cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
EVALUATING THE USE OF LOW COST STRUCTURED LIGHT SCANNER FOR INDOOR MAPPING Tyas, Fitri Astika Mahargyaning
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.292 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.497

Abstract

Structured light scanner (SLS) has an opportunity to be used in 3D cadastre data collection since it has affordable capability in capturing 3D object by means of triangulation technique. However, due to its low price, it has several issues when deploying the sensor, including lightning and movement sensitivity as well as inability in capturing wide planar surface. Thus, theresult of this affordable technology needs to be evaluated in order to comply with land administration requrement, as well as to be utilised in other applications including Building Information Model (BIM). The research was accomplished by conducting five main approaches, includingindoor data collection using kinect for windows sensor, data processing, room semantic database development, BIM creation, and validation by comparing Kinect data with other data sourcing methods. It concludes that structured light scanner can be used to create small 3D model of the room with some innovation in the data collection process to overcome the problems encountered. The quality of the data captured by the sensor has reliable accuracy comparing with other three measurement methods, including Terrestrial Laser Scanner, manual tape measurement and electronic distance measurement (distometer). Keywords : Indoor mapping, structured light scanner, 3D cadastre, building information modelABSTRAKTeknologi Structured Light Scanner (SLS) saat ini mempunyai potensi yang menjanjikan untuk digunakan dalam pengumpulan data kadaster 3D.Hal ini dikarenakan sensor SLS mampu merekam obyek secara 3D dengan prinsip triangulasi dengan biaya yang relatif murah.Namun dengan biaya murah tersebut, sensor ini memiliki kelemahan yaitu sensitivitas yang tinggi terhadap pencahayaan dan pergerakan.Selain itu, sensor SLS juga tidak dapat merekam obyek datar yang relatif luas. Oleh karena itu, evaluasi perlu dilakukan dalam penggunaannya sebagai metode pengumpulan data kadaster sehingga kaidah-kaidah yang diperlukan dalam manajemen administrasi pertanahan dan dalam aplikasi lain seperti Building Information Model (BIM) dapat dipenuhi. Penelitian ini diselesaikan dengan menggunakan lima tahapan, yaitu pengumpulan data menggunakan sensor Kinect for Windows, pemrosesan data, pembangunan basis data semantik untuk ruangan, pembuatan BIM, dan validasi hasil dengan membandingkan data yang diperoleh dari sensor Kinect dengan data dari pengukuran menggunakan metode peralatan survei yang lain. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa sensor SLS dapat digunakan untuk membangun model 3D untuk ruangan kecil dengan beberapa inovasi yang perlu dilakukan dalam tahap pengumpulan data untuk mengatasi kelemahan-kelemahannya.Selain itu, kualitas data hasil rekaman mempunyai ketelitian yang cukup akurat jika dibandingkan dengan tiga metode pengukuran lain, yaitu Terrestrial Laser Scanner, pita ukur dan Electronic Distance Measurement (distometer).Kata kunci: Pemetaanruangan, structured light scanner, kadaster 3D, model informasi bangunan
ACCURACY ASSESSMENT OF OBJECT ORIENTED IMAGE SEGMENTATION Narieswari, Lalitya
GEOMATIKA Vol 15, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2009.15-1.3

Abstract

Visual review and comparison based on reference areas (correspondence and shape conformity) were employed in this study to assess the segmentation quality. The segmentation procedure was applied to segment aerial photographs in nature areas in part of The National Park Veluwezoom near Rheden, The Netherlands. The segmentations were generated using the top down approach, which is implemented in the Definiens Developer software. Comparison of the segmented images with the references gave a fair result by giving 45.8 % of exact correspondence and good conformity for all object properties which tested. Keywords: image segmentation, object-oriented analysis, accuracy assessment. ABSTRAK Visual review dan perbandingan berdasar pada area referensi (correspondence and shape conformity) digunakan pada syudi ini untuk mengukur kualitas hasil segmentasi. Segmentasi dilakukan pada foto udara untuk mengekstrak nature area di sebagian taman nasional Veluwezoom, Rheden, Belanda. Segmentasi dilakukan dengan pendekatan top down menggunakan perangkat lunak Definiens Developer. Perbandingan antara hasil segmentasi dengan referen memberikan hasil yg cukup baik dengan correspondence sebesar 45.8% dan conformity yang baik untuk semua object properties yang diuji.
SPATIAL DISTRIBUTION OF SEA SURFACE TEMPERATURE IN WEST SUMATERA SEAWATERS ASSOCIATED WITH INDIAN OCEAN DIPOLE (IOD) EVENT IN TRANSITIONAL SEASONS (AUGUST-OCTOBER) (Case Study: Pasumpahan and Sibonta Island) Wisha, Ulung Jantama; Tanto, Try Al; Ilham, Ilham
GEOMATIKA Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.323 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-1.459

