cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes
Published by Forum Ilmiah Kesehatan
ISSN : 20863098     EISSN : 25027778     DOI : -
Core Subject : Health,
Journal of Health Research "Forikes Voice" is a medium for the publication of articles on research and review of the literature. We accept articles in the areas of health such as public health, medicine, nursing, midwifery, nutrition, pharmaceutical, environmental health, health technology, clinical laboratories, health education, and health popular.
Arjuna Subject : -
Articles 215 Documents
Search results for , issue "2024" : 215 Documents clear
Paparan Debu Kayu Sebagai Faktor Risiko Utama Gangguan Faal Paru di Industri Kayu Lapis Rachel Octaviari Altruisa; Anita Dewi Prahastuti Sujoso; Ketut Ima Ismara
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15414

Abstract

The wood industry is one of the main sources of dust particle pollution that can trigger lung function disorders in workers. Risk factors for lung function disorders include particle size, concentration, and duration of exposure, as well as individual factors such as age and smoking habits. This study aimed to analyze the significance of several risk factors for lung function disorders in workers at PT. Sumber Alam Santoso Pratama, Banyuwangi. This study was a quantitative study with a case-control design, involving 40 respondents as the case group and 40 respondents as the control group. The risk factors measured were age, level of exposure to inhaled wood dust, length of service, use of personal protective equipment, smoking habits and exposure to environmental dust. Data were collected by filling out a questionnaire, then analyzed using a logistic regression test. The results of the analysis showed that the p value for each risk factor was age = 0.328, level of exposure to inhaled wood dust = 0.000, length of service = 0.001, use of personal protective equipment = 0.000, smoking habits = 0.004 and exposure to environmental dust = 0.011. Furthermore, it was concluded that the risk factors for lung function disorders in workers in sequence were the level of exposure to inhaled wood dust, use of personal protective equipment, length of service, smoking habits and exposure to environmental dust.Keywords: lung function disorders; wood dust; wood industry ABSTRAK Industri kayu merupakan salah satu sumber utama polusi partikel debu yang dapat memicu gangguan faal paru pada pekerja. Faktor risiko gangguan faal paru meliputi ukuran partikel, konsentrasi, dan durasi paparan, serta faktor individu seperti usia dan kebiasaan merokok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis signifikansi beberapa faktor risiko gangguan faal paru pada pekerja di PT. Sumber Alam Santoso Pratama, Banyuwangi. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain case-control, yang melibatkan 40 responden sebagai kelompok kasus dan 40 responden sebagai kelompok kontrol. Faktor-faktor risiko yang diukur adalah usia, tingkat paparan debu kayu terhirup, masa kerja, penggunaan alat pelindung diri, kebiasaan merokok dan paparan debu lingkungan. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner, lalu dianalisis menggunakan uji regresi logistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p untuk masing-masing faktor risiko adalah usia = 0,328, tingkat paparan debu kayu terhirup = 0,000, masa kerja = 0,001, penggunaan alat pelindung diri = 0,000, kebiasaan merokok = 0,004 dan paparan debu lingkungan = 0,011. Selanjutnya disimpulkan bahwa faktor risiko gangguan faal paru pada pekerja secara berurutan adalah tingkat paparan debu kayu terhirup, penggunaan alat pelindung diri, masa kerja, kebiasaan merokok dan paparan debu lingkungan.Kata kunci: gangguan faal paru; debu kayu; industri kayu
Pengendalian Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Melalui Telehealth Nurwahidah Nurwahidah; Wahyu Dini Candra Susila; Abu Bakar; Harmayetty Harmayetty; Siti Nur Qomariah
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15453

