Articles
24 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2, No 1 (2001): June 2001"
:
24 Documents
clear
EKSPERIMENTASI PRAKIRAAN DEBIT ALIRAN (INFLOW) DENGAN MODEL ARIMA DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA SEBAGAI METODE ALTERNATIF UNTUK EVALUASI MODIFIKASI CUACA (Kasus : Inflow Waduk Saguling)
Tikno, Sunu
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (610.181 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2146
Box dan Jenkins (1976) telah mengembangkan model time series yang dikenal sebagaiARIMA. Tujuan penelitian ini adalah melakukan kajian penggunaan model ARIMA untuk memprakiraan inflow bulanan dan kemungkinan penerapannya untuk evaluasi Modifikasi Cuaca. Data inflow bulanan waduk Saguling periode 1986 â 1996 digunakan untuk identifikasi dan estimasi parameter/koefisien model, sedangkan data tahun 1997-2000 digunakan untuk pengujian hasil model. Dari hasil kajian diketahui bahwa data time series tidak stasioner dan menunjukkan adanya pola musiman dengan panjang musim 12 bulan. Untuk mencapai data time series yang stasioner pertama kali dilakukan transformasi data asli ke nilai logaritmik, kemudian dilanjutkan dengan pembedaan pertama tidak musiman dan musiman (d=1) dan (D=1) . Perhitungan koefisien model dilakukan dengan menggunakan paket software STATISTICA/w.5.0 dengan hasil sebagai berikut: (p=0.5722);(q = 0.9565); (Ps = 0.0944) dan (Qs = 0.8105). Hasil pembandingan antara keluaran model dengan data aktual memberikan hasil baik. Hal ini berarti model ARIMA (1,1,1)(1,1,1)12 layak untuk memprakirakan inflow bulanan Waduk Saguling.Box and Jenskins (1976) have developed time series model used in forecasting, namelyARIMA. The aim of this research is to study the use of ARIMA model to forecast monthlyinflow and the possibility of its application for Weather Modification evaluation Monthly inflow data from Saguling dam during 1986 - 1996 has been used to identity and estimate parameter or coefficient of model and data 1997 - 2000 was used for fitting test model. Result of study is known that pattern of time series data is non-stationery and there is seasonal pattern with period 12 month. In order to reach stationery data, firstly we transform the original data to logarithmic value. And from logarithmic value series data we did next transformation to non-seasonal and seasonal differencing order one (d=1) and (D=1). Coefficients model are calculated by using STATISTICA/w.5.0 and the coefficients value are : (p=0.5722);(q = 0.9565); (Ps = 0.0944) and (Qs = 0.8105) Comparing forecast model and actual data it gives goods result. Therefore the model ARIMA (1,1,1)(1,1,1) is appropriate to forecast the monthly inflow of Saguling dam.
KAJIAN SEEDING DAN HUJAN DI DAS BRANTAS Bagian Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca Di Sub DAS Kali Brantas
Husni, Mohamad
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (34.784 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2151
Arah dan kecepatan angin selain berpengaruh terhadap pergerakan dan perkembangan awan, juga berpengaruh terhadap pergerakan masa udara di daerah sasaran dan sekitarnya. Kondisi kecepatan angin yang tinggi akan menyebabkan bergeraknya awan potensial di dalam target ke luar target. Atau dapat dikatakan dengan kecepatan angin yang tinggi di dalam target akan memperkecil jumlah hujan. Tulisan ini mengkaji kejadian hujan berkaitan dengan arah dan kecepatan angin yang terjadi selama penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca di Sub DAS Kali Brantas bulan Jan â Peb 1998.Wind direction and velocity influenced cloud movement and development as well as air mass movement in target area and its surrounding. High wind velocity results in the movement or escape of potential cloud from the target erea. In other words high wind velocity in target area decreases precipitation amount. This paper discusses the relationship between precipitation occurrence and wind direction and velocity during the cloud seeding activity in Brantas Catchment Area in January â February 1998
PEMBAGIAN IKLIM INDONESIA BERDASARKAN POLA CURAH HUJAN DENGAN METODA âDOUBLE CORRELATIONâ
Aldrian, Edvin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (594.596 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2142
