cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 14, No 1 (2012)" : 10 Documents clear
PEMETAAN MULTIRAWAN BENCANA DI PROVINSI BANTEN Soleman, M. Khifni; Nurcahyani, Fitri; Munajati, Sri Lestari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.848 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.136

Abstract

Peta rawan bencana sangat diperlukan karena dengan adanya informasi ini tindakan preventif terhadap kejadian bencana dapat dilakukan sehingga dapat mengurangi berbagai kerugian yang mungkin ditimbulkannya. Provinsi Banten merupakan salah satu provinsi di Pulau Jawa yang rawan bencana baik bencana alam maupun yang disebabkan oleh ulah manusia. Berbagai bencana yang terjadi di Provinsi Banten antara lain tsunami, banjir, longsor, abrasi, gempa, dan semburan lumpur panas. Berbagai jenis bencana tersebut bisa terjadi pada lokasi yang berlainan maupun pada lokasi yang sama. Oleh karena itu selain diperlukan pemetaan wilayah bencana secara individual, juga diperlukan pemetaan multirawan bencana. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah analisis data penginderaan jauh, Sistem Informasi Geografis (SIG) dan survei lapangan. Hasil pemetaan bencana banjir meliputi wilayah seluas 88.082,99 ha, wilayah rawan gempa seluas 344.126,59 ha dan wilayah rawan longsor seluas 3.015,90 ha. Sedangkan wilayah yang mengalami multirawan bencana mencakup 55,45 % dari total wilayah Provinsi Banten (934.826,73 ha) yaitu seluas 518.361,42 ha.Kata Kunci : Pemetaan, Multirawan Bencana, SIG, Penginderaan Jauh, Provinsi Banten ABSTRACTHazard map is crucially needed because the information contained would enable people to make a preventive action when an hazard turn to disaster, therefore the risk that may incur can be reduced. Banten Province is one of the province in Java Island that prone to several hazards such as tsunami, flood, landslide, coastal abrasion, earthquake, and volcano mudflow. Those types of hazard could occur at the different location as well as at the same location. Therefore, a multi-hazard mapping should be carried out, despite the individual hazard mapping. The method used in this research is a combination of remotely sensed data analysis, Geographical Information Systems (GIS), and field survey. The result shows that the area susceptible to flood was at 88,082.99 ha, earthquacke at 344,126.59 ha, and landslide at 3,015.90 ha. Meanwhile, the area succeptible for multi-hazard covered 55.45 % of the total area of Banten Province (934,826.73 ha), accounted for 518,361.42 ha.Keyword : Mapping, Multihazard, GIS, Remote Sensing, Banten Province
PEMETAAN TERUMBU KARANG DAN NILAI EKONOMI BERDASARKAN TRAVEL COST METHOD Nahib, Irmadi; Suwarno, Yatin; Arief, Syahrul
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.593 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.132

