cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
journal.pm.uinsuka@gmail.com
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta 55281, Indonesia.
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan
ISSN : 2580863X     EISSN : 25977768     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan (ISSN : (p) 2580-863X | (e) 2597-7768 ) is a peer-reviewed journal published and managed by Islamic Community Development, Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in collaboration with Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia (APSI) and Perkumpulan Pengembangan Masyarakat Islam (P2MI). This scientific journal specifically addresses findings, new methods, and research experiences on Muslim society development. This journal includes, but not limited to, research in social policy of development, community-based tourism, Islamic philanthropy of development, and Islamic community development. The journal has been indexed in DOAJ and accredited by the Indonesian Ministry of Research Technology and ranked Sinta 2 (second grade) by Science and Technology Index.
Arjuna Subject : -
Articles 250 Documents
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) Mandiri Bersama Bank Mandiri di Mrican Umbulharjo Novia Marwah
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.587 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-06

Abstract

Corporate social responsibility (CSR) is an important part of a company because in Indonesia there are laws that regulation of CSR. In addition to complying with the Act, CSR is also carried out because of the company’s awareness in assisting the country in alleviating poverty. One of the companies in the banking sector—Bank Mandiri—has a CSR program with empowerment, namely Mandiri Bersama Mandiri (MBM). This study attempts to describe the concept, implementation, and results of the MBM program conducted by Bank Mandiri in Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta. The results of this study indicate that the concept of Bank Mandiri’s CSR in the MBM program in broad outline is to build community independence through the utilization of local potential. The implementation of CSR carried out by Bank Mandiri through urban agriculture development programs, Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs), and the development of public facilities. Meanwhile, the results of physical empowerment are the creation of a clean and beautiful environment in Mrican, the realization of community meeting halls, increased cooking equipment for PKK mothers, savings in expenditure, and the creation of an increase in the community’s economy. Non-physical is the formation of public awareness, increased knowledge of the community, the formation of skilled mothers, and the creation of community independence.Corporate social responsibility (CSR) merupakan bagian penting dalam sebuah perusahaan, karena di Indonesia ada Undang-Undang (UU) yang mengaturnya. Selain untuk mematuhiUU, CSR dilakukan juga karena kesadaran perusahaan dalam membantu negara dalam mengentaskan kemiskinan. Salah satu perusahaan di sektor perbankan—Bank Mandiri—mempunyai program CSR dengan pemberdayaan, yaitu Mandiri Bersama Mandiri (MBM). Penelitian ini berusaha mendeskripsikan konsep, implementasi dan hasil dari program MBM yang dilakukan oleh Bank Mandiri di Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep CSR Bank Mandiri dalam program MBM secara  garis besar adalah membangun kemandirian masyarakat melalui  pemanfaatan potensi lokal. Implementasi CSR yang dilaksanakan oleh Bank Mandiri melalui program pengembangan pertanian perkotaan, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dan pengembangan fasilitas publik. Sementara, hasil pemberdayaannya secara fisik adalah terciptanya lingkungan bersih dan asri di Mrican, terwujudnya balai pertemuan warga, bertambahnya perlengkapan memasak ibu-ibu PKK, penghematan pengeluaran belanja, dan terciptanya peningkatan perekonomian masyarakat. Secara non-fisik adalah terbentuknya kesadaran masyarakat, bertambahnya pengetahuan masyarakat, terbentuknya ibu-ibu terampil, dan terciptanya kemandirian masyarakat.
Mengukur Kepuasan Masyarakat Pada Program CSR di Desa Kertajaya: Sebuah Analisis Menggunakan Metode Sustainability Compass Wahyu Eko Widodo; Sri Noor Cholidah; Anis Putri Isnaeni; Kamto Tri Wibowo; Erick Abriandi
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2019.031-02