Pembagian wilayah atau region iklim Indonesia berdasarkan pola curah hujan tahunandibahas disini. Sebuah metoda yang dinamakan metoda âdouble correlationâ diperkenalkan untuk tujuan di atas. Dengan metoda regionalisasi yang dipakai dihasilkan tiga region iklim berdasarkan pola curah hujan tahunan. Region pertama adalah region A yang terletak di wilayah selatan Indonesia yang disebut region monsun Australia karena region ini lebih banyak dipengaruhi oleh monsun Australia. Region kedua adalah region B di wilayah barat laut Indonesia, yang disebut sebagai region monsun passat tenggara karena dipengaruhi oleh monsun ini. Region terakhir adalah region C atau region arus lintas laut Indonesia (arlindo) karena terletak pada daerah aliran arlindo. Pola hasil dari regionalisasi ini dibandingkan dengan pola pada region yang sama pada keluaran model reanalisa ECMWF dan ECHAM.A regionalization of Indonesian climate based on its annual rainfall patterns has been done. A new method called the âdouble correlation methodâ was introduced and used for such purpose. With this regionalization method there are three climate regions based on their annual rainfall patterns. The first region or region A lies in south Indonesia and is called the Australian monsoon region because it is much affected by the Australian monsoon. The second region or region B lies in northwest Indonesia, which is called as the NE Passat region because it is much affected by that monsoon. The last region or region C lies over the Indonesian Throughflow and is called as the Indonesian Throughflow region. Patterns resulted from this regionalization method are compared to those of their corresponding regions from the output of ECMWF reanalysis and a Global Circulation Model ECHAM.
ANALISIS HIDROGRAF SATUAN SINTETIK METODE SNYDER, CLARK DAN SCS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL HEC-1 DI DAS CILIWUNG HULU
Nugroho, Sutopo Purwo
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (57.542 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2147
Analisis hidrograf satuan sintetik berdasarkan metode Snyder, Clark, dan SCS pada suatu DAS dapat dilakukan dengan menggunakan model HEC-1. Model HEC-1 merupakan paket model hidrologi yang cukup terkenal yang dapat digunakan untuk mensimulasi aliran permukaan sebagai respon hujan tunggal yang terjadi pada suatu DAS. Metode SCS mempunyai Qp, Tp dan tebal DRO yang lebih besar daripada pengamatan. Sedangkan metode Snyder dan Clark, nilai Qp lebih kecil dibandingkan dengan Qp pengamatan, namun waktu puncaknya lebih besar.Synthetic unit hydrographs analysis of a watershed based on Snyder, Clark, and SCS methods can be done by utilizing HEC-1 model. The HEC-1 model is a package of hydrological model that has been adequate known to simulate runoff as a response of a rainfall event on a watershed. SCS method predicts Qp, Tp and DRO depth higher than the observations. Meanwhile, Snyder and Clark methods predict smaller Qp, but higher time of peak.
NOTE AND CORRESPONDENCE TANGGAPAN TERHADAP TULISAN REANALISIS KONDISI ATMOSFER UNTUK DEKLARASI FAVOURABLE-DAY
Widodo, F Heru;
Nuryanto, Satyo
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (190.8 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2152
Keputusan âfavourable dayâ pada tanggal 18 Desember 1999, berdasarkan hasil analisiswahana radiosonde dan sinop/satelit yang menyatakan favourable day meskipun wahana cuaca permukaan dan pibal menyatakan unfavourable day. Keputusan ini sesuai dengan desain penelitian. Hasil survey dengan pesawat yang dilengkapi dengan pengukuran LWC menunjukan bahwa kondisi cuaca mendukung terbentuknya awan cumulus kongestus dengan nilai LWC memenuhi kriteria desain penelitian. Dengan dasar ini amplop (untuk randomized seeding) dibuka dan menyatakan âSEEDâ (dilakukanpenyemaian), maka dilakukan penyebaran bahan semai di dalam awan. Karena prosedur sudah mengikuti desain penelitian, maka data sampel semai pada tanggal 18 Desember 1999 sah dan tidak bisa digugurkan atau dikeluarkan dari set data semai. Reanalisis kondisi cuaca dalam kasus ini tidak dapat dipakai untuk menggugurkan data semai tapi untuk mengevaluasi keakuratan analisis kondisi cuaca sebelumnya.Decision of âfavourable dayâ on 18 December 1999 was based on the result of dataanalyses of radiosonde and synoptic weather/satellite imageries which stated that theday was favourable to find cumulus congestus development over study area, even dataanalyses of surface weather and winds data said unfavourable day. The decision met the criteria of the research design. Morover, survey using aircraft indicated that LWC wasalso met the criteria. Based on these assessments, the randomized seeding was carriedout and the envelope said to be seeded, therefore seeding was done. Becauseprocedures to carry out randomized seeding met the reaserch design, data of randomized seeding on 18 December 1999 was valid and should not be exluded fromdata set. In this case, weather condition reanalyses should not be utilized to drop databut to weigh up the precision of weather condition analysis.