Abstract

 In today's era, telehealth technology is one of the things that continues to develop to support the effectiveness of work, in this case for the treatment process. Telehealth is used to fulfill nursing care for patients who are constrained by distance. Telehealth is also widely used in patients with type 2 diabetes mellitus. This study aimed to determine the effectiveness of telehealth in achieving blood glucose stability in patients with type 2 diabetes mellitus. This systematic review searched for relevant articles using keywords based on MeSH in the Scopus, ScienceDirect, PubMed, and ProQuest databases. The study guidelines used were PRISMA. The literature search was conducted on studies from 2018 to 2023, in English and full text. The keywords used in the article search were "mobile health" OR "telehealth" OR "telemedicine" OR "ehealth" AND "diabetes mellitus" AND "blood glucose". The analysis used was the narrative method. Fourteen articles were included in the final review. The results of the study showed that the characteristics of the respondents consisted of men and women aged over 18 years. The types of telehealth used included web-telemedicine, tele-rehabilitation, mobile text messaging, tele-homecare, tele-care, and smartphone applications. The use of telehealth resulted in better glucose control in patients with type 2 diabetes mellitus. Telehealth used for patients with type 2 diabetes mellitus affected their lifestyle, such as compliance with treatment. The conclusion of this study was that telehealth has good effectiveness in controlling blood glucose in diabetes mellitus 2, namely providing a method to control blood glucose stability.Keywords: blood sugar; telehealth; type 2 diabetes mellitus ABSTRAK Di era saat ini, teknologi telehealth menjadi salah satu hal yang terus berkembang untuk menunjang keefektifan pekerjaan, yang dalam hal ini untuk proses pengobatan. Telehealth digunakan untuk memenuhi asuhan keperawatan bagi pasien yang terkendala jarak. Telehealth juga banyak digunakan pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Studi ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas telehealth untuk mencapai stabilitas glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2. Tinjauan sistematis ini mencari artikel yang relevan menggunakan kata kunci berdasarkan MeSH di database Scopus, ScienceDirect, PubMed, dan ProQuest. Pedoman studi yang digunakan adalah PRISMA. Pencarian literatur dilakukan pada penelitian selama tahun 2018 hingga 2023, dalam bahasa Inggris dan teks lengkap. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian artikel adalah "mobile health" OR "telehealth" OR "telemedicine" OR "ehealth" AND "diabetes mellitus" AND "blood glucose". Analisis yang digunakan adalah metode naratif. Empat belas artikel dimasukkan dalam tinjauan akhir. Hasil studi menunjukkan bahwa karakteristik responden terdiri dari pria dan wanita yang berusia di atas 18 tahun. Jenis telehealth yang digunakan termasuk dalam kategori web-telemedicine, tele-rehabilitasi, pesan teks seluler, tele-homecare, tele-care, dan aplikasi smartphone. Penggunaan telehealth menghasilkan kontrol glukosa yang lebih baik pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2. Telehealth yang digunakan untuk pasien diabetes mellitus tipe 2 mempengaruhi pola hidupnya, seperti kepatuhan dalam pengobatan. Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa telehealth memiliki efektivitas yang baik dalam pengendalian glukosa darah pada diabetes mellitus 2, yakni menyediakan metode untuk mengontrol stabilitas glukosa darah.Kata kunci: gula darah; telehealth; diabetes mellitus tipe 2
Kontribusi Perilaku Tipe A, Neurotisme, dan Ekspektasi Terhadap Burnout Syndrome pada Perawat di Kamar Operasi Shofiyah Karimah; Imam Subekti; Naya Ernawati; Tri Johan Agus Yuswanto
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15407

Abstract

Increased workload and work pressure in operating room nurses can cause work fatigue to the point of burnout syndrome. Burnout syndrome is influenced by several factors including type A behavior, neuroticism, and expectations. The purpose of this study was to determine the relationship between type A behavior factors, neuroticism, and expectations with the incidence of burnout syndrome in operating room nurses. The study design was cross-sectional, with 53 operating room nurses at Jombang Hospital as samples. Data collection was carried out by filling out a personality questionnaire by Bortner, Big Five Personality, an expectation questionnaire by Synder, and the Maslach Burnout Inventory-Human Service Survey-Medical Personnel. Data were analyzed using the Spearman correlation test. The results of the analysis showed a p value of 0.01 for type A behavior, 0.000 for neuroticism, and 0.023 for expectations. Furthermore, it can be concluded that the factors related to burnout syndrome in operating room nurses are type A behavior, neuroticism, and expectations.Keywords: type A behavior; neuroticism; expectations; burnout syndrome; nurses; operating room ABSTRAKPeningkatan beban kerja dan tekanan kerja pada perawat kamar operasi dapat menimbulkan kelelahan kerja hingga mencapai burnout syndrome. Burnout syndrome dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya adalah perilaku tipe A, neurotisme, dan ekspektasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor perilaku tipe A, neurotisme, dan ekspektasi dengan kejadian burnout syndrome pada perawat kamar operasi. Desain penelitian adalah cross-sectional, dengan 53 perawat kamar operasi rumah sakit Jombang sebagai sampel. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner kepribadian oleh Bortner, Big Five Personality, kuesioner ekspektasi oleh Synder, dan Maslach Burnout Inventory-Human Service Survey-Medical Personnel. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan nilai p adalah 0,01 untuk perilaku tipe A, 0,000 untuk neurotisme, dan 0,023 untuk ekspektasi. Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan burnout syndrome pada perawat kamar operasi adalah perilaku tipe A, neurotisme, dan ekspektasi.Kata kunci: perilaku tipe A; neurotisme; ekspektasi; burnout syndrome; perawat; kamar operasi
Peningkatan Kualitas Hidup Pasien Stroke Melalui Discharge Planning Anwar Saifudin; Titi Hartiti; Vivi Yosafianti Pohan
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15449

