cover
Contact Name
MUHAMMAD SIDDIQ ARMIA
Contact Email
msiddiq@ar-raniry.ac.id
Phone
+6281317172202
Journal Mail Official
jurnal.petita@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
http://petita.ar-raniry.ac.id/index.php/petita/about/editorialTeam
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
PETITA: Jurnal Kajian Ilmu Hukum dan Syariah (PJKIHdS)
ISSN : 25028006     EISSN : 25498274     DOI : https://doi.org/10.22373/petita.v6i1
Core Subject : Religion, Social,
PETITA journal has aimed to deliver a multi-disciplinary forum for the discussion of thoughts and information among professionals concerned with the boundary of law and sharia, and will not accept articles that are outside of PETITA’s aims and scope. There is a growing awareness of the need for exploring the fundamental goals of both the law and sharia systems and the social consequences of their contact. The journal has tried to find understanding and collaboration in the field through the wide-ranging methods represented, not only by law and sharia, but also by the social sciences and related disciplines. The Editors and Publisher wish to inspire a discourse among the specialists from different countries whose various legal cultures afford fascinating and challenging alternatives to existing theories and practices. Priority will therefore be given to articles which are oriented to a comparative or international perspective. The journal will publish significant conceptual contributions on contemporary issues as well as serve in the rapid dissemination of important and relevant research findings. The opinions expressed in this journal do not automatically reflect those of the editors. PETITA journal have received papers from academicians on law and sharia, law theory, constitutional law, research finding in law, law and philosophy, law and religion, human rights law, international law, and constitutionality of parliamentary products. In specific, papers which consider the following scopes are cordially invited, namely; • Sharia Law • Constitutional Law • International Law • Human Rights Law • Land Property Law • Halal Law • Islamic Law • Sharia Court • Constitutional Court • Refugee Law • Transitional Justice • Trade Law • Regional Law • Institutional Dispute Law • Legal Thought • Law and Education • Humanitarian Law • Criminal Law • Islamic Law and Economics • Capital Punishment • Child Rights Law • Family Law • Anti-Corruption Law • International Trade Law • Medical Law
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 174 Documents
PENGARUH MUQASHSHA DALAM PIUTANG MURABAHAH TERHADAP PENDAPATAN BAITUL QIRADH BINA INSAN MANDIRI BANDA ACEH Irni Junita
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2427.553 KB) | DOI: 10.22373/petita.v1i2.86

Abstract

This study aimed to investigate the influence of muqashsha in murabahah debt to the income of Baitul Qiradh Bina Insan Mandiri, Banda Aceh. The research findings indicated that its impact was on the income slackening in each year that was set earlier if customers accelerated their payments. The customers, who accelerated their payments on the murābahah product before the due date, would gain muqashsha of 60% price off from the remaining margin. There were two reasons for customers accelerating their payments: first, they had sufficient fund or more. Second, the customers had planned to take the other payment. The muqashsha was provided to customers who accelerated the repayment because most of them wanted to take further financing. This established a good working partnership between the customer and Baitul Qiradh Bina Insan Mandiri. Besides, the customers also benefited from the muqashsha. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh muqashsha dalam piutang murabahah terhadap pendapatan baitul qiradh bina insan mandiri banda aceh. Berdasaarkan hasil telaah lebih lanjut bahwa pengaruh muqashsha dalam piutang murabahah terhadap pendapatan bina insan mandiri Banda Aceh adalah berkurangnya jumlah pendapatan pertahun yang ditetapkan diawal apabila nasabah melakukan percepatan pembayaran dan setiap nasabah yang melakukan percepatan pelunasan sebelum jatuh tempo pada produk murābahah akan mendapatkan muqashsha dengan nilai potongan harga sebesar 60% dari sisa margin yang masih ada, ada dua faktor nasabah melakukan percepatan pembayaran, pertama: memiliki dana yang cukup atau lebih. Kedua: nasabah ingin mengembalikan karena ingin mengambil pembiayaan selanjutnya. Muqashsha yang diberikan Baitul Qiradh Bina Insan Mandiri kepada nasabah yang mempercepat pelunasan tersebut dikarenakan kebanyakan nasabah yang melakukan percepatan pelunasan tersebut ingin mengambil pembiayaan selanjutnya, dalam hal ini dapat terjalin mitra kerja yang baik lagi antara nasabah dengan Baitul Qiradh Bina Insan Mandiri, sedangkan masabah juga mendapatkan keuntungan dikarenakan mendapat muqashsha dari percepatan pelunasan tersebut. Kata Kunci: Muqashsha, Piutang, dan Murabahah
PERBEDAAN ANCAMAN PIDANA BAGI PELAKU LIWAT DEWASA TERHADAP ANAK-ANAK Astuti
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2502.565 KB) | DOI: 10.22373/petita.v1i2.87

