cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Manuskripta
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
MANUSKRIPTA is a scholarly journal published by the Indonesian Association for Nusantara manuscripts or Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) in collaboration with National Library of Indonesia. It focuses to publish research-based articles on the study of Indonesian and Southeast Asian (Nusantara) manuscripts. MANUSKRIPTA aims to preserve and explore the diversity of Nusantara manuscripts, and communicate their localities to the global academic discourse. The journal spirit is to provide students, researchers, scholars, librarians, collectors, and everyone who is interested in Nusantara manuscripts, information of current research on Nusantara manuscripts. We welcome contributions both in Bahasa and English relating to manuscript preservation or philological, codicological, and paleographical studies. All papers will be peer-reviewed to meet a highest standard of scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta" : 5 Documents clear
Dinamika Hubungan Pemerintah Kolonial Belanda dengan Raja-raja Badung-Bali Berdasarkan Naskah Surat Perjanjian ML. 487 Khopipah Indah Lestari; Dewaki Kramadibrata
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.188

Abstract

Bali adalah salah satu dari beberapa wilayah di Nusantara yang belum dapat dikuasai pemerintah kolonial Belanda hingga akhir abad ke-19. Faktor internal berupa perebutan kekuasaan antarkerajaan menjadikan wilayah Bali cukup sibuk dengan peperangan dari waktu ke waktu. Tidak terkecuali dengan Kerajaan Badung. Semakin majunya kegiatan perekonomian di Badung membuat pemerintah kolonial Belanda merasa khawatir akan posisinya yang dapat diambil alih kekuatan Eropa lainnya. Berbagai pendekatan berupa perjanjian-perjanjian terus dilakukan untuk dapat menempatkan Kerajaan Badung di bawah kuasa pemerintah kolonial Belanda seutuhnya. Penelitian ini membahas salah satu perjanjian tersebut, yaitu perjanjian yang tercantum dalam naskah Surat Perjanjian ML. 487. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan Kerajaan Badung dengan pemerintah kolonial Belanda dan upaya penghapusan hak tawan karang di Kerajaan Badung oleh pemerintah kolonial Belanda. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian dilakukan dengan metode penelitian filologi, yaitu pemilihan naskah, transliterasi, kemudian penelusuran latar belakang sejarah untuk membahas isi teks naskah. Hasil penelitian menunjukkan bentuk-bentuk pengaturan yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap Kerajaan Badung, yaitu pembatasan hubungan dengan bangsa Eropa lainnya, pembongkaran benteng, pengiriman bantuan perang, dan pengembalian orang jahat kepada pemerintah kolonial Belanda. Upaya pengapusan hak tawan karang kemudian menjadi senjata utama pemerintah kolonial Belanda dalam menaklukkan Kerajaan Badung seutuhnya.
Karakteristik Iluminasi dalam Naskah Betawi Koleksi Cohen Stuart di Perpustakaan Nasional RI Fiona Firdausa; Priscila Fitriasih Limbong
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.203

Abstract

The aim of this study is to explain characteristics of illumination in Betawi manuscript and reveal every culture that shows in it. The data used in this research is Betawi manuscript in Cohen Stuart’s collection (CS). This study uses documentation and literature review method to collect the data. Beside that, this research uses codicology method to analyze the characteristics of illumination in six Betawi manuscripts. The result of data analysis showed that there are three characteristics in Betawi manuscript’s illumination, which are (1) simplicity, (2) the illuminations are formed from a combination of floral and geometric patterns, and (3) the illuminations are made with certain colors, namely red, blue, yellow, and black. Those characteristics show several cultures that are stored in it, that are Betawi, Chinese, Arabic, and Indian cultures. It shows that, at that time, Chinese, Arabs, and Indians had contact with Betawinese. In addition, it also explains Betawinese’s egalitarian nature so that they can accept acculturation that happened in their culture. --- Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan karakteristik iluminasi naskah Betawi koleksi Cohen Stuart (CS) dan khazanah budaya yang terdapat di dalamnya. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi dan studi pustaka. Penelitian dilakukan dengan metode kodikologi untuk membahas karakteristik iluminasi di dalam enam naskah Betawi koleksi CS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga karakteristik yang terlihat dalam iluminasi-iluminasi tersebut, yaitu (1) bentuk iluminasi yang sederhana, (2) iluminasi dibentuk dari perpaduan motif floral dan motif geometris, dan (3) iluminasi dibuat dengan warna-warna tertentu, yakni merah, biru, kuning, dan hitam. Karakteristik-karakteristik tersebut mengungkap adanya beberapa khazanah budaya yang tersimpan di dalam iluminasi naskah-naskah Betawi koleksi CS, yaitu budaya Betawi, Cina, Arab, dan India. Hal tersebut menunjukkan bahwa bangsa Cina, Arab, dan India memiliki kontak dengan masyarakat Betawi pada masa itu. Selain itu, hal tersebut juga menjelaskan sifat egaliter yang dimiliki masyarakat Betawi sehingga dapat menerima terjadinya akulturasi di dalam budayanya.
Membakar Dupa di Masjid: Pandangan Keagamaan Ḥaḍrat al-Shaykh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Naskah Arab Pegon Pesantren Fathurrochman Karyadi
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.204