VALIDASI PREDIKSI RATA-RATA CURAH HUJAN HASIL REGIONAL SPECTRAL MODEL (Studi Kasus di Jawa Barat, Bulan Desember 1998)
Kudsy, Mahally;
Nugroho, Sutopo Purwo
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (36.618 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2143
Validasi Model Spektral Regional dilakukan dengan membandingkan hasil prakiraandengan data aktual. Model dijalankan untuk membuat simulasi curah hujan untuk periode dari 9 sampai 15 Desember 1998. Data curah hujan diperoleh dari 55 lokasi penakar hujan yang tersebar di daerah Jawa Barat. Nilai curah hujan menurut model di lokasi penakar hujan diperoleh dari interpolasi isohyet yang menggambarkan curah hujan menurut luaran model. Studi ini menunjukkan bahwa nilai curah hujan lokai tidak dapat diprediksi dengan mudah dengan menggunakan RSM. Curah hujan rata-rata wilayah berdasarkan luaran RSM mempunyai penyimpangan â2 sampai 150% terhadap nilai pengamatan. Dari studi ini ditemukan bahwa ketelitian prakiraan semakin baik bila waktu prakiraan lebih panjang. Prakiraan yang terbaik diperoleh bila waktu prakiraan adalah 7 hari ke depan dengan penyimpangan â2.1%Validation of Regional Spectral Model was carried out by comparing the results of rainfall prediction with actual data. The model was run to simulate rainfall for one week period of December 9 to 15, 1998. The rainfall data from the sama period was obtained from 55 raingauge stations in West Jawa. The predicted values of preciptation in the gauge location obtained by interpolation from isohyet were then compared to the actual values. This study showed that local precipitation can not be predicted easily using RSM. The predicted values of the average local precipitation deviated from the Ukurerved value by about -2 to 150%. It is found that the accuracy of the prediction is better for longer prediction time. The best prediction was obtained for 7 day-lead with deviation of -2.1% from the observed value.
ANALISIS TINGKAT HIGROSKOPISITAS DAN UKURAN PARTIKEL YANG DIHASILKAN DARI PEMBAKARAN FLARE DENGAN 14 MACAM KOMPOSISI BERBEDA UNTUK DIPILIH DAN DIGUNAKAN PADA CLOUD BASE SEEDING DI SOROAKO
Haryanto, Untung;
Sarwono, P Sudibyo;
Shanty, Shanty
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (86.14 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2148
Telah dilakukan analisis komposisi asap flare higroskopik yang dibuat dengan 14macam komposisi berbeda menggunakan kaskad impaktor. Flare dengan karakteristikdiameter dominan (21.48 %) 15.7 mikron dan coefisien higroskopik tinggi dipilih dandibuat sebanyak 220 batang untuk eksperimen cloud base seeding di Soroako padabulan Mei 2000. Koefisien higroskopisitas dan diameter dominan sekitar 15 mikrondigunakan sebagai dasar pemilihannya.Laboratory analysis was carried out to analyze size and hygroscopicity particle producedby smoke burning of hygroscopic pyrotechnics flare using cascade impactor of 14different compositions. Flare that has dominant size particles of about 15.7 micron indiameter (21.48 %) and coefficient hygroscopicity of 0.96 was selected for field experiment. 220 flares were assembled to be used at field cloud base seedingexperiment in Soroako in May 2000.