Abstract

Stroke is the second leading cause of death and the third leading cause of disability and is the second most common non-communicable disease causing death in the world after ischemic heart disease. Improving quality of life is the main goal expected in post-hospitalization stroke patient care. Discharge planning in stroke patients is a plan carried out for patients and families before patients leave the hospital in order to achieve optimal health and improve quality of life. The purpose of this study was to determine the effect of discharge planning on the quality of life of stroke patients. This study used the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyzes (PRISMA) method using several databases, namely Google Scholar, PubMed, ScienceDirect which are relevant in the last 6 years (2019-2024) with the keywords discharge planning, quality of life and stroke. This systematic review used 8 articles that meet the inclusion criteria. The results of the review showed that providing discharge planning to families and stroke patients can have a good impact on increasing family readiness in caring for patients so that patients can achieve optimal health and improve quality of life. Based on the results of the review, it was concluded that the implementation of discharge planning has an effect on improving the quality of life of stroke patients.Keywords: discharge planning; quality of life; stroke  ABSTRAK Stroke menjadi penyebab utama nomor dua kematian serta nomor tiga kecacatan serta merupakan penyakit tidak menular yang terbanyak menyebabkan kematian kedua di dunia setelah penyakit jantung iskemik. Peningkatan kualitas hidup merupakan tujuan utama yang diharapkan dalam perawatan pasien stroke pasca rawat inap. Discharge planning pada pasien stroke merupakan perencanaan yang dilakukan untuk pasien dan keluarga sebelum pasien meninggalkan rumah sakit agar dapat mencapai kesehatan yang optimal dan meningkatkan kualitas hidup. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui pengaruh discharge planning terhadap kualitas hidup pasien stroke. Studi ini menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyzes (PRISMA) dengan menggunakan beberapa database yaitu Google Scholar, PubMed, ScienceDirect yang relevan dalam 6 tahun terakhir (2019-2024) dengan kata kunci discharge planning, kualitas hidup dan stroke. Systematic review ini menggunakan 8 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil review menunjukkan bahwa pemberian discharge planning pada keluarga dan pasien stroke dapat memberikan dampak yang baik dalam meningkatkan kesiapan keluarga dalam merawat pasien sehingga pasien dapat mencapai kesehatan yang optimal serta meningkatkan kualitas hidup. Berdasarkan hasil review disimpulkan bahwa penerapan discharge planning berpengaruh terhadap peningkatan kualitas hidup pasien stroke.Kata kunci: discharge planning; kualitas hidup; stroke 
Pengelolaan Limbah Medis, Non Medis, dan Benda Tajam di Rumah Sakit Rembang Intan Sekar Arumdani
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15421

