cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Chimica et Natura Acta
ISSN : 23550864     EISSN : 25412574     DOI : -
Chimica et Natura Acta diterbitkan oleh Departemen Kimia, FMIPA, Universitas Padjadjaran tiga kali setiap tahun pada bulan April, Agustus dan Desember. Artikel yang dimuat mencakup Kimia Analisis dan Pemisahan, Kimia Material, Kimia Energi dan Lingkungan, Kimia Organik Bahan Alam dan Sintesis, Biomolekular Pangan dan Kesehatan serta topik-topik lain yang berhubungan dengan ilmu Kimia.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2021)" : 6 Documents clear
Penentuan Kadar Protein Albumin dalam Sampel Brownies yang Diberikan Kepada Penderita Tuberkulosis Elfira Maya Sari; Tri Marta Fadhilah
Chimica et Natura Acta Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v9.n2.34096

Abstract

Pembuatan makanan yang mengandung rasa manis sangat banyak diminati oleh beberapa orang mulai dari anak – anak, remaja, dewasa bahkan pun lansia. Salah satunya adalah brownies yang mengandung coklat dan beberapa tambahan bahan pangan lainnya dan sedikit gula sebagai penambah cita rasa. Brownies yang diolah pada penelitian ini adalah brownies yang ditambahkan bahan ikan gabus yang memiliki tinggi protein. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar protein albumin pada sampel brownies dengan alat spektrofotometer UV-VIS. Metode penelitian adalah metode bradford dimana ditambahkan reagen CBB agar terbentuk perubahan warna menjadi biru. Sampel yang diuji ada 6 sampel dimana 3 sampel ditambahkan daging ikan gabus mentah dan 3 sampel ditambahkan 3 sampel daging ikan gabus dikukus. Kode sampel diberikan mulai dari F1 – F6. Hasil menunjukkan bahwa sampel dengan kode F1 lebih tinggi kadar albuminnya dibandingkan F6 dikarenakan pada sampel tersebut ditambahkan ikan gabus mentah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kadar albumin terhadap sampel brownies yang dibuat melalui proses pengukusan ikan gabus dan pemanggangan pada sampel brownies diperoleh kadar tertingginya yaitu kode F1 (Brownies dengan ikan gabus) 459,29% dengan dan kadar terendah albumin yaitu kode F6 (brownies tanpa ikan gabus) 43,61%.Dengan kadar yang diperoleh, dapat menambah informasi peneliti untuk memberikan olahan makanan kepada penderita TBC.
Analisis Timbal Pada Pensil Alis dan Perona Mata Lokal Yang Beredar di Toko Online Menggunakan Metode Spektrofotometri Visible Sofia Fatmawati; Almawati Situmorang; Anisa Nur Pitria; Nurul Sabila Rosyidah
Chimica et Natura Acta Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v9.n2.34158

Abstract

Timbal merupakan logam berat yang bersifat beracun dan berbahaya jika masuk ke dalam tubuh manusia. Sifat timbal yang mudah larut dalam minyak dan lemak, bisa diserap melalui selaput atau lapisan kulit jika logam timbal tersebut berada di dalam produk kosmetik atau produk lain yang bersentuhan langsung dengan kulit. Oleh karena itu dilakukan analisis timbal pada kosmetik lokal yaitu pensil alis dan perona mata yang berada di toko online. Analisis timbal pada sampel dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri visible dengan penambahan reagen alizarin sulfonat pada sampel yang sebelumnya telah melalui proses destruksi. Verifikasi metode analisis timbal pada pensil alis dan perona mata dinyatakan memenuhi syarat, dari beberapa parameter diantaranya adalah uji linieritas dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,9990, uji akurasi dengan nilai %recovery rata-rata sebesar 96,24% untuk pensil alis dan 96,38% untuk perona mata serta uji presisi diperoleh nilai standar deviasi kurang dari 2% pada semua konsentrasi. Hasil analisis dari sampel pensil alis di toko online menunjukkan ada satu dari tiga sampel pensil alis yang memiliki kadar timbal melebihi persyaratan BPOM yaitu < 20 mg/kg. Tiga sampel perona mata yang diambil di toko online semuanya memenuhi syarat BPOM.
Studi In Silico Senyawa Aktif Daun Singawalang (Petiveria alliacea) Sebagai Penurun Kadar Glukosa Darah Untuk Pengobatan Penyakit Diabetes Melitus Tipe-2 Salsa Sagitasa; Karyn Elizabeth; Luthfi Ihsan Sulaeman; Annisa Rafashafly; Desra Widdy Syafra; Abednego Kristande; M. Muchtaridi
Chimica et Natura Acta Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v9.n2.34083

