cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 19, No 1 (2013)" : 11 Documents clear
CURCUMA HARVEST ESTIMATION USING GEOSPATIAL INFORMATION Sunarto, Kris
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.166

Abstract

Temulawak or Curcuma (Curcuma xanthorrhiza) is one of prominent herbal medicine that needs to be researchedanddeveloped tomeetboth domestic andexport needs. The development of Curcuma as an agricultural commodity can be done inless fertilelandwith less shade. Curcumais actually among importance herbal medicine commodities; however its price is notstable even considered very low, resulted in a hesitantfor farmersto grow it. Therefore, harvest volume needs to be controlled to anticipate demand at a good price. Habitatof curcuma plantand its productionestimationof a particular area canbe assessedusing geospatial data andinformation. The purposeof this research is tofind out how muchis the optimalpost-harvestproductioninthe studyarea. Method used to obtain the estimationforoptimumposition in this researchis amediummulti-sample value. The result showed that based on demonstration plot (“demplot”), the optimum harvest is15.8 tons/hectare/year. Meanwhile, based on classification of land suitability map and the farmer’s capacity, it was estimated that the harvest yielded at the study area was 94.284 tons wet harvest for 5.967 hectares. Keywords: Geospatial Information, Curcuma, Herbal Medicine,Optimum Harvest.  ABSTRAK Temulawak atau “Curcuma”(Curcuma xanthorrhiza) merupakan obat herbal yang perlu diteliti dan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor. Sebagai komoditas pertanian, budidaya temulawak dapat dilakukan di lahan yang kurang subur dengan sedikit naungan. Temulawak sebagai komoditas dibutuhkan, tetapi harga tidak selalu stabil, bahkan terlalu murah, sehingga menyebabkan petani enggan untuk menanamnya.Untuk itu, volume panen harus dikendalikan untuk mendapatkan permintaan pasar dengan harga yang baik. Habitat tanaman dan perkiraan produksi dapat dianalisis menggunakan data dan informasi geospasial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar produksi pasca panen yang optimal pada area penelitian. Metode yang digunakan untuk mendapatkan perkiraan pada posisi optimal adalah menggunakan hasil multi sampel media. Penelitian ini memperlihatkan bahwa berdasarkan demplot yang dihasilkan dari panen optimal adalah 15,8 ton/hektar/tahun. Sedangkan berdasarkan klasifikasi peta penggunaan lahan dan kemampuan petani, diperkirakan bahwa pada area penelitian menghasilkan 94,284 ton panen basah untuk 5,967 hektar lahan.Kata kunci: Informasi Geospatial, Temulawak, Obat Herbal, Panen Optimal.
POTENSI RISIKO BENCANA ALAM LONGSOR TERKAIT CUACA EKSTRIM DI KABUPATEN CIAMIS, JAWA BARAT Suriadi, A.B.; Riadi, Bambang
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.177 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.171

