cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan)
ISSN : 24610437     EISSN : 25409131     DOI : -
Jukung adalah jurnal yang berisikan hasil-hasil penelitian ilmiah meliputi bidang rekayasa dan teknologi lingkungan yang dikelola oleh Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat. Jukung diterbitkan dua kali dalam setahun setiap bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2017): MARET 2017" : 8 Documents clear
POTENSI REDUCE, REUSE, RECYCLE (3R) SAMPAH PADA BANK SAMPAH `BANK JUNK FOR SURABAYA CLEAN (BJSC)` Arlini Dyah Radityaningrum; Jenny Caroline; Dyah Kusuma Restianti
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 3, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v3i1.3194

Abstract

Pengelolaan sampah dengan konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R) merupakan upaya yang efektif dalam mengurangi jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Program bank sampah merupakan satu alternatif pengelolaan sampah secara 3R. Bank Junk for Surabaya Clean (BJSC) merupakan satu program pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Surabaya dengan konsep 3R. Penelitian ini bertujuan untuk (i) menganalisa komposisi sampah masuk pada BJSC, (ii). menghitung keseimbangan massa sampah pada BJSC, (iii) menghitung potensi 3R sampah pada BJSC. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei, observasi, wawancara dan sampling tentang mekanisme bank sampah dan komposisi sampah yang masuk. Data dianalisa secara deskriptif kuantitatif dengan tabel dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total sampah masuk ke BJSC adalah 984,9 kg dengan komposisi sampah kertas 52,1%, sampah plastik 39,6%, sampah logam 5,6% dan sampah kaca 2,7%. Keseimbangan massa sampah pada BJSC adalah sampah masuk 984,4 kg dengan sampah tereduksi 96,5% dan sampah residu yang ke TPA 3,5 %. Potensi 3R sampah di BJSC adalah melalui kegiatan daur ulang (recycle) sampah kertas 26,3% dan sampah plastik 15,9%, sedangkan guna ulang (reuse) sampah kertas 23,7%, sampah plastik 22,2%, sampah logam 5,6% dan sampah kaca 2,7%.                                                                                     Kata kunci: bank sampah, 3R, reduksi sampah, residu sampah Reduce, Reuse, Recycle (3R) is an effective alternative of waste management to reduce waste residu collected to landfill. Waste bank is one alternative of waste management practicing 3R. Bank Junk for Surabaya Clean (BJSC) is a program of community based waste management with 3R concept in Surabaya. This research aimed to (i) analized waste compositions collected in BJSC, (ii) counted mass balanced of wastes in BJSC, (iii) counted the amount of wastes reduced, reused and recycled in BJSC. The data were collected with survey, observation, interview and sampling to analyze mechanism of BJSC and waste compositions in BJSC. The result showed that the wastes collected in BJSC were around 984,4 kg with 52,1% of paper, 39,6% of plastic, 5,6% of metal and 2,7% of glass. The mass balanced showed 96,5% of waste reduction and 3,5% of waste residu. The potensial of 3R activity conducted in BJSC was for 26,3% of paper recycle, 15,9% of plastic recycle, 23,7% of paper reuse, 22,2% of plastic reuse, 5,6% of metal reuse and 2,7% of glass reuse.  Keywords: bank junk, 3R, waste reduction, waste residu
PENGARUH VARIASI pH DAN BERAT ADSORBEN DALAM PENGURANGAN KONSENTRASI Cr TOTAL PADA LIMBAH ARTIFISIAL MENGGUNAKAN ADSORBEN AMPAS DAUN TEH Nurafriyanti Nurafriyanti; Nopi Stiyati Prihatini; Isna Syauqiah
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 3, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v3i1.3200

