Abstract The study of Qur'anic vocabulary from the perspective of al-wujuh wa an-Nazā’ir has proven capable of uncovering profound scientific messages behind the selection of specific lexical items that are generally considered to share similar meanings (synonyms/mutaradif). This research examines four terms in the Qur'an that convey the meaning of "lying and falsehood," namely al-Kadzib, al-Ifk, al-Iftira', and al-Buhtan. Employing a qualitative approach with library research methods and content analysis, this study aims to identify the various meanings (wujuh) of each term, analyze their similarities and differences from the perspective of an-Nazā’ir, and establish a hierarchy of the severity of falsehood among the four terms. The findings reveal that al-Kadzib (mentioned 251 times) encompasses the broadest range of meanings and can, on occasion, carry positive connotations under certain conditions. Al-Ifk (30 times) signifies the distortion of facts and is synonymous with the notion of "hoax." Al-Iftira' (60 times) denotes a fabricated lie deliberately constructed and involving another party who does not consent to the falsehood attributed to them. Al-Buhtan (6 times) represents the highest level of falsehood, as it combines elements of both al-Kadzib and al-Iftira', with its perpetrator often exhibiting arrogance and haughtiness. In conclusion, these four terms are not freely interchangeable, as they possess a hierarchical structure of meaning: al-Kadzib (lowest level), al-Ifk, al-Iftira', and al-Buhtan (highest level). This finding reaffirms the Qur'an's existence as an eternal miracle, wherein every single word contains a precise and unparalleled scientific message. Keywords: Al-Buhtan; Al-Iftira'; Al-Ifk; al-Kadzib; Al-Wujuh wa An-Nazā’ir. Abstrak Studi tentang kosakata Al-Qur'an dalam perspektif al-wujuh wa an-Nazā’ir telah terbukti mampu mengungkap pesan ilmiah yang mendalam di balik pemilihan lafadz-lafadz tertentu yang secara umum dianggap memiliki kesamaan makna (sinonim/mutaradif). Penelitian ini mengkaji empat lafadz dalam Al-Qur'an yang bermakna "bohong dan dusta", yaitu al-Kadzib, al-Ifk, al-Iftira', dan al-Buhtan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan (library research) serta analisis isi (content analysis), penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ragam makna (wujuh) dari masing-masing lafadz, menganalisis persamaan dan perbedaannya dalam perspektif an-Nazā’ir, serta menyusun hierarki bobot kebohongan di antara keempat lafadz tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Kadzib (251 kali disebut) memiliki cakupan makna paling luas dan terkadang dapat bernilai positif dalam kondisi tertentu. Al-Ifk (30 kali) bermakna pemutarbalikan fakta dan identik dengan pengertian "hoax". Al-Iftira' (60 kali) berarti kebohongan yang diada-adakan dengan sengaja melibatkan pihak lain yang tidak merelakan kebohongannya. Al-Buhtan (6 kali) merupakan kebohongan level tertinggi karena merupakan paduan dari al-Kadzib dan al-Iftira', dengan pelaku cenderung angkuh dan sombong. Kesimpulannya, keempat lafadz tersebut tidak dapat dipertukarkan secara bebas karena memiliki hierarki makna berjenjang: al-Kadzib (level terendah), al-Ifk, al-Iftira', al-Buhtan (level tertinggi). Temuan ini menegaskan kembali eksistensi Al-Qur'an sebagai mukjizat abadi yang setiap kosa katanya mengandung pesan ilmiah yang presisi dan tidak tertandingi. Kata Kunci: Al-Buhtan; Al-Iftira'; Al-Ifk; al-Kadzib; Al-Wujuh wa An-Nazā’ir.