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini adalah bagian dari penelitian Variabilitas Iklim Ekstrem dan Potensi Kebencanaan di Jawa Barat Selatan. Sedikitnya ada lima bencana alam yang berkaitan dengan iklim ekstrim antara lain banjir, longsor, angin badai/puting beliung, gelombang ekstrim dan kekeringan panjang. Namun demikian, makalah ini hanya membahas masalah bencana longsor baik dari segi penyebab maupun potensi risiko yang diakibatkannya. Hasil penelitian ini adalah analisis data geospasial terkait bahaya longsor (hazard map) yaitu Peta Rawan Longsor, Peta Kerentanan Penduduk, Peta Kapasitas Penduduk, serta Peta Potensi Risiko Longsor yang disebut Peta Indeks Risiko Longsor. Untuk menghasilkan peta-peta tersebut dibutuhkan peta-peta tematik input yang diturunkan dari data geospasial lainnya, antara lain DEM SRTM, Citra Landsat, Peta Rupabumi Indonesia / peta topografi. Selain itu, pemetaan potensi risiko longsor ini juga menggunakan data statistik yaitu data Potensi Desa (PODES) 2008, dan informasi dari instansi lainnya (Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan BAPPEDA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir 50 % dari wilayah Kabupaten Ciamis termasuk rawan longsor. Berdasarkan peta Indeks Risiko Longsor yang dihasilkan sekitar 30 % dari wilayah Kabupaten Ciamis berada dalam area risiko tinggi sampai sangat tinggi.  Kata Kunci: Cuaca Ekstrim, Longsor, Indeks Risiko, Indeks Kerentanan, Indeks Kapasitas. ABSTRACT This research is part of research on Extreme Climate Variability and Potential Disaster in South West Java. There are at least five natural disasters related to extreme climate such as floods, landslides, storms, extreme waves and droughts. However, this paper is only discussed problem related to landslides in terms of both causes and its potential risks. The results of this study are analyses of geospatial data related to landslide hazards, those are landslide susceptibility map, map of population vulnerability to landslide, map of population capacity, as well as map of potential risks to landslides called Landslide Risk Index map. To produce these maps required thematic maps derived from other geospatial data, such as SRTM DEM, Landsat imagery, topographic map, statistic data (PODES) 2008, and information from other agencies such as BPBD (Regional Disaster Management Agency) and Regional Planning Board. Result of this research shows that nearly 50 % of the area of Ciamis Regency is vulnerable to landslides. Based on the Landslide Risk Index map resulted from this research, approximately of 30 % of the Ciamis Regency area has categorized at a high to very high landslide risk. Keywords: Extreme Weather, Landslides, Risk Index, Vulnerability Index, CapacityIndex
METODE CLOUD REMOVAL CITRA SATELIT OPTIK MENGGUNAKAN MAKSIMUM NDVI DAN DATA MULTITEMPORAL Candra, Danang Surya; Kustiyo, Kustiyo
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.167

Abstract

ABSTRAKPermasalahan yang timbul pada citra satelit optik di negara-negara tropis adalah liputan awan. Tingginya liputan awan menyebabkan pemanfaatan data citra satelit optik menjadi kurang optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan metode cloud removaluntuk mengatasi permasalahan tersebut. Metode yang dikembangkan pada penelitian ini adalah menggunakan nilai maksimum indek vegetasi dan data multitemporal. Nilai indek vegetasi dari awan dan bayangan awan adalah ekstrim rendah. Sehingga untuk menghilangkan awan dan bayangan, strategi yang digunakan pada penelitian ini adalah memilih nilai maksimum indek vegetasi dari data multitemporal. Hasil cloud removal dari percobaan dengan menggunakan indek vegetasi dan data multitemporal menunjukkan bahwa citra satelit bebas dari awan dan bayangan awan dan penampakan citra meningkat secara visual. Secara kuantitatif, kelebihan dari metode cloud removal dengan menggunakan indek vegetasi dan data multitemporal ini dapat menghilangkan awan secara keseluruhan. Secara teknis, metode ini mempunyai kelebihan yaitu handal, mudah diterapkan dan memperoleh hasil yang optimal.  Kata Kunci: Cloud Removal, SPOT-4, NDVI, Data Multitemporal. ABSTRACTProblem arises in optical satellite imagery in tropical countries is cloud coverage. Utilization of optical satellite image data is not optimum due to the high cloud coverage. The purpose of this research is to develop a cloud-removal method to overcome the problem. This study developed a method using maximum vegetation index and multi-temporal data. Vegetation index values of cloud and cloud shadow is extremely low. Therefore, a strategy used in this study was to select the maximum of vegetation index value from multitemporal data to remove cloud and cloud shadow. The cloud removal resulted from the implementation of vegetation index and multitemporal data shows that the satellite imagery became clear and the visual effect was also enhanced. Quantitatively, the advantage of cloud removal method using vegetation index and multitemporal data is that it can eliminate the cloud as a whole. Technically speaking, this method has several advantages to be reliable, easy to apply and obtain optimum results. Keywords: Cloud Removal, SPOT-4, NDVI, Multitemporal Data. 
PREKURSOR GEMPA BUMI PADANG 2009 BERBASIS HASIL ANALISIS POLARISASI POWER RASIO DAN FUNGSI TRANSFER STASIUN TUNGGAL Suaidi, Ahadi; N.T, Puspito; S, Saroso; G, Ibrahim; Siswoyo, Siswoyo; Suhariyadi, Suhariyadi
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.025 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.172