Abstract

Salah satu penyebab pencemaran lingkungan adalah logam berat. Krom merupakan salah satu parameter logam berat pencemar lingkungan. Oleh karena itu harus dilakukan reduksi logam krom, salah satunya dengan proses adsorpsi. Adsorpsi bisa dilakukan dengan menggunakan adsorben alami. Salah satu potensi adsorben alami yang bisa didapatkan di Kalimantan Selatan adalah ampas daun teh. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi pH dan berat adsorben dalam pengurangan Cr total pada limbah cair artifisial serta menganalisis efisiensi  pengurangan Cr total dan kapasitas adsorpsi dengan menggunakan adsorben dari ampas daun teh. Sebelum proses adsorpsi dilakukan, adsorben diaktivasi  menggunakan NaOH 4%. Selanjutnya proses adsorpsi dilakukan dengan menggunakan metode batch. Variabel bebas pH (4,5,6,7,8) , berat adsorben sebanyak 0,4 ; 0,6 ; 0,8; 1,0 gram dengan waktu kontak 45 menit. Kecepatan pengadukan 120 rpm dan konsentrasi Cr total sebesar 10 ppm. Hasil penelitian menunjukan penurunan Cr total terbesar terjadi pada pH 4 dan pada berat 0,4 gram. Efisiensi penyerapan Cr terbesar terjadi pada larutan  pH 4 sebanyak 13,18% dan kapasitas adsorpsi sebanyak 0,06 mg/g. Efisiensi dan kapasitas adsorpsi terbesar terjadi pada berat 0,4 gram adalah 12,11% dan 0,06 mg/g.Kata Kunci: Adsorpsi, Cr total, ampas daun teh, efisiensi, kapasitas adsorpsi  One of the causes of environmental pollution is heavy metals. Chromium is one of the parameters of heavy metal polluters. Therefore, chromium metal reduction must be done, one way to do it is with adsorption process . Adsorption can be done using natural adsorbent. One of the potential natural adsorbent which can be found in South Kalimantan is the dregs of tea leaves. This study aims to analyze the influence of pH and adsorbent weight in the reduction of total Cr in artificial wastewater and analyze the efficiency and the reduction of Cr total adsorption capacity by using adsorbents from the dregs of the tea leaves. Before the adsorption process is executed, the adsorbent was chemically activated using 4% NaOH. Furthermore, the adsorption process is done by using the batch method. The independent variable pH (4,5,6,7,8), the weight of the adsorbent as much as 0.4; 0.6; 0.8; 1.0 grams in 45 minutes contact time. Stirring speed of 120 rpm and total Cr concentration of 10 ppm. The results showed that the largest decrease of total Cr achieved at pH 4 and 0.4 gram of weight. The largest Cr adsorption at pH 4 solution is 13.18% and adsorption capacity at 0.06 mg/g. The largest efficiency and capacity achieved at 0.4 gram of weight is 12.11% and 0.06 mg/g
EVALUASI TEKANAN JARINGAN DISTRIBUSI ZONA AIR MINUM PRIMA (ZAMP) PDAM INTAN BANJAR MENGGUNAKAN EPANET 2.0 Rony Riduan; Muhammad Firmansyah; Shelda Fadhilah
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 3, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v3i1.3195

Abstract

PDAM Intan Banjar melakukan sebuah program untuk meningkatkan kualitas Air Minum yang disebut Zona Air Minum Prima (ZAMP). Dimana ZAMP adalah wilayah khusus yang jaringan distribusi terisolasi dan dirancang sebagai wilayah air siap minum. ZAMP merupakan wilayah yang diutamakan pelayanannya oleh PDAM Intan Banjar selama 24 jam. Tingkat kehilangan air ZAMP hingga April 2016 sebesar 31%, yang dimana  telah  melebihi standar tingkat kehilangan air minimum yaitu 20%. Beraasarkan data Hubungan Langganan, adanya pengaduan pelanggan masalah  pipa bocor dan masalah kurangnya tekanan pada jam puncak yang tercatat dari hasil data pressure recorder yang dipasang oleh pihak PDAM pada beberapa titik pantau ZAMP. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi sistem jaringan distribusi air minum, kemudian mengevaluasi dan memetakan pola sebaran tekanan pada jaringan distribusi ZAMP serta membandingan hasil simulasi dengan kondisi eksisting. Berdasarkan hasil pengolahan data, jam puncak ZAMP terjadi pukul 07.00 dan jam terendah terjadi pada  pukul  04.00. Berdasarkan hasil simulasi Epanet 2.0, terdapat 3 node yang memiliki tekanan <10 m. Hal ini dapat disebabkan karena adanya perbedaan elevasi, jarak yang semkin menjauhi sumber air, dan ketidaksesuaian dimensi pipa. Kata kunci: Epanet 2.0, sistem jaringan distribusi, tekanan, ZAMP. PDAM Intan Banjar has a program to improve the water quality, which is called as Zona Air Minum Prima (ZAMP), where ZAMP is a special isolated distribution network area designed as a potable water. ZAMP is an area served priority by PDAM Intan Banjar for 24 hours. ZAMP’s water loss rate in April 2016 was 31%, it exceeded the minimum standard rate of water loss, 20%. The existence of customer complaints about leaking pipes and lack of pressure at peak hours were recorded from pressure recorder data result that was set at some ZMAP critical points. The purpose of this study is to identify the system of water distribution networks, evaluate and map the distribution pattern of the pressure of water distribution networks, as well as to compare the simulation results with today’s condition. Besade on data processing result, ZAMP’s peak hour occurred at 07.00 and its lowest occurred at 04.00 o’clock. Based on Epanet 2.0’s simulation results, there existed 3 nodes that have pressure <10m. These can be due to the differences in elevation, increasing distance from the source water, and the mismatching in pipe dimensions. Keywords:, distribution network system, Epanet 2.0, pressure, ZAMP.
KAJIAN PERMASALAHAN PENGELOLAAN SAMPAH DAN DAMPAK LINGKUNGAN DI TPA (TEMPAT PEMROSESAN AKHIR) Rizqi Puteri Mahyudin
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 3, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v3i1.3201

