cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang
ISSN : 25285548     EISSN : 25285548     DOI : -
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang is an online, open access peer reviewed journal, which is published twice year every June and December. This journal is for all contributors who are concerned with a research related to Japanese language education studies. JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang provides a forum for publishing the original reserach articles, paper-based articles and review articles from contributors, related to Japanese culture, Japanese literature and Japanese language teaching/learning, which have never been published before.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2017): JAPANEDU Volume 2 Issue 1, June 2017" : 7 Documents clear
KOTO RENSHU DALAM PEMBELAJARAN KAIWA (BERBICARA) DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG FPBS UPI Judiasri, Melia Dewi
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 2, No 1 (2017): JAPANEDU Volume 2 Issue 1, June 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v2i1.6909

Abstract

Berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang digunakan sebagai media berkomunikasi sehari-hari. Kemampuan berbicara merupakan salah satu kemampuan untuk berkomunikasi guna menyampaikan berbagai macam ide, pesan, maksud dan pendapat kepada orang lain. Berbicara merupakan bentuk komunikasi yang paling efektif, penggunaannya paling luas dan paling penting. Kemampuan berbicara di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang FPBS UPI diwadahi dalam mata kuliah shokyukaiwa 1 dan 2, chukyukaiwa 1 dan 2, chujokyukaiwa 1 dan 2, selama 6 semester. Perkuliahan kaiwa di setiap kelas merupakan kelas besar yang diikuti oleh sekitar 26 – 30 orang mahasiswa. Dengan demikian teknik pembelajaran yang bervariasi dapat memaksimalkan kemampuan berbicara bahasa Jepang sangat diperlukan.Koutourenshuu(口頭練習)adalah salah satu teknik pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berbicara secara langsung dari pengajar dan diulang serta diucapkan kembali sesuai dengan ungkapan yang diajarkan. Dengar-ucap, ucap-ulang, tanya-jawabdan role play merupakan kegiatan yang dilaksanakan melatih keterampilan berbicara tingkat dasar. Makalah ini mengemukakan tentang pembelajaran mata kuliah shokyu kaiwa 1 dan 2 yang dilaksanakan di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang FPBS UPI. Sesuai dengan apa yang dikemukakan Iskandarwassid dan Sunendar (2015: 286) pembelajaran berbicara tingkat dasar dalam mata kuliah shokyukaiwa 1 dan 2 bertujuan agar pembelajar dapat melafalkan bunyi-bunyi bahasa, dapat menyampaikan informasi, menyatakan setuju atau tidak setuju, menjelaskan identitas diri, menceritakan kembali hasil simakan, menyatakan rasa hormat dan bermain peran. Pembelajaran  dilakukan dengan berbagai teknik pembelajaran diantaranya adalah ulang ucap (teks percakapan), lihat ucap (power point), wawancara (interviu sesuai materi), percakapan satu pihak (menyampaikan informasi hasil wawancara), dan bermain peran (pelatihan berbicara dengan ide pembelajar). Berdasarkan pengamatan selama perkuliahan berlangsung, pembelajar terlibat aktif berkomunikasi serta kemampuan menggagas dan menuangkan ide ketika bermain peran sangat positif.   Speaking is a language skill that is used as a medium of daily communication. The ability to speak is one of the ability to communicate to convey various ideas, messages, intentions and opinions to others. Speaking is the most effective form of communication, its use is the most extensive and most important. The ability to speak in the Department of Japanese Language Education FPBS UPI is covered in courses shokyukaiwa 1 and 2, chukyukaiwa 1 and 2, chujokyukaiwa 1 and 2, for 6 semesters. Kaiwa lectures in each class is a large class followed by about 26-30 students. Thus a variety of learning techniques can maximize the ability to speak Japanese is needed. Kourourenshuu (練習 練習) is one of the learning techniques to improve the speaking skills directly from the teacher and repeated and recited in accordance with the taught phrase. Hearing, reciting, questioning and role play are activities undertaken to practice basic level speaking skills. This paper discusses the learning subjects shokyu kaiwa 1 and 2 which is held in the Department of Japanese Language Education FPBS UPI. In accordance with what is proposed by Iskandarwassid and Sunendar (2015: 286) the basic level of speaking in the subject shokyukaiwa 1 and 2 aims for the learner to pronounce the sounds of language, can convey information, express or disagree, explain identity, retell The results simultaneously, express respect and role play. Learning is done by various learning techniques such as repeating speech (text conversation), see power point, interview (interviews), and one-party conversation (conveying interview information), and role play (speaking training with learner idea). Based on the observations during the lectures, the learner actively engages in communication as well as the ability to initiate and present ideas when playing a very positive role.
EFEKTIVITAS METODE PEER READING DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PEMAHAMAN (DOKKAI ) Rasiban, Linna Meilia; Dianasari, Wina
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 2, No 1 (2017): JAPANEDU Volume 2 Issue 1, June 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v2i1.6999

