Berkala Arkeologi
We are a journal on archaeology published by Balai Arkeologi Yogyakarta every May and November each year. This journal seek to promote and shares research results and ideas on archaeology to the public. We covers original research results, ideas, theories, or other scientific works from the discipline of Archaeology mainly in the Indonesian Archipelago and Southeast Asia. Interest from other disciplines (such as history, anthropology, architecture, geology, etc.) must be related to archaeological subject to be covered in this journal. Our first edition was published on March 1980.
Articles
756 Documents
SEDIKIT GAMBARAN TENTANG ANALISA POLLEN DALAM PENELITIAN ARKEOLOGI INDONESIA
Sri Yuwantiningsih
Berkala Arkeologi Vol 3 No 1 (1982)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2485.146 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v3i1.293
Perkembangan penelitian arkeologi ternyata tidak pernah lepas dari berbagai disiplin ilmu, yang kesemuanya bertujuan untuk mempercepat pemecahan masalah arkeologi yang ada. Penggunaan ilmu lain termasuk pengembangan teknik modern dalam arkeologi, meliputi juga konsep dari lingkungan ilmu-ilmu eksakta.Analisa pollen merupakan salah satu kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan multidisipliner dalam penelitian arkeologi. Kegiatan ini adalah usaha yang menyangkut penerapan ilmu dari lingkungan biologi-geologi kearah arkeologi. Penerapan analisa pollen di negara-negara maju sudah lebih dahulu dikerjakan. Dengan pengembangan analisa pollen dalam penelitian arkeologi di Indonesia, akan membuat penelitian arkeologi setapak lebih maju dan diharapkan sesuai dengan negara maju yang lain.
BEBERAPA CATATAN DARI: LOKAKARYA SPAFA TENTANG PEMUGARAN PENINGGALAN SEJARAH DAN PURBAKALA
Sutaba Sutaba
Berkala Arkeologi Vol 4 No 2 (1983)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4585.991 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v4i2.307
Pada tahun 1980 yang lalu, benempat di Jogjakarta SPAFA (SEAMEO Project in Archaeology and Fine Arts) telah menyelenggarakan Lokakarya Tentang Teknik Pemugaran Peninggalan Sejarah dan Purbakala (Workshop on The Technique of Restoration of Monuments) sebagai suatu kerja sama antara SPAFA Sub-Center For Restoration and Preservation of Ancient Monuments dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (cq. Direktorat Jenderal Kebudayaan) melalui Proyek Pemugaran Candi Borobudur. Lokakarya ini dihadiri oleh ahli-ahli purbakala dan arsitek dari negara-negara anggota SEAMEO, yang dalam tugasnya sehari-hari bertanggung jawab atas pemugaran terhadap peninggalan sejarah dan purbakala di negaranya masing-masing. Di samping itu hadir pula Prof. Dr. A. J. Bernet Kempers, ahli purbakala dari Negeri Belanda yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang amat luas mengenai kepurbakalaan di Indonesia, bahkan pernah menjadi Kepala Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional. Ahli purbakala lainnya ialah dari Sri Langka: Roland Silva dan dari Indonesia antara lain hadir Prof. Dr. R. Soekmono sebagai Direktur Sub-Center For Restoration and Preservation of Ancient Monuments dan sebagai Pemimpin Proyek Pemugaran Candi Borobudur. Di samping itu sebagai utusan Indonesia adalah Drs. Uka Tjandrasasmita, Direktur Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala dan ahli-ahli purbakala lainnya. Lokakarya tersebut di atas disertai juga pengamatan ke Candi Borobudur, Jawa Timur dan Bali untuk menyaksikan pemugaran yang sedang berlangsung di Indonesia.
TINJAUAN SEMENTARA TENTANG ARCA MENHIR GUNUNG KIDUL
Sumijati Atmosudiro
Berkala Arkeologi Vol 1 No 1 (1980)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (9145.75 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v1i1.274
Berbieara tentang area menhir tidak dapat dilepaskan dari tradisi megalitik, terutama dengan kons'ep latar belakang kepereayaannya. Hal tersebut disebabkan oleh karena didalam tradisi Megalitik dikenal suatu konsep adanya kehidupan kembali sesudah mati. Atas dasar konsep itu maka dalam masyarakat Megalitik muneul kebiasaan melakukan pemujaan nenek moyang. Melalui pemujaan terhadap nenek moyang pendukung tradisi Megalitik berkeyakinan, bahwa hubungan antara yang sudah meninggal dengan yang masih hidup, akan tetap terjalin.
MENGAPA PHALLUS ARCA SIWA-BHAIRAWA DI PURA KEBO EDAN MENGHADAP KE ARAH KIRI?
