cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY
ISSN : 14106175     EISSN : 25278843     DOI : -
Core Subject : Science,
Bulletin of the Marine Geology is a scientific journal of Marine geoscience that is published periodically, twice a year (June and December). The publication identification could be recognized on the ISSN 1410-6175 (print) and e-ISSN: 2527-8843 (on-line) twice a year (June & December) and it has been accredited by Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Indonesian Institute of Sciences) by Decree Number: 818/E/2015. As an open access journal, thus all content are freely available without any charge to the user. Users are allowed to download, and distribute the full texts of the articles without permission from the publisher.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 27, No 2 (2012)" : 5 Documents clear
INVESTIGATION OF GROUND PENETRATING RADAR FOR DETECTION OF ROAD SUBSIDENCE NORTHCOAST OF JAKARTA, INDONESIA Kris Budiono; Yogi Noviadi
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3687.089 KB) | DOI: 10.32693/bomg.27.2.2012.48

Abstract

A survey of Ground Penetrating Radar (GPR) was conducted in the coastal zone of northern part of Jakarta, Indonesia. The purpose of this survey was to provide the subsurface of coastal Quaternary sedimentary features and stratigraphy disturbances associated with induce post road subsidence 2009. The possibility of subsurface lithology disturbance shown by the GPR record. This record resulted from GPR methods using SIR system 20 GSSI, 270 MHz and 400 MHz and MLF 3200 transducer. The method is a promising tool for resolving changes of physical properties in subsurface lithology condition at the natural scale due to composition changes of physical properties.The reflection data resulted that GPR can distinguish between image the basic geometry forms such as lithology , structure geology , soil and subsurface utilities condition Keywords: Quaternary geology, Jakarta subsidence northern road 2009, Ground Penetrating Radar Penyelidikan “Ground Penerating Radar” (GPR) telah dilaksanakan di kawasan pantai utara Jakarta Utara, Indonesia. Tujuan dari penyelidikan GPR ini adalah untuk melihat kondisi sedimen Kuarter bawah permukaan dan gangguan stratigrafi sehubungan dengan penurunan jalan raya pada tahun 2009. Kemungkinan gangguan terhadap litologi bawah permukaan terlihat pada rekaman GPR. Hasil rekaman metoda GPR mempergunakan model SIR 20 GSSI, transduser 270MHz, 400 MHz dan MLF 3200.Metoda GPR merupakan alat bantu yang cukup menjanjikan untuk melihat perubahan sifat fisik litologi bawah permukaan pada skala sebenarnya yang disebabkan oleh perubahan komposisi sifat fisiknya. Hasil refleksi data GPR dapat membedakan bentuk dasar geometri seperti litologi, struktur geologi, kondisi utilitas bawah permukaan. Kata kunci : Geologi Kuarter, Penurunan jalan utara Jakarta 2009, Ground Penetrating Radar
NEW LAND ACCRETION FROM 2000-2003 AT SEGARA ANAKAN LAGOON, SOUTH COAST OF WEST AND CENTRAL JAVA I Wayan Lugra; Deny Setiady
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3078.468 KB) | DOI: 10.32693/bomg.27.2.2012.49