Abstract

Tidak sedikit pembelajar mengalami kesulitan dalam pembelajaran membaca pemahaman (selanjutnya dibaca dokkai). Hasil angket yang disebarkan (September 2014) menunjukkan bahwa kesulitan yang dialami mayoritas mahasiswa dalam pembelajaran dokkai adalah memahami kanji, bunpou, arti kosakata, dan makna kalimat. Jadi dapat dikatakan kesulitan yang kompleks apalagi dilakukan oleh sendiri (Broughton dalam Tarigan, 2008; Iskandarwassid, 2008). Untuk memecahkan permasalahan tersebut, perlu dilakukan suatu kegiatan kerjasama dalam memahami wacana yaitu dengan salah satu metode Peer Learning yang pada akhir-akhir ini sedang banyak dilakukan di negara Jepang. Teori Peer Reading (Ogasa Emiko, 2006; Kobayashi Yuki, 2012) diambil berdasarkan teori Tateoka (2004, 2007) yang dijadikan sebagai sumber utama dari kajian pustaka (pilot study) pada penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam pembelajaran dokkai setelah menggunakan metode Peer Reading dan untuk mengetahui tingkat keefektifitasan penerapan metode Peer Reading dalam pembelajaran dokkai. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen murni dengan desain Pre-Test Post-Test Control Design. Sampel penelitian adalah mahasiswa tingkat 2 Departemen Pendidikan Bahasa Jepang tahun ajaran 2014/2015 sebanyak 40 mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Peer Reading lebih efektif dalam pembelajaran dokkai dibandingkan dengan metode konvensional. Selain itu, analisis data angket menunjukan bahwa mahasiswa memberikan respon yang positif terhadap penerapan metode Peer Reading dalam pembelajaran dokkai.
PEMANFAATAN APLIKASI GOOGLE JAPANESE INPUT DALAM MENINGKATKAN MINAT DAN KEMAMPUAN MEMBACA TEKS BAHASA JEPANG Maryunita, Ramaniar
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 2, No 1 (2017): JAPANEDU Volume 2 Issue 1, June 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v2i1.6450

