cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Chimica et Natura Acta
ISSN : 23550864     EISSN : 25412574     DOI : -
Chimica et Natura Acta diterbitkan oleh Departemen Kimia, FMIPA, Universitas Padjadjaran tiga kali setiap tahun pada bulan April, Agustus dan Desember. Artikel yang dimuat mencakup Kimia Analisis dan Pemisahan, Kimia Material, Kimia Energi dan Lingkungan, Kimia Organik Bahan Alam dan Sintesis, Biomolekular Pangan dan Kesehatan serta topik-topik lain yang berhubungan dengan ilmu Kimia.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2019)" : 7 Documents clear
Sintesis Tetrapeptida PSSY dengan Metode Fasa Padat Rani Maharani; Siska Mulya Octavia; Achmad Zainuddin; Ace Tatang Hidayat; Dadan Sumiarsa; Desi Harneti; Nurlelasari Nurlelasari; Unang Supratman
Chimica et Natura Acta Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.512 KB) | DOI: 10.24198/cna.v7.n2.26156

Abstract

Senyawa tetrapeptida antioksidan PAGY telah berhasil diisolasi dari kulit ikan amur sturgeon dan telah berhasil disintesis berserta analog PSGY, PFFY, PAFY dan PAIY menggunakan metode SPPS. Uji antioksidan menunjukkan senyawa PSGY lebih aktif dari senyawa PAGY dan senyawa analog lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis senyawa tetrapeptida PSSY dengan metode SPPS, dan mengetahui aktivitas antioksidan senyawa tetrapeptida hasil sintesis dengan uji DPPH. ibuat dalam dua versi; bahasa Indonesia dan Inggris. Tetrapeptida PSSY telah berhasil disintesis menggunakan strategi SPPS dengan resin 2-klorotritilklorida sebagai padatan penyangga, gugus pelindung Fmoc, dan reagen kopling HATU/HOAt. Padatan PSSY berhasil dimurnikan menghasilkan PSSY 17 mg (13,88%). Setelah dimurnikan, PSSY dikarakterisasi dengan HR-TOF-MS yang memberikan nilai m/z [M+H] 453,2711 yang sesuai untuk PSSY. Uji aktivitas antioksidan dilakukan pada PSSY dengan nilai IC50 sebesar 7,513 mg/mL.
Produksi dan Pemurnian Human Epidermal Growth Factor (hEGF) Rekombinan Menggunakan Metode Heat Treatment, fraksionasi amonium sulfat dan kromatografi filtrasi gel Iman Permana Maksum; Alifa I. Nabila; Sunan M. Alpiansyah; Sriwidodo Sriwidodo; Toto Subroto
Chimica et Natura Acta Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.777 KB) | DOI: 10.24198/cna.v7.n2.22128

Abstract

Human Epidermal Growth Factor (hEGF) adalah suatu protein yang membantu dalam proses penyembuhan luka, dalam hal proses proliferasi, migrasi dan diferensiasi sel. Protein hEGF dengan tingkat kemurnian tinggi sangat diperlukan agar mencapai aktivitas yang maksimal untuk pengaplikasian sebagai protein terapeutik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik hEGF rekombinan setelah pemurnian menggunakan metode heat treatment, fraksionasi amonium sulfat dan kromatografi filtrasi gel, dan menentukan kadar protein hEGF setelah dimurnikan dengan metode ELISA dan Lowry. Metode pertama yang digunakan pada penelitian ini adalah produksi protein hEGF skala fermentor pada sel inang E. coli. Hasil produksi kemudian disentrifugasi. Supernatan hasil ekspresi selanjutnya dipanaskan pada suhu 80°C kemudian disentrifugasi kembali dan diambil supernatannya. Supernatan lalu difraksionasi dengan garam amonium sulfat dan hasilnya disentrifugasi kembali lalu diambil endapannya. Endapan disuspensikan dalam larutan amonium bikarbonat yang selanjutnya dimasukkan ke dalam kolom filtrasi gel Sephadex G-25. Serapan dan konduktivitas dari tiap fraksi diukur. Hasil pemurnian dikarakterisasi dengan SDS-PAGE dan diukur kadar protein dengan ELISA dan Lowry. Hasil penelitian menunjukkan hEGF rekombinan dapat diproduksi pada skala fermentor menggunakan inang E. coli  BL21 (DE3) [pD881-PelB-hEGF] dengan perolehan sebesar 121,76 µg/mL dan dapat dimurnikan dengan menggunakan metode heat treatment, fraksionasi amonium sulfat, dan kromatografi filtrasi gel dengan tingkat kemurnian sebesar 66,11%.
Teori Fungsional Kerapatan Struktur Membran Nata De Coco Tersulfonasi Sitti Rahmawati; Cynthia L. Radiman; Muhamad A. Martoprawiro; Siti Nuryanti; A. Ma’ruf
Chimica et Natura Acta Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.271 KB) | DOI: 10.24198/cna.v7.n2.23823