Abstract

Segara Anakan Lagoon is an unique lagoon , where a lot of rivers enter into the lagoon such as Citanduy, Cibeureum, Cijolang, Cikawung and Ciseel Rivers. These rivers bring the sediment materials from upstream to the lagoon areas and resisted by Nusa Kambangan Island. The rate of sediment transportation every year occurred continuously and significantly. Its caused the creation of new land at eastern part of Segara Anakan Lagoon was about 376.69 hectares which is located at Cilacap District, while in the western part is about 15,78 hectares which is located at Ciamis District. Since 1999 to 2003 land accretion at Segara Anakan Lagoon was about 392.47 hectares with the rate of accretion around 78.50 hectares/year. In 1999 the area of the Segara Anakan Lagoon approximately 1,595 hectares. Based on the averages of rate land accretion, its predicted that in the middle of the 2019 whole of Segara Anakan will be land. The study had been done in 2003 by using hand drilling up to 2 meters depth, grab sampler and GPS Garmin 250 Map. The hand drilling result at accretion area, show that at eastern part of study area is composed of silt and cly, while at Nusawere Bay and Solok Jero is characterized by fine to coarse sand. Keywords : sediment materials, accretion area, and Segara Anakan Segara Anakan merupakan sebuah laguna yang unik dimana banyak sungai yang bermuara di perairan tersebut seperti Citanduy, Cibeureum Cimuntur, Cijolang, Cikawung, dan Ciseel. Sungai-sungi tersebut membawa material sedimen dari daerah aliran hulu ke kawasan laguna yang tertahan oleh Pulau Nusa Kambangan. Transportasi sedimen berlangsung terus menerus dengan laju pertambahan dari tahun ke tahun cenderung meningkat secara signifikan. Akibatnya terjadi pertambahan daratan di perairan Segara Anakan bagian timur sekitar 376,69 hektar yang termasuk wilayah Kabupaten Cilacap dan di bagian barat sekitar 15,78 hektar yang terletak di wilayah Kabupaten Ciamis. Sejak 1999 – 2003, total luas pertambahan daratan di perairan Segara Anakan sekitar 392,47 hektar dengan perkiraan laju pertambahan daratan sekitar 78,50 hektar/tahun. Tahun 1999 luas Perairan Segara Anakan kurang lebih 1.595 hektar. Berdasarkan laju pertambahan daratan rata-rata tersebut, maka diperkirakan pada pertengahan tahun 2019 Perairan Segara Anakan seluruhnya menjadi daratan. Pada tahun 2003, telah dilakukan penelitian dengan menggunakan bor tangan sampai kedalaman 2 meter, pemercontoh comot dan GPS Garmin 250 Map. Hasil pemboran di lokasi pertambahan daratan tersebut menunjukkan di bagian timur tersusun dari lanau dan lempung, sedangkan di Teluk Nusawere dan Solok Jero disusun oleh pasir berbutir halus sampai sangat kasar. Kata kunci : material sedimen, pertambahan daratan, dan Segara Anakan
SEDIMENTOLOGICAL PROPERTIES OF THE 2010 MENTAWAI TSUNAMI DEPOSIT Yudhicara Yudhicara; Andrian Ibrahim
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11464.905 KB) | DOI: 10.32693/bomg.27.2.2012.45

