cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2000): June 2000" : 26 Documents clear
RESPONS ALIRAN MASUK KE DANAU TOWUTI OLEH CURAH HUJAN DI WAWONDULA DAN SEKITARNYA DIANALISA DENGAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK Kudsy, Mahally; Husni, Mohamad
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.3 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2109

Abstract

Aliran masuk ke Danau Towuti, Kabupaten Luwu, Sulawesi Tengah, dianalisa dengan artificial neural network. Network mempunyai susunan yang terdiri dari 6 node pada layer input, 8 node pada hidden layer, dan 1 node pada layer output. Weight dari network dihitung dengan back propagation of error dan fungsi Sigmoid dipakai sebagai fungsi aktifasi. Dari analisa ditemukan bahwa curah aliran masuk (inflow) sangat dipengaruhioleh curah hujan di daerah-daerah Wawondula, Dam site, Timampu, Palumba, Loehadan Bantilang. Dari ke 6 derah tersebut, perubahan curah hujan di Wawondula mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap inflowArtificial neural network method was applied in analyses of inflow to Towuti Lake of LuwuRegency, Central Sulawesi. The network was constructed by 6, 8, 1 nodes in input, hidden and output layers. The weights were calculated using back propagation of error and Sigmoid function was used as activation function. It was found that precipitations at Wawondula, Dam site, Timampu, Palumba, Loeha and Bantilang have the strongest influence to the inflow. Of the 6 areas, the precipitation changes at Wawondula has thestrongest effect to the change of the inflow
TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA YANG EFEKTIF DAN EFISIEN Haryanto, Untung
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.691 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2100

Abstract

Terdapat beberapa tahapan klasik yang selalu dilakukan pada kegiatan penyemaian yang dilaksanakan oleh UPT Hujan Buatan yaitu penentuan waktu pelaksanaan, penyiapan bahan semai (termasuk di dalamnya adalah produksi, mobilisasi, dan mempertahankan ukuran atau packing,). Ketika sudah berada di lapangan pelaksana dihadapkan pada penentuan atau pemilihan awan yang disemai dan teknik penyebarannya, waktu dan lokasi penyemaian dalam kaitannya dengan obyek awan. Pada tahap akhir, kegiatan yang dilakukan berupa evaluasi, yang sementara ini baru menggunakan teknik statistik. Teknik evaluasi statistik yang digunakan terkadang tidak berhasil mendeteksi tambahan curah hujan baik pada jaringan penakar hujan ataupun tambahan inflow pada sistem catchment. Dari beberapa tahapan tersebut, beberapa diantaranya kerapkali dirasa sebagai kendala baik dari sisi pandang user maupun pelaksana karena tidak "efektif dan efisien". Salah satu hal yang sering dipersalahkanadalah cuaca : angin yang kuat, tidak ada awan potensial. Dari tinjauan proses hujanyang terjadi di dalam awan, dasar ilmiah manipulasi proses, dan dipadukan denganstatus teknologi modifikasi cuaca yang dilaksanakan beberapa tempat di dunia hinggatahun 1999, disimpulkan bahwa teknologi modifikasi cuaca yang efektif dan efisien dapat dicapai melalui dua pendekatan yaitu pertama menjadikan teknologi modifikasi cuaca sebagai bagian integral pengelolaan sumberdaya air, dan kedua menerapkan pemakaian "new cloud seeding device", serta pemakaian sarana yang sesuai untuk kebutuhan operasional.There were some classical operational steps on each cloud seeding operational carriedout by UPT Hujan Buatan that was determine the initial of operatianal day, preparing and handling seeding agent, and the last was overall evaluation. During the opereational day, incharge person on the field should be decided when he must seed and where, which cloud to be choosed, and how much seeding agent must be injected into the cloud on the right time and the right place. Some time, the evaluation based on statistical could not detect the additioal rainfall or river disharge on catchment. Some of those steps looks like in view of user or operator as costraint because its inefective and ineficient. The frequent of unfavourable weather and strong wind during operational day caused the absence of potential cloud. Base on rain process knowledge and its manipulation it was concluded that an efective and eficient cloud seeding operatioanal could be reached by two aproached that is firstly: carried out the cloud seeding operational as an integral part of water resources management, and secondly : by using a "new cloud seeding device", and using the proper tools and equipment for operational.
AWAN HUJAN DI SERPONG : PENGAMATAN DENGAN BOUNDARY LAYER RADAR Renggono, Findy
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.861 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2105

