Sri Lestari Munajati, Sri Lestari
Unknown Affiliation

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PETA TEMATIK RISIKO BENCANA UNTUK PENGUATAN PERAN GENDER DALAM PENANGGULANGAN BENCANA Narieswari, Lalitya; Munajati, Sri Lestari; Marschiavelli, Mone Iye Cornelia; Subagio, Habib
GEOMATIKA Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1500.348 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan kerentanan gender dan risiko bencana berbasis gender kabupaten bantul diatas peta. Penelitian ini menghasilkan kuesioner dan metode pembobotan dan skoring untuk penentuan kerentanan gender. Hasil penentuan kerentanan gender  selanjutnya diolah dengan kapasitas dan ancaman bencana yang ada untuk menghasilkan peta tematik risiko bencana untuk penguatan peran gender dalam penanggulangan. Peta yang dihasilkan adalah peta kerentanan gender, kapasitas dan peta risiko gender terhadap bencana gempabumi, tsunami, kekeringan dan banjir. Peta ini diharapkan memberi kemudahan bagi pengguna peta dalam melakukan identifikasi wilayah dan perbandingan khususnya mengenai peran gender dalam penanggulangan bencana selain juga dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi penguatan peran/kapasitas gender pada daerah berisiko tinggi serta meminimalkan kerentanan.Kata Kunci: Penguatan peran gender, Penanggulangan Bencana, Peta Risiko BencanaABSTRACTThis study aims to present gender vulnerability and gender disaster risk of Bantul district on the map. The study produced a questionnaire, weighting and scoring methods  to determine  gender vulnerability. The results then further processed with the capacity and the existing natural hazards which to generate disaster risk thematic maps. The resulting map are gender vulnerability map, gender capacity map and gender disaster risk maps for earthquakes, tsunamis, droughts and floods. These maps are expected not only to guide and facilitate  users to identifythe role of gender in disaster management in their own area but also be used as an evaluation basis to strengthen the role of gender or capacity in high-risk areas and to minimize vulnerabilities.Keywords: Gender strengthening, Disaster Management, Disaster Risk Map
KAJIAN INFRASTRUKTUR JALAN DI JAWA BARAT BAGIAN SELATAN Riadi, Bambang; Munajati, Sri Lestari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1782.911 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2008.10-1.323

Abstract

Jawa Barat sebagai provinsi yang berbatasan langsung dengan Provinsi DKI Jakarta memiliki keunggulan di berbagai bidang, antara lain dari segi ekonomi Provinsi Jawa Barat kebagian limpahan kegiatan ekonami karena DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan pusat kegiatan ekonomi di Indonesia. Demikian juga halnya penduduk Jawa Barat adalah paling besar dibanding lima provinsi lainnya di Pulau Jawa. Selain itu, pergerakan penduduk saat menyambut lebaran juga dimulai dari kawasan sekitar Jabodetabek dan pasti melintasi wilayah Jawa Barat. Selama ini arus mudik terpusat di jalur Pantura, hal ini disebabkan jalur Pansela (Pantai Selatan) tidak bisa dilewati karena infrastruktur jalan yang tidak memadai. Tulisan ini membahas berbagai potensi wilayah Jabar Selatan dan pengembangannya. Secara Spasial yang merupakan hasil kajian yang berhubungan dengan infrastruktur jalan, maka Jabar Selatan dapat dikembangkan menjadi 3 zona yaitu Zona Pengembangan Barat, Zona Pengembangan Timur dan Zona Pengembangan Antara.ABSTRACTWest Java, a province that has a direct border to Jakarta, has many advantages in many aspects. Economically West Java is impacted by activities in Jakarta as the center of government and economic activities in Indonesia. Population of West Java is also the biggest compared to five other provinces in Java Island. Population mobility during religious holiday also starts from Jabodetabek area and will surely pass West Java. Currently this mobility was centralized in Pantura route (a route through northern part of Java). This is because the road infrastructure in Pansela route (through southern part of Java) is not good. This paper will discuss various potencies of Southern West Java and it is development. Spatially, based on assessment of road infrastructure, the Southern West Java can be classified into 3 zones, which are West, East, and In Between Development Zones.Kata Kunci: Akses Jalan, potensi dan pengembangan wilayah, Jawa Barat Selatan Keywords: Road Access, Area Potential and Development West Java
PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR YANG BERKELANJUTAN DENGAN MEMPERHATIKAN POTENSI DAERAH Rahadiati, Ati; Munajati, Sri Lestari; Sudarmadji, Bambang Wahyu
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.205 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.126

