cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 19, No 2 (2017)" : 12 Documents clear
KERENTANAN SOSIAL TERHADAP BANJIR DI BANTARAN SUNGAI BENGAWAN SOLO PASCA RELOKASI MANDIRI setyaningrum, agustina; Rahmawati H, Dyah; Marfai, Muh. Aris
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.97 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.467

Abstract

ABSTRAKBanjir besar pada akhir tahun 2007 mengharuskan Pemerintah Kota Surakarta untuk melaksanakan program relokasi paska terjadinya banjir. Masyarakat pindah dan menempati lokasi relokasi namun tidak jauh dari bantaran Sungai Bengawan Solo. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kerentanan sosial masyarakat terhadap banjir pasca relokasi yang bertempat tinggal di sempadan Sungai Bengawan Solo. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling. Analisis data keruangan dilakukan dengan metode Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE). Penilaian kerentanan dengan menggunakan dua skenario yaitu skenario lingkungan dan skenario ekonomi. Hasil proses SMCE menunjukkan bahwa di lokasi relokasi, terdapat wilayah-wilayah yang masuk dalam kerentanan sosial tinggi dan sedang. Berdasarkan skenario lingkungan, menunjukkan bahwa seluruh kelurahan/desa lokasi relokasi memiliki kerentanan tinggi kecuali Kelurahan Mojosongo yang memiliki kerentanan sedang. Berdasarkan skenario ekonomi, menunjukan lokasi relokasi yang termasuk dalam kerentanan tinggi adalah Kelurahan Semanggi, Jebres, dan Desa Gadingan. Sedangkan lokasi relokasi yang termasuk dalam kerentanan sedang dalam skenario ekonomi adalah Kelurahan Mojosongo, Desa Laban, dan Desa Plumbon.Kata kunci: kerentanan, banjir, relokasiABSTRACT        Great flood at the end of 2007 requires Government of Surakarta to implement the relocation program after the flood. The community moved and occupied the relocation site but not far from the banks of Bengawan Solo River. The aims of the study are to assess the level of social vulnerability after relocation. The data used in this study consist of primary data and secondary data. The sampling technique used in this study was simple random sampling. Spatial data analysis was conducted using Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE). The vulnerability assessment using two scenarios, the environmental scenario and economic scenario. Results of the SMCE showed that in relocation sites there are areas that fall into high and medium social vulnerability. Based on the environmental scenarios, the relocation areas have high vulnerability except for Mojosongo which have moderate vulnerability. Based on the economic scenarios, the relocation area that included in high vulnerability are Semanggi, Jebres, and Gadingan.While the relocation area that included in moderate vulnerability using economic scenario are Mojosongo, Laban, and Plumbon.Keywords: vulnerability, flood, relocation 
RELOKASI PENDUDUK TERDAMPAK BANJIR/ROB DI KOTA SEMARANG Yunarto, Yunarto; Sari, Anggun Mayang
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1618.339 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.624

