cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
DINAMIKA PEMANFAATAN LAHAN BENTANG ALAM GUMUK PASIR PANTAI PARANGTRITIS, KABUPATEN BANTUL M., Fakhruddin; Poniman, Aris; H, Malikusworo
GEOMATIKA Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1103.157 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-2.239

Abstract

The sand dunes’ range or landscape in Parangtritis beach are not instantly formed instead they are formed over a long period of time to form their distinct and unique physical shapes. On the other hand, the existence of sand dunes is threatened by a number of forces which are potentially damaging to their survival. This research is intended to analyzing land utilization in the area of sand dunes.Keywords: Landuse, landscape, sand dune, coastal.ABSTRAKHamparan atau bentang alam gumuk pasir di Pantai Parangtritis tidak terbentuk secara instan, tetapi dalam kurun waktu yang cukup lama membentuk kenampakan fisik yang menarik dan unik. Disisi lain, keberadaan gumuk pasir menghadapi berbagai tekanan yang berpotensi merusak kelestariannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan lahan di kawasan bentang alam gumuk pasir.Kata Kunci: Penggunaan Lahan, bentanglahan, gumuk pasir, pesisir
IDENTIFICATION OF WATER INUNDATION USING QUICKBIRD AND ALOS PALSAR SATELLITE IMAGE STUDY CASE: DAYEUHKOLOT SUBDISTRICT, BANDUNG DISTRICT Prihanggo, Maundri; Darmawan, Sony; Wikantika, Ketut
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.154

Abstract

Indonesia was one of many disasterous potential country, more than 70% of natural disaster happened werehidrometeorogical disaster includingflood. Flood is definedas an overflow or inundation that comes from a river or other body of water and causes or threatens damage, any relatively high streamflow overtopping the natural or artificial banks in any reach of a stream. There are 4 regionsin Java Island that havethe highest potention of flood, they are Jakarta Province,  Merapi Slope Area, Bengawan Solo and Citarum Watershed Area. The purpose of this study is to identify land cover and water inundation of the study area using Quickbird and ALOS PALSAR image. Before classified and analyze the result, image pre-processing has to be generated in Quickbird and ALOS PALSAR image data to rid off thedistorsion from the data. Quickbird Image can be used for land cover identification with generated object based image classification and ALOS PALSAR Image are applied to identify water inundation in flood area using backscatter value deliniation. By 10th September 2013 with only 5 mm, all of the classes were inundated by water at severalvalues. Keywords: water inundation, remote sensing, Quickbird, ALOS PALSAR.ABSTRAKIndonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi bencana yang cukup tinggi dan lebih dari 70% bencana yang terjadi merupakan bencana hidrometeorologis termasuk banjir. Banjir didefinisikan sebagai luapan atau genangan yang keluar dari sungai atau badan air dan menyebabkan suatu bahaya dan disebabkan oleh fenomena cuaca dan kejadian yang menyebabkan presipitasi berlebihan pada suatu permukaan bumi. Di Pulau Jawa terdapat empat daerah rawan banjir yang mendapat prioritas tinggi yaitu lereng Gunung Merapi, Provinsi Jakarta dan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo serta Daerah Aliran Sungai Citarum. Tujuan dari studi ini adalah melakukan identifikasi tutupan lahan daerah kawasan banjir beserta luasan genangan air pada tiap tutupan lahan dengan memanfaatkan citra Quickbird dan citra ALOS PALSAR. Sebelum dilakukan proses klasifikasi dan analisis citra, proses pra pengolahan data dilakukan pada citra Quickbird dan ALOS PALSAR agar bersih dari kesalahan yang ada. Tutupan lahan akan didapatkan dari citra Quickbird dengan metode klasifikasi object based dan genangan air diperoleh dengan deliniasi nilai backscatter citra ALOS PALSAR. Dengan curah hujan 5 mm pada tanggal 10 September 2007 seluruh kelas pada area studi tergenang dengan nilai tertentu.Kata kunci: genangan air, penginderaan jauh, Quickbird, ALOS PALSAR.
APLIKASI DATA INDERAJA MULTI SPEKTRAL UNTUK ESTIMASI KONDISI PERAIRAN DAN HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS DI SELATAN JAWA BARAT Fitriah, Nurlaila; Nahib, Irmadi
GEOMATIKA Vol 15, No 2 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1189.754 KB) | DOI: 10.24895/geomatika.v15i2.246