Abstract

Kertajaya Village has a high unemployment problem. But the potential for growth is quite large because it is in the Ring I area of PT. Pertamina (Persero) TBBM Bandung. Correct if the CSR program called Kertajaya Creative Destination becomes a priority agenda. CSR programs must run well. Laterally with the main objectives of the Sustainability Development Goals (SDGs). This paper also describes the CSR program that has been consecutively in Kertajaya Village. The steps taken in unraveling the success of CSR programs through the analysis of the community satisfaction index. This paper finds that CSR programs that are running are considered positive by the community. Showed by the survey conducted for 18 beneficiaries had a final score of 3.48. This assessment is included in the “very good” category. This valuation is applied to 8 programs that have been successively, including the bag craftsmen group, the Eco-Blinder artisans group, West Bandung creative economy forum, Balai Seni Barli (BSB) tourism, Kertajaya youth clubs (karang taruna), Kertajaya culinary producers, Turban groups, and Masebajaya groups. After being analyzed using the sustainability compass method, there are two groups that need to be improved by the program, namely the Turban and Masebajaya groups. The sustainability compass method is used as an offer to stakeholders to follow up on the input generated from this paper. The main schemes studied are nature, economy, society, and well-being. As a dealectically, the main purpose of this paper is not as a discourse but rather a blue print of policy changes.Desa Kertajaya memiliki masalah pengangguran cukup tinggi. Namun potensi untuk berkembang cukup besar karena ada di wilayah Ring I PT. Pertamina (Persero) TBBM Bandung. Tepat jika program CSR bernama Kertajaya Creative Destination menjadi agenda prioritas. Program CSR harus berjalan dengan baik. Seiring dengan tujuan utama sasaran Sustainability Development Goals (SDGs). Paper ini juga mengurai program CSR yang sudah berjalan di Desa Kertajaya. Langkah yang ditempuh dalam mengurai keberhasilan program CSR melalui analisis indeks kepuasan masyarakat. Tulisan ini menemukan program CSR yang berjalan dinilai positif oleh masyarakat. Terbukti dengan survei yang dilakukan kepada 18 orang penerima manfaat memiliki skor akhir 3.48. Nilai ini masuk ke dalam kategori “sangat baik”. Penilaian ini diberlakukan kepada 8 program yang sudah berjalan, antara lain kelompok pengrajin tas, kelompok pengrajin Eco-Blinder, forum ekonomi kreatif Bandung Barat, wisata Balai Seni Barli (BSB), karang taruna Kertajaya, Produsen kuliner Kertajaya, kelompok Turban, dan kelompok Masebajaya. Setelah dianalisis menggunakan metode sustainability compass, ada dua kelompok yang perlu ditingkatkan program, yaitu kelompok Turban dan Masebajaya. Metode sustainability compass digunakan sebagai tawaran kepada stakeholder untuk menindaklanjuti masukan yang dihasilkan dari tulisan ini. Dengan skema utama yang dikaji adalah nature, economy, society, dan well-being. Secara dealektis, tujuan utama paper ini bukan sebagai diskursus tapi lebih tepat menjadi catatan blue print perubahan kebijakan.
Pasar Ekologis Sebagai Arah Pengembangan Tata Kelola Kelembagaan Badan Usaha Milik Desa Mardi Gemi di Desa Gari Gunungkidul Theresia Octastefani; Galih Prabaningrum; Lidwina Mutia Sadasri
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.593 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-01

