cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
journal.pm.uinsuka@gmail.com
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta 55281, Indonesia.
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan
ISSN : 2580863X     EISSN : 25977768     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan (ISSN : (p) 2580-863X | (e) 2597-7768 ) is a peer-reviewed journal published and managed by Islamic Community Development, Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in collaboration with Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia (APSI) and Perkumpulan Pengembangan Masyarakat Islam (P2MI). This scientific journal specifically addresses findings, new methods, and research experiences on Muslim society development. This journal includes, but not limited to, research in social policy of development, community-based tourism, Islamic philanthropy of development, and Islamic community development. The journal has been indexed in DOAJ and accredited by the Indonesian Ministry of Research Technology and ranked Sinta 2 (second grade) by Science and Technology Index.
Arjuna Subject : -
Articles 248 Documents
Profil dan Kinerja Usaha ‘Mindring’ di Sektor Informal: Studi Eksplorasi tentang Kisah Perantau Kuningan di Godean Sleman Yogyakarta Ipah Susepah
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.569 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-05

Abstract

This article aims to examine the profile and performance of Mindring enterprise in the informal sector, especially the Kuningan migrants in Padukuhan Pandean VII Sidoluhur, Godean, Sleman, Yogyakarta. In this paper, the study is the development of the results of research using qualitative methods. Reports are prepared using descriptive-narrative methods, resulting in a deep story with an exploration of Mindring enterprise activists. Mindring is the sale of goods by means of credit. This transaction is favored by someone who is not enough money to get the desired item. Actors of Mindring like to provide convenience to their customers. It gives credit for various items needed by customers with a flexible payment system, such as letting customers make installments as best they can, occasionally customers are allowed not to pay installments in installments. Because it is natural, this Mindring business actor is often labeled as a helping angel by his customers. The flexibility of this payment system is actually a method of attracting customers not to run away from their business circles. They realize that increasing enterprise competition is a threat that must be faced, and cannot be avoided. Therefore, good performance is needed for the enterprise of Mindring to mind that their business will continue, and the relationship between harmony with customers also can be increased.     Artikel ini hendak mengkaji mengenai profil dan kinerja usaha Mindring di sektor informal, khususnya para perantau Kuningan yang ada di Padukuhan Pandean VII Sidoluhur Godean Sleman Yogyakarta. Studi pada kajian ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian yang menggunakan metode kualitatif. Laporan disusun menggunakan cara deskriptif-naratif, sehingga menghasilkan cerita yang mendalam dengan eksplorasi para pegiat usaha Mindring. Mindring adalah penjualan barang dengan cara kredit. Transaksi ini digemari oleh seseorang yang tidak cukup uang demi mendapatkan sebuah barang yang diinginkan. Pelaku Mindring suka memberi kemudahan kepada pelanggannya. Dia memberikan kredit berbagai barang yang dibutuhkan pelanggan dengan sistem pembayaran yang luwes, seperti membiarkan pelanggan memberikan angsuran semampunya, sesekali pelanggan diperbolehkan untuk tidak menyicil angsurannya. Karena itu wajar, pelaku usaha Mindring ini sering diberi label sebagai sosok malaikat penolong oleh para pelanggannya. Keluwesan sistem pembayaran ini sesungguhnya adalah sebuah metode menarik pelanggan agar tidak lari dari lingkaran bisnisnya. Mereka menyadari bahwa meningkatnya persaingan usaha merupakan sebuah ancaman yang mesti harus dihadapi, dan tidak dapat dihindarkan. Karena itu, dibutuhkan kinerja yang baik bagi pelaku usaha mindring agar usahanya tetap berjalan dan hubungan harmoni dengan pelanggan terus meningkat.
Toleransi Tanpa Batas: Outlook Agamawan dan Kebijakan Migrasi Suku Batak Kristen ke Pedalaman Duri Bengkalis Hamdan Daulay
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2019.031-01

