cover
Contact Name
Yushak Soesilo
Contact Email
yushak@sttintheos.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.dunamis@sttintheos.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 25413937     EISSN : 25413945     DOI : -
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani dengan nomor ISSN 2541-3937 (print), ISSN 2541-3945 (online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta. Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Teologi Kristen, terutama yang bercirikan Injili-Pentakosta, dan bidang Pendidikan Kristiani.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2017): April 2017" : 5 Documents clear
Analisis Kata Murtad dalam Kitab Ibrani 6:4-6 Elkana Chrisna Wijaya
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2017): April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v1i2.113

Abstract

The term of  “fall way” in Hebrews 6:4-6 has been debated by theologians in distinguished perspectives. This study aims to describe and analyze the word of apostasy in Hebrews 6:6, so it would give a biblical undestanding, according to both authors’ purpose of writing this book and its first readers. The result of this analysis would give a contribution to pragmatic and theological thought at present time. The conclucion of this study is, that the word of  “fall away” in Hebrews 6:4-6 is not related to salvation at all. That word is closely related to reward, because it mostly refers to a Christian commitment. Thus, in certain point, believer could be in position of  fall away, where that believer keep himself away from living relationship with Jesus the lorf. That situation doesn’t affect believers’ salvation, but the lost of his reward which shall be received before judgement seat of Christ.  Makna kata “murtad” dalam Kitab Ibrani 6:4-6 telah lama diperdebatkan oleh para sarjana Alkitab dalam spektrum teologis yang beragam. Penelitian ini bermaksud untuk menganalisis dan mendeskripsikan kata “murtad” dalam Ibrani 6:6, sehingga menghasilkan pemahaman makna kata yang alkitabiah, yang sesuai dengan maksud penulis kitab Ibrani, serta yang dipahami oleh pembaca pertamanya. Hasil analisis akan memberikan kontribusi pemikiran teologis dan pragmatis pada masa kini. Kesimpulan dari penelitian ini menjelaskan bahwa kata “murtad” dalam Ibrani 6:4-6 sama sekali tidak berhubungan dengan keselamatan. Kata tersebut berhubungan erat dengan upah, karena lebih mengacu kepada komitmen orang Kristen. Dengan demikian, pada situasi atau titik tertentu, orang percaya dapat berada pada posisi “murtad”, bahwa orang tersebut melakukan tindakan menjauhkan diri dari persekutuan yang hidup dengan Tuhan Yesus. Keberadaan tersebut tidak mempengaruhi keselamatan orang percaya, namun berkaitan dengan risiko hilangnya pahala atau upah yang akan diterima orang-orang percaya di hadapan takhta pengadilan Kristus.
Penerapan Metode Demonstrasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Kristen Materi Pembelajaran Sakramen Perjamuan Kudus VIII SMP Negeri 17 Surakarta, Tahun 2015/2016 Rifai Rifai
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2017): April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v1i2.112

Abstract

This article aims to increase affective, psychomotor and cognitive domain of learning achievement with subject Sakramen Perjamuan Kudus for students grade VIII in State Junior High School 17 Surakarta at semester 2, year 2015/2016 by using demonstration method. This article used a method of clasroom action research which subject is all Christian students of grade VIII State Junior High School 17 Surakarta, year 2015/2016. The research found affective domain increasing from 14.1% at first cycle to 92.4% at second cycle. There were increasing up to 85.3% in psychomotor domain at second cycle, which means students resulted is accomplished, because it gained 0.3% over 85% achievement indicator. In cognitive domain increasing tehre were 15 (88.2%) students at second cycle accomplished, which over than 85%. Those were indicated that demonstration method usage to improve learning was success. By the result of this research, author recommends teacher will use demonstration learning method in teaching subject Sakramen Perjamuan Kudus.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar afektif, psikomotorik dan kognitif materi Sakramen Perjamuan Kudus bagi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 17 Surakarta semester 2 Tahun 2015/2016 melalui metode demonstrasi. Metode penelitian tindakan kelas menggunakan subyek adalah siswa Kristen kelas VIII SMP Negeri 17 Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Dari penelitian didapatkan peningkatan hasil belajar afektif dari 14,1% menjadi 92,4%. Pada hasil belajar psikomotorik siklus kedua mencapai 85,3%, yang berarti ada peningkatan sebesar 0,3% di atas indikator pencapaian 85%. Peningkatan hasil belajar kognitif pada siklus kedua mendapatkan hasil sebanyak 15 peserta didik (88,2%) tuntas. Ketuntasan ini menandakan bahwa perbaikan pembelajaran pada siklus kedua dengan menggunakan metode demonstrasi dinyatakan berhasil. Dari Hasil penelitian tindakan kelas ini maka peneliti merekomendasikan penggunaan metode demonstrasi untuk mengajarkan materi Sakramen Perjamuan Kudus.
(R)Evolusi Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Mentransformasi Kehidupan Siswa Bimo Setyo Utomo
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2017): April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v1i2.111

