cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
Preface GEOMATIKA Vol. 22 No. 1 geomatika, redaksi
GEOMATIKA Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.334 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-1.752

Abstract

PERUBAHAN TINGGI MUKA LAUT DAN KONSENTRASI KLOROFIL-A DI PERAIRAN SELATAN JAWA-SUMBAWA SELAMA INDIAN OCEAN DIPOLE 2016 Martono, Martono
GEOMATIKA Vol 23, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1248.218 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-2.612

Abstract

Indian Ocean Dipole merupakan penyimpangan cuaca yang terjadi di Samudera Hindia tropis akibat interaksi laut-atmosfer. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perubahan tinggi muka laut di perairan selatan Jawa, Bali dan Lombok-Sumbawa selama kejadian Indian Ocean Dipole 2016. Data yang digunakan terdiri dari indeks Indian Ocean Dipole, tinggi muka laut harian, konsentrasi klorofil-a bulanan dan arus geostropik pentad. Analisis anomali digunakan untuk mengetahui perubahan tinggi muka laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama kejadian Indian Ocean Dipole 2016 terjadi kenaikan tinggi muka laut di perairan ini. Kenaikan rata-rata tinggi muka laut dari Juni-November 2016 di perairan selatan Jawa, Bali dan Lombok-Sumbawa masing-masing sekitar 25 cm, 23 cm dan 17 cm. Dampak kenaikan tinggi muka laut menyebabkan penurunan konsentrasi klorofil-a yang ditandai dengan anomali negatif. Penurunan tertinggi konsentrasi klorofil-a terjadi di perairan selatan Jawa. Penurunan konsentrasi klofofil-a dari Juni-Oktober 2016 di perairan selatan Jawa mencapai -1,02 mg/m3, di perairan selatan Bali mencapai -0,74 mg/m3 dan di perairan selatan Lombok-Sumbawa mencapai -0,35 mg/m3. Kata kunci: perubahan, tinggi muka laut, Indian Ocean Dipole, klorofil-a
PREFACE GEOMATIKA VOL. 23 NO. 2 jurnal, Pengelola
GEOMATIKA Vol 23, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-2.794