Abstract

Studi ini bertujuan mengetahui potensi dan penyebaran terumbu karang serta menganalisis manfaat ekonomi dari wisata terumbu karang. Pemetaan dilakukan dengan analisis citra Aster tahun 2007 dan survei lapangan tahun 2011. Analisis ekonomi dilakukan dengan pendekatan biaya perjalanan (travel cost method), yaitu mengkaji biaya yang dikeluarkan oleh setiap individu untuk menikmati kawasan rekreasi. Hasil perhitungan dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) diketahui luas ekosistem terumbu karang di Taman Nasional Karimunjawa sebesar 6.189,69 ha, yang terdiri dari terumbu karang : 3.707,303 ha (59,89%), lamun 405,686 ha (6,55%) dan pasir 2.076,697 ha (33,55%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian ekosistem terumbu karang masih merupakan karang. Berdasarkan jumlah biaya akomodasi yang dikeluarkan selama berada di TN Karimunjawa, rata-rata biaya akomodasi yang dikeluarkan oleh wisatawan adalah sebesar Rp. 880.000/orang/kunjungan. Sedangkan berdasarkan rata-rata total biaya perjalanan adalah Rp.3.184.000/orang/kunjungan (wisatawan domestik) dan Rp. 29.720.000 /orang/kunjungan (wisatawan asing). Dari hasil perhitungan konsumen suprlus yang dinikmati oleh wisatawan adalah sebesar Rp. 550.250 dan nilai ekonomi Taman Nasional Karimunjawa sebesar Rp. 4.981.963.500.Kata Kunci : Pemetaan, Nilai Ekonomi, Terumbu Karang, WisataABSTRACTThis study aims to determine the potential and distribution of coral reefs as well as analyzing the economic benefits of coral reef trip. The coral reef mapping was carried out by analyzing an Aster satellite image year 2007 and a field survey conducted in 2011. An economic valuation using a travel costs method was performed to examine the costs incurred by each individual to enjoy the recreation area. The results of calculations using Geographical Information Systems (GIS) found the area of coral reef ecosystems in the Karimunjawa National Park (NP) accounted for 6189.69 hectares, consisted of coral reefs at 3707.303 ha (59.89%), seagrass at 405.686 ha (6.55% ) and sand at 2076.697 ha (33.55%). This number suggests that most of the ecosystem is dominated by coral reef. Meanwhile, based on the calculation of additional costs incurred while visiting the Karimunjawa NP, average accommodation costs incurred was IDR 880.000/person/visit. Moreover, the total cost average of each trip was valued for IDR 3.184 million/person/visit for domestic visitors, and IDR 29.720.000/person/traffic for overseas visitors. Besides that, the calculation of consumer surplus enjoyed by tourists was accounted for IDR 550,250. Altogether, the economic value of Karimunjawa NP was accounted for IDR 4.981.963.500.Keywords: Mapping, Economic Value, Coral Reefs, Tourism
DISTRIBUSI SPASIAL BESARAN EROSI UNTUK PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN LESTARI Widiatmaka, Widiatmaka; Soeka, Benar Darius Ginting
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.008 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.137

Abstract

Metode penghitungan erosi yang digunakan pada umumnya merupakan metode penghitungan statis, artinya penghitungan pada suatu tempat atau titik tertentu. Penghitungan spasial dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor penyebab erosi setempat. Perhitungan spasial perlu dilakukan, agar upaya konservasi dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung secara spasial besaran erosi wilayah, untuk kemudian digunakan sebagai input bagi pertimbangan konservasi. Penelitian ini dilakukan di UPT Rantau Pandan SP-1, Provinsi Jambi. Transmigran ditempatkan di UPT ini sejak tahun 2000/2001, dan merupakan transmigrasi pola lahan kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besaran erosi maksimal berkisar dari 2,32 ton/ha/tahun sampai 428,43 ton/ha/tahun. Nilai ini merupakan besaran erosi maksimal pada beberapa tipe penggunaan lahan. Lahan di Rantau Pandan SP-1 memiliki Tingkat Bahaya Erosi yang terklasifikasikan ringan sampai sangat berat. Erosi yang diperbolehkan (Edp) di UPT Rantau Pandan SP-1 berkisar antara 28,8 sampai 36 ton/ha/tahun, dengan mempertimbangkan faktor kelestarian tanah 300 tahun. Spasialisasi erosi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa asumsi yang sesuai dengan pengamatan kondisi lapangan. Pada tiap-tiap poligon penggunaan lahan dapat dapat ditetapkan besarnya erosi maksimal, yang kemudian dapat digunakan untuk penentuan teknik konservasi tanahnya. Karena erosi yang dipertimbangkan adalah erosi maksimal, keamanan terhadap bahaya erosi dapat lebihdijamin.Kata Kunci: Erosi, Spasialisasi, Tingkat Bahaya Erosi, Erosi yang Diperbolehkan ABSTRACTMethod of erosion calculation used is basically a static calculation that is a calculation on a point. Spatialisation can be done by considering the local spatial factors determined erosion. Spatial of erosion calculation need to be done, so that conservation efforts can be carried out in accordance with local requirements. The purpose of this study was to quantify the spatial rate of erosion of the region, to be used as input for the conservation consideration. The research was conducted in transmigration site of Rantau Pandan SP-1, Jambi Province. Transmigrants in this site are placed in the year 2000/2001, considered as dry land farming transmigration. The results of the research showed that the magnitude of the maximum erosion in transmigration site of Rantau Pandan SP-1 ranged from 2,32 tonnes/ha/year to 428,43 tonnes/ha/year. The magnitude of this erosion is the maximum erosion in some land use types in the settlement and other part of land. Lands in Rantau Pandan SP-1 have an erosion hazard rate which was classified as mild to very severe. Tolerable erosion at Rantau Pandan SP-1 ranged from 28,8 to 36 tonnes/ha/year, taking into consideration the 300 years preservation of the land. Spatialization of erosion can be done using several assumptions in accordance with the observations of field conditions. In each land use polygon can be assigned a maximum amount of erosion, which can then be used for the determination of soil conservation techniques. As erosion considered is the maximum erosion, security against erosion can be guaranteed.Keywords: Erosion, Spatialization, Erosion Hazard Rate, Tolerable Erosion
PENERAPAN SPATIAL APPROACH DALAM KAJIAN SOSIAL-POLITIK DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Karsidi, Asep
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.997 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.140

