cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal)
ISSN : 20865554     EISSN : 26140470     DOI : -
Core Subject : Social,
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) is published by the Faculty of Social and Political Science of the University of Pelita Harapan. The journal aims to facilitate the exchange and deployment of scientific ideas by academics and practitioners in the field of International Relations. The topics in Verity consist of International Political Economy, Security Studies, Poverty and Social Gap, International Development, Regional and International Cooperation, International Organized Crime, Human Rights, Nationalism and Conflict, Global Governance, Gender, Globalization, Diplomatic Relations, and Economic Development. Verity has been published since 2009 and it is a bi-annual publication with an issue in January-June and another in July–December.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 20 (2018): July - December" : 6 Documents clear
Digital Currency like Bitcoin within the International Monetary System Field Afrizal Fajri; Muhammad Yamin
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 10, No 20 (2018): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v10i20.1458

Abstract

Monetary transactions are no longer limited to traditional patterns as electronic systems using internet technology can facilitate whenever and wherever transactions without any face-to-face interaction.  In terms of payment methods, this technology is developing and known as digital currency. Bitcoin is the digital currency with the largest market value. It is an electronic payment system based on a mathematical systems. The idea is to produce an independent currency that is not tied to a particular central authority and has very low transaction costs. Digital currency uses the concept of cryptography to provide basic security functions, such as ensuring that Bitcoin can only be spent by those who have it and it cannot be duplicated. The emergence of this currency has caused controversy in many countries because of its unregulated nature. This study examines Bitcoin and whether it is categorized as money based on the concept of money and how the three main international monetary institutions (IMF, WTO, World Bank) respond to its presence with a basic analysis using the concept of cyberpolitics. This study concludes that Bitcoin has not fully met the criteria as a currency and there are no specific rules yet regarding the existence of digital currency. BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Berbicara Transaksi, saat ini tidak lagi hanya terbatas pada pola tradisional, melainkan sudah berkembang menjadi lebih jauh ketika Transaksi difasilitasi oleh system elektronik dengan menggunakan teknologi intrenet, sehingga kapanpun dan dimana pun transaksi dapat dilakukan tanpa bertatap muka langsung. Dalam hal metode pembayaran, teknologi ini juga berkembang. Baru-baru ini dikenal juga istilah mata uang digital. Salah satunya adalah Bitcoin. Ini adalah mata uang digital dengan nilai pasar terbesar. Ini adalah sistem pembayaran elektronik yang didasarkan pada sistem matematika. Idenya adalah untuk menghasilkan mata uang independen yang tidak terikat pada otoritas pusat tertentu, dengan biaya transaksi yang sangat rendah. Mata uang digital menggunakan konsep kriptografi untuk menyediakan fungsi keamanan dasar, seperti memastikan bahwa Bitcoin hanya dapat digunakan oleh mereka yang memilikinya dan tidak dapat diduplikasi. Munculnya mata uang ini menimbulkan kontroversi di banyak negara karena sifatnya yang tidak diatur. Studi ini meneliti Bitcoin apakah dikategorikan sebagai uang berdasarkan konsep uang dan bagaimana tiga lembaga moneter internasional utama (IMF, WTO, Bank Dunia) merespons kehadirannya dengan analisis dasar menggunakan konsep cyberpolitik. Akhir dari penelitian ini menyimpulkan bahwa Bitcoin belum sepenuhnya memenuhi kriteria sebagai mata uang dan tidak ada aturan khusus mengenai keberadaan mata uang digital.
Olahraga sebagai Sarana Pemersatu Bangsa dan Upaya Perdamaian Dunia [Sports as an Instrument of Unifying a Nation and Achieving World Peace] Jerry Indrawan; Muhammad Prakoso Aji
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 10, No 20 (2018): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v10i20.1459

Abstract

Makna Strategis Kajian Wilayah Asia Tenggara dari Sudut Pandang Hubungan International [The Significance of Southeast Asian Regional Studies in International Relations] Amelia Joan Liwe
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 10, No 20 (2018): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v10i20.1460

Abstract

Walaupun pengembangan Kajian Wilayah Asia Tenggara menjadi salah satu tujuan didirikannya ASEAN pada tahun 1967, kebanyakan karya utama original yang mendefinisikan dan menjelaskan kawasan Asia Tenggara justru dihasilkan dari luar kawasan ini. Dari sudut pandang hubungan internasional, khususnya konstruktivisme, identitas dan pembentukan pengetahuan mengenai identitas tersebut memiliki makna strategis. Dengan menggunakan metode studi pustaka dan analisis wacana, makalah ini akan (i) menjelaskan apa sebenarnya kajian Asia Tenggara tersebut dengan menggunakan beberapa contoh karya yang terkait isu maritim Asia Tenggara, (ii) membahas kendala pengembangan Kajian Wilayah Asia Tenggara di kawasan ini, (iii) menganalisis arti strategis pengembangan Kajian Wilayah Asia Tenggara dari sudut pandang Hubungan Internasional, dan (iv) menyarankan beberapa langkah praktis pengembangan ilmu ini untuk Indonesia. Although the promotion of Southeast Asian Studies is one of the main objectives in the establishment of ASEAN, most major works of Southeast Asian Studies that define this region emerge outside of Southeast Asia. From an international relations perspective, particularly constructivism, identity and knowledge construction have strategic meaning. By reviewing the literature, this paper will (i) explain what Southeast Asian Studies is as an academic field, and (ii) analyze the strategic meaning of Southeast Asian Studies from an International Relations perspective.
The Stronger Impact of National Culture over Organizational Culture on Supply Chain Operations Roy Vincentius Pratikno
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 10, No 20 (2018): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v10i20.1455