Abstract

This study aimed to explain the view of the Qanun Jinayat (Islamic criminal law), Number 6 of the Year 2014 of Article 63 on liwath (homosexuality) perpetrators between adults or adults and children as well as the ta’zir punishment exceeding hudud. The research findings indicated that the Qanun Jinayat differentiated the liwath perpetrators between adults and children because the adult punishment had been explicitly regulated in sharia law, equal to the adultery perpetrators. However, the under-age perpetrators were included in the extraordinary violation law. Accordingly, adult liwath perpetrators involving children had double punishment. The ta’zir punishment could not exceed hudud, as explained in the prophet hadith and the fiqh (jurisprudence) principles. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pandangan Qanun Jinayat Nomor. 6 Tahun 2014 Pasal 63 tentang pelaku liwat antara dewasa dengan dewasa dan dewasa dengan anak-anak serta hukuman ta’zir yang melebihi hudud. Hasil kajian dapat diketahui bahwa, Qanun jinayat No.6 Tahun 2014 Pasal 63 membedakan pelaku liwat antara dewasa dengan dewasa dan dewasa dengan anak-anak karena orang dewasa sudah diatur dalam hukum Syara’ dengan hukuman yang sudah jelas yaitu disamakan dengan pelaku zina. Sedangkan pelaku yang dilakukan terhadap anak-anak lebih kepada pelanggaran syari’at yang luar biasa. Oleh karena itu pelaku liwat terhadap anak-anak dihukum dengan dua kali lipat. Hukuman ta’zir itu boleh melebihi hudud alasannya karena telah dijelaskan dalam hadist rasul dan dijelaskan juga kaidah dalam kaidah-kaidah fiqh. Kata Kunci: Ancaman, Pidana dan Liwat
SANKSI HUKUM TERHADAP PERBUATAN LIWATH DENGAN ANAK DI BAWAH UMUR Safinah
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2438.653 KB) | DOI: 10.22373/petita.v1i2.88

Abstract

This research aimed to investigate the sentence provisions concerning the criminal act of committing liwath (homosexuality) with an under-age child based on the Constitution Number 35 of the Year 2014 about child protection and Qanun Number 6 of the Year 2014 about the law of Jinayat. This study was to examine the effective punishment applied between the constitution and the Qanun. The research findings indicated that the sentence provisions of committing liwath with an under-age child, based on the child protection constitution Number 35 of the Year 2014, were sentenced for minimum five years to maximum 15 years, and fined as much as IDR 5,000,000,000.00 (5 billion rupiahs). Besides, based on the Qanun Jinayat Number 6 of the Year 2014, Article 63, verse 3, the sentence is 100 times caning or fined of 1000 (one thousand) grams of pure gold or sentenced for a maximum of 100 months. Both types of punishments had a deterrent effect; however, the caning sentence seemed to be effective in terms of the psychological convict. Abstrak: Tujuan dari penulisan ini untuk mengetahui bagaimana ketentuan hukuman tindak pidana liwath dengan anak di bawah umur menurut Undang-undang No 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak dan Qanun No 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, serta manakah hukuman yang lebih efektif diterapkan antara Undang-undang dengan Qanun. Hasil penelitian ditemukan bahwa ketentuan hukuman tindak pidana liwath dengan anak di bawah umur menurut Undang-Undang Perlindungan Anak No 35 Tahun 2014 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Sedangkan menurut Qanun Jinayat No 6 Tahun 2014 berdasarkan pasal 63 ayat 3 adalah ditambah dengan cambuk paling banyak 100 (seratus) kali atau denda paling banyak 1.000 (seribu) gram emas murni atau penjara paling lama 100 (seratus) bulan. Dari kedua jenis hukuman ini sama-sama mempunyai efek jera. Namun hukuman cambuk lebih efektif dilihat dari segi psikologis terpidana. Kata Kunci: Sanksi hukum Pelaku homoseksual Terhadap Anak
SISTEM PEMELIHARAAN BARANG TEMUAN Mahfudhan
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2451.088 KB) | DOI: 10.22373/petita.v1i2.89