Abstract

Gempa bumi Padang 2009 (Mw=7,6) adalah salah satu gempa bumi kuat di Sumatera setelah gempa bumi kuat Aceh 2004 dan Nias 2005. Gempa tersebut sangat menarik untuk diteliti karena memiliki magnitudo gempa (Mw = ~7), dengan jarak hyposenter gempa bumi yaitu RPadang = 140 km (< 200 km). Azimuth episenter stasiun geomagnet Kototabang (KTB) memiliki arah 2050 UT (Utara-Timur) terhadap posisi episenter. Analisis emisi ULF (Ultra Low Frequency, f < 0,1 Hz) yang terekam pada magnetogram, telah dilakukan dengan menganalisis spektrum frekuensi pada saat sebelum – saat kejadian (pre-seismic) guna mengetahui seberapa besar jangkauan frekuensi yang muncul akibat aktifitas seismogenik. Dalam penelitian ini metode polarisasi power rasio telah digunakan untuk mendapatkan waktu mula (onset time) untuk prekursor gempa. Selanjutnya, dengan Fungsi Transfer Stasiun Tunggal (Transfer Function Single Station) azimuth dari anomali konduktivitas akibat aktivitas seismogenik dapat diketahui. Hasilnya adalah ditemukan waktu mula (Onset Time) dan azimuth dari anomali konduktivitas dimana anomali emisi ULF diketahui selama 26 hari sebelum kejadian dengan arah azimuth dari perhitungan fungsi tranfer adalah 2050. Dengan demikian informasi anomali emisi ULF dengan menggunakan data geomagnet dapat menentukan prekursor gempa bumi dengan jangka pendek (short -time). Kata Kunci: Gempa Sumatera, Emisi ULF, Prekursor Gempa Bumi, Jangka Pendek.  ABSTRACT The 2009 Mw=7.6 Padang earthquake is among strong earthquakes in Sumatra after the Aceh 2004 and Nias 2005 strong earthquakes. Research on this earthquake is very interesting because it has a high magnitude (Mw=~ 7), with distance to hypocenter was RPadang = 140 km or (< 200 km). Azimuth epicenter from Kototabang Geomagnetic Station (KTB) has directions to 2050 NE to the position of the epicenter. Analysis of Ultra Low Frequency (ULF) emissions ( f < 0.1 Hz), that was recorded on the magnetogram, was analyzed by using the frequency spectrum at the time prior to the event (pre-seismic) to determine how large was the range of frequencies that arise from the seismogenic activity. Furthermore, by using polarization power ratio method, the first time (onset time) for earthquake precursors was obtained. The azimuth of anomalous conductivity due seismogenic activity can be known by using a Transfer Function Single Station. The result shows that the Onset Time and azimuth were found from which the conductivity anomaly known anomaly ULF emissions during the 26 days prior to the event with the azimuth direction of the transfer function calculation is 2050. Thus the anomalous information of ULF emissions with geomagnetic data can be used to determine earthquake precursors in relatively short-time.  Keywords: Sumatra Earthquake, ULF emission, Earthquake Precursor, And Short Term.
PENENTUAN GARIS PANTAI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG INFORMASI GEOSPASIAL DALAM MENDUKUNG PENGELOLAAN PESISIR DAN LAUT Suhelmi, Ifan R.; Afiati, Restu Nur; Prihatno, Hari
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.168