EVALUASI HASIL PENELITIAN PENGUJIAN EFEK BAHAN SEMAI CaO UNTUK MENGURANGI CURAH HUJAN DI DAS SAGULING JAWA BARAT TAHUN ANGGARAN 1999/2000 - 2000
Widodo, F Heru
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (311.593 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2144
UPT Hujan Buatan telah melakukan penelitian pembuyaran awan dengan bahan semaiCaO sejak tahun 1999. Sampel data yang dikumpulkan hanya untuk kondisi cuaca yangmendukung terbentuknya awan potensial. Hari-hari untuk dilakukan semai dan tidaksemai ditentukan dengan metode random. Walaupun kesimpulan sementara daripenelitian ini belum final, pengujian statistik dengan Metode Wilcoxson-Mann-Whitneysementara ini menunjukkan bahwa injeksi kapor tohor kedalam awan tidak memberikanefek terhadap eksistensi awan, dan curah hujan wilayah saat dilakukan semai tidak bedanyata dengan curah hujan wilayah ketika tidak dilakukan semai.Weather Modification Technical Service Unit (UPT Hujan Buatan) was conductedexperiments of cloud dispersal using quick lime (CaO) since 1999. Samples data werecollected only during favorable days. Seeded days or unseeded days were decidedrandomly. Although the conclusion not final yet, statistical test of Wilcoxson-Mann-Whitney method indicated that injection of Calcium Oxide (CaO) on cloud didnât have anysignificant effect on cloud dispersal and rainfall data during seeding days were notdifferent significantly from that during unseeding days
PREDIKSI KEKERINGAN PENGARUH EL NINO TAHUN 2001-2002 DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA UNTUK MENGANTISIPASINYA
Nugroho, Sutopo Purwo
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (264.704 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2149
El Nino diperkirakan akan terjadi kembali pada akhir tahun 2001 hingga 2002. Akibatnya beberapa wilayah Indonesia akan mengalami kekeringan sehingga kondisi air semakin berkurang ketersediaannya. Adanya kekeringan dapat menyebabkan penurunan produksi pertanian, kebakaran hutan, krisis air, dan penurunan pendapatan petani di beberapa wilayah serta timbulnya masalah-masalah sosial dan ekonomi di masyarakat. Untuk mengatasi kekeringan dan menambah ketersediaan air, maka dapat diterapkan teknologi hujan buatan. Teknologi hujan buatan dapat meningkatkan curah hujan dan debit aliran sehingga cadangan air bertambah.El Nino is predicted to return at the end of 2001 or later. As a consequence some areas in Indonesia might experience drought that will jeopardize the water availability. This drought could cause declining agriculture production, forest fire, water crisis, and other economic social costs. Rain enhancement technology can be applied to overcome this water storage. The rain enhancement technology could enhance rainfall and increaserunoff, therefore, water availability will increase.
SURFACE FLUX â WIND PROFILE RELATIONSHIP IN CONVECTIVE CONDIT IONS: A NEW RESULT
Santoso, Edi
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (483.58 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2145
A new improved flux â profile relationship for winds in convective conditions isconstructed from convective transport theory and radix layer theory. Data from theMinnesota field experiment are used to recalibrate the new parameterization andsimilarity equation, and data from BLX96 are used to determine whether radix layerwind profile depends on surface conditions such as roughness. The results arecompared against independent data collected during the Koorin field campaign. Theflux-profile relationship for wind speed is dependent on a wide-range of scales ofterrain roughness. First the ML transport coefficient for momentum flux C* D dependson small-scale roughness elements as affect the aerodynamic roughness length zo .Second, shape parameter D M depends on resolvable-scale topographic variations asaffect the standard deviation of terrain elevation Ïz . Such dependence over the widerange of scales should be expected because the radix layer profile equations weredesigned and calibrated as the average over a heterogeneous region, rather thanbeing for one column over a single land use.Sebuah persamaan baru keterkaitan antara fluks dan profil untuk angin pada kondisikonvektif dibangun dari teori transpor konvektif dan teori lapisan radix. Data darieksperimen lapangan di Minnesota digunakan untuk kalibrasi ulang. Data eksperimenlapangan BLX96 digunakan untuk menguji kebergantungan profil angin pada kondisipermukaan. Data ekperimen lapangan di Koorin digunakan untuk pembanding.Persamaan keterkaitan antara fluks dan profil untuk angin bergantung pada berbagaiskala kekasaran permukaan. Pertama, koefisien transpor untuk fluks momentumbergantung pada elemen kekasaran permukaan skala kecil. Kedua, parameter bentukprofil bergantung pada variasi berskala topografi. Kebergantung pada berbagai skalaseperti ini adalah konsekuensi logis dari persamaan profil di lapisan radix yangdidesain dan dikalibrasi menggunakan eksperimental data yang mengakomodasipengaruh berbagai skala.