Abstract

Lokasi penelitian terletak di perairan selatan Jawa bagian barat yaitu pada koordinat: 104° BT-107° BT dan 5° LS - 9° LS dengan wilayah kajian pada koordinat 104.4° BT - 106.5° BT dan 6.8° LS -7.8° LS. Citra yang digunakan adalah citra Aqua MODIS level 3. Algoritma yang digunakan untuk estimasi konsentrasi klorofil-a adalah OC3M. Analisis temporal klorofil-a dan SPL dilakukan dengan metode deret waktu. Untuk melihat hubungan antara klorofil-a dan SPL (suhu permukaan laut) dengan hasil tangkapan dilakukan analisis secara deskriptif dan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan: Rata-rata SPL tahun 2002-2007 berkisar antara 25°C – 31°C. SPL yang dominan pada wilayah penelitian adalah 29°C - 30°C. Pada Agustus dan September 2006 terjadi IODM, dimana SPL lebih dingin dari biasanya. Secara umum kisaran klorofil-a di wilayah penelitian sebesar 0.1434 mg/m3-1.3689 mg/m3. Kisaran yang dominan pada wilayah penelitian antara 0.4 mg/m3-1.0 mg/m3. Spektrum densitas energi klorofil-a menunjukkan adanya fluktuasi antar tahunan dengan periode 30 dan 20 bulan. Selain itu, fluktuasi tahunan klorofil-a terjadi pada periode 15, 12, dan 10 bulan. Untuk SPL, nilai densitas energi menunjukkan fluktuasi antar tahunan dan tahunan. Periode antar tahunan yang terjadi adalah 30, dan 20 bulan, sedangkan periode tahunan yang terjadi adalah 15, 12, dan 10 bulan.Kata Kunci: Multispektral, Aqua Modis, Klorofil-a, suhu permukaan laut phitoplantonABSTRACTLocation of research is located in the southern waters of west Java on the coordinates: 104-107° East and 5-9° South, and the study area coordinates 104.4 -106.5° East and 6.8-7.8° South. Image used is the image of Aqua MODIS level 3. Algorithm that is used to estimate concentration-chlorophyll is a OC3M. Temporal Analysis chlorophyll - SST (sea surface temperature) and a method carried out with the progression of time. To see the relationship between chlorophyll - SST and a catch made with the results of the analysis is descriptive and regression linier simple. Results of research shows: Average SST years 2002-2007 ranged between 25°C - 31°C. SST at the dominant area of research is 29°C - 30°C. In August and September 2006 occurred IODM, where SPL more cold than usual. In general, the range-a chlorophyll research in the area of 0.1434 mg/m3-1.3689 mg/m3. Dominant in the range of research areas between 0.4 mg/m3 - 1.0 mg/m3. Energy density spectrum chlorophyll-a show of inter-annual fluctuations with periods 30 and 20 months. In addition, chlorophyll-annual fluctuations occurred in a period of 15, 12, and 10 months. For SST, the value of the energy density shows inter-annual fluctuations and annual. Inter-annual period is going 30, and 20 months, while the annual period is going 15, 12, and 10 months.Keywords: Multispectral, Aqua Modis, Chlorophyll-a, Sea Surface Temperature, Phytoplanton.
TANTANGAN DALAM AKUISISI DATA HIDROGRAFI DI ZONA INTERTIDAL UNTUK PEMETAAN LINGKUNGAN PANTAI INDONESIA SKALA 1:10.000 Basith, Abdul
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.77 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.160