Abstract

ABSTRAK Garis pantai merupakan salah satu aspek teknis dalam penetapan dan penegasan batas daerah. Aspek teknis tersebut memiliki peranan penting dalam penentuan batas wilayah laut suatu provinsi, kabupaten dan kota sebagai perwujudan semangat otonomi daerah serta berkaitan dengan rencana pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pendefinisian legal coastline yang akan digunakan dalam pemberian hak pengelolaan wilayah pesisir dan laut. Pada saat ini masih terdapat berbagai macam penentuan garis pantai yang digunakan oleh beberapa institusi yang ada di Indonesia. Garis muka air tinggi digunakan dalam Peta Laut yang disusun oleh TNI AL, garis muka air rata-rata digunakan oleh BAKOSURTANAL dalam menggambarkan garis pantai dalam Peta Rupabumi dan garis pantai muka air terendah digunakan oleh DEPDAGRI dalam penentuan batas wilayah negara maupun daerah. Berdasarkan hasil kajian dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang berkaitan dengan pengelolaan wilayah maka pemberian hak pengelolaan wilayah perairan sebaiknya menggunakan garis pantai muka air tertinggi. Kata Kunci: Informasi Geospasial, Garis Pantai, Pasang Surut, Digital Elevation Model. ABSTRACT Determination of coastline is one of technical aspects for regional boundaries establishment. It has an important role for determining maritime boundary of a state, province and district. The aim of this research was to conduct a legal coastline definition that will be used for HP-3 concept. Currently, there are three methods used for determining coastline in Indonesia. High water levels coastline used in the Maritime Map compiled by the Navy. Mean Sea Level (MSL) coastline used by BAKOSURTANAL at the Topographic Map, and lowest water level coastline used by the Ministry of Home Affair (DEPDAGRI) in determining the state and regional boundaries. Based on the results of this study, it is suggested to use the high water level coastline as a legal coastline to determine HP-3 boundary. Key words: Geospatial Information, Legal Coastline, Tide, Digital Elevation Model.
RANCANGAN BASISDATA UNTUK PENGELOLAAN KAWASAN PERBATASAN MARITIM LAUT CINA SELATAN YANG BERKELANJUTAN Trismadi, Trismadi
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.173

Abstract

Penelitian rancangan basisdata untuk pengelolaan kawasan perbatasan ini merupakan bagian dari penelitian disertasi dengan judul Rancangan Basisdata Untuk Pengelolaan Kawasan Perbatasan Maritim Laut Cina Selatan Yang Berkelanjutan. Pengelolaan kawasan perbatasan belum tercakup dalam Undang-undang No. 43 Tahun 2008 tentang Teritorial Negara, untuk itu definisi pengertian pengelolaan masih perlu diperjelas  dan diperinci secara teliti. Kompleksitas permasalahan kawasan-kawasan perbatasan maritime, terutama pada area dengan potensi sumber daya alam, masih terdapat banyak permasalahan, untuk itu diperlukan penelitian berkaitan dengan pengelolaan berkelanjutan kawasan perbatasan maritim. Penelitian ini dilaksanakan dengan disain basis data perbatasan maritim (BDPM) dengan enam tahap kegiatan meliputi: pengumpulan dan analisa data, disain konsep, pemilihan sistim basis data pengelolaan, disain logis, disain fisik, dan implementasi basis data. Penampilan basis data yang mengandung entitas grup mencakup peta dasar (peta laut), data-data perbatasan maritime, data potensi sumber daya alam, data lingkungan dan data lain yang terkait. Analisa mengenai kemampuan pengelolaan berkelanjutan dilakukan menggunakan metode Skala Multi Dimensi (SMD), dan penentuan struktur permasalahan menggunakan metode Model Struktur Imperatif (MSI), sedangkan metode yang digunakan untuk prioritas kebijakan menggunakan Proses Analisa Herarki (PAH). Konsep model pengelolaan berkelanjutan kawasan perbatasan maritim dibangun dengan mengintegrasikan hasil-hasil dari metode SMD, MSI, PAH, dan BDPM yang telah terbentuk. Kata Kunci: Basis Data, Pengelolaan Berkelanjutan, Kawasan Perbatasan Maritim, Laut Cina Selatan. ABSTRACT Research on the design of boundary regional data base is part of a research dissertation entitled Design a Decision Support Systems for Sustainable Management of Maritime Boundary Regions in the South China Sea. Management of the maritime boundary region has not been defined in the Indonesian Act No. 43 Year 2008 on the Territory of the State, so the scope of management is still need a clear and precise definition. Given the complexity of the maritime boundary regions, especially in areas that have potential for abundant natural resources, as well as maritime boundaries still there are problems, it is necessary to do research on the sustainable management of the maritime boundary region. This study was preceded by a maritime boundary database (MBDB) design through six stages include: data collection and analysis,conceptual design, choosing database management system, logic design, physical design, and implementation of database. Display database containing group entities: base chart (nautical chart), data of maritime boundaries, natural resources potential data, environmental data and others relevant data. Analysis of the sustainability of current management was done by using the method of Multi-Dimension Scaling (MDS), and to determine structuring problems was used the Interpretive Structural Modeling (ISM) method, while the method used to determine policy priorities is Analytical Hierarchy Process (AHP). Conceptual model of management of sustainable maritime boundary regions was constructed by integrating the results of the method of MDS, ISM and AHP and MBDB that have been developed.  Keywords: Database, Sustainable Management, Maritime Boundary Region, South China Sea.
PERBANDINGAN DUA METODE PEMROGRAMAN PARALEL UNTUK MENINGKATKAN KECEPATAN PEMROSESAN CITRA LANDSAT L1T Budiono, Marendra Eko
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.15 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.164