Abstract

KAJIAN AWAL DAMPAK ERUPSI GUNUNG BROMO TERHADAP SEKTOR PERTANIAN DAN PERKEBUNAN DI KAWASAN GUNUNG BROMO DAN SEKITARNYA Cornelia, Mone Iye
GEOMATIKA Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada akhir 2010, aktivitas Gunung Bromo meningkat dan berlanjut sampai tanggal 26 November 2010 ketika Gunung Bromo meletus. Jenis letusan ini adalah freatik (uap air dan ledakan gas dicampur dengan abu halus), berbeda dengan letusan Merapi yang dikategorikan sebagai letusan eksplosif. Hari ini, aktivitas Gunung Bromo telah menurun dan statusnya berubah menjadi Siaga (Level 2) sejak 13 Juni 2011. Sampai sekarang, Bromo masih mengeluarkan asap tebal dan menyebabkan hujan abu vulkanik dan membuang bahan pijar yang jatuh di sekitar kawah. Dampak dari kegiatan ini tidak separah seperti Merapi, yang mengambil banyak nyawa, tapi cukup untuk mengganggu kegiatan orang-orang yang tinggal di daerah sekitar Gunung Bromo. Sektor pertanian dan perkebunan menjadi salah satu sektor yang berperan dalam perekonomian daerah di Bromo. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerugian yang disebabkan oleh abu vulkanik Gunung Bromo pada sektor pertanian di daerah sekitar Gunung Bromo, khususnya di Sukapura, Kabupaten Probolinggo sebagai salah satu pusat pertanian yang mengalami dampak paling signifikan. Selain itu, diharapkan akan ada penelitian lanjutan untuk menilai kerugian letusan Bromo dengan lebih detail dan komprehensif. Selanjutnya, akan memberikan masukan untuk kebijakan berikutnya yang dapat mendukung proses pemulihan dari bencana Gunung Bromo.Kata kunci: Gunung Bromo, abu vulkanik,  Probolinggo ABSTRACT At the end of 2010, the activity of Mount Bromo increased and continued until on November 26, 2010 when Mount Bromo erupted. The type of this eruption is phreatic (steam blast of water and gases mixed with fine ash), different with the Merapi’s eruption which is categorized as an explosive eruption. Today, the activity of Mount Bromo has declined and its status changed into Alert (Level 2) since June 13, 2011. Until now, Bromo still emit thick smoke and causing the rain of volcanic ash and incandescent material throw that fell around the crater. The impact of this activity is not as severe as Merapi, which took many lives, but enough to disrupt the activities of people who lived in the area around Mount Bromo. Agriculture and plantation sector is become one of the sector which role in the regional economy in Bromo. Therefore, this study aims to find out the extent of losses caused by the volcanic ash of Mount Bromo on the agricultural sector in the area around Mount Bromo, particularly in Sukapura, Probolinggo district as one of the agricultural centers that experienced the most significant impact. Furthermore, it is expected there will be a follow-up study to assess the losses Bromo eruption with more detail and comprehensive.  Furthermore, it will give an input to the next policies that can support the process of recovery from the disaster of Mount Bromo.Keywords: Mount Bromo, volcanic ash, Probolinggo
Study Forest Degradation in Kalimantan using NDVI SPOT Vegetation Widjojo, Suharto; Darmawan, Mulyanto
GEOMATIKA Vol 17, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractKalimantan tropical rain forest (KTRF), for many years, has been subject for timber extraction, agriculture and plantation expansion, as well as settlement. Although it has experiencing ever land clearing, forest degradation both in spatial and temporal are poorly studied. In this study SPOT Vegetation were applied to scale up the understanding of forest degradation in KTRF. In the initial stage, NDVI SPOT Vegetation 10 day’s composite was evaluated for phenological analysis. Secondly, K-mean classification and Knowledge Base Expert System (KBSE) method were applied to nine phenological metrics (Onset, End, Max, Min, AMP, RtUp, RtDn, and DUR, TIN) to calculate proportion of forest (Pof) and connectivity of forest with other non forest (Cof). Finally, the Geometrical shapes of forest were evaluated to understand forest degradation in Kalimantan forest. Result found that about 46% of Kalimantan forest has been threatened or experience with forest clearance which correspond to plantation and agriculture crops. 54% of natural forest was corresponding to transitional forest, perforated and edge forest at about 8%, 9% and 37% respectively.Keywords: Kalimantan, Rain Forest, Degradation AbstrakHutan Hujan BasahKalimantan, dalam beberapa tahun, berperan sebagai pemasok kayu gelondongan, pengembangan wilayah pertanian dan perkebunan, demikian pula sebagai pemukiman. Walaupun telah banyak lahan yang di rambah, sangat sedikit studi kerusakan hutan secara spasial dan temporal.Dalam studi ini digunakan SPOT Vegetasi untuk mengetahui skala kerusakan hutan di Hutan Hujan BasahKalimantan. Dalam langkah awal, gabungan 10 hari Citra NDVI SPOT Vegetasi dievaluasi untuk analisa Fenologi, Kemudian digunakan metode klasifikasi K-mean dan Knowledge Base Expert System (KBSE) terhadap Sembilan parameter Fenologi (Onset, End, Max, <in, AMP, RtUp, RtDn, dan DUR, TIN) untuk menghitung proporsi hutan (Pof),dan hubungan antara hutan dengan non hutan (Cof). Akhirnya, bentuk Geometris dari pada hutan dievaluasi untuk mengetahui kerusakan hutan di Kalimantan. Hasilnya dijumpai bahwa sekitar 46% hutan Kalimantan telah di babat dengan cara pembukaan hutan untuk perkebunan dan lahan pertanian. 54% dari hutan alam, berupa hutan transisi 8%, hutan perforasi  9%, dan hutanpinggiran 37%.Kata kunci: Kalimantan, Hutan Hujan Basah, Degradasi,
ANALISIS GARIS ALTERNATIF BATAS KEWENANGAN PENGELOLAAN WILAYAH LAUT ANTARA PROVINSI PAPUA BARAT DENGAN PROVINSI MALUKU UTARA SECARA KARTOMETRIK Silalahi, Florence Elfriede S.; Hidayat, Fahrul
GEOMATIKA Vol 23, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (989.474 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-1.628