Abstract

Post tsunami survey of the October 25, 2010, Mentawai tsunami, has been carried out by a collaboration team of Indonesian-German scientists from 20 to 28 November 2010. One activity of the researches were investigation on tsunami deposits along the coast following the event that devastated the islands of Sipora, North Pagai and South Pagai. Sedimentological properties of Mentawai tsunami deposit were explained by this study, from both megascopic and laboratory result. In general, beaches along the study area are underlying by a stretch of reef limestone, sediments mostly composed of white sand while grey sand was found only at Malakopa. Tsunami sediments were taken from 20 locations, start from Betumonga at Sipora Island until Sibaru-baru Island at the southern tip of the study area. The thickness of tsunami deposits are ranged between 1.5 and 22 cm, which are generally composed of fine to coarse sand in irregular boundaries with the underlying soil. Based on grain size analysis, variation of sedimentological properties of tsunami deposits range between phi=-0,5793 and phi=3,3180 or very coarse to very fine sand. Tsunami deposits mostly have multiple layers which described their transport processes, run up at the bottom and back wash at the top. Structural sediments such as graded bedding of fining upward, parallel lamination and soil clast were found. The grain size distribution curves show two types of mode peak, unimodal and multimodal which are indication of different sorting condition representing the source materials. While segment grain size accumulative plot generally shows domination of dilatation and traction transport mechanism rather than suspension. In general, very rare fossils were found from Mentawai tsunami deposit, but those findings gave information on how depth tsunami start to scour the seafloor and transport it landward, such as an abundance of Sponge spicule was found which indicate shallow water environments (20-100 m seafloor depth). Keywords: 2010 Mentawai tsunami, tsunami deposit, grain size analysis, fossils identification. Survei pasca-tsunami Mentawai 25 Oktober 2010, telah dilakukan oleh Tim gabungan Indonesia-Jerman pada tanggal 20 - 28 November 2010. Salah satunya adalah melakukan identifikasi endapan tsunami yang ditemukan di sepanjang pantai yang terlanda tsunami di Pulau Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Berdasarkan hasil penelitian baik megaskopik maupun analisis laboratorium, dalam tulisan ini dapat dijelaskan mengenai sifat-sifat sedimentologi dari endapan tsunami Mentawai. Secara umum litologi penyusun pantai di daerah penelitian disusun oleh hamparan batugamping terumbu, sebagian disusun oleh pasir berwarna putih, sedangkan di Malakopa tersusun oleh endapan pasir pantai berwarna abu-abu. Berdasarkan hasil analisis laboratorium, diperoleh variasi sifat sedimentologi, seperti kisaran ukuran butir endapan tsunami antara -0,5793 phi dan 3,3180 phi, yaitu pasir sangat kasar hingga sangat halus. Endapan tsunami umumnya memiliki beberapa lapis yang menunjukkan adanya proses transportasi, seperti saat air naik (run up) di lapisan bagian bawah dan surut di bagian atas, yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan ukuran butir. Struktur sedimen ditemukan seperti adanya perubahan besar butir secara berangsur menghalus ke bagian atas, perlapisan sejajar dan fragmen tanah yang terperangkap dalam sedimen. Kurva distribusi ukuran butir memperlihatkan dua jenis model puncak, yaitu unimodal dan multimodal yang memperlihatkan kondisi pemilahan yang berbeda yang menunjukkan kondisi sumber material endapan tsunami, sedangkan grafik akumulasi ukuran butir umumnya memperlihatkan dominasi mekanisme transportasi dilatasi dan traksi daripada suspensi. Secara umum fosil yang terkandung dalam endapan tsunami Mentawai sangat jarang, namun sedikit banyak telah memberikan informasi seberapa dalam gelombang tsunami mulai menggerus lantai samudera dan memindahkannya ke darat, misalnya dengan ditemukannya fosil bentonik Sponge spicule yang melimpah, menunjukkan asal lingkungan laut dangkal dengan kedalaman laut 20-100 m. Kata kunci: Tsunami Mentawai 2010, endapan tsunami, analisis besar butir, identifikasi fosil.
THE FORMATION OF SUBMARINE BARUNA KOMBA RIDGE ON NORTHEAST FLORES WATERS IN RELATION TO LOW ANOMALY OF MARINE MAGNETISM Lili Sarmili; Mustaba Ari Suyoko
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2974.096 KB) | DOI: 10.32693/bomg.27.2.2012.46

Abstract

There are three submarine ridges found on northeast of Flores waters. One of them is Baruna Komba submarine ridge found on south of Komba (Batutara) Volcano. Two others are Abang and Ibu Komba volcanoes located more to the southeast of the Baruna Komba. The position of the Baruna Komba situated more closely to the active Komba volcano and it is considered that the formation of Baruna Komba ridge is younger than the Abang and Ibu Komba volcanoes. The Baruna Komba also interpreted before as a magmatic volcano. Data from marine magnetism shows that there is a low or negative anomaly on Baruna Komba ridge whereas on Abang and Ibu Komba ridges, they are high and positive anomalies. These data indicate that the Baruna Komba ridge is not a volcanic ridge but it is a submarine ridge formed by a volcanic detritus or non magnetized sedimentation. The low anomaly around these submarine ridges gives northwest to southeast lineation and we interpreted also as a big fault on the west side of these ridges. On the other hand, the Abang and the Ibu Komba ridges are closely related to submarine magmatic volcanoes. Keywords : The Baruna Komba, magmatic volcano, volcanic detritus, Northeast Flores Waters. Di perairan sebelah timur laut pulau Flores ditemukan tiga bukit bawah laut. Salah satunya adalah Baruna Komba sebagai bukit bawah laut yang ditemukan di selatan gunung api Komba. Dua bukit lainnya adalah Abang dan Ibu Komba di sebelah tenggara Baruna Komba. Posisi Baruna Komba terletak lebih dekat dengan gunung api Komba yang masih aktif sehingga ditafsirkan sebagai bukit bawah laut termuda dibandingkan gunung api bawah laut Abang dan Ibu Komba. Baruna Komba ditafsirkan sebelumnya sebagai gunung api juga. Dari data magnetik kelautan menunjukkan bahwa adanya anomali negatif atau rendah di atas Baruna Komba, sedangkan di atas Abang dan Ibu Komba menunjukkan anomali positif atau tinggi. Data magnetik ini menandakan bahwa bukit bawah laut Baruna Komba bukan sebagai gunung api tetapi terbentuk oleh material seperti lava, breksi gunung api dan lahar yang terendapkan sewaktu letusan gunung api Komba. Sebaliknya, bukit bawah laut Abang dan Ibu Komba dapat ditafsirkan sebagai gunung api bawah laut yang bersifat magmatik. Kata Kunci : Baruna Komba, gunung api bersifat magmatik, endapan vulkanik, perairan timur laut Flores.
COASTAL DYNAMICS OF SINGKAWANG, WEST KALIMANTAN Yudi Darlan; Udaya Kamiludin
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2389.187 KB) | DOI: 10.32693/bomg.27.2.2012.47