Abstract

This study explores the concept of policy that needs to be implemented by the government in counteracting of religious intolerance. Based on the factors of population equality and economic prosperity, the government must be regarding the socio-religious aspect of the migration program in the interior of Duri Bengkalis, Riau. In order to realize the ideals of national social development, the portrait of the process of migrating Christian Bataks’ to the interior of Duri must be an outlook for the social conflicts that occur. Highlighting the case of intolerance between Christian Bataks’ and Malay Muslim tribes Duri is important to be contextually examined through a research approach. As a literacy for developing unlimited tolerance in the frame of pluralism, it is very appropriate if this study is analyzed using the perspective of the sociology of development. The process of developing through a migration program, I take field data through qualitative research. The data source was taken directly to the informant with the snowball sampling technique. After the data were analyzed by the process of data reduction, data display, and conclusion, I found that government policy was not optimal in accommodating the migration program. There are still occur caused by the inferior of people for the meaning of pluralism. Although in general, the community has lived up to the philosophy of Pancasila, these implications are lowly in everyday life. Efforts to reduce conflicts that occur in Bengkalis, the government needs to develop a roadmap for policies on religious dialogue. Religious harmony is very important. It is impossible to realize tolerance without limits if the supporting instruments are not a priority agenda. Especially in areas prone to an inter-religious conflict which are actually caused by economic disparity and political oligarchy.Studi ini bertujuan menjelaskan tentang konsep kebijakan yang perlu diterapkan oleh pemerintah dalam menangkal intoleransi beragama. Selain faktor pemerataan penduduk dan kesejahteraan ekonomi, penting kiranya pemerintah memperhatikan aspek sosialkeagamaan atas kasus migrasi yang terjadi di pedalaman Duri Bengkalis, Riau. Agar cita-cita pembangunan sosial secara nasional dapat terwujud, potret proses migrasi suku Batak Kristen ke pedalaman Duri harus menjadi outlook dalam menyusun kebijakan tanpa menimbulkan konflik sosial. Menyoroti kasus intoleransi antara suku Batak Kristen dan Muslim Melayu Duri menjadi penting untuk ditelaah secara kontekstual melalui pendekatan riset. Sebagai acuan mengembangkan toleransi tanpa batas dalam bingkai pluralisme, kajian ini dianalisis menggunakan perspektif sosiologi pembangunan. Proses pembangunan bangsa melalui program migrasi, penulis mengambil data lapangan melalui penelitian kualitatif. Sumber data diambil langsung kepada informan dengan teknik snowball sampling. Setelah data dianalisis dengan proses reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan, penulis menemukan belum optimalnya kebijakan pemerintah dalam mengakomodir program migrasi. Hal utama yang menjadi pemicunya adalah masih rendahnya masyarakat memahami makna pluralisme. Walaupun secara umum masyarakat sudah menghayati falsafah Pancasila, tetapi masih rendahnya implikasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Upaya meredam konflik yang terjadi di Bengkalis, pemerintah perlu menyusun roadmap kebijakan tentang dialog agama. Kerukunan agama sangat penting ditegakkan. Mustahil dapat mewujudkan sikap toleransi tanpa batas jika instrumen pendukungnya bukan menjadi agenda prioritas. Terutama di daerah-daerah yang rawan konflik antar umat beragama yang sejatinya disebabkan oleh faktor kesenjangan ekonomi dan oligarki politik.
Pendampingan Bank Sampah Melati Bersih Berbasis Pemberdayaan Bagi Masyarakat Urban Muhtadi Muhtadi
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.966 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.012-01

Abstract

Problems of waste management in urban areas requires the participation of public awareness. Community or residents can participate in managing the garbage, especially in their respective environments. Citizens can change the behavior of earlier indifference turns to participate in managing the waste problem. The waste problem is not only the responsibility of governments, and but requires the participation of the broadest community to also find solutions to manage waste from the source of the problem into something more beneficial both economically and environmentally the type of research is descriptive research with quantitative approach. This research was conducted at the Bank Sampah Melati Bersih (an organization community) in South Tangerang City. This study population is a member of the Bank Sampah Melati Bersih in South Tangerang City. The sample in this research were 30 people who manage trash in housing. Processing data using Spearman correlation test analysis. The results of the research are (1) characteristics of individuals relate to real behavioral changes in trash management in a residential neighborhood. (2) Trash companion role of Bank Sampah Melati Bersih tangible associated with behavioral changes in waste management in a residential neighborhood. Problematika tentang pengelolaan sampah di perkotaan memerlukan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi. Masyarakat atau warga dapat ikut mengelola sampah terutama di lingkungan masing-masing. Warga masyarakat dapat mengubah perilakunya dari tadi masa bodoh berubah untuk ikut mengelola permasalahan sampah. Permasalahan sampah tidak hanya tanggung jawab pemerintah dan tetapi menuntut partisipasi masyarakat seluas-luasnya untuk juga mencari solusi dalam mengelola sampah dari sumber masalah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat baik secara ekonomis maupun lingkungan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.. Penelitian ini dilakukan pada Bank Sampah Melati Bersih di Kota Tangerang Selatan.  Populasi penelitian ini adalah anggota Bank Sampah Melati Bersih di Kota Tangerang Selatan. Sampel penelitian adalah 30 warga yang mengelola sampah di perumahan. Pengolahan data dengan menggunakan analisis uji korelasi Spearman. Hasil penelitiannya: (1) karakteristik individu berhubungan nyata dengan perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah di lingkungan perumahan. (2) peran pendamping dari Bank Sampah Melati Bersih berhubungan nyata dengan perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah di lingkungan perumahan.
Pengelolaan Sentra Industri Kerajinan Blangkon dan Efeknya Bagi Masyarakat Kampung Bugisan Lisa Indrawati
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.074 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-06