Abstract

Kebanyakan kejadian hujan di Serpong, Indonesia (6.4°S, 106.7°E) terjadi setelah lewat tengah hari, walaupun demikian hasil pengamatan dengan penakar hujan otomatis selama 6 tahun menunjukkan adanya puncak hujan di pagi hari. Dari struktur awannyayang dipantau oleh BLR menunjukkan bahwa awan di pagi hari yang muncul adalahkebanyakan dari jenis awan Stratiform. Pada tulisan ini akan disajikan kajian statistik dari jenis awan yang muncul di wilayah ini.Most of the precipitation in Serpong (6.4°S, 106.7°E), Indonesia were occurred in the afternoon, however from the 6 years observation by using automatic rain gauge shows another peak of precipitation in the morning. In this paper, the vertical structure of theprecipitating cloud appeared in this area will be analyzed statistically using the data from Boundary Layer Radar (BLR) observation. The result shows that for the morning precipitation, the occurrence of the stratiform-type clouds were dominant.
PENGAMATAN JANGKA PANJANG KONDISI AIR DANAU TOWUTI Tauhid, Yudi Iman; Arifian, Jon
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.469 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2110

Abstract

Dalam tulisan ini, dikemukakan kajian awal mengenai kondisi air Danau Towuti berkenaan dengan turunnya duga muka air (DMA) secara drastis. Dengan menggunakan data harian dari 13 tahun pengamatan seperti curah hujan, duga muka air dan out flow, kemudian dihitung kesetimbangan air daerah aliran danaunya. Hasil-hasil pengamatan secara tahunan adalah, curah hujan = 2982 mm, in flow = 1821 mm, out flow = 1829 mm, penguapan = 1185 mm dan perubahan storage = - 24 mm.In this paper, a preliminary assessment of Lake Towuti water condition is outlined due to the water level is decreased drastically in recent time. Using the daily data from 13 yearsobservation such as rainfall, water level and out flow, then each component of the catchment water balance is calculted. The results of observation for annual values are, rainfall = 2982 mm, in flow = 1821 mm, out flow = 1829 mm, evaporation = 1185 mm and delta storage = - 24 mm.
PERANAN BAHAN SEMAI HIGROSKOPIS DALAM PENYEMAIAN AWAN Seto, Tri Handoko
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.285 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2101

Abstract

Dalam setiap kegiatan penyemaian awan, faktor yang sangat menentukan adalahpenggunaan bahan semai. Berbagai jenis bahan semai telah dibuat untuk keperluan ini. Akan tetapi secara mendasar terdapat dua jenis bahan semai, yaitu bahan semaihigorskopis untuk penyemaian awan panas dan bahan semai inti es yang digunakandalam penyemaian awan dingin. Bahan semai higroskopis banyak digunakan di daerahtropis sedangkan bahan semai inti es bayak digunakan di daerah lintang tinggi sesuaidengan karakteristik awan yang biasa tumbuh di masing-masing daerah tersebut. Tulisan ini mengkaji peranan atau kinerja bahan semai higroskopis dalam awan panas. Kajianliteratur ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi berbagai pengambilan keputusan atau kebijakan yang berkaitan dengan penyemaian awan panas.The main factor on every cloud seeding activity is seeding agent. Many kinds of seeding agent were produced for this need, but basically there are two kinds of seeding agent: hygroscopic seeding agent for warm cloud seeding activity and ice nuclei seeding agent for cold cloud seeding activity. Hygroscopic seeding agent has been using mostly in tropic region and ice nuclei has been using mostly in high latitude region because of cloud characteristic that usually grow on that regions. This article assesses how hygroscopic seeding agent works in warm cloud. Hopefully, this literature assessment can be used to be a reference to make decisions in conducting warm cloud seeding activity.
MENGAPA HANYA SEDIKIT AWAN KONVEKTIF YANG TUMBUH DI ATAS DAERAH BANDUNG PADA PERIODE 10 DESEMBER 1999 S.D 04 JANUARI 2000? Seto, Tri Handoko
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.972 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2106