Abstract

The regulations of found property were not clearly described in the Indonesian constitution. As the legal protection in this country, it has not contributed to set the legislation in Indonesia. This research aimed to investigate the fundamental problems, the output of the found property theory and the importance of the standard rule of found property in the Indonesian constitution. The research findings indicated that the civil code assessed that the rights and obligations concerning the found property are obtained by controlling the status of objects. However, in Islamic law, the purpose of the controlling and belonging rights of found property was to protect someone’s right. It indicated that Islam does not differentiate the wealth identity (its advantage, size, value). It also concerns with the status of people who find and own, and the right to control or obtain legal recognition of the property status. Abstrak: Peraturan tentang barang temuan masih sangat kabur dalam undang-undang Indonesia sebagai payung hukum di Negara Republik ini, sampai saat ini belum memberi konstribusi dalam penetapan perundang-undangan di Indonesia. Penelitian pemeliharaan barang temuan ini bertujuan mencari jawaban dari permasalahan dasar, dan output dari teori barang temuan, serta dimana letak dasar penting adanya aturan yang baku terhadap barang temuan, khususnya dalam perundang-undangan di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, KUH Perdata menilai hak dan kewajiban menyangkut barang temuan diperoleh dengan cara menguasai tingkat status benda. Sementara dalam hukum Islam, tujuan utama yang diperhatikan mengenai hak menguasai dan hak memiliki atas barang temuan, pada dasarnya adalah untuk melindungi hak seseorang. Indikasi ini terlihat bahwa Islam tidak membedakan identitas harta (manfaat atau tidak, besar atau kecil, bernilai atau tidak), juga memperhatikan status orang yang menemukan dan yang memiliki; sekaligus hak menguasai atau mendapat pengakuan secara sah atas status barang yang dimaksud. KATA KUNCI: Sistem, Barang Temuan
TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG KEKERASAN NON FISIK TERHADAP ANAK DALAM KELUARGA Novi Endira
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2429.488 KB) | DOI: 10.22373/petita.v1i2.90

