cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur?an & Keislaman
ISSN : 23380349     EISSN : 23380349     DOI : -
Jurnal Syahadah merupakan jurnal Ilmu al-Qur’an dan keislaman dengan kajian multidisipliner, terbit dua kali dalam satu tahun (April dan Oktober), dikelola oleh Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri Tembilahan. Redaksi menerima tulisan yang relevan selama mengikuti petunjuk penulisan yang ditetapkan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 2 (2013)" : 5 Documents clear
METODE KESHAHIHAN HADIS AL-HAKIM (Telaah Atas Kitab Al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihain( Amaruddin syafril
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.919 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v1i2.66

Abstract

Al-Mustadrak „ala al-Shahihain adalah kontribusi besar dari  Imam  alHakim dalam kajian  hadis.  Kehadiran  al-Hakim dalam sejarah pemikiran  hadis tidak  bisa  dipandang  sebelah  mata,  meskipun  popularitasnya  dibawah  penulis Kutub al-Sittah.  Pemikiran  di dalam  karyanya  tidak bisa dilepaskan begitu saja dari  konteks  sosial-kultural  dan  politik  yang  melingkupinya,  sehingga menimbulkan  nuansa  yang  berbeda  secara  metodologis  dari  kitab-kitab  hadis sebelumnya.  Ulama  hadis  memberikan  penilaian  tasahul  kepada  al-Hakim, namun  mereka  berbeda  tentang  penyebab  ke-tasahul-annya.  Memiliki  kriteria ijtihad  dalam  menilai  status  sebuah  hadis.  Al-Hakim  juga  menerapkan  prinsip status sanad, prinsip status matan, dan kriteria kritik sanad dalam menilai sebuah hadis, ini yang melahirkan standar ganda dalam menilai status hadis.
PLURALISME DALAM PERSPEKTIF ISLAM Najamuddin Mardianah
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.396 KB) | DOI: 10.32495/.v1i2.62

Abstract

Pluralisme dalam Perspektik Islam dapat diartikan sebagai paham yang mentoleransi  adanya  keragaman  pemikiran,  peradaban,  agama,  dan  budaya, Maknanya  Islam  hanya  mengakui  adanya  agama  dan  keyakinan  di  luar  agama Islam,  dan secara tegas pluralisme  merupakan paham  yang bertentengan dengan syariat  Islam.  Kendati  demikian,  ummat  Islam  tetap  mengakui  adanya  paham Pluralitas  (keberagaman  agama)  dalam  suatu  kelompok  masyarakat  dan dianjurkan tetap melakukan pergaulan sosial dengan agama lain sepanjang tidak bertentangan dengan Syariat Islam
URGENSI SINERGITAS METODE DAN PENDEKATAN TAFSIR KITAB SUCI Nasrullah Nasrullah
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.39 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v1i2.63

Abstract

Usaha  penafsiran    kitab  suci  Al-Qur’an  sejak  era  klasik  sampai  era sekarang  terus  dilakukan.  Penafsiran  Al-Qur’an  dilakukan  dalam  konteks urgensitas dalam kehidupan manusia untuk menemukan makna-makna  (meaning) berdasarkan  koridor  petunjuk  (hudan)  kitab  suci  tersebut.  Penafsiran  terhadap kitab  suci  pada  tataran  prosesnya  menuntut  adanya  seperangkat  metode  dan pendekatan.  Kebutuhan  akan  metode  dan  pendekatan  merupakan  suatu  yang niscaya bagi diri seorang mufassir. Dengan metode dan pendekatan tafsir yang relevan  sang  mufassir  baru  bisa  bekerja  dalam  praksis  penafsiran.  Salah  satu metode  tafsir  yang  praktis  dan  fokus  dalam  menguraikan  tema-tema  dalam  AlQur’an  adalah  metode  tafsir  maudhu’i.  Sedangkan  pendekatan  kontemporer dalam  memahami  dan  menafsirkan  kitab  suci  adalah  hermeneutika,  yang merupakan  suatu  aturan,  sistem,  sekaligus  pembimbing  bagi  mufassir  dalam kegiatan  penafsiran.  Pendekatan  hermeneutika  memberikan  suatu  wahanakegiatan pembacaan  dan dialog  secara triadik bagi komponen; pembuat/penulis (author),  pembaca  (reader),  dan   teks  (text)  itu  sendiri  dalam  rangka  upaya penggalian  makna  terdalam  pada  proses  pemahaman  yang  kemudian menghasilkan kontekstualisasi makna penafsiran.
MUHAMMAD AL-GHAZALI DAN TAFSIR MAUDHU’I Fiddian khairudin
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.6 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v1i2.64

Abstract

Telah  lahir  berbagai  metode  tafsir  yang  pada  hakekatnya,  merupakan upaya mengungkap maksud-maksud al-Qur‟an. Metode tafsir maudhu‟i (tematik) yang paling populer untuk urusan ini. Mayoritas ulama berpendapat bahwa tafsir maudhu‟i  adalah  menyingkap  makna-makna  al-Qur‟an  serta  menjelaskan maksud-maksudnya yang lebih umum, dan menjelaskan lafaz yang sulit dipahami.Prosedur kerjanya mengambil berbagai ayat-ayat yang representatif dari seluruh kandungan  al-Qur‟an,  yang  berhubungan  dengan  masalah  yang  dibahas, melengkapinya  dengan  berbagai  macam  keilmuan  tafsir,  menghubungkan masalah  dengan  interdisipliner  atau  multidisipliner,  hingga  penarikan  kembali kepada  alQur‟an,  dan  pada  akhimya  menemukan  sebuah  jawaban  terhadap masalah yang sedang dihadapi. Namun konsep lain ditawarkan oleh Muhammad al-Ghazali  yang  mencoba  mendapatkan  suatu  tema  sentral  yang  dibahas  oleh ayat-ayat dalam satu surat, dengan cakupan  seluruh surat dan memfokuskan diri pada surat tersebut, dalam artian menafsirkan mulai dari awal surat hingga akhir surat,  kemudian  antara  ayat  yang  satu  dengan  yang  lain  hungga  didapatkan perpaduannya.
ISTERI BERPUASA PERLU IZIN SUAMI Ridhoul Wahidi
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.753 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v1i2.65

Abstract

Islam  adalah  agama  rahmatan  li  al-alamin.  Oleh  karenanya,  secara ideal,  Islam  membuka  kesempatan  dan  peran  yang  sama  bagi  laki-laki  maupun perempuan  untuk  berprestasi  dalam  berbagai  bidang  lapangan  kehidupan.Banyak ayat al-Qur’an yang menyebutkan masalah ini, di  antaranya adalah QS. ali Imran: 195, al-Nisa: 124. Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia ideal adalah individu  yang  bertakwa  dan  hal  ini  berlaku  bagi  laki-laki  maupun  perempuan. Ketika  kita  mendapatkan  sebuah  hadis  yang  menjelaskan  bahwa  seorang  isteri ingin  melaksanakan ibadah puasa harus izin kepada suami terlebih dahulu, hal ini  seakan-akan  bertentangan  dengan  ayat  al-Qur’an  yang  mana  laki-laki maupun perempuan yang berbuat baik, maka ia sama halnya di hadapan Allah. Juga  hadis  ini  seakan-akan  mendeskreditkan  perempuan,  yang  mana  otoritas tertinggi ada pada suami. Apakah suami juga harus berlaku demikian yakni minta izin terlebih dahulu kepada isteri jika ia mau berpuasa?

Page 1 of 1 | Total Record : 5