Abstract

ABSTRAKKota Semarang sering dilanda banjir, baik banjir harian akibat rob ataupun banjir sungai yang datang tiap musim hujan. Banjir sungai ataupun rob dapat  menimbulkan genangan di kawasan pantai, terutama kawasan permukiman penduduk dan perkantoran yang berpengaruh pada kerusakan pondasi, lantai, dan dinding rumah/bangunan. Kerugian akibat banjir/rob, di antaranya penduduk harus mengeluarkan biaya untuk meninggikan lantai setiap 2-3 tahun, serta biaya untuk menyambung dinding dan atap rumah setiap 10-15 tahun. Kondisi ini masih berlangsung hingga sekarang. Penelitian ini merekomendasikan agar penduduk di kawasan permukiman tersebut perlu direlokasi ke tempat lebih aman, dengan dibangunnya rumah susun (Rusun) yang bebas banjir dan aman dari longsor. Penelitian ini menggunakan analisis tumpangsusun (overlay) Sistem Informasi Geografis (SIG) pada peta tata guna lahan, peta sebaran penduduk, peta kawasan banjir, dan peta penurunan tanah untuk menghasilkan jumlah penduduk terpapar di dalam zona banjir/rob per kecamatan di kawasan pantai. Kemudian direncanakan jumlah Rusun yang dibutuhkan untuk menampung penduduk pada zona banjir/rob tersebut per kecamatan. Berdasarkan hasil analisis spasial, dapat disimpulkan bahwa penduduk yang terpapar di zona banjir/rob sebanyak 395.877 jiwa dimana pada Kecamatan Semarang Utara memiliki jumlah penduduk terpapar paling tinggi sebesar 111.096 jiwa. Sementara jumlah penduduk terpapar paling rendah adalah Kecamatan Tugu sebesar 15.755 jiwa. Dibutuhkan Rusun sebanyak 1.100 unit yang membutuhkan lahan berupa tanah kosong, tegalan, dan sawah seluas 15.853 km2. Kata kunci: banjir, banjir rob, analisis SIG, relokasi, rumah susun ABSTRACT Semarang is a city in Indonesia that seriously prone to flood, both daily flood due to high tidal flood and river flood due to high rainfall intensity. Both tidal flood and river flood may cause inundation in the seashore area, mostly in a residential area and office building, which affected the building foundation, floor, and wall of the structure. The damage loss due to tidal flood is quite high, for instead, people need to reconstruct the settlements by raising the floor every 2–3 years and the wall including the roof every 10–15 years. This condition is continuing to this day. This research recommends the resident to relocate to the safer areas by constructing flats which are safe from flood and landslide threatens. This research used overlay analysis of Geographical Information System (GIS) on the land use map, population distribution map, flood zone map, and subsidence zone maps to provide the number of the population exposed for each district in flood area. Then the general overview planning of the flats needed to accommodate the population in the flood area per district. The spatial analysis showed that the exposed population in the tidal flood zone are 395,877 people where Semarang Utara district has the highest population exposed by the flood about 111.096 people. Meanwhile, the lowest number of the exposed people is in Tugu Sub-district as many as 15,755 people. The flats needed about 1.100 units and take an area of 15,853 km2 which is in the form of the vacant area, moor, or rice fields. Keywords: river flood, tidal flood, GIS analysis, relocation, flats
Front Cover GLOBE Vol. 19 No. 2 Globe, redaksi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1944.776 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.756

Abstract

KAJIAN PROTOTIPE PETA DESA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI Riadi, Bambang; Rachma, Tia Rizka N
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.561 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.605

Abstract

ABSTRAKPeta desa merupakan peta tematik bersifat dasar yang menyajikan unsur-unsur alam dan unsur tema khusus yang pemilihan skalanya mempertimbangkan penyajian seluruh wilayah desa tersajikan dalam satu muka peta. Pengkajian prototipe peta desa bertujuan untuk menguji spesifikasi teknis pembuatan peta desa dan menyediakan peta desa yang dapat memenuhi keperluan masyarakat desa dan pengguna lainnya. Penelitian juga bertujuan untuk mengkaji hal-hal teknis dan non teknis terkait pembuatan peta desa. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra tegak resolusi tinggi (CTRT) yang diperoleh dari Badan Informasi Geospasial (BIG). Metode yang digunakan terdiri dari dua tahap, yaitu tahap delineasi batas desa secara kartometrik dan tahap penyajian peta desa. Tahapan delineasi batas desa secara kartometrik mengacu pada Peraturan Menteri dalam Negeri (Permendagri) No. 45 Tahun 2016, sedangkan tahap penyajian peta desa sesuai spesifikasi yang tertuang dalam Peraturan Kepala BIG No. 3 tahun 2016. Selanjutnya peta yang sudah sesuai spesifikasi tersebut diuji melalui kegiatan wawancara dengan aparat desa dan masyarakat untuk mengetahui kebutuhan masyarakat desa akan unsur-unsur yang perlu ditampilkan pada peta. Hasil dari penelitian adalah prototipe peta desa, dengan studi kasus desa Karangligar. Prototipe peta desa mengusulkan penambahan dari spesifikasi penyajian peta yang tertuang dalam Peraturan Kepala BIG, yaitu dengan penambahan unsur kontur, penambahan daftar koordinat titik kartometrik hasil kesepakatan, serta pewarnaan yang disesuaikan  dengan warna dasar citra sebagai latar belakangnya. Selain itu, berdasar hasil wawancara dan diskusi dengan masyarakat desa, diketahui warga lebih mudah membaca dan menggunakan peta dalam bentuk peta garis daripada peta citra.Kata kunci: desa, peta desa, batas desa, Karangligar, citra tegak resolusi tinggi                                                                ABSTRACTVillage maps are included in the category of basic-thematic maps which presents natural features and special theme considering the scale, and all village area show in one map. Study of village maps prototype is intended to examine technical specification of village map that can fulfill the needs of rural communities and other users, as well as be reviewing the technical and non-technical matters related to making the village map. The data used in this study is orthorectified high-resolution satellite imagery, from Geospatial Information Agency. Method of this study divided into two parts. The first is a delineation of village border that refers to Indonesian Minister of Home Affairs’s Regulation (Permendagri No. 45/2016), then presenting the village map based on a specification of Head of Indonesian Geospatial Information Agency’s Regulation (Peraturan Kepala BIG No.3/2016). The map that fulfills the specification tested by a discussion with the villagers to confirm the villagers need of the map. The result of this research is Village map prototype in Karangligar Village. The prototype of village maps proposed additional elements to complete the village maps, such as adding contour elements, adding the list of coordinates of cartometric points (presented the border points), and modify the element colors adjusted to the color of satellite imagery as the base-map. Moreover, from discussion with villagers as map user, known that villagers more easily got information from a map if it presented in vector maps than imagery maps.Keywords: village, village map, village border, Karangligar, high resolution satellite imagery
KARAKTERISTIK KONSENTRASI CH4 (METANA) DI BEBERAPA KOTA BESAR DAN KOTA KECIL DI INDONESIA Susanti, Indah; S, Lilik Slamet; Cahyono, Waluyo Eko
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1279.303 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.619