Abstract

This research focuses on how to develop the institutional governance in Village-Owned Enterprises(known as BUM Desa)Mardi Gemi with one of its business units is Argo Wijil Ecological Market. The establishment of this ecological market is initiated by the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) through the Directorate General of Pollution Control and Environmental Degradation (DG PPKL) to restore the location of former illegal limestone mines and minimize the natural disasters risk that may result from environmental damage. In doing this research, we used qualitative research methods and for collecting data, we used in-depth interviews, observations, and literature study. The results of this study showed that in developing of institutional governance, the Government of Gari Village, the Manager of BUM DesaMardi Gemi, and market traders need to synergize further to formulate Market Standard Operational Procedures (SOP)to serve as guidelines for implementation this ecological market. This market also can realize the practice to create a friendly environment market atmosphere, moreover, it can be used to empower the community as well as to improve the community welfare. So, Argo Wijil Ecological Market can have a multiplier effect for all Gari Village community.Riset ini memfokuskan pada pengembangan tata kelola kelembagaan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa)Mardi Gemi dengan salah satu unit usahanya yaituPasar Ekologis Argo Wijil. Pembentukan pasar ekologis ini diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (Ditjen PPKL) untuk memulihkan lokasi bekas tambang illegal batukapur (gamping)milik rakyat dan meminimalisir risiko bencana alam yang mungkin terjadi akibat kerusakan lingkungan. Untuk itu, dalam kajian ini penulismenggunakan metode penelitian kualitatif dengan penggumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, danstudi literatur.Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa dalam pengembangan tata kelola kelembagaan, Pemerintah Desa Gari, Pengelola BUM Desa, dan pedagang pasar perlu bersinergi lebih lanjut untuk merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP)Pasar agar menjadi pedoman pelaksanaan. Selain itu, pasar ini dapat merealisasikan praktik pasar dengan suasana yang ramah lingkungan sekaligus menjadi media pemberdayaan masyarakat guna mendorong peningkatan kesejahteraan warga. Dengan demikian, Pasar Ekologis Argo Wijil dapat memberikan multiplier effectbagi seluruh masyarakat Desa Gari.
Merawat Tradisi Melestarikan Batik Lukis: Pengembangan SDM Melalui Program Capacity Building Remaja di Sanggar Kalpika Renita Rahmawati
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.616 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-07

Abstract

This study examines capacity building activities in preserving painting batik carried out by Sanggar Kalpika Tamansari Yogyakarta in 2018. The purpose of capacity building that has been studied, hopes to be an example for other communities. Basically, this study is the result of the development of capacity building activities carried out by Sanggar Kalpika to produce field data. In order for the resulting data to be tested for validity, I conducted a study through a qualitative approach. The process is to conduct interviews and observation studies to the actors of capacity building activities. Furthermore, the data studied was carried out by the process of data reduction, data display, and conclusion drawing. That way, this paper will explain about preparation, analysis, planning, implementation, and evaluation. An important indicator in the success of this activity is that cooperation and solidarity with each other are so strong that the work done can go according to plan. Even the support of surrounding communities who are not involved in the members though. On the other hand, I found weaknesses, namely the recruitment of members carried out only specifically for the Tamansari community. That way, the community outside Tamansari will not be able to get involved and know in detail about the activities carried out by the Sanggar Kalpika. This is due to the limited resources of the members and the increasing competition for batik painting. In addition, another prominent aspect is the recruitment of members. The membership recruitment process is not generally opened only for teenagers of Tamansari. This condition has an impact on the preservation of batik painting because of the shrinking interest of teenagers. The reason found by me, many teenagers after attending the training were not interested in participating in the advanced program because they chose to continue their studies in college.[Studi ini mengkaji kegiatan capacity building dalam melestarikan batik lukis yang dilakukan oleh Sanggar Kalpika Tamansari Yogyakarta pada tahun 2018. Tujuan capacity building yang telah dikaji, harapannya dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain. Pada dasarnya, kajian ini hasil pengembangan kegiatan capacity building yang dilakukan Sanggar Kalpika sehingga menghasilkan data lapangan. Agar data yang dihasilkan dapat diuji validitasnya, penulis melakukan kajian melalui pendekatan kualitatif. Adapun prosesnya dengan melakukan wawancara dan studi observasi kepada para pelaku kegiatan capacity building. Selanjutnya, data yang dikaji dilakukan proses reduksi data, display data, hingga penarikan kesimpulan. Dengan begitu, tulisan ini hendak menjelaskan tentang persiapan, analisis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Indikator penting dalam keberhasilan kegiatan ini adalah kerjasama dan solidaritas satu sama lain yang sangat kuat sehingga usaha yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Bahkan dukungan masyarakat sekitar yang tidak terlibat dalam anggota sekalipun. Di sisi lain, penulis menemukan kelemahan, yaitu rekrutmen anggota yang dilakukan hanya khusus masyarakat Tamansari. Dengan begitu, masyarakat luar Tamansari tidak akan dapat terlibat dan mengetahui secara detail tentang kegiatan yang dilakukan oleh Sanggar Kalpika. Hal ini disebabkan karena keterbatasan sumber daya anggota dan semakin meningkatnya persaingan usaha kerajinan batik lukis. Selain itu, aspek lain yang menonjol adalah rekruitmen anggota. Proses rekruitmen anggota tidak secara umum dibuka hanya diperuntukkan bagi remaja Tamansari. Kondisi ini berdampak pada pelestarian batik lukis karena semakin menyusutnya minat remaja. Alasan yang dijumpai penulis, banyak remaja pasca mengikuti pelatihan tidak tertarik mengikuti program lanjutan karena memilih untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.]
Islam Progresif dalam Gerakan Sosial Dawam Rahardjo (1942-2016) Ahmad Dafit
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.898 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.011-03