Abstract

The proponents of national culture have a strong belief that national culture has an impact on the performance of a firm. They also believe that national culture influences team work and the ability to innovate. They consider the impact of national culture on behavior and relationships to be longer lasting than cultural  influences that tend to diminish as a company changes. On the other hand, the supporters of organizational culture have a strong conviction that well-defined and widely used organizational practices throughout the organization will help an organization become excellent and capable of achieving high levels of performance. Both the partisans of organizational culture and the supporters of national culture have their own reasons as to why each side is more impactful when compared to the other. This paper attempts to answer which side has a stronger impact by reviewing the literature on the effect of national culture or organizational culture on the supply chain operations of MNCs in Japan and the US. It appears that national culture is more impactful than organizational culture when it comes to supply chain operations.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Para pendukung budaya nasional memiliki keyakinan kuat bahwa budaya nasional berdampak pada kinerja perusahaan, mereka juga percaya bahwa budaya nasional mempengaruhi kerja tim, kemampuan untuk berinovasi dan mereka mempertimbangkan dampak budaya nasional terhadap perilaku, hubungan yang berkelanjutan setidaknya itu akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan pengaruh budaya organisasi yang cenderung berkurang seiring perubahan perusahaan. Di sisi lain, para pendukung budaya organisasi memiliki keyakinan yang kuat bahwa melalui praktik organisasi yang didefinisikan dengan baik dan banyak digunakan di seluruh organisasi akan membantu organisasi untuk menjadi organisasi yang sangat baik yang mampu mencapai kinerja organisasi yang sangat baik. Baik pendukung budaya organisasi maupun pendukung budaya nasional memiliki alasan sendiri mengapa masing-masing pihak lebih berdampak dibandingkan dengan pihak lain. Makalah ini mencoba untuk menjawab sisi mana yang memang memiliki dampak yang lebih kuat dengan meninjau beberapa literatur tentang pengaruh budaya nasional atau budaya organisasi pada operasi rantai pasokan MNC di Jepang dan AS. Tampaknya budaya nasional lebih berdampak dibandingkan dengan budaya organisasi ketika datang ke operasi rantai pasokan.
Penerapan Prinsip Politik Luar Negeri Indonesia Melalui Diplomasi Maritim [The Implementation of Indonesian Foreign Policy through Maritime Diplomacy] Indrawati Indrawati; Agung Yudhistira Nugroho
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 10, No 20 (2018): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v10i20.1462

Abstract

Why Are Indonesians Prone to Support the Islamic State of Iraq And Syria? Karen Savitri
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 10, No 20 (2018): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v10i20.1457

Abstract

ISIS declared itself a caliphate, or Islamic state, with Abu Bakar al-Baghdadi as Caliph, claiming himself the successor of Prophet Muhammad and the leader of all Muslims in 2014. They wreak havoc in the Middle East and all the way to Southeast Asia, causing great damages to infrastructure and livelihood of people. ISIS’ violence is all around the media, in the internet, both offline and online news article, and discussed about in social media. Although the information regarding their atrocities is available only one click away, but why are there Indonesians who still do measures to support ISIS? What fuels so much malice towards the non-believer? What motivate them so much to do all these lengths and for what? This study, using constructivism as theory, discuses underlying historical and societal factors to the reason Indonesians are prone to support ISIS. Applying qualitative method, data are collected through interviews and literature study from books and journals. The researcher discussed altogether six push and pull factors, ranging from Indonesia’s historical account, its homegrown radicalism, tendencies of Indonesian Muslims, and millennial generation.BAHASA INDONESIA ABSTRAK:  Negara Islam Irak dan Syam, atau lebih dikenal sebagai ISIS, mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah khilafah, atau negara Islam, dengan Abu Bakar Al-Baghdadi sebagai Khalifah atau pemimpin atas segala umat Muslim, pada tahun 2014. Dalam aksinya, mereka membunuh banyak orang, merugikan harta benda, serta membuat kerusakan infrastruktur dari wilayah kekuasaannya di Timur Tengah sampai dengan Asia Tenggara. Kabar kekerasan ISIS terdengar melalui media massa, dari internet, dalam artikel berita, dan didiskusikan di media sosial. Namun, dengan segala informasi mengenai kekejaman ISIS, mengapa masih ada orang Indonesia yang mendukung ISIS? Apa yang membuat mereka membenci orang-orang kafir? Apa yang memotivasi mereka untuk berjuang demi ISIS, bahkan sampai rela untuk kehilangan nyawa? Penelitian ini, dengan mengaplikasikan teori konstruktivisme, mendiskusikan kisah sejarah Indonesia dan faktor sosial yang mendasari alasan orang Indonesia mendukung ISIS. Dengan metode penelitian kualitatif, data dikumpulkan melalui interview dan studi literatur dari buku dan artikel penelitian. Peneliti mendiskusikan total 6 (enam) faktor pendorong dan penarik, mulai dari kisah sejarah, radikalisme di Tanah Air, kecendrungan orang Muslim di Indonesia, dan generasi milenial.

Page 1 of 1 | Total Record : 6