cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "vol 7 no 2: november 2023" : 12 Documents clear
Mengembalikan Peran Keluarga sebagai Agen Pendidikan Iman di Masa COVID-19 Julianti L. B.; Deborah Christina Vallery Limbong
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.325

Abstract

The COVID-19 pandemic has brought significant changes to family, church, and educational life, including Christian Religious Education (CRE). Social restrictions and the shift of activities into domestic spaces have restored the family’s central role in faith education. This article examines the importance of reestablishing the family as the primary agent of faith formation during the pandemic, using a qualitative-descriptive approach and a theological-pedagogical literature review. The findings show that the family is the first community in shaping children’s spirituality, although this role had often been delegated to churches and formal educational institutions before the pandemic. The pandemic created opportunities for parents to become more actively involved in nurturing faith through family worship, prayer, Bible reading, and daily life examples. Strengthening the family’s function not only supports children’s spiritual growth but also strengthens family relationships amid crises. Therefore, churches and Christian education institutions need to develop mentoring models that empower families as primary partners in faith education and Christian character formation.   Abstrak Pandemi COVID-19 membawa perubahan besar dalam kehidupan keluarga, gereja, dan pendidikan, termasuk Pendidikan Agama Kristen (PAK). Pembatasan sosial dan peralihan aktivitas ke ruang domestik menjadikan keluarga kembali berperan sentral dalam pendidikan iman. Artikel ini mengkaji pentingnya mengembalikan keluarga sebagai agen utama pendidikan iman di masa pandemi melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dan studi literatur teologis-pedagogis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga merupakan komunitas pertama dalam pembentukan spiritualitas anak, meskipun sebelumnya peran tersebut sering diserahkan kepada gereja dan sekolah. Pandemi membuka peluang bagi orang tua untuk lebih aktif membina iman melalui ibadah keluarga, doa bersama, pembacaan Alkitab, dan keteladanan hidup. Penguatan fungsi keluarga tidak hanya mendukung pertumbuhan spiritual anak, tetapi juga mempererat relasi keluarga di tengah krisis. Karena itu, gereja dan lembaga PAK perlu membangun model pendampingan yang memberdayakan keluarga sebagai mitra utama pendidikan iman dan pembentukan karakter Kristiani.
Kepemimpinan Ekologis Kristen: Peran Pendidikan dalam Kesadaran Lingkungan Gereja Indah Lestari Gandi; Walsus Prasetya Tabasi; Desi Ratna Sari
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.329

Abstract

The global ecological crisis demands a serious response from the church, grounded in creation theology and stewardship. This article highlights the role of Christian education as a strategic instrument in shaping ecological leadership capable of mobilizing the church to engage in environmentally conscious communal transformation. The theological foundation rests on three pillars: creation theology in Genesis 1–2, which emphasizes the intrinsic value of creation and the mandate of stewardship; ecological Christology in Colossians 1:15–20, which presents Christ's vision of cosmic reconciliation; and ecological eschatology according to Romans 8:19–22, which offers hope for the renewal of creation. Implementation is carried out by integrating an ecological perspective into church education curricula and liturgy and by forming leaders who can translate theology into concrete action. Such eco-leadership makes the church an agent of transformation for the sustainability of God's creation.   Abstrak. Krisis ekologis global menuntut respons serius dari gereja melalui kepemimpinan yang berakar pada teologi penciptaan dan penatalayanan. Artikel ini menyoroti peran pendidikan Kristiani sebagai instrumen strategis dalam membentuk kepemimpinan ekologis yang mampu memobilisasi gereja untuk terlibat dalam transformasi komunal yang peduli terhadap lingkungan. Fondasi teologisnya bertumpu pada tiga pilar: teologi penciptaan dalam Kejadian 1–2 yang menekankan nilai intrinsik ciptaan dan mandat pemeliharaan; kristologi ekologis dalam Kolose 1:15–20 yang menghadirkan visi rekonsiliasi kosmik oleh Kristus; serta eskatologi ekologis menurut Roma 8:19–22 yang memberi harapan pembaruan ciptaan. Implementasi dilakukan melalui integrasi perspektif ekologis dalam kurikulum pendidikan gereja, liturgi, dan pembentukan kompetensi pemimpin yang mampu menerjemahkan teologi menjadi aksi nyata. Kepemimpinan ekologis demikian menjadikan gereja agen transformasi menuju keberlanjutan ciptaan Allah.
Pendidikan Kristiani Dewasa sebagai Narasi Pembentukan Identitas: Sebuah Pendekatan Psikologi Naratif dan Teologi Penciptaan Kembali Joel Elroy Pasaribu
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.394