Abstract

The increasing number of hospitals has resulted in an increase in waste produced. Waste from health care facilities has the potential to spread disease if not properly processed. Hospital waste is included in the category of hazardous and toxic medical waste whose procedures and technical requirements for management are specifically regulated. The purpose of this study was to analyze the accuracy of solid B3 medical waste management at Rembang Hospital, including the stages of reduction, sorting, storage, and transportation. This study was a quantitative descriptive study. Data were obtained from observations, interviews and document reviews. The amount of medical waste produced was around 50 kg per day. The results of the analysis showed that the accuracy of medical waste management at Rembang Hospital was 71.69%. The percentage of compliance can be said to be still low and does not meet the requirements set by the government. Requirements that were not yet in accordance include the trolley used in the transportation process was not closed, there was no special route for transporting medical waste, temporary storage placed that do not meet standards, and there was a discrepancy in the use of personal protective equipment. Furthermore, it was concluded that medical waste management at Rembang Hospital is not in accordance with government regulations, so efforts are needed to improve the quality of management in the future.Keywords: hospital; medical waste; management ABSTRAK Peningkatan jumlah rumah sakit mengakibatkan bertambahnya limbah yang dihasilkan. Limbah yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan berpotensi dalam penyebaran penyakit jika tidak diolah dengan tepat. Limbah rumah sakit masuk dalam kategori limbah medis bahan berbahaya dan beracun yang tata cara dan persyaratan teknis pengelolaannya diatur secara khusus. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis ketepatan pengelolaan limbah medis padat B3 di Rumah Sakit Rembang, meliputi tahap pengurangan, pemilahan, penyimpanan, dan pengangkutan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Data diperoleh dari pengamatan, wawancara dan telaah dokumen. Jumlah limbah medis yang dihasilkan adalah sekitar 50 kg per hari. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketepatan pengelolaan limbah medis di Rumah Sakit Rembang adalah 71,69%. Persentase kesesuaian tersebut dapat dikatakan masih rendah dan belum memenuhi persyaratan yang diatur oleh pemerintah. Persyaratan yang belum sesuai meliputi troli yang digunakan dalam proses pengangkutan tidak tertutup, belum terdapat jalur khusus untuk mengangkut limbah medis, tempat penyimpanan sementara yang belum memenuhi standar, dan terdapat ketidaksesuain dalam penggunaan alat pelindung diri. Selanjutnya disimpulkan bahwa pengelolaan limbah medis di Rumah Sakit Rembang belum sesuai dengan regulasi pemerintah, sehingga diperlukan upaya peningkatan kualitas pengelolaan ke depan.Kata kunci: rumah sakit; limbah medis; pengelolaan
STRONGKIDS dan STAMP Sebagai Alat Skrining Gizi yang Sensitif dalam Mendeteksi Risiko Malnutrisi pada Anak Apriyanto Apriyanto; Dessie Wanda; Ayu Widya Lestari; Dewi Gayatri
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15445

Abstract

The challenge of malnutrition in hospitalized children is a pressing concern, and the development of screening tools such as STRONGKIDS and STAMP is a step forward to address this issue. This study aimed to highlight important aspects of their sensitivity and specificity in different clinical settings. A systematic review was conducted through a literature search in Google Scholar, Scopus, Wiley, and ScienceDirect with keywords related to hospitalized child malnutrition. Articles that met the inclusion criteria were analyzed using the QUADAS-2 tool to assess methodological quality. The review results showed that the STRONGKIDS and STAMP nutritional screening tools are highly sensitive in detecting the risk of malnutrition in children. Although both have high sensitivity, STRONGKIDS tends to have lower specificity than STAMP. The study showed that STRONGKIDS effectively identifies nutritional risk in hospitalized children, with a sensitivity of 77.3% to 84.8%. On the other hand, STAMP had also been shown to be reliable in assessing the risk of malnutrition in pediatric patients with spinal cord injury, with a sensitivity of up to 83.3% and higher specificity in some cases. It is concluded that STRONGKIDS and STAMP are sensitive nutritional screening tools in detecting the risk of malnutrition in childrenKeywords: malnutrition; risk detection; children ABSTRAK Tantangan kekurangan gizi pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit menjadi perhatian yang mendesak, dan pengembangan alat skrining seperti STRONGKIDS dan STAMP merupakan langkah maju untuk mengatasi masalah ini. Studi ini bertujuan untuk menyoroti aspek penting dari sensitivitas dan spesifisikasinya dalam pengaturan klinis yang berbeda. Tinjauan sistematis dilakukan melalui pencarian literatur di Google Scholar, Scopus, Wiley, dan ScienceDirect dengan kata kunci yang berkaitan dengan malnutrisi anak di rumah sakit. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis menggunakan alat QUADAS-2 untuk menilai kualitas metodologis. Hasil tinjauan menunjukkan alat skrining gizi STRONGKIDS dan STAMP sangat sensitif dalam mendeteksi risiko malnutrisi pada anak. Meskipun keduanya memiliki sensitivitas yang tinggi, STRONGKIDS cenderung memiliki spesifisitas yang lebih rendah daripada STAMP. Studi menunjukkan bahwa STRONGKIDS secara efektif mengidentifikasi risiko gizi pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit, dengan sensitivitas 77,3% hingga 84,8%. Di sisi lain, STAMP juga terbukti dapat diandalkan dalam menilai risiko malnutrisi pada pasien anak dengan cedera tulang belakang, dengan sensitivitas hingga 83,3% dan spesifisitas yang lebih tinggi dalam beberapa kasus. Disimpulkan bahwa STRONGKIDS dan STAMP merupakan alat skrining gizi yang sensitif dalam mendeteksi risiko malnutrisi pada anakKata kunci: malnutrisi; deteksi risiko; anak-anak 
Program Gerbang Sapujagat untuk Meningkatkan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Penggunaan Jamban Sehat Mutiara Catra Wulansari; Dodi Wijaya; Zahreni Hamzah
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15405

