cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berkala Arkeologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
We are a journal on archaeology published by Balai Arkeologi Yogyakarta every May and November each year. This journal seek to promote and shares research results and ideas on archaeology to the public. We covers original research results, ideas, theories, or other scientific works from the discipline of Archaeology mainly in the Indonesian Archipelago and Southeast Asia. Interest from other disciplines (such as history, anthropology, architecture, geology, etc.) must be related to archaeological subject to be covered in this journal. Our first edition was published on March 1980.
Arjuna Subject : -
Articles 756 Documents
Preface Vol. 1 No. 1 1980 Berkala Arkeologi
Berkala Arkeologi Vol 1 No 1 (1980)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.143 KB)

Abstract

Alat-alat Batu Pacitan: Mobilitas Budaya Prasejarah Harry Widianto
Berkala Arkeologi Vol 3 No 1 (1982)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5810.297 KB) | DOI: 10.30883/jba.v3i1.296

Abstract

Dalam kerangka periode prasejarah di Indonesia, masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana dengan penonjolan tradisi paleolithik telah menempati posisi yang tertua. Masa ini bermula dengan terciptanya hasil-hasil kebudayaan manusia pertama sekitar 700.000 tahun yang lalu, kemudian berakhir pada awal Kala Holosen, sekitar 10.000 tahun silam. Dari jangka waktu itu, berbagai alat untuk mengeksploitasi lingkungan telah menjadi bukti tentang eksistensi pendukung kebudayaan Kala Plestosen di Indonesia. Betapapun sangat sederhananya, alat-alat ini telah memberikan gambaran tentang perilaku manusia Plestosen di Indonesia, terutama tentang hubungan timbal-balik yang erat antara lingkungan hidup manusia, teknologi dan sistem-sistem sosial. Tiap-tiap gejala ini harus diperhatikan secara seksama, sehingga dapat diketabui hubungan fungsionalnya.
STUDI ARKEOMETALURGI DALAM DISIPLIN ARKEOLOGI Timbul Haryono
Berkala Arkeologi Vol 4 No 2 (1983)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5071.898 KB) | DOI: 10.30883/jba.v4i2.310

Abstract

Di dalam usaha merekonstruksi kehidupan masa lampau, tugas kita bukan semata-mata menguraikan serangkaian peristiwa yang abstrak dan terlepas-lepas. Masa lampau yang akan kita susun kembali terdiri dari kehidupan perorangan yang tergabung dan membentuk suatu peristiwa. Kehidupan masa lampau sangat kompleks; untuk menyusunnya kembali kita hanya punya data arkeologi yang kurang lengkap sebab data tersebut sampai ke tangan kita sudah, mengalami proses pemindahan yang bermacam-macam. Proses pemindahan kebudayaan ini kemudian melahirkan studi "taphonomy" (Gifford.1981). Jangkauan ilmu arkeologi seperti telah disebut telah menyebabkan ilmu arkeologi dalam perkembangannya memerlukan kerja sama dengan ilmu lain. Salah satu yang menjadi pokok pembicaraan dalam makalah ini adalah metalurgi.
LAPORAN SUKA-DUKA PENEMUAN PRASASTI RAJA JAYAPANGUS DI KROBOKAN DAN BENDA PURBAKALA LAINNYA DI SEPANG (BALI) Sukarto K. Atmodjo
Berkala Arkeologi Vol 1 No 1 (1980)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6441.451 KB) | DOI: 10.30883/jba.v1i1.277

Abstract

Setelah kami kembali dari Tugas Belajar Utama di Rijks-Universiteit Leiden (1968-1969), pada suatu hari Dekan Fakultas Sastra UNUD (Universitas Udayana) di Denpasar minta kepada kami agar bersedia menyertai rombongan mahasiswa jurusan Anthropologi UNUD yang akan melakukan penelitian dialek bahasa di Sepang, Perbekelan Sepang, Kecamatan Busungbiyu, Kabupaten Bleleng. Hal ini berdasarkan berita (sinyalemen) bahwa penduduk setempat masih menyimpan beberapa buah benda purbakala. Permintaan itu kami sambut dengan baik, dengan pengharapan mudah-mudahan di daerah sekitar Sepang juga ditemukan sarkofag, mengingat palungan (sarkofag) tersebut pernah ditemukan di Busungbiyu, Pujungan dan di Pohasem.
SAMBANDHA DALAM BEBERAPA PRASASTI BALI I Gusti Putu Ekawana
Berkala Arkeologi Vol 4 No 1 (1983)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7915.648 KB) | DOI: 10.30883/jba.v4i1.301