Abstract

This article examines Christian education for adults as a process of identity formation through narrative, integrating narrative psychology and the theology of re-creation. Unlike doctrinal transfer approaches, it argues that adult identity is narratively constructed through life stories. Narrative psychology provides a framework for understanding how individuals build meaning and identity through stories, while the theology of re-creation offers a theological basis that God continuously renews creation, including human identity. Using a critical literature review, this article proposes a transformative model of adult Christian education in which participants are invited to recognize, critique, and rewrite their life narratives in light of God's salvation narrative. Findings indicate that integrating these two approaches results in a more holistic educational practice that values life experiences and orients toward identity renewal in Christ. The implications for the church include the need to design educational programs that encourage narrative reflection and foster safe communities for identity re-creation.   Abstrak Artikel ini mengkaji pendidikan Kristiani bagi orang dewasa sebagai proses pembentukan identitas melalui narasi, dengan mengintegrasikan psikologi naratif dan teologi penciptaan kembali. Berbeda dengan pendekatan pendidikan yang berfokus pada transfer doktrin, artikel ini berargumen bahwa identitas orang dewasa terbentuk secara naratif melalui kisah hidup yang mereka rangkai. Psikologi naratif menyediakan kerangka untuk memahami bagaimana individu membangun makna dan identitas melalui cerita, sementara teologi penciptaan kembali menawarkan landasan teologis bahwa Allah terus-menerus memperbarui ciptaan-Nya, termasuk identitas manusia. Dengan menggunakan metode studi pustaka kritis, artikel ini mengusulkan model pendidikan Kristiani dewasa yang bersifat transformatif, di mana peserta didik diajak untuk menyadari, mengkritisi, dan menulis ulang narasi hidup mereka dalam terang narasi keselamatan Allah. Temuan menunjukkan bahwa integrasi kedua pendekatan ini menghasilkan praktik pendidikan yang lebih holistik, menghargai pengalaman hidup, dan berorientasi pada pembaruan identitas dalam Kristus. Implikasinya bagi gereja adalah perlunya merancang program pendidikan yang mendorong refleksi naratif dan pembentukan komunitas yang aman bagi proses penciptaan kembali identitas.
Revitalisasi Nilai Pendidikan Kristiani dalam Membentuk Karakter Bangsa di Era Postmodern Leonardi Herlim; Andreas Fernando
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Kristen memiliki potensi besar dalam membentuk karakter bangsa, terutama di era postmodern yang ditandai dengan perubahan budaya gtermasuk dalam sosial, dan nilai-nilai kehidupan yang cepat berkembang. Di tengah tantangan zaman yang penuh dengan relativisme dan sekularisme, maupun era individualisme pendidikan Kristen menawarkan landasan moral dan etika yang kokoh untuk membangun pribadi yang berbudi pekerti luhur. Melalui ajaran alkitabiah. Penelitian kualitatif menjadi metode dalam artikel ini yang mengedepankan pendidikan Kristen mengajarkan nilai-nilai universal yang tidak hanya relevan dengan kehidupan spiritual, tetapi juga praktis dalam konteks sosial dan kehidupan sehari-hari. Adapun kesimpulan yang dinyatakan dalam penelitian ini menekankan bahwa pendidikan Kristen juga menghadapi sejumlah tantangan pengaruh budaya global yang cenderung mereduksi nilai-nilai moral dan norma agama. Meskipun demikian, dengan memanfaatkan peran perkembangan teknologi dan paltform media sosial, dalam pendidikan Kristen dapat lebih efektif menjangkau generasi muda dan memberikan kontribusi yang lebih besar dalam pembentukan karakter bangsa. Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan Kristen untuk terus mengadaptasi diri dengan dinamika zaman, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai inti yang mendasari ajaran Kristus dalam membentuk masyarakat yang lebih bermoral dan beradab.
Konsep Trilogi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara dan Implementasinya bagi Pendidikan Kristiani Ayub Sugiharto; Sri Puji Kristanti
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The educational trilogy of Ki Hajar Dewantara has made a significant contribution to the development of education in Indonesia. The purpose of this study is to identify how the concept of Ki Hajar Dewantara's leadership trilogy is implemented in the context of Christian education. In facing the changing times in the current era of globalization, it is important for educators to re-understand the concept of education in the educational trilogy. This trilogy consists of three things, namely: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. By applying qualitative descriptive methods and literature approaches, it can be concluded that the application of the concept of the educational trilogy in Christian education will support teachers in playing their roles well, both as good examples, facilitators, and motivators for students.   Abstrak Trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara telah memberikan sumbangan besar bagi pendidikan di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat konsep trilogi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara diimplementasikan dalam konteks pendidikan Kristen. Dalam menghadapi perubahan zaman di era globalisasi saat ini, penting bagi pendidik untuk kembali memahami konsep pendidikan dalam Trilogi pendidikan. Trilogi ini terdiri dari tiga hal, yaitu: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Dengan menerapkan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan literatur, dapat disimpulkan bahwa penerapan konsep trilogi pendidikan pada pendidikan Kristen akan mendukung guru dalam memainkan peran mereka dengan baik, baik sebagai contoh yang baik, fasilitator, maupun motivator bagi siswa.  
Ekonomi Solidaritas sebagai Praktik Resiliensi: Pembacaan Kisah Para Rasul 2:44-47 dalam Membangun Ketahanan Umat di tengah Krisis Musa Pardamean Napitupulu
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.317