Abstract

Dari sekian banyak kesulitan yang dialami pembelajar bahasa Jepang, yang paling sering terjadi adalah penguasaan huruf Kana. Sehingga menyebabkan turunnya minat belajar bahasa Jepang. Dari pengamatan selama pembelajaran berlangsung, saat diberikan teks bahasa jepang dengan Hiragana dan Katakana, lebih dari 60% peserta didik mengeluhkan kesulitan membaca huruf. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka. Hal ini juga sangat berpengaruh dengan kebiasaan membaca peserta didik. Maka untuk mengimbangi hal tersebut, sebagai pengajar dan pendidik Generasi Z, guru diwajibkan untuk meningkatkan pengetahuan dan memiliki informasi yang cukup mengenai minat dan bakat peserta didik, yang tidak terlepas dari teknologi informasi. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai manfaat aplikasi Google Japanese Input serta aplikasi pendukung lainnya, dalam upaya meningkatkan kemampuan keterampilan membaca peserta didik dan memahami isi teks bahasa Jepang. Dengan memanfaatkan teknologi terkini yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, maka akan dapat kembali meningkatkan minat peserta didik untuk belajar bahasa Jepang dan menumbuhkan budaya literasi. Based from many difficulties faced by Japanese learners, the most common difficulty is the mastering of Kana. This problem causes a decreasing number of Japanese learners' motivation. From the observation during learning process, more than 60% of the learners faced difficulty in recognizing the letters. Since they were kids, learners get used to a high technology gadget and it indirectly affects their personality. This is also becoming a main aspect which affects their reading habit. To deal with this problem, as the teachers and educators of the Z generation, it is an obligation for the teachers to improve their knowledge and have enough information related to students' interest and talent which inseparable from the information technology. For that reason, this research is aimed to get the description about the advantage of using Google Japanese Input application and also other supporting applications, in an effort to increase learners' ability in reading and understanding the Japanese reading passage. By using the recent technology which is suitable with the learning goal it is hoped that teachers could rebuild learners' interest in learning Japanese as well as foster the culture of literacy.
METODE DEDISCERTA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA Destiari, Santie
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 2, No 1 (2017): JAPANEDU Volume 2 Issue 1, June 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v2i1.6449

Abstract

Pada umumnya penyebab rendahnya kemampuan membaca pemahaman siswa, karena pembelajaran membaca pemahaman yang kurang menarik dengan menggunakan cara klasikal, yaitu guru menyuruh siswa membaca wacana lalu menjawab pertanyaan. Cara klasikal tersebut membuat siswa papan atas semakin pandai, sedangkan siswa papan bawah tidak menunjukkan perubahan kemampuan membacanya apalagi memahaminya. Penelitian ini bertujuan agar situasi pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan, sehingga siswa lebih mudah mengenal, memahami, dan mengingat kosakata juga kalimat yang menggunakan huruf kana.Ada pun metode penelitian ini yaitu Metode Dediscerta yang  merupakan kolaborasi Metode Demonstrasi, Metode Diskusi, Metode Ceramah, dan Metode Tanya Jawab. Metode Dediscerta digunakan pada kegiatan inti dalam pembelajaran bahasa Jepang dengan kegiatan membaca wacana sebagai kegiatannya. Metode Demonstrasi digunakan ketika melatih pelafalan, pemahaman, dan mengingat kosakata/kalimat dengan menggunakan kartu gambar, kartu huruf, slide. Metode Diskusi digunakan ketika siswa dalam kelompok membahas wacana. Metode Ceramah digunakan ketika guru menjelaskan hal-hal penting yang berhubungan dengan pola kalimat dan aturan kegiatan. Selanjutnya, Metode Tanya Jawab digunakan ketika latihan tanya jawab, dan membuat kesimpulan pembelajaran.Hasil penelitian ini menyatakan bahwa metode Dediscerta yang digunakan pada pembelajaran dengan kegiatan membaca wacana menjadikan siswa papan bawah khususnya, memiliki keterampilan dan kemampuan membaca pemahaman dengan mendapat nilai yang cukup memuaskan terlihat dari hasil evaluasi, nilai di atas KKM.Sebagai solusi untuk memecahkan masalah pembelajaran membaca pemahaman di sekolah, metode Dediscerta adalah metode yang tepat untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Artinya, metode ini memberi keyakinan bahwa membaca pemahaman bisa diatasi oleh semua pihak dengan sikap dan tindakan yang tepat solusi persoalannya.  In  general, students with poor reading comprehension appear because the method used by the teacher in reading lesson is considered as less attractive. Moreover, some teacher tends to use a classical method, such as asking the students to read a passage, then, they have to answer the question related to the passage.  In this case, the students who have a good reading skill tend to get  smarter due to the use of this classic method, whereas the students with poor reading comprehension are still left  behind. Therefore, this study is conducted in order to make learning activities to be more  fun and attractive for the students. Thus, the students are more able to recognize, comprehend,  and remember the vocabulary or the sentence by using kana.The method used in this study is called Dediscerta. This method is a collaboration of the Demonstration Method, Discussion Method, Lecture Method, and FAQ Method. Dediscerta Method is used during Japanese lesson where reading the passage becomes the core in  learning activitiy. Demonstration Method however, is used when the students are practicing their  pronunciation,  comprehension, as well as their recognition related to  vocabulary or sentence by using a picture card, a letter card, or a slide. Discussion Method is used when the students are divided into several groups, and they have to discuss the given passage. The next method which is Lecture Method, is used when the teacher explains a number of important points related to the grammar rules, and the regulation of that learning activity. The last method called FAQ is used at the end of learning activity where the students are allowed to ask and give a comment, and to summarize their learning activities in that day.The results of this study show that the use of Dediscerta Method in reading activities has been improving the students' reading comprehension, especially for those who have reading problems. The improvement of students' comprehension and recognition are proved when their results are above the expected grade. Therefore, Dediscerta Method is considered as a good guidance for improving the students' reading comprehension. In this sense, this method has indicated that reading problems among the students could be solved by anyone once they recognize the core of the problem, and once they know the right action to solve it. 
PENGGUNAAN VARIASI MEDIA AJAR TERHADAP 3 GAYA BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA JEPANG Setianingrum, Murni
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 2, No 1 (2017): JAPANEDU Volume 2 Issue 1, June 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v2i1.6561