Abstract

Pendekatan spasial berperan penting dalam kajian sosial-politik dan pembangunan berkelanjutan. Melalui pendekatan spasial, fenomena sosial-politik dapat dipahami secara lebih mudah dalam konteks hubungan keruangan. Penerapan spatial approach dalam bidang sosial-politik dan pembangunan berkelanjutan dapat menggunakan unit pemetaan tingkat rumah tangga sebagai basis pemetaan berbagai skala. Unit pemetaan ini dapat dideteksi dengan teknik penginderaan jauh resolusi tinggi. Dalam unit pemetaan tingkat rumah tangga dapat dihimpun berbagai data sosial-politik, yang dapat digunakan untuk memetakan kondisi sosial-politik multi tema. Berbagai metoda spatial approach yang sering digunakan dalam kajian sosial antara lain metoda Sistem Informasi Geografis, analisis pola spasial, visualisasi peta, interaksi spasial dan multi-agent spatial modeling. Dalam makalah ini dikemukakan beberapa contoh penerapan spatial approach dalam bidang sosial-politik dan pembangunan berkelanjutan.Kata Kunci: Pendekatan Spasial, Sosial-Politik, Unit Pemetaan Rumah Tangga, SIG, Penginderaan Jauh ABSTRACTSpatial approach has important role in socio-politics and sustainable development studies. By using spatial approach, socio-politics phenomena can be understood easily in a context of spatial relationship. Application of spatial approach socio-politics and sustainable development can be applied using household unit as basic for multi-scale mapping. This mapping unit can be detected by using a high spatial resolution of remotely sensed data. Socio-politics data can be collected based on household unit, to be use for multi-thematic mapping of social and political conditions. Several approaches often applied in social studies is Geographical Information Systems (SIG), spatial pattern analysis, map visualization, spatial relationship and multi-agent spatial modeling. This paper describes several example of spatial approach application for socio-politics and sustainable development studies.Keywords: Spatial Approach, Socio-Politics, Household Mapping Unit, GIS, Remote Sensing
APLIKASI DATA SATELIT SPOT – 4 UNTUK MENDETEKSI TERUMBU KARANG: STUDI KASUS DI PULAU PARI Arief, Muchlisin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.707 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.131