Abstract

ABSTRAKKetidakjelasan status wilayah administrasi pulau seringkali berdampak pada sengketa batas wilayah administrasi dan menghambat proses penegasan garis batas kewenangan pengelolaan wilayah laut daerah provinsi. Pulau Sain, Pulau Kiyas, dan Pulau Piyai yang terletak di antara daratan utama Provinsi Papua Barat dan daratan utama Provinsi Maluku Utara merupakan 3 pulau yang masih belum jelas status administrasinya, sehingga batas kewenangan pengelolaan wilayah laut daerah provinsinya perlu ditentukan. Diperlukan informasi mengenai kemungkinan-kemungkinan garis batas kewenangan pengelolaan wilayah laut sebagai masukan teknis dalam penyelesaian permasalahan tersebut melalui delineasi. Untuk batas di laut, delineasi dilakukan secara kartometrik karena lebih efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil delineasi garis batas kewenangan pengelolaan wilayah laut daerah provinsi Papua Barat dengan Maluku Utara dengan beberapa kriteria uji. Penelitian ini menggunakan metode kartometrik berbasis sistem informasi geografis, antara lain: analisis buffer, penarikan garis sama jarak/garis tengah murni (strict equidistance/median line) dan garis sama jarak/garis tengah yang disederhanakan (simplified equidistance/median line). Dari penelitian ini diperoleh tiga konstruksi garis batas kewenangan pengelolaan wilayah laut daerah Provinsi Papua Barat dengan Provinsi Maluku Utara. Masing-masing konsruksi garis batas dapat dijadikan sebagai alternatif dengan dasar geospasial dalam penegasan batas kewenangan pengelolaan wilayah laut.Kata kunci: Papua Barat, Maluku Utara, pengelolaan wilayah laut, garis sama jarak, delineasi, kartometrikABSTRACTUnclear administration’s status of islands often raises a dispute for regional boundary and inhibits the process of regional maritime management authorities boundary determination. Sain, Kiyas, and Piyai Islands which are located between the mainland of West Papua Province and North Maluku Province were categorized as unclear administration’s status islands, so the maritime management authorities boundary is unclear. The information of regional maritime management authorities boundary possibilities for those islands is needed for technical suport to solve problem through delineation. Cartometric method is used to delineate especially for sea boundary because it is more efficient. The purpose of this research was to know delinetation result of West Papua Province and North Maluku Province regional maritime management authorities boundary using several criterias. This research used cartometric based on geographic information system method i.e: buffer analysis, build the strict, and simplified equidinstance/median line in the process of boundary delineation. The results showed that there are three constructions of regional maritime management authorities boundary between Papua Barat - Maluku Utara Province. Every boundary line construction can be used as an alternative in geospatial aspect while the process of regional maritime management authorities boundary determination.Keywords: West Papua, North Maluku, maritime management authorities, equidistance/median line, delineation, cartometric
TANTANGAN DALAM AKUISISI DATA HIDROGRAFI DI ZONA INTERTIDAL UNTUK PEMETAAN LINGKUNGAN PANTAI INDONESIA SKALA 1:10.000 Basith, Abdul
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.409 KB)

Abstract

Zona intertidal dan zona tetangganya tempat terjadinya gelombang pecah adalah zona yang menantang untuk melakukan akuisisi data hidrografi yang meliputi garis pantai, DEM pantai dan batimetri. Disebabkan dinamikanya, sering kali daerah ini terancam dari kekosongan data. Untuk penyediaan data sebagai masukan bagi pembuatan Peta Dasar Lingkungan Pantai Indonesia skala 1:10.000, ada beberapa metode yang dapat diusulkan. Untuk pemetaan garis pantai sesaat/garis air dan DEM pada zona intertidal dapat digunakan survei teristris baik menggunakan total station maupun RTK GPS, kamera monitor, LiDAR, water line method, inderaja sensor yang dikombinasikan dengan data pasang surut, DEM maupun pemodelan hidrodinamika. Sementara untuk pengadaan DEM pada zona intertidal dan gelombang pecah dapat menggunakan Jetski Batimetri, USV Batimetri, dan LiDAR.Kata kunci: zona intertidal, akuisisi data hidrografi, LiDAR/USV Batimetri
PENDEKATAN PROBABILISTIC NEURAL NETWORK (PNN) BERBASIS EXPECTATION MAXIMUM (EM) UNTUK PERMASALAHAN KLASIFIKASI GABUNGAN Wiweka, Wiweka; Setiawan, Wawan
GEOMATIKA Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.166 KB)