Abstract

Pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir dan laut di Indonesia masih bersifat “open access” dimana setiap warga negara bebas mengeksploitasi dan memanfaatkan sumberdaya yang ada. Kondisi ini menyebabkan penurunan produksi ikan di beberapa wilayah perairan nusantara. Di lain pihak, bagi nelayan tradisional sarana dan prasarana yang kurang memadai serta musim yang kurang bersahabat karena faktor perubahan iklim menjadi kendala utama dalam penangkapan ikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengkajian wilayah yang berpotensi untuk dikembangkan usaha budidaya dengan menggunakan rulebase (aturan dasar) tertentu untuk komoditi tertentu. Dengan usaha budidaya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan ekonomi nelayan tradisional di luar musim tangkap. Sementara itu perkembangan rulebase yang beragam menyebabkan perlu diketahuinya rulebase yang tepat dan menghasilkan data yang akurat untuk pembangunan kelautan yang berkelanjutan. Untuk mendukung hal tersebut di atas maka dilakukan kajian potensi wilayah pesisir untuk usaha budidaya komoditi kelautan bernilai ekonomis tinggi seperti budidaya rumput laut di Kab. Konawe Selatan, Prov. Sulawesi Tenggara.Kata Kunci : Wilayah Pesisir, Aturan Dasar, Budidaya Rumput Laut, Konawe SelatanABSTRACTUtilization of coastal and marine resources in Indonesia is still "open access" whereby every citizen free to exploit and utilize existing resources. This condition causes a decrease in fish production in some of the territorial waters of the archipelago. On the other hand, for traditional fishermen infrastructure is less adequate and less friendly seasons because of climate change become the main obstacle in catching fish. Therefore, it is the assessment of potential areas for cultivation are developed using a specific rulebase for a particular commodity. With the cultivation is expected to meet the economic needs of traditional fishermen fishing out of season. Meanwhile, the development of a diverse rulebase cause rulebase need to know the right time and produce accurate data for sustainable marine development. To support the above activities then carried study the potential of coastal areas for the cultivation of marine commodities of high economic value such as seaweed maricultur in South Konawe Regency, Southeast Sulawesi Province.Keywords : Coastal Area, Rulebase, Seaweed Maricultur, South Konawe
PEMETAAN MULTIRAWAN BENCANA DI PROVINSI BANTEN Soleman, M. Khifni; Nurcahyani, Fitri; Munajati, Sri Lestari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.848 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.136

Abstract

Peta rawan bencana sangat diperlukan karena dengan adanya informasi ini tindakan preventif terhadap kejadian bencana dapat dilakukan sehingga dapat mengurangi berbagai kerugian yang mungkin ditimbulkannya. Provinsi Banten merupakan salah satu provinsi di Pulau Jawa yang rawan bencana baik bencana alam maupun yang disebabkan oleh ulah manusia. Berbagai bencana yang terjadi di Provinsi Banten antara lain tsunami, banjir, longsor, abrasi, gempa, dan semburan lumpur panas. Berbagai jenis bencana tersebut bisa terjadi pada lokasi yang berlainan maupun pada lokasi yang sama. Oleh karena itu selain diperlukan pemetaan wilayah bencana secara individual, juga diperlukan pemetaan multirawan bencana. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah analisis data penginderaan jauh, Sistem Informasi Geografis (SIG) dan survei lapangan. Hasil pemetaan bencana banjir meliputi wilayah seluas 88.082,99 ha, wilayah rawan gempa seluas 344.126,59 ha dan wilayah rawan longsor seluas 3.015,90 ha. Sedangkan wilayah yang mengalami multirawan bencana mencakup 55,45 % dari total wilayah Provinsi Banten (934.826,73 ha) yaitu seluas 518.361,42 ha.Kata Kunci : Pemetaan, Multirawan Bencana, SIG, Penginderaan Jauh, Provinsi Banten ABSTRACTHazard map is crucially needed because the information contained would enable people to make a preventive action when an hazard turn to disaster, therefore the risk that may incur can be reduced. Banten Province is one of the province in Java Island that prone to several hazards such as tsunami, flood, landslide, coastal abrasion, earthquake, and volcano mudflow. Those types of hazard could occur at the different location as well as at the same location. Therefore, a multi-hazard mapping should be carried out, despite the individual hazard mapping. The method used in this research is a combination of remotely sensed data analysis, Geographical Information Systems (GIS), and field survey. The result shows that the area susceptible to flood was at 88,082.99 ha, earthquacke at 344,126.59 ha, and landslide at 3,015.90 ha. Meanwhile, the area succeptible for multi-hazard covered 55.45 % of the total area of Banten Province (934,826.73 ha), accounted for 518,361.42 ha.Keyword : Mapping, Multihazard, GIS, Remote Sensing, Banten Province
PERENCANAAN SPASIAL PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI BERBASIS KESESUAIAN LAHAN DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Widiatmaka, Widiatmaka; Ambarwulan, Wiwin; Munajati, Sri Lestari; Munibah, Khursatul; Murtilaksono, Kukuh; Tambunan, Rudi P; Nugroho, Yusanto A; Santoso, Paulus B.K.; Suprajaka, Suprajaka; Nurwadjedi, Nurwadjedi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.475 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.86

