cover
Contact Name
Mohamad Maulana
Contact Email
maulana@litbang.pertanian.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
red-ip@litbang.pertanian.go.id
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Informatika Pertanian
ISSN : 08521743     EISSN : 25409875     DOI : -
Informatika Pertanian terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu pada bulan Juni dan Desember, terbit sejak tahun 1991. Jurnal Informatika Pertanian telah terakreditasi oleh Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia dengan nomor Akreditasi No. 21/E/KPT/2018, Tanggal 9 Juli 2018. Jurnal Informatika Pertanian telah memiliki ISSN: 0852-1743, e-ISSN: 2540-9875. Jurnal Informatika Pertanian dikelola oleh Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang beralamat Jl. Ragunan No. 29 Jakarta Selatan, Jakarta, Indonesia 12540
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 22, No 2 (2013): DESEMBER, 2013" : 7 Documents clear
KERAGAMAN MORFOLOGI DAN GENETIK LENGKENG DI JAWA TENGAH DAN JAWA TIMUR Mariana, Baiq Dina; Sugiyatno, A.
Informatika Pertanian Vol 22, No 2 (2013): DESEMBER, 2013
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.736 KB) | DOI: 10.21082/ip.v22n2.2013.p95-102

Abstract

 Tujuan penelitian keragaman lengkeng di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk memperoleh informasi keragaman morfologi dan genetik lengkeng yang berkembang di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur beserta keunggulannya masing-masing. Keragaman diamati dari 35 aksesi hasil eksplorasi di dua daerah tersebut. Hasil analisa DNA menggunakan penanda RAPD menunjukkan ke 32 aksesi tersebut memiliki tingkat kesamaan antara 36-96% yang terbagi kedalam empat kelompok besar pada tingkat kemiripan 40%. Kelompok pertama dengan tingkat kemiripan berkisar antara 42%-73% terdiri atas 16 aksesi, kelompok kedua dengan tingkat kemiripan 52% terdiri atas dua aksesi, kelompok ketiga dengan tingkat kemiripan antara 64%-96% terdiri atas 9 aksesi dan kelompok ketiga dengan tingkat kemiripan 73%-91% yang terdiri atas 5 aksesi. Aksesi yang memiliki kekerabatan terdekat adalah Tawangmangu 1 dan Tawangmangu 2 dengan tingkat kemiripan 96%, sedangkan aksesi dengan tingkat kekerabatan terjauh adalah Bandungan 1 dengan Purworejo 3. Dari 35 aksesi tersebut, diperoleh empat aksesi yang memiliki kualitas buah yang unggul, yaitu Pingpong, Tanpa Nama, Lokal Batu dan Itoh.  
PENYUSUNAN ALTERNATIF MODEL KELEMBAGAAN KREDIT USAHA PERTANIAN DI PERDESAAN Hartono, Rudi; Hadi, Setia; Juanda, Bambang; Rusastra, I Wayan
Informatika Pertanian Vol 22, No 2 (2013): DESEMBER, 2013
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4905.102 KB) | DOI: 10.21082/ip.v22n2.2013.p121-135