Abstract

Burning dupa (incense) is a Javanese tradition that has existed for a long time. When Islam came, it turned out that this tradition was still carried out by some people, including santri in Pesantren (the students in Islamic boarding schools). This is evidenced by the discovery of a Javanese manuscript in the Pegon script written by Ḥaḍrat al-Shaykh Muhammad Hasyim Asy'ari (1871-1947), founder of Nahdlatul Ulama (NU) and Pesantren Tebuireng. He did not even forbid the tradition of burning dupa. In fact, the traditional ulama leader of his time condemned it as sunnah. As is known, the sunnah is the perpetrator will be rewarded and the one who does not be punished. This paper will discuss of burning dupa in the perspective of philology, history, and also Islamic law or fiqh which is based on a text written in 1353 H (1934). --- Membakar dupa merupakan tradisi masyarakat Jawa yang ada sejak lama. Ketika Islam datang, ternyata tradisi ini masih dijalankan oleh sebagian orang, termasuk para santri di pondok pesantren. Hal ini terbukti dengan ditemukannya naskah berbahasa Jawa aksara pegon yang ditulis oleh Ḥaḍrat al-Shaykh Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947), pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan Pesantren Tebuireng. Bahkan ia tidak mengharamkan tradisi membakar dupa itu. Justru, pemimpin ulama tradisional pada zamannya itu menghukuminya sunnah. Sebagaimana diketahui, sunnah adalah jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa. Makalah ini akan membahas membakar dupa dalam perspektif filologi, sejarah, dan juga hukum Islam atau fiqh yang bersumber pada naskah yang ditulis pada 1353 H (1934).
Lingkungan Hidup dalam Naskah Wawacan Ogin Amar Sakti Ruhaliah Ruhaliah
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.202

Abstract

This article is written as a result of the study of meaning of Sundanese manuscript of a folklore titled Wawacan Ogin Amar Sakti. The study was conducted based on story’s settings and structural approach. The purpose of this study was to reveal the contribution of story’s meanings towards humanity’s environmental quality. This study utilized descriptive comparative methods, while the data collection used documentation study. The findings are in the form of interpretations concluded based on the results of data analysis results found in the text as well as its comparison with data found in other relevant sources. Based on the data analysis results, it can be concluded that the story setting elements found in Ogin Amar Sakti script is environmental/ecosystem transmission or inheritance vehicles; those are (1) to not to cut down, pollute, or turn dense forests as covert for evil deeds, (2) to look after and maintenance mountains and forests as they embody various resources, (3) to not turn forests into hunting ground for animals, and (4) to arrange settlements as delightful and pleasing place. These messages are in line with other texts and symbols such as folklore and gunungan, as well as become concrete foundation for environmental preservation and food security strategy. --- Tulisan ini merupakan hasil kajian makna atas cerita naskah berbahasa Sunda “Ogin Amar Sakti.” Kajian dilakukan atas unsur latar cerita (setting), dengan menggunakan pendekatan struktural. Pengkajian dilakukan dengan tujuan untuk mengungkap kontribusi makna cerita bagi kualitas lingkungan hidup manusia. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif komparatif. Teknik pengumpulan datanya ialah teknik studi dokumentasi. Temuan-temuan berupa tafsiran disimpulkan berdasarkan hasil analisis data yang terdapat dalam teks serta melalui perbandingannya dengan data yang terdapat dalam sumber lain yang relevan. Berdasarkan hasil analisis data bisa disimpulkan bahwa unsur latar cerita naskah Ogin Amar Sakti merupakan wahana transmisi atau pewarisan lingkungan hidup (ekosistem), yaitu (1) hutan lebat jangan ditebangi, dikotori, dijadikan tempat menyembunyikan perbuatan jahat, (2) awasi dan pelihara gunung-gunung dan hutan karena mengandung aneka kekayaan, (3) hutan jangan dijadikan lahan perburuan satwa, dan (4) lakukan penataan pemukiman menjadi tempat yang menyenangkan dan membahagiakan. Amanat mengenai pelestarian hutan tersebut sejalan dengan teks dan simbol lain, di antaranya cerita rakyat dan gunungan, serta menjadi landasan konkret bagi peletarian lingkungan hidup dan strategi ketahanan pangan.
Ragam Seni Pertunjukan Jalanan Awal Abad XX Salfia Rahmawati
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.196

Abstract

Data collection on the variety of street performing arts is important as a marker of the diversity of cultural arts as well as showing the diversity of the people who interacted at that time. This paper shows a record of data written and illustrated in the manuscript of the National Library's collection coded KBG 940. The data represents at least two periods, namely the period before the manuscript was written in 1929 (although some of it might not anymore existed) and the time when the manuscript was written (although some of it might not anymore existed when the manuscript is read and studied currently). Based on the list, descriptions, and illustrations depicted, the data reflects the plurality of the socio-cultural life of the community moving dynamically as a representation of the cultural intersection of the community. Javanese, Chinese, Indian, Arabic, and Betawi in Yogyakarta. --- Pendataan mengenai ragam seni pertunjukan jalanan menjadi hal yang penting sebagai penanda keberagaman seni budaya sekaligus menunjukkan kemajemukan masyarakat yang berinteraksi pada masa tersebut. Tulisan ini menunjukkan sebuah catatan dan pendataan seni pertunjukan yang terekam dalam naskah koleksi Perpustakaan Nasional berkode KBG 940. Variasi seni pertunjukan yang berhasil didata setidaknya merepresentasikan dua masa, yaitu masa sebelum naskah ditulis tahun 1929 (meskipun sebagian telah hilang saat naskah ditulis) dan masa saat naskah ditulis (meskipun bisa jadi sebagian telah hilang saat naskah dibaca dan dikaji di masa sekarang). Dilihat dari daftar, keterangan, serta ilustrasi yang digambarkan, data yang ditampilkan menjadi cerminan kemajemukan kehidupan sosial budaya masyarakat bergerak dengan dinamis sebagai representasi persinggungan budaya dari komunitas Jawa, Cina, India, Arab, dan Betawi yang ada di Yogyakarta.

Page 1 of 1 | Total Record : 5