cover
Contact Name
Arsyl Elensyah Rhema Machawan
Contact Email
arsyl.machawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
arsyl@umy.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Japanese Language Education and Linguistics
ISSN : 25975277     EISSN : 26150840     DOI : -
Core Subject : Education,
Journal of Japanese Language Education and Linguistics (JJEL) is an online journal, open access peer review journal, published twice a year every February and August. This journal is for all contributors who are concerned with research related to the study of Japanese language education and Japanese Linguistics.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2023): Februari" : 5 Documents clear
Interferensi Fonologi Pelafalan Bahasa Jawa oleh Penutur Bahasa Jepang dalam Kanal Youtube Aliffia Rachmawati; Ismatul Khasanah; Sony Sukmawan
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 7, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.v7i1.17080

Abstract

Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah dengan penutur terbanyak di Indonesia. Proses memperkenalkan bahasa Jawa melalui youtube menarik minat penutur bahasa Jepang untuk mengenalnya. Proses penguasaan ini terkendala pengucapan kata atau kalimat yang memiliki aturan bunyi berbeda, sehingga melalui penelitian ini dijabarkan permasalahan-permasalahan mengenai bentuk interferensi fonologi, jenis strategi fonologis dan faktor penyebab terjadinya hal teresebut. Melalui permasalahan tersebut tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan jenis dan bentuk interferensi fonologi, strategi fonologi dan faktor yang melatarbelakanginya. Jenis penelitian deskriptif kualitatif dimaksudkan untuk menganalisis data berupa ujaran lalu dideskripsikan secara rinci. Setelah melalui proses analisis, ditemukan bahwa interferensi fonologis terbagi menjadi empat jenis kesalahan yaitu berupa vokal, konsonan, suku kata, dan kesalahan acak. Selain itu, penutur bahasa Jepang juga berupaya menggunakan strategi fonologis tertentu.Strategi–strategi fonologi yang digunakan di antaranya: asimilasi, nasalisasi, aspirasi, pelesapan fonem, penambahan fonem, glotalisasi, labialisasi, harmonisasi vokal dan retrofleksi. Faktor yang melatarbelakangi interferensi serta strategi fonologi diantaranya: ketiadaan dua vokal berturut – turut dalam bahasa Jepang, sulitnya membedakan bunyi yang berasal dari daerah serta cara artikulasi yang sama, perbedaan fonem bahasa Jawa dengan bahasa Jepang, perbedaan bunyi nasal, penambahan dan pelesapan fonem yang dilakukan sesuai aturan bahasa Jepang dan adanya penguasaan bahasa asing selain bahasa Jawa.
Pengaruh Penggunaan Metode Picture and Picture Melalui Storytelling terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Menulis Sakubun Alo Karyati; Yelni Rahmawati
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 7, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.v7i1.17167

Abstract

Penelitian ini membahas tentang penggunaan metode picture and picture melalui storytelling terhadap peningkatan motivasi belajar menulis sakubun pada mahasiswa prodi sastra Jepang Universitas Pakuan. Berdasarkan hasil angket dari 25 responden 60% menjawab bahwa penggunaan metode picture and picture melalui storytelling pada matakuliah sakubun, dapat meningkatkan motivasi belajar sakubun. Metode Picture and picture merupakan model pembelajaran yang mengunakan gambar-gambar yang disusun dan digabungkan menjadi sebuah karangan. Picture and picture  merupakan metode yang dapat membuat kemampuan seseorang dalam mengarang meningkat. Sedangkan mendongeng merupakan akvitas oral yang dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam berbicara dan juga menulis.  Ada pun  rumusan  masalah dalam penelitian ini meliputi  metode picture and picture melalui storytelling, kendala menulis sakubun menggunakan metode picture and  picture melalui storytelling, dan  pendapat mahasiswa mengenai penggunaan metode picture and picture melalui storytelling. Penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subyek   dalam penelitian ini berjumlah 22 mahasiswa, dan  merupakan  mahasiswa semester 4 prodi sastra Jepang Universitas Pakuan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui angket dan wawancara menggunakan google form. Hasil dari penelitian ini, ada peningkatan motivasi belajar sakubun dibanding sebelum menggunakan metode picture and picture melalui storytelling. Setelah menggunakan metode picture and picture melalui storytelling kemampuan mengarang mahasiswa meningkat, mahasiwa menjadi percaya diri dalam menulis karangan bahasa Jepang, serta mampu mempresentasikan hasil karangannya dengan  baik dan berani  di depan kelas, maupun melalui video rekaman yang diupload di youtube chanel masing-masing mahasiswa. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya,  metode picture and picture melalui storytelling dapat diterapkan  dalam mata kuliah bunpou.
Pragmatic Transfer in Intermediate Japanese Learners' Apology Speech Act Nuria Haristiani; Devy Christinawati; Sudjianto Sudjianto
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 7, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.v7i1.15260