Abstract

Berbagai jenis pembiayaan di sektor pertanian, baik yang formal maupun non formal telah diaplikasikan pada masyarakat, tetapi dalam pelaksanaan pembiayaan tersebut masih menghadapi beberapa kendala dan hambatan. Kegagalan kredit untuk pertanian selama ini umumnya disebabkan kerena skim yang ada selama ini tidak menyentuh “petani pelaku”, kurangnya penyiapan “petani pelaku” sebagai target group, banyaknya kebocoran kredit dan mekanisme kredit yang tidak tepat. Saat ini diharapkan ada model kelembagaan yang dapat memberikan solusi keterbatasan petani pada akses permodalan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis dan merumuskan model kelembagaan pembiayaan untuk mendukung usaha pertanian di perdesaan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Badung Propinsi Bali, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Seluma Propinsi Bengkulu dari bulan Juni 2011 sampai April 2012. Sumber data terdiri dari data sekunder dan data primer. Total responden sebanyak 90 orang penerima dana PUAP yang penggunaannya untuk usahatani padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model kelembagaan kredit untuk usaha pertanian perdesaan dirumuskan dalam tiga tingkatan yaitu Model Penumbuhan yang terdiri dari a) Pendampingan dari penyuluh pada petani dalam menyusun rencana peminjamannya sedangkan pendampingan pada pengelola dana simpan pinjam dilakukan oleh petugas pengelola dana kelompok; b) Agunan bagi peminjam diganti dengan rekomendasi dari aparat desa; c) Adanya sangsi kelompok/desa/sosial bagi peminjam yang tidak mengembalikan pinjamannya; d) Hanya melayani peminjam yang berasal desa setempat; e) Pengelolaan dana simpan pinjam dilakukan oleh manajemen yang terpisah dengan kepengurusan gapoktan, namun pengawasan dilakukan oleh pengurus gapoktan, dan f) Adanya insentif untuk pengelola dana simpan pinjam. Model Pengembangan merupakan peningkatan dari model penumbuhan dengan tambahan beberapa elemen yaitu a) Adanya Tabungan khusus untuk pemupukan modal kelompok; b) Insentif diberikan juga untuk anggota yang mempunyai tabungan khusus; c) Pengawasan dilakukan oleh pengurus gapoktan dan aparat desa. Sedangkan Model Mandiri merupakan peningkatan dari model penumbuhan dan pengembangan dengan tambahan elemen yaitu Lembaga keuangan harus mempunyai Badan Hukum dan Izin usaha agar dapat melakukan ekspansi kerjasama usaha dengan pihak lain.
SISTEM TEKNOLOGI INFORMASI KALENDER TANAM TERPADU Ramadhani, Fadhlullah; Runtunuwu, Eleonora; Syahbuddin, Haris
Informatika Pertanian Vol 22, No 2 (2013): DESEMBER, 2013
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1856.969 KB) | DOI: 10.21082/ip.v22n2.2013.p103-112

Abstract

Ilmu pengetahuan dan teknologi hasil penelitian akan bermanfaat jika sesuai dengan kebutuhan pengguna dan disampaikan secara cepat dan tepat waktu. Salah satu pendekatan yang sering digunakan masa kini adalah pengembangan sistem teknologi informasi yang telah diaplikasikan di berbagai bidang. Makalah ini memaparkan pengemasan informasi kalender tanam tanaman padi dalam bentuk Sistem Teknologi Informasi Kalender Tanam Terpadu Berbasis Web. Pengembangan sistem dilaksanakan dalam bentuk desk study, yang terdiri atas lima tahap, yaitu 1) Inventarisasi data, 2) Penyusunan algoritme analisis, 3) Penyusunan desain sistem, 4) Pemrograman, dan 5) Pengujian dan operasi sistem teknologi informasi kalender tanam terpadu. Produk ini dapat diakses melalui http://katam.litbang.deptan.go.id/ dan menjadi pedoman bagi pengguna sebelum memasuki musim tanam ke depan. Informasi kalender tanam terpadu yang tersedia sampai tingkat kecamatan dan meliputi prediksi awal waktu tanam, estimasi luas tanam, potensi wilayah rawan banjir dan kekeringan, potensi serangan organisme pengganggu tanaman, rekomendasi varietas, serta rekomendasi dosis dan kebutuhan pupuk. Sistem teknologi informasi kalender tanam terpadu bersifat dinamis. Oleh karena itu, baik substansi maupun sistem perlu dievaluasi, diperbarui, dan diperbaiki melalui kegiatan verifikasi dan validasi. Hal ini perlu pemeliharaan (maintenance) terus menerus, agar kebutuhan pengguna mengenai waktu tanam, dan informasi rekomendasi teknologi dapat dipenuhi lebih akurat.
FAKTOR SOSIAL EKONOMI PENENTU ADOPSI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) PADI SAWAH DI BANGKA BELITUNG Fachrista, Irma Audiah; Hendayana, Rachmat; Risfaheri, Risfaheri
Informatika Pertanian Vol 22, No 2 (2013): DESEMBER, 2013
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.943 KB) | DOI: 10.21082/ip.v22n2.2013.p113-120