Abstract

The availability of healthy toilets is one of the indicators of clean and healthy living behavior. Health promotion is one of the effective strategies to increase public awareness of the importance of healthy toilets. This study aimed to analyze the effectiveness of the Gerbang Sapujagat program in improving public knowledge, attitudes, and behavior about healthy toilets. This study used a pre-experimental approach with a one group pretest and posttest design, which was carried out involving 96 respondents. The impact measured as a result of the implementation of the Gerbang Sapujagat Program was the knowledge, attitudes and behavior of the community regarding the use of healthy toilets. The instrument used to measure the three variables was a questionnaire. Data were analyzed using the Wilcoxon test. The results of the analysis of differences in knowledge levels between before and after the intervention showed a p value = 0.000. The same results were obtained for the variables of community attitudes and behavior. Thus, it could be interpreted that there were differences in community knowledge, attitudes and behavior between before and after the intervention. Furthermore, it was concluded that the Gerbang Sapujagat Program was effective in improving the knowledge, attitudes and behavior of the Curahtakir Village community regarding the use of healthy toilets.Keywords: healthy toilets; health promotion; knowledge; attitudes; behavior ABSTRAK Ketersediaan jamban sehat menjadi salah satu indikator perilaku hidup bersih dan sehat. Promosi kesehatan merupakan salah satu strategi efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya jamban sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efekktivitas program Gerbang Sapujagat dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat tentang jamban sehat. Penelitian ini menggunakan pendekatan pre-experimental dengan rancangan one group pretest and posttest, yang dilaksanakan dengan melibatkan 96 responden. Dampak yang diukur sebagai hasil dari penerapan Program Gerbang Sapujagat adalah pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat mengenai penggunaan jamban sehat. Instrumen yang digunakan untuk mengukur ketiga variabel tersebut adalah kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil analisis perbedaan tingkat pengetahuan antara sebelum dan sesudah intervensi menunjukkan nilai p = 0,000. Hasil yang sama didapatkan untuk variabel sikap dan perilaku masyarakat. Dengan demikian bisa ditafsirkan bahwa ada perbedaan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat antara sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Selanjutnya disimpulkan bahwa Program Gerbang Sapujagat efektif untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat Desa Curahtakir mengenai penggunaan jamban sehat.Kata kunci: jamban sehat; promosi kesehatan; pengetahuan; sikap; perilaku
Self-Directed Learning untuk Membangun Kepuasan dan Kepercayaan Diri Mahasiswa Keperawatan dalam Pembelajaran Keterampilan Pemasangan Infus Tiana Rachmadita; Auridsa Nihlahani; Sri Wahyuni Badjuka; Tri Johan Agus Agus Yuswanto
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15412

