuhan rumput laut genus Halodule.  Kepadatan tunas rata-rata Halodule pinifolia bervariasi dan cenderung menurun setelah periode tiga bulan. Menggunakan uji ANOVA satu arah, perbedaan nyata terdeteksi pada pembandingan bulan (F = 6.400, p = 0,005), rata-rata laju pertumbuhan daun (mm/hari) H. pinifolia (F = 13,510, p = 0,000), dan rata-rata lebar daun dari Siquijor (F = 9,274, p = 0,001) antara ketiga bulan common garden.  Sementara itu, tidak ada perbedaan nyata yang terdeteksi pada lebar daun (mm) H. pinifolia asal Bantayan, pada lebar daun rata-rata H. uninervis dari Bantayan, pada lebar daun rata-rata H. uninervis dari Banilad, dan laju pertumbuhan daun rata-rata (mm) dari H. uninervis dalam periode tiga bulan dari common garden. Hasil ini menunjukkan bahwa prosedur 'common garden' mungkin bisa memberikan pola yang lebih jelas tentang lebar daun, kepadatan tunas, dan laju pertumbuhan genus Halodule jika waktu bisa diperlama. Juga dapat disarankan bahwa kepadatan tunas pada prosedur awal common garden harus ditentukan dengan baik untuk menghindari kesesakan sampel di kemudian hari, karena laju pertumbuhan cenderung meningkat sehingga ukuran lebar daun dan kepadatan tunas tidak terpengaruhi. Kata kunci: common garden, lamun, kepadatan tunas, lebar daun, laju pertumbuhan, Halodule pinifolia, Halodule uninervis.
ANALISIS POTENSI SUMBERDAYA MANGROVE DI DESA SARAWET, SULAWESI UTARA, SEBAGAI KAWASAN EKOWISATA Mangindaan, Peter; Wantasen, Adnan Sj; Mandagi, Stephanus V
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.638 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.8.2.2012.410

Abstract

Kawasan pesisir Desa Sarawet Likupang Timur memiliki mangrove seluas 379 hektar dan me­miliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis struktur komunitas hutan mangrove di Desa Sarawet (2) Mengkaji po­tensi kawasan pesisir Desa Sarawet untuk dikembangkan menjadi kawasan ekowisata berbasis mangrove. Hasil analisis terhadap 6 variabel yaitu sumberdaya alam, budaya lokal, sosial-ekonomi masyarakat, in­frastuktur kawasan, institusional dan kemungkinan dampak di kawasan pesisir Desa Sarawet menghasil­kan nilai 3,7. Nilai ini menunjukkan bahwa kawasan pesisir Desa Sarawet berada pada level moderat ya­ng berarti dapat dikembangkan sebagai kawasan ekowisata berbasis mangrove. Kata kunci: Sarawet; ekowisata; mangrove   Coastal village of East Likupang Sarawet has 379 hectares of mangrove area and has the poten­tial to be developed as an ecotourism area. Accordingly, this study aimed to (1) To analyze the community structure of mangrove forest in the village of Sarawet (2) To assess the potential of the coastal village of Sarawet to be developed into a mangrove-based ecotourism region. The results of the analysis on six va­riables, namely natural resources, local culture, socio-economic communities, regional infrastructure, institutional and likely impact on the coastal village of Sarawet produce a value of 3.7. This value indi­cates that the coastal village of Sarawet is at the moderate level wich means it can be developed as a mangrove-based ecotourism area. Keywords: Sarawet; ecotourism; mangroves.

Page 1 of 1 | Total Record : 5