Abstract

Pemanfaatan data survei tanah dan evaluasi lahan dilakukan untuk perencanaan peningkatan produksi kedelai menjawab tantangan kelangkaan pasokan kedelai di Kab. Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Data yang digunakan adalah hasil survei oleh Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik, Badan Informasi Geospasial dilengkapi dengan analisis citra dan evaluasi lahan fisik dan ekonomi untuk kedelai. Analisis kesesuaian lahan fisik dan ekonomi untuk kedelai dilakukan menggunakan Automated Land Evaluation System (ALES). Penggunaan lahan diinterpretasi menggunakan citra SPOT-5, dipertajam dengan data lebih detil menggunakan citra IKONOS dari Kementerian Pertanian. Hasil-hasil analisis diinterpretasi dalam term potensi intensifikasi kedelai pada lahan sawah eksisting dan potensi perluasan tanaman kedelai pada lahan kering yang potensial. Hasil analisis menunjukkan bahwa di wilayah Kabupaten Lombok Timur masih dimungkinkan dilakukan intensifikasi dan ekstensifikasi untuk peningkatan produksi kedelai dalam rangka peningkatan ketahanan pangan regional. Persoalannya, keuntungan petani dalam budidaya kedelai pada berbagai kelas kesesuaian lahan jauh lebih kecil dibandingkan pengusahaan padi sawah. Perencanaan fisik berbasis kesesuaian lahan perlu diikuti dengan upaya menciptakan kondisi agar penanaman kedelai menarik bagi petani dari sisi ekonomi.Kata Kunci: Ketahanan Pangan, SPOT-5, Kesesuaian Lahan, Sistem Evaluasi Lahan Otomatis.ABSTRACTData from soil survey and land evaluation were used in planning for increasing  soybean production, answering the lack of soybean supply in East Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province. The results of the survey of Center for Integrated Mapping, Geospatial Information Agency were used, combined with image analysis and physical and economical land suitability analysis for soybeans. Analysis of physical and economical land suitability for soybean was performed using Automated Land Evaluation System (ALES). Land use was interpreted using SPOT-5 imagery, completed by the data of IKONOS imagery from Ministry of Agriculture. The results of the analysis were interpreted in terms of the potential intensification of soybean on existing ricefield and the potential expansion of soybean crops ondry land. The analysis showed that in East Lombok Regency, there is still possible to do the intensification and extension of soybean in order to improve regional food security. The problem is, benefit of farmers in the cultivation of soybeans in various land suitability classes are much smaller than rice cultivation. Physical planning based on land suitability needs to be coupled with efforts to create an attractive situation to farmers for planting soybean.Keywords: Food Security, SPOT-5, Land Suitability, Automated Land Evaluation System.
PENENTUAN SENTRA PETA DI WILAYAH JAKARTA DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Munajati, Sri Lestari; Anadra, Rezki; Aprianto, Arif
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.47 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.118