Abstract

Zona intertidal dan zona tetangganya tempat terjadinya gelombang pecah adalah zona yang menantang untuk melakukan akuisisi data hidrografi yang meliputi garis pantai, DEM pantai dan batimetri. Disebabkan dinamikanya, sering kali daerah ini terancam dari kekosongan data. Untuk penyediaan data sebagai masukan bagi pembuatan Peta Dasar Lingkungan Pantai Indonesia skala 1:10.000, ada beberapa metode yang dapat diusulkan. Untuk pemetaan garis pantai sesaat/garis air dan DEM pada zona intertidal dapat digunakan survei teristris baik menggunakan total station maupun RTK GPS, kamera monitor, LiDAR, water line method, inderaja sensor yang dikombinasikan dengan data pasang surut, DEM maupun pemodelan hidrodinamika. Sementara untuk pengadaan DEM pada zona intertidal dan gelombang pecah dapat menggunakan Jetski Batimetri, USV Batimetri, dan LiDAR.Kata kunci: zona intertidal, akuisisi data hidrografi, LiDAR/USV BatimetriABSTRACTIntertidal and its neighbouring zones where the breaking waves took places are very challenging subjects for hydrography data acquisition such as shoreline mapping, coastal DEM and bathymetry mapping. These areas frequently suffered from null data due to their dynamics. To provide data input for the making of Indonesian Coastal Area Map, scale 1:10.000, we suggest some methods. For shoreline/waterline mapping, the proposed methods are terrestrial surveying (using either total station or RTK GPS), close range photogrammetry, LiDAR, waterline method, remote-sensing sensors combined with tide gauge data, DEM and hydrodynamics model. Furthermore, Jet Ski bathymetry, USV bathymetry, and LIDAR can be used to generate intertidal and break wave zones DEM.Keywords: Intertidal zone, hydrography data aquitition, LiDAR/USV Batimetri
KAJIAN DASAR DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP SEKTOR PERTANIAN DI PROVINSI BENGKULU: ANALISA PERUBAHAN CURAH HUJAN DAN SEA LEVEL RISE Widiyono, Heru
GEOMATIKA Vol 15, No 2 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1197.018 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2009.15-2.251

Abstract

The climate change has occurred in the Bengkulu Province with the increasing of rainfall in December since the last two decades. On the contrary, total precipitation in June is getting lower and drops more than 50mm/month. On the other hand, Sea level is increasing by 0.6cm/year and will reaches to 60cm in 2100. Furthermore, the extreme wave is more frequent due to the strengthening of global warming. High wave and sea level rise increase the risk of flooding, erosion, decreasing of fishing productivity and inhibit the goods flow among the islands that use the marine transportation.Keywords: climate change, Bengkulu, rainfall, sea levelABSTRAKPerubahan iklim sudah terjadi di Provinsi Bengkulu, dengan makin tingginya curah hujan di bulan Desember sejak dua dekade terakhir. Sebaliknya curah hujan pada bulan Juni semakin rendah dengan penurunan lebih dari 50mm/bulan. Di sisi lain, tinggi muka laut (TML) mengalami kenaikan sebesar 0.6cm/tahun, dan mencapai 60cm sampai tahun 2100. Selanjutnya, tinggi gelombang ekstrim akan mengalami kenaikan seiring dengan intensifnya pemanasan global. Hal ini akan mempertinggi risiko banjir dan erosi, serta penurunan produksi nelayan dan menghambat arus barang antar pulau yang menggunakan sarana perhubungan laut.Kata kunci: perubahan iklim, Bengkulu, curah hujan, sea level
ANALISIS OPTIMASI KEBUTUHAN LUASAN HUTAN KOTA SEBAGAI PENYERAP TIMBAL SERTA STRATEGI PENGELOLAANNYA DI WILAYAH DKI JAKARTA Ruyani, Ipih; Kusmana, Cecep; Sutjahjo, Surjono H; Suaedi, Suaedi
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.165