Abstract

The phenomenon of poverty and injustice that continues until now, making a lot of Muslim figures to think again about Islamic thought. The Indonesian Islamic figure, one of the serious discussions of this issue is M. Dawam Rahardjo—for instance, we called Dawam. Based on the problem, this study focuses on the concept of thinking and implementation of Progressive Islam Dawam by reviewing, analyze, and discussing his work with a historical sociological approach. This research is descriptive-analytical with the qualitative method which is reinforced through in-depth interview. The results show that Dawam’s thought is part of Progressive Islam. He accepted the reality of the modern world, such as pluralism, liberalism, and secularism, then embraced all three in the strengthening of religiosity in society. Dawam is one of the Islamic leaders who have contributed to social change. Implementation can be seen from various works that concern Islamic renewal and community empowerment. His attitude and behavior can be seen in the institutions he leads—LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat) and LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial). His criticism of the unjust political-economic order, accompanied by various solutions offered. Dawam’s idea in stemming the economic system that harms small people is the concept of cooperative development. Dawam chose the path of civil society and avoided political pragmatism. According to him, the Islamic struggle in the political path only tends to exploit religion for sectarian interests.Fenomena kemiskinan dan ketidakadilan yang masih berlanjut hingga saat ini, membuat banyak tokoh muslim berpikir ulang mengenai pemikiran keislaman. Tokoh Islam Indonesia, salah satu yang serius membincang persoalan ini adalah M. Dawam Rahardjo—selanjutnya Dawam. Berdasarkan soal tersebut, kajian ini fokus pada konsep pemikiran dan implementasi Islam Progresif Dawam dengan menelaah, mengkaji, dan membahas karyanya dengan pendekatan historissosiologis. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis dengan metode kualitatif yang diperkuat melalui wawancara mendalam. Hasilnya menunjukkan bahwa pemikiran Dawam bagian dari Islam Progresif. Ia menerima kenyataan dunia modern, seperti pluralisme, liberalisme, dan sekularisme, kemudian merengkuh ketiganya dalam penguatan keberagamaan di masyarakat. Dawam adalah salah satu tokoh Islam  yang memiliki andil dalam perubahan sosial. Implementasinya bisa dilihat dari berbagai karya yang concern pada pembaharuan Islam dan pemberdayaan masyarakat. Sikap dan perilakunya, dapat dilihat dalam lembaga yang ia pimpin—LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat) dan LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial). Kritiknya atas tatanan ekonomi politik yang tidak adil, diiringi dengan berbagai solusi yang ditawarkan. Gagasan Dawam dalam membendung sistem ekonomi yang merugikan rakyat kecil adalah konsep pembangunan koperasi. Dawam milih jalur civil society, dan menghindari pragmatisme politik. Menurutnya, perjuangan keislaman di jalur politik hanya cenderung mengeksploitasi agama untuk kepentingan sektarian.
Pemberdayaan Berbasis Partisipasi Masyarakat Melalui Program Kampung Ramah Anak di Badran Kota Yogyakarta Fahmi Rafika Perdana
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.222 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2019.031-08