Abstract

Istilah sentra peta Bakosurtanal baru dikenalkan pada tahun 2009, nama ini sebelumnya adalah Outlet Bakosurtanal, dimana unit ini merupakan unit pelayanan produk Bakosurtanal yang berada di berbagai lokasi, dimana hingga tahun 2010, jumlah sentra peta menjadi 27 unit. Sentra peta di Jakarta, hanya terdapat di MGK (Mega Glodok Kemayoran) yang didirikan pada tahun 2007 dan sudah berjalan selama 3 tahun hingga 2010. Pelayanan di MGK belum bida melayani pelanggan di wilayah Jakarta secara optimal, karena masih banyaknya pelanggan produk Bakosurtanal yang datang ke Kantor Bakosurtanal di Cibinong. Oleh karena itu masih diperlukan adanya kajian untuk membuka sentra peta baru di wilayah Jakarta, dimana lokasi yang tepat secara teknis. Metode yang digunakan untuk melakukan kajian ini adalah dengan Sistem Informasi Geografis dengan menggunakan density analisys. Hasil kajian menunjukkan bahwa Jakarta Selatan merupakan lokasi yangpaling tepat untuk didirikan sentra peta berdasarkan data dan kondisi fisik di lapangan.Kata Kunci: Sentra Peta Bakosurtanal, Jakarta, Analisis Kerapatan, Sistem InformasiGeografiABSTRACTThe term “Bakosurtanal Map Center”, previously called as Bakosurtanal Outlet, has just been used since 2009. These centers are Bakosurtanal’s product sale points located at various locations, and up to 2010 there are 27 centers in Indonesia. In Jakarta, this center is located at MGK (Mega Glodok Kemayoran), which was established in 2007 and has been running for 3 years until now. However, this center has not performed an optimal service because there were still many customers who came directly to Bakosurtanal office in Cibinong. Therefore, a study needed to be done to find an appropriate location for the map center in Jakarta. The study used density analysis method using Geographic Information System. Result of this study showed that South Jakarta is the most suitable location, basedon the data and physical conditions.Keywords: Bakosurtanal Map Center, Jakarta, Density Analysis, Geographic Information System
PEMETAAN RISIKO BENCANA PADA DAERAH PARIWISATA KABUPATEN LOMBOK BARAT, NUSA TENGGARA BARAT Marchiavelly, Mone Iye; Narieswari, Lalitya; Munajati, Sri Lestari; Sumaryono, Sumaryono; Santoso, Widodo Edi; Martha, Sukendra
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.36 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-2.149

Abstract

Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang mempunyai posisi sangat strategis sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW). Disamping keberadaannya sebagai daerah wisata, Kabupaten Lombok Barat juga termasuk daerah rawan bencana, diantaranya bencana tsunami, banjir dan longsor. Untuk itu, diperlukan pendekatan manajemen risiko bencana dalam kerangka pariwisata untuk mendukung Pengurangan Risiko Bencana. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan risiko bencana di daerah pariwisata serta memperkirakan kerugian ekonomi yang mungkin timbul bila terjadi bencana. Metode yang digunakan adalah melalui Focus Group Discussion (FGD), pengumpulan data primer dan sekunder serta analisis SIG untuk menghasilkan risiko bencana. Selanjutnya, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan kepada pemerintah dan masyarakat yang bergerak di sektor pariwisata dalam rangka pengurangan risiko bencana di lokasi penelitian.Kata Kunci: Risiko Bencana, Pariwisata, Focus Group Discussion ABSTRACTWest Lombok Regency is one of regencies in West Nusa Tenggara which become the Tourism Destination Region (TDR). In addition to its presence as a tourism destination area, West Lombok is also categorized as disaster-prone areas, such as tsunami, flood and landslide. Therefore, a disaster risk management approach within a framework of tourism to support Disaster Risk Reduction is needed. The aim of this paper is mapping the risk in tourism area and estimates the economic lose due to disaaster. The method used is a Focus Group Discussion (FGD), primary and secondary data collection and GIS analysis to produce the risk maps. Furthermore, it is expected that the results of this study can be used as input to the government and the people engaged in the tourism sector in the context of disaster risk reduction at the sites.Keywords: Disaster Risk, Tourism, Focus Group Discussion
NERACA SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN SEBAGAI LANDASAN KEBIJAKAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN Muliawan, lrwan; Reswati, Elly; Munajati, Sri Lestari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2673.718 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.334