Abstract

The multidimensional crisis from the post-COVID-19 pandemic to contemporary global economic uncertainty leaves Indonesian Christians in a vulnerable position, calling for a constructive theological-practical response. This research reconstructs the meaning of "solidarity economy" in Acts 2:44-47 as a resilience practice that builds communal resilience amid contemporary economic and social crises. The study employs qualitative research methods, including social-historical exegesis of the Lukan text, integrated with theological-phenomenological analysis of the contemporary Indonesian crisis context. Findings indicate that the early church’s koinonia was not merely incidental charity but an alternative economic structure grounded in trust, equity, and participation rooted in the eschatology of God’s kingdom and the Pentecostal pneumatic experience. This practice yields three interconnected resilience dimensions: spiritual resilience through fellowship, economic-communal resilience through distribution, and missiological resilience through public witness. The study offers a solidarity-economy theological framework relevant for reconstructing ecclesial praxis in Indonesia, implying the church must shift from charitable diakonia toward transformative diakonia grounded in the solidarity economy as faithfulness to the koinonia calling.   Abstrak Krisis multidimensional yang berlangsung pasca-pandemi Covid-19 hingga ketidakpastian ekonomi global kontemporer menempatkan umat Kristen Indonesia pada posisi rentan yang menuntut respons teologis-praktis yang konstruktif. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi makna ekonomi solidaritas dalam Kisah Para Rasul 2:44-47 sebagai praktik resiliensi yang dapat membangun ketahanan umat di tengah krisis ekonomi maupun sosial. Riset menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan eksegesis sosial-historis terhadap teks Lukan, dipadukan dengan analisis fenomenologi teologis atas konteks krisis kontemporer Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa praktik koinonia jemaat mula-mula bukan sekadar tindakan karitatif insidental, melainkan struktur ekonomi alternatif berbasis kepercayaan, ekuitas, dan partisipasi yang mengakar pada eskatologi Kerajaan Allah serta pengalaman pneumatik Pentakosta. Praktik tersebut menghasilkan tiga dimensi resiliensi yang saling terkait: resiliensi spiritual berbasis persekutuan, resiliensi ekonomis-komunal melalui distribusi, dan resiliensi misologis melalui kesaksian publik. Penelitian ini menawarkan kontribusi berupa kerangka teologis ekonomi solidaritas yang relevan bagi rekonstruksi praksis eklesial di Indonesia. Implikasinya, gereja perlu menggeser paradigma diakonia karitatif menuju diakonia transformatif berbasis ekonomi solidaritas sebagai bentuk kesetiaan terhadap panggilan koinonia.
Gereja, Gawai, dan Generasi Z: Pemuridan Iman sebagai Solusi Pencegahan Pornografi pada Remaja Kristen Novia Cristina Purba
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.356