Abstract

ABSTRAKKeberadaan konsentrasi CH4 di atmosfer berasal dari sumber emisi CH4 di permukaan bumi baik asal antropogenik maupun alami. Bobot molekul CH4 yang ringan mengakibatkan CH4 dapat bergerak vertikal sampai ke stratosfer. Konsentrasi CH4 yang tak terkendali berakibat pada pemanasan global dan perubahan iklim, sehingga perlu dipahami karakteristik CH4 terutama di beberapa kota besar (Jakarta, Medan, Makassar) dan kota kecil (Ambon, Biak Numfor, Pangkal Pinang) di Indonesia. Dengan menggunakan data Atmospheric Infra Red Soundings (AIRS) level 3 yang memiliki resolusi spasial satu derajat dan resolusi temporal bulanan, untuk periode waktu 2003-2015, dikaji kecenderungan konsentrasi CH4 di enam kota  dan anomalinya pada beberapa ketinggian atmosfer serta analisis pengaruh kategori kota (kota besar dan kota kecil berdasarkan jumlah penduduk) terhadap konsentrasi CH4. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis spasial horizontal dan vertical dengan bantuan Software Grads untuk mengetahui daerah mana dan pada level ketinggian mana terjadi perubahan konsentrasi CH4, serta ditunjang oleh analisis statistik regresi dan uji Friedman serta uji Tukey untuk mengetahui apakah ada pengaruh kategori kota terhadap konsentrasi CH4 di atmosfer. Hasilnya menunjukkan adanya penurunan konsentrasi CH4 terhadap ketinggian atmosfer dengan pola logaritmik (eksponensial) yang sebagian besar berasal dari kegiatan di permukaan bumi. Fluktuasi konsentrasi CH4 di atmosfer disebabkan salah satunya oleh El Nino Southern Oscilation (ENSO). Kondisi ini tampak dari kesamaan pola nilai indeks ENSO dan konsentrasi CH4. Berdasarkan penelitian dengan menggunakan uji Friedman dan uji Tukey dihasilkan bahwa klasifikasi kota menjadi kota besar dan kota kecil tidak berpengaruh pada konsentrasi CH4.Kata kunci: profil, metana, AIRS, statistik, klasifikasi, kotaABSTRACTConcentration of CH4 in the atmosphere comes from the source of CH4 emissions on the earths surface either natural or anthropogenic activities. The light molecular weight resulting CH4  can move vertically up into the stratosphere. Unbridled CH4 concentration resulted in global warming and climate change. So, it’s important to understand CH4 characteristics, especially in large cities (Jakarta, Medan, Makassar) and small towns (Ambon, Biak Noemfoor, Pangkal Pinang) in Indonesia. Using data Atmospheric Infra Red Soundings (AIRS) level 3 which has a spatial resolution of one degree and monthly temporal resolution, for time period from 2003 to 2015, we analyzed the tendency of concentration of CH4 in 6 cities  and its anomalies in some altitude atmosphere as well as analysis of the influence of the city category (cities and towns based on population) towards the CH4 concentration. The method used in this research is the analysis of spatial horizontal and vertical using Grads to know region and altitude levels which have change the concentration of CH4. In additon, supported by statistical regression analysis and Friedman test and Tukey test to determine whether there is any relation between  city category against concentration of CH4 in the atmosphere. The results indicate a decrease in the height of atmospheric CH4 concentrations with  the pattern of logarithmic (exponential) is mostly derived from activities in the Earths surface. Fluctuations in the concentration of CH4 in the atmosphere caused among other is by El Nino Southern Oscilation (ENSO). This condition appears on the similarities of the ENSO index values and CH4 concentrations. Based on research by using the Friedman test and Tukeys test result that classification of  cities and towns has no effect on the concentration of CH4.Keywords: profile, CH4, AIRS, statistic, classification, city 
KESESUAIAN EKOWISATA DI PULAU PASUMPAHAN, KOTA PADANG Tanto, Try Al; Putra, Aprizon; Yulianda, Fredinan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.526 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.606