Abstract

Along with the issue of climate change which is characterized by an increase in global temperature, the sea surface temperatures (SST) also allegedly helped change that has direct and consequential to the phenomenon of coral bleaching that occurred in the waters Pasumpahan, Sibonta and several other areas in West Sumatra. The purpose of this study was to identify anomalies in the sea surface temperature in the waters Pasumpahan and Sibonta due to the influence of the phenomenon of Indian Ocean Dipole. The method used is purposive quantitative with perform spatial analysis (Inverse Distance Weighted). Primary data are consisted of SST and tide data which measured using the HOBO U20 titanium water level data logger. The secondary data are consisted of RBI map, Google eye image and tide forecast. SST around Pasumpahan waters ranged from 30-30,6oC and Sibonta waters ranged from 30,1-30,6°C. At a depth of 25 meters, Pasumpahan waters temperature ranged from 29,152-30,457°C and Sibonta waters temperature ranged from 26,28-28,5°C, the surface elevation ranged from 0,83 to 1,17 m from MSL point, rainfall average in August until October ranged from 5,64-7,71 mm. The rainfall, temperature and surface elevation changes are affecting each other. Temperature anomalies occurred in the Sibonta waters due to the closer location with Indian Ocean, directly influence to Sibonta waters temperature that is relatively volatile.
Cover Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 21 No. 2 Desember 2015 Geomatika 2015, Jurnal Ilmiah
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.4 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.594

Abstract

.
IDENTIFIKASI LAHAN RAWA DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Studi Kasus Lahan Rawa di Kabupaten Indragiri Hulu Riadi, Bambang; M.A, AB. Suriadi; Suryanto, Jaka; Pranadita, Sekar
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.507 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.185

Abstract

Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau memiliki areal rawa yang luas mencapai 146.367 ha dari luas wilayah 795.569 ha atau 18,4 % wilayah kabupaten. Saat ini kondisi rawa tersebut terdegradasi untuk pemanfaatan lain diantaranya untuk perkebunan dan kegiatan ekonomi lainnya. Kondisi rawa yang masih berupa hutan (hutan tanaman industri, hutan, gambut dan rawa) mencapai 33.700 ha sedang yang berubah menjadi kebun kelapa sawit mencapai 39.800 ha dan kebun campuran 30.500 ha. Ada pemanfaatan lain di areal rawa untuk kegiatan ekonomi selain kegiatan ekonomi di atas. Tahapan kegiatan penelitian yang dilakukan adalah extraksi Peta Rupabumi, kompilasi data sekunder, interpretasi data inderaja, survey lapangan dan pemutakhiran peta. Area rawa dianalisis menggunakan SRTM 30m dan pemutakhiran tutupan lahan menggunakan data citra satelit SPOT5. Analisis perubahan pemanfaatan lahan rawa menggunakan teknik overlay pada Sistem Informasi Geografi, guna memvalidasi hasil analisis dilakukan survey lapangan.Kata kunci: degradasi, hutan, pemutakhiran peta, tutupan lahanABSTRACTIndragiri Hulu Regency of Riau Province has wetlands area reaches 146.367 ha of the total area 795.569 hectares (11.5% of the area). Currently, most of the wetland areaare converted and degraded into other  usage such as plantations and other economic activities. In the area,  33.700 hectares are still forested(forest industry plants, forests, peat bogs and swamps) while about 39.800 and 30.500 hectares are now being converted into palm plantations and mixed garden. Besides that, there are other utilization for economic activity different to the mentioned above. There werephases conducted in the research: topographic map information extraction, secondary data compilation, remote sensing data interpretation, field survey, and map updating. The wetlands was analyzed by using 30m SRTM; and its land cover was updated using SPOT-5 imagery. A GIS-overlaytechnique was implemented to analyze the change of land use and field survey was carried out to validate the results.Key words: degradation, forest, map updating, land cover
PENGEMBANGAN OPEN WEB COORDINATE TRANSFORMATION SERVICE (WCTS) Ferdiansyah, Harry
GEOMATIKA Vol 15, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2009.15-1.8