Abstract

Usahatani padi sawah di Bangka Belitung dikategorikan baru berkembang dan produktivitas padi sawah hanya mencapai 3,54 t/ha. Peningkatan produktivitas padi sawah dapat dilakukan melalui penerapan inovasi teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Percepatan arus informasi dan adopsi inovasi teknologi PTT padi sawah telah dilakukan melalui Pendampingan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu sejak tahun 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1). tingkat adopsi petani terhadap komponen PTT padi sawah; (2). faktor sosial ekonomi penentu keputusan petani dalam mengimplementasikan PTT padi sawah. Penelitian dilaksanakan pada Maret - Desember 2011 dengan metode survei. Jumlah responden 54 orang peserta SL-PTT di Kabupaten Bangka dan Kabupaten Bangka Selatan. Tingkat adopsi petani terhadap komponen PTT dianalisis secara deskriptif, sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya dianalisis dengan menggunakan model regresi logit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1). komponen PTT yang tingkat adopsinya tinggi yaitu varietas unggul, penanganan panen dan pascapanen, tanam bibit muda dan cara pengolahan lahan sesuai musim; (2). faktor-faktor sosial ekonomi yang menjadi penentu bagi petani dalam mengadopsi PTT padi sawah yaitu pendidikan, luas lahan, jarak pemukiman ke usahatani padi, jalan raya, pasar input, dan sumber teknologi.
METODOLOGI AREA FRAME UNTUK PENGUKURAN PRODUKTIVITAS PADI Chafid, Mohammad
Informatika Pertanian Vol 22, No 2 (2013): DESEMBER, 2013
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1916.949 KB) | DOI: 10.21082/ip.v22n2.2013.p81-93

Abstract

Informasi tentang data produksi diperoleh dari pengumpulan data luas panen dan produktivitas. Pengumpulan data produktivitas padi dengan pendekatan rumah tangga yang dilakukan sering dianggap kurang representatif. Pusdatin mengembangkan dan melakukan uji coba metodologi area frame untuk pengukuran produktivitas padi yang bertujuan untuk menghitung rata-rata hasil produktivitas padi dan membandingkan dengan hasil pengukuran produktivitas padi melalui survei ubinan reguler. Metode yang digunakan adalah penarikan contoh acak sistematik.Faktor yang mempengaruhi program peningkatan produktivitas padi, yaitu sampel untuk ubinan jatuh pada dataran rendah/tinggi dan adanya program SL-PTT/tidak ada program SL-PTT. Survei dilakukan di Kabupaten Cianjur dan diperoleh hasil 90 petak jatuh pada dataran tinggi dan 310 petak pada dataran rendah. 56 petak mengikuti program SLPTT dn 344 petak tidak mengikuti program SLPTT dengan jumlah sampel 400 petak. Hasil uji perbandingan ratarata berat ubinan metode Area Frame dan Listing Frame berdasarkan kecamatan menunjukkan hasil nilai p-value di 12 kecamatan atau sebanyak 75% tolak Ho, yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara ubinan metode area frame dan listing frame . Sedangkan berdasarkan pada wilayah kabupaten menunjukkan nilai p-value 0,493 (terima Ho), yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara ubinan metode area frame dan ubinan listing frame . Hal ini menunjukkan bahwa keragaman hasil ubinan padi di dalam kecamatan lebih tinggi dari pada pada keragaman hasil ubinan seluruh wilayah kabupaten.Metode area frame memiliki keuntungan lebih, yaitu lokasi ubinan yang jelas karena dipetakkan dengan cermat sehingga tidak akan bergeser di luar mesh yang terpilih.
PREDIKSI SILSILAH POPULASI LALAT Chysomya bezziana BERDASARKAN PARSIMONI STATISTIK (PROGRAM TCS) MENGGUNAKAN DATA SEKUEN GEN DNA MITOKONDRIA DAN INTI Wardhana, April H.
Informatika Pertanian Vol 22, No 2 (2013): DESEMBER, 2013
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.735 KB) | DOI: 10.21082/ip.v22n2.2013.p65-72