Abstract

This study aimed to examine the non-physical violence to children in Gampong Pisang, Labuhan Haji, Aceh Selatan, and to investigate the Islamic law view concerning non-physical abuse to children in a family. The research findings indicated that the violence occurred in Gampong Pisang because of the lack of parents’ knowledge. The lack of knowledge led them to commit violence. The type of violence committed in Gampong Pisang was mostly the non-physical violence, such as parents scolded and abused their children; speak the rude words and rough language that should not be used to the children. The problem caused the non-physical abuse was the children’s ignorance of their parents’ instructions. Briefly, the abuse in Gampong Pisang was created by children’s simple problems. Abstrak: Penulisan ini utuk mengetahui bagaimana bentuk kekerasan non fisik terhadap anak yang terjadi di Gampong Pisang Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan? Dan bagaimana pandangan hukum Islam tentang kekerasan non fisik terhadap anak dalam keluarga?. Berdasarkan telaah lebih lanjut bahwa Kekerasan terhadap anak yang terjadi di Gampong Pisang Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh setiap orang tua sehingga para orang tua dengan mudah melakukan kekerasan tersebut. Bentuk kekerasan yang terjadi di Gampong Pisang, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan mayoritasnya adalah kekerasan non fisik yaitu orang tua memarahi anak, memaki anak dan berbicara dengan bahasa kasar dan bahasa kotor yang tak sepantasnya diterima oleh sang anak. Permasalahan yang membuat orang tua melakukan kekerasan non fisik karena sang anak tidak mau mengerjakan apa yang disuruh oleh orang tuanya. Dapat disimpulkan bahwa terjadinya kekerasan fisik di Gampong Pisang karena persoalan-persoalan sederhana yang dilakukan oleh anak. Kata Kunci: Hukum Islam, Kekerasan Non Fisik, Perlindungan Anak
ZAKAT BATU AKIK HASIL TAMBANG MENURUT PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Rizkiyallah
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2460.253 KB) | DOI: 10.22373/petita.v1i2.91

Abstract

Fiqh (Islamic jurisprudence) sets certain wealth that is charitable, such as agricultural products, mining, and cattle. However, people in the community pay zakat (compulsory charity or religious tax) on the mining product (Batu Akik, agate) as found in the community in Beutong, Nagan Raya. This research aimed to investigate the zakat of batu akik from the Islamic law perspective. The research problem was whether the mining product (batu akik) is eligible to pay zakat or not. Besides, it also investigated the society perspective on zakat, the payment system, and the calculation. The research findings indicated that batu akik was the primary source of income; therefore the society perception mentioned that they had to pay zakat on it when reached the nisab (minimum amount of wealth eligible to pay zakat). The payment system of zakat of in Beutong, Nagan Raya reached the nisab after the batu akik is sold. It is eligible to pay 2,5% zakat if the sale reached the nisab and the haul. Abstrak: Dalam fikih ditetapkan beberapa harta yang dapat dizakatkan, misalnya hasil pertanian, pertambangan, dan binatang ternak. Namun dalam konteks masyarakat telah dipraktekkan mengenai zakat Batu Akik hasil pertambangan, sebagaimana terjadi pada masyarakat di Kecamatan Beutong Kabupaten Nagan Raya. Menarik kiranya mengkaji lebih lanjut tentang zakat Batu Akik ditinjau menurut hukum Islam. Pertanyaannya adalah apakah batu akik hasil tambang wajib dikeluarkan zakat menurut Hukum Islam, bagaimana persepsi masyarakat terhadap zakat tersebut, serta bagaimana sistem pembayaran zakat batu akik dan kadar nisabnya sebagaimana yang terjadi pada masyarakat di Kecamatan Beutong Kabupaten Nagan Raya. Persepsi masyarakat batu akik dapat menjadi sumber ekonomi yang bermanfaat, diwajibkan mengeluarkan zakat dari penghasilan batu akik ketika telah sampai nisab. Sistem pembayaran zakat batu akik pada masyarakat Kecamatan Beutong Kabupaten Nagan Raya berikut dengan batasan nisabnya adalah dengan mengeluarkan zakat hasil penjualan batu akik. Hasil penjualan batu akik dizakatkan ketika sudah mencapai nisab, yaitu 2,5% dan telah sampai haul. Kata Kunci: Zakat, Batu Akik, Tambang, Hukum Islam
THE AUTHORITIES OF REGIONAL REPRESENTATIVE COUNCIL AFTER CONSTITUTIONAL COURT DECISION: IS IT STRONG ENOUGH? Fahrul Reza
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 5 No 1 (2020)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2249.773 KB) | DOI: 10.22373/petita.v5i1.92