Sukarto K. Atmodjo
Berkala Arkeologi Vol 4 No 1 (1983)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3119.495 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v4i1.303
Di dalam makalah saya berjudul "Betulkah Astasura-ratna-bumi-banten seorang raja Bali yang murka dan hina (?)" pada Seminar Sejarah Nasional ke III di Jakarta tahun 1981, saya juga menguraikan secara singkat sebuah arca Siwa-Bhairawa yang tersimpan di Pura Kebo Edan di Bali. Makalah itu pada pokoknya membahas seorang tokoh raja Bali yang disebut Paduka Bhatara Sri Astasura-ratna-bumi-banten di dalam prasasti tembaga Patapan Langgaran yang bertarikh 1259 Saka. Tetapi di dalam kitab Nagarakertagama yang digubah oleh pujangga Prapanca, yaitu Nyanyian 49, bait 4, disebut seorang raja Bali yang murka dan hina dan yang kemudian dikalahkan oleh bala-tentara Majapahit.
Arkeologi: Humanisme dan Sains
Ph. Subroto
Berkala Arkeologi Vol 3 No 1 (1982)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4342.173 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v3i1.294
Dalam waktu sepuluh tahun terakhir ini dunia arkeologi mengalami perkembangan yang sangat pesat di dalam metodologinya. Semenjak tahun 1960-an sudah dirasakan bahwa disiplin arkeologi berkembang menuju ke arah scientific methodology (metodologi ilmiah). Sebagai akibat perkembangan ini ada kecenderungan dari para1 arkeolog untuk menempatkan disiplin arkeologi ke dalam sains dan mengemukakan keberatannya untuk menempatkan humanisme ke dalam prosedur arkeologi. Makalah ini akan mencoba menempatkan sains dan humanisme di dalam disiplin arkeologi.
Akulturasi Di Kraton Kasepuhan Dan Mesjid Panjunan, Cirebon
Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Vol 2 No 1 (1981)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2528.206 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v2i1.285
Pendukung kebudayaan adalah manusia. Sejak kelahirannya dan dalam proses sosialisasi, manusia mendapatkan berbagai pengetahuan. Pengetahuan yang didapat dan dipelajari dari lingkungan keluarga pada lingkup kecil dan masyarakat pada lingkup besar, mendasari dan mendorong tingkah lakunya dalam mempertahankan hidup. Sebab manusia tidak bertindak hanya karena adanya dorongan untuk hidup saja, tetapi juga karena suatu desakan baru yang berasal dari budi manusia dan menjadi dasar keseluruhan hidupnya yang dinamakan kebudayaan. Sehingga suatu masyarakat ketika berhadapan dan berinteraksi dengan masyarakat lain dengan kebudayaan yang berlainan, kebudayaan baru tadi tidak langsung diterima apa adanya. Tetapi dinilai dan diseleksi mana yang sesuai dengan kebudayaannya sendiri. Budi manusia yang menilai benda dan kejadian yang beraneka ragam di sekitarhya kemudian memllihnya untuk dijadikan tujuan maupun isi kelakuan budayanya (Sutan Takdir Alisyahbana, tanpa angka tahun: 4 dan 7).
CATATAN SINGKAT MENGENAI CINCIN BERTULISAN SRAMANA
Kusen Kusen
Berkala Arkeologi Vol 4 No 2 (1983)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3295.514 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v4i2.308
Dalam tulisan singkat ini akan dibicarakan sebuah cincin yang menarik perhatian karena keunikan serta nilai kekunaannya. Keunikan cincin terletak pada tulisan berhuruf Jawa kuna di permukaannya yang berbunyi Sramana. Sampai saat ini sepanjang pengetahuan penulis baru cincin yang akan dibahas inilah satu-satunya contoh cincin peninggalan masa Indonesia Hindu yang memiliki tulisan semacam itu. Oleh sebab itu benda kecil tersebut memang pantas untuk dibahas dan dipublikasikan sebagai tambahan data arkeologis masa Indonesia Hindu.
SINGA DALAM KESENIAN HINDU DI JAWA TENGAH
Timbul Haryono
Berkala Arkeologi Vol 1 No 1 (1980)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5204.969 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v1i1.275
Di Jawa Tengah banyak peninggalan-penii:lggalan arkeologi baik yang berupa bangunan, area maupun artefak yang lain. Artefak-artefak tersebut dibuat oleh masyarakat pendukungnya untuk rnernenuhi kebutuhan hidupnya berupa kebutuhan rokhani atau kebutuhan jasrnani. Artefak sebagai alat untuk pemenuhan kebutuhan rokhani tentu saja dalarn hal pembuatannya baik yang menyangkut penentuan bentuk maupun pemilihan dekorasinya akan terikat oleh adanya aturan-aturan tertentu yang berhubungan dengan masalah keagamaan. Meskipun demikian suatu kebebasan dalam diri si seniman ada sampai pada batas-batas tertentu.