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan struktur paling stabil dari berbagai struktur membran polimer nata de coco tersulfonasi.  Struktur energi minimum untuk dimer, trimer, tetramer dan pentamer nata de coco tersulfonasi ditentukan dengan metode DFT (teori fungsional kerapatan) dengan fungsional B3LYP dan basis set 6-311G(d). Nata de coco tersulfonasi merupakan polimer dengan satuan unit ulang (monomer) D-glukosa sulfonat dengan ikatan β-1,4.  Hasil perhitungan struktur dimer, trimer, tetramer dan pentamernya menunjukkan tidak ada perubahan energi secara signifikan pada interaksinya dengan satu molekul air, yaitu sekitar -20.14 kkal/mol. Perhitungan energi tersebut memberikan dasar bahwa untuk perhitungan dan penelitian lebih lanjut tentang membran polimer nata de coco tersulfonasi bisa menggunakan bentuk dimernya.
Development of Predictive Model for Helper T Lymphocyte Epitope Binding to HLADRB1* 01:01 Ari Hardianto; Muhammad Yusuf
Chimica et Natura Acta Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.831 KB) | DOI: 10.24198/cna.v7.n2.23713

Abstract

Epitopes are essential peptides for immune system stimulation, such as governing helper T lymphocyte (HTL) activation via antigen presentation and recognition. Current predictive models for epitope selection mainly rely on the antigen presentation, although HTLs only recognize 50% of the presented peptides. Thus, we developed a HTL epitope predictor which involves the antigen recognition step. The predictor is specific for epitopes presented by Human Leukocyte Allele (HLA)-DRB1*01:01, which is protective against developing multiple sclerosis and association with autoimmune diseases. As the data set, we used binding register of immunogenic and non-immunogenic HTL peptides related to HLA-DRB1*01:01. The binding registers were obtained from consensus results of two current HLA-binder predictors. Amino acid descriptors were extracted from the binding registers and subjected to random forest algorithm. A threshold optimization were applied to overcome data set imbalance class. In addition, descriptors were screened by using a recursive feature elimination to enhance the model performance. The obtained model shows that the hydrophobicity, steric, and electrostatic properties of epitopes, mainly at center of binding registers, are important for the TCR recognition as well as the HTL epitopes predictive model. The model complements current HLA-DRB1*01:01-binder prediction methods to screen immunogenic HTL epitopes.
Optimasi Ekspresi Human Epidermal Growth Factor (h-EGF) Rekombinan dalam Escherichia coli BL21(DE3) dengan Variasi Media dan Konsentrasi Penginduksi Riyona Desvy Pratiwi
Chimica et Natura Acta Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.74 KB) | DOI: 10.24198/cna.v7.n2.23824