Abstract

 Mengajar membutuhkan metode pengajaran yang kreatif dan penggunaan media ajar yang kreatif sehingga ilmu yang disampaikan dapat di terima dengan baik oleh siswa. Kemampuan anak dalam menangkap materi ajar tergantung dari gaya belajarnya. Menurut DePorter dan Hernacki (2003:112), gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Ada 3 gaya belajar yang di jelaskan dalam Quantum Learning, yaitu Audio, visual, dan kinestetik.            Gaya belajar visual adalah gaya belajar dengan melalui indera penglihatannya. Media ajar yang sesuai untuk gaya belajar visual adalah berupa gambar, grafik, ilustrasi, slide dan tulisan yang berwarna-warni. Gaya belajar auditori adalah gaya belajar melalui indera pendengarannya. Media ajar yang sesuai untuk gaya belajar auditori adalah berupa video, rekaman suara, dan pola bercerita dengan bunyi, irama, dan nada. Gaya belajar kinestetik adalah gaya belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar dia dapat mengingatnya. Media ajar yang sesuai untuk gaya belajar kinestetik adalah dengan alat bantu peraga.            Dalam penyampaian materi tiap tatap muka di mulai dengan memberikan motivasi yang berfokus untuk 3 gaya belajar siswa. Kemudian di lanjutkan dengan pengenalan materi dan penyampaian materi dengan menggunakan variasi media ajar sehingga materi dapat tersampaikan dengan baik kepada 3 gaya belajar siswa tersebut. Di akhir pelajaran pada saat memainkan role play diperlukan teknik role play yang memiliki aturan permainan yang mengkombinasikan 3 gaya belajar sehingga semua dapat memainkannya. Setelah bermain role play untuk mengetahui kepemahaman siswa lebih lanjut lagi dapat dilakukan post tes. Soal  post tesnya pun dibuat dan disesuaikan untuk 3 gaya belajar sekaligus.            Diharapkan dengan pemahaman guru tentang gaya belajar siswa, guru dapat lebih kreatif dalam pengajaran maupun dalam pembuatan media ajar. Apabila siswa termotivasi untuk belajar maka minat belajar terhadap pelajaran bahasa Jepang akan meningkat.  Teaching requires creative methods and variety of teaching media in order students able to absorb the lesson. Teacher shouldn’t force a certain method to a group of student. Because each student has different way of absorbing the lesson, depends on his/her learning style. According to DePorter and Hernacki (2003:112), learning style is a combination of absorbing, organizing, and processing information. There are three (3) types of learning styles described in Quantum Learning; Visual, Audio, and Kinesthetic.            Visual learning style is a method focusing on visual sight. The suitable teaching media for visual learning style is through pictures, graphics, illustration, slides, and full-colored fonts or drawing. Audio learning style is a method focusing on hearing sense. The suitable teaching media for audio learning style may includes video, tape recording, story-telling using sounds, rhythm, and variety of tones. Kinesthetic learning style is a method focusing on movement, sense of touch, and informative activity. Suitable media for this learning style is by using visual teaching aids.            In delivering the lesson, we should start the class by giving motivation focusing on the three (3) different learning styles. Then continue with lesson’s introduction, followed by the main lesson delivery, using variation of learning media to be able to reach students with three (3) types of learning styles. At the end of the lesson, conduct role play which applies certain techniques of steps and regulation combining the three (3) learning styles. Finally, after role play activity, we may close the lesson by evaluating students’ understanding. It’s also better to custom-made the evaluation test problems based on the three (3) learning styles.            It is expected that with the whole-mapping of teachers’ understanding on students’ learning styles, teachers can be more creative in delivering the lesson and also in creating teaching media. If students are motivated to learn then they also will have more interest toward Japanese Language learning.
KEPOLISEMIAN VERBA TSUKERU: KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF Suciaty, Prisyanti; Sutedi, Dedi; Herniwati, Herniwati
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 2, No 1 (2017): JAPANEDU Volume 2 Issue 1, June 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v2i1.6791