Abstract

Kemampuan ekosistem untuk menyerap polusi berkurang karena kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH). Hingga tahun 2009, hanya 9 % dari total luas area RTH yang direalisasi di Jakarta, dan pada 2000-2010 ditargetkan mencapai 13,94 %. Kegagalan Pemerintah Jakarta untuk memenuhi daerah yang tertutup sempurna RTH tentu akan memperburuk polusi udara di kota. Hasil pengukuran timbal (Pb) di udara (ambien) akan ditampilkan di semua lokasi di bawah 0,001 μg/Nm3. Hasil pengukuran menunjukkan semua kandungan timbal dalam tanah berkisar antara 2,0 ppm (HK T.7 UI) menjadi 44,9 ppm (T.13 Terminal Kampung Rambutan). Kadar timbal dalam organ berbagai jenis pohon (batang, cabang, daun) di semua lokasi sekitar <0,7 mg/kg. Berdasarkan peraturan kebutuhan RTH di Provinsi DKI Jakarta adalah 19.846 ha (30%). Berdasarkan analisis spasial dari data ALOS 2009, RTH baru yang tersedia adalah  sekitar13.613 ha (20,58%), sehingga RTH yang  masih masih dibutuhkan adalah seluas 6,232 ha (9,42%). Menurut peraturan yang ada, kebutuhan RTH yang berupa Hutan Kota di Jakarta adalah 6.615,2 ha (10%) dan potensial area yang diarahkan menjadi hutan kota adalah sekitar  4.419.804 ha (6,68%).  Oleh karena hutan kota masih perlu ditambah seluas 2.195,40 ha (3,32%).  Skenario perluasan RTH sangat berpengaruh pada konsentrasi timbal di udara. Hasil Analytical Hierarchy Process (AHP) menunjukkan strategi optimasi itu harus dimulai dengan mengembangkan hutan kota, yang diisi dengan pohon-pohon dengan stratifikasi penuh (24,8 % berat).Tahap selanjutnya adalah dengan menggunakan Building Coverage Ratio (KDB) (13,7%) dan dengan memberikan kompensasi kepada orang-orang yang tinggal di sekitar hutan kota yang bersedia untuk menjaga kualitas hutan kota (13,2%) Sementara itu, strategi perluasan RTH dapat dilakukan dengan berbagai tindakan operasional dengan melibatkan pihak terkait lainnya. Kata Kunci: Jakarta, Optimasi, Polusi, RTH.  ABSTRACTThe ecosystem ability to absorb pollution is reduced due to the lack of Green Open Space (GOS). Until 2009, only 9% of its total area in Jakarta is realized, and during 2000-2010 GOS is set at 13.94%. Jakarta Governments failure to meet the ideal covered area of GOS will certainly aggravate air pollution in the city.  Results of measurement of lead (Pb) content in air (ambient) shown in all locations are below 0.001 μg/Nm3.  Measurement results showed the total lead content in soil ranged between 2.0 ppm (HK T.7 UI) to 44.9 ppm (T.13 Kampung Rambutan Terminal).  Lead content in the organs of various types of trees (trunks, branches, leaves) in all locations approximately <0.7 mg / kg.  Based on legal regulations, the necessity GOS Jakarta Province is about 19,846 ha (30%).  Based on spatial analysis from Alos 2009, new GOS availability is about 13.613 ha (20.58%), which means it still takes up 6,232 ha of GOS (9.42%).  Based on legal regulation, the need of Urban Forest GOS in Jakarta is 6,615.2 ha (10%) and the potential area to be set as urban forest approximately 4,419.804 ha (6.68%).  Therefore, we need to increase urban forest area of 2,195.40 ha (3.32%).  Dynamic model simulation result shows that there is a pressure on the existence of GOS by land conversion due to development.  GOS existence (in East Jakarta and South Jakarta) could increase the absorption of lead contamination.  Analytical Hierarchy Process (AHP) result shows that the optimization strategy should be started by developing urban forest, consists of trees with full stratification (24.8% weight).  The next step is by using Building Coverage Ratio (KDB) (13.7%) and by giving compensation to people living around the urban forest who are willing to maintain the quality of urban forest (13.2%).  Meanwhile, GOS strategy for expansion can be done with a variety of operational actions involving other related parties. Keyword: Jakarta, Optimation, Pollution, GOS.
PEMBANGUNAN MODEL BASISDATA SPASIAL DARI FENOMENA PENURUNAN TANAH DI INDONESIA Hafidzah, Dinni Sanni; Abidin, Hasanuddin Z; Andreas, Heri; Riqqi, Akhmad
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.491 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.462

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang kota-kota besarnya terkena dampak dari penurunan tanah. Fenomena penurunan tanah biasa terjadi di daerah-daerah yang memiliki tingkat urban development tinggi seperti DKI Jakarta, Bandung dan Semarang. Pemantauan fenomena penurunan tanah ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan metode geodetik yaitu survei sipat datar (levelling), survei GPS, survei gaya berat mikro dan Interferometric Synthetic Aperture Radar(InSAR). Informasi-informasi mengenai penurunan tanah ini dapat digunakan sebagai bahan perumusan kebijakan maupun pengambilan keputusan mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kebumian serta hal-hal lainnya apabila disimpan serta dipergunakan secara tepat guna. Data-data spasial serta informasi pendukung dari penurunan tanah di Indonesia ini belum memiliki suatu sistem sebagai media pengelolaan data. Tujuan penelitian ini adalah perancangan model basisdata untuk fenomena penurunan tanah yang terdiri dari tiga tahap yaitu perancangan basisdata konseptual, logikal dan fisikal. Hasil perancangan basisdata kemudian disimpan pada perangkat lunak PostgreSQL/PostGIS sebagaiDatabase Management System. Selain itu, dapat disimpulkan pula bahwa untuk membangun suatu model basisdata spasial membutuhkan tahapan yang panjang antara lain inventarisasi data, perancangan model basisdata, dan pembangunan basisdata.Pembangunan suatu basisdata spasial inidiharapkan dapat membantu dalam pengorganisasian data-data spasial dari fenomena penurunan tanah di Indonesia. Kata kunci: penurunan tanah, DBMS, basisdata spasialABSTRACTIndonesia’s big cities have been affected by land subsidence phenomenon. This land subsidence phenomenon usually occurs in areas that have a high urban development, such as DKI Jakarta, Bandung, and Semarang. Monitoring of land subsidence phenomenon can be done by utilizing the geodetic method such as levelling survey, GPS survey, micro-gravity survey, and Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR). Information about land subsidence can be used as policy formulation and decision-making on various matters relating to the Earth issues and other matters if it stored and used properly. Spatial data and other information of land subsidence in Indonesia does not yet have a data management system. The purpose of this study is designing database models for land subsidence phenomenon which is consists of three stages: conceptual database design, logical, and physical. Results of the database design are stored in the PostgreSQL/PostGIS software as Database Management System. Moreover, it can be concluded that in order to build a model of spatial database requires a long stage include data inventory, data model design, and database development.Development of a spatial database model is expected to help in organizing the spatial data of land subsidence phenomenon in Indonesia.Keywords: land subsidence, DBMS, spatial database
PETA KALENDER TANAM PADI LAHAN RAWA LEBAK DI KALIMANTAN SELATAN DI TENGAH PERUBAHAN IKLIM GLOBAL Wakhid, Nur; Syahbuddin, Haris
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.52 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.170