Abstract

Pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan merupakan tuntutan pembangunan dewasa ini, oleh karena itu pengukuran dan pengindikasian kondisi lingkungan menjadi hal penting. Neraca sumberdaya merupakan salah satu indikator perkembangan pengelolaan sumberdaya dipandang mampu untuk memberikan informasi tersebut. Setidaknya neraca tersebut juga memuat tiga paradigma pembangunan, yakni; keberpihakan sosial, efisiensi ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Berdasarkan hal tersebut, dibuat tulisan ini dengan tujuan menerapkan konsepsi penyusunan neraca sumberdaya kelautan dan perikanan sebagai salah satu indikator kinerja pembangunan kelautan dan perikanan.Secara garis besar, prosedur penelitian ini menggunakai teknik valuasi ekonomi sumberdaya yakni konsep Total Economic Valuation (TEV), untuk mendekati nilai ekonomi sumberdaya. Kondisi sosial dan lingkungan didapat dari koleksi  peta dan data tabutar (data sekunder) dari dinas terkait. Hasit penelitian ini berupa teridentifikasinya multiuse dari sumberdaya di Kompleks Danau Tempe yaitu penggunaan lahan oleh beberapa jenis kegiatan pemanfaatan dalam lokasi yang sama, tergantung tinggi muka air danau. Selain itu diketahui pula nilai ekonomi sumberdaya tersebut dan terakhir berupa penyusunan neraca sumberdaya yang memuat status sosial, nilai ekonomi dan kondisi lingkungan di sumberdaya tersebut. Sebagai bahan evaluasi pengembangan neraca sumberdaya ini, berupa upaya menemukan klasifikasi dari item-item yang akan diamati dalam perkembangan pengelolaan sumberdaya yang ada, karena model ini lebih memandang sudut tipologi sumberdaya sebagai satuan sumberdaya yang akan diamati. Kemungkinan model ini akan berbenturan dengan kepentingan yang berlingkup pada satuan administratif wilayah otonomi seperti kabupaten, atau kecamatan, sehingga perlu bagi pengelola wilayah otonomi memandang sumberdaya sebagai satu kesatuan yang utuh.Kata kunci : Neraca Sumberdaya, Valuasi Ekonomi Total, Sumberdaya Kelautan dan Perikanan ABSTRACTSustainable resource management is development demand in nowadays. Therefore, measurement and indicating on environment condition become important issues on this subject. Resource balance is one of the resource management indicators that can be implied to give the information. The balance can imply three development paradigms at least, such as social tendency, economic efficiency, and environment sustainability. Based on these paradigms, the purpose the paper is to apply the concept of marine and fishery resource balance as one of the performance indicators on marine and fishery development. Generally, the research procedure is using resource economic valuation technique that is Total Economic Valuation (TEV), used to approach resource economic value. Social condition and environment data is collected from map collection and other secondary data in related institution. The research result are multi use identification from Danau Tempe basin resource that is land use by some land use activities in the same site. In addition, it also shows resource economic value and resource balance concept that contains social status, economic value, and environment condition in that resource. The evaluation resource balance development material is the urgency on effort to identify and to find the items list on classification column from the balance model. Since the balance model gives a tendency on resource topology point of view as resource unit that will be analyzed. There will be a possibility that the balance will collide with the interests in administrative scope on autonomy area such as district or sub-district. So it is necessary for autonomy stakeholders to see resources in integrated way.Keywords: Resources Balance, Total Economic Valuation, Fisheries and Marine Resources
DISAIN MODEL SPASIAL KETAHANAN PANGAN PULAU TERPENCIL Suwarno, Yatin; Munajati, Sri Lestari; Soleman, M Khifni; Fitrianto, Anggoro Cahyo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.068 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.115

Abstract

Ada 5 (lima) indikator untuk menentukan ketahanan pangan rumah tangga di suatu wilayah, yaitu: kecukupan pangan, keterjangkauan pangan, keamanan pangan, stabilitas pangan, dan kualitas pangan. Semua indikator kualitatif tersebut terlebih dahulu dirubah menjadi kuantitatif guna menghitung Indeks Ketahanan Pangan. Dengan metode ”Scoring and Weighting” dalam Spatial Analysis, ketahanan pangan disajikan dalam bentuk peta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepulauan Karimunjwa yang tersdiri dari 5 pulau berpenghuni memiliki tingkat ketahahan pangan sebagai berikut: Tahan Pangan (P. Karimunjawa), Cukup Tahan Pangan (P. Kemujan), dan Agak Tahan Pangan (P. Genting, P. Parang, dan P. Nyamuk). Kondisi ketahanan pangan di Kepulauan Karimunjawa dipengaruhi oleh terbatasnya lahan pertanian, aksesibilitas, dan daya beli masyarakat.Kata Kunci: Spasial, Model, Disain, Ketahanan Pangan, Pulau TerpencilABSTRACTThere are 5 (five) indicators that determine household food resilience, namely: foodsufficiency, food affordability, food security, food stability and food quality. These are qualitative parameters and should be converted into quantitative parameter. The method "Scoring and weighting" is used for Food Resilience Index that will be presented in the map. The research results show that the Karimunjawa Islands consisting of 3 villages and 5 inhabited islands have food resilience levels as follows: Endurance Food (Karimunjawa Island), Endurance Enough Food (Kemujan Island), and Near Endurance Food (Genting Island, Parang Island, and Nyamuk Island). The main factor that caused the food resilience in Karimunjawa Islands because of the limited agricultural land, limited accessibility, and the public purchasing power.Keywords: Spatial, Model, Design, Food Resilience, Isolated Island