Abstract

Kampung Bugisan in town of Yogyakarta is an area that is quite well-known as the center of the Blangkon craft industry. However, there is an assumption that the local government has not wholeheartedly provided an affirmative program for crafts that have long been carried out by the community. Through the absurd basic assumptions, this article would like to describe the management of the Blangkon craft industry center and its effect on the lives of the people of Kampung Bugisan. Because this article is a development of field research, I tries to narrate the facts using a qualitative approach. Data collection techniques are carried out by interview, observation and documentation. All data are seen as validity of the data and analyzed through the process of reduction data, display data, and conclusion drawing. The results of this study indicate that the emergence of the center of the Blangkon craft industry in Kampung Bugisan originated from individuals who later developed into group activities. The raw materials used are Batik cloth, drill cloth, cardboard paper or ‘kloso’, sewing thread and patchwork. The production process through several stages including preparing materials and tools, making ‘congkeng’, mewiru, making Blangkon or mblangkon, and finishing. The marketing of Blangkon handicrafts in Kampung Bugisan is done by selling at Beringharjo Market, and with online media. The positive impact of the Blangkon business in Kampung Bugisan is the creation of jobs, absorbing workers, the emergence of new craftsmen, and increasing income. But there is also another aspect that might be a challenge for the activists of the Blangkon craft industry, which is creating increasingly fierce competition and changing people’s lifestyles.[Kampung Bugisan Kota Yogyakarta merupakan kawasan yang cukup terkenal sebagai sentra industri kerajinan Blangkon. Namun ada asumsi yang muncul bahwa pemerintah daerah belum sepenuh hati memberikan afirmatif program bagi kerajinan yang sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat. Melalui asumsi dasar yang absurd maka artikel ini hendak mendeskripsikan pengelolaan sentra industri kerajinan blangkon dan efeknya bagi kehidupan masyarakat Kampung Bugisan. Oleh karena artikel ini pengembangan dari penelitian lapangan, penulis mencoba menarasikan fakta yang ada dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Semua data dilihat validitas datanya dan dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa munculnya sentra industri kerajinan Blangkon di Kampung Bugisan berawal dari individu yang kemudian berkembang menjadi kegiatan kelompok. Bahan baku yang digunakan adalah kain batik, kain drill, kertas karton atau kloso, benang jahit dan kain perca. Proses produksinya melalui beberapa tahap diantaranya menyiapkan bahan dan alat, membuat congkeng, mewiru, membuat blangkon atau mblangkon, dan finishing. Pemasaran kerajinan blangkon di Kampung Bugisan dilakukan dengan menjual di Pasar Beringharjo, dan dengan media online. Dampak positif adanya usaha Blangkon di Kampung Bugisan adalah terciptanya lapangan pekerjaan, menyerap tenaga kerja, munculnya pengrajin baru, dan meningkatkan penghasilan. Namun juga ada aspek lain yang kiranya menjadi tantangan bagi para pegiat industri kerajinan Blangkon, adalah menciptakan persaingan semakin ketat dan mengubah gaya hidup masyarakat.]
Pemberdayaan Difabel Melalui Asset Based Approach: Studi Kasus di Dusun Piring Desa Srihardono Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul Oleh Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (RTPD) Iffatus Sholehah
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.906 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.011-09