Abstract

Social participation is a model of the community empowerment process. This is one of a direct program which is an impact on well-being improvement. This analysis was supported to explains community development basics of participation through Kampung Ramah Anak program in Badran Village of Yogyakarta City. Qualitative methods with collecting data of observation, in-depth interviews, and documentation are using as an interpretation of data. This study is seeking the program management it which isn’t optimality. This criterion has been founded by program continuing with early childhood education programs activity, Posyandu, and Bank Sampah. The activities have anomaly because it still depends to fund of government charity. After that can be analysis, an anomaly has been influencing society awareness lowly to follow the activities by participative. Besides, society has still had potential to grow up participation optimality, i.e. the potentiality is supporting by any group, community, and social institution. Otherwise, the society has had though, carrying attitude, and spirit part of citizenship to empowerment program. For the optimality of Badran society spirit is needs of the government to involving academics and non-government organizations. It is very important to building of development step and accompaniment that as a spirit of simultaneous. Furthermore, the people also creation of program innovation without big budgeting but right on target and useful.       Partisipasi masyarakat masih menjadi model pelaksanaan pemberdayaan, terutama program yang berkaitan dengan kesejahteraan anak. Analisis inilah yang mendorong peneliti untuk mengkaji pelaksanaan pemberdayaan berbasis partisipasi masyarakat melalui program “Kampung Ramah Anak” di Badran Rukun Warga 11 Kota Yogyakarta. Metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi digunakan sebagai bahan analisa. Hasil studi ini menunjukkan bahwa pengelolaan program tersebut berjalan kurang maksimal. Kriteria ini dibuktikan dengan berjalannya program inti seperti kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini, Posyandu, dan Bank Sampah. Namun kegiatan inti tersebut mengalami anomali karena masih begantung pada bantuan dana pemerintah. Setelah dianalisis, anomali disebabkan masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengikuti kegiatan secara partisipatif. Meskipun demikian, masyarakat masih memiliki potensi untuk lebih optimal dalam berpartisipasi, yaitu didukung oleh banyaknya kelompok, komunitas, dan kelembagaan masyarakat yang ada. Disamping itu, masih terdapat potensi pemikiran, sikap kepedulian, dan semangat sebagian masyarakat terhadap program pemberdayaan. Untuk mengoptimalkan pemberdayaan partisipatif masyarakat Badran, pemerintah perlu melibatkan peran akademisi dan swasta. Hal ini penting sebagai stimulan untuk membangun step pemberdayaan dan pendampingan. Selain itu, masyarakat juga hendaknya menciptakan inovasi program tanpa pendanaan besar atau low budgeting namun tepat sasaran dan bermanfaat.
Peningkatan Kesadaran Pelajar dengan Edukasi Konservasi Lingkungan Hidup di Sekolah Menengah Kejuruan Kesehatan Kharisma Bahtiar Efendi
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2019.032-04

Abstract

This article try to testing the education of conservation living environment program to increase students’ awareness in the Kharisma vocational high school, Tanggerang. The research uses a quantitative-experiment method with the analysis of pre-test, post-test, and follow-up. The result is showing the Chi-square score 74,171 (p<0,0001), the context is identification that the education of environmental conservation program for sustainable livelihood can be increasingly of students’ awareness. It was observed with the students’ concern might influenced by awareness factors from early to treat the living environment. The participation in the conservation of environment program has implemented in the school, it is the urgency for sustainability who useful for students’ skills in the job area for the future. The student of participation can be important factors to grow an empathy of the environment. This condition of environment more awful has influenced exploitation activity conducted by factories.Tulisan ini berusaha menguji edukasi program konservasi lingkungan hidup dalam meningatkan kesadaran siswa di Sekolah Menengah Kejuruan Kesehatan Kharisma Tanggerang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif-eksperimen dengan menguji pretest, posttest, dan follow up. Hasil analisis menunjukkan skor Chi-square sebesar 74,171 (p<.0001) mengindikasikan bahwa edukasi program konservasi lingkungan hidup terbukti dapat meningkatkan kesadaran siswa. Hal ini terpantau dengan kepedulian siswa dapat dipengaruhi oleh faktor kesadaran sejak dini untuk merawat lingkungan sekitar. Partisipasi dalam konservasi lingkungan yang diimplementasikan di lingkungan sekolah merupakan urgensi kelestarian yang berguna bagi siswa di dunia pekerjaan. Partisipasi siswa dalam hal tersebut menjadi faktor terpenting untuk menumbuhkan rasa empati terhadap lingkungan. Kondisi lingkungan saat ini semakin memburuk akibat kegiatan eksploitasi yang dilakukan oleh banyak perusahaan.
“Qoryah Thoyyibah” Sebagai Model Filantropi Islam di Kampung Maguwo Banguntapan Naili Isnawati Sayida
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.104 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2019.031-09