Abstract

ABSTRAK Pengembangan metode komputasi untuk meningkatkan kecepatan pemrosesan citra satelit selalu merupakan tantangan. Dalam penelitian ini telah dibuat 2 (dua) metode pembagian komputasi dalam pembuatan perangkat lunak berbasis pemrograman paralel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji 2 buah metode komputasi pemrograman paralel untuk meningkatkan kecepatan pengolahan citra satelit Landsat-7 level L1T. Metode pertama adalah pembagian komputasi berdasarkan citra secara paralel sedangkan metode kedua adalah pembagian komputasi berdasarkan kanal citra secara paralel. Pada tahap pertama dibuat perangkat lunak yang bekerja secara sequensial untuk memperhitungkan peningkatan kecepatan yang dapat dicapai. Selanjutnya dibuat perangkat lunak berbasis paralel dengan memanfaatkan library Message Parsing Interface (MPI). Setelah diujikan pada PC cluster dengan 136 inti prosesor dengan 12 citra data Landsat, didapatkan hasil bahwa metode pembagian komputasi berdasarkan citra memberikan peningkatan performa yang lebih tinggi. Kata Kunci: Pemrograman Paralel, MPI, Komputasi Berdasarkan Citra, PC Cluster, Landsat-7 Level L1T. ABSTRACT Developing computation method to speed up a processing performance on satellite image processing is challenging. In this research,2 computation methods have been developed in order to create image processing software based on parallel programming. The purpose of this research is to compare the 2 computational method of parallel programming to speed up the processing of Landsat-7  level L1T satellite imageries. The first method was to divide the computation process based on image in a parallel way, and the second method was by dividing the computation process based on images band in parallel way. At the beginning of this research, those methods were applied on 2 softwares which work sequentially to calculate the value of maximum increasing performance that can be achieved. After that, a software based on parallel programming based was developed by using Message Parsing Interface (MPI) library. After running a test on a cluster PC which consisted of 136 cores on 12 data Landsat L1T, the result showed that the method which divided the computation process based on image on parallel data processing yielded higher speed increase. Keywords:  Parallel Programming, MPI, Image Based Computation, PC Cluster, Landsat-7 L1T Level.
PERENCANAAN SPASIAL PEMANFAATAN LAHAN UNTUK KOMODITAS PERKEBUNAN RAKYAT DI KABUPATEN PIDIE JAYA, PROVINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM Widiatmaka, Widiatmaka; Zulfikar, Zulfikar; Anwar, Syaiful; Ambarwulan, Wiwin
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.621 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.169