Abstract

Pemberantasan agen penyakit myiasis (lalat Chrysomya bezziana) melalui program Sterile Insect Technique (SIT) dapat dilakukan apabila tidak terdapat “complex sibling” di dalam populasinya. Oleh karena itu, studi penentuan spesies dan silsilah turunannya menjadi dasar penting sebelum program ini dilaksanakan. Sejauh ini, konsep spesies lalat C.bezziana masih menjadi perdebatan dikalangan peneliti. Makalah ini akan membahas tentang aplikasi parsimoni statistik dan keuntungannya serta intrepertasi data dalam memprediksi silsilah populasi lalat C. bezziana di dunia sehingga pendekatan program SIT dalam pemberantasan kasus myiasis dapat direkomendasikan. Parsimoni statistik (program TCS) adalah salah satu piranti statistik yang berfungsi untuk memprediksi silsilah target gen pada tingkat populasi genetik. Analisis ini menggunakan data sekuen gen baik dari DNA mitokondria (haplotipe) ataupun DNA inti (allele). Secara garis besar, parsimoni statistik dibagi menjadi 2 tahap. Pertama adalah batas parsimoni dikalkulasi untuk mendapatkan jarak minimum perbedaan antara haplotipe/allele yang diuji. Kedua adalah mengkonstruksi jejaring (network) silsilah spesies dengan cara menghubungkan haplotipe/allele yang berbeda satu basa, dua basa, tiga basa dan seterusnya sampai jejaring parsimoni terbentuk. Apabila jarak haplotipe melebihi batas parsimoni maka jejaring tidak dapat dihubungkan. Hasil studi pada 754 spesimen lalat C. bezziana yang dikoleksi dari 359 lokasi di 11 negara (termasuk Indonesia) berdasarkan gen sitokrom b/cytb (DNA mitokondria), dan white eyes color/wec (DNA inti) menunjukkan bahwa populasi lalat C.bezziana di dunia terbagi menjadi dua ras, yaitu Asia dan Afrika sehingga dapat dipertimbangkan sebagai dua spesies yang berbeda atau sub-spesies. Adapun gen Elongation Factor 1 alpha/EF1α (DNA inti) tidak dapat membedakan keduaras tersebut. Analisis parsimoni statistik juga mampu mengidentifikasi sub garis keturunan (modal haplotipe/allele) lalat C. bezziana, yaitu 3 sub garis keturunan pada gen cyt b dan 2 sub garis keturunan pada gen wec.   
PENGARUH INTENSIFIKASI USAHATANI PADI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI DI KABUPATEN MANOKWARI Sianipar, Jeffry E.; Sankarto, Bambang S.
Informatika Pertanian Vol 22, No 2 (2013): DESEMBER, 2013
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.707 KB) | DOI: 10.21082/ip.v22n2.2013.p73-79

Abstract

Peningkatan produktivitas padi telah dicapai di Kabupaten Manokwari sejak 2008 tetapi masih sangat rendah (6,5%). Untuk meningkatkan produksi, pemerintah daerah telah berusaha untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia dan juga inovasi teknologi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi produksi padi dan pendapatan petani. Penelitian dilakukan di Distrik Prafi, Distrik Masni dan Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari. Total sampel populasi yang diambil sebanyak 90 petani yang setiap kabupatennya diambil sebanyak 30 orang, dan kemudian dikelompokkan ke dalam petani transmigran dan petani lokal. Data dianalisis menggunakan fungsi produksi dan fungsi pendapatan Cobb-Douglass yang selanjutnya diestimasi menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh intensifikasi usaha pertanian terhadap produksi padi dan pendapatan petani, terbaik diperoleh oleh petani transmigran dibanding petani setempat.  

Page 1 of 1 | Total Record : 7