Abstract

Empowerment is one of the development strategy related to improving creativity. Empowerment of the disabled is a process in which disabled is given the knowledge and skills training to be more independent. The aims of this study is to describe the empowerment given to the disabled, in this case, its described on the Integrated Rehabilitation of Persons with Disabilities (RTPD) in Pundong Subdistrict, Bantul Regency. This research uses a qualitative descriptive method. An instrument of data collection is by interview and observation supported by library data. This disabled empowerment is analyzed through Asset-Based Approach. The findings in the field indicated that the empowerment of disabled in RTPD is already good enough. Disabled who had graduated from RTPD can be independent and more confident to face their life.Pemberdayaan merupakan salah satu strategi pembangunan untuk meningkatkan kreatifitas. Pemberdayaan difabel adalah proses di mana difabel diberikan pengetahuan dan pelatihan keterampilan untuk hidup mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pemberdayaan yang diberikan kepada difabel, dalam hal ini pada Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (RTPD) di Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan wawancara  dan observasi yang didukung studi kepustakaan. Pemberdayaan difabel ini dianalisis melalui Asset Based Approach. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa pemberdayaan difabel di RTPD sudah cukup baik. Difabel yang sudah lulus dari RTPD dapat mandiri dan lebih percaya diri.
Pengembangan Inklusifitas Bagi Difabel Melalui Dakwah dalam Kerangka Filosofis Islam Kontemporer Paulus Eko Kristianto
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.043 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.012-06

Abstract

Before we are speaking of da’wah, the author departs from two questions; (1) How does the text of the Qur'an, hadith, and Islamic traditions and literature perceive disabilities? (2) How do Muslim societies view and treat disabilities? These two questions are reflected in the light of contemporary Islamic philosophy. The result of reflection is expected to be internalized in the contemplation of da'wah. For the writer, da'wah is a vital means of communicating the results of reflection that is evocative, inviting, and developing the listener. Of course, all are done with the paradigm of inclusiveness (friendly and non-discriminatory for the disabled). Why are that? Through this step, the community is expected to be an open social change agent and work together to develop disability justice. The problem is what kind of da'wah model is developed? The author proposes a participatory reflective model that goes beyond informative processing. The model is packed with listeners invited directly to the real problem of distraction, thinking, and getting involved. This involvement becomes a realization of solidarity that has moved from a charitable spirit to transformative through the creation of accessibility, mainstreaming of dysfunction, empowerment, and policy advocacy. All are possible if we are together willing to reinterpret the sacred texts, educate the public on the right of disability, and place disabled persons as partners in all their related work and activities. In this case, the partner means involving the disabled in making decisions that affect them so as not only as beneficiaries but also agents of change.Sebelum berbicara da’wah, penulis berangkat dari dua pertanyaan; (1) Bagaimana teks Alquran, hadis, serta tradisi dan literatur Islam memandang difabilitas? (2) Bagaimana masyarakat Muslim memandang dan memperlakukan difabel? Dua pertanyaan tersebut direfleksikan dalam terang filsafat Islam kontemporer. Hasil refleksi tersebut diharapkan terinternalisasi dalam perenungan dakwah. Bagi penulis, dakwah merupakan sarana vital dalam mengkomunikasikan hasil refleksi yang bersifat menggugah, mengajak, dan mengembangkan pendengar. Tentunya, semua dilakukan dengan paradigma inklusifitas (ramah dan non-diskriminatif bagi difabel). Mengapa demikian? Melalui langkah ini, masyarakat diharapkan menjadi agen perubahan sosial yang terbuka dan bekerja sama mengembangkan keadilan difabel. Masalahnya, model dakwah apa yang dikembangkan? Penulis mengajukan model reflektif partisipatif yang melampaui pemrosesan informatif. Model tersebut dikemas dengan pendengar diajak terjun langsung dalam persoalan nyata difabilitas, memikirkan, dan terlibat menyelesaikannya. Keterlibatan ini menjadi wujud nyata solidaritas yang telah beranjak dari semangat karitatif kepada transformatif melalui penciptaan aksesibilitas, pengarusutamaan difabilitas, pemberdayaan, dan advokasi kebijakan. Semua dimungkinkan terwujud apabila kita bersama bersedia melakukan penafsiran ulang terhadap teks suci, mengedukasi masyarakat tentang hak difabilitas, dan menempatkan difabel sebagai partner dalam semua kerja dan aktivitas terkait mereka. Dalam hal ini, partner berarti melibatkan difabel dalam membuat keputusan-keputusan yang memberikan pengaruh pada mereka sehingga tidak hanya sebagai penerima manfaat tetapi agen perubahan.
Kebijakan Negara dalam Mengakomodir Agama Pribumi Perspektif Sosial-Antropologi Abd Aziz Faiz
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.216 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-01