Abstract

This study aims to investigate the apology speech act strategy employed by Japanese language learners at the intermediate level and the pragmatic transfer from L1 to L2 that occurs. The data for this study were gathered using the Discourse Completion Test (DCT), which examined four apology situations focusing on the relationships with the interlocutors. The subjects of this study were 53 intermediate Japanese learners. The collected data were then classified into eight strategies or semantic formulas. The pragmatic transfer in the learner's expression was divided into pragmalinguistic transfer and sociopragmatic transfer. This study found that several factors were related to the pragmatic transfer. First, learners translate L1 phrases literally to the L2, which leads to pragmalinguistic transfer. Second, many variations and combinations in Japanese words and sentences are difficult compared with expressions in Indonesian, especially in the "kasu-kariru" and "motte iku-motte kuru" context. Third, applying a pragmatic function from L1 to the L2, which leads to sociopragmatic transfer. This study is expected to give reference in speech act study, and help understanding interlanguage pragmatic of second language learners.
Pemahaman Makna imperatif pada Pekerja Indonesia di Jepang Terkait Ungkapan Perintah dan Permintaan Saat Berkomunikasi Ririn Apriliyanti Yowanda; Linna Meilia Rasiban
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 7, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.v7i1.17192

Abstract

Perbedaan bahasa sering menjadi sebuah hambatan yang dialami oleh setiap pembelajar bahasa asing ketika sedang berkomunikasi dengan bahasa tertentu, sehingga tidak sedikit mengakibatkan kesalahpahaman. Begitupun yang dirasakan oleh pekerja Indonesia yang bekerja di Jepang saat berkomunikasi dengan rekan atau atasan. Dengan melalui penelitian ini, diharapkan para pekerja Indonesia lebih dapat memahami terkait perbedaan makna ungkapan permintaan dan perintah saat komunikasi dengan orang Jepang, sehingga dapat mengurangi kesenggangan komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain penelitian fenomenologi, dengan sumber data hasil interview dengan para pekerja Indonesia yang sedang berada di Jepang dengan rentang usia 20-30 tahun dengan lama tinggal 1-5 tahun dan tersebar di 6 Prefektur.  Berdasarkan hasil angket serta interview kepada para informan, para pekerja Indonesia di Jepang ketika mendapat intruksi dari orang Jepang lebih mengutamakan penggunaan bunpou atau pola kalimat yang dituturkan oleh pembicara kepada dirinya, sedangkan berbanding dengan orang Jepang yang sangat melihat lawan bicara berdasarkan kedudukan dan kedekatannya, hal ini bisa berbeda makna jika lawan bicara memiliki kedudukan yang tinggi dibandingkan dirinya, tuturan tersebut dapat berubah menjadi sebuah tuturan perintah bagi lawan bicara. Karena perbedaan tersebut dapat mempengaruhi perbedaan dalam memaknai tuturan yang diberikan oleh pembicara ketika berkomunikasi terlebih dengan lawan bicara yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda dengan budaya Indonesia.
Analisis Ungkapan dalam Anime Doraemon Episode Dorakaguya, Tsuki Ni Kaeru dan Ookami Otoko Kuriimu Kesantunan Berbahasa pada Tindak Tutur Direktif Arsyl Elensyah Rhema Machawan; Dwi Siwi Rumpakaning Rukmi
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 7, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.v7i1.18358

Abstract

Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui kesantunan berbahasa pada anime Doraemon episode Dorakaguya, Tsuki ni Kaeru dan Ookami Otoko Kuriimu. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat. Hasil analisis data, ditemukan keseluruhan 26 data tindak tutur direktif, dengan rincian 15 data tindak tutur direktif perintah, lima data tindak tutur direktif ajakan, dua data tindak tutur direktif pemohonan, dua data tindak tutur larangan, dua data tindak tutur direktif saran dan nol data tindak tutur direktif izin. Kemudian, berdasarkan maksim dan skala kesantunannya terdapat 8 data yang dianggap santun. Total 18 data dianggap kurang santun mengingat anime Doraemon menceritakan mengenai kehidupan sehari-hari serta tokoh di anime tersebut mempunyai kedekatan personal yang sangat tinggi. Selaras dengan pendapat Leech, kedekatan antara penutur dan mitra tutur akan menimbulkan tuturan yang kurang santun, akan tetapi jika hubungan sosialnya tidak dekat maka tuturan tersebut dianggap santun.

Page 1 of 1 | Total Record : 5