Abstract

ABSTRAK Perubahan iklim global berimbas pada kondisi lahan rawa lebak di Kalimantan Selatan. Disamping itu, perubahan iklim menggeser awal dan akhir tanam yang berdampak negatif pada pola tanam dan produksi tanaman pangan di lahan rawa lebak. Penelitian ini bertujuan menyusun peta kalender tanam lahan rawa lebak pada 3 (tiga) kejadian iklim tahun kering, tahun normal, dan tahun basah. Peta tersebut diharapkan bermanfaat sebagai panduan untuk menentukan potensi waktu dan pola tanam tanaman padi sampai level kecamatan di Kalimantan Selatan. Pembuatan kalender tanam menggunakan kombinasi analisis antara curah hujan dan genangan di lahan rawa lebak. Selanjutnya dilakukan delineasi peta kalender tanam yang dikombinasikan dengan peta administrasi, peta agroklimat, peta lahan rawa lebak, dan peta sawah di lahan rawa lebak. Hasil kajian menunjukkan bahwa: 1) Kalender tanam rawa dapat dijadikan salah satu alternative menghadapi perubahan iklim; 2) Waktu tanam di lahan rawa lebak berpotensi ditingkatkan dari 1 (satu) kali setahun menjadi 2 (dua) kali setahun. Kata Kunci: Peta Kalender Tanam, Padi, Iklim, Rawa Lebak, Kalimantan Selatan ABSTRACT The global climate change influence the condition of fresh swampland in South Kalimantan. In addition, climate change displace the beginning and the end of planting time that cause negative effect for planting rule and food plants production in fresh swampland. This study aims to compile a map of crop calendar in freshr swampland on 3 (three) incidences of climate years such as dry, normal, and wet.This map can be used as guidance for determining potential planting time of paddy plants until subdistrict level in South Kalimantan. The cropping calendar developed by analysis combination of rainfall data and inundation data in fresh swampland. Furthermore, delineation of crop calendar map for each admintrative area was carried out by combining the crop calendar map with administration map, agroclimate map, fresh swampland map, and rice field map. The study indicates: 1) the crop calendar map can be used as one of potential alternative in facing the climate change; 2) planting time in fresh swampland can be increased from 1 to twice per year.  Keywords: Crop Calendar Map, Paddy, Climate, Fresh Swampland, South Kalimantan 
ANALISIS PARAMETER ORIENTASI LUAR PADA KAMERA NON-METRIK DENGAN MEMANFAATKAN SISTEM RTK-GPS Nugroho, Budi Heri; Suwardhi, Deni; Harto, Agung Budi
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.616 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.478