Abstract

Indonesia as a multicultur state has accommodating and acknowledged the existence of indigenous religions with other names, Penghayat Kepercayaan (belivers of mystical gorup), even its position now equivalent to six religions recognized by the state, but in the context of practical services it needs to be investigated further. Unfortunately, the state has not used the definition of religion social-anthropologically yet, it uses a biased politically definition. The implication is that the state see indigenous religion as not religion. This led to the need for religiousization of it followers which led to the conflicts of mission from six world religions. Because of this, indigenous religions experienced conflict with the state, in the same time it also conflict with six world religions. Their position was finally squashed, therefore the recommendations of this paper looked at the need for Penghayat Kepercayaan to be placed in the Ministry of Religion by forming the BIMAS Penghayat Kepercayaan, at least the country put indigenous religion important and equivalent with six world religions.Indonesia sebagai negara multikultur telah mengakomodir dan mengakui eksistensi agama pribumi dengan nama lain yaitu Penghayat Kepercayaan, dan bahkan kedudukannya setara dengan agama besar, meski dalam konteks pelayanan praktis perlu diteliti lebih jauh. Sayangnya hinga saat ini negara belum menggunakan definisi agama secara sosial-antropologis, tetapi menggunakan definisi yang bias politik kekuasaan. Implikasinya adalah negara memandang agama pribumi bukan agama. Hal ini membawa perlunya agamaisasi pengikut agama pribumi yang menimbulkan konflik misi dari agamaagama besar. Karena itu, agama pribumi mengalami konflik dengan negara, juga dengan agama-agama besar sekaligus. Posisi mereka akhirnya serba terjepit, karena itu rekomendasi tulisan ini memandang perlu Penghayat Kepercayaan diletakkan di Kementerian Agama dengan membentuk BIMAS Penghayat Kepercayaan, setidaknya dengan demikian negara meletakkan agama pribumi penting dan setara dengan agama besar lainnya.
Program Pemberdayaan ‘Sedekah Pohon Pisang’: Peran Karang Taruna di Desa Gandri Lampung Selatan Ageng Widodo
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.573 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.011-01

Abstract

Empowerment is an activity with aims to making, building and increasing life skill of the community. Hence, empowerment has been focus independent, which looking at the potentiality of the rural community. The means of rural potential, in this topic, it is Desa Gandri. The rural is one of an area in the Penengahan District of East Lampung, which have potential natural resource if looking at from the aspect of land and growing up of the plants. So that, based on the potential in Desa Gandri, this research will describe the community of empowerment program, namely ‘Sedekah Pohon Pisang’ conducted by Karang Taruna. This research uses the qualitative method in character descriptive with recruiting informant through purposive sampling or snowball technique. The results of the study show some of the implementations in the empowerment program, as follows: (1) Karang Taruna survey and record banana trees, (2) Karang Taruna is measured the boundary of plot, (3) Karang Taruna have done cultivate and maintain, and (4) Karang Taruna is a control until harvest. After the harvesting, Karang Taruna market banana to produce money. From the funds including the alms, then established a community empowerment programs with creative economic training. This training activity is conducted to head house and mothers. In addition, the programs which focus on outstanding teenagers is called Remaja Sehat Berprestasi (RSH), making the community with providing the public speaking training.Pemberdayaan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk membentuk, memandirikan, dan meningkatkan kemampuan (life skill) masyarakat. Salah satu pemberdayaan yang fokus kemandirian dengan melihat potensi masyarakat pedesaan. Potensi pedesaan yang dimaksud, dalam kajian ini, adalah Desa Gandri. Desa ini merupakan salah satu kawasan di kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, yang memiki potensi sumber daya alam subur bila dilihat dari aspek kondisi tanah dan tingkat kesuburan tanaman. Dengan demikian, melihat potensi di Desa Gandri, penelitian ini mencoba mendeskripsikan program pemberdayaan masyarakat ‘Sedekah Pohon Pisang’ yang dilakukan oleh organisasi kepemudaan—Karang Taruna. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif dengan merekrut narasumber melalui teknik purposive sampling atau snowball. Hasil kajian menunjukkan beberapa pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat, antara lain: (1) tahapan pertama, Karang Taruna melakukan survei dan mendata pohon pisang, (2) Karang Taruna mengukur batas petak, (3) Karang Taruna melakukan penanaman dan perawatan, dan (4) Karang Taruna melakukan control hingga bisa pada tahap panen. Setelah hasil panen terlihat, peran Karang Taruna kemudian memasarkan pohon pisang, hingga menghasilkan pundi-pundi uang. Dari hasil pengumpulan dana yang bersifat sedekah, maka dibentuklah program pemberdayaan masyarakat dengan pelatihan ekonomi kreatif. Kegiatan pelatihan ini dilakukan kepada kepada rumah tangga dan ibu-ibu. Selain itu, program yang fokus bagi remaja berprestasi, dinamakan Remaja Sehat Berprestasi (RSH), membentuk komunitas dengan memberikan pelatihan public speaking (cara berpidato).
Pemberdayaan Kelompok Ternak Kambing “Satwa Makmur” Melalui Program CSR PT. PLN (Persero) di Desa Tubanan Ahmad Kharis; Mutrofin Mutrofin
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2019.031-05