Abstract

The use of web service for spatial data is getting more popular nowadays, supported by the Open Geospatian Consortium (OGC) as the standard provider has made the development of exchange and visualisation of internet-based spatial data to be more popular. The utilisation of different spatial reference systems has made the need for web service for transformation to become a certainty. There are many web services offering spatial data transformation, but most of them use manual system to input data to be processed, so that not all of them fulfil the OGC specification to do the complete transformation features. This paper is aimed at offering the alternative solution for the coordinate transformation problem mentioned, through a development of a web service using the Geographic Markup Language (GML). Keywords: web service, coordinate transformation, spatial data processing. ABSTRAKPenggunaan web service untuk data spasial semakin populer saat ini, didukung oleh Open Geospatial Consortium (OGC) sebagai penyedia standar membuat perkembangan akan perukaran dan visualisasi data spasial berbasis internet semakin memasyarakat. Penggunaan sistem referensi spasial yang berbeda-beda menjadikan kebutuhan akan web service untuk transformasi koordinat sebuah keniscayaan. Terdapat banyak website yang menawarkan transformasi data spasial, tetapi sebagian besar masih menggunakan metode manual untuk memasukkan data poin yang akan diproses, sehingga tidak seluruhnya mendukung spesifikasi OGC untuk melakukan transformasi fitur spasial secara lengkap. Tulisan ini bertujuan untuk menawarkan alternatif pemecahan masalah dalam transformasi koordinat tersebut diatas, melalui pengembangan sebuah web service dengan optimasi penggunaan Geographic Markup Language (GML). Kata kunci: web service, transformasi koordinat, pemrosesan data spasial
PENENTUAN JENIS CITRA SATELIT DALAM INTERPRETASI LUASAN EKOSISTEM LAMUN MENGGUNAKAN PENGOLAHAN ALGORITMA CAHAYA TAMPAK Yanuar, Resha Christian; Hanintyo, Rizki; Muzaki, Anggi Afif
GEOMATIKA Vol 23, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.583 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-2.704

Abstract

Peran dan manfaat ekosistem lamun secara ekologis merupakan hal yang harus diamati secara terperinci, terlebih potensi kerusakan yang dapat terjadi. Pemantauan kondisi ekosistem tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh. Dalam penelitian ini, algoritma Lyzenga digunakan untuk mengolah nilai piksel yang ada pada citra satelit Landsat-8 dan Sentinel-2. Aplikasi algoritma Lyzenga akan menghasilkan nilai yang menunjukkan identitas dari objek yang terdapat di perairan pesisir. Hasil tersebut kemudian diproses melalui pengkelasan terbimbing dengan dilakukannya pemotongan kerapatan dalam rentangan Lyzenga, yang kemudian dihitung akurasinya. Hasil perhitungan akurasi menunjukkan angka 60,81% untuk citra Landsat-8 terkoreksi Top of Atmosphere (ToA) dengan titik acuan berjarak 30 meter, dan 60,18% untuk citra Sentinel-2 terkoreksi ToA dengan titik acuan berjarak 10 meter. Kedua nilai akurasi tersebut menunjukkan bahwa kedua jenis citra satelit mampu digunakan sebagai data untuk pemantauan objek pesisir, namun dengan kriteria acuan yang berbeda.
PETA TEMATIK RISIKO BENCANA UNTUK PENGUATAN PERAN GENDER DALAM PENANGGULANGAN BENCANA Narieswari, Lalitya; Munajati, Sri Lestari; Marschiavelli, Mone Iye Cornelia; Subagio, Habib
GEOMATIKA Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1500.348 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan kerentanan gender dan risiko bencana berbasis gender kabupaten bantul diatas peta. Penelitian ini menghasilkan kuesioner dan metode pembobotan dan skoring untuk penentuan kerentanan gender. Hasil penentuan kerentanan gender  selanjutnya diolah dengan kapasitas dan ancaman bencana yang ada untuk menghasilkan peta tematik risiko bencana untuk penguatan peran gender dalam penanggulangan. Peta yang dihasilkan adalah peta kerentanan gender, kapasitas dan peta risiko gender terhadap bencana gempabumi, tsunami, kekeringan dan banjir. Peta ini diharapkan memberi kemudahan bagi pengguna peta dalam melakukan identifikasi wilayah dan perbandingan khususnya mengenai peran gender dalam penanggulangan bencana selain juga dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi penguatan peran/kapasitas gender pada daerah berisiko tinggi serta meminimalkan kerentanan.Kata Kunci: Penguatan peran gender, Penanggulangan Bencana, Peta Risiko BencanaABSTRACTThis study aims to present gender vulnerability and gender disaster risk of Bantul district on the map. The study produced a questionnaire, weighting and scoring methods  to determine  gender vulnerability. The results then further processed with the capacity and the existing natural hazards which to generate disaster risk thematic maps. The resulting map are gender vulnerability map, gender capacity map and gender disaster risk maps for earthquakes, tsunamis, droughts and floods. These maps are expected not only to guide and facilitate  users to identifythe role of gender in disaster management in their own area but also be used as an evaluation basis to strengthen the role of gender or capacity in high-risk areas and to minimize vulnerabilities.Keywords: Gender strengthening, Disaster Management, Disaster Risk Map
REKONSTRUKSI KLIMAT LAUT PERAIRAN INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN REGIONAL OCEAN MODELING SYSTEMS (ROMS) Sofian, Ibnu
GEOMATIKA Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.296 KB)