Abstract

Morphologically, Singkawang and adjacent area consist of zones beaches, undulating hills, and steep hills. Granitic rocks and alluvium as a based rock of Singkawang coasts. Generally, Singkawang coasts was developed for coastal farms, fishery pond, and beach resorts, where most of these area have been eroded. Geological and physical oceanography condition are the aspects that build the characteristics of Singkawang coast. Human activities also play an important role in managing the equilibrium and dynamics of this coastal region. This research is to determine the dynamics and coastline changes of Singkawang coasts based on the characteristics of the coastal element and sediment. The high erosion was occurred at Semalagi–Cape Bajau. The Cape Bajau - Cape Banjar is relatively stable due to headlands of this coast is characterized by igneous rocks which resistant to the erosion. The Cape Banjar – South Coasts is very intensive erosion coast. Modern shorelines of the Singkawang coast might be as a shallow marine environment which were occurred thousands years ago (pre-Recent). The high of sedimentation process is generated by global sea level change, where was occurred at that time, and might be changed the area become part of the mainland coast of Singkawang. Keywords: coastal dynamics, erosion, sedimentation, Singkawang, West Kalimantan Secara morfologi, Singkawang terdiri atas daerah patai, perbukitan bergelombang, dan perbukitan curam. Batuan granit dan alluvium mengalasi kawasan pesisir Singkawang. Pesisir Singkawang sebagian besar berupa daerah pertanian, tambak ikan, dan tempat wisata yang umumnya merupakan kawasan pantai erosi. Geologi dan oseanografi fisika merupakan aspek yang membentuk karakteristik pantai Singkawang. Aktifitas manusia juga memainkan peranan penting di dalam mengelola kesetimbangan dan dinamika pesisir daerah ini. Penelitian ini untuk mengetahui dinamika dan perubahan garispantai Singkawang berdasarkan karakteristik dan sedimen pantai. Pantai Semalagi – Tanjung Bajau merupakan kawasan pantai erosi kuat. Tanjung Bajau – Tanjung Banjar merupakan kawasan pantai nisbi stabil ujung-ujung TanjungTanjungnya dicirikan oleh batuan beku yang tahan terhadap erosi. Tanjung Banjar – Pantai Selatan merupakan kawasan pantai erosi sangat kuat. Garispantai Singkawang pada saat ribuan tahun sebelum sekarang (pra-Recent) diperkirakan berupa kawasan lingkungan laut dangkal. Karena proses sedimentasi cukup kuat yang ditimbulkan oleh perubahan muka laut global pada saat itu mengubah kawasan tersebut menjadi daratan pantai Singkawang. Kata kunci: Dinamika pantai, erosi, sedimentasi, Singkawang, Kalimantan Barat.

Page 1 of 1 | Total Record : 5