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Pidie Jaya merupakan kabupaten baru yang didirikan pada tahun 2007,di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Salah satupotensi yang dapat dikembangkan untuk peningkatan pendapatan masyarakat setempat adalah perkebunan rakyat.Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan pemanfaatan lahan untuk beberapa komoditas perkebunan rakyat. Komoditas basis dianalisis menggunakan metoda locationquotient(LQ). Kemampuan dan kesesuaian lahan dievaluasi menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) berdasarkan kriteria kebutuhan tanaman. Kelayakan financial dianalisis menggunakan metode Net Present Value (NPV) dan Break Even Point (BEP). Keunggulan komparatif dan kompetitif diestimasi menggunakan metode Policy Analysis Matrix(PAM). Metode Analytical Hierarchy Process(AHP) digunakan untuk analisis persepsi masyarakat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kakao merupakan komoditas basis di Pidie Jaya. Selain kakao,rencana pemerintah daerah untuk mengembangkan perkebunan rakyat kelapa sawit perlu diperhitungkan. Berdasarkan analisis kemampuan lahan,wilayah yang dapat digunakan untuk pengembangan perkebunan rakyat adalah 45.784,78 hektar.Kakao dan kelapa sawit merupakan komoditas yang sesuai dikembangkan di Kabupaten Pidie Jaya,kelas kesesuaian lahannya adalah S2 (cukup sesuai) dan S3 (sesuai marginal) untuk kedua komoditas. Secara finansial, kakao dan kelapa sawit layak diusahakan pada discount factor 17 %, dengan NPV sebesar Rp26.051,158 dengan BEP produksi 505 kg hektar dan harga Rp. 5.568/kg untuk kakao, dan NPV sebesar Rp. 45.547.405 dengan BEP produksi 7.423 kg/hektar dan harga Rp. 301/kg untuk kelapa sawit. Kedua komoditas memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dengan nilai koefisien PCR<1 dan DRC<1. Hasil analisis persepsi masyarakat menunjukkan bahwa kakao merupakan prioritas utama untuk dikembangkan. Wilayah yang direkomendasikan untuk pengembangan kakao dan kelapa sawit di Pidie Jaya adalah seluas 27.178,97 hektar.  Kata Kunci: Kesesuaian Lahan, Kakao, Kelapa Sawit, Kelayakan Ekonomi, Proses Hierarkhi Analitik. ABSTRACT Pidie Jaya Regency is new regency in Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Province that was established in 2007. One of potency to be developed for income generating of local community is smallholding plantation. The purpose of this research is to plan land utilization for several commodities of smallholding plantation. Basic sector was analyzed using location quotient (LQ). Land capability and land suitability were evaluated by using Geographic Information System (GIS) based on land requirement criteria. Financial feasibility was analyzed using Net Present Value (NPV) and Break Event Point (BEP) methods.The comparative and competitive advantages were estimated by using of Policy Analysis Matrix (PAM) method. Method of Analytical Hierarchy Process (AHP) was used to analysis the community perception. The results of the research showed that cocoa is the basic commodity in Pidie Jaya. In addition to cocoa, plan of local government to develop oil palm smallholding plantation in the area was taken into account. Based on land capability analysis,the area which is able to be used for agricultural plantation commodity is 45.784,78 hectares. Cocoa and oil palm crop are suitable in Pidie Jaya Regency with actual land suitability class of S2 (suitable) and S3 (marginally suitable) for both commodities. Financially, cocoa and oil palm are feasible at discount factorof 17 %, with NPV of Rp 26.051,158 with production BEP of 505 kg/hectares and price of Rp. 5.568 /kg for cocoa and NPV of Rp. 45.547.405 with production BEP of 7.423 kg/hectares and price of Rp. 301 /kg for oil palm. Both of commodity have comparative and competitive advantages with coefficient value of PCR <1 and DRC <1. Result of community perception analysis indicates that cocoa are the main priority commodities to be developed. The area which is able to be recommended for development of cocoa and oil palm crop in Pidie Jaya is 27.178,97 hectares. Keywords : Land Suitability, Cocoa, Oil Palm, Economic Feasibility, Analytical Hierarchy Process.
STUDY ON CLIMATE CHANGE ADAPTATION AND ITS CONNECTION WITH LOCAL WISDOM Helman, Helman; Handoyo, Sri
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.949 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.174