Abstract

The mandate for law-making in Indonesia before the amendment was highly dominated by the President as if the function of the house of representative of the Republic of Indonesia (hereinafter DPR) was limited to assisting the President in the process of establishing laws. After the amendment, the authority of the legislators changed from the previous format. The President and DPR have the same authority in terms of the law-making, and even the function of the law-making is also given to the Regional Representative Council (hereinafter DPD) as a regional representative in Indonesia. The problem is that in several law-making processes, often the President and the DPR do not include those mandated by the constitution. This article will discuss the following two issues. First, who is the legislator in Indonesia according to the 1945 Constitution after the decision of the Constitutional Court? Second, how is the position of the DPD in the implementation of the legislative function after the Constitutional Court's decision? The results of this study explained that the legislator in Indonesia based on the 1945 Constitution, after the decision of the Constitutional Court, has been answered by the amendment of 1945 Constitution. The presence of the DPD must be equal to the DPR in terms of the legislative program in Indonesia. Furthermore, the position of the DPD in the implementation of the legislation function after the Constitutional Court's ruling has also been addressed by the Constitutional Court's ruling that the presence of the DPD is a balancer of legislation in Indonesia. The President and the DPR should not be the pendulum of legislative formations, but the DPD must get the attention, and the Ministry must equalize the position of DPD and the DPR in work partner meetings. Abstraks: Amanah pembentukan undang-undang di Indonesia sebelum amandemen sangat didominasi oleh Presiden, seakan-akan fungsi DPR hanya sebatas pendampingan Presiden dalam proses pembentukan undnag-undang. Pasca amandemen, kewenangan pembentuk undang-undang berubah dari format sebelumnya. Presiden dan DPR mempunyai kewenangan yang sama dalam hal pembentukan undang-undang bahkan fungsi pembentukan undang-undang juga diberikan kepada DPD selaku keterwakilan daerah yang ada di Indonesia. Persoalnya ialah, beberapa poses pembentukan undang-undang kerapkali Presiden dan DPR tidak mengikutsertakan yang diamanahkan oleh konstitusi. Artikel ini akan membahas tentang dua permasalahan yang akan kaji sebagai berikut berikut: Pertama, siapa pembentuk undang-undang di Indonesisa menurut UUD 1945 pasca putusan Mahkamah Konstitusi? Kedua, bagaimanakah kedudukan DPD dalam pelaksanaan fungsi legislasi pasca putusan Mahkamah Konstitusi? Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa siapa pembentuk undang-undang di Indonesia menurut UUD 1945 pasca putusan Mahkamah Konstitusi jelas sudah terjawab oleh UUD Tahun 1945 pasca amandemen. Artinya keberadaan DPD harus equal dengan DPR dalam hal program legislasi di Indonesia. Selanjutnya kedudukan DPD dalam pelaksanaan fungsi legislasi pasca putusan Mahkamah Konstitusi juga sudah terjawab oleh putusan Mahkamah Konstitusi bahwa kehadiran DPD menjadi pengimbang legislasi di Indonesia bahkan jangan lagi Presiden dan DPR sebagai pendulum pembentuk undang-undang namun institusi DPD harus mendapatkan perhatian bahkan Kementerian juga harus menstarakan kedudukan DPD dengan DPR dalam rapat-rapat mitra kerja. Kata Kunci: Pembentuk Undang-Undang, Dewan Perwakilan Daerah, dan Mahkamah Konstitusi
TAKING POLICY SERIOUSLY: WHAT SHOULD INDONESIAN GOVERNMENT DO TO STRENGTHEN ACEH TRUTH AND RECONCILIATION COMMISSION? Herlambang P Wiratraman; Sri Lestari Wahyuningroem; Manunggal K. Wardaya; Dian P. Simatupang
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 5 No 1 (2020)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2435.966 KB) | DOI: 10.22373/petita.v5i1.93