Abstract

Data satelit SPOT dapat digunakan untuk mendeteksi terumbu karang dan objek lainnya di dasar air atau perairan dangkal. Bagi negara yang mempunyai wilayah yang sangat luas, penggunaan teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk inventarisasi terumbu karang, karena hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat. Penggunaan algorithma Depth Invariant Index dari Lyzenga dengan menggunakan band1 dan band2 dapat digunakan sebagai koreksi data satelit dalam memetakan objek yang ada didasar perairan dangkal. Berdasarkan hasil klasifikasi objek di dasar perairan Pulau Pari terdiri dari 5 klas yaitu: karang yang muncul di permukaan laut seluas 15,2 ha, karang yang bercampur pasir seluas 230,06 ha, karang bercampur dengan pasir dan lamun seluas 220,68 ha dan karang yang termasuk jenis karang penghalang (barrier reef) seluas 245,24 ha.Kata Kunci: Terumbu Karang, SPOT, Perairan Dangkal, Indek Invariant KedalamanABSTRACTSPOT satellite data can be used to detect coral reefs and other shallow water objects. For country of vast area, the use of remote sensing technology is an appropriate alternative to inventory coral reefs because it only requires a relatively short time. The use of Depth Invariant Index algorithm of Lyzenga by using band-1 and band-2 can be used as satellite data correction in mapping the shallow waters objects. Based on the classification result, the object under shallow waters of Pari island consist of 5 classes, namely : coral that appear on the water surface area of 15.2 ha, coral mixed with sand of 230.06 ha, coral mixed with sand and seagrass of 220,68 ha, and pure coral which is barrier coral area of 245, 24 ha.Keywords: Coral Reef, SPOT, Shallow Waters, Depth Invariant Index
PEMETAAN KARAKTERISTIK PENURUNAN MUKA TANAH BERDASARKAN METODE GEODETIK SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PERLUASAN BANJIR DI CEKUNGAN BANDUNG Gumilar, Irwan; Abidin, H.Z.; Hutasoit, L.M.; Hakim, D.M.; Andreas, H; Sidiq, T.P; Gamal, M
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.39 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.133

Abstract

Peningkatan aktifitas pembangunan di perkotaan dan urbanisasi di Cekungan Bandung telah meningkatkan pengambilan airtanah dari akuifer. Hal ini menyebabkan terjadinya fenomena penurunan muka tanah di beberapa lokasi di Cekungan Bandung. Berdasarkan data GPS (Global Positioning System) dan analisis dari data InSAR (Interferometry Syntetic Aperture Radar), dihasilkan nilai kecepatan penurunan muka tanah di semua area studi bervariasi secara spasial dari 2 sampai 20 cm/tahun. Dampak tidak langsung dari penurunan muka tanah di Cekungan Bandung adalah memperluas area banjir. Banjir sering terjadi di area dimana kecepatan penurunan muka tanahnya besar. Sebagai contoh, banjir parah 2010 terjadi di daerah-daerah yang kecepatan penurunan muka tanahnya antara 7-10 cm/tahun. Banjir besar dapat membawa dampak negatif seperti kerugian ekonomi di sektor industri, pertanian, infrastruktur, rumah tangga, dan fasilitas umum di daerah terdampak. Analisis spasial yang dikombinasikan dengan peta penurunan muka tanah, dapat digunakan untuk mengestimasi luas area banjir total pada tahun 2010 mencapai 6.420 ha. Area banjir yang hanya disebabkan oleh penurunan muka tanah seluas 1.388 ha atau 21% dari total area banjir. Kerugian ekonomi akibat banjir yang disebabkan oleh penurunan muka tanah ini mencapai 203 Milyar rupiah.Kata Kunci: GPS, InSAR, Penurunan Muka Tanah, Banjir, Kerugian Ekonomi ABSTRACTIncrease in urban development activities and urbanization in Bandung Basin have increased the groundwater extraction from the aquifers, which has then led to land subsidence phenomena in several locations inside the basin. Based on GPS (Global Positioning System) survey method and analysis of InSAR (Interferometry Syntetic Aperture Radar) data, it was found that the estimated subsidence rates at all observed areas varied spatially from 2 to 20 cm/year. The indirect impact of land subsidence in Bandung Basin is wider expansion of flooding. Interestingly, floodings frequently occur at the area where the subsidence rate is high. For example, the 2010 heavy flooding covered over the areas where the subsidence rates are about 7-10 cm/year. This proves that the land subsidence can aggravate the flooding in Bandung Basin.The heavy flooding can bring negative impacts such as economic losses on industry, agriculture, infrastructure, household, and public facilities sectors in the affected area. Using spatial analysis in combination with the subsidence map, it was estimated that the flooding covers over the total area of about 6420 Ha. Flooded area caused by subsidence was at 1388 hectares, or 21% from the total flooded area. The economic losses due to the flooding in Bandung Basin could reach about 203billion rupiah.Keywords: GPS, InSAR, Subsidence, Flooding, Economic Losses
PEMANTAUAN POLA PENANAMAN PADI MELALUI ANALISIS HAMBURAN BALIK CITRA ALOS PALSAR SCANSAR Prachmayandini, Reyna; Prachmayandini, Reyna; Trisasongko, Bambang H
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.807 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.138