Abstract

Dalam rangka mengembangkan kemampuannya secara ekstensif, Unit Pelaksana TeknisHujan Buatan BPPT melakukan penelitian teknologi modifikasi cuaca untuk antisipasibanjir. Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu musim basah (10 Desember s.d. 04 Januari 2000) di Bandung Jawa Barat dengan harapan dapat diperoleh data yang cukup banyak mengingat setiap data harus memenuhi criteria adanya awan konvektif dengan syarat-syarat tertentu. Akan tetapi dalam kenyataannya, dari 25 hari kerja efektif hanya diperoleh 6 (enam) data yang berarti hanya ada 6 (enam) hari yang dijumpai adanya pertumbuhan awan yang konvektif sesuai persyaratan minimal. Hal ini tentu menjadi pertanyaan yang perlu dijawab secara saintifik. Berdasarkan kajian data meteorologi secara Synoptic nampak bahwa sebenarnya massa udara yang masuk kedaerah target adalah massa udara basah setelah sebelumnya melewati Samudera Hindia. Massa udara ini memasuki wilayah Indonesia dengan membentuk konvergensi untuk kemudian bergerak menuju tekanan rendah di Utara dan Selatan Wilayah Indonesia. Awan-awan konvektif tumbuh didaerah target ketika terdapat depresi-depresi kecil disekitar Pulau Jawa.To develop its technology capability extensively, weather Modification Technical Service Unit (UPT Hujan Buatan) BPPT has done weather modification research forflood anticipation. This research was done on the wet season (December 10 1999 until January 04 2000) in Bandung West Java with hopefully that it be able to be gotten many data because every data has to require criteria existence of convective clouds with many requirements. But in the fact, from 25 effective days, there was only 6 (six) days that were met convective cloud growth according to minimum requirements. The question is what happened at that period? This article tries to answer that question scientifically. Synoptic meteorological data shown that wet air mass come into target area after blow through Hindia Ocean. Those wet air masses come into Indonesia region and form convergence and than blow to low pressure in both of North and South of Indonesia region. Convective clouds grew on the target when there were little depressions around Java Island.
ANALISIS DEBIT DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BATANGHARI PROPINSI JAMBI Tikno, Sunu
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.542 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2111

Abstract

Ketersediaan data debit (aliran sungai) di setiap wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah sangat penting bagi kegiatan program perencanaan dan pengembangan sumberdaya air. DAS Batanghari yang yang terletak di Propinsi Jambi, dengan luas total4,537,881 Ha, yang terbagi menjadi 6 (enam) Sub DAS yaitu: Batanghari Hulu; BatangTebo; Batang Tabir; Batang Sumai; Batang Merangin-Tembesi dan Batanghari Hilir dimana secara keseluruhan mempunyai potensi sumberdaya air yang cukup tinggi.Dalam analisis debit ini menggunakan dua pendekatan yaitu : analisis debit rerata bulanan dan analisis kurva duration debit (discharge duration curve). Hasil analisis kurva duration debit untuk estimasi debit andalan (probability 80%) di beberapa Sub DAS adalah sebagai berikut: Batang Tebo sebesar 60 m3/det; Batang Tabir sebesar 27 m3/det; Merangin Tembesi sebesar 53 m3/det dan Batanghari Hilir-Muara Tembesi sebesar 1000m3/det.Availability of discharge (stream flow) data at any region or catchment area were veryimportant for development and planning of water resources program. Batanghari catchment area which consist of 6 sub catchment area i.e. Batanghari Hulu, BatangTebo, Batang Tabir, Batang Sumai, Batang Merangin Tembesi and Batanghari Hilir andtotal cathment area was 4.537.881 Ha. Discharge analysis within Batanghari catchmentarea was conducted consist two of part analysis i.e. monthly average discharge and duration curve of discharge. Result of duration curve analysis for mainstay discharge(80% probability) for several sub catchment area i.e. Batang Tebo: 60 m3/sec.; BatangTabir: 27 m3/sec.; Merangin Tembesi: 53 m3/sec. and Batanghari Hilir-Muara Tembesi:1000 m3/sec.
HUJAN ES (HAIL) DI JAKARTA, 20 APRIL 2000 Karmini, Mimin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.408 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2102