Abstract

Climate changehas been occured around theworld. The causeof climate changeisglobalwarmingdue to the increasing concentrations of greenhouse gasesin the atmosphere. The concentration ofgreenhousegasesis caused by burningfossil fuelssuch as petroleumand coal, forest fires, deforestation, and emissions of motor vehicles. The impactofclimate changefor example ischanging ofrainfall patterns, risingtemperatures, and rising sea levels.Changes inrainfall patternscan causeplant diseases,changing incropping patterns, and reduction of crop production. Banten provincehas atraditional societywho still adheres tothe tradition oftheindigenousBedouintribes who lives in the village of Kanekes, LeuwidamarSubdistrict, Lebak Regency. The mainlivelihood of Bedouintribe is farming. They plantfield rice,maize, cassava, and sweet potatoes. Theyreside inmountainousareas. Theirfarmingactivitiesare carried out based oncroppingcalendar, on astronomy, and on observation of naturearound which iswisdom. The research objective is todetermine the effectof rainfalloncrop production, and adaptationof climate change oncropsof field rice,maize, cassava, andsweet potatoes. In addition it is also toknowhow toapplywisdomto address the impactsof climate change. The scope ofthe studyconsists ofrainfall,the production offield rice,maize, cassava, sweet potatoes, and the effectof rainfalloncrop production. The method used todetermine the effect ofrainfall on productionplants of field rice, maize, cassava, andsweet potatoes was the PearsonProduct Momentformulaand t test.To know the wisdomonagriculture andadaptationtoclimate changeinterviews were conducted with localBedouintribes.As aresult, climatechangethathasoccurreddoes notaffectproductionof rice,  maize, cassava, andsweet potatoesdue to theapplication oflocal wisdomthatadjustcropping calendarandastronomicalusein the processing ofagricultural land. Keywords:Globalwarming, Climate Change, Traditions, Farming, LocalWisdom. ABSTRAK Perubahan iklim telah terjadi di seluruh dunia. Penyebab perubahan iklim adalah terjadinya pemanasan global akibat meningkatnya konsentrasi gas rumahkaca di atmosfir.Konsentrasi gas rumah kaca disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batubara, kebakaran hutan, penebangan hutan, dan asap kendaraan bermotor. Dampak dari perubahan iklim adalah perubahan polacurah hujan, meningkatnya suhu bumi, kenaikan muka air laut. Perubahan polacurah hujan terhadap bidang pertanian dapat menyebabkan timbulnya penyakit tanaman, perubahan pola tanam, dan menurunnya produksi tanaman.Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisiya itu suku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Mata pencaharian utama suku Baduy adalah bertani. Mereka menanam antara lain padi ladang, jagung, ubikayu dan  ubijalar. Tempat tinggal mereka di daerah bergunung. Dalam melakukan kegiatan pertanian mereka berpedoman pada kalender tanam, pada perbintangan, dan mengamati alam sekitar yang merupakan kearifan lokal. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh curahh ujan terhadap produktivitas tanaman, dan adaptasi perubahan iklim terhadap tanaman-tanaman padi ladang, jagung, ketela pohon, dan ketelarambat. Selain itu bagaimana kearifan local diterapkan untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Ruang lingkup penelitian terdiri atas curah hujan, produktivitas tanaman padi ladang, jagung, ketela pohon, ketelarambat, dan pengaruh curah hujan terhadap produksi tanaman. Metode yang digunakan untuk mengetahui pengaruh antara curah hujan dengan produktivitas tanaman-tanaman padi ladang, jagung, ketelapohon, dan ketelarambat menggunakan rumus Pearson Product Moment. Untuk mengetahui kearifan local pada bidang pertanian untuk adaptasi perubahan iklim dilakukan dengan cara wawancara dengan penduduk local suku Baduy. Sebagai hasil, perubahan iklim yang telah terjadi tidak mempengaruhi hasil produksi padi, jagung, ketela pohon, dan ketela rambat karena adanya penerapan kearifan lokal yaitu menyesuaikan penggunaan kalender tanam dan astronomi dalam pengolahan lahan pertanian.  Kata Kunci: Pemanasan Global, PerubahanIklim, Tradisi, Pertanian, KearifanLokal.
ANALISIS OPTIMASI KEBUTUHAN LUASAN HUTAN KOTA SEBAGAI PENYERAP TIMBAL SERTA STRATEGI PENGELOLAANNYA DI WILAYAH DKI JAKARTA Ruyani, Ipih; Kusmana, Cecep; Sutjahjo, Surjono H; Suaedi, Suaedi
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.165