Abstract

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk pemantauan areal sawah saat ini banyak dikembangkan guna memberikan informasi pemantauan secara spasial maupun temporal. Pemantauan lahan sawah meliputi pola penanaman padi, pola irigasi, maupun produktivitas lahan. Informasi ini penting sebagai masukan bagi pengambilan keputusan dalam pengembangan areal persawahan di Indonesia guna menunjang pemenuhan produksi pangan. Namun demikian, tutupan awan pada citra optik merupakan kendala yang serius di Indonesia. Oleh karena itu, kajian pemantauan lahan sawah dengan menggunakan citra SAR (Synthetic Aperture Radar) ini dikembangkan karena akuisisi citra tidak terkendala pada faktor cuaca maupun tutupan awan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan kemampuan citra ALOS PALSAR ScanSAR untuk mengetahui intensitas/pola penanaman padi serta teknik irigasi pada wilayah persawahan di Jawa Barat dengan melakukan analisis terhadap nilai koefisian hamburan balik yang dihasilkan dari citra ALOS PALSAR ScanSAR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis nilai koefisian hamburan balik mampu memberikan informasi pola penanaman padi. Selain itu, nilai koefisien hamburan balik tersebut sekaligus mampu memberikan informasi terkait kelembaban tanah, yang terkait dengan sistem pengairan (irigasi) di wilayah penelitian.Kata Kunci : Padi, Sawah, Radar, Hamburan Balik, ALOS PALSAR ScanSAR ABSTRACTApplication of remote sensing technology has been developed to enable spatial and temporal monitoring for paddy fields. Paddy field monitoring requires monitoring of seasonal planting patterns, irrigation scheme, as well as land productivity. Those are essential for decision making processes in Indonesia particularly for supporting the fulfillment of food production. However, cloud cover hinders the use of optical remotely sensed imageries for monitoring purposes in Indonesia. For that reason, it is a necessity to develop paddy field monitoring scheme by using SAR (Synthetic Aperture Radar) image, exploiting atmospheric see-through capabilities of the system. This research aims to explore the capability of ALOS PALSAR ScanSAR image for monitoring intensity/plantation pattern of paddy field at broader coverage as well as to seek irrigation design on West Java paddy field areas by analyzing the backscatter coefficients. The result shows that the backscatter coefficients provide invaluable information of planting patterns in addition to planting intensity of paddy fields. It argues that the backscatter was also suitably informative on soil humidity related to irrigation.Keywords : Rice, Paddy Field, Radar, Backscatter, ALOS PALSAR ScanSAR
PERSEPSI PETANI TERHADAP BANJIR DI LAHAN SAWAH: STUDI KASUS DI KABUPATEN KENDAL DAN KABUPATEN DEMAK, PROVINSI JAWA TENGAH Hartini, Sri; Hadi, M Pramono; Sudibyakto, Sudibyakto; Poniman, Aris
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.465 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.134