Abstract

ABSTRAKPulau Pasumpahan terletak di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang merupakan salah satu tempat tujuan wisata kepulauan. Tujuan penelitian ini yaitu menginventarisasi potensi sumber daya pesisir dan mengkaji kesesuaian kawasan dalam mendukung ekowisata Pulau Pasumpahan. Metode yang digunakan dalam kajian berupa pemetaan dan analisis kesesuaian kawasan ekowisata yang dilakukan dengan perhitungan skor dan bobot parameter yang digunakan. Hasil yang diperoleh adalah indeks kesesuaian ekowisata tertinggi terdapat pada potensi wisata pantai (rekreasi) yaitu sebesar 79,91% (sangat sesuai). Dari 9 sampel pengukuran yang tersebar di sekeliling pulau, 8 di antaranya menunjukkan nilai sangat sesuai, hanya satu titik yang menunjukkan sesuai bersyarat karena banyak sampah bertebaran di pantai dan perairan keruh. Untuk kesesuaian wisata snorkeling sebesar 51-68,13% (cukup sesuai) dan kesesuaian wisata selam sebesar 50-68,83% (cukup sesuai). Namun satu titik di sekitar pengukuran sebelah barat laut, sangat berpotensi dikembangkan untuk wisata selam menjadi lebih baik karena kondisi soft coral yang sangat indah berada pada kedalaman sekitar 6 m dengan dasar slope, cocok digunakan sebagai objek penyelaman. Sedangkan untuk wisata snorkeling pada lokasi barat laut tersebut tidak cocok, namun berpotensi untuk dikembangkan di sepanjang pulau yang memiliki pantai, melihat cukup lebar dan luasnya hamparan karang. Kesimpulan yang diperoleh adalah ekowisata bahari cukup potensi dikembangkan di Pulau Pasumpahan, di antaranya wisata pantai (rekreasi) (sebesar 79,91%/sangat sesuai), wisata selam, dan wisata snorkeling.Kata kunci:    ekowisata bahari, kesesuaian kawasan, wisata pantai, wisata selam, wisata snorkeling, Pulau Pasumpahan - Kota PadangABSTRACTPasumpahan Island is located in the Bungus Teluk Kabung District, Padang City is one of the archipelago tourist destinations. The objective of the research is to inventory the potential of coastal resources and assess the regional suitability in supporting ecotourism of Pasumpahan Island. The method used in the study is the mapping and analysis of the suitability of ecotourism is done by calculating a score and weighting parameters used. The results obtained are the highest suitability index contained on coastal tourism potentials (recreation) is 79.91% (very suitable). 8 samples among 9 measurement points are around the island shows very suitable value, only one point showing the suitable conditional because a lot of trash were scattered on the beach and muddy waters. To suitability snorkeling by 51-68.13% (suitable enough) and diving by 50-68.83% (suitable enough). But one point around the northwest measurement is very likely to be developed for diving to be better because the conditions were very beautiful soft corals and a basic profile at a depth of 6 m started slope, suitable for use as a dive attraction. As for the snorkeling at the northwest location is not suitable, but has the potential to be developed along the island which has a coastal, looking quite a width and breadth of the reef flat. The conclusion are enough potential for marine ecotourism developed in Pasumpahan Island, such as coastal tourism (recreational) (amounting to 79.91% / very appropriate), diving and snorkeling ecotourism.Keywords: marine ecotourism regional suitability, beach tourism, snorkeling, diving, Pasumpahan Island, Padang City
ANALISIS SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PERTANIAN UNTUK MENDUKUNG KEMANDIRIAN PANGAN DI KABUPATEN INDRAMAYU murdaning, murdaningsih
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1159.868 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.604