Abstract

Makalah ini menyajikan desain pengklasifikasi dengan pendekatan jaringan neural (syaraf) yang didasarkan pada penggunaan metode Ekapentasi Maksimum (EM). Aturan keputusan pengklasifikasi Bayes menggunakan kesalahan minimum dalam klasifikasi citra gabungan  multi waktu. Dalam khasus ini, model jaringan neural perceptron multi lapis Probabilistic Neural Network (PNN), digunakan untuk mengestimasi nonparametrik probabilitas posterior suatu kelas. Korelasi temporal citra dihitung dengan probabilitas gabungan masing-masing kelas secara otomatis dengan menerapkan formula khusus yaitu algoritma ekspektasi maksimum dari citra multi waktu. Eksperimen dilakukan pada dua citra multi waktu yaitu citra Saguling yang diambil pada dua waktu yang berbeda. Berdasarkan hasil eksperimen pada dua daerah uji tersebut, dapat ditunjukkan bahwa tingkat akurasi pengklasifikasi PNN rata-rata lebih baik dibandingkan dengan model Propagasi Balik (BP), dan Ekepektasi Maksimum (EM)  dapat meningkatkan kemampuan suatu pengklasifikasi. Pengklasifikai PNN dengan menerapkan ekpektasi maksimum memiliki kemampuan pengenalan yang konsisten untuk citra multi waktu, dan juga konsisten untuk setiap pengenalan kategori kelas obyek. Metodologi klasifikasi yang diusulkan dapat memecahkan permasalahan multi  waktu secara efektif.KataKunci:Probabilistik Jaringan Syaraf, Ekspektasi Maksimm, Citra Multitemporal, Kelas Objek, Pengenalan  ABSTRACTThis paper presents a classifiers design of neural network approachbased on Expectations Maximum (EM), a Bayes classifier decision rule using the Minimum Error to clasify combined multi-temporal imageries. In this particular, multilayer perceptron neural network model with Probabilistic Neural Network (PNN) is used for nonparametric estimation of posterior class probabilities. Temporal image correlation was calculated  automatically usingprior joint probabilities of each class by applying a special formula that is algorithm expectation maximum of multi-temporal imagery. Experiments wasperformed on two multi-temporal Saguling imagestakenat two different  epochs. Based on experimental results on two test areas, it can be shown that the average accuracy rate of PNN classifier is better than the Back Propagation (BP), and the Expectation Maximum (EM) can increase the classifiers ability. Multinomial PNN classifierapplying the maximum expected have a consistent recognition capability for multitemporal imagery, and also consistent for each object class category. The proposed classification methodology can effectively solve the problem when classifying multi-temporalimagery.Keywords: Probablistic Neural Networks, Expectation Maximum, Multitemporal Images, Class Object, Recognition
TEKNOLOGI SURVEI PEMETAAN LINGKUNGAN PANTAI Mudita, Imam
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.061 KB)

Abstract

Teknologi survei pemetaan adalah mulai dari perencanaan survei, pengambilan data pada saat survei hingga pengolahan data dan penyajian informasinya dalam bentuk peta dengan skala tertentu yang diinginkan untuk tujuan tertentu. Makalah ini mencoba memberikan gambaran tentang teknologi survei pemetaan lingkungan pantai terutama teknologi survei dan perangkat keras pengambilan datanya, yang pernah digunakan di Balai Teknologi Survei Kelautan – BPPT, dan sudah cukup banyak mengalami perkembangan teknologi.Kata kunci: Teknologi survei, lingkungan pantai, peta
PREFACE GEOMATIKA VOL. 23 NO. 1 jurnal, Pengelola
GEOMATIKA Vol 23, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.299 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-1.796

Abstract