Abstract

Hujan es sudah terjadi beberapa kali di Jakarta. Hujan es terjadi lagi di Jakarta Pusat(sekitar Jl. Thamrin) pada tanggal 20 April 2000 pukul 15:15 wib. Kejadian ini seperti taklazim terjadi di Jakarta mengingat Jakarta terletak di wilayah equator. Selain itu, hail sangat jarang terjadi meskipun kilat (badai guntur) sering terjadi di Indonesia. Tulisan iniakan menjelaskan mekanisme terbentuknya hujan es (hail) dalam awan badai, bagaimana hujan es dapat terjadi di Jakarta, dan analisa kondisi cuaca yang mendukung terjadinya hujan es di Jakarta pada tanggal 20 April 2000.Hail has occurred several times in Jakarta. Hail taken place again in Central Jakarta (Jl.Thamrin and vicinity) on 20 April 2000 at 15:15 Western Indonesia Standard Time. It seems unusual event that hail occurs in Jakarta considering that Jakarta is located within equatorial belt. Moreover, hail is hardly to come about even lightnings (thunderstorms)are frequently to occur in Indonesia. This paper will describe the mechanism of hail formation within cloud, how hail could occur in Jakarta, and weather condition analysis that supports hail incidence in Jakarta on 20 April 2000.
PERCOBAAN MENJALANKAN REGIONAL SPECTRAL MODEL (RSM) DAN VALIDASINYA BAGI DAERAH PANTURA 21 DAN 22 DESEMBER 1998 Kudsy, Mahally; Goenawan, R. Djoko
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.929 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2107

Abstract

Paper ini membahas hasil-hasil dari percobaan menjalankan Regional Spectral Model(RSM) menggunakan data ECHAM. Percobaan menjalankan RSM dilakukan untuk simulasi kondisi cuaca tanggal 21 dan 22 Desember 1998 dan hasilnya dibandingkan dengan kondisi cuaca yang actual. Percobaan dilakukan dengan menggunakan interval 6 jam. RSM mampu membuat prediksi 1-3 bulan kedepan. Luaran dari model untuk area tertentu telah dianalisa dan dikalibrasi dengan menggunakan data satelit dan synop, sementara hubungan dari luaran telah dianalisa secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisa menunjukkan bahwa prediksi seperti tutupan awan, curah hujan, gerakan ke atas dan surface lifted index sesuai dengan nilai aktual.This paper discusses about the results of experimental run of the Regional Spectral Model (RSM) using the ECHAM data. The run was made to simulate conditions of 21 and 22 December 1998 and the results were compared with the actual condition. The run was made by using 6-hour intervals. The RSM is capable to make 1 to 3-month forecasts. The output of this model for the selected area were analysed and calibrated using satellite and synoptic data, while the relationship of the output was qualitatively and quantitatively analized. The analyses revealed that the results of predictions such as cloud coverage, rainfall, upmotion and the surface lifted index were in accordance to the actual values.
PARAMETERIZATION OF SURFACE MOMENTUM FLUX DURING CONVECTIVE CONDITIONS Santoso, Edi
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.479 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2103

Abstract

Parameterization of surface momentum flux estimates near-surface turbulent momentum fluxes from differences of mean wind speeds between the surface skin and the mid-mixed layer (ML). The rate of this turbulent transport is proportional to the product of a convective velocity times an empirical transport coefficient. To further investigate parameterization of surface momentum flux, some topics are discussed. New data from three different sites within Boundary Layer Experiment - 1996 (BLX96) are presented, and used to evaluate surface momentum flux parameterization. Old data from three other field programs (BLX83, Koorin, and TOGA-COARE) are re-analyzed to test this parameterization. Evidence from virtually all of these experiments indicates that the empirical transport coefficients for momentum fluxes depend on surface roughness.Fluks momentum turbulen dekat permukaan dapat diestimasi dari selisih antara kecepatan angin di batas permukaan (surface skin) dan di bagian tengah lapisan tercampur (mid-mixed layer). Kecepatan dari transpor turbulen ini sebanding dengan perkalian antara koefisien empiris transpor dengan kecepatan konvektif. Untuk pengamatan lebih lanjut akan didiskusikan beberapa hal. Data baru dari hasil pengukuran BLX96 pada 3 lokasi yang berbeda akan digunakan untuk mengevaluasi parameterisasi ini. Sementara data yang diperoleh dari yang pernah dilakukan sebelumnya (BLX83, Koorin, and TOGA-COARE) digunakan untuk menguji hasil parameterisasi ini. Hasil yang diperoleh mengindikasikan bahwa koefisien empiris transpor untuk fluks momentum tergantung pada kekasaran permukaan (surface roughness).