Abstract

If we look deeper, one of the most important issues in the education world is that we (as teachers) are not doing the education in the real sense, but merely teach as a formality. Transformation happens only on transfer of knowledge that only involves the role of science teachers and students ignorance. So, the teacher does not give an understanding to the students, but only move a formula or proposition for students to memorize which then will be issued if necessary. Therefore, it is necessary to have r(evolution) which is not only good, but more importantly, can transform the lives of students. We are fully aware that this time, the teacher is an agent of change which has the task of both institutional and non-institutional. Teacheris a person who daily teach spiritual values, norms, morals, ethics, and positive character habituation.Jika kita melihat lebih dalam, salah satu permasalahan terpenting dalam dunia pendidikan sesungguhnya adalah kita (sebagai guru) tidak sedang melakukan tugas pendidikan dalam arti sesungguhnya, namun hanya sekedar mengajar secara formalitas. Transformasi yang terjadi hanya sebatas transfer ilmu yang hanya melibatkan peran keilmuan guru dan kebodohan murid. Dalam proses mengajar yang demikian, guru tidak memberikan pemahaman kepada anak didik, namun hanya memindahkan sejumlah rumusan atau dalil kepada siswa untuk dihafal yang kemudian akan dikeluarkan jika diperlukan. Oleh sebab itu, diperlukan adanya r(evolusi) yang tidak hanya baik, tetapi yang lebih penting, yaitu dapat mentransformasi kehidupan siswa. Kita sadar sepenuhnya, bahwa saat ini, guru merupakan satu-satunya agen perubahan yang memiliki tugas  baik secara institusional maupun non-institusional. Gurulah yang setiap hari mengajarkan nilai rohani, norma, moral, etika, serta pembiasaan karakter positif.
Menstimulasi Kualitas Kehidupan Rohani dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar Mahasiswa: Studi Refleksi Daniel 6:1-4 Agustin Soewitomo Putri
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2017): April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v1i2.120

Abstract

This article has purpose to show the importance of giving stimulation from the lecturer of STT Torsina to enhance the quality of student’s living, either in intelectual, social and spiritual aspect. This research uses qualitative approach with exposition of text Daniel 1-6. Ini this biblical narrative Daniel gained the highest position after the king in Babylon kingdom. Daniel chosen was based on his self quality over anyone became candidates. The exposition of Daniel 6:1-4 giving some references made him been qualified, that is Daniel’s spiritual life quality. By this research finding giving a recommendation of stimulate spiritual living for enhance STT Torsina students’ academic quality according to Daniel. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan pentingnya stimulasi yang diberikan oleh para tenaga pengajar (dosen) di STT Torsina untuk meningkatkan kualitas hidup mahasiswa, baik dalam aspek intelektual, sosial dan kerohanian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menerapkan studi eksposisi kitab Daniel 1-6. Dalam narasi biblikal ini Daniel memperoleh posisi tertinggi setelah raja di negeri Babel. Pemilihan Daniel dilandaskan pada kualitas Daniel yang mengungguli siapa pun yang menjadi calon pemimpin saat itu. Kajian eksposisi Daniel 6:1-4 mereferensikan apa yang membuat Daniel berkualitas, yaitu: kualitas kehidupan rohani Daniel. Dengan temuan ini, maka penelitian recomendation sebuah stimulasi kehidupan rohani demi meningkatkan kualitas akademis mahasiswa STT Torsina sesuai dengan tokoh Daniel.  
Mengajarkan Nasionalisme Lewat Momentum Perayaan Paskah: Refleksi Kritis Keluaran 12:1-51 Harls Evan Siahaan
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2017): April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v1i2.119

Abstract

This research is due to social phenomenon in Indoensia lately, where tendention of nationalism is decreasing. Church, which is being a part of this nation component, has responsibility to build its people’s sense of nationalism, not mere making them as heavenly citizen. The aim of this article is to point out a biblical study about Passover celebration at the first time in The Old Testament, which constituted a commemoration of Israel nationality deliverance from the bondage of Egypt, what was to become an implication of Jesus’ death and resurrection event. It uses a historical analysis on biblical text Exodus 12:1-51 with exposition approach for acquiring an event implication in Old Testament theology context. After reading the whole text in the passage, considering its context and genre, then reconstruct its narrative and analyze it, so the conclusion is, that Passover celebration in the first time is God’s action to deliver Israel as a nation from Egypt. The research finding is to recommend that Passover celebration in future will be able to increase church’s sense of nationality in Indonesia context.Artikel ini adalah sebuah penelitian yang berkaitan dengan fenomenologi sosial di Indonesia dewasa ini, di mana kecenderungan memupusnya sikap nasionalisme anak bangsa. Gereja Tuhan sebagai bagian dari komponen bangsa ini memiliki tanggung jawab untuk membangun rasa nasionalisme umat, tidak hanya sekadar menjadikannya warga surga seperti idealisme teologi. Tujuan artikel ini untuk menunjukkan kajian biblikal tentang perayaan Paskah yang secara asali merupakan peringatan tentang perjuangan pembebasan Israel sebagai sebuah bangsa, yang di kemudian hari memberikan implikasi teologis pada peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus. Metode yang digunakan adalah analisis historis pada teks Keluaran 12:1-51 dengan pendekatan eksposisi, untuk mendapatkan implikasi peristiwa dalam konteks teologi Perjanjian Lama. Setelah membaca teks secara keseluruhan, lalu memperhatikan konteks dan genre sastera, merekonstruksi narasi teks dan menganalisisnya, maka disimpulkan bahwa pada awalnya peristiwa Paskah merupakan perbuatan ilahi untuk membebaskan Israel dari penjajahan Mesir. Temuan pembahasan dan simpulan merekomendasikan agar momentum perayaan Paskah dapat meningkatkan rasa nasionalisme gereja dalam konteks Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 5