Abstract

Generation Z, as digital natives, faces serious challenges from massive exposure to pornography through digital spaces, which has destructive impacts on the psychological, relational, and spiritual dimensions of Christian adolescents. Previous studies have tended to address pornography, digital discipleship, and Gen Z spirituality separately, resulting in the absence of a holistic, integrative framework. This article aims to formulate a conceptual framework of faith discipleship relevant to Christian Gen Z adolescents as a preventive strategy against pornography involvement. This research employs a literature review method with a theological-practical approach. The findings reveal three main points: first, understanding the digital spirituality landscape of Gen Z serves as an essential foundation; second, pornography must be read as a spiritual crisis, not merely a moral issue; third, the reconstruction of faith discipleship based on relationships, accountability, and the integration of Christian sexuality education becomes a strategic solution. Church, family, and Christian schools must synergize in building a holistic digital discipleship ecosystem so that gadgets become a means of Christ's presence for Generation Z.   Abstrak Generasi Z sebagai digital natives menghadapi tantangan serius berupa paparan pornografi yang masif melalui ruang digital, yang berdampak destruktif terhadap dimensi psikologis, relasional, dan spiritual remaja Kristen. Penelitian-penelitian terdahulu cenderung membahas isu pornografi, pemuridan digital, dan spiritualitas Gen Z secara terpisah, sehingga belum tersedia kerangka integratif yang holistik. Artikel ini bertujuan merumuskan kerangka konseptual pemuridan iman yang relevan bagi remaja Kristen Gen Z sebagai strategi pencegahan keterlibatan dalam pornografi. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan pendekatan teologis-praktis. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama: pertama, pemahaman terhadap lanskap spiritualitas digital Gen Z menjadi fondasi penting; kedua, pornografi harus dibaca sebagai krisis spiritualitas, bukan sekadar isu moral; ketiga, rekonstruksi pemuridan iman berbasis relasi, akuntabilitas, dan integrasi pendidikan seksualitas Kristen menjadi solusi strategis. Gereja, keluarga, dan sekolah Kristen perlu bersinergi membangun ekosistem pemuridan digital yang holistik agar gawai menjadi sarana kehadiran Kristus bagi Generasi Z.
Dari Hafalan ke Habitus: Pierre Bourdieu dan Reformasi Metode Pendidikan Kristiani Sekolah Minggu di Indonesia Cindy Laura
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.453

Abstract

Sunday School education in Indonesia remains dominated by a cognitivist-transmissive approach that treats Bible verse memorization as the primary indicator of children's faith formation. This article employs library research with a conceptual analysis approach to critique that model, arguing that genuine faith formation is not primarily determined by what children know but by the habitus gradually shaped through repeated communal participation. Drawing on Pierre Bourdieu's concept of habitus as a system of durable dispositions formed through repeated social practice and James K. A. Smith's cultural liturgies, the article argues that children are formed not chiefly through verbal instruction but through what they repeatedly do and inhabit within the faith community. This integration yields a practice-centered formation model characterized by four qualities: participatory, repetitive and consistent, contextual, and incarnational-relational. The article addresses three implementation challenges: cognitive-cultural resistance within church communities, the limited pedagogical capacity of Sunday School teachers, and the diversity of denominational contexts across Indonesia. The evaluative question posed is: "What habitus is actually being formed through our Sunday School practices?"   Abstrak Pendidikan Sekolah Minggu di Indonesia masih didominasi oleh pendekatan kognitif-transmisif yang menjadikan hafalan ayat Alkitab sebagai indikator utama keberhasilan formasi iman anak. Artikel ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan analisis konseptual untuk mengkritisi model tersebut dan berargumen bahwa formasi iman yang sejati bukan terutama ditentukan oleh pengetahuan yang dimiliki anak, melainkan oleh habitus yang terbentuk melalui keterlibatan berulang dalam praktik-praktik komunal gereja. Bertolak dari konsep habitus Pierre Bourdieu sebagai sistem disposisi yang terbentuk melalui praktik sosial berulang serta gagasan cultural liturgies James K. A. Smith, artikel ini berargumen bahwa anak-anak tidak terbentuk terutama melalui instruksi verbal, melainkan melalui apa yang mereka lakukan dan hidupi secara berulang dalam komunitas iman. Integrasi kedua kerangka ini menghasilkan model practice-centered formation yang bercirikan partisipatif, berulang dan konsisten, kontekstual, serta inkarnasional-relasional. Artikel ini juga mendiskusikan tiga tantangan implementasi: resistensi budaya kognitif, keterbatasan kapasitas pedagogis guru Sekolah Minggu, dan keragaman konteks denominasional di Indonesia. Pertanyaan evaluatif yang ditawarkan adalah: habitus seperti apakah yang sesungguhnya sedang dibentuk melalui praktik Sekolah Minggu kita?
Paideia Kristiani sebagai Ontologi Pendidikan Agama Kristen: Formasi Spiritualitas dan Etika Generasi Muda dalam Terang Alkitab Rosianna Purba
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.459