Abstract

Polisemi merupakan salah satu tema yang dibahas ketika berbicara mengenai makna sebuah kata. Kata yang berpolisemi adalah kata yang memiliki makna lebih dari satu. Penelitian ini meneliti makna verba tsukeru yang berpolisemi. Verba tsukeru dianalisis dengan menggunakan kajian linguistik kognitif. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan makna dasar, mengklasifiksikan makna perluasan, serta mendeskripsikan hubungan antara makna dasar dan makna perluasan dari verba tsukeru. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data yang digunakan yaitu  jitsurei yang diperoleh dari korpus BCCWJ (Balanced Corpus of Contemporary Written Japanese) yang bersumber dari dokumen, majalah, koran, buku pelajarann, buletin, dan yahoo yang terbit antara tahun 2000-2008.  Selanjutnya dicatat dalam bentuk kartu data. Kemudian dilanjutkan dengan mengklasifikasikan data ke dalam makna dasar dan makna perluasan,dan menganalisis hubungan makna dasar dan makna perluasan menggunakan kajian linguistik kognitif yakni menurut majas metafora, metonimi, dan sinekdoke. Hasil penelitian yang ditemukan adalah verba tsukeru memiliki makna dasar memasang. Kemudian ditemukan 15 makna perluasan yaitu memberi, menempatkan, menambahkan, merendam, mencampurkan, menyalakan, mengoles, mengawasi yang masuk kepada perluasan metafora, selanjutnya menetapkan, mempekerjakan, dan menulis masuk ke peluasan metonimi, terakhir menggores, mengenakan, dan menghentikan perluasan makna sinekdoke. Selain itu ditemukan juga makna idiomatikal seperti membatasi, terbiasa, bertengkar, menuduh, lepas tangan, berhati-hati, memandang, mengerjakan, dan melengkapi diri.This paper present an analysis of tsukeru verb which have multiple meanings and in which the mulitple meanings of a word may be connected or related. While this analysis based on cognitive linguistics. The goal of this analysis is describe basic meaning and another meanings of tsukeru verb, and also describe relation of basic meaning and another meanings, and the last present meanings structure of tsukeru verb. The analysis using data form  Balanced Corpus of Chunagon contemporary Written Japanese corpus presented by National Institute for Japanese Language and Linguistics. Sentence data in this paper based on document, magazine, newspaper, study books, bulletin, and yahoo at 2000-2008. This data clasification using data card  (table data). Decription of relation basic meaning and another meanings using cognitive linguistics analysis which is metaphor, metonymy , and synecdoche. The result of this research is tsukeru verb have basic meaning is put on, and then founded 15 another meanings. Result are follow including metaphor are give, put, adding, soaking, mix, ignite, spreading, watching, including metonymy are decide, hiring, writing, and the last is including synecdoche are slash, dress, stop. Furthermore, fouded idiom meanings such as define, common, quarrel, accuse, hands off, be careful, starring at, doing, acquire.
ANALISIS KONTRASTIF PANDANGAN MAHASISWA PENUTUR BAHASA INDONESIA DAN MAHASISWA PENUTUR BAHASA JEPANG TERHADAP PRIVASI DALAM KOMUNIKASI: SEBUAH TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK Sanjaya, Sonda; Ando, Yuriko
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 2, No 1 (2017): JAPANEDU Volume 2 Issue 1, June 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v2i1.6789