Abstract

The movement of fund collection for well-being influences to community development. But public awareness to successfully of these activities is still a weakness because the distribution is more independently. The objective of this article is exploring the role of program Qoryah Thayyibah on the Al-Muthi’in Foundation with philanthropy movement and community empowerment strategy in Kampung Maguwo Banguntapan Bantul. The descriptive-qualitative method used to looking reality until we find different between desire and fact on Qoryah Thayyibah program. Furthermore, collecting data used participant observation and in-depth interviews. The finding of this article looks at collecting to fund philanthropy regularly direct and indirect fundraiser. The direct is carried through a “door to door” program to find donors. Meanwhile, indirect through the program is a new enterprise established, i.e. founding of home production through collection commodity for sale. Their model is a charity to actualizing social justice. Therefore, philanthropy funds used to education, health, economic development, and da’wah (religious) activities. On the other hand, the philanthropy funds program is influencing to improve the ability of personality, enterprise, and institution capacity.Gerakan pengumpulan dana untuk kesejahteraan (filantropi) berdampak signifikan terhadap pengembangan masyarakat. Namun kesadaran masyarakat untuk mensukseskan gerakan tersebut masih lemah, sehingga distribusi pengelolaan lebih banyak secara mandiri. Untuk membuktikannya, artikel ini berusaha mengungkap peran program Qoryah Thayyibah Yayasan Al-Muthi’in dalam pola gerakan filantropi dan strategi pemberdayaan di Kampung Maguwo Banguntapan Bantul. Penelitian kualitatif deskriptif dipilih untuk menggambarkan realita secara mendalam sehingga terlihat perbedaan antara keinginan dan kenyataan dalam pelaksanaan program Qoryah Thayyibah. Selain itu, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah participant observation dan in-depth interview. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat strategi yang dimiliki yayasan dalam penggalangan dana filantropi, yakni pengumpulan dana secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dilakukan melalui mekanisme “door to door” mencari donatur tetap. Sementara tidak langsung melalui program Qoryah Thayyibah dengan membangun usaha baru, yaitu mendirikan rumah produksi melalui pengumpulan barang yang layak jual dari masyarakat. Kedua strategi ini dapat dikatakan sebagai model karitas untuk mewujudkan keadilan sosial. Hasil pendayaangunaan dana filantropi tersebut digunakan untuk kegiatan pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi, dan dakwah (keagamaan). Sisi lain, program pendayagunaan dana filantropi ini berdampak pada peningkatan kapasitas kepribadian, usaha dan kelembagaan.
Gerakan Literasi Digital: Studi Pemberdayaan Pemuda Melalui Program Sistem Informasi Potensi Kreatif Desa di Kulonprogo Eka Zuni Lusi Astuti
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.947 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2019.032-05