Abstract

Kabupaten Indramayu di Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu wilayah dengan tingkat konversi lahan pertanian cukup tinggi. Hal ini didorong oleh tingginya permintaan lahan untuk pembangunan fasilitas pendidikan, pemukiman, dan kegiatan perekonomian lainnya. Dinamika perubahan penggunaan lahan dapat diamati dari perubahan penggunaan lahan secara multi temporal. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data penggunaan lahan tahun 1994, 2008, dan 2015 yang bersumber dari foto udara tahun 1994, citra ikonos tahun 2008, SPOT 6 tahun 2015, dan data statistik. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan lahan di  Indramayu pada tahun 1994 didominasi oleh lahan sawah seluas 133.716 ha (65%). Penggunaan lahan lainnya yaitu tambak seluas 18.780 ha (9 %) dan permukiman seluas 16.627 ha (8%). Pada tahun 2015, luas lahan sawah turun menjadi 132. 097 ha (64%) dan pemukiman meningkat menjadi 18. 625 ha (9%). Dalam kurun waktu ini terjadi peningkatan area pemukiman dan penurunan luas lahan sawah yang cukup besar. Hasil perhitungan kebutuhan  pangan di Indramayu dengan jumlah penduduk 1.708.551 jiwa dan konsumsi rata-rata 139 kg per kapita per tahun mencapai 237.488.589 kg.
MENGUKUR URBAN HEAT ISLAND MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH, KASUS DI KOTA YOGYAKARTA Fawzi, Nurul Ihsan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.513 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.603

Abstract

Peningkatan suhu di kawasan perkotaan adalah salah satu dampak dari urbanisasi. Fenomena Urban Heat Island (UHI) merupakan salah satu akibat yang dihasilkan akibat peningkatan suhu tersebut. Diperlukan upaya untuk menilai perubahan suhu apakah dapat berbahaya bagi manusia atau tidak. Melalui pengukuran UHI, pengaruh pembangunan kota terhadap peningkatan suhu dapat diukur. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan panduan ilmiah tentang perolehan intensitas dan distribusi UHI menggunakan teknik penginderaan jauh. Studi kasus yang dilakukan berada di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Citra penginderaan jauh yang digunakan adalah citra Landsat 8 perekaman tanggal 24 Juni 2013, path/row 120/65. Metode ekstraksi suhu permukaan menggunakan inversi persamaan Planck dengan koreksi emisivitas dan atmosfer menggunakan radiative transfer equation. Hasil pengolahan didapatkan intensitas UHI sebesar ±2,5oC pada Kota Yogyakarta dan intensitas UHI sebesar ±3,23oC pada area yang diperluas dengan buffer 1 km dari batas Kota Yogyakarta. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan area penelitian untuk analisis UHI menjadi penting karena mempengaruhi nilai intensitas UHI dan distribusi UHI. Ditemukan kawasan Malioboro dan sekitarnya berpotensi kuat terjadi UHI, sehingga perlu upaya mitigasi UHI pada kawasan tersebut. Pengukuran UHI menggunakan penginderaan jauh dipengaruhi oleh hal-hal yang berkaitan dengan sistem penginderaan jauh, seperti validasi dan akurasi hasil estimasi, pengaruh atmosfer, dan perbedaan waktu intensitas puncak UHI. Metode perolehan UHI dalam penelitian ini dapat menjadi panduan ilmiah yang digunakan untuk dasar evaluasi pembangunan perkotaan untuk lebih baik. 
APLIKASI CITRA LANDSAT 8 OLI UNTUK IDENTIFIKASI STATUS TROFIK WADUK GAJAH MUNGKUR WONOGIRI, JAWA TENGAH Laksitaningrum, Kusuma Wardani; Widyatmanti, Wirastuti
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1424.37 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.633