Abstract

Fotogrametri dalam pengolahannya sangat dibatasi oleh kemampuan perangkat lunak untuk memecahkan parameter yang ada, baik parameter koordinat objek maupun parameter orientasi kamera. Parameter orientasi kamera terdiri dari parameter orientasi dalam dan juga parameter orientasi luar yang terdiri dari posisi dan juga rotasi kamera. Dengan bantuan dari sistem RTK-GPS, parameter posisi bisa dihilangkan dan perhitungan bundle adjustment diharapkan menjadi efisien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan data posisi kamera dari GPS bisa membantu perhitungan bundle adjustment. Satu hal yang harus diperhatikan adalah adanya offset antara antena GPS dan kamera. Pengolahan dilakukan dengan menggunakan Australis 6.0, namun gagal dalam melakukan proses bundle adjustment, sehingga pengolahan selanjutnya dilakukan dengan menggunakan ERDAS IMAGINE 9.2. Kebenaran hasil pengolahan ERDAS IMAGINE 9.2 dibuktikan dengan membandingkan hasil pengolahan Agisoft PhotoScan 0.8. Hasil dari penelitian ini adalah penambahan RTK GPS tidak menambah akurasi secara signifikan tetapi meningkatkan efisiensi untuk pemetaan bergerak (mobile mapping) karena membutuhkan lebih sedikit titik kontrol di lapangan.Kata kunci: fotogrametri rentang dekat, bundle adjustment, RTK-GPSABSTRACTPhotogrammetry in its processing is very limited by the ability of software to calculate the parameter, whether it’s object coordinates or the camera orientation parameter. The orientation parameter is consisting of inner and exterior orientation parameter in which consisted of camera position and camera rotation. With help from RTK-GPS system, the camera position can be considered as constraint so the bundle adjustment calculation could be more efficient.The purpose of this study was to determine how much the effect of camera positioning data from GPS can help bundle adjustment calculation.However, there is offset between the GPS antenna and the camera that must be concerned.The processing carried out byusingAustralis 6.0 was fail in bundle adjustment calculation, so the next calculation process wasdone by ERDAS IMAGINE 9.2. The result of ERDAS IMAGINE 9.2 was thencompared to Agisoft PhotoScan 0.8 calculation result. Conclusion of this research is RTK GPS system does not increase the accuracy significantly but increase the mobile mapping efficiency, with the decreasing of control points needed on the object.Keywords: close range photogrammetry, bundle adjustment, RTK-GPS
DEFORESTATION AND ITS IMPLICATIONS TO THE POPULATION OF SUMATRAN TIGER (PANTHERA TIGRIS SUMATRAE) IN BUKIT BARISAN SELATAN NATIONAL PARK, SUMATRA Suyadi, Suyadi
GEOMATIKA Vol 17, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2722.596 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2011.17-1.175

Abstract

Bukit Barisan Selatan National Park (BBSNP) is home for Sumatran tigers (Panthera tigris sumatrae), one of world’s most endangered mammals (Appendix I of CITES). Much of the forest cover in BBSNP has been cleared dramatically and deforestation is a great threat on the population of tigers. Remotely-sensed data sets were linked with wildlife survey using camera traps to examine the deforestation from 1998 to 2006 and its effects to the population of Sumatran tigers in BBSNP. This paper assesses the relationship between deforestation in BBSNP with the population of Sumatran Tigers. It was found that the average rates of forest loss in BBSNP were 18.76 km2 per year, representing a 7% loss from 1998 to 2006. In addition, the number of tigers declined from 57 tigers in 2000 to 22 tigers in 2006, and tiger density decrease from 2.25 tigers/100km2 in 2000 to 1.16 tiger/100km2 in 2006. Keywords: Deforestation, Sumatran tiger, satellite imageries, Camera Trap, Bukit Barisan Selatan National Park. ABSTRAKTaman Nasional Bukit Barisan Selatan adalah habitat bagi harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), salah satu mamalia yang terancam keberadaannya (Lampiran I CITES). Banyak hutan yang sudah dibabat secara dramatis dan penggundulan hutan merupakan ancaman yang besar pada populasi harimau. Data penginderaan jauh dikorelasikan dengan survei satwa liar yang menggunakan camera traps untuk mengkaji deforestasi dari tahun 1998 sampai 2006 dan pengaruhnya pada populasi harimau Sumatra dalam wilayah taman nasional tersebut. Makalah ini mengkaji hubungan antara penurunan jumlah hutan dengan populasi harimau Sumatra. Ditemukan bahwa rata-rata kehilangan hutan di taman nasional ini adalah 18,76 km per tahun, sekitar 7% dari tahun 1998 s.d. 2006. Jumlah harimau yang terekam menurun dari 57 di tahun 2000 menjadi 22 tahun 2006, dan populasinya menurun dari 2,25/100km2 di tahun 2000 menjadi 1,16/100km2 tahun 2006. Katakunci: Penggundulan hutan, harimau Sumatra, citra satelit, kamera trap,Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.