Page 1 of 3 | Total Record : 26


Filter by Year

2000 2000


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 2 (2022): December 2022 Vol. 23 No. 1 (2022): June 2022 Vol. 22 No. 2 (2021): December 2021 Vol. 22 No. 1 (2021): June 2021 Vol. 21 No. 2 (2020): December 2020 Vol. 21 No. 1 (2020): June 2020 Vol 20, No 2 (2019): December 2019 Vol. 20 No. 2 (2019): December 2019 Vol. 20 No. 1 (2019): June 2019 Vol 20, No 1 (2019): June 2019 Vol 19, No 2 (2018): December 2018 Vol. 19 No. 2 (2018): December 2018 Vol 19, No 1 (2018): June 2018 Vol. 19 No. 1 (2018): June 2018 Vol 19, No 1 (2018): June 2018 Vol 19, No 2 (2018) Vol. 18 No. 2 (2017): December 2017 Vol 18, No 2 (2017): December 2017 Vol 18, No 2 (2017): December 2017 Vol. 18 No. 1 (2017): June 2017 Vol 18, No 1 (2017): June 2017 Vol 18, No 1 (2017): June 2017 Vol. 17 No. 2 (2016): December 2016 Vol 17, No 2 (2016): December 2016 Vol 17, No 2 (2016): December 2016 Vol 17, No 1 (2016): June 2016 Vol 17, No 1 (2016): June 2016 Vol. 17 No. 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 2 (2015): December 2015 Vol. 16 No. 2 (2015): December 2015 Vol 16, No 2 (2015): December 2015 Vol 16, No 1 (2015): June 2015 Vol. 16 No. 1 (2015): June 2015 Vol 16, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 2 (2014): December 2014 Vol 15, No 2 (2014): December 2014 Vol. 15 No. 2 (2014): December 2014 Vol 15, No 1 (2014): June 2014 Vol. 15 No. 1 (2014): June 2014 Vol 15, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 2 (2013): December 2013 Vol. 14 No. 2 (2013): December 2013 Vol 14, No 2 (2013): December 2013 Vol 14, No 1 (2013): June 2013 Vol. 14 No. 1 (2013): June 2013 Vol 14, No 1 (2013): June 2013 Vol. 13 No. 2 (2012): December 2012 Vol 13, No 2 (2012): December 2012 Vol 13, No 2 (2012): December 2012 Vol 13, No 1 (2012): June 2012 Vol 13, No 1 (2012): June 2012 Vol. 13 No. 1 (2012): June 2012 Vol. 12 No. 2 (2011): December 2011 Vol 12, No 2 (2011): December 2011 Vol 12, No 2 (2011): December 2011 Vol 12, No 1 (2011): June 2011 Vol 12, No 1 (2011): June 2011 Vol. 12 No. 1 (2011): June 2011 Vol. 11 No. 2 (2010): December 2010 Vol 11, No 2 (2010): December 2010 Vol 11, No 2 (2010): December 2010 Vol 11, No 1 (2010): June 2010 Vol 11, No 1 (2010): June 2010 Vol. 11 No. 1 (2010): June 2010 Vol 3, No 2 (2002): December 2002 Vol 3, No 2 (2002): December 2002 Vol. 3 No. 2 (2002): December 2002 Vol. 3 No. 1 (2002): June 2002 Vol 3, No 1 (2002): June 2002 Vol 3, No 1 (2002): June 2002 Vol 2, No 1 (2001): June 2001 Vol 2, No 1 (2001): June 2001 Vol. 2 No. 1 (2001): June 2001 Vol 1, No 2 (2000): December 2000 Vol 1, No 2 (2000): December 2000 Vol. 1 No. 2 (2000): December 2000 Vol. 1 No. 1 (2000): June 2000 Vol 1, No 1 (2000): June 2000 Vol 1, No 1 (2000): June 2000 More Issue