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi pada rantai panjang pengelolaan sampah. Dari hasil kajian pustaka dapat dirangkum dua permasalahan penting pengelolaan sampah dan TPA yaitu sampah yang tidak mengalami proses pengolahan dan pengelolaan TPA dengan sistem yang tidak tepat (masih berfokus pada lahan urug). Sedangkan  TPA sebagai ujung rantai pengelolaan sampah menerima beban sampah yang sangat besar sehingga menimbulkan banyak dampak negatif. Air lindi yang dihasilkan oleh TPA sulit untuk dikendalikan agar tidak mencemari lingkungan walaupun membuat proteksi kuat pada TPA. Direkomendasikan untuk meningkatkan daur ulang sampah dari rumah tangga sampai ke TPA diantaranya dengan sistem pengelolaan sampah yang berbasis inisiatif komunitas lokal dan tidak hanya mengandalkan TPA dengan sistem lahan urug. Pengelolaan sampah yang fokus pada pengolahan dan pengurangan pencemaran serta melibatkan masyarakat atau berbasis komunitas memiliki dampak positif yang besar. Dapat disimpulkan bahwa penyelesaian permasalahan sampah yang tidak komprehensif dari hulu ke hilir dan tidak melibatkan semua pihak menjadi hambatan utama berjalannya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kata kunci: dampak lingkungan, permasalahan sampah, pengelolaan sampah berkelanjutan, Tempat Pemrosesan Akhir. This article aimed to explain the problems in a long chain of waste management. From the results of a literature review can be summarized two key issues of waste management and landfill namely: untreated waste and improper system of landfill management (still focusing on landfilling system). While the landfill as the last chain of waste management receives a huge load of waste, causing many negative effects. Leachate generated by the landfill is difficult to be controlled although it has strong protection at the landfill. It recommended to increase the recycling of household waste to landfill such as the waste management system based on local community initiatives and not just rely on landfilling systems. Waste management focusing on the processing and the reduction of pollution and engaging the community or community based have major positive impact. It can be concluded that solving waste problems that not comprehensive from upstream to downstream and not involving all part of the waste system is the main obstacle in sustainable waste management. Keywords: enviromental impact, landfill, waste problems, sustainable waste management.
SELEKSI POHON TEDUHAN UNTUK RAIN GARDEN Nova Annisa
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 3, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v3i1.3197