Abstract

Ancaman banjir pada lahan sawah dapat menyebabkan berkurangnya luas panen dan produksi beras. Banjir genangan di wilayah pantura Jawa Tengah ini disebabkan oleh tingginya curah hujan dan/atau pasang air laut (rob). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi petani terhadap banjir genangan pada lahan sawah. Persepsi masyarakat petani yang digali mencakup persepsi mengenai kejadian banjir pada lahan sawah baik yang disebabkan karena hujan atau rob, atau gabungan antara keduanya, dan dampaknya terhadap produksi padi. Persepsi petani merupakan dasar perilaku adaptasi yang dilakukan petani. Adaptasi mencakup segala usaha yang dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi risiko, dari risiko pengurangan produksi padi hingga hilangnya seluruh lahan sawah karena tergenang secara permanen. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi lapangan dan wawancara, dengan sampel terpilih dan terbatas pada petani di wilayah yang terkena banjir. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa petani di wilayah penelitian telah melakukan adaptasi guna mengurangi risiko kerugian karena banjir sesuai dengan persepsi dan kapasitasnya yang diwujudkan dalam pembangunan infrastruktur penahan banjir dan/atau modifikasi bentuk pola tanam.Kata Kunci: Sawah, Banjir Genangan, Persepsi ABSTRACTFlood inundation over the paddy field threatens the rice production by degrading the harvest area and rice production. Flood inundation in the area of study occurs due to high rainfall and/or sea water tide. This research aims to study farmers’ perception towards the flood inundation over the paddy field. Farmers’ perception investigated includes perception towards the occurrences of flood inundation resulted from rainfall and/or sea water tide and the impact to the rice production. The farmers’ perception is the based of farmers adaptation behaviour. Meanwhile, the adaptation investigated includes any efforts that have been carried out to reduce the risks, from the reduction of rice production into the lost of paddy field due permanent inundation. This research carried out by doing field observation and interview, with sample selected purposively inclusively to farmers in the flooded area. The result shows that the farmers have been performed adaptation based on their perception and capacity by building flood control and modification of crop calendars.Keyword: Paddy Field, Flood Inundation, Perception
PERAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PEMBENTUKAN SPATIAL THINKING SKILLS DAN TERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN BENCANA Yusup, Yasin; Sugiyanto, Sugiyanto; Hadi, Partoso
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.658 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.139