Abstract

Epidermal growth factor (EGF) merupakan protein yang sangat penting dalam proliferasi, diferensiasi, dan pematangan sel. EGF sintetik atau recombinant human EGF (rh-EGF) telah digunakan secara klinis untuk mengatasi kondisi kekurangan EGF alami seperti mempercepat pemulihan luka pada penderita diabetes dan teravaksin untuk pengobatan kanker paru. Ekspresi rh-EGF dilaporkan tidak mudah karena protein ini sensitif terhadap proteolisis intraselular. Kondisi yang optimal sangat diperlukan untukekpsresi rh-EGF agar diperoleh protein dalam jumlah yang tinggi. Hingga saat ini, sejumlah studi ekspresi rh-EGF telah dilaporkan, namun harus difusi dengan protein peningkat solubilitas. Pada penelitian ini, rh-EGF berhasil diekspresikan, meskipun tanpa protein peningkat solubilitas. Ekspresi rh-EGF dikontrol oleh promotor T7 yang tergantung pada isopropil β-D-1-tiogalaktopiranosid (IPTG). Konsentrasi IPTG yang optimal menentukan keberhasilkan ekspresi protein yang diinduksinya. Ekspresi rh-EGF dilakukan dalam dua media, yaitu Luria Bertani (LB) dan Terrific Broth (TB) dengan kondisi non induksi dan induksi IPTG konsentrasi 0,1 mM; 0,5 mM; dan 1 mM. Lama induksi juga divariasikan, yakni 3 dan 6 jam. Konsentrasi rh-EGF tertinggi (0,21 mg/ml) diperoleh dengan ekspresi menggunakan TB yang induksi IPTG 0,5 mM selama 6 jam.
Pengaruh Persentase PVA-Alginat Beads Terhadap Tingkat Dekolorisasi Pewarna Sintetis Azo Menggunakan Konsorsium Bakteri Amobil Christina Ekawati Halim; Kezia Abib Yerah Tjandra; Venisa Yosephi; Agustin Krisna Wardani
Chimica et Natura Acta Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.535 KB) | DOI: 10.24198/cna.v7.n2.23092

Abstract

Pewarna merupakan salah satu komponen dalam industri tekstil yang sangat penting. Salah satu senyawa pewarna seperti pewarna Azo pada limbah cair tekstil memiliki bahan pencemar yang berbahaya bagi lingkungan. Dekolorisasi pewarna menggunakan metode fisik dan kimia membutuhkan biaya yang tinggi dan masih menghasilkan hasil samping yang beracun, sehingga diperlukan pendekatan dekolorisasi menggunakan metode biologis yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan konsorsium bakteri seperti Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, Escherichia coli dan Bacillus subtilis. Konsorsium bakteri diimobilisasi menggunakan beads dengan variasi perbandingan PVA-alginat 8:1, 10:1, dan 12:1. Pengujian menunjukkan bahwa komposisi PVA dan alginat mempengaruhi kemampuan dekolorisasi pewarna sintetis azo. Parameter yang diuji antara lain kebocoran beads menggunakan spektrometri, tingkat swelling dengan mengukur diameter beads, serta tingkat dekolorisasi menggunakan spektormetri Perbandingan PVA-alginat 8:1 memiliki nilai persentase dekolorisasi paling besar (47,71%), tingkat kebocoran sel yang paling besar (O.D. 0,849), serta ukuran pori sebesar 6,306 μm. Perbandingan PVA-alginat 12:1 memiliki nilai persentase dekolorisasi yang paling kecil (36,99%), tingkat kebocoran sel sebesar (O.D) 0,733, dan ukuran pori sebesar 2,557 μm. Perbandingan PVA-alginat 10:1 menunjukkan tingkat dekolorisasi sebesar 42,71% dengan nilai swelling yang paling rendah (0,5 mm), ukuran pori sebesar 5,089 μm serta bentuk dan tingkat aglomerasi yang paling baik.  Perbandingan PVA-alginat 10:1 merupakan perbandingan terbaik yang dapat digunakan dalam mendekolorisasi pewarna sintetis azo.
Seskuiterpenoid Prostanterol dari Kulit Batang Dysoxylum excelsum Tri Mayanti; Achmad Zainuddin; Sylvia Rachmawati Meilanie; Euis Julaeha; Jamaluddin Al Anshori
Chimica et Natura Acta Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.012 KB) | DOI: 10.24198/cna.v7.n2.26157

Abstract

Dysoxylummerupakan genus besar dari Famili Meliaceae yang terdistribusi di Indonesia. Beberapa spesies Dysoxylum telah dilaporkan mengandung senyawa seskuiterpenoid. Pada penelitian ini, satu senyawa seskuiterpenoid trisiklik, prostanterol (1) telah diisolasi kulit batang Dysoxylum excelsum. Senyawa 1 untuk pertama kali diisolasi dari tumbuhan tersebut. Struktur molekul senyawa 1 ditentukan melalui spektroskopi NMR 1D dan 2D yang dibandingkan terhadap data yang telah dilaporkan sebelumnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 7