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah kondisi hiperglikemik kronis yang merupakan tanda adanya gangguan metabolik. Pengendalian homeostasis glukosa serta metabolisme zat makanan sangat penting pada penderita DM. Salah satu yang berperan dalam pengendalian tersebut adalah AMPK-α2, sehingga AMPK-α2 dapat dijadikan sasaran pengobatan DM tipe 2. Secara empiris, singawalang (Petiveria alliacea) dimanfaatkan untuk pengobatan diabetes. Tanaman yang banyak ditemukan di Indonesia tersebut, mengandung berbagai senyawa aktif, diantaranya benzaldehida, benzil 2-hidroksietil trisulfida, tanin, kumarin, dan isoarborinol. Pada penelitian ini, dilakukan analisis interaksi dan afinitas senyawa daun singawalang terhadap reseptor AMPK-α2 serta dilakukan prediksi terkait adsorpsi, distribusi, metabolisme, dan toksisitas (Pre-ADMET) sehingga memperoleh kandidat obat baru untuk pengobatan diabetes melitus tipe-2 dengan efek samping minimum dan profil farmakokinetik yang baik. Hasil simulasi penambatan molekuler senyawa aktif singawalang terhadap reseptor AMPK-α2 menunjukan 3 ligan uji terbaik dengan nilai energi bebas ikatan (∆G) dan nilai konstanta inhibisi (Ki) yang lebih rendah dibandingkan pembanding, Metformin, yang memiliki nilai energi bebas ikatan (ΔG) -5.16 kcal/mol. Ketiga senyawa tersebut adalah isoarborionl asetat dengan nilai energi ikatan -7,57 kkal, isoarborinol sebesar -7,45 kkal, dan benzyl 2-hydroxymethyl trisulphide sebesar -5,95 kkal. Sedangkan prediksi ADMET dengan operasi ADMET Predictor menunjukkan bahwa ligan uji benzyl 2-hydroxyethyl trisulphide memiliki potensi bersifat mutagenik tetapi tidak karsinogenik. Oleh karena itu, perlu modifikasi struktur untuk dapat memberikan efek toksisitas yang lebih rendah.  Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diketahui bahwa benzyl 2-hydroxyethyl trisulphide merupakan kandidat senyawa yang paling berpotensi dengan afinitas tertinggi dan resiko toksisitas yang rendah.
Optimasi Degradasi Rhodamin B dengan Proses Fenton-Like Heterogen Menggunakan Sinar UV Nurul Hayati; Tien Setyaningtyas; Kapti Riyani
Chimica et Natura Acta Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v9.n2.34412