Abstract

Christian paideia, as the ontological foundation of Bible-based Christian education, affirms that education is not merely a vehicle for transmitting knowledge but a formative process that shapes the very essence of human existence before God. This study examines Christian paideia as a paradigm that integrates faith, knowledge, and ethical praxis to form the younger generation. Employing a qualitative method grounded in a literature study and informed by hermeneutical and pedagogical approaches, this research engages Scripture as a normative source in dialogue with contemporary literature on the theology of education. The findings reveal that Christian paideia operates across four intertwined dimensions: first, as an ontology and existential formation that shapes the whole person as imago Dei; second, as a space integrating faith, spirituality, and ethics, manifested in honesty, justice, and love; third, as a contextual paradigm responding to moral crises in the digital and global era while serving as a moral-spiritual filter; and fourth, as the basis for communal, theological, and pedagogical implications for Christian education. Christian paideia thus emerges as an educational paradigm that transcends cognitive acquisition, forming faithful and ethical persons who contribute meaningfully to communal life. Abstrak Paideia Kristiani sebagai fondasi ontologis pendidikan Agama Kristen berbasis Alkitab menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar sarana transfer pengetahuan, melainkan proses formasi eksistensial yang menyentuh inti keberadaan manusia di hadapan Allah. Artikel ini menelaah paideia Kristiani sebagai paradigma yang mengintegrasikan iman, pengetahuan, dan praktik etis dalam pembentukan generasi muda. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi literatur dan pendekatan hermeneutik-pedagogis, kajian ini menempatkan Alkitab sebagai sumber normatif dalam dialog dengan literatur teologi pendidikan kontemporer. Hasilnya menunjukkan bahwa paideia Kristiani beroperasi pada empat dimensi yang saling berkelindan: pertama, sebagai ontologi dan formasi eksistensial yang membentuk manusia seutuhnya sebagai imago Dei; kedua, sebagai ruang integrasi iman, spiritualitas, dan etika yang termanifestasi dalam kejujuran, keadilan, dan kasih; ketiga, sebagai paradigma kontekstual yang menjawab krisis moral di era digital dan globalisasi, sekaligus berfungsi sebagai filter moral dan spiritual; dan keempat, sebagai dasar implikasi komunitarian, teologis, serta pedagogis bagi pendidikan Kristiani. Dengan demikian, paideia Kristiani tampil sebagai paradigma pendidikan yang melampaui dimensi kognisi semata dan membentuk pribadi yang beriman, beretika, serta berkontribusi bagi kehidupan bersama.
Rekonstruksi Teologi Moderasi Beragama: Telaah Hermeneutis atas Narasi Perjumpaan Yesus dengan Perempuan Samaria dalam Yohanes 4:1-42 Johannis Siahaya; Nunuk Rinukti; Munatar Kause
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.473

Abstract

This study aims to reconstruct a theology of religious moderation by exploring the narrative of Jesus' encounter with the Samaritan woman in John 4:1-42. The discourse of religious moderation in Indonesia is often dominated by sociological and political approaches, while its biblical foundation remains underdeveloped. Using a hermeneutical method with narrative criticism and socio-rhetorical analysis, this research finds that Jesus' encounter transcends ethnic, gender, and theological boundaries through hospitality, equal dialogue, and recognition of the other's dignity. The findings affirm that this narrative provides a theological basis for religious moderation rooted in respect for humanity and openness to differences. This reconstruction is relevant to Indonesia's pluralistic context.   Abstrak Penelitian ini bertujuan merekonstruksi teologi moderasi beragama dengan menggali narasi perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria dalam Yohanes 4:1-42. Wacana moderasi beragama di Indonesia kerap didominasi oleh pendekatan sosiologis dan politis, sementara fondasi biblikalnya belum tergali secara optimal. Melalui metode hermeneutis dengan pendekatan kritik naratif dan analisis sosio-retoris, penelitian ini menemukan bahwa perjumpaan Yesus menembus batas etnis, gender, dan teologis melalui hospitalitas, dialog setara, serta pengakuan martabat liyan. Hasil penelitian menegaskan bahwa narasi tersebut menyediakan dasar teologis bagi moderasi beragama yang berakar pada penghargaan terhadap kemanusiaan dan keterbukaan terhadap perbedaan. Rekonstruksi ini relevan dalam konteks kemajemukan di Indonesia

Page 1 of 2 | Total Record : 12