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis pohon yang sesuai untuk rain garden, jumlah stomata, proporsi penutupan kanopi dan kandungan air dalam daun dari beberapa jenis pohon teduhan, serta hubungan antara jumlah stomata daun dengan luas daun, jika terdapat faktor proporsi kandungan air yang diduga mempengaruhi akan dikendalikan. Data yang diperoleh di analisis  proporsi kandungan air dalam daun, proporsi penutupan kanopi, dan jumlah stomata dengan menggunakan analisis deskriptif. Untuk mengetahui hubungan antara luas daun, proporsi penutupan kanopi dan kandungan air dalam daun pada pohon teduhan digunakan analisis korelasi parsial dengan bantuan SPSS versi 17. Berdasarkan hasil penelitian terhadap kerapatan stomata dalam ukuran  1cm², diperolehlah 10 jenis pohon teduhan tertinggi seperti Psidium guajava (jambu biji), Mangifera casturi (kasturi), Hevea brasiliensis  (karet), Pithecellobium lobatum (jengkol), Mangifera indica (mangga), Theobroma cacao (coklat), Persea americana (alpukat), Eugenia aquea (jambu air), Gnetum gnemon (melinjo), dan Arthocarpus heterophyllus (nangka). Kerapatan stomata daun tidak berhubungan terhadap luas daun pada pohon teduhan. Kata kunci: pohon teduhan rain garden, stomata. This study aims to determine the type of tree suitable for rain garden, number of stomata, the proportion of canopy closure and water content in the leaves of several types of shade trees, and the relationship between the number of leaf stomata to leaf area, if there is a proportion factor thought to affect the water content will be controlled. Data obtained in the analysis of the proportion of water content in the leaves, the proportion of canopy closure, the location of the tree, and the number of stomata by using descriptive analysis. To determine the relationship between leaf area, the proportion of canopy closure and water content in the leaves of the shade trees used partial correlation analysis with SPSS version 17. Based on the results of a study of the density of stomata in the size of 1 cm², found 10 species of trees shade the best such as Psidium guajava (guava), Mangifera casturi (kasturi), Hevea brasiliensis (rubber), Pithecellobium lobatum (jengkol), Mangifera indica (mango), Theobroma cacao (brown), Persea americana (avocado), Eugenia aquea (rose apple), Gnetum gnemon (melinjo), and Arthocarpus heterophyllus (jackfruit). The density of leaf stomata are not related to the broad leaves of the shade tree. Keywords: rain garden, shade tree, stomata.
OPTIMALISASI PENGELOLAAN BERKELANJUTAN KEBUN SAWIT SWADAYA DI KABUPATEN SERUYAN, KALIMANTAN TENGAH, INDONESIA Hafiizh Prasetia
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 3, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v3i1.3198

Abstract

Komoditas hasil perkebunan memiliki peluang yang sangat baik dalam pengembangan pembangunan ekonomi di Indonesia. Kabupaten Seruyan merupakan salah satu wilayah yang dapat dijadikan sebagai wilayah dalam mengembangkan pembangunan ekonomi pada bidang perkebunan, khususnya perkebunan sawit swadaya. Masalah terkait perkebunan sawit swadaya di Kabupaten Seruyan salah satunya adalah produktivitas tandan buah segar yang relatif rendah bila dibandingkan dengan perusahaan besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis optimalisasi pengelolaan kebun sawit swadaya secara berkelanjutan di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey eksploratif (exploratory research) dan analisis optimalisasi dengan menggunakan metode goal programming. Hasil penelitian diperoleh bahwa kecamatan Hanau merupakan wilayah memiliki potensi yang sangat baik dalam pengembangan perkebunan sawit swadaya masyarakat. Kata Kunci: Kebun sawit yang berkelanjutan, optimalisasi, sawit swadaya. Commodity crops have very good chances in the development of economic development in Indonesia. Seruyan Regency is one area that can be used as an area to develop economic development in the plantation sector, especially smallholder oil palm plantations. Problems related to oil palm plantations in the Seruyan Regency is a fresh fruit bunch productivity is are relatively low when compared with large companies. The purpose of this study was to analyze sustainable management optimization of smallholder oil palm plantation in Seruyan Regency, Central Kalimantan. The method used was exploratory research and optimization analysis using goal programming method. The result showed that districts Hanau is a region has excellent potential in the development of smallholder oil palm plantations. Keywords: Optimization, smallholder oil palm, sustainable oil palm plantations.
PENGARUH JENIS BAHAN ORGANIK PADA SISTEM RESAPAN BIOPORI MODIFIKASI TERHADAP PERUBAHAN KIMIA TANAH SEBAGAI TEKNIK KONSERVASI TANAH Muzaimah Muzaimah; Chairul Abdi; Fakhrur Razie
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 3, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.053 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v3i1.3199