Abstract

ABSTRAKWaduk Gajah Mungkur (WGM) adalah bendungan buatan yang memiliki luas genangan maksimum 8800 ha, terletak di Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Kondisi perairan WGM dipengaruhi oleh faktor klimatologis, fisik, dan aktivitas manusia yang dapat menyumbang nutrisi sehingga mempengaruhi status trofiknya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kemampuan citra Landsat 8 OLI untuk memperoleh parameter-parameter yang digunakan untuk menilai status trofik, menentukan dan memetakan status trofik yang diperoleh dari citra Landsat 8 OLI, dan mengevaluasi hasil pemetaan dan manfaat citra penginderaan jauh untuk identifikasi status trofik WGM. Identifikasi status trofik dilakukan berdasarkan metode Trophic State Index (TSI) Carlson (1997) menggunakan tiga parameter yaitu kejernihan air, total fosfor, dan klorofil-a. Model yang diperoleh berdasar pada rumus empiris dari hasil uji regresi antara pengukuran di lapangan dan nilai piksel di citra Landsat 8 OLI. Model dipilih berdasarkan nilai koefisien determinasi (R2) tertinggi. Hasil penelitian merepresentasikan bahwa nilai R2 kejernihan air sebesar 0,813, total fosfor sebesar 0,268, dan klorofil-a sebesar 0,584. Apabila nilai R2 mendekati 1, maka semakin baik model regresi dapat menjelaskan suatu parameter status trofik. Berdasarkan hasil kalkulasi diperoleh distribusi yang terdiri dari kelas eutrofik ringan, eutrofik sedang, dan eutrofik berat yaitu pada rentang nilai indeks 50,051 – 80,180. Distribusi terbesar adalah eutrofik sedang. Hal tersebut menunjukkan tingkat kesuburan perairan yang tinggi dan dapat membahayakan makhluk hidup lain.Kata kunci: Waduk Gajah Mungkur, citra Landsat 8 OLI, regresi, TSI, status trofikABSTRACTGajah Mungkur Reservoir is an artificial dam that has a maximum inundated areas of 8800 ha, located in Pokoh Kidul Village, Wonogiri Regency. The reservoir’s water conditions are affected by climatological and physical factors, as well as human activities that can contribute to nutrients that affect its trophic state. This study aimed to assess the Landsat 8 OLI capabilities to obtain parameters that are used to determine its trophic state, identifying and mapping the trophic state based on parameters derived from Landsat 8 OLI, and evaluating the results of the mapping and the benefits of remote sensing imagery for identification of its trophic state. Identification of trophic state is based on Trophic State Index (TSI) Carlson (1997), which uses three parameters there are water clarity, total phosphorus, and chlorophyll-a. The model is based on an empirical formula of regression between measurements in the field and the pixel values in Landsat 8 OLI. Model is selected on the highest value towards coefficient of determination (R2). The results represented that R2 of water clarity is 0.813, total phosphorus is 0.268, and chlorophyll-a is 0.584. If R2 close to 1, regression model will describe the parameters of the trophic state better. Based on the calculation the distribution consists of mild eutrophic, moderate eutrophic, and heavy eutrophic that has index values from 50.051 to 80.18. The most distribution is moderate eutrophication, and it showed the high level of trophic state and may harm other living beings.Keywords: Gajah Mungkur Reservoir, Landsat 8 OLI satellite imagery, regression, TSI, trophic state
PEMODELAN DAMPAK KEBIJAKAN REDD : STUDI KASUS HUTAN DI PULAU SUMATERA Nahib, Irmadi; Suwarno, Yatin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1181.126 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.696