Abstract

Di dalam prasasti alasan atau sebab-sebab suatu prasasti dikeluarkan oleh raja dapat diketahui pada bagian yang memuat sambandha. Pada sambandha inilah kita dapat mengetahui latar belakang suatu karaman mendapat anugerah prasasti. Kalau kita perhatikan sambandha prasasti itu bermacam-macam antara lain, menyebutkan tentang masalah bwattahaji, buncang haji berupa pajak yang dirasakan berat, ingin menjadi desa berdiri sendiri (merdeka), penduduk berkurang karena banyak yang mati dan ditawan musuh sehingga merasa berat memikul beban pajak, merasa berat mengerjakan kebun milik raja, mempersembahkan sima untuk bangunan suci dan sebagainya. Dengan bermacam-macam latar belakang itu sebagai alasan atau sebab-sebab seorang raja lalu menganugerahkan prasasti setelah melalui sidang lengkap kerajaan. Prasasti merupakan pegangan (agemmagem) untuk mengokohkan kedudukan satu karaman. Menurut Goris prasasti adalah merupakan undang-undang (Goris, 1948: 22). Oleh karena itu jelaslah bahwa prasasti sebagai undang-undang, merupakan dasar hukum yang dipergunakan sebagai pegangan (agemmagem) yang memuat hak-hak dan kewajiban bagi sebuah karaman yang harus ditaati oleh semua pihak.
CATATAN SINGKAT TENTANG ALAT-ALAT TULANG NGANDONG Truman Simanjuntak
Berkala Arkeologi Vol 2 No 1 (1981)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2560.567 KB) | DOI: 10.30883/jba.v2i1.283

Abstract

Pengertian alat tulang dalam tulisan ini meliputi alat-alat yang terbuat dari tulang dan tanduk binatang serta alat dari duri ikan. Alat tulang merupakan salah satu jenis basil teknologi manusia purba yang dipergunakan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhannya. Alat jenis ini sudah dikenal sejak adanya permulaan kegiatan manusia yang pada muianya berlatar belakang pada perburuan binatang sebagai salah satu sumber makanan. Dalam hal ini tulang-tulang binatang basil buruan dipecahkan untuk mendapatkan sumsumnya dan pecahanpecahan yang baik dipilih untuk dijadikan alat atau setidak-tidaknya untuk dijadikan alat secara insidentil.
SEBUAH CATATAN TAMBAHAN TENTANG PREHISTORI IRIAN JAYA Goenadi Nitihaminoto
Berkala Arkeologi Vol 1 No 1 (1980)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10189.438 KB) | DOI: 10.30883/jba.v1i1.273

Abstract

Tulisan ini saya dasarkan atas tulisan R.P. Soejono yang berjudul Prehistori Irian Barat, ditufis tahun 1963. Tulisan ini dapat ditemukan dalam buku Penduduk Irian Barat dibawah redaksi Koentjaraningrat dan Harsja W. Bachtiar, halaman 39-54: Meskipun _tulisan tersebut hanya bersifat kompila tif, rasanya sudah cukup mewakili. Dalam kesernpatan ini saya ingin menambahkan tulisan itu berdasarkan hasil penelitian saya bersarna Dr. W.G. Solheim II, yang harnpir ineliputi seluruh Irian J aya. Dalam tulisan ini narna Irian Baral yang terdapat dalam tulisan tahun 1963 say a ganti dengan Irian J aya, sebuah nama yang djpakai sekarang.
LANSKAP ARKEOLOGI DALAM PERSPEKTIF PROSESUAL DAN PASCA-PROSESUAL: STUDI KASUS KOMPLEKS MEGALITIK DI DATARAN TINGGI JAMBI Hafiful Hadi Sunliensyar
Berkala Arkeologi Vol 38 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.449 KB) | DOI: 10.30883/jba.v38i2.267

Abstract

The development of archaeology paradigm from processual to postprocessual, influence the archaeologists thought about landscape. Sometimes, the landscape in archaeology is arduous understood because overlapping with other studies. Actually, this problem can be solved if we analyze the development of archaeology paradigm which associated with landscape study. This article attempts to discuss the ambiguity of landscape in archaeology with case study on the megalithic complex in Jambi Highland. Based on the data, it is known that: landscape in procesual study just explain the association between megalithic with burial-jars, mountains, settlements, and natural resources around it. The result which obtained in this perspective, was an explanation of megalithic function based on the relationship between sites and environment. Conversely in post-processual, attempts to interpret about megalithic complex in Jambi Higland based on individual (including researcher perception) or community perceptions. The result obtained in postprocessual, can answer questions about the unevenness of megalithic orientation and the difference of megalithic locations.
PERANAN EKOLOGIS SHIPWRECK ATAU EXPOSED SHIPWRECK SEBAGAI MEDIA HIDUP KARANG DI PULAU BAWEAN DALAM UPAYA PERLINDUNGAN, PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN SHIPWRECK ATAU EXPOSED SHIPWRECK Heny Budi Setyorini; Hery Priswanto; Ahmad Surya Ramadhan
Berkala Arkeologi Vol 38 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1631.485 KB) | DOI: 10.30883/jba.v38i2.238