Abstract

Nursing students often have difficulty in applying theoretical knowledge into practical skills in the clinical environment. One place for nursing students to learn clinical skills is the clinical skills laboratory. This study aimed to analyze the effect of self-directed learning in the clinical skills laboratory on nursing students' satisfaction and self-confidence during the infusion procedure. The design of this study was a post-test only with control group, involving 92 nursing students, consisting of a control group and a treatment group. The treatment group participated in a simulation based on self-directed learning and the control group participated in traditional teacher-directed learning, with the topic of infusion procedures. Furthermore, student satisfaction and self-confidence were measured using a questionnaire. The results of the analysis showed that there was a difference in student satisfaction between the two groups, with p = 0.006. Meanwhile, for the test of differences in student self-confidence, a p value of 0.005 was obtained, so there was also a difference in student self-confidence between the two groups. The treatment group had higher satisfaction and self-confidence scores. Thus, it can be concluded that self-directed learning is effective in increasing nursing students' satisfaction and self-confidence.Keywords: nursing students; self-directed learning; clinical skills laboratory; satisfaction; self-confidence ABSTRAK Mahasiswa keperawatan sering mengalami kesulitan dalam menerapkan pengetahuan teoretis ke dalam keterampilan praktis di lingkungan klinis. Salah satu tempat bagi mahasiswa keperawatan untuk mempelajari keterampilan klinis adalah clinical skills laboratory. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh self-directed learning di clinical skills laboratory terhadap kepuasan dan kepercayaan diri mahasiswa keperawatan selama prosedur pemasangan infus. Rancangan penelitian ini adalah post test only with control group, yang mengikutsertakan 92 mahasiswa keperawatan, yang terdiri atas kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan mengikuti simulasi berbasis self-directed learning dan kelompok kontrol mengikuti traditional teacher-directed learning, dengan topik prosedur pemasangan infus. Selanjutnya dilakukan pengukuran kepuasan dan kepercayaan diri mahasiswa menggunakan kuesioner. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan kepuasan mahasiswa antara kedua kelompok, dengan p = 0,006. Sementara itu untuk uji perbedaan kepercayaan diri mahasiswa didapatkan nilai p = 0,005, sehingga juga ada perbedaan kepercayaan diri mahasiswa antara kedua kelompok. Kelompok perlakuan memiliki skor kepuasan dan kepercayaan diri yang lebih tinggi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa self-directed learning efektif untuk meningkatkan kepuasan dan kepercayaan diri mahasiswa keperawatan.Kata kunci: mahasiswa keperawatan; self-directed learning; clinical skills laboratory; kepuasan; kepercayaan diri
Stres Akademik Sebagai Determinan Kualitas Tidur Remaja di Madrasah Aliyah Hazimah Mufidah; Muhammad Ali Maulana; Yoga Pramana; Gabby Novikadarti Rahmah; Mita Mita
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15425

Abstract

Sleep disorders constitute one of the health problems that many adolescents face. Adolescents’ bedtime activities and routines may have an impact on sleep quality. The aim of this study was to analyze the relationship between academic stress and sleep quality of adolescents in madrasah aliyah. This study applied a cross-sectional design involving 91 adolescents in Madrasah Aliyah Negeri 2 Pontianak, who were selected using stratified random sampling. Academic stress and sleep quality of adolescents were measured using questionnaires namely Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) for sleep quality and Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) for academic stress. The collected data were analyzed using the Spearman correlation test. The results of the analysis show that the p-value was 0.020 (there was significantly correlation) and the r-value was 0.244 (weak correlation level). It was thus concluded that academic stress was a determinant for the sleep quality of adolescents in Madrasah Aliyah Negeri 2 Pontianak.Keywords: adolescents; academic stress; sleep quality ABSTRAK Gangguan tidur merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dihadapi oleh remaja. Aktivitas dan rutinitas sebelum tidur remaja mungkin berdampak pada kualitas tidur. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis hubungan antara stres akademik dan kualitas tidur remaja di  madrasah aliyah. Penelitian ini menerapkan rancangan cross-sectional yang melibatkan 91 remaja di Madrasah Aliyah Negeri 2 Pontianak, yang dipilih menggunakan stratified random sampling. Stres akademik dan kualitas tidur remaja diukur menggunakan kuesioner yaitu Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk kualitas tidur dan Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) untuk stres akademik. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p adalah 0,020 (ada korelasi secara signifikan) dan nilai r adalah 0,244 (tingkat korelasi lemah). Dengan demikian disimpulkan bahwa stres akademik merupakan determinan bagi kualitas tidur remaja di Madrasah Aliyah Negeri 2 Pontianak.Kata kunci: remaja; stres akademik; kualitas tidur
Kompensasi, Burnout Syndrome dan Stres Kerja sebagai Determinan Kualitas Layanan Kebidanan di Rumah Sakit Musdalifah Musdalifah; Yenny Puspitasari; Joko Prasetyo
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 3 (2024): Juli-September 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15333