Abstract

This article discusses three key questions. First, what and how is the development of policies and legal protection that can be the support for the central government in implementing the Aceh Truth and Reconciliation Law? Second, how is the Aceh TRC and Human Rights Court as a mechanism of justice can mutually strengthen the protection of human rights for victims and their families? Third, how is to build solid legal relationships among state institutions to fortify the TRC’s recommendation regarding reparation? This article is written based on research and focus group discussion and is aimed to encourage several legal policy developments oriented as solutions to the limited efforts to protect and fulfill victims, particularly related to reparation and restoration of their rights. It also emphasizes the legal position of the basic national political and legal context, associated as a reminder to the dignity of the Memorandum of Understanding of Helsinki for the future of Aceh. Abstrak: Artikel ini mendiskusikan tiga pertanyaan kunci, yakni pertama, apa dan bagaimana pengembangan kebijakan dan payung hukum yang dapat menjadi dukungan Pemerintah Pusat terhadap pemberlakuan KKR Aceh? Kedua, bagaimana secara institusional kelembagaan KKR Aceh dan Pengadilan HAM sebagai mekanisme keadilan dapat saling memperkuat perlindungan HAM bagi korban dan keluarganya? Ketiga, bagaimana membangun relasi hukum yang kuat antar Lembaga negara untuk memperkuat rekomendasi KKR terkait reparasi? Dihasilkan dari proses riset dan diskusi grup terarah, artikel ini mendorong sejumlah pengembangan kebijakan hukum yang diorientasikan sebagai jalan keluar atas terbatasnya upaya perlindungan dan pemenuhan bagi korban, terutama terkait reparasi dan pemulihan hak-haknya. Serta, menegaskan posisi hukum atas konteks politik hukum nasional yang mendasar dikaitkan kembali sebagai pengingat marwah MOU Helsinki bagi masa depan Aceh. Kata Kunci: Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, Hukum Hak Asasi Manusia, Kebijakan Pemerintah Indonesia, Pemerintah Aceh
INSTITUTIONAL DISPUTES SETTLEMENT MECHANISM OF SUCCESSION IN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT SULTANATE Iwan Satriawan; Faishal Aji Prakosa
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 5 No 1 (2020)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2493.886 KB) | DOI: 10.22373/petita.v5i1.94

Abstract

The Constitutional Court Decision No. 88/PUU-XIV/2016 grants a possibility for a woman to be a candidate for Governor and Vice-Governor in the Special Region of Yogyakarta. As the only province in Indonesia where the executive leaders are only able from the royal family of the Ngayogyakarta Hadiningrat, the decision then triggers a polemic among people in the region. This is due to the current governor, Sri Sultan Hamengku Buwono X, does not have a son as his successor to the throne. Thus, this paper reveals institutional disputes’ settlement mechanism in the Ngayogyakarta Hadiningrat Sultanate if any disputes ever appear. The outcome finds that the Sultanate has yet clear mechanism of dispute settlement among the royal family and no official institution which possesses authority to settle royal disputes. Insofar, the Sultanate has had a customary law or paugeran adat in which a female figure might taking the throne to be the Sultanah and the governor of the province. Nevertheless, the authors recommend to establish an institution to settle royal disputes for the continuation of the Ngayogyakarta Hadiningrat Sultanate. Abstrak: Putusan Mahkamah Konstitusi No. 88/PUU-XIV/2016 meniscayakan adanya kemungkinan untuk seorang perempuan menjadi kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai satu-satunya pronvisi di Indonesia dimana pemegang kekuasaan eksekutif daerah hanya boleh berasal dari keturunan kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, keputusan tersebut nyatanya memicu polemic diantara masyarakat di daerah. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya keturunan laki-laki dari gubernur atau sultan yang sedang menjabat saat ini, yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X, untuk melanjutkan tahta kepemimpinan. Oleh sebab itu, artikel ini bertujuan untuk melihat mekanisme penyelesaian sengketa institusi di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat jika terjadi sengketa. Hasil yang ditemukan adalah tidak adanya mekanisme penyelesaian sengketa di dalam Keraton serta tidak adanya institusi resmi yang dapat memutus dan menyelesaikan sengketa tersebut. Hingga saat ini, Keraton hanya menerapkan hukum adat atau paugeran adat dimana mengizinkan untuk seorang perempuan mengambil alih tahta dan menjadi seorang Sultanah sekaligus gubernur. Namun demikian, penulis menyarankan untuk tetap dibentuknya sebuah lembaga yang memiliki otoritas untuk menyelesaikan sengketa antar anggota Keraton guna keberlanjutan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kedepannya. Kata Kunci: Sengketa Institusi, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sultanah
ROLE OF THE UNHCR IN REPATRIATION OF AFGHAN REFUGEES FROM PAKISTAN: POST 9/11 ERA Faiz Bakhsh; Muhammad Asif Safdar
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 5 No 1 (2020)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2493.593 KB) | DOI: 10.22373/petita.v5i1.95