Abstract

This article will examines the implementation of partnerships between corporations and community groups through the CSR empowerment program of PT. PLN (Persero) Unit Induk Pembangkitan Tanjung Jati B in Tubanan Village. This study used a descriptive qualitative approach. The data source from field studies, observations, interviews and theoretical research studies that has been done and relevant to the problems raised. The research shows that there are two patterns in increasing community empowerment it’s by increasing human capacity and increasing environmental capacity. Through this paper, it will be very useful to understand how to empower communities through livestock groups and foster motivational empowerment for increasingly of social welfare.Artikel ini mengkaji tentang pelaksanaan kemitraan antara korporasi dengan kelompok masyarakat melalui program pemberdayaan CSR PT. PLN (Persero) Unit Induk Pembangkitan Tanjung Jati B di Desa Tubanan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diambil dari studi lapangan, observasi, wawancara serta kajian teoritis dengan penelitian yang pernah dilakukan dan relevan dengan permasalahan yang dikemukakan. Temuan penelitian menunjukan bahwa ada dua pola dalam meningkatkan keberdayaan masyarakat, yaitu melalui peningkatan kapasitas manusia dan peningkatan kapasitas lingkungan. Melalui tulisan ini akan sangat berguna untuk memahami bagaimana cara memberdayakan komunitas melalui kelompok ternak dan menumbuhkan motivasi pemberdayaan bagi peningkatan kesejahteraan sosial.
Gerakan Sosial dan Nalar Islam Progresif: Mencari Titik Temu Kerangka Metateori Ahmad Izudin
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.91 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.012-04

Abstract

This article will examine how progressive Islam’s reasoning can be a reference to free human beings from the exploitation and domination of social class? So what social movements can we do in the midst of crush the nation’s problems related to the exploitation of natural resources that increasingly vine? From this point on, I hope to get a meta-theory regulation that can be implied entirely for the benefit of society, in order to be free from exploitation and domination. To answer this important position, the discourse of social movements can be mapped into two, namely old social movement and new social movement. While Islam as a universal religion, there is no need to discuss theological-transcendental issues, but how the theology should create a new, more applicable avenue of dialectics to answer the question the rulers of powers domination. In the hope of a progressive, inclusive, open-minded, and pluralist theological doctrine. The results of this study may contribute to the development of science and the movement that became a turning point and reference in social change.Artikel ini hendak mengkaji bagaimana nalar Islam progresif yang dapat menjadi acuan untuk membebaskan manusia dari eksploitasi dan dominasi kelas sosial? Lantas gerakan sosial apa yang dapat kita lakukan di tengah himpitan persoalan bangsa terkait eksploitasi sumber daya alam yang kian menggurita? Dari titik ini, maka saya berharap mendapat satu regulasi metateori yang bisa diimplikasikan sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat, agar bisa terbebas dari ekspolitasi dan dominasi. Untuk menjawab posisi penting ini, maka diskursus gerakan sosial dapat dipetakan menjadi dua, yakni old social movement dan new social movement. Sementara Islam sebagai agama universal, tidak perlu lagi membahas persoalan teologis-transendental, tetapi bagaimana teologi itu harus menciptakan ruang dealektika baru yang lebih aplikatif menjawab persoalan dominasi kekuasaan para penguasa. Dengan harapan munculnya doktrin teologis yang progresif, inklusif, open-minded, dan pluralis. Hasil kajian ini semoga memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan gerakan yang menjadi titik balik dan acuan dalam perubahan sosial.

Page 9 of 25 | Total Record : 248