Abstract

Perbedaan pandangan di antara mahasiswa penutur bahasa Indonesia dan mahasiswa penutur bahasa Jepang terhadap privasi dalam komunikasi memungkinkan menyebabkan terjadinya gangguan dalam proses berkomunikasi dan mengundang kesalahpahaman. Guna mengurangi gangguan komunikasi dan kesalahpamahan, maka kajian penelitian mengenai privasi dalam komunikasi sangat diperlukan. Penelitian ini mengkaji persamaan dan perbedaan ranah privasi mahasiswa penutur bahasa Indonesia dan mahasiswa penutur bahasa Jepang, siapa saja yang boleh dan tidak boleh mengetahui privasi penutur, dan bagaimana respons penutur terhadap mitra tutur yang membahas topik pembicaraan yang berkaitan dengan privasi. Penelitian ini dilakukan dengan teknik survey dengan mendistribusi kuesioner kepada 127 responden di Indonesia dan 107 responden di Jepang. Responden di Indonesia adalah mahasiswa penutur asli bahasa Indonesia dan responden di Jepang adalah mahasiswa mahasiswa penutur asli bahasa Jepang di Jepang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa penutur bahasa Indonesia lebih terbuka terhadap privasi dibandingkan dengan mahasiswa penutur bahasa Jepang. Kemudian, mahasiswa penutur bahasa Jepang membicarakan privasi terhadap mitra tutur sembari mempertimbangkan apakah penutur dan mitra tutur memiliki hubungan kepercayaan atau tidak. Sedangkan mahasiswa penutur bahasa Indonesia memutuskan akan membicarakan hal yang berkaitan dengan privasi atau tidak dengan mitra tutur setelah memastikan apakah ada hubungan kepercayaan atau tidak.  The different perspectives on privacy between college students who speak Indonesian and those who speak Japanese as their native language may create some misunderstandings when they interact with each other. To avoid such misunderstandings, more studies on privacy in communication are needed. Meanwhile studies on the field are still scarce. Therefore, to fill the gap, this study aims at finding out the similarities and differences on topics that are considered as privacy by students who speak Indonesian language and Japanese language. Additionally, this study also revealed to which interlocutors they may be comfortable to open up talking about topics considered as their privacy and how they respond towards interlocutors who bring up such topics. To collect the data, a questionnaire on privacy was distributed to 127 participants in Indonesia and 107 participants in Japan. Respondents from both countries were college students who were native speakers of the language spoken in their countries, Japan and Indonesia. The data collected then were analyzed by employing contrastive analysis. The study indicated that Indonesian students were more open in comparison to Japanese students as indicated by the breadth of their preferred conversation topics with strangers. Additionally, when opening up to topics considered as private topics, Japanese students were simultaneously evaluating whether they had trusted relationship with the interlocutors throughout the interaction. On the other hand, instead of simultaneously evaluating the relationship, Indonesian students tended to decide whether they had the trusted relationship first before they proceeded to opening up about their privacy with their interlocutors.

Page 1 of 1 | Total Record : 7