Abstract

This paper aims to describe the implementation of the Sipkades (Sistem Informasi Potensi Kreatif Desa) carried out by the YouSure Community Service (YouSure), Faculty of Social dan Political Sciences Universitas Gadjah Mada team in Brosot Village, Galur District, and Sidorejo Village, Lendah District, Kulon Progo Regency, Daerah Istimewa Yogyakarta. This resesearch use a qualitative method based on community-based research approach. This paper emphasizes several things as a finding of the research. First, youth empowerment in the social, cultural and economic fields needs to be supported by digital literacy. Second, digital literacy skills can contribute to village development through the use of the internet. In this digital age, youth cannot be separated from digital technology that needs to be adaptive. If it does not support digital literacy skills, digital technology brings a bad effect on youth. Sipkades try to empower youth digital literacy so that they are asked to build their villages through the use of digital technology. Using community empowerment strategies by community-based resources management approach, Sipkades encourages young people to optimize their village resources and promote it through the internet—the slogan is thinking globally, act locally. Youth is a potential resource in development. However, youth can be toxic as a substitute for various social deviations or tonics as agents of change in development. Youth has a pioneering in the village.Tulisan ini berusaha mendeskripsikan implementasi Sipkades (Sistem Informasi Potensi Kreatif Desa) yang dilaksanakan oleh Tim Pengabdian Masyarakat Youth Studies Centre (YouSure), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada, di Desa Brosot, Kecamatan Galur, dan Desa Sidorejo Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Community Based Research. Tulisan ini menekankan pada dua aspek penting sebagai temuan penelitian. Pertama, pemberdayaan kepemudaan di bidang sosial, budaya dan ekonomi perlu disertai dengan gerakan literasi digital. Kedua, keterampilan literasi digital pemuda dapat berkontribusi pada pembangunan desa melalui penggunaan internet. Pada era digital ini, pemuda tidak dapat terlepas dari teknologi informasi yang perlu adaptif. Program Sipkades berupaya memberdayakan pemuda agar mengerti dunia digital sehingga dapat berpartisipasi untuk membangun desa melalui pemanfaatan teknologi informasi. Menggunakan startegi pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan pengelolaan sumberdaya berbasis komunitas, Sipkades berupaya mendorong pemuda supaya mampu mengenali potensi lokal desa—slogan yang tepat “think globally, act locally.  Pemuda merupakan sumber daya potensial dalam pembangunan. Namun demikian, pemuda dapat menjadi toxic sebagai pelaku berbagai penyimpangan sosial atau tonic sebagai agen perubahan dalam pembangunan. Pemuda harus menjadi pelopor perubahan di desa.
Penataan Kawasan Sungai Winongo Berbasis Partisipasi Masyarakat di Pakuncen Yogyakarta Wahidatul Rizqi Firianti
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2019.031-10

Abstract

All major cities have slums located on the river. During this time the arrangement of slums was directly carried out by the government. But the results were often rejected because it isn't under the conditions of the community. This condition was pushed new concepts of the planning residential on the river are based on participation. The fact also made me discuss the process and implication of the arrangement residential Winongo River in Pakuncen Yogyakarta based on participation. This research is using a phenomenology approach. The data collected through the interview and observation process. The process of the arrangement River area is six steps, namely assessment, planning, lobbying, implication, monitoring, and evaluation. This study was founded that the arrangement River based on participation is implicated positively. The implication is seeking the change on environmental, attitude, and awareness of societies to kept habitation more than beautiful. In the other aspect, this activity was a growth cooperation spirit and the people of increase economic. However, the arrangement of the Winongo river area was still found by some adolescent making the location of the riverbank an unproductive gathering place. This event is considered able to disturb society because it is not following social norms. This condition needs counseling for the adolescent who are in puberty.Hampir semua kota besar mempunyai permukiman kumuh yang berada di kawasan bantaran sungai. Selama ini penataan kawasan kumuh langsung dilakukan oleh pemerintah tapi hasilnya tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kondisi semacam ini mendorong konsep baru dalam penataan kawasan sungai dengan berbasis partisipasi masyarakat. Fakta ini mendorong peneliti untuk mendiskusikan proses dan implikasi penataan kawasan Sungai Winongo di Pakuncen Yogyakarta berbasis partisipasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui proses wawancara dan observasi. Proses penataan kawasan ini melalui enam tahap, yakni assassment (identifikasi masalah), perencanaan, lobbying, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi. Studi ini menemukan bahwa progam penataan kawasan sungai berbasis partisipasi mayarakat berimplikasi positif. Implikasi penataan tersebut terlihat dalam perubahan kondisi fisik (lingkungan), perubahan perilaku masyarakat, dan kesadaran masyarakat untuk menjaga permukiman yang lebih asri. Pada aspek lain, kegiatan tersebut dapat menumbuhkan semangat gotong royong dan peningkatan ekonomi masyarakat. Namun demikian, penataan kawasan sungai Winongo masih ditemukan sebagian remaja menjadikan lokasi bantaran sebagai ajang berkumpul yang tidak produktif. Ajang ini dianggap dapat meresahkan masyarakat karena tidak sesuai dengan normal sosial. Kondisi ini perlu ada pendampingan khusus kepada remaja yang berada pada masa pubertas.

Page 10 of 25 | Total Record : 250