Abstract

Kemampuan ekosistem untuk menyerap polusi berkurang karena kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH). Hingga tahun 2009, hanya 9 % dari total luas area RTH yang direalisasi di Jakarta, dan pada 2000-2010 ditargetkan mencapai 13,94 %. Kegagalan Pemerintah Jakarta untuk memenuhi daerah yang tertutup sempurna RTH tentu akan memperburuk polusi udara di kota. Hasil pengukuran timbal (Pb) di udara (ambien) akan ditampilkan di semua lokasi di bawah 0,001 μg/Nm3. Hasil pengukuran menunjukkan semua kandungan timbal dalam tanah berkisar antara 2,0 ppm (HK T.7 UI) menjadi 44,9 ppm (T.13 Terminal Kampung Rambutan). Kadar timbal dalam organ berbagai jenis pohon (batang, cabang, daun) di semua lokasi sekitar <0,7 mg/kg. Berdasarkan peraturan kebutuhan RTH di Provinsi DKI Jakarta adalah 19.846 ha (30%). Berdasarkan analisis spasial dari data ALOS 2009, RTH baru yang tersedia adalah  sekitar13.613 ha (20,58%), sehingga RTH yang  masih masih dibutuhkan adalah seluas 6,232 ha (9,42%). Menurut peraturan yang ada, kebutuhan RTH yang berupa Hutan Kota di Jakarta adalah 6.615,2 ha (10%) dan potensial area yang diarahkan menjadi hutan kota adalah sekitar  4.419.804 ha (6,68%).  Oleh karena hutan kota masih perlu ditambah seluas 2.195,40 ha (3,32%).  Skenario perluasan RTH sangat berpengaruh pada konsentrasi timbal di udara. Hasil Analytical Hierarchy Process (AHP) menunjukkan strategi optimasi itu harus dimulai dengan mengembangkan hutan kota, yang diisi dengan pohon-pohon dengan stratifikasi penuh (24,8 % berat).Tahap selanjutnya adalah dengan menggunakan Building Coverage Ratio (KDB) (13,7%) dan dengan memberikan kompensasi kepada orang-orang yang tinggal di sekitar hutan kota yang bersedia untuk menjaga kualitas hutan kota (13,2%) Sementara itu, strategi perluasan RTH dapat dilakukan dengan berbagai tindakan operasional dengan melibatkan pihak terkait lainnya. Kata Kunci: Jakarta, Optimasi, Polusi, RTH.  ABSTRACTThe ecosystem ability to absorb pollution is reduced due to the lack of Green Open Space (GOS). Until 2009, only 9% of its total area in Jakarta is realized, and during 2000-2010 GOS is set at 13.94%. Jakarta Governments failure to meet the ideal covered area of GOS will certainly aggravate air pollution in the city.  Results of measurement of lead (Pb) content in air (ambient) shown in all locations are below 0.001 μg/Nm3.  Measurement results showed the total lead content in soil ranged between 2.0 ppm (HK T.7 UI) to 44.9 ppm (T.13 Kampung Rambutan Terminal).  Lead content in the organs of various types of trees (trunks, branches, leaves) in all locations approximately <0.7 mg / kg.  Based on legal regulations, the necessity GOS Jakarta Province is about 19,846 ha (30%).  Based on spatial analysis from Alos 2009, new GOS availability is about 13.613 ha (20.58%), which means it still takes up 6,232 ha of GOS (9.42%).  Based on legal regulation, the need of Urban Forest GOS in Jakarta is 6,615.2 ha (10%) and the potential area to be set as urban forest approximately 4,419.804 ha (6.68%).  Therefore, we need to increase urban forest area of 2,195.40 ha (3.32%).  Dynamic model simulation result shows that there is a pressure on the existence of GOS by land conversion due to development.  GOS existence (in East Jakarta and South Jakarta) could increase the absorption of lead contamination.  Analytical Hierarchy Process (AHP) result shows that the optimization strategy should be started by developing urban forest, consists of trees with full stratification (24.8% weight).  The next step is by using Building Coverage Ratio (KDB) (13.7%) and by giving compensation to people living around the urban forest who are willing to maintain the quality of urban forest (13.2%).  Meanwhile, GOS strategy for expansion can be done with a variety of operational actions involving other related parties. Keyword: Jakarta, Optimation, Pollution, GOS.

Page 1 of 2 | Total Record : 11