Abstract

Fenton heterogen dapat mengatasi masalah pada Fenton klasik yang merupakan katalis homogen. Beberapa masalah pada Fenton klasik diantaranya produksi lumpur besi, hilangnya katalis, dan tidak bisa digunakan kembali. Studi ini berfokus pada aplikasi Fe-alginat gel beads dalam sistem foto-Fenton menggunakan sinar UV untuk mendegradasi zat warna rhodamin B. Setelah tahap sintesis Fe-alginat gel beads, dilakukan optimasi kondisi sistem foto-Fenton meliputi massa Fe-alginat gel beads, volume H2O2, serta waktu dan pH terhadap degradasi rhodamin B. Selain itu, dilakukan pengamatan uji kedapatan penggunaan kembali Fe-alginat gel beads. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum sistem foto-Fenton yaitu pada penggunaan 5 gram Fe-alginat gel beads, 0,6 mL H2O2 1%, serta pH optimum pada pH 3. Nilai degradasi rhodamin B mencapai 99,12% dalam 40 menit. Uji kedapatan penggunaan kembali pada Fe-alginat gel beads dilakukan sebanyak lima kali pengulangan, dan menunjukkan nilai degradasi lebih dari 90%. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penggunaan Fe-alginat gel beads sebagai Fenton heterogen memungkinkan diterapkan pada industri pengolahan limbah yang mengandung pewarna atau polutan organik karena biaya yang cukup ekonomis serta sistem foto-Fenton ini dapat diterapkan juga pada sinar tampak.
Potensi Ekstrak Daun Senduduk (Melastoma malabathricum Linn.) Sebagai Antibakteri terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus Delvia Safitri; Occa Roanisca; Robby Gus Mahardika
Chimica et Natura Acta Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v9.n2.34582

Abstract

Penelitian telah dilakukan untuk mendeteksi fitokimia dan menguji  aktivitas antibakteri pada ekstrak daun senduduk. Tahapan penelitian meliputi maserasi, skrining fitokimia, analisis FTIR, dan uji aktivitas antibakteri. Ekstraksi dilakukan secara maserasi menggunakan pelarut aseton selama tiga hari kemudian filtrat yang dihasilkan dievaporasi untuk menghasilkan ekstrak kental. Ekstrak kental yang dihasilkan sebesar 44,28 g (11,07%). Berdasarkan hasil skrining fitokimia yang dilakukan ekstak daun senduduk mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin, fenolik, dan steroid. Zona hambat hasil uji aktivitas antibakteri tehadap bakteri Pseudomonas aeruginosa sebesar 4,42; 4,525; dan 4,885 mm, sedangkan untuk bakteri Staphylococcus aureus sebesar 4,665; 5,120; dan 5,865 mm pada konsentrasi 10, 20, dan 30 mg.
Perbandingan Efektivitas Pektin Kulit Durian (Durio zibethinus L.) dan Pektin Kulit Pisang Kepok (Musa acuminata X balbisiana ABB Group) Sebagai Bioadsorben Logam Timbal Hesty Nuur Hanifah; Ginayanti Hadiesoebroto; Lingga Ardhana Reswari; Jenia A. V. do R. M. Neves
Chimica et Natura Acta Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v9.n2.35484

Abstract

Timbal merupakan salah satu logam berat yang banyak terdapat di dalam limbah cair yang berasal dari industri atau laboratorium. Logam Pb jika tidak diolah dengan baik akan menimbulkan pencemaran lingkungan serta meracuni makhluk hidup yang ada disekitarnya. Salah satu pengolahan limbah yang mengandung logam berat adalah penggunaan bahan-bahan biologis sebagai bioadsorben. Pektin merupakan salah satu senyawa yang  terdapat pada dinding sel tumbuhan dan mempunyai banyak gugus fungsi, sehingga cocok untuk dijadikan sebagai bioadsorben logam Pb. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas bioadsorben dari pektin kulit durian dan pektin kulit pisang melalui penentuan pH optimum, waktu kontak optimum, dan dosis optimum. Penelitian menggunakan alat spektrofotometri serapan atom dengan panjang gelombang pada 283,3    nm. Hasil penelitian yang didapatkan adalah kondisi optimum pektin kulit durian sebagai bioadsorben berada di pH 3, waktu kontak optimum adalah 15 menit, dan massa optimum adalah 125 mg dengan efektivitas adsorbsi 71,74%. Sedangkan untuk pektin kulit pisang mempunyai pH optimum 3, waktu kontak optimum adalah 30 menit, dan massa optimum adalah 125 mg dengan nilai efektivitas sebesar 83,48%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa efektivitas pektin kulit pisang sebagai bioadsorben logam Pb lebih besar dari pada pektin kulit durian.

Page 1 of 1 | Total Record : 6