Abstract

Kebanyakan lahan yang belum dikelola dengan baik dalam bidang pertanian maupun perkebunan tentunya lama kelamaan akan dapat berpengaruh terhadap kesuburan tanah yaitu menurunnya kualitas sifat kimia tanah pertanian/perkebunan.  Membuat lubang resapan biopori modifikasi dengan penambahan bahan organik merupakan salah satu upaya konservasi tanah untuk menangani permasalahan tersebut.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan jenis bahan organik pada lubang resapan biopori modifikasi terhadap beberapa sifat kimia tanah.  Penelitian ini dilakukan dilahan perkebunan karet dan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan masing-masing 4 kali ulangan yaitu variasi pemberian 4 jenis bahan organik seperti daun dan ranting kering, pupuk kompos , rumput/tanaman liar, kotoran ternak dan tanpa bahan organik sebagai kontrol dan variasi kedalaman sampel 0-50 cm dan 50-100 cm. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penambahan jenis bahan organik menunjukkan tidak berbeda nyata terhadap C-Organik tanah di kedalaman 0-50 cm maupun 50-100 cm serta Kapasitas Tukar Kation (KTK) di kedalaman 50-100cm sedangkan dikedalaman 0-50 cm berbeda nyata, adapaun variasi kedalaman sampel diketahui tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedalaman 0-50 dan 50-100 cm terhadap C-Organik dan KTK. Kata Kunci : biopori modifikasi, C-organik, jenis bahan organic, konservasi tanah, KTK.  Most of the land that has not been managed well in agriculture and plantation certainly over time will be able to effect the soil fertility is declining quality of the chemical properties of agricultural land / plantation. Make biopori modifications with the addition of organic matter is a soil conservation efforts to solve these problems. This research was conducted to determine the effect of the type of organic material in the absorption holes biopori modifications to some of the chemical properties of the soil. This research was conducted in the land  rubber plantations and using a randomized block design (RBD) with 5 of each treatment 4 replicates ie variation of 4 types of organic materials such as leaves and dry twigs, compost, grass / weeds, manure and without organic matter as a control and variation of the sample depth of 0-50 cm and 50-100 cm. Based on survey results revealed that the addition of organic material showed a no real different to the C-organic of soil at a depth of 0-50 cm and 50-100 cm in depth and Cation Exchange Capacity (CEC) of 50-100 cm while at a depth 50-100 cm real different rent and  sample depth variations as there are no significant differences between the depth of 0-50 and 50-100 cm of the C-Organic and CEC. Keywords: CEC, C-organic, biopori modification, organic matter variety, soil conservation.
PENGARUH OZONISASI TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS WARNA DAN KADAR BESI (Fe) PADA AIR GAMBUT Chairul Abdi; Riza Miftahul Khair; Siti Aisyah
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 3, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.215 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v3i1.3196

Abstract

Air permukaan yang berasal dari daerah berawa, daerah pasang surut dan dataran rendah umumnya sulit dimanfaatkan sebagai sumber air baku. Hal ini dikarenakan sumber air permukaan atau air tanah di daerah tersebut adalah air gambut dengan karakteristik yang dimiliki yaitu derajat keasaman tinggi, kandungan organik yang tinggi dan berwarna merah kecokelatan. Sehingga metode yang dapat dilakukan dalam pengolahan khusus air gambut yang memiliki intensitas warna yang tinggi disamping juga terkandung unsur logam Fe yaitu salah satunya dengan melalui proses ozonisasi yang memanfaatkan sifat ozon sebagai oksidator.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pH dan waktu kontak pada kinerja ozon terhadap penurunan intensitas warna dan kadar Fe pada air gambut.  Ozonisasi dilakukan dengan variasi waktu 10, 20, 40, 60, 80, 100 dan 120 menit. Sampel air gambut sebelum dikontakkan oleh ozon telah diatur dalam keadaan pH basa (pH 9) dengan menggunakan regulator pH berupa larutan NaOH.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ozonisasi pada sampel air gambut dalam kondisi pH 9 mampu menyisihkan intensitas warna sebesar 78,31% selama 120 menit dan menyisihkan kadar Fe sebesar 23,81% selama 10 menit.Kata kunci : Air gambut, Fe, ozon, ozonisasi, warna. Surface water which comes  from the boggy areas, tidal areas and lowlands are generally difficult to use as a source of raw water. This is because the source of surface water or groundwater in the area is peat water with the characteristics high acidity, high organic content and the colored red-brown. So that the method can be performed in specialized processing of peat water that has high color intensity and also contained metal element Fe is one of them through ozonation process utilizing ozone as an oxidant. This study was aimed to determine the effect of pH and contact time on the performance of ozone to decrease the intensity of color and Fe content in the peat water. Ozonation was done by varying the time 10, 20, 40, 60, 80, 100 and 120 minutes. Peat water samples before is contacted by ozone have been arranged in an alkaline pH (pH 9) by using a pH regulator such as NaOH. The results of this study show that ozonation in water samples of peat under conditions of pH 9 are capable of removing the color intensity of 78.31% for 120 minutes and capable of removing  Fe content of 23.81% for 10 minutes. Keywords: Color, Fe, ozone, ozonation, peat water.

Page 1 of 1 | Total Record : 8