Abstract

Emisi karbon yang terjadi akibat deforestasi dan degradasi hutan menyumbang hampir 20%  emisi global, lebih besar daripada sektor transportasi global dan yang kedua setelah industri energi. Indonesia adalah negara yang sangat penting dalam hal deforestasi dan degradasi hutan. Enam puluh persen dari luas daratan Indonesia adalah hutan, dan memiliki kawasan hutan hujan tropis terbesar ke-3 di dunia. Hutan Indonesia pada periode 2000-2009 telah mengalami deforestasi sekitar 15,15 juta ha. Distribusi spasial deforestasi terjadi di Pulau Kalimatan mencapai 5505863,93 (36,32%), Pulau Sumatera 3711797,45 (24,48%) dan Kepulauan Maluku 1,258,091,72 (8,30%). Di pulau Sumatera, Provinsi ……… Riau merupakan wilayah dengan deforestasi terbesar, mencapai 2002908,83 ha. Deforestasi akan berdampak terjadinya emisi karbon.  Salah satu metode untuk mengukur emisi dari deforestasi dan degradasi hutan adalah model Geosiris.  Model ini mengasumsikan pemanfaatan hutan menghadapi trade-off  antara pendapatan pertanian yang diperoleh dari konversi  hutan, dan pendapatan karbon yang diperoleh dengan melindungi hutan. Data yang digunakan dalam studi :  peta tutupan hutan pada tahun 2005 dan 2010, peta deforestasi 2005-2010, dan data penyebab deforestasi : ( kemiringan, elevasi, jarak logaritmik ke jalan terdekat, jarak dari  ibukota provinsi,  peta taman nasional, peta areal perkebunan), harga karbon dan harga pertanian. Sumber data adalah : https://clarklabsorg/products/.  Analisis emisi karbon dilakukan dengan oleh menggunakan modul Geosiris pada software TerrSet.   Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur deforestasi dan emisi dari periode 2005-2010 di pulau Sumatera dengan menggunakan model Geosiris.    Hasil analisis dengan asumsi harga karbon sebesar US $ 10 / tCO2e, menunjukkan deforestasi yang terjadi di Pulau Sumatera  dampak kebijakan REDD adalah 170,447 ha (16,70%), perubahan emisi karena REDD 17,59-22 -29% (di bawah tanpa skenario referensi REDD +), atau mengurangi emisi sebesar 245 - 265 MtCO2e / 5 tahun, akhirnya, surplus bersih pemerintah pusat dari pembayaran karbon sebesar US $ 300276736 (NPV, 5 tahun). Kata Kunci: Deforestasi, Emisi Karbon, Pendapatan Pertanian, Insentif Karbon ,  Model GeosirisABSTRACTCarbon emissions related to deforestation and forest degradation represent almost 20% of global emissions, greater than the global transportation sector and second only to the energy industry.  For several reasons, Indonesia is a very important country in regarding to deforestation and forest degradatio. Sixty percent of Indonesias land area is forested, and it has the 3rd largest area of tropical rainforest in the world.  Indonesia’s  Forest in the period 2000-2009 has been deforested about 1515 million ha. The spasial distribution of deforestation occurred on the Kalimatan island  reach 5,505,86393 (36.32%), Sumatra Island 3,711,79745 (24.48 %) and Maluku Islands 1,258,09172 (8.30%.  In the Sumtra island, it self Riua Province has the greatest deforestation, they are reaching 2,002,90883 ha. Deforestation will cause carbon emissions. One of method for  measuring emissions from deforestation and forest degradation is Geosiris model. This model assumes forest users face a trade-off between the agricultural revenue obtained from deforesting land, and the carbon revenue obtained by protecting them. A modeled GeOSIRIS policy uses a carbon payment system to incentivize emission reductions.  Data used in study : maps of forest cover in 2005 and 2010, map of deforestation,  driver variables (slope,  elevation, logarithmic distance to the nearest road or provincial capital, or the amount of area per pixel included in a national park, or a timber plantation),  carbon price and agricultural.  Data sources in  https://clarklabsorg/products/. Calculating emisi carbon was  done by the GeOSIRIS module in TerrSet. The aim of study is to measuring deforestation and emissions from tropical deforestation period 2005-2010 in Sumatera island using Geosiris model. The results show, according to Geosiris, that at an international carbon price of US $10/tCO2e,  Sumatera  Island would have  :  change in deforestation due to REDD is  170,447  ha   (1670 %), change in emissions  due to REDD is  1759  – 2229  % (below the without  REDD+ reference scenario), or reduced emissions by  245 - 265  MtCO2e/ 5 years, finally, net central government surplus from carbon payments US $  300,276,736  (NPV, 5 years)Keywords: Deforestation, Carbon Emission, Agricultural Revenue, Carbon payments , Geosiris Model,

Page 1 of 2 | Total Record : 12