Abstract

Metal salvage and theft activities have eliminated most shipwrecks at Nusa Island, and exposed shipwrecks in Gosong Gili, Bawean Island. In order to give recommendations for its conservation efforts, this study aims to identify the remaining shipwrecks or exposed shipwrecks at Nusa Island and Gosong Gili, and the types of corals and fishes in it. This study aims to prove that shipwrecks or exposed shipwrecks is not only having historical and economical value, but also ecological value for the survival of coral reef ecosystem. This is a descriptive-explorative research, data were gathered by underwater survey using GPS Map Sounder, and SCUBA diving. Shipwrecks at Nusa Island is only 30% left in fragmented form of mast, machine, boiler, propeller, ivory vessel, and bricks in the bow area. While the exposed shipwrecks at Gosong Gili is only 20% left in fragmented form boilers, machine, and ivory vessel that might be a cultural heritage according to the UU RI Number 11 of 2010 on Cultural Heritage. At Nusa Island, the corals are consisted of Poritidae and Acroporidae families, and various species reef fishes. While at Gosong Gili, there are more coral families including Merulinidae, Poritidae and Acroporidae, but their reef fishes species are fewer than Nusa island.
Cover JBA Vol. 38 No. 2 (2018) Berkala Arkeologi
Berkala Arkeologi Vol 38 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4630.773 KB)

Abstract


Filter by Year

1980 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 2 (2022) Vol 42 No 1 (2022) Vol 41 No 2 (2021) Vol 41 No 1 (2021) Vol 17 No 2 (1997) Vol 40 No 2 (2020) Vol 40 No 1 (2020) Vol 13 No 1 (1993) Vol 39 No 2 (2019) Vol 39 No 1 (2019) Vol 38 No 2 (2018) Vol 38 No 1 (2018) Vol 37 No 2 (2017) Vol 37 No 1 (2017) Vol 36 No 2 (2016) Vol 36 No 1 (2016) Vol 35 No 2 (2015) Vol 35 No 1 (2015) Vol 34 No 2 (2014) Vol 34 No 1 (2014) Vol 33 No 2 (2013) Vol 33 No 1 (2013) Vol 32 No 2 (2012) Vol 32 No 1 (2012) Vol 31 No 2 (2011) Vol 31 No 1 (2011) Vol 30 No 2 (2010) Vol 30 No 1 (2010) Vol 29 No 2 (2009) Vol 29 No 1 (2009) Vol 28 No 2 (2008) Vol 28 No 1 (2008) Vol 27 No 2 (2007) Vol 27 No 1 (2007) Vol 26 No 2 (2006) Vol 26 No 1 (2006) Vol 25 No 1 (2005) Vol 24 No 1 (2004) Vol 23 No 2 (2003) Vol 23 No 1 (2003) Vol 22 No 1 (2002) Vol 21 No 2 (2001) Vol 21 No 1 (2001) Vol 20 No 1 (2000) Vol 19 No 2 (1999) Vol 19 No 1 (1999) Vol 18 No 2 (1998) Vol 18 No 1 (1998): Edisi Khusus Vol 17 No 1 (1997) Vol 16 No 2 (1996) Vol 16 No 1 (1996) Vol 15 No 3 (1995): Edisi Khusus Vol 15 No 2 (1995) Vol 15 No 1 (1995) Vol 14 No 2 (1994): Edisi Khusus Vol 14 No 1 (1994) Vol 13 No 3 (1993): Edisi Khusus Vol 13 No 2 (1993) Vol 12 No 1 (1991) Vol 11 No 1 (1990) Vol 10 No 2 (1989) Vol 10 No 1 (1989) Vol 9 No 2 (1988) Vol 9 No 1 (1988) Vol 8 No 2 (1987) Vol 8 No 1 (1987) Vol 7 No 2 (1986) Vol 7 No 1 (1986) Vol 6 No 2 (1985) Vol 6 No 1 (1985) Vol 5 No 2 (1984) Vol 5 No 1 (1984) Vol 4 No 2 (1983) Vol 4 No 1 (1983) Vol 3 No 1 (1982) Vol 2 No 1 (1981) Vol 1 No 1 (1980) More Issue