Abstract

Rekonstruksi klimat laut dari tahun 1960 sampai 2008, di Perairan Indonesia dilakukan dengan menggunakanRegional Ocean Modeling Systems (ROMS).Hasil validasi model menunjukkan bahwa model laut dapat digunakan untuk merekonstruksi data klimat laut.Model mempunyai korelasi sedang sampai tinggi yang berkisar antara 0.4 sampai 0.97 dengan data altimeter dari tahun 1993 sampai 2008. Estimasi arus permukaan hasil model menunjukkan bahwa air lautpermukaan di Perairan Indonesia, cenderung bergerak dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia. Selanjutnya, hasil rekonstruksi sea level menunjukkan bahwa terjadi perubahan tingkat kenaikan sea level rise (SLR) dari 0.1cm/tahun (1960-2008) menjadi 0.6cm/tahun(1993-2010). Perubahan dinamika SLR ini sejalan dengan trenpeningkatan SLR global dari 2.1mm/tahun sejak tahun 1960, menjadi 3.0mm/tahun dari tahun 1993. Pada akhirnya, jika perubahan berlanjut, maka tinggi sea level pada tahun 2100 menjadi 60cm relative terhadap sea level tahun 2000. Kata Kunci: Rekonstruksi, KlimatLaut, Indonesia, ROMS ABSTRACT Reconstruction of the ocean climate in the Indonesian seas from 1960 to 2008 has been conducted using the Regional Ocean Modeling Systems (ROMS). Model validation result shows that the ocean model can be used to reconstruct the ocean climate. ROMS has moderate to high correlations that varying from 0.4 to 0.97 with altimeter from 1993 to 2008. Long-term model-estimated surface currents indicate the surface water within the Indonesia Seas flow from the Pacific to Indian Oceans. Moreover, based on the reconstruction of the sea level illustrate that sea level rise (SLR) in Indonesia Seas increases from 0.1cm/yr (1960-2008) to 0.6cm/yr (1993-2010). This dynamic SLR changes is related with the rising of the global SLR from 2.1mm/yr to 3.0mm/yr since 1960’s to 1990’s, respectively. Eventually, if this trend continues, the sea level in 2100 will be 60cm higher than the one in 2000. Key Words: Reconstruction, Ocean Climate, Indonesia, ROMS1. 
PENDEKATAN METODE NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI) DAN LYZENGA UNTUK PEMETAAN SEBARAN EKOSISTEM PERAIRAN DI KAWASAN PESISIR TELUK BENOA, BALI Putra, Aprizon
GEOMATIKA Vol 23, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1084.003 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-2.729

Abstract

Perubahan secara spasial pada ekosistem pesisir yang terjadi di kawasan pesisir Teluk Benoa Bali seperti tutupan mangrove telah berubah menjadi lahan untuk tambak, pelabuhan, permukiman, pembangunan tol laut serta reklamasi pulau. Dimana perubahan tutupan lahan berdampak pada ekosistem pesisir, hal tersebut menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan seperti sedimentasi, intrusi air laut dan banjir pasang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan sebaran ekosistem pesisir seperti mangrove dan terumbu karang menggunakan citra Spot-6 tahun 2006, 2012 dan 2015 serta citra Landsat 7+ETM tahun 1997. Metode untuk laju perubahan didapat dari analisis secara overlay menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Dimana untuk perubahan sebaran mangrove yaitu dengan membedakan objek mangrove dengan non mangrove dengan analisis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), sedangkan perubahan sebaran terumbu karang yaitu dengan persamaan algoritma Lyzenga untuk ekstraksi informasi dasar perairan. Pemetaan ekosistem pesisir di kawasan Teluk Benoa dengan memanfaatkan citra resolusi tinggi Spot-6 dan di dukung dengan citra Landsat 7+ETM sangat membantu memberikan kenampakan mencakup wilayah lebih luas dibandingkan dengan pengamatan langsung di lapangan. Adapun hasil analisis perubahan sebaran mangrove yaitu: 1) tahun 2006 ke tahun 2012 dengan perubahan -89,98 ha; dan 2) tahun 2012 ke tahun 2015 dengan perubahan -60,62 ha. Sedangkan perubahan kondisi terumbu karang yaitu: 1) tahun 1997 ke tahun 2006 dengan perubahan -69,07 ha; 2) tahun 2006 ke tahun 2012 dengan perubahan -90,51 ha; dan 3) tahun 2012 ke tahun 2015 dengan perubahan 112,47 ha. Sebaran terumbu karang dominan berada di luar Teluk Benoa.