Abstract

Budaya keselamatan dan ketangguhan terhadap bencana belum terbentuk di tengah masyarakat, sehingga dampak bencana semakin besar dan masyarakat pun mudah termakan isu. Hal ini mengindikasikan bahwa pemahaman masyarakat terhadap kondisi lingkungan sekitarnya (“local knowledge”) belum berkembang secara baik. Salah satu penyebabnya adalah pembelajaran geografi belum menghasilkan outcome kecakapan berfikir keruangan secara baik. Salah satu “tool” yang efektif untuk meningkatkan kecakapan berfikir keruangan adalah GIS. Makalah ini membahas pentingnya kecakapan berfikir keruangan (“spatial thinking skills”) dalam pembelajaran geografi dan terapannya dalam pembelajaran bencana. GIS menawarkan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi lingkungan mereka sendiri menggunakan teknologi informasi baru, sehingga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kecakapan berfikir keruangan. Meningkatnya spatial thinking skills menjadikan siswa mengenal kondisi lingkungan sekitarnya dengan baik termasuk ancaman, kerentanan dan risiko bencananya, sehingga saat terjadi bencana siswa bisa menyelamatkan diri sendiri, keluarga dan masyarakatnya. Dengan demikian “spatial thinking skills” merupakan kompetensi dasar dalam geografi yang bisa diterapkan dalam pembelajaran bencana dan pada akhirnya bisa ikut membatu meningkatkan budaya keselamatan dan ketangguhan masyarakat terhadap bencana, sehingga tidak mudah termakan isu bencana yang tidak benar.Kata Kunci: Budaya Keselamatan dan ketangguhan terhadap bencana, Pembelajaran Geografi, Kemampuan Berfikir Spasial, Pembelajaran Bencana ABSTRACTSafety and resilience culture to disaster has not been established in the community, so the impact of disaster tends to increase and the community easily influenced by improper disaster issues. This indicates that peoples understanding to the condition of the surrounding environment (local spatial knowledge) has not developed properly. One of the reasons is the learning outcomes of geography education have yet produced good spatial thinking skills. Therefore, it is considered that GIS could be an effective tool for improving the spatial thinking skills. This paper discusses the importance of spatial thinking skills in geography and applied in the learning of disasters. GIS offers students the opportunity to explore their own environment using new information technologies, which can be used to enhance spatial thinking skills. The increase of spatial thinking skills make students more familiar with the condition of their surrounding environment, including threats, vulnerabilities and disaster risks, so that when disaster strikes the students can help themselves, their families and communities.Thus spatial thinking skills is a basic competence in geography can be applied in the learning of disaster and could ultimately help to improve safety culture and community resilience to disasters, therefore they will easily fall in deceptive disaster issues.Keywords: Culture of safety and resilence to disaster, Geography, Spatial Thinking Skills, Disaster Learning
INFORMASI GEOSPASIAL DAERAH RAWAN LONGSOR SEBAGAI BAHAN MASUKAN DALAM PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH Suriadi, A.B.
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1494.365 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.135

Abstract

Dalam makalah ini diuraikan pendekatan inderaja dan SIG untuk mengidentifikasi daerah rawan longsor serta tingkat risikonya terhadap manusia atau pemukiman. Bahaya longsor dipengaruhi banyak faktor, untuk itu pendekatan analisis dilakukan melalui integrasi layerlayer data baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data yang bersifat kualitatif seperti jenis tanah, tipe batuan diberi nilai kuantitatif melalui pembobotan tergantung pengaruhnya terhadap kerentanan longsor. Data kuantitatif seperti kemiringan lereng juga diberi bobot sesuai dengan tingkat pengaruhnya terhadap longsor. Data tutupan lahan adalah salah satu data kualitatif yang dipercaya pengaruhnya cukup besar terhadap kejadian longsor. Data ini diekstrak melalui citra inderaja dan diolah melalui SIG. Identifikasi daerah rawan longsor dilakukan melalui citra Landsat dan DEM SRTM dan dikonfirmasi melalui informasi historis, dan wawancara dengan penduduk setempat. Dengan mengetahui daerah rawan longsor dan tingkat risikonya maka diharapkan informasi spasial mengenai daerah rawan longsor dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menata alokasi ruang wilayah. Kata Kunci: Longsor, Risiko, SIG, Penginderaan Jauh, Multi Kriteria, Data Multi Layers ABSTRACTThis paper describes the remote sensing and Gographic Information System (GIS) approach to identify landslide prone areas and the level of risk to human or settlement. Since landslide is affected by many factors, the approach is carried through the integration of the layers of both qualitatively and quantitatively data. Qualitative data such as soil type, rock type rated quantitatively through a weighting depending of its influence on susceptibility to landslide. Quantitative data such as slope is also given a weighting according to the level of influence on landslide. Land cover data is one of the qualitative data that is believed has considerable influence on the occurrence of landslide. This data is extracted through remotesensing technique and analysed by using GIS. Identification of landslides prone areas was carried out through the used of Landsat imagery and SRTM DEM in conjunction with historical information, ground truth and local residents interviews. By knowing the landslide prone areas and the level of risk, it is expected that this spatial information can be used as consideration in arranging the space allocation.Keywords: Landslides, Risk, GIS, Remote Sensing, Multi-Criteria, Multiple Layers Data

Page 1 of 1 | Total Record : 10