Abstract

The post 9/11-armed conflict in Afghanistan resulted in the displacement of millions of Afghans and many of these displaced persons entered Pakistan as refugees. Repatriation is considered as a durable solution of the refugee problem. It is the responsibility of the host state to plan for safe and voluntary return of refugees and the UNHCR plays a supportive role in complying with this responsibility. Despite, efforts of the Government of Pakistan in collaboration with the UNHCR, Afghan Refugees keep struggling in getting repatriated. UNHCR has been helping and assisting the government of Pakistan in planning and executing the safe and voluntary Afghan refugees under international legal framework. Although, this cooperation between the UNHCR and Pakistan has remained effective in achieving the goal of repatriation of Afghan Refugees in the context of ongoing conflicts in both Afghanistan and Pakistan in the context of difficult circumstances, however, the achievement of a safe and voluntary return of Afghan Refugees remains a big issue in this process. To comply with the legal framework for refugees regarding repatriation, Pakistan had been struggling a lot in the context of the ongoing armed conflict in both Afghanistan and Pakistan. This paper discusses the repatriation of the Afghan refugees from Pakistan, engineered by the UNHCR and Pakistan, under the legal framework applicable for safe and voluntary return of refugees, amid waves of repeated displacements due to the ongoing conflicts in Afghanistan and Pakistan. Abstrak: Konflik bersenjata pasca 9/11 di Afghanistan mengakibatkan perpindahan jutaan orang Afghanistan dan banyak dari orang-orang terlantar ini memasuki Pakistan sebagai pengungsi. Repatriasi dianggap sebagai solusi jangka panjang dari masalah pengungsi. Hal ini merupakan tanggung jawab negara tuan rumah untuk merencanakan pemulangan pengungsi yang aman dan sukarela. Disini UNHCR memainkan peran pendukung dalam memenuhi tanggung jawab ini. Meski demikian, upaya pemerintah Pakistan bekerja sama dengan UNHCR, Pengungsi Afghanistan terus berjuang untuk dipulangkan. UNHCR telah membantu pemerintah Pakistan dalam merencanakan dan melaksanakan pemulangan pengungsi Afghanistan dengan aman dan sukarela di bawah kerangka hukum internasional. Meskipun kerjasama antara UNHCR dan Pakistan ini tetap efektif dalam mencapai tujuan pemulangan pengungsi Afghanistan, namun dengan konflik yang sedang berlangsung di Afghanistan dan Pakistan membuat hal ini sangat sulit. Oleh karena itu, pemulangan yang aman dan sukarela dari Pengungsi Afghanistan tetap menjadi masalah besar dalam proses ini. Untuk mematuhi kerangka hukum bagi pengungsi mengenai repatriasi, Pakistan telah banyak berjuang dalam menghentikan konflik bersenjata yang sedang berlangsung baik di Afghanistan dan Pakistan. Artikel ini membahas repatriasi pengungsi Afghanistan dari Pakistan, yang direkayasa oleh UNHCR dan Pakistan, di bawah kerangka hukum yang berlaku untuk pemulangan pengungsi konflik dengan aman dan sukarela. Hal ini terasa sulit di tengah gelombang perpindahan berulang karena konflik bersenjata berlangsung di Afghanistan dan Pakistan. Kata Kunci: Pengungsi Afghanistan, UNHCR, Pengungsi Pakistan, Pemulangan