Abstract

Many factors affect the quality of health services by midwives in hospitals, including burnout syndrome, work stress and compensation. Therefore, it is necessary to conduct a study that aims to analyze the effect of burnout syndrome, work stress and compensation on the quality of health services by midwives in hospitals. The research design used in this study was cross-sectional. The subjects of this study were 102 midwives who worked at the Mokopido Regional General Hospital, Tolitoli Regency. which was determined by total sampling. The four variables were measured by filling out a questionnaire, which had been modified by the researcher based on several theories. Hypothesis testing was carried out using multiple linear regression analysis. The results of the analysis showed that the p value for each independent variable was burnout syndrome = 0.003, work stress = 0.010 and compensation = 0.000. Thus, it can be interpreted that the three variables affect the quality of health services. Referring to the order of significance values, it can be concluded that the determinants of the quality of health services by midwives at the Mokopido Regional General Hospital are compensation, burnout syndrome and work stress.Keywords: health services; midwives; quality; compensation; burnout syndrome; work stress ABSTRAK Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan oleh bidan di rumah sakit, termasuk di dalamnya adalah burnout syndrome, stres kerja dan kompensasi. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh burnout syndrome, stres kerja dan kompensasi terhadap kualitas pelayanan kesehatan oleh bidan di rumah sakit. Desain penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah cross-sectional. Subyek penelitian ini adalah 102 bidan yang bertugas ada di Rumah Sakit Umum Daerah Mokopido, Kabupaten Tolitoli. yang ditentukan secara total sampling. Keempat variabel diukur melalui pengisian kuesioner, yang telah dimodifikasi oleh peneliti berdasarkan beberapa teori. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p untuk masing-masing variabel bebas adalah burnout syndrome = 0,003, stres kerja = 0,010 dan kompensasi = 0,000. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa ketiga variabel tersebut berpengaruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan. Merujuk kepada urutan nilai signifikansi, maka dapat disimpulkan bahwa determinan dari kualitas pelayanan kesehatan oleh bidan di Rumah Sakit Uumum Daerah Mokopido adalah kompensasi, burnout syndrome dan stess kerja.Kata kunci: pelayanan kesehatan; bidan; kualitas;  kompensasi; burnout syndrome; stres kerja

Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025 Vol 16, No 3 (2025): Juli-September 2025 Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 (up coming) Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025 Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024 Vol 15, No 3 (2024): Juli-September 2024 Vol 15, No 2 (2024): April-Juni 2024 Vol 15, No 1 (2024): Januari-Maret 2024 2024 Vol 14, No 4 (2023): Oktober - Desember 2023 Vol 14, No 3 (2023): Juli - September 2023 Vol 14, No 2 (2023): April 2023 Vol 14, No 1 (2023): Januari 2023 2023 Vol 13, No 4 (2022): Oktober 2022 Vol 13, No 3 (2022): Juli 2022 Vol 13, No 2 (2022): April 2022 Vol 13, No 1 (2022): Januari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Februari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Januari 2021 2022 Vol 12, No 4 (2021): Oktober 2021 Vol 12, No 3 (2021): Juli 2021 Vol 12, No 2 (2021): April 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus April 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus November 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus Januari 2021 Vol 12, No 1 (2021): Januari Vol 11, No 3 (2020): Juli 2020 Vol 11, No 2 (2020): April 2020 Vol 11, No 1 (2020): Januari 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Mei-Juni 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Maret-April 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus November-Desember 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Januari-Februari 2020 Vol 11, No 4 (2020): Oktober Vol 10, No 4 (2019): Oktober 2019 Vol 10, No 3 (2019): Juli 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 1 (2019): Januari 2019 Vol 9, No 4 (2018): Oktober 2018 Vol 9, No 3 (2018): Juli 2018 Vol 9, No 2 (2018): April 2018 Vol 9, No 1 (2018): Januari 2018 Vol 8, No 4 (2017): Oktober 2017 Vol 8, No 3 (2017): Juli 2017 Vol 8, No 2 (2017): April 2017 Vol 8, No 1 (2017): Januari 2017 Vol 7, No 4 (2016): Oktober 2016 Vol 7, No 3 (2016): Juli 2016 Vol 7, No 2 (2016